Posted in 13 Days with Seventeen, Fanfiction, Friendship, Seventeen

[Day 12] Broken Heart

1452395698229.png

Cast: Jeonghan x You ▲ Genre: Friendship, SadLength: 444wc ▲ Rating: PG-15

Soundtrack: Bigbang – If You

Summary:

Ada yang sedang patah hati.

Suara retakannya terdengar sampai ke telingaku.

 

Ada yang sedang patah hati.

Suara retakannya terdengar sampai ke telingaku.

Stop!

Aku berdiri di ambang pintunya. Suaraku berhasil menghentikan aksi nekat tangannya. Dia menoleh dan wajahnya menunjukkan rasa tidak senang bercampur kelegaan sejenak. Aku tahu kedatanganku tidak dia harapkan, namun melihatku berada di sana mungkin saja menimbulkan sejuta perasaan tak menentu.

Aku tidak tahu isu sesederhana ini bisa menghancurkan dunia seseorang, maka aku menghampirinya perlahan-lahan. Langkahku penuh kewaspadaan; curiga dia akan mengabaikan peringatanku tadi. Dengan hati-hati, kujauhkan tangannya sebelum mengambil gunting itu lagi dan meletakkannya di meja terjauh, seakan benda tajam tersebut dapat meledak setiap saat. Aku tidak percaya betapa suatu tindakan spontan bisa berujung musibah. Untunglah aku datang tepat waktu.

Jeonghan terlihat sangat kacau. Dia langsung menjatuhkan kepalanya di bahuku. Embusan napasnya menyentuh leherku, sedikit dingin bercampur dengan air mata.

Tanpa perlu bertanya, hatiku sudah lebih dulu mengerti situasinya. Tanpa perlu Jeonghan katakan, aku sudah tahu jawabannya. Selalu berputar di satu titik yang itu-itu saja.

“Bagaimana kau—“

“Sstt…” tanganku mengelus rambutnya lembut. “Aku tahu. Aku selalu tahu, oke?”

Jeonghan menyedot ingusnya dengan gaya yang jauh dari kata elegan. Tangannya mencengkeram kausku erat. Dia kembali terisak.

“Aku sudah bilang ‘tidak lebih dari bahu’,” ujarnya setengah memekik, “Tapi mereka tetap memotongnya di atas bahu! Ini terlalu pendek!”

Aku mengembuskan napas lelahku, berharap Jeonghan tak menyadarinya. Kalau saja dia mau mendengarkanku waktu itu di telepon.

“Tapi kau tetap setampan yang kukenal.”

Dia menggelengkan kepala. “Aku benci potongan rambut seperti ini! Aku benci salon itu,” gerutunya dalam gumam.

Sejak dulu, aku selalu benci pergi ke salon meskipun aku wanita tulen dan…memang seutuhnya wanita yang butuh perawatan salon. Sementara Jeonghan—dia sangat menyukainya, menikmati rasa-rasa dimanjakan oleh tangan-tangan cekatan milik para pakar rambut itu. Dan setelah kejadian ini, aku yakin dia sadar bahwa terkadang salon bisa jadi sahabat sekaligus musuh utamanya. Masalahnya, temanku yang satu ini selalu meributkan hal-hal seputar rambutnya yang indah itu; yang tak mau dipotong lebih pendek dari batas bahunya, yang tak mau diwarnai lebih terang dari warna pirang kecokelatan. Entah apa alasannya. Mungkin itu membuat wajahnya jadi tidak tirus lagi atau kulitnya mungkin terlihat kusam, atau—apa ya? Aku tidak tahu. Aku mencoba mengerti, tapi sayangnya selalu gagal.

“Aku juga benci salon itu. Kita cari salon yang lain. Setuju?” kataku, yang direspons dengan satu anggukan lemah darinya.

Beginilah temanku—Jeonghan. Manusia tidak mematahkan hatinya. Potongan rambut yang salah lah yang melukainya.

Ya ampun.

a/n:

kotak komennya ditutup dulu yaah sampai hari Sabtu (fic terakhir)🙂 thank you buat yang udah baca dan komen🙂

Penulis:

A Ridiculous Writer :)