Posted in 13 Days with Seventeen, Comedy, Fanfiction, Fluff, Romance

[Day 9] I’m Yours

1452393378350.png

Cast: Seungkwan x OC’s Auburn ▲ Genre: Romance, Comedy, Fluff ▲ Length: 2121wc ▲ Rating: PG-13

Soundtrack: Alessia Cara – I’m Yours

Summary:

Beginilah takdir menggariskan kisah hidupnya: mengenal Boo Seungkwan pada umur enam tahun dan jatuh cinta padanya di umur tujuh belas.

 

Boo Seungkwan bukan seseorang yang patut Auburn kenal dalam hidupnya.

Gadis keturunan setengah Korea dan setengah Perancis itu seharusnya mengenal orang lain, tapi beginilah takdir menggariskan kisah hidupnya; mengenal Boo Seungkwan pada umur enam tahun dan jatuh cinta padanya di umur tujuh belas.

Masih segar ingatan itu di kepala Auburn; hari dimana Auburn masuk sekolah dasar untuk yang pertama kalinya. Dia sangat takut, maka yang dia lakukan hanyalah bersembunyi di belakang ibunya sambil memindai pemandangan di sekelilingnya. Mengerikan! Ada alien di mana-mana! Lihat potongan rambut mereka! Lihat warna kulit mereka! Tidak sama dengan kulit Auburn! Apa mereka akan menculik Auburn dan pergi ke luar angkasa?! Auburn masih mau di sini!

Auburn terlalu banyak menonton film.

Namun, ternyata sekolah tidak semengerikan itu. Orang pertama yang dia kenal adalah bocah laki-laki dengan potongan rambut model jamur dan pipi gembul kemerah-merahan. Dia sangat ramah—bisa dikatakan orang pertama yang memperlakukannya dengan baik setelah Ayah dan Ibunya.

Perlahan namun pasti, bocah itu menghampiri kursi Auburn dan menelengkan kepalanya. “Apa yang kau lakukan?”

Auburn merapikan sedikit roknya dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Dia melihat ini di drama kesukaan kakaknya. Beginilah sikap seorang gadis ketika ada lawan jenis yang mendekati.

“Tidak sedang apa-apa,” lalu Auburn mengingat satu kalimat keren (yang sebenarnya terdengar angkuh, tapi…ah, sudahlah dia masih kecil waktu itu), “apa pedulimu?”

Bocah itu agak terkejut dibuatnya. “Kenapa kau tidak bermain dengan yang lain?”

Ah, ya, kenapa pula dia hanya berdiam diri di sini sementara anak-anak lain bermain petak umpet?

“Auburn tidak mau bermain dengan alien-alien itu. Mereka akan menculik Auburn dan membawa Auburn ke luar angksa,” ujarnya, masih memasang sikap angkuh bak seorang putri raja kejam.

“Alien?” bocah itu melihat dirinya sendiri dan berkata, “tapi Seungkwan bukan alien.”

Lantas Auburn mengangkat tangannya, dia pun beranjak dari tempatnya. “Cukup. Auburn tidak mau berbicara pada alien.”

Dia tahu persis bocah itu bukan alien dan namanya Boo Seungkwan. Auburn mengerti setiap perkataan yang Seungkwan ucapkan, dan sesekali menanggapinya tanpa antusias. Seungkwan makan nasi dan minum jus anggur sepertinya, kadang bekalnya berupa nasi goreng dan Seungkwan akan membaginya dengan Auburn (dan gadis kecil itu sangat menyukainya tapi terlalu malu untuk mengakuinya, dia berakhir bilang ‘nasi gorengnya lumayan’). Seungkwan manusia sama seperti Auburn, meskipun ada beberapa sifat Seungkwan yang Auburn anggap terlalu aneh untuk dimiliki seorang manusia.

Dia tetap menganggap Seungkwan alien dari planet Saturnus.

.

.

Tiga tahun setelah pertemuan mereka yang pertama, Seungkwan pindah sekolah. Itu tidak menimbulkan luka atau kesedihan mendalam di hati Auburn. Gadis itu mengerti Seungkwan sesekali harus pulang ke planetnya. Dia yakin Seungkwan merindukan neneknya, maka dia pergi ke kampung halamannya, layaknya Auburn yang suka mengunjungi neneknya di Paris.

(Padahal, sungguh, Seungkwan pindah sekolah ke Jepang karena ayahnya ditugaskan di negara itu.)

Tapi bedanya Seungkwan tak pulang setelah dua minggu pergi, dan pertemanan mereka menjadi salah satu memori Auburn yang tertimbun dengan memori-memori lainnya. Dia tak lagi mengingat nama Seungkwan; yang mana dia, seperti apa dia, apa kebiasaannya, apa hobinya, dan sebagainya. Sama sekali tidak ingat.

Atau mungkin dia mengingatnya sedikit ketika umurnya tujuh belas tahun. Terjadi di sore hari saat Auburn tengah mengerjakan PR fisikanya. Sang Ibu tiba-tiba bertanya: “Kau ingat Seungkwan?”

Mendengar nama itu, syaraf-syaraf otak Auburn tergelitik bulu kemoceng kasat mata. Ada sengatan-sengatan kecil tak bernama yang membuatnya berhenti mengerjakan PR-nya dan menatap sang Ibu. “Seungkwan?”

“Ya, Boo Seungkwan. Teman SD-mu dulu. Dia pindah ke Jepang delapan tahun lalu. Kau ingat?”

PR fisikanya sangat susah kali ini (tidak, kapan fisika pernah mudah? Tak pernah!), ditambah Auburn disuruh mengingat orang di masa lalu yang bernama Seungkwan. Who the hell is Boo Seungkwan?! Rasanya seperti mencari sebutir garam di hamparan padang pasir.

“Um, tidak…?”

“Oh ya? Ibu pikir kau berteman baik dengannya. Guru Lee bilang kau selalu menghabiskan waktu istirahat bersamanya. Kalian makan siang bersama dan kau pernah berkata pada Ibu, nasi goreng buatan ibu Seungkwan sangatlah enak. Kau tidak ingat?”

Nasi goreng, nasi goreng, nasi goreng. Nama makanan itu memantul-mantul di dinding kepalanya. Sumpah, dia benci perasaan ini; seperti ada rasa gatal misterius di permukaan kulitnya yang jika digaruk malah tidak menimbulkan rasa terpuaskan. Argh! Kenapa sore itu sangat sulit dilalui Auburn. Dia baru mengerjakan seperempat PR fisikanya!

“Keluarga Boo sudah kembali ke Korea lagi. Kemarin tak sengaja ibu bertemu dengan Nyonya Boo dan Seungkwan di supermarket. Wah, Seungkwan—anak itu tumbuh sangat menggemaskan. Pipi gembulnya masih bertahan di sana hihihi~”

Pipi gembul, pipi gembul, pipi gembul. Apa kau sebodoh ini dalam urusan mengingat, Jung Auburn?!

Auburn meninggalkan PR-nya sejenak. Suara desisan air panas dan percikan minyak yang berasal dari dapur seolah ingin membantunya. Auburn berusaha menggali ingatannya. Bermodalkan tiga hal itu; sebuah nama, nama makanan, dan ciri-ciri tubuh.

Boo Seungkwan. Nasi goreng. Pipi gembul.

Semenjak tumbuh menjadi remaja yang memesona, Auburn tidak ingat dia pernah berteman dengan seseorang yang berpipi gembul dan suka makan nasi goreng dan bernama Seungkwan. Dulu pasti seleranya payah. Seorang primadona sekaligus ketua cheerleader sekolah tidak mungkin punya teman se-absurd itu.

“Aku tidak ingat, Bu,” dia menyerah, mengambil pensilnya dan mulai menulis. “Sampaikan salamku jika Ibu bertemu dengannya lagi,” timpalnya.

“Suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengannya, Auburn.”

Nooooooo! Bagaimana jika dia terpesona padaku dan ingin menculikku lalu membawaku ke luar angka—

Tunggu!

Boo Seungkwan.

Nasi goreng.

Pipi gembul.

Auburn berhenti menulis. Ada momen tertentu yang acap kali membuat Auburn ingin bersorak layaknya pemandu sorak di tengah lapangan. Separuh dirinya bangga karena akhirnya dia bisa mengingat sosok itu, mengembalikan bayang-bayang samar sosok Seungkwan versi kecil. Namun, sebagian dirinya merasa tidak senang. Entah apa alasannya.

“Boo Seungkwan,” desisnya pelan, “si alien dari Planet Saturnus itu.”

Jangan sampai bertemu.

.

.

 Auburn membuat catatan kecil di dalam kepalanya: jangan abaikan ucapan ibumu sendiri.

Karena ucapan seorang Ibu selalu benar.

Pada suatu hari yang cerah di mana burung-burung memutuskan untuk pulang ke sangkar masing-masing, dan seorang gadis juga memutuskan untuk pulang namun di tengah perjalanan dia mampir ke swalayan demi sekantung sosis.

Mereka bertemu.

Dengan cara yang paling tidak diduga, paling tidak nyana sebelumnya.

Dia menjatuhkan sosis ayam itu ketika seseorang menepuk bahunya dua kali.

“Ya, Tuhan!” Auburn memegang dadanya, takut jantungnya melompat keluar rongga. Siapa pula orang yang berani mengagetkannya sore-sore begini. Orang itu harus bersiap menerima semburan kata-kata dari Auburn.

Tapi sebelum dia bisa menyemburkan api super panasnya, orang asing tersebut terlanjur mengambilkan sosisnya dan menyerahkannya pada Auburn. Plus, dia tersenyum meminta maaf. Plus, dia mengenal Auburn.

“Auburn?”

“Huh?” Auburn mengerjapkan matanya. Tidak, itu tidak seharusnya aneh. Dia terkenal, dia primadona sekolah yang cantik luar biasa. Semua orang akan mengenalnya, menyapanya seolah mereka kenal dekat padahal tidak.

Tapi…mengapa dia merasa familiar dengan pemandangan itu? Aromanya mengingatkan Auburn pada sejumlah kenangan yang terbesit dalam kepalanya. Begitu cepat sampai tak satu pun sempat Auburn tangkap dan telaah lebih dalam.

“Kau Auburn, ‘kan? Jung Auburn?” Hei, pemuda ini bertanya lagi.

“Er, ya…?” Ya, mau bagaimana lagi. Itu namanya. Jung Auburn. Gadis itu menggenggam sosis di dekapannya erat-erat. Dia bersumpah akan melemparkan sosis ke wajah pemuda itu jika ini salah satu modus kejahatan.

Pemuda itu tertawa.

Psikopat! Ya Tuhan, tolong aku!, teriak Auburn dalam hati.

“Ya ampun. Kau masih sama seperti dulu, Auburn,” komentarnya berkacak pinggang, tergelak.

“Apa?”

Dia menunjuk matanya. “Matamu memicing seperti itu saat kita pertama kali bertemu di sekolah. Kau takut bermain dengan yang lain karena menganggap semua orang adalah alien.”

Oh ti—kau?!

“Kau ingat aku, Auburn?”

Tidak, tidak, TIDAK! JANGAN SEBUT NAMAMU ASDKAJKSJAL!!

“Aku Seungkwan.”

Geez, alien dari Planet Saturnus. Boo Seungkwan, kenapa kita harus bertemu.

“Uh…yeah, haha—“ Auburn tertawa janggal. “Oh, Seungkwan. H-hai, lama tak berjumpa.”

Seungkwan terlihat normal. Dia jauh dari sosok mirip alien. Tampan bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya, mungkin…lebih tepatnya…’lucu’. Ibu Auburn benar, pipi gembulnya sudah banyak menghilang tapi masih seperti yang Auburn ingat. Rambut model jamur itu juga sudah ditinggalkannya, tergantikan dengan model yang lebih trendy. Seungkwan mengenakan jaket Adidas warna hitam dan jeans denim, sneakers putih. Keren, tapi tentu saja bukan selera Auburn.

“Ini luar biasa, bukan? Kita bertemu setelah beberapa tahun. Aku pikir kau akan melupakanku. Karena kupikir itu sulit.”

“Kenapa?” ya, kenapa? Kenapa pula aku harus mengingatmu? Kalau ibu tidak menyinggung tentang pertemuannya denganmu kemarin, aku tak mungkin mengingatmu.

“Karena waktu itu kau menangis saat aku pergi ke Jepang.”

“Benarkah?!” Aku menangisi kepergianmu? Mustahil!

Auburn tersedak ludahnya sendiri.

Seungkwan tertawa lagi sampai matanya menghilang. “Tidak, aku bercanda. Kau pergi liburan ke Hawaii saat aku pergi. Kita bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan.”

Seharusnya sih ini sedih. Mereka berteman baik dulu, saling berbagi bekal dan jus anggur. Bukankah ini manis?

Namun semua juga tahu Auburn tak punya hasrat untuk berlama-lama di sana. Waktunya terlalu berharga untuk dihabiskan bersama teman lama yang muncul entah dari lubang hitam mana. Auburn seharusnya sudah pulang dari tadi, menggoreng sosis kesukaannya, dan online ask.fm (karena, please, ada ratusan pertanyaan membanjiri akunnya setelah fotonya dan kapten football tersebar, dia harus mengklarifikasinya).

“Kau tahu, Seungkwan, aku harus pergi,” beritahu Auburn.

“Oh, kenapa buru-buru?”

“Bukan buru-buru, tapi aku sudah selesai belanja, oke?”

“Kau cuma beli sosis?”

“Ya—“

“Oh, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang.”

“—tidak,” Auburn berniat menyudahi reuni kecil mereka sampai di sini dan meninggalkan satu senyuman penuh pesona, namun hal mengerikan itu terjadi. Seungkwan mau mengantarnya pulang, dan…maaf, apakah dia tidak tahu kalau seorang primadona itu spesial. Tak sembarangan orang dapat mengantarnya pulang. Dia tidak mau orangtuanya berpikir macam-macam. Apalagi ini Boo Seungkwan. Tidak, terima kasih.

“Aku berubah pikiran. Aku ada latihan di sekolah—yeah, sekolah,“ dusta gadis itu.

“Aku bisa mengantarmu ke sekolah.”

“Sekolahku punya keamanan yang sangat ketat, Seungkwan. Mereka tidak membiarkan orang asing masuk ke sana dengan mudah. Ini demi keamanan.”

“Oh…” bahu Seungkwan sedikit melorot. “Baiklah, kira-kira kapan kita—“

Bertemu? Apa kau gila? Tidak ada pertemuan lagi di antara kita! “Aku harus pergi sekarang. Aku adalah primadona dan ketua cheerleader Jung Auburn yang super sibuk. Selamat tinggal.”

Jung Auburn (yang katanya super sibuk itu) berlari cepat ke arah rumah. Berharap Seungkwan tidak melihatnya.

.

.

Ketika benang merah telah terikat di jemari satu sama lain, dan garis membentangi hubungan dua insan, siapa pula yang bisa menghindarinya.

Mereka bertemu lagi.

Tidak dapat dikatakan sebuah kebetulan, juga bukan kesengajaan.

Hari itu Auburn sedang berlatih formasi terbaru ciptaannya di lapangan sekolah, dan saat itulah dia melihat sosok Seungkwan melambaikan tangannya dari pinggir lapangan. Seungkwan pakai baju kuning terang yang membuatnya mirip Vitamin C. Semua gerakan yang sudah dia hafal sekejap langsung buyar. What the hell?!

“Apa yang kau lakukan di sini?” sembur Auburn, menarik ujung kausnya ke sudut lapangan terjauh agar anggota lainnya tidak dapat melihat. Bagaimana reputasinya jika dia ketahuan berteman dengan orang biasa seperti Seungkwan?

“Aku hanya sedang mengobrol dengan penjaga gerbang di luar sekolahmu. Lalu aku bilang aku punya teman di sini, namanya Jung Auburn. Lalu dia mengizinkanku masuk begitu saja.”

What?!

“Auburn, kau bilang penjagaan di sini ketat—“

“Tidak, Seungkwan,” sergahnya keras. “Kau harus keluar dari sini. Ini hari Sabtu, dan ini waktuku untuk berlatih,” katanya sambil mendorong orang itu.

“Tapi, tapi, tapi aku tidak akan mengganggumu—“

“Pergi, Seungkwan. Ayolah.” Auburn tidak tahu sampai kapan dia sanggup bersikap semanis ini. Dia harap Seungkwan langsung pergi, tapi dia bersumpah demi boneka kelincinya, Seungkwan seperti Tembok Cina alias dia mustahil digerakkan.

“Pergi, Boo! Pergi! Urgh!” dia mencoba mendorongnya dan hal itu sungguh sia-sia. “Apa sih yang kau inginkan?!”

Seungkwan cuma tersenyum. Kalimat yang dia ucapkan selanjutnya terlampau sederhana, namun sangat bermakna. “Aku mau mengajakmu makan malam.”

Auburn berhenti mendorongnya. “Apa?”

Seungkwan memasang cengiran konyol di wajahnya. “Ya, hari ini—hari Sabtu. Tadi aku ke rumahmu dan ibumu bilang kalau kau ada latihan sebentar, lalu aku meminta izin untuk mengajakmu makan malam. Dan dia bilang ‘tentu saja boleh’.”

“Kau tahu di mana rumahku?!” kata Auburn setengah memekik. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dan dunia Auburn serasa runtuh.

“Dan ibu mengizinkanmu membawaku makan malam?!”

Sekali lagi dia mengangguk. Auburn tidak percaya semua ini, sumpah! Auburn ingat, dulu ada seorang anak band yang minta izin mengajak Auburn ke bioskop dan orangtuanya menolak. Padahal Auburn menyukainya setengah mati, dan orang itu jauh lebih keren daripada Seungkwan. Dan sekarang, kenapa dengan mudahnya mereka semua mengizinkan Seungkwan masuk ke dalam hidup Auburn? Penjaga sekolah, orangtuanya…

“Jadi, bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” tanya Auburn galak.

“Kau yang pilih restorannya. Aku yang bayar. Bagaimana?”

Excuse you?! Apa aku bilang aku bersedia pergi denganmu?”

Seungkwan cemberut; bibirnya mengerucut mirip anak ayam yang pernah Auburn gambar. Tidak buruk, tidak bagus, hanya saja…menggem—tidak, tidak!

“Ayolah, Auburn. Anggap ini acara reuni kita berdua.”

‘Acara reuni’? Ha! Apa dia sudah kehilangan sisi warasnya, huh?!

Gadis itu ingin mengatakan tidak, tidak tidak dan tidaaaaak. Tapi dari kejauhan teman-temannya memanggil. Itu memecah konsentrasinya dan berakhir dengan mengatakan: “Oke, oke. Sekarang pergi dari sini.”

“Kau mau pergi bersamaku?”

“Ya, ya, ya!”

“Kau bersungguh-sungguh, Auburn!

“PERGIIIIII!!!”

Ya, Tuhan. Apa yang baru saja kulakukan?, batin Auburn selagi mengambil pom-pomnya dari tas.

 

Auburn akan menyesali keputusannya ini. Pasti.

a/n:

Auugggh!! Nantikan kelanjutannya ya setelah projek ini hahahaha aku tadinya pengen nulis pendek aja gituh, tapi kok…kayaknya gak asik aja gitu kalo sat set sat set abis. Heuheu. Aku juga gak nyangka malah keterusan nulis si Seungkwan ehehehe

Btw, selamat debut di Hangukffindo, Boo-aaaa!!❤

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

16 thoughts on “[Day 9] I’m Yours

  1. Ugh kak dira, demi catatan geografiku yang ga kelar kelar mengenai tata surya, kenapa ini menggemaskan bak pipinya seungkwan? Wae? Wae wae wae wae?

    Ya ampun kak, aku lagi (berusaha) menghayati acara menulis catatan geografi dan entah kenapa rasanya aku pengen cepet cepet cek email buat liat kakak udah ngepost belom ya, gitu. Kemudian, saat kutemukan email postingan barumu kak, dan diri ini langsung excited setelah melihat adanya nama Boo Seungkwan disana:’v Dan what the hell, ternyata aku berhasul dibuat ngakak dengan kata alien (sumpab kak, aku orangnya emang gaje). 😆😆😆😆

    Baiklah kak, kutunggu lanjutan antara Auburn dengan Seungkwan nyaaaaaa💞💞💞💞💞

  2. Aku penasaran gimana Seungkwan ngebuat Auburn suka sama dia wkwk. Secara Auburn ini kek tipe-tipe cewek yang dingin gitu kan ya padahal Seungkwannya baik banget sama dia. Ditunggu kelanjutannya kak (:

  3. kenapa juga ada kata ‘kemoceng kasat mata’ kkk
    ada lanjutannya ini, ok, soalnya kayak gantung sih ceritanya, baca, baca, baca tiba2 abis.
    p.s : anak band yang sama auburn, bukan member al capone kan? kkk #ngaco #bedagenerasiwoy

  4. Hai, Kak Dira! 😁
    Akhirnya memutuskan buat sekalian terdampar di sini, karena kok rasanya ngga afdol gitu cuma mampir ke satu fenfik doang .-.

    DAN TERNYATA YANG JADI NEXT PROJECT-NYA KAK DIR ITU SI SEUNGKWAN 😂
    Tapi iya juga sih, ini mah rasanya ngga puas kalo langsung kelar 😂 Auburn yg kayaknya ilfeel berat sama Seungkwan kok bisa gitu tbtb suka. Pasti ada misteri yg terjadi di antara mereka pas makan malam(?) 😂
    Btw Dek Auburn, aku tau kok kenapa orangtua kamu ngizinin kamu diajak makan malam sama Seungkwan🙂 karena orangtua kamu kan tau kalo Seungkwan itu anak baik, dia beneran niat temenan sama kamu, ngga kayak anak band yg ngajakin kamu nonton itu 😂 hahaha

    Gemes ya kayaknya sama sikapnya Auburn yg (dari kecil) udah sok jual mahal gitu 😂 sifatnya kontras banget sama Seungkwan; dan ayo kita liat, gimana reaksinya Auburn pas dia nyadar dia mulai suka sama Seungkwan! 😂

    Oke deh Kak Dir, segini aja dulu.
    See you soon! 💕

  5. Auburn itu penyanyi bukan sih??
    Hehe, kayak pernah denger soalnya. ‘Perfect Two by Auburn’
    Tapi entah kenapa sosok Auburn yang tergambar di otakku bukan Auburn si Penyanyi, tapi ‘Sarah’ di film ‘Bulan yang Terbelah di Langit Amerika’
    .
    Hihihi si Boo emang gemesin banget kayak anak ayam yang digambar sama Auburn (kayak kamu pernah liat gambarannya aja, Sil-,-)
    Dan ada terusannya!!! Ku tunggu!! Ku tunggu!!
    Keep writing ^^

  6. kadiraaaaa, aku balik lagi ❤
    aduh, aku balik tiap tengah malam atau pagi-pagi gitu, sebut saja aku juga punya 'PR' fisika yang lebih rumit dari punya auburn, hahahaha

    yah mari kita sebut ini dengan fangirling-dadakan di saat aku udah nyerah dengan kenyataan aku ada uas mata kuliah yang dosennya paling horor minggu ini. jadi ceritanya baru balik dari akun ikonplayputih setelah harus menerima kalau seungkwan itu gilanya ketulungan, hahaha. member paling bayak ngomong, dan kebanyakan ga jelas, paling percaya diri, dan lagi aura divanya yang paling kuat /merasa sedih karena mengingatkanku dengan byunbaek/. terus baca fic ini…

    AKU TUNGGU LANJUTANNYA KAK DIRAAAA, aku mah pengen tau ini bakalan berakhir gimana. hubungan antara manusia kelas atas dan kelas bawah selalu jadi perbincangan hangat, kak /read:diva sekolah dengan manusia planet/. udah bayangin seungkwan yang pipinya gembul imut antara mau nyubit atau digigit (eh?) hahahaha, aku sukaaa kak diraaa❤

    semangat terus kak diraa🙂

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s