Posted in 13 Days with Seventeen, Fanfiction, Fluff, Friendship, Sad

[Day 8] The Dying Girl

1452394348604.png

Cast: Hoshi x You ▲ Genre: Friendship, Fluff,  SadLength: 1650wc ▲ Rating: PG

Soundtrack: Wiz Khalifa ft. Charlie Puth – See you Again

Summary:

Hoshi masih mengenakan jas (yang dia pikir membuatnya terlihat mirip Josh Hutcherson) dan aku di sebelahnya berpakaian lengkap (berharap bisa menjadi Jennifer Lawrence)

 

Apa yang terjadi jika seandainya kalian punya teman, yang menghabiskan  waktu demi waktu bersamanya adalah kesenangan, dan tiba pada suatu hari kalian menemukan sosok itu lenyap dan menyisakan raga yang tak lagi kalian kenali?

Aku mengenal Hoshi lima tahun yang lalu. Kami lupa bagaimana pertemuan itu bisa terjadi, namun aku yakin dalam pandangan pertama, aku tahu Hoshi adalah teman yang akan menyediakan bahu sekedar untuk bersandar (maupun menangis). Well, aku sih tidak pernah menangis di bahunya. Bahu Hoshi terlalu kurus, tulangnya menusuk telingaku sakit.

Lima tahun bukan waktu yang singkat, pun bukan waktu yang terlampau panjang. Aku mengenal Hoshi dari dia beraroma bedak, lalu bau ketiak mulai populer karena waktu itu kami beranjak remaja, dan kini dia beraroma minyak wangi ala pria-pria dewasa yang ada di iklan itu (yeah, yang rambutnya klimis minta ampun itu).

Malam ini, aku tidak mengenalinya.

Sama sekali.

Hoshi yang kukenal adalah komedian sejati; komika yang sering berdiri di meja kelas dan melontarkan sejumlah cerita konyol—entah fakta, entah karangannya sendiri. Kadang hanya dengan melihat wajahnya, aku pasti tertawa tanpa tahu mengapa aku melakukannya. Begitu mengenalnya, aku tahu tak ada kata penyesalan akan terlintas.

Hoshi yang kukenal punya selera humor tinggi dan dapat menggelitik perutmu tanpa perlu menyentuhnya. Seolah seluruh syarafku berteriak ‘Hoshi sedang melucu! Ayo semua organ tubuh tertawa!’.

“Kau memang terlahir untuk melucu. Aku bersumpah demi apapun yang ada di bumi ini.” Itu kalimat yang sering kuucapkan dan dia menyukainya.

Hoshi yang kukenal…tak seperti ini.

Seperti yang sedang berdiri di depan pintu kamarku tepat pukul delapan malam. Pasti ada makhluk luar angkasa menyerbu rumahnya dan menukar jiwa Hoshi. Atau para alien itu berpura-pura berpakaian layaknya Hoshi dan datang ke sini.

Dia terlalu rapi, terlalu wangi, terlalu tampan, terlalu menarik, terlalu keren. Rambutnya terlalu klimis; aku mengira-ngira berapa banyak minyak rambut yang dia pakai. Jasnya terlalu licin; aku bertanya dalam hati, berapa kali dia menyetrikanya. Sepatunya terlalu mengilap; aku bisa melihat pantualn wajahku terpampang di sana. Dan satu yang tak luput dari perhatianku: senyumnya terlalu tipis. Aku hampir tidak mengenalinya dengan senyuman macam itu.

Siapa kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini; mengetuk pintu kamar anak perempuan dan membawa seikat bunga peony?

“Aku dengar kau tidak bisa pergi ke pesta Prom Night,” ujarnya nyaris seperti bisikan.

Aku bersedekap tangan sambil memindai penampilannya dari ujung kaki sampai kepala. “Yeah, begitulah,” kataku setengah tersenyum. “Dan apa yang Josh Hutcherson lakukan di sini? Menjemput Jennifer Lawrence ke acara Grammy Awards, huh?”

Dia tertawa. Sedikit. Kesannya jadi aneh.

Bukan, ini bukan Hoshi temanku.

“Ibu memaksaku memakai jas konyol ini. Aku jadi terlihat mirip Josh Hutcherson, ya?”

“Ya…dalam mimpimu.”

“Sial.”

Dia tertawa. Lebih lebar. Ah, rasanya dia mulai kembali terlihat seperti Hoshi.

“Kau akan membiarkanku berdiri di sini terus?” tanyanya serius dan tak ada yang bisa kulakukan selain mempersilakannya masuk. Tubuh rampingnya melewatiku sementara aromanya tinggal sejenak di paru-paruku demi memperkenalkan diri.

Well, ini bukan kali pertamanya Hoshi berada di kamarku. Dia beberapa kali ada di sini dan itu sama sekali tidak seperti apa yang kalian bayangkan. Dia bukan pacarku. Dia…temanku. Ya, teman terdekat yang bisa kugapai dalam keadaan ini. Dan tak ada yang Hoshi lakukan setiap kali datang ke sini, kecuali membantuku menyelesaikan projek besar tahunan berupa lukisan laba-laba super besar di dinding. Aku penggemar laba-laba, bukan karena film Spiderman—tokoh yang pakai baju super ketat itu, oke? Menurut Hoshi, Spiderman itu aneh. Pakaiannya terlalu seronok, tak sepantasnya para gadis remaja menggandrunginya sebagai pahlawan.

Ya, terserahlah. Ada sesuatu pada diri hewan berkaki delapan itu yang membuatku tertarik. Kegemaranku terhadap laba-laba membuat Hoshi ‘terpesona’?

“Kau suka laba-laba?” tanya Hoshi

“Yap.”

“Pasti karena Peter Parker,” todongnya waktu itu sembari makan es loli rasa stroberi.

“Of course not! Aku suka laba-laba dan itu adalah sebuah misteri yang tidak bisa kubagikan padamu.”

“Yeah, baiklah. Aku pikir itu keren.”

“Benarkah?”

“Uhuh.”

“Kau…mau bantu aku tidak?”

“Bantu apa?” kata Hoshi, menyobek es loli baru dari belakang punggungnya.

“Aku punya projek gambar…”

Dan bla bla bla, dan bla bla bla. Percakapan kami sungguh panjang dan menarik; tidak menemukan kata akhir sampai akhirnya Hoshi mau mendatangi rumahku dan membantuku mengecat sebagian besar tubuh gelap hewan itu.

Hoshi mewarnai mata laba-laba tersebut dengan warna merah dan kini dia menatap kami penuh tanya. Sudah beberapa hari belakangan ini gambar tersebut tidak punya kemajuan, terabaikan begitu saja. Dinding warna hijau pastel yang seharusnya Hoshi gambar masih putih sepolos warna dinding kamarku. Jaringnya juga masih setengah jadi. Tentu saja ada alasan di balik mengapa semangat kami menurun hingga kami memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya sekarang. Meski setiap malam aku selalu tidur menghadap dinding itu dan bertanya apakah aku sempat melihat laba-laba setinggi 212 sentimeter itu secara utuh. Tak jarang juga aku bermimpi aneh tentangnya yang bertanya “kapan kau akan menyelesaikanku?”, dan aku bangun dengan napas tersengal-sengal.

Ternyata Hoshi punya pemikiran yang sama. Dia menatap lukisan itu sepersekian detik sebelum memalingkan wajahnya. Saat tahu berita tentangku, kala itu dia langsung meletakkan kuasnya dan berlari meninggalkan kamar ini; tanpa kata-kata, tanpa alas kaki, tanpa jaket, padahal udaranya dingin di luar sana. Ah, sudahlah. Itu sudah empat bulan yang lalu. Masih terasa miris jika mengingatnya.

Well,” dia tersenyum lebar, menggoyangkan bunga di tangannya. “Aku membawakanmu ini.”

Thanks. Kau tidak perlu repot-repot.”

No problemo. Ibu yang menyuruhku dan—oh, ini…” Hoshi mengeluarkan kotak berisi gelang bunga. Mawar putih. Bukan favoritku tapi mereka indah dan segar. “Ibu mengoceh seribu kali banyaknya tiap hari. Dia tidak mau aku lupa memasangkan ini di tanganmu pada hari-H. Tsk, dasar ibu-ibu.” Lantas tangannya terulur padaku, seakan meminta izin untuk berdansa tapi hanya aksi sederhana yang dia luncurkan. “Bolehkah…?”

Aku membiarkan Hoshi memasangkan gelang itu pada tanganku. Cantik. Sangat cantik sampai aku tidak tahu apa yang harus kukatakan selain, “Thanks. Aku suka gelangnya.”

Hoshi mengedikkan bahunya santai, “Baguslah kau menyukainya,” lalu dia menggigit bibirnya dikala tatapannya masih jatuh pada bunga itu.
“Kalau begitu…malam ini kau adalah pasangan prom night-ku,” katanya mengumumkan keras-keras.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Kita bahkan tidak berada di ruang dansa. Jangan konyol.”

“Aku setuju denganmu. Prom night itu konyol. Itulah alasannya kau tidak pergi ke sana.”

Kami tahu bukan alasan sederhana itu yang terbaring di balik kenyataannya. Hoshi tahu, aku lebih tahu.

Aku mengulurkan kedua tanganku padanya. “Mau bantu aku duduk di tempat tidur?”

“Dengan senang hati.”

Aku lupa kapan terakhir merasakan gelombang perasaan sebesar ini. Tidak pernah terjadi sebelumnya.

Mum akan histeris jika tahu ada laki-laki yang tidur di kasurku (ditambah aku bersamanya). Namun, semenjak hari itu, Mum mengizinkan semuanya terjadi. Jika Liam Hemsworth mau berbaring di kasurku, Mum akan memperbolehkannya. Jika Ansel Elgort mau satu selimut denganku, Mum akan memperbolehkannya. Jika Christ Evans minta izin menikahiku, mungkin Mum juga akan memperbolehkannya. Yeah, dalam mimpiku tentu saja.

Berkat izin Mum, kini Hoshi berbaring di antara bantal-bantalku yang super empuk. Lengan kami saling bersentuhan, dan jemarinya menelusup—mengisi kekosongan di celah-celah jemariku. Situasi ini sangat jauh dari fantasiku selama ini. Aromanya tidak manis maupun romantis. Tidur bersebelahan dengan laki-laki mungkin hanya akan terjadi sekali dalam hidup, dan aku melewatinya bersama Hoshi—teman dekatku.

Diamlah, ini sama sekali tidak berbau seksual!

Hoshi masih mengenakan jas (yang dia pikir membuatnya terlihat mirip Josh Hutcherson) dan aku di sebelahnya berpakaian lengkap (berharap bisa menjadi Jennifer Lawrence). Kami menatap plafon kamarku, jendelanya, langit di luar, lalu tangan kami yang saling bertautan. Kami pikir ini akan jadi sangat aneh, betapa selama ini aku membiarkan khayalanku berkeliaran dan cuma berhenti sampai pada Hoshi. Titik.

“Seberapa parah?” tanyanya memecah keheningan yang nyaman ini.

“Um,” aku berusaha menemukan kata yang tepat. Apakah aku bisa mengatakan stadium empat tanpa membuat Hoshi histeris seperti kala itu? “Tidak tahu. Bahkan tertawa pun rasanya sakit.”

Hoshi mereguk ludahnya sendiri. Genggaman tangannya mengerat. “Pengobatannya masih terus berjalan, ‘kan?”

Hoshi sebelumnya tak pernah peduli. Dia tak pernah bertanya, dia tak pernah ingin tahu bagaimana rasanya proses menuju kehidupan-setelah-kehidupan-ini. “Kau tahu, terkadang aku ingin mereka berhenti.”

Gluk gluk. Suara di tenggorakannya terdengar jelas. Mulutnya terbuka dan menutup. Hoshi akan mendebat, yeah, dia selalu begitu. Ideologi kami tak mampu diselaraskan. Selanjutnya, dia berbicara dengan suara tercekat.

“Tidak, ti-tidak boleh berhenti.”

“Aku lelah, Hoshi. Aku lelah,” desahku. Memang benar, hidup ini melelahkan. Apalagi jika kau jadi aku. Tidak berambut, kulitmu diwarnai oleh lebam biru keunguan, treatment yang selalu berhasil membuatmu memuntahkan isi perutmu di akhir sesi.

“Kau—kau, tidak…” air mata menguraikan diri dari kedua sisi matanya. Hoshi menolak suara isakan memalukan itu keluar tapi apa boleh buat. Dia mempersilakan dirinya menangis dan dekapannya terasa sangat familiar. Ah, temankuHoshi-ku.

“Hoshi…” aku memanggilnya dan itu membuatnya semakin kencang menangis.

Dia menghabiskan 30 menit untuk berdamai dengan dirinya, untuk membisikkan kata-kata emosional yang entah dia dapat dari mana. Dia memasukkannya satu persatu, baris per baris, paragraf per paragraf ke dalam telingaku—berusaha mengantarkannya ke lubuk hati paling dasar.

“Ber-berjanjilah kau akan sembuh…”

“Aku akan melakukan semua yang kau inginkan…”

“Kita—aku bisa menyelesaikan gambar laba-labanya sekarang juga…”

“Sial! Apa ini akhiran yang kau mau, huh?”

“Kau tidak perlu takut soal rambutmu. Kau bisa menemukan wig yang cocok untukmu.”

“Kau bisa mengundangku ke sesi pengobatan selanjutnya. Aku berjanji akan berada di sana sampai selesai. Aku janji aku tidak akan lari.”

Please, please, ayolah…”

“Berjanjilah padaku—berjanjilah padaku. Kumohon. Demi apa pun yang ada di dunia ini. Bersumpahlah! Bersumpahlah!”

Kalimat terakhir yang Hoshi sampaikan berupa gumpalan emosi yang tak terbendung. Saat lamat-lamat menuruni sisi kemanusiaanku, aku berharap Tuhan mau berbelas kasih padaku.

“Jangan pergi, temanku. Jangan.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pukul 02.35, Hoshi tertidur pulas dengan lagu The Platters masih melantun sendu. Penyanyinya asik sendiri sementara para pendengarnya telah melanglang-buana hingga ke langit lapisan paling atas. Cahaya lampu gantung menari-nari lucu di dinding dan aku baru menyadari laba-laba itu sama sekali tidak lucu pun tidak keren. Beruntunglah kami tidak menyelesaikannya.

Aku memejamkan mata.

Kegelapan tak pernah setenang ini.

Hoshi-a, jika besok pagi aku tidak bangun…jangan bangunkan aku. Matikan alarmnya. Aku tidak akan mendaftar di kampus mana pun. Rasa lelahnya harus berhenti sampai di sini. Terimakasih atas bunga peony-nya, aku sangat menyukainya.

 

 

a/n:

yap! Kalau ada yang pernah nonton Me, Earl, and The Dying Girl, yap, aku ngambil scene terakhir mereka dan diadaptasi ke dalam fic ini.

Please, itu sedih banget. Fic-ku di atas emang gak sesedih film-nya T_T tapi parah sih, sedih banget HUHUHUHU. My faaaaaaaave!! Kalo yang belom nonton, silakeun ditonton. Bukunya juga bagus, tapi sedihnya kurang dapet sih, lebih ke lucu. Pokoknya, sungguh menguras air mata deh huhuhuhu.

Dan, fyi, ceweknya di Me, Earl, and The Dying Girl itu sakit Leukimia. Jadi, ceritanya sama juga di fic ini.

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

31 thoughts on “[Day 8] The Dying Girl

  1. huhuu kak Dira demi apa fic ini bikin nyesek akhirnya😥 kayaknya kakak jadi suka deh bikin orang baper, kan cape baper mulu (apasih) *curhat. Ini udah 7 hari yeayyy congrats ya kak Dira :-* tinggal 6 hari lagi selesai deh, selamat buat kakak yg sukses bikin mood aku kaya lagi jungkir balik di kasur selama 7 hari ini yeaay *prokprok keep writing kak Dira tercinta❤

  2. WEH KAK DIRA INI KOK NYESEQUE??????😭😭😭
    Yaampun, padahal aku excited sendiri karena demi kemeja licin yang kelewat rapih itu, ini hoshi. HOSHI. Yaampun kemana semua oksigen? (tabok aja kak gapapa kok sumpah)

    Ah ya kak dir, serius, ini dalem banget lhaa yaampun aku sampe membayangkan dengan detail bagaimana wajah hoshi pas nangis (matanya makin menghilang, of course). Terbaik kak, ini satu kesukaanku di project kakak yang kali ini❤

    Dan….yah, aku mau menjelajah isi rumahmu lagi kak setelah dapet notif yang bikin aku berteriak dalam hati; ‘weh, komentar gue di bales kak dira waduh mantabb’

    Jadi kak, ga keberatan kan ya kalo aku nyampah lagi?😄

  3. Dir, yang ini sedih😦
    Ya ampun, kebahagiaannya Hoshi ikutan lenyap
    Awalnya kukira ceweknya udah meninggal, terus itu tinggal arwahnya, ternyata masih hidup

  4. PELIS MBA PELIS, EKE JUGA LAGI BIKIN FIC HOSHI. TRUS DISUGUHI KAYAK GINI, YA NANGIS SEWADUK MBA DUHEH.

    Belom nonton filmnya sih betewe tapi kalo yang rekomen Dira pastilah bagus heu :3
    Dan aku gatau baca fic Dira ini, ada perasaan merinding (?) gitu. Bukan merinding serem, bukan.
    Lebih ke apa yaa… semacam ada aura (?) dan feel yang uugghh gitu *udah abaikan ini ga jelas*

    Dan pokoknya selalu suka fic Dira yang keyen2 💕

    SEMANGAT!! ❤

    1. WOAAAAHH AKU MAU DONG BACA HEHEHEHE

      ‘nangis sewaduk’ wahahahaha

      serem amat kalo sampe bikin merindik serem huhu jangan dong

      makasih ya riiin udah baca dan komen heheheh🙂 kutunggu projekmuuuh❤

  5. Speechless aku kak, ini syedih sekali(”’: (lebay akut)

    Kukira apa toh, taunya pas nyampe tengah lah ceweknya sakit? Trus makin kesana…makin kesana… /sobs

    Btw makasih buat rekomendasinya ya kak, nanti kutonton deh filmnya hehe

    See you tomorrow kak~

  6. Kenapa endingnya harus sedih gini? Leukemia, oke, itu penyakit emang bikin nyesek. Ngebayangin punya temen kaya gitu jadi serasa kehilangan banget. Sayangnya aku ngebut baca, kurang dihayati, hahaha #sekolah. Fighting Kak Dira, sorry nih komennya gini-gini mulu, gak asik. Semangat lanjut!

    1. yaaaah nanti dibaca dengan perlahan2 ya

      ((ternyata juga gak merasuk ke sukma ceritanya)) hahaha

      hayo jangan baca fanfic di sekolah, entar ketangkep guru, aku yang disalahin: “siapa nih hangukffindo huh?” :(((

      btw makasih udah baca dan komen hehehe🙂

  7. Dear, ka dira..

    aku seriusan gatau mau bilang apa. ini mungkin sedikit ga nyambung sama fic diatas, tapi aku juga baru selesai sedih-sedihan karna mama teman dekat aku di kampus baru meninggal jumat yang lalu. yah, singkatnya teman aku yang ributnya parah jadi pendian gitu semalam, seharian penuh. yang pastinya sebagai temanny, aku mah juga sedih liat dia gitu. tapi, mungkin Tuhan punya rencana lain buat dia.
    dan mari kita hentikan segala curhatan ini,🙂

    pas baca di awal, aku sempat mikir kalau si hoshi yang bakal pergi gitu, tapi kaget waktu udah ulai masuk di pertengahan. baca ini aja berhasil buat aku sedih, gimana lagi kalau liat secara visualnya. yah, kehilangan seorang teman, /walaupun mungkin kalau ‘aku’ masih hidup, dia dan hoshi bakal merajut kasih lebih dari seorang teman/ tetap aja sedihnya itu enggak bisa diungkapin sama kata-kata. kehilangan memang enggak pernah berakhir dengan senyuman /kecuali kehilangan hati karna diambil hoshi/😀

    anyway, ini fic sad yang paling aku suka sejauh ini.
    maacih buat ficnya kak diraaaaa :3

    1. awwwh turut berduka juga yaaa :”

      makasih banyak ya van udah sempetin baca dan komen. maaf kalo mengingatkanmu pada mendiang temanmu. Sahabatku waktu SMP juga pergi dengan penyakit yang sama kayak ini :”

      pokoknya makasiiiih!!! hehehe

  8. kak. dira. ini. apa………
    Hoshi yg kesehariannya paling bombastis di seventeen kenapa malah dapet fenfik paling mellow ;;;-;;; duh heuheu, aku ngga bisa ketawa meskipun di dalam kepalaku aku terus bayangin ekspresinya Hoshi pas nangis gimana //.\\
    ((aku inget ekspresi dia nangis pas di episode terakhir Seventeen Project, yawlaaa ;;-;;))

    sebenernya sempet curiga grgr judulnya ‘Gadis yang Mati’, lalu ada genre ‘sad’ yang dicoret di atas…. oke, sampai di situ aku masih positive thinking. tapi begitu baca makin ke tengah makin ke tengah… kok… kok… kok… dan aku mulai curiga kalo sebenernya si cewek kenapa-kenapa =.= apalagi pas dia minta bantuan Hoshi buat nuntun dia ke tempat tidur.
    oke, ini sedihnya dapet, bapernya dapet. kalo dua fenfik sebelumnya (Jun sama Uji) masih ada harapan buat happy ending setelah kata ‘end’, kalo yg ini happy ending apa ;;-;; oke, akhirannya sih melegakan karena si cewek bisa pergi dengan tenang. tapi Hoshi-nya pasti galau banget ;;-;;
    uh, Hoshi… biasku(?) ;;;-;;;

    oh, iya! aku jadi inget kalo aku pernah nonton film juga yg temanya agak mirip kayak film yg kakak sebutin di atas. tapi film indonesia sih, hehehe, waktu itu aku juga nontonnya ngga sengaja grgr lagi home alone .-. /lah malah curhat/
    jadi ceritanya ada cewek sama cowok yg sahabatan gitu. nah si cewek itu emang punya selera yg ngga biasa, agak nyentrik, tapi baik hati dan punya kharisma tersendiri gitu yg bikin cowoknya ngerasa nyaman sahabatan sama dia. si cowok sih suka sama sahabatnya ini, tapi ngga ada kejelasan sampe ending si cewek ini balik suka sama si cowok apa engga .-. tapi endingnya lebih nyesek kak, si cewek akhirnya meninggal di saat dia lagi marahan sama sahabat cowoknya; grgr si cewek berusaha nyomblangin cowoknya sama cewek lain yg cowok itu ngga suka. dan si sahabat cowok baru ketemu sama ceweknya pas dia mau minta maaf, tapi udah telat karena ceweknya keburu meninggal ;;-;; aku baper parah nonton film itu, nangis kak ;;-;; oke.
    tapi nilai plusnya kalo film itu sih jadi si cewek sebelum meninggal emang bikin mission list gitu, nah di balik misi-misi (yg di-upload di yutub itu) tersebut, ternyata si cewek tuh punya niat yg ngga pernah dia kasih tahu ke sahabat cowoknya. jadi si cewek pengen ngerubah kebiasaan-kebiasaan buruk sahabat cowoknya, dan dia menerapkannya di misi-misi yang dijalaninnya bareng sama si cowok, supaya sahabat cowoknya tuh bisa merubah sifat jeleknya setelah dia meninggal ;;-;;
    duh, hahaha. tuh kan jadi curhat. btw itu judul filmya ‘7 Misi Rahasia Sophie’🙂

    oke kan, sekian dulu cuap-cuap dariku.
    see you soon, Kak Dira ^^
    ((btw fenfiknya Joshua dua hari lagi kan, hehehe))

    1. aku sebenernya pengen bikin cerita yang lucu gitu buat si Hoshi tapi dia kayak semacem cocok buat karakternya si Greg di film Me Earl and the Dying Girl huhu lucu-lucu suka ngebanyol. Tapi emang akhirannya tuh gak lucu banget😦

      waaah film Indonesia…aku jarang nonton huhu nanti coba kuliat hehehe makasih ya buat resensinya di atas hehehe🙂

      see you soon juga dan makasih banyak ya udah baca dan komen😉

      hihi kamu suka sama Joshua ya?hehehe nantikan sajalah

      1. Iya. Aku kira juga Hoshi dapet yang lucu-lucu gitu…
        Dan… Joshua juga aku kira dapet cerita yg fluffy-fluffy gimanaaaa gitu. Ternyata setelah aku baca makin kesini makin banyak yg angst .-. Hahahaha
        Tapi gapapa kok. Buatan Kak Dira mah ttp dabest! 😉

        Iya, Kak, sama-sama🙂
        Iyaaa, Mas Josh bias utamaku 😂 hahahaha. Banyak juga yg udah nungguin dia dr awal >.<

  9. Huhuhu TT__TT.
    Hoshi itu konyol kak, petakilan, banyak omong, dan ketawa mulu, eh, di ff ini dia ngenes banget, ditinggal mati sama kawannya :””(
    Kak Dira itu, udah dapet predikat penulis-fluff-favourit di daftar penulis2 hebat yang aku bikin. Jadi, di otakku, kalo denger nama kak Dira, pikiran pertama pasti fluffy fic gitu.
    Dan sekarang kak Dira bikin sad yang bikin baper astagaaa…. rasanya ingin ku peluk saja Kak Dira ini >< Aku suka banget sama endingnya… greget!!
    .
    .
    'Kegelapan tak pernah setenang ini'
    Daebak!
    Keep writing^^

  10. Imajinasiku udah melalang buana
    Kirain cewe ny kena kasus-you know-pemerkosaan atau kecelakaan yg bisa membuat Hoshi lari kaya org gila tapi ternyata……
    Kak, knp bagian Hoshi dapet yg sad gini sah.. aku kan laper-eh salah-baper maksudnya😄
    Pengen deh punya temen yg kaya Hoshi, pacar juga gpp deh😄

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s