Posted in 13 Days with Seventeen, Fanfiction, Fluff, Friendship, Romance

[Day 5] Another Version

wp-1452248159981.png

Cast: DK (Lee Seokmin) x OC’s Joey ▲ Genre: Friendship, Fluff, Romance ▲ Length: 2644wc ▲ Rating: PG-15

Soundtrack: Taylor Swift – Red

Summary:

Katanya, Lee Seokmin adalah Taylor Swift versi pria di kampus.

Katanya, Lee Seokmin adalah Taylor Swift versi pria di kampus.

Bukan wajahnya yang mirip Taylor Swift. Rambut Lee Seokmin hitam (bukan pirang) dan dia, tentu saja, tidak pakai lipstik merah menyala seperti penyanyi itu. Kali pertama Joey mengenalnya di tahun pertama masuk kuliah, pemuda tersebut tak lebih dari seorang pemuda yang terlalu banyak mengumbar senyum. Pada senior, dia tersenyum; pada dosen, dia tersenyum; pada penjaga kantin; dia tersenyum; pada tukang sapu di kampus, dia tersenyum. Joey tidak heran jika suatu hari nanti dia menangkap Seokmin sedang tersenyum pada tong sampah.

Terlebih lagi, Joey tidak membayangkan Seokmin akan menjadi temannya (oke, sahabatnya sekarang) di kemudian hari. Apa ya, seperti tidak mungkin saja. Maksudnya, Joey seorang gadis tomboy dan Lee Seokmin tidak memberi senyumnya secara gratis pada gadis semacamnya. Joey punya rambut pendek, sepatunya tidak pernah keluar dari genre sneakers atau keds. Semua bajunya sedikit kebesaran bagi tubuh mungilnya. Sementara tipe gadis yang Seokmin sadari eksistensinya adalah gadis-gadis berambut panjang, beraroma stroberi atau vanila, baju ketat yang memperlihatkan semua lekuk tubuh bak gitar Spanyol.

Seokmin hanya melihat Joey sebelah mata, dan Joey—gadis itu malas setengah mati saat Seokmin meminjam pulpennya waktu itu di kantin. Sekejap milo dinginnya terasa sedikit pahit.

“Psst!”

Joey mengabaikannya.

“Psst!”

Joey masih mengabaikannya. Goda gadis lain saja sana, ya ampun!

“Joey!”

Joey pun menoleh. Oh, kau tahu namaku? “Ya?”

“Astaga, apa rambutmu yang tebal itu menghalangi pendengaranmu?” Tanpa dinyana Seokmin beranjak dari kursinya di seberang dan duduk di sebelah Joey. Joey menatapnya bingung, seolah berkata: “Man, apa kita saling mengenal?”

“Kita sekelas ‘kan?” tanya Seokmin.

“Eumm, ya.”

“Aku sering melihatmu kok.”

“O…oke, lalu?”

Seokmin tersenyum. Dia TERSENYUM yang benar-benar…TERSENYUM. Sederet gigi putihnya begitu menyilaukan mata, dan Joey berpikir mungkin Seokmin mau membintangi iklan pasta gigi untuk mengisi waktu luang.

“Boleh pinjam pulpen tidak?”

Hmm, Joey sudah tahu senyuman itu pasti punya sejuta arti. Joey kira tadinya dia mau minta milo dinginnya, tapi ternyata Seokmin cuma mau pinjam pulpen. Tapi—tidak! Bukan ‘cuma’, pulpen adalah benda yang sangat penting bagi mahasiswa.

“Err, tentu.” Dan tolong kembalikan lagi ya, kumohon.

Joey meminjamkan pulpen hitamnya waktu itu. Dan…pulpennya tidak kembali. Hanya sosok Seokmin yang kembali dan menawarkan sebuah persahabatan di antara keduanya. Kini, sudah dua tahun mereka bersahabat. Tiba-tiba ada istilah Taylor Swift versi pria menempel pada dahi Seokmin.

Sebagai teman lama yang sudah tahu betul siapa itu Lee Seokmin, Joey sih tidak heran. Itu jelas terlihat dari kebiasaannya menebar pesona dan mengaitkan hati pada setiap perempuan yang lewat di depan hidungnya. Lagi pula, hobi Seokmin—selain tidur dan bernyanyi—adalah gonta-ganti pacar. Astaga, dia melakukannya semudah berganti saluran teve. Lalu, seolah alam semesta berpihak padanya, ada saja ide membuat lagu menabrak kepalanya pasca putus hubungan. Dan kau tahu, lagu-lagu itu tak pernah tidak hits. Semua orang menyukainya, semua orang menyanyikannya di kampus. Lalu lahirlah sosok Lee Seokmin yang dielu-elukan itu.

Seokmin selalu bilang: “Alam itu adil, Joey. Lihat, apa yang dia berikan padaku setelah semua perbuatan gadis-gadis menyebalkan itu terhadapku.”

“Bukankah kau yang memutuskan hubungan dengan mereka?” tanya Joey bingung.

Noooo, Joey,” tukasnya segera dan merangkul temannya itu. Dia berceloteh seakan berpacaran selama tiga hari dan putus begitu saja adalah suatu hal yang wajar. “Mereka menyebalkan, cerewet dan tukang gosip. Jadi wajar jika aku meninggalkannya.”

Ugh, Joey tidak perlu mendengar alasan demi alasan lebih lanjut. Lee Seokmin selalu punya alasan dan dia pintar berkata-kata. Tidak heran kalau lagunya diputar di kantin atau lorong-lorong kampus. Mereka bilang ada sesuatu yang Seokmin letakkan di setiap lagunya, entah perasaan di bait-baitnya, atau itu hanya efek suaranya yang merdu—yang membuat semua orang merasakan emosi dan nyawa dalam lagu-lagunya.

Wah, sungguh hebat Lee Seokmin yang satu ini, pikir Joey. Jelas-jelas pemuda itu yang meninggalkan luka di hati para gadis itu, namun semua fakta seperti berjungkir balik tak karuan di lagunya, membuatnya persis seperti Romeo yang ditinggal mati oleh sang Juliet. Salah satu favorit Joey di antara lagu-lagu patah hati itu adalah satu yang berjudul Homeless Without You. Liriknya sungguh tragis nan penuh tipu daya.

I just want you to know

that I’m homeless since you walked out from my heart…

 

Bravo, Lee Seokmin. Bravo!

Well, omong-omong tentang Seokmin, pemuda itu tidak terlihat batang hidungnya siang ini. Joey ingat mereka keluar bersama-sama dari kelas, namun Seokmin pergi ke kamar mandi sebentar dan—PUFF! menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Gadis itu pun hanya mengedikkan bahunya santai semenjak Seokmin tidak mengangkat teleponnya. Dia mengetik pesan via LINE : “Aku di tempat biasa.”

Tempat biasa, ah ya, ‘tempat biasa’ kedua sahabat itu berupa ruang rapat di gedung H, dekat dengan kantin. Ruangannya yang cukup besar dan sangaaaaat nyaman menjadi tempat persinggahan mereka. Ada banyak bantal dan karpetnya supeeeeer lembut. Jika tidak ada kuliah, mereka berdua akan dengan setia berbaring di sana sambil makan atau mengobrol tentang jadi-kau-mau-pacaran-dengan-siapa-Joey dan dibalas dengan sanggahan belum-ada-yang-menarik-terima-kasih-lalu-bagaimana-dengan-pacarmu-yang-kemarin, Seokmin mengedikkan bahu dan mengangkat topik cuma-bertahan-dua-hari-terima-kasih-aku-rasa-aku-akan-menulis-lagu-lagi. Dan—oh, jangan lupakan radionya. Mereka pendengar setia radio kampus yang selalu siaran mulai pukul 10 pagi sampai pukul 3 siang. Perbincangan mereka selalu diselingi lagu-lagu yang melantun.

Aneh rasanya ketika Joey mengambil bantal dan berbaring di sana sendirian tanpa Seokmin di sampingnya. Eumm, seperti baru menyadari ruangan itu terasa lebih luas daripada biasanya, lebih sepi dari biasanya, lebih canggung karena dinding-dinding di sekelilingnya bertanya ‘di mana sahabatmu?’, Joey cemberut dan berkata ‘aku tidak tahu. Pesawat luar angkasa pasti menculiknya ke planet Mars’. Joey menyetel radionya dan suara ringan khas Ryeowook—senior tingkat akhir—langsung melantun ramah. Ryeowook berkata hari ini adalah hari yang spesial. Kenapa? Karena dia baru saja kedatangan bintang tamu. Tebak siapa dia!

Selamat pagi para pendengar setia Kiss the Radio. Apa kabar? Kuharap kalian baik-baik saja. Pekan ujian akhir memang menyebalkan kawan, tapi…oke, aku tidak akan membahasnya haha!

Joey adalah penggemar senior mereka yang satu itu. Ada sesuatu di suaranya yang selalu membangkitkan semangat dalam jiwanya. Oke, itu berlebihan, tapi itu benar adanya. Kira-kira siapa bintang tamu hari ini. Kemarin studio Ryeowook kedatangan presiden kampus dan siarannya dipenuhi protes serta aspirasi seseorang yang kebakaran jenggot. Sungguh deh, sekejap Joey mengira kampus mereka disabotase oleh seorang anggota partai tertentu.

Kali ini studioku kedatangan seseorang yang sangat spesial. Bisakah kau menyapa pendengar kita hari ini, wahai Mister X.

Halo~

Ah, Joey tahu siapa dia. Suara itu, gelak tawa di ujung kalimat sapaannya. “Dasar keparat. Pantas tiba-tiba kau menghilang. Ternyata kau ada siaran.”

Awh, bahkan di studio kedap suara seperti ini, aku bisa mendengar samar-samar ratusan mahasiswi di kampus ini meneriakkan namamu. Kau benar-benar terkenal. Kau bahkan belum menyebutkan namamu kan?

Hahaha! Kau berlebihan, hyung.”

Aish, aku serius. Tapi, yap! Aku rasa para pendengar sudah tahu siapa bintang tamuku kali ini. Lee-Seok-miiinn!! Wohooo!

Lalu backsound-nya dipenuhi gemuruh suara tepukan tangan dan siulan.

Hai, aku Lee Seokmin.

Kau sangat tampan hari ini, Lee Seokmin. Terima kasih sudah mau datang.

Oh, seharusnya aku yang berterima kasih padamu, hyung. Kau telah mengundangku. Sebuah kehormatan bagiku.

Ah, terima kasih. Baiklah, aku rasa satu jam ke depan bersamamu akan sangat menyenangkan. Tolong para gadis di luar sana jangan iri, ya.

Hahaha.”

Samar-samar Joey mendengar teriakan segerembolan para gadis di luar. “Kyaaaa! Seokmin-Oppa!” Ya ampun.

Lee Seokmin, aku yakin semua orang telah mengenalmu. Terlebih lagi dengan julukan ‘Taylor Swift versi Pria’. Bisa kau jelaskan mengapa julukan itu bisa melekat padamu?

Eum, yeah, sebenarnya aku tidak tahu pasti mengapa mereka menjulukiku Taylor Swift versi Pria. Maksudku, aku akan lebih senang jika mereka menyebutku Calvin Harris versi Korea hahaha~

“Kenapa kau lucu sekali sih, Lee Seokmin?” komentar Joey sarkastik sementara tangannya memperbesar volume suara radio.

Ada yang bilang itu karena kebiasaanmu.”

Kebiasaanku? Memangnya apa kebiasaanku? Aku hanya tidur, makan, pergi ke kampus, bernyanyi. Itu saja.

Sok polos, batin Joey.

Well, kebiasaanmu yang lain, Lee Seokmin. Mereka bilang kau mirip Taylor Swift. Kau menulis lagu setelah putus hubungan dengan pacar-pacarmu.

Joey mendengar Seokmin menghela napas. Dia pasti bosan menjawab pertanyaan semacam ini. Salahmu! pikir Joey.

Pertama, aku tidak tahu bahwa aku punya kebiasaan yang sama seperti Taylor Swift. Kedua, sebenarnya aku menulis lagu kapan pun aku merasa ingin menulisnya. Tapi mungkin…ada sensasi yang berbeda saat aku menulis setelah putus pacaran. Sebuah kebetulan saja. Seperti semua orang menungguku putus dan mereka tidak sabar ingin mendengar laguku.

Jadi, itu motif di balik semua ini? Kau sengaja berpacaran dan putus setelahnya hanya demi membuat lagu? Apa ini tidak terlalu sadis?

Err, kau membuatku terdengar sangat berengsek, hyung. Hahahaha~

Hahaha~maafkan aku, Seokmin. Tapi, serius, apa alasannya?”

“Aku…oke. Aku tidak tahu kau akan membahas ini hahaha~

Joey merasakan senyumannya lewat suara itu. Senyum canggung yang tidak biasa ditunjukkan.

Eumm, mari jujur. Aku tidak pernah menginginkan hubungan yang hanya seumur jagung. Maksudku, siapa yang mau? Tidak ada. Dan aku juga tidak mengharapkannya, tapi inilah yang terjadi. Pada kenyataannya, hubunganku dengan orang-orang itu tidak berjalan baik. Aku pikir aku berada dalam tahap…pencarian. Semacam itu.

Tahap pencarian? Kau masih terus mencari seseorang yang tepat sambil menulis lagu? Kau hebat, Lee Seokmin.”

“Tidak, aku tidak hebat, hyung. Mereka mencapku sebagai playboy. Itu tidak baik hahahaha~”

“Yeah, tapi seperti yang kau bilang tadi, kau masih dalam tahap pencarian. Semua juga tahu itu proses yang normal. Pertemuan dan perpisahan itu.”

“Yeah, aku juga berpikir demikian.”

Lalu hening sejenak. Joey mengira radionya rusak, tapi ternyata Ryeowook dan Seokmin memang tidak mengatakan apa-apa. Dia membayangkan wajah Seokmin yang setengah melamun, mata yang menerawang di dalam ruangan sempit itu sementara Ryeowook mempersiapkan lagu selanjutnya. Hari ini Seokmin tampak sedikit berbeda; dia memakai kemeja motif kotak-kotak warna biru (yang sangat jarang dia pakai) dan menurut Joey, Seokmin tidak jelek meskipun dia sering mengatainya begitu. Nyatanya, pagi ini Joey menghabiskan tiga detik dalam hidupnya untuk berpikir mengapa hanya dia perempuan yang tidak terpesona pada Seokmin selama ini. Seokmin tampan hari ini (begitu juga hari-hari sebelumnya), pantas semua perempuan ingin bersamanya.

Apa Joey juga termasuk ke dalam ‘perempuan-perempuan-yang-menginginkan-Seokmin’?

Jawabannya adalah…dia tidak tahu. Mereka berada di tahap Aku-Telah-Menemukan-Sahabat-Sejatiku, dan gadis itu tidak pernah tahu ada tahapan selanjutnya.

Apa dia berharap mereka melangkah ke tahapan yang lebih jauh?

Entahlah.

Joey memejamkan kedua matanya sembari Ryeowook memutarkan lagu Taylor Swift yang berjudul Red. Lagu berdurasi 3 menit lebih itu mengalun, hentakan nadanya dan suaranya memenuhi kepala Joey. Gadis itu baru sadar betapa cheesy lirik Taylor Swift yang satu ini. Apa Taylor Swift sedang kerasukan roh sampai bisa menulis lirik seperti ini? pikir Joey.

Losing him was blue like I’d never known

Missing him was dark grey all alone

Forgetting him was like trying to know somebody you never met…

What the hell, Taylor Swift. What the hell, Lee Seokmin,” komentarnya, menahan rasa mual di perut.

Lagunya usai dan digantikan dengan suara Ryeowook lagi. Percakapan yang Ryeowook buka kali ini lebih mendalam, membuat Joey membayangkan wajah Seokmin yang bergerak tidak nyaman dan Joey jadi tertawa.

’Loving you is red’. Wow, maaf, Seokimin, aku tidak bermaksud memutarkan lagu Taylor Swift di siaran kali ini. Tapi semenjak para pendengar tahu kau ada di sini, permintaan lagu akan Taylor Swiift melonjak dan merusak website kami. Kau luar biasa. Tidak pernah ada bintang tamu kami yang merusak website.

Hahahaha! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, hyung. Maaf.

Jangan minta maaf. Kami akan memutar lagu Calvin Harris sebelum lagumu nanti. Setuju?

Oh my God—hahaha! Terserah padamu, hyung, sungguh.

Well, well, well, berbicara tentang cinta…tampaknya pengalaman cintamu sungguh berlika-liku dan…banyak. Aku tidak bilang kau playboy, hanya…aku penasaran, apa kau punya kriteria—maksudku, gadis seperti apa yang kau inginkan dalam hidup, Lee Seokmin?

“…”

Apa ini pertanyaan yang sulit? Kita bisa menggantinya dengan yang lain kalau kau mau. Kau tahu, kau terlihat berpikir keras—

Tidak, tidak, hyung. Ini…pertanyaan yang sangat mudah sebenarnya.

Baiklah, kami siap mendengarkannya.”

Joey mendengar Seokmin berdeham, derit kursinya juga terdengar. Ini cerita yang panjang.

Sebenarnya…aku hanya menginginkan satu orang dalam hidupku.

Maksudmu selama ini kau sudah menemukannya?

Yap! Dia…” Seokmin bilang ini mudah, tapi yang Joey dengar adalah Seokmin benar-benar kesulitan, seperti dia sedang meraba kalimat per kalimat yang ingin diucapkan. “Dia seseorang yang sudah lama kukenal.

Dan Joey berpikir, hah? Siapa?

Oh, benarkah? Seperti apa dia?” Ya, benar, seperti apa dia, Joey super duper penasaran karena Seokmin tidak pernah cerita apa-apa tentang ‘Orang-Yang-Paling-Seokmin-Inginkan-di-Dunia-Ini’ sekali pun sebelumnya.

Dia orang yang sangat menyenangkan; kombinasi dari kata menyebalkan dan menenangkan. Entahlah, terkadang dia menyebalkan, tapi jauh darinya membuatku tidak menemukan ketenangan. Dia juga lucu, terkadang leluconnya membuatku sakit perut dan tidak bisa pergi kuliah, karena yang kuinginkan hanyalah mendengarkan suaranya, aku bahkan berjanji pada diriku sendiri, aku akan selalu tertawa meskipun kelucuan dalam leluconnya telah habis. Asalkan bisa bersamanya…yeah, asalkan bisa bersamanya.

Joey mengernyitkan dahinya. Sedalam itu Seokmin mencintai seseorang? Kenapa dia sangat…lame? Dan terlebih lagi, Seokmin tidak pernah cerita!

Asalkan bisa selalu bersamanya…” gumam Ryeowook.

Yeah, apa yang bisa kulakukan, hyung?

Tunggu sebentar, Seokmin. Kau membuatku bingung.” Ya, aku juga bingung, ucap Joey dalam hati.

“Ya?”

“Dilihat dari wajah, ekspresimu, dan kata-katamu tadi…kau sangat menyukai orang ini. Dan, apa yang membuatmu mencari orang lain; memacari sekian banyak perempuan tapi hari ini kau mengaku kau hanya punya satu orang yang kau inginkan dalam hidupmu selama ini. Tolong, Seokmin, jelaskan—“

“Aku pikir…jatuh cinta padanya membuatku gila dan kacau balau, hyung. Dan bayangkan apa yang akan terjadi jika aku bersamanya, duniaku akan lebih kacau dari sebelumnya. Bayangkan jika suatu hari dia mengakhiri hubungan kami. Haha~ aku tak yakin dapat menulis lagu tentang kami. Aku tidak yakin aku masih utuh saat badai itu melandaku. Jadi, aku mencari dan mencari, tapi aku selalu kembali padanya, dia orang pertama yang kukabari ‘aku putus lagi, ayo hibur aku’, meneleponnya di tengah malam untuk bilang ‘aku baru buat satu lagi, mau dengarkan?’—“ Seokmin berhenti dan tertawa kecil, “ah, ini memalukan, aku baru saja menyatakan perasaanku, dia pasti mendengarnya.

Kau yakin dia sedang mendengarkan siaran ini?” tanya Ryeowook.

Joey tak  mau berspekulasi. Dia terlalu takut mendengar jawaban yang akan Seokmin katakan. Tangannya bersiap menekan tombol off radionya saat Seokmin berkata,

Aku yakin dia mendengarnya. Kami berdua selalu mendengarkan radio setiap jeda kuliah.

.

.

Hubungan cinta antara dua orang sungguh melelahkan dan membingungkan. Seokmin merasakannya berkali-kali dalam hidupnya, dan kali ini, dia mau berhenti saja.

Hubungan pertemanan antara dua orang sungguh lucu sekaligus membingungkan. Joey merasakannya satu kali dalam hidupnya, dan kali ini, dia mau sudahi saja.

Joey menemukan Seokmin berbaring di ruang rapat gedung H setelah kuliah terakhir sore itu. Lengannya yang panjang melintang tutupi wajahnya. Dadanya naik turun, bernapas pelan dan konstan yang membuktikan orang ini masih hidup. Karena Joey membutuhkannya tetap hidup. Seokmin harus menjelaskan semuanya.

Gadis itu ingin melempar berbagai pertanyaan, namun pengakuan Seokmin di radio sudah cukup membuat harinya seolah dilanda kabut tebal; tak berarah, menyesatkan, alhasil dia tidak bisa berkonsentrasi pada kuliah terakhirnya.

Joey memutuskan untuk ikut membaringkan diri di sampingnya. Kekacauan dalam sel-sel di otaknya membuat Joey meletakkan kepala serta sebagian berat tubuhnya di atas dada pemuda itu. Sontak Seokmin membuka matanya.

“Joey? Apa yang—”

Degdegdegdegdegdegdegdegdeg. Jantung Seokmin terdengar seribu kali berdetak lebih cepat.

“Apa sih yang kau katakan di radio tadi siang?” gumam Joey, merasakan jantungnya juga ikut memacu. Sensasi ini belum pernah menuruni kerongkongannya.

Seokmin tidak langsung menjawab. Dia menghela napasnya dalam-dalam. “Hah…aku tahu kau mendengarnya.”

Kok kau terdengar menyesal begitu sih?”

“Menyesal? Aku malu, oke?! Setelah siaran tadi rasanya aku mau melemparkan diri ke jurang dan tidak pernah muncul lagi!”

Joey mendongak, tatapannya bertemu dengan milik Seokmin. Dia terlihat panik, malu, ada semburat merah merayap perlahan-lahan di kedua sisi pipinya. Pernyataan itu untuknya. Joey tahu. “Jadi, apa yang kau katakan itu serius? Bukan drama agar kau terlihat makin populer; jatuh cinta pada sahabatmu sendiri selama ini, huh?”

“Menurutmu?” Seokmin bertanya balik.

Gadis itu menekankan telinganya kuat-kuat pada dada Seokmin dan cengiran itu pun muncul, “Dari detakan jantungmu yang cepat, aku rasa tadi kau serius.”

“Bagaimana denganmu sendiri?”

Joey tidak mengecek detak jantungnya. Cukup memutar kembali memori-memori lucu nan bahagia bersama Seokmin, detik-detik yang dia habiskan untuk meratapi kebiasaan Seokmin yang suka berganti pacar dan berusaha menghentikannya tanpa tahu mengapa dia ingin Seokmin berhenti. Dia tahu, selama ini dia tahu. Rasa itu selalu ada.

“Aku juga sama kok.”

.

.

Menurut Joey, Seokmin bukan Taylor Swift versi pria. Dia tetap Lee Seokmin yang dia kenal (yang dulu meminjam pulpen hitam dan menghilangkannya), namun kini dia mengenalnya dalam versi yang lebih berbeda.

Kau jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

a/n:

Selamat debut di Hangukffindo, Seokmin-aaaa!🙂

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

41 thoughts on “[Day 5] Another Version

  1. Waaaahhhh ada Ryeowook!!!
    Suka bagian ini : “Dia orang yang sangat menyenangkan; kombinasi dari kata menyebalkan dan menenangkan.”, “dia orang
    pertama yang kukabari ‘aku putus
    lagi, ayo hibur aku’,”
    Kemeja biru kotak2, euumm aku pernah membayangkan Yifan memakai baju seperti itu #gaknyambung

  2. keren kak^^ semangat terus nulisnya🙂
    mau sedikit cerita aja, awalnya sedikit bingung pas tau nama aslinya DK itu ternyata Lee Seokmin. soalnya, awalnya aku sering denger dia namanya Dokyum, jadi aku pikir itu nama panjangnya hehe
    ga penting sih memang, cuma mau cerita aja

  3. dk-aaaaaah. bikin melting hati dedeq ajadeh:333 sweet nyaa, masya ampun sampe pen gumoh rasanya(nggagdengbercandako) ka dira maaaaf yang day 4 ngga ngikut komen:’ itu aku bacanya baru tadi pagi waktu sebelum pelajaran jadi gasempet/maafkeundaku/

  4. omaigathhh… inilah yang kutunggu-tunggu selama ini, Lee Seokmin alias DK!
    dan betapa senengnya aku saat liat ini lebih dari 2k word. asyekk! akhirnya!
    aku suka, suka, suka, suka bangetttt pokoknya mah.

    Seokmin tampan hari ini (begitu juga hari-hari sebelumnya), pantas semua perempuan ingin bersamanya. auwwww… aku suka bangettttt. setuju bagetttt. oh my sunshine…

    aku pengen liat wonwoo… secepatnya… ditunggu…

  5. Kak diraaaaㅠㅠㅠㅠ

    Aku gatau harus ngomong apa. Ceritanya bagus (pake banget malah), tapi gara-gara temanya sahabat jadi cinta aku kok…gimana gitu. Kak dira ngegambarin Seokmin-Joey kok bisa sama persis sama yang aku alamin): Yah, gak persis banget sih. Da mereka mah happy ending hehehe((:

    Lah malah curhat kan jadinya. Maap udah nyampah di karyamu yang bikin baper malem-malem ini kak(‘: Semangat terus yaa! ^^

  6. Bertahun-tahun aku punya sahabat cowok, dan sampe sekarang gaada yang model seokmin gini :’> nyarinya dimana sihhh yang kayak giniii :’>

    Anw kak, aku suka banget caranya kakak bikin mas-mas seventeen jadi cowok yang pacar-able. Jadi terjebak di ruang kefanaan lagi :’> aaa kusuka sama series ini lah kak 😍

  7. KADIRAAAAAAA /kayanya di awal setiap komen aku cuman bisa bilang kadiraaaa/ hahahaha
    anyway, I’m here🙂

    aku sampai mikir mau ngetik apa karna actually aku juga bingung mau bilang apa.
    INI KERENNN ICH, #pelukkakdira. kerennya melebihi ngeliat foto kai-soojung-taemin hahahaa.
    tapi seriusan deh, kak dir. aku punya keinginan dan kadang malah hampir jadi obsesi buat jadi penyiar radio. apalagi waktu masih zamannya aku masih kirim salam sama temen sekolah lewat radio. kayanya terdengar manis aja. yah, apapun ceritanya yang bakal denger ini bukan cuma seorang aja. aku selalu mikir kalau pernyataan cinta kaya gini /apalagi kalau disertakan nama/ lagi didenger juga sama keluarga si ‘korban’. seneng deh kak dira balik nulis lagi, aku selalu suka gaya tulisan kaya gini. aku jadi pengen bisa sesantai ini waktu nulis😦. aduhhh, aku sukaaaaa, kak diraaaa❤

    terus, terus, masa iya aku baca ini sambil dengerin lagu 4men-blanket kick /kalau belum pernah denger, aku rekomendasikan lagunya, deh/, setelah gila sama kyungsoo yang pakai sunglasses /dan fakta lebih parah, itu bisa jadi trending topic di korea (?)/, yah tanpa mengesampingkan fakta kalau aku juga habis nonton trailer filmnya dia, yang dewasanya nanti dia jadi penyiar radio juga (jadinya curhat, mafkeun aku, kak dir😉 )). aku saking kebanyakan bapernya sampai enggak sadar kalau fic-nya udah selesai.
    intinya, seneng banget lah kayanya hidup si Joey sekarang. derita hidup juga aku baca ini dengat cast seokmin yang notabene bias ane. hidup sma aku kok gabisa kaya gini ya dulu? hahhaaahaha..

    last, makasih buat fic-nya kak diraaa🙂
    Semangat teyussss!!!❤

  8. u~ seokmin dan hubungan klisenya.
    ini yang terpanjang dan bagian terbaiknya adalah gak pernah membosankan. kkkk sukaaa
    aku bisa ngebayangin jengkelnya joey tiap kali seokmin pacaran dan selalu besyukur tiap kali seokmin putus. andai sahabat aku jg ganteng macem seokmin… huhuhu

  9. FRIENDZONE!!😄 HAHAHAHA
    aku kirain si Joey-nya ngga suka sama Seokmin. aku kira Seokmin-nya ntar dipotekin Joey. aku kira… aku kira…
    ah kebanyakan ‘aku kira’😄
    soalnya kan sebelum siarannya Seokmin selesai si Joey udah mau matiin radio aja. aku kira si Joey mikir gini: ‘ini si Seokmin apa-apaan sih…’
    terus aku kira juga pas menjelang ending tuh Joey dateng buat ngomel ke Seokmin; ngelempar bantal atau tas atau apa gitu sampe si Seokmin bangun, terus mulai coet-coet ngebahas pengakuannya Seokmin di radio😄

    bayangan aku ttg sosoknya Seokmin agak beda masa setelah baca fenfik ini😄 ngga pernah nyangka kalo Kak Dir bakal ngegambarin Seokmin sebagai cowok yg suka gonta-ganti pacar terus bikin lagu setiap dia abis putus ._. ya iya sih itu Taylor Swift banget, cuma aku ngga pernah nyangka aja kalo ternyata sisi Taylor yg itu yg Kak Dira ambil buat jadi karakternya Seokmin😄

    ah, tapi ini unyu banget, Kak Dir :3
    eh btw kok aku ngerasa anak-anak 97 pada kebagian karakter jadi playboy semua ya .-. eh, ngga semua ding ._. Minghao belum ketahuan dapet karakter apa😄 waks~
    tapi menurut tebakanku sih (dan mungkin meleset…), Minghao ttp dapet karakter jadi cowok yg unyu-unyu dan malu-malu kucing gitu :3

    as always Kak Dira siplah. entah kenapa setiap abis baca fenfiknya Kak Dira berasa jatuh cinta dadakan sama main cast cowoknya .-. /g

    tetep hepi, Kak Dir \(‘O’)/

    1. aku sangat tidak tega deee kalo ngepotek2 hati orang apalagi macam seokmin gitu ya huhu aku jadi sedih nantinya #apaan

      dan soal yang anak 97 jadi playboy semua….oke….aku melakukannya tanpa sengaja huhuhu T_T tapi…minghao nanti…heuheu liat aja deh hehehehe

      makasih ya udah baca dan komen deee hehehe🙂 aku senang sekaliiii🙂

  10. duh baper baper baper lah….yah cerita yang kaya gini nih yang bikin pengen banget punya sahabat cowo *eiiittss gak modus ya, cumah yah kayaknya hubungan yang diawali dengan saling terbuka, udah tahu karakter, baik jeleknya itu yang biasanya lebih langgeng, karena apa? dia lebih nerima kita apa adanya
    btw, kenapa gue jd ceramah gin —”
    pokoknya I’m envy on them……..

  11. Huhuhu kak,aku udh ketinggalan yg mingyu,dino,jun,dan engga mau ketinggalan yang ini jga T.T dan syukak syukakk 😁omong-omong akhirnya ada yang sadar kalau lirik lagunya Taylor yang Red itu mmng chessy bangey hohoho

    1. hahahaha dikejar aja kalo ketinggalan ((emang bis kota dikejar)) hehe

      iya kaaaan si taylor swift lagunya yang itu beneran cheesy kayak…kenapa sih lo Taylor? hahaha

      makasih udah baca dan komen yaaa🙂

  12. Kalo cewek dan cowok temanan ato bahkan sahabatan dalam jangka waktu yang lama, ujung-ujungnya pasti jadian yah?
    Yang pasti ini keren banget, so sweet banget nembaknya lewat radio dan sekampus pasti denger.
    Nice!!
    .
    .
    .
    Kalo di pikir-pikir, Red nya Taylor emang cheesy…. ‘-‘

  13. Kalo cewek dan cowok temanan ato bahkan sahabatan dalam jangka waktu yang lama, ujung-ujungnya pasti jadian yah?
    Yang pasti ini keren banget, so sweet banget nembaknya lewat radio dan sekampus pasti denger.
    Nice!! Keep Writing ^^
    .
    .
    .
    Kalo di pikir-pikir, Red nya Taylor emang cheesy…. ‘-‘

    1. eummm enggak juga sih. ada yang gagal mempersatukan hubungan ((apaansih dir)) hahaha

      huooo iya juga ya sekampus denger. harusnya pas akhirannya ada scene si Seokmin dikejar ciwei2 brutal fanseunya ya hahaha

      anyway makasih udah baca dan komen🙂 makasih banget hehe

  14. “Joey tidak heran jika suatu hari nanti dia menangkap Seokmin sedang tersenyum pada tong sampah.” Segitunya kah :v

    Dan… aaaaa, so sweet > o< tapi yang gak banget itu Seokmin yang malah senyum dan ketawa terus -_- gak kering apa itu gigi :3

    Aku masih menunggu Minghao kak😀

  15. Walah kak diraaaa, friendzone level berapa ki?:’v
    Menang banyak Joey, ah cembokur diri ini:’3
    Berawal dari pinjem pulpen dan menghilangkannya (yang sebenernya kejadian paling umum di kalangan pelajar), jadi temen, jadi sahabat, jadi baper, jadi nembak, jadian(?)

    Dan apa itu? Ryeowook?:33
    Weh mantan:’v (di toyor)

    1. ini prenzon tingkat akhir alias stadium 4 hahahaha

      nah sebenarnya isu yang ingin diangkat adalah peminjaman pulpen di kalangan pelajar itu loh yang sungguh kadang tidak manusiawi heuheu

      ryeowook jadi bawang goreng ala 1ndomie hahaha

      makasih udah baca dan komen🙂

  16. jadi bayangin jadi tong sampah yang bakal di senyumin mas seokmin :”DDD

    YaAmpun kak, kayaknya aku bakal kena diabetes deh! perpaduan antara senyumnya mas seokmin dan fic fluffy-nya kakak. duh!

  17. Baca ini jadi keinget definisi cinta menurut Aristoteles. Ngahaha. Semakin dicari semakin sulit. Oemjiiiiii ya, Kak Dira, kayaknya aku udah addicted sama tulisan kamu. Aku nggak sanggup nahan senyum tiap kali baca tiap kata di sini. Aku juga heran gimana permainan diksi yang Kakak gunakan bisa selalu apik dan… err… penuh warna? Btw, aku bahagia ada Ryeo-Wook nyelip di sini sebagai jembatan(?) kisah merekaaaa. ❤❤❤

  18. Ini ff 2012 dan aku baca sekarang! yaampun kak diraaaaa ini keren sumpah demi rambut jongdae yang segelap langit malam.. Bikin melting nggak karuan.

    Aku juga trolling In love sama jongdae♥♥♥

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s