Posted in 13 Days with Seventeen, Fanfiction, Fluff, Romance

[Day 4] Old Habit

wp-1452176598355.png

Cast: Jun x You ▲ Genre: Romance, Fluff ▲ Length: 806wc ▲ Rating: PG-15

Soundtrack: Shontelle ft Akon – Stuck with Each Other

Summary:

Aku kira kebiasaan lama mudah mati setelah tidak bersamamu lagi.

Dilihat dari langitnya yang berawan gelap selama dua jam terakhir, aku sudah mengira hujan akan turun. Selalu diawali dengan rintik-rintik, hujan seakan malu dan ragu. Lantas jalanan yang dilalui bus ini mulai basah. Dan aku benci hujan selalu mengantarkan memori demi memori ke dalam kepalaku.

Bagiku, hujan adalah awal dari pertemuanku dengan Jun. Lucunya, hujan selalu turun ketika kami bertengkar, dan ajaibnya, hujan pula lah yang mengembalikan kami bersama. Tapi hujan terlalu sadis menghukum kami waktu itu. Dia turun saat kami mengakhiri segalanya.

Aku benci menginginkan Jun berada di sampingku di saat-saat seperti ini. Sudah dua bulan kami berpisah, sudah banyak hujan yang turun sampai aku tak mampu menghitungnya lagi karena aku lebih sibuk menghapus air mataku sendiri.

Aku merutuk hujannya, aku merutuk petirnya yang menyambar, aku merutuk rasa rindu yang tak berkesudahan ini. Kenapa, Jun? Kenapa harus merindukanmu saat udara dingin menyergap dan keinginan untuk bersemayam dalam dekapanmu menyerang? Sial, Jun. Sungguh sial.

Ah, berbicara tentang sial, aku benar-benar harus mengatakan kata empat huruf itu ketika membuka tasku.

“Sial.”

Payungku—entah keberadaannya ada di mana. Apa ketinggalan di kampus tadi? Apa seseorang mencurinya di halte? Demi Tuhan, payung itu bahkan mulai berkarat dan sulit ditutup, siapa pula yang mau mengambilnya?!

Kau lihat ini, Jun? Aku sudah membuang kebiasaan burukku dengan terus ingat membawa payung sejak berpisah denganmu. Agar aku tidak perlu repot-repot mengingat bagaimana saat-saat kau dengan relanyan berbagi payung denganku, membiarkan hujan membasahi sebagian tubuhnmu tanpa peduli. Tapi, kali ini…kali ini aku benar-benar sedang sial saja.

Bus-nya berhenti di halte berikut. Aku menghela napas dan bersiap menerjang derasnya hujan. Aku berencana untuk berteduh di halte sampai hujannya reda.

Hujannya sungguh keterlaluan. Dia membuatku basah sekujur tubuh padahal aku berada di bawahnya hanya selama tiga detik.

Hujannya sungguh keterlaluan.

Sangat keterlaluan.

Dia mempertemukanku dengan seseorang yang kupikir terlalu mustahil untuk ditemui dalam waktu dekat ini.

Jun ada di sana.

Kami saling bertatapan. Dia melihatku dan aku melihatnya. Jun tampak hendak pergi. Oh ya, aku tentu tahu dia akan pergi ke suatu tempat. Dilihat dari jaketnya, tas ransel yang bergelayut di punggung, dan payung di tangan itu. Jun adalah satu-satunya orang yang well-prepared di antara kami berdua. Aku ingat piknik kami di suatu sore yang agak kelabu dulu, dia yang siap sedia akan alas duduk kami, keranjang pikniknya, dan jas hujan untuk kami berdua. Aku ingat aku berkata begini : “Ya ampun, siapa yang sebenarnya perempuan? Aku atau kau?”, dan dia menjawab : “Aku tidak peduli. Yang penting pacarku tidak boleh sakit setelah piknik ini.” Dan aku bertanya, kebaikan apa yang pernah kulakukan di masa lampau sampai Jun bisa bersamaku.

Meskipun itu hanya berlangsung delapan bulan, dua minggu, tiga hari, dan sebelas jam. Ya, aku menghitungnya.

Aku menyingkirkan bayangan itu jauh-jauh. Hujan sudah terlalu jauh mengingatkanku tentangnya. Aku berdiri sejauh satu setengah meter darinya; tidak bisa lebih jauh, tidak bisa lebih dekat. Karena jika terlalu dekat, aku takut dia bisa mengendus aroma rindu yang menguar dariku. Jika terlalu jauh, aku takut tak sanggup mengatasi rasa sesal di kemudian hari.

Kami berdiam diri, seperti tidak mengenal satu sama lain. Memang tak ada yang perlu diucapkan saat dua orang memutuskan untuk berpisah. Tapi aku tetap menginginkannya. Bicaralah, Jun. Apa saja. Apa saja yang—

“Kebiasaan lama memang sulit mati, ya?” tiba-tiba dia angkat suara, seperti bisa membaca pikiranku.

“Apa?” aku menoleh padanya, dia tetap menatap lurus ke depan.

“Kau selalu melupakan payungmu.”

Dia benar. Aku memang selalu melupakan payungku.

Atau sebenarnya aku terbiasa menggantungkan diri padamu, Jun. Itu memang kebiasaan lama yang sulit mati. Maafkan aku.

Tiba-tiba, bagaikan film lama yang tak sengaja terputar, Jun menyodorkan payung di tangannya padaku. Aku butuh sepersekian sekon untuk mencerna pemandangan itu. “Hujannya awet sampai malam. Pakai ini dan pulanglah.”

Anehnya, aku tidak menolak. Tanganku seolah terbiasa menerima uluran bantuan darinya. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil payung itu dan memastikan bahwa dia benar-benar tidak membutuhkannya.

“Aku punya jas hujan di dalam tasku,” ujarnya masih tidak mau melihat ke arahku. Sebenci itukah dirimu padaku, Jun?

“Lalu…bagaimana aku mengembalikannya?” masuk akal, aku tidak mungkin menyimpannya, ‘kan? Aku tak mungkin sanggup. Sudah cukup banyak kenangan tentang Jun yang sulit kuhapus. Oh Tuhan, jangan menambahkannya lagi.

Well, aku mengira jawaban yang akan kuterima adalah ‘tidak usah dikembalikan’ atau ‘buang saja kalau kau enggan menyimpannya’. Tapi ternyata Jun punya jawaban lain. Sesuatu yang tidak kuduga.

“Kalau kau masih ingat alamat rumahku, kau bisa mengembalikannya ke sana,” katanya lantas menambahkan, “soalnya itu punya Ibuku. Dia akan membunuhku kalau payungnya tidak kembali. Kau…tahu kan bagaimana Ibuku.”

Aku mau tak mau tertawa. Bagaimana bisa aku melupakan sosok gemuk  dan super cerewet itu? Dia menyayangiku seperti anaknya sendiri, Jun. apa Kau lupa?

Aku pun berhenti tertawa ketika Jun memberikan lirikan kilat padaku. Dan aku tahu, detik itulah aku harus pergi.

Untuk kali pertamanya sejak dua bulan ini, aku berjalan di bawah hujan dengan senyuman mengembang.

Mungkin perasaan itu belum mati. Iya kan, Jun?

 

a/n:

Iya gak ya?? Hahaha xD

Selamat debut di Hangukffindo, Juuun!🙂

Entah kenapa nulis si Jun ini semacam mudah kayak sat set sat set jadi gitu huhu padahal bukan bias ((emang kalo bukan bias kenapa Dir?))

Oke, DAN AKU MAU MINTA MAAF INI SEHARUSNYA DI-POST SIANG-SIANG TAPI KENAPA SEMAKIN MUNDUR JAMNYA!

Maaf ya, para pembaca yang budiman; yang terlihat dan sekaligus TIDAK TERLIHAT (iya YANG TIDAK TERLIHAT YA), belakangan ini aku agak sibuk-sibuk gimana gitu huhu aku jadi jarang megang laptop (DAN FANGIRLINGAN AKU SEDIH T_T)

Jadi, ke depannya aku mungkin akan schedule-in semua fanfic (iya, soalnya udah jadi semuanya tapi belom di-edit2 gitu lah ugh). Dan kalo seandainya aku belum membalas komennya tolong dimaklumi yaaaaaa🙂

Terima kasih banyak sebelumnya🙂

See yaaa!

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

35 thoughts on “[Day 4] Old Habit

  1. Yoes mba aku dibikin baper lagi sama Jun (dan kamu Dira).
    Mana aku bacanya sambil makan mie rebus kan di cuaca malem yang dingin ini duheh mak…. :”)
    KAMU MASIH GALAU KAH??
    KENAPA FICNYA DARI KEMAREN GALAU??
    JAWAB AKU DIRA! JAWAB!! *guncang2 badan Dira*

    Dan pokoknya gitu deh, klo besok bikin baper lagi aku satroni rumah kamu :””) *ditendang*

    SEMANGAT KAKAK!! ❤

  2. Oh Mai Gat #sambil make gerakannya ank seventeen.
    aku langsung buru2 buka dan..
    fotonya Jeon Wonwoo langsung terpampang nyata syubidu bidu astaga..
    aaargggghhh..
    Dan Jun.. Jin dan jun.. #ngelantur ni ank
    Jun knpa ganteng banget byuh..
    Baper2 sumpah..

    Nunggu.in Wonwoo..

    Semangat kak dir!
    Makin semangat, Wonwoo makin cepet keluar! Yes!

  3. Aku udah lama ga buka hangukffindo..
    dan tadi siang tmen aku bolang kalo kak dir lagi bkin ff member seventeen..
    Oh Mai Gat #sambil make gerakannya ank seventeen.
    aku langsung buru2 buka dan..
    fotonya Jeon Wonwoo langsung terpampang nyata syubidu bidu astaga..
    aaargggghhh..
    Dan Jun.. Jin dan jun.. #ngelantur ni ank
    Jun knpa ganteng banget byuh..
    Baper2 sumpah..

    Nunggu.in Wonwoo..

    Semangat kak dir!
    Makin semangat, Wonwoo makin cepet keluar! Yes!

  4. haduhhhhh… kalo aku jadi ceweknya mah ngembaliin payung sambil nginep dirumah Jun. WKWKWK
    Kak Dir bagusss. tauk ih mau komentar apalagi. udah kerenn, ya walaupun ada typo dikit sih. tapi tak apa.. namanya juga manusia..
    Nungguin punya DK gak sabar. hahaha

  5. favorit banget di kalimat “sudah banyak hujan yang turun sampai aku tak mampu menghitungnya lagi karena aku lebih sibuk menghapus air mataku sendiri” sama yang “mengendus aroma rindu yang menguar” aih sadissss banget :’)) dan iyaaa FF ini bikin senyum ga pudar pudar. Mas Jun, masih ada rasa? *terus ngetawain* nice fic ka Dira, kirain tadi endingnya mau di bikin Jun ujan basah2an karena sebenernya dia boong kalo bawa jas hujan tapi ternyata diberhentiin saat aku pergi. Yash, that’s so APIK❤

  6. Kak Dir, kan seharusnya punya Dino lebih sedih ya daripada yg ini ._. tapi kenapa aku malah lebih baper pas baca yg ini😄 hahaha
    sumpah itu sikapnya Jun bikin baper ;;-;; mana hujan deres, di halte, cuma berdua. MANTANAN LAGI ;;-;;

    aku sempet jleb sendiri pas ceweknya lagi ketawa terus Jun-nya cuma ngelirik tajem ;;-;; kesannya Jun yg jahat, Jun yg judes. tapi mungkin Jun-nya ngga mau sampe kebawa baper grgr ngeliat ceweknya balik di samping dia lagi ;;-;;
    haha iya-in dong kak ;;-;; baper masa ;;-;;

    uh, aku gemesh deh sama Kak Diraaa ;;-;; nulis yg manis-manis kayak takjil bisa, nulis yg bikin baper-baper juga bisa ;;-;;
    rahasianya opo to? :”

    btw masih nungguin peluncuran koleksi yg lainnya😉
    tetep hepi ya, Kak Dir \(‘O’)/

  7. Oh may dira.. ini itu bikin nostalgia bngt.. hhhu aq sedih karena part mereka cuman berrahan di ujan..

    padahal itu tuh udah bikin bper tahu nggak..ktmu mntan yg bner” udah kita cinta rasanya nyess abis.. wah kerasa pokoknya gimna rasanya aku.. brsa crta sma dri sndri.. wkwk.. well dira sorry baru cuap” hhha

  8. hai kadiraaaaaaaa, aku balik lagi🙂

    pas baca ini aku cuman bisa senyum-senyum aja, percaya atau enggak semalam baru hujan besar banget disini dan aku sampai buat fic tentang hujan, /yaelahhh/, terus aku baca ini. hahahahaha, suka ajaaa sama ‘aku’ disini belum lagi Jun yang antara kasih harapan atau enggak, dan hal kecil segitu aja udah bisa jadi kenangan yang bisa diingat seumur hidup. hidup memang aeh. bisa aja kan nanti mereka berdua malah punya hubungan teman-tapi-pengen-balikan-tapi-enggak-berani-ungkapin, hahahaha. aku makin ngawur ajaa jadinya kak dir,😀

    btw, thanks buat fic-nya yaaaa❤
    aku tunggu yang lainnn🙂

  9. jadi ngebanyangi kalo punya mantan kaya gini (hellow mantan yang mana? –“)
    karena hal yang menyakitkan dari perpisahan adalah hal manis yang tak akan pernah hilang dan kerinduan yang tak tergambarkan :’)

  10. Kak sumpah ya, jangan suka bikin anak gadis teriak-teriak malem2, entar aku dbilang gilaaa~~ OMG!! Ini anak-anak seventeen makin lama makin kurang ajar, mau ngambil tempat Luhan dihati akuuu T.T nanti Luhan yang nyayang siapa???

  11. Hujan dan mantan itu adalah kombinasi yang sulit di enyahkan(?)
    Yodah sih Jun, balikan aja napa:3
    Toh juga yang setuju banyak:33

    Balikan sana, biar bisa sepayung berdua lageeee bwehehee 😆

  12. Ehem ehemmmm
    Mau nulis apa gak tau
    Ini jun kan? Wen junhui? Jun yang ‘nyaris’ geser chanyeol dari hati? Jun yang kembar beda bapak beda emak sm heechul? Ini JUN!!!!!
    Duhh speechleessssssssss kadirrrr, kenapa jun? Kenapa hujan? Kenapa payung? Kenapa aku baperrrr? Hahahahaha
    Tapi serius kak, diantara semua member seventeen jun ini org pertama yang nyantol(?) di hati dan jun juga yg buat aku mantengin seventeen asddhfjfkgllgkajjwkd
    Junhuiiiii babyyyyu hahahahaha

  13. Kak, aku rasa hari ini notif kamu bakal dipenuhi oleh aku ._. jangan salahkan aku ya. aku kan sedang mencoba menjadi pembaca budiman dan terlihat hehehe.
    jangan jangan jun kalo nginep dirumah temen bawa koper ya saking ‘well-prepared’ nya hihihi

  14. Errrr… Aku harap ini lanjut. Warbyazah. Aku nggak ngertk bagaimana fiksi seindah ini dikayakan nulisnya sat set jadi. Oh, God, aku bahkan yakin aku bahagia padahal kisahnya tentang pasangan yg udah putus. Baca tulisanmu kayaknya emang selalu baaa serta efek bahagia setelahnya. ❤❤❤

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s