Posted in Uncategorized

Moonlight Roller Way

image

[Random Fic]

D.O x You

Romance, Highshcool!au

Music: EXO – Tender Love

Ternyata dia hanya butuh pelarian ke Moonlight Roller Way.”

 

 

image

Kau tidak percaya ini.

Kau tidak pernah cukup berani memercayainya.

Bayangan ada sepucuk surat di lokermu pun hampir tak punya nyali untuk mampir ke kepalamu. Apalagi saat kau menemukan nama sang pengirim yang tertera di sana, membuat jantungmu seolah hendak melompat keluar dari rongganya. Kau perlu meresapi momen ini sebelum tulang-tulangmu berubah jadi setumpuk jelly super lembek.

From: Do Kyungsoo

Mereka bilang, kemungkinan besar Do Kyungsoo si kakak kelas pemain American Football itu tengah mabuk saat menuliskan namamu. Atau bisa jadi Do Kyungsoo hanya sedang melucu dan dirimulah yang jadi sasarannya kali ini. Well, perkataan mereka semua masuk akal.

Kau hanya seorang siswi biasa, tidak populer dan berkacamata. Rambutmu tidak sepanjang gadis-gadis lainnya, pun kau perlu menyisirnya 100 kali untuk membuatnya terlihat normal. Kau adalah satu dari 1000 murid sekolahan Shinwa yang bisa saja terlewati namanya saat pendaftaran kuliah.

Lalu bagaimana bisa mata Do Kyungsoo tidak melewatkanmu?

“Tidak mungkin!” pekik sahabatmu. “Dari 578 siswi Shinwa, kenapa kau?!”

“Mana kutahu?!” balasmu sama bingungnya.

Sahabatmu mengecek ulang amplop surat itu dan namamu benar bertengger di sana, begitu rapi, begitu khas tulisan tangan seseorang yang ketampanannya berada di skala 9,3 dari 10.

“Dia benar-benar menyukaimu, ya?”

Kau tidak tahu. Kau tidak punya ide dari mana Do Kyungsoo tahu namamu, bagaimana bisa tiba-tiba dia mengirimimu surat yang bahkan belum berani kau buka.

“Apa seseorang sedang mengerjaimu?”

Bisa jadi.

Lalu setelah kau membaca suratnya (dengan tangan gemetaran, karena please, ini Do Kyungsoo), kau semakin merasa semua ini ada di ambang masuk akal dan tidak.

Di surat itu dikatakan dia mengenalmu saat masa orientasi satu setengah tahun yang lalu. Kau mengingatnya, kau harus meminta tanda tangan si kakak kelas. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan mengapa surat ini bisa sampai di lokermu. Kau ingat betul saat itu Do Kyungsoo punya kekasih dan gadis itu adalah salah satu anggota pemandu sorak kebanggaan sekolah.

Dan sekarang dia mengajakmu pergi ke Moonlight Roller Way–arena bermain roller skating.

Jika ini lelucon, well, ini sukses membuatmu tertawa dan tersakiti.

“Tunggu, mungkin ini memang masuk akal,” kata sahabatmu menyela.

“Maksudmu?”

“Maksudku, kudengar dua minggu yang lalu Kyungsoo oppa baru saja putus dari pacarnya.”

“Yang pemandu sorak itu?”

Sahabatmu mengangguk antusias.

Oh, wow, kenapa kau tidak tahu ini? Apa kau terlalu banyak membaca novel di perpustakaan?

Ingatanmu mengembalikanmu ke satu minggu yang lalu. Malam itu, kau baru saja selesai mengerjakan projek bahasa inggris dan kau melihat Do Kyungsoo duduk di bangku stadion utama sekolah. Meskipun kau dengar tim football Wolf 88 meraih kemenangannya hari itu, namun kesedihanlah yang kau temukan di wajah salah satu anggotanya ini.

image

Dia menundukkan wajahnya, termenung sendirian.

Kau mengira sesuatu tengah terjadi, namun tidak seserius putus cinta dan patah hati. Do Kyungsoo jelas terbalut luka saat itu, dan kau hanya berlalu begitu saja.

Kini, seolah kejadian di stadion tidak pernah terjadi, kau tiba-tiba ikut masuk ke dalam kisah seorang Do Kyungsoo.

“Apa ini kencan?” kau bergumam, masih menatap surat itu lekat-lekat selagi menunggu kedatangan Do Kyungsoo. Pemuda itu menyuruhmu datang ke ruang bawah tangga selatan dan kau akan menemuinya di sana.

Do Kyungsoo, tak lama kemudian, datang. Perawakan pendek dan kecil itu membuatmu bertanya mengapa dia bisa masuk tim football (tapi kau dengar Do Kyungsoo yang satu ini dapat membuat Chanyeol, Kai, dan Sehun jatuh saat berlatih di lapangan–wow, kau tidak perlu meragukannya lagi).

Dia datang dengan kemeja sedikit berantakan, wajah berkeringat, dan ada beberapa helai rumput menempel di pipinya. “Maaf, membuatmu menunggu. Aku baru selesai latihan.”

Kau mengangguk dan menyodorkan surat itu. “I-ini…kau salah menaruh surat di lokerku.”

Dahi Do Kyungsoo berkerut. “Salah?” Dia memandangmu intens. “Namamu tertera di sana dan aku yakin nomor lokermu 325. Iya kan?”

Hatimu mencelos di kedalaman. Dia tidak salah. Bagaimana mungkin ini adalah kenyataan?

“Aku…aku–“

“Aku akan menjemputmu Sabtu besok, di rumahmu.”

What the hell! Kau berteriak di dalam hati.

Dia menggosok tengkuknya perlahan. “Itu pun kalau kau tidak keberatan memberiku alamat rumahmu.”

WHAT THE HELL! Kau kembali meneriakkannya keras-keras, lantas mulai menuliskan alamat rumahmu di secarik kertas. Kau berusaha keras untuk tidak gemetaran.

“Thanks,” matanya meneliti tulisanmu. “Butuh 15 menit untuk sampai ke rumahmu. Well,” Do Kyungsoo menyimpan kertas itu di kantung celananya dan tersenyum. “Kalau begitu sampai jumpa di hari Sabtu.”

Dia hendak berbalik, kau mau menahannya, namun suaramu lebih cepat menggapainya. “Oppa.”

“Ya?”

“Kenapa…tiba-tiba…aku?” ujarmu terbata-bata.

Senyuman itu kembali merekah. Kau putuskan alasan mengapa Do Kyungsoo sangat tampan adalah karena senyumannya itu.

“Eumm, bagaimana jika kita simpan pertanyaanmu sekarang dan membahasnya hari Sabtu?”

Kau tidak bilang ‘iya’, kau tidak bilang ‘tidak’. Kau hanya terpaku di sana, menatap punggungnya yang semakin menjauh darimu. Kau menyadari berjalan dengan kedua tangan di kantung pun Do Kyungsoo terlihat keren.

“Aku bisa gila.”

.
.

Tidak lebih gila saat kau membuka lemarimu di hari Sabtu dan sekejap tidak menemukan baju yang tepat. Seperti semuanya jelek dan berlubang, bahkan jeans yang kau puja kini membuat kakimu terlihat seperti lobak.

Lalu kegilaannya mencapai batas maksimal ketika kepala ibumu muncul di pintu dan berkata, “Ada yang datang mencarimu?”

Kau kira itu temanmu yang berjanji mengembalikan novel, namun…

“Dia laki-laki. Mobilnya terparkir di depan.”

WHAT??!!

Kau buru-buru mengintip dari jendela kamar dan di sanalah dia berada.

Do Kyungsoo.

Bersama mobil Volvo 1800 E putihnya.

wpid-img_20150329_091317.jpg

“APA YANG HARUS KULAKUKAN, BU?!”

“IBU TIDAK TAHU APA MAKSUDMU DAN–HEI, JANGAN BERTERIAK PADA IBUMU!”

Kau menerima satu pukulan di kepalamu, dan segera melesat pergi ke kamar mandi. Tidak ada acara menyisir 100 kali, rambutmu dikuncir secara asal. Bajumu juga terlihat tidak buruk tapi tidak menawan. Kau sederhana, kau biasa saja. Kau baru menyesalinya saat melangkah keluar rumah; lipgloss-mu terlalu tipis, seharusnya eyeliner-mu setebal milik Amy Winehouse, alismu terlihat aneh namun simetris. Beruntung jika Do Kyungsoo masih mau mengajakmu pergi.

“H-hai.”

“Hei.”

Tidak ada tatapan penuh pesona yang dia berikan. Do Kyungsoo hanya turun dan membukakan pintu penumpangnya.

“Kau tidak perlu melakukannya,” katamu tersipu malu. Kau bukan tuan putri dari khayangan atau pemandu sorak di sekolah, perlakuan seperti ini terasa berlebihan.

It’s okay.” Dia menjawab sambil tersenyum. Hatimu tersengat, seakan-akan ada jutaan ubur-ubur tengah berenang di sana.

Selama perjalanan, hanya obrolan singkat yang terjadi sambil ditemani lagu The Verve. Dia mengomentari rumahmu yang punya cat dinding paling berbeda di komplek perumahan itu, dia bertanya soal berapa saudara yang kau punya, dia membahas soal pelajaran matematika kelas 11 dan bertanya siapa gurunya.

Kau cuma menjawab, menjawab, dan menjawab, sibuk menonton kakimu yang tidak bisa diam. Kau gugup, kau gugup dan ini tidak bagus. Kau belum pernah berada di dalam mobil bersama laki-laki lain selain ayahmu atau sepupumu.

“B-bagaimana dengan…tim Wolf 88?” tanyamu akhirnya, ingin Do Kyungsoo saja yang mengoceh.

“Bagaimana apanya?”

Sial, kau tidak tahu dia akan balik bertanya. Pertanyaanmu terlalu general, kau sadar hal ini. “Maksudku, bagaimana dengan latihannya. Apa…apa ada pertandingan lagi dekat-dekat ini?”

“Oh, latihan kami biasa-biasa saja, mungkin kami akan merekrut dua orang lagi. Semenjak Tao pindah ke Amerika, kami seperti kehilangan kekuatan. Tapi pertandingan kemarin cukup baik, kami menang. Jadi, sepertinya kami akan baik-baik saja di pertandingan dua bulan ke depan.”

Lalu kau berhasil membuatnya berceloteh tentang football selama 10 menit. Celotehannya berhenti tepat ketika mobilnya terparkir di pelataran Moonlight Roller Way.

image

Kau menangkapnya tersenyum lebar. Kau bertanya, “Ada apa?”

“Kau bisa main sepatu roda?”

Jika diingat-ingat, kau pernah memiliki sepatu roda itu dulu, waktu kau masih berumur 6 atau 7 tahun. Tapi itu sudah lama. Kenangan yang kau punyai tentang menaiki sepatu konyol warna hijau itu hanyalah jatuh dengan bokong bertemu lantai keras. Bukan kenangan yang menyenangkan.

“Aku pernah, tapi tidak terlalu jago. Bagaimana denganmu?”

Do Kyungsoo menggelengkan kepalanya sambil tertawa, membuatmu kaget. “Aku tidak pernah sama sekali.”

Tidak pernah sama sekali?? Lalu kenapa dia membawamu ke sini? Kau tentu bertanya diam-diam.

“Ayo masuk,” dia menarik tanganmu. “Satu dua kali jatuh tidak apa-apa, kan?”

Kau tidak protes menemukan fakta bahwa tidak ada satu pun dari kalian berdua yang bisa naik sepatu roda, dan kemungkinan akan pulang dengan bilur-bilur di punggung ternyata tidak terlalu mengganggumu.  Karena Do Kyungsoo tersenyum sepanjang waktu, itu sudah cukup untuk membungkam mulutmu. Kau berpikir, satu atau dua kali jatuh bukanlah masalah besar (ya, selama tidak ada tulang yang patah).

“Kau siap?” tanyanya, tangan itu terulur padamu.

Kau tidak yakin, dia juga tampak tidak yakin.

Tapi siapa peduli? Hidup bukankah serupa dengan ini: penuh ketidakpastian dan tantangan?

“Aku–aku…” kau tertawa melihati dirimu sendiri berjalan susah payah di tepi. Kau memegang erat railing dan mengabaikan tangannya. Kau tidak seberani itu, percayalah. “Aku tidak bisa.”

“Jangan khawatir, aku akan memegangmu.”

Dia berbicara seolah dia ahli pemain sepatu roda. Tapi tangannya terlihat mengundang, dan kau mau tidak mau menggenggamnya.

image

Salah satu ubur-ubur bermain terlalu dekat dengan jantungmu, makhluk itu menyengatnya dan sengatannya tidak main-main. Sentuhan pertama tangan seorang Do Kyungsoo mengaliri sensasi luar biasa.

Kau tidak mau melepaskan tangan yang kini jari-jarinya mengisi celah di antara jemarimu.

Musiknya mulai bermain lewat speaker. Britney Spears – Lucky.

“Astaga, lagunya,” Do Kyungsoo tergelak.

Kalian mengayun langkah. Tidak terlalu buruk, pikirmu, sebelum tanda-tanda akan jatuh mulai kelihatan. Tapi Do Kyungsoo kembali menyeimbangkannya.

“Whoa!”

Kalian tertawa bersama.

“Ups! Hampir saja jatuh,” dia berkata. Lalu kau menemukan senyuman anak berumur 7 tahun terlukis di wajah kakak kelasmu ini. Melihatnya seperti ini, entah mengapa, membuatmu lupa bahwa kau harus memanggilnya oppa.

Playlist yang tempat itu mainkan sungguh kacau dan lawas. Mereka tidak punya lagu Taylor Swift atau Maroon 5, mereka terus saja memutar lagu Britney Spears, lalu melompat ke Ricky Martin, lalu Christina Aguilera, lalu kembali ke Westlife dan N-Sync.

Lalu merangkumnya dengan dua lagu Backstreet Boys sebelum kalian berdua pergi ke tepi untuk beristirahat.

“Kita tidak jatuh sama sekali,” katamu lega.

“Hebat kan?” Matanya membentuk bulan sabit saat tersenyum selebar itu. “Tapi jangan hitung berapa kali kita hampir jatuh, oke?”

Menghitung berapa kali hampir jatuh? Kau bahkan terlalu sibuk memperhatikan wajahnya.

“Kau mau minum?” tawarnya.

“Yeah.”

Do Kyungsoo pergi membeli minuman sementara kau menyuruh jantungmu untuk berhenti berdetak melebihi kemampuannya. Kau tidak mau mati muda dengan cara seperti itu.

Dia muncul lagi bersama segelas smoothies stroberi. “Stroberi. Kau suka kan?”

“Ya. Terima kasih.”

Terhanyut dalam smoothies yang dingin itu, kau sesekali mencuri pandang ke arahnya. Kau masih tak habis pikir bagaimana bisa hari Sabtu yang biasa dihabiskan dengan mendekam di kamar dan menonton DVD kini dilalui bersama kakak kelas pujaan semua orang.

Oppa,” Kau tidak bermaksud memanggilnya, namun mulutmu terlanjur bertindak.

“Ya?”

“Kenapa kau mengajakku ke sini? Kenapa…aku?”

Do Kyungsoo meletakkan smoothies-nya dan berdeham. “Aku tahu kau akan menanyakannya.”

Kau menunggunya bicara semenjak dia memutuskan untuk melayangkan pandangannya ke depan. Baru setelah itu dia berbicara.

“Aku baru putus dengan pacarku dua minggu lalu.”

O…ke.

“Dia cinta pertama. Dan cinta pertama seperti sulit dilupakan…?”

Aku tidak tahu. Aku belum pernah berpacaran, batinmu, tetap mendengarkannya.

Helaan napasnya terdengar berat. “Aku tidak tahu akan sesakit ini melepasnya. Kami menjalani dua tahun yang menyenangkan, sampai kami tiba di satu titik dan semuanya tidak secerah hari-hari kemarin. Kukira dengan saling melepaskan, kami akan baik-baik saja–well, Sarah baik-baik saja, tapi aku…aku tidak.”

Kau tidak meresponnya.

“Seperti kehilangan separuh kekuatanmu,” dia bergumam. “Bayangkan, kehidupan percintaanmu sedang berantakan, lalu salah satu anggota timmu pergi. Hebat adalah ketika kau tetap bisa menang di pertandingan musim panas kemarin, tapi kemenangan itu terasa pahit. Kau mau semua berakhir saja.”

Ah ya, kembali ke satu minggu yang lalu. Do Kyungsoo di bangku stadion; hancur berkeping-keping.

wpid-img_20150603_005956-1-1-1.jpg

“Lalu…” dia berhenti sejenak untuk memandangmu tepat di kedua mata. “Aku melihat fotomu di papan pengumuman, kau salah satu anggota tim majalah dinding sekolah. Aku seharusnya tidak mengingatmu, tapi itu begitu jelas ada di kepalaku; kau meminta tanda tanganku waktu masa orientasi. Rambutmu dikuncir dua dan pakai kalung wortel.”

“Jangan mengingatnya lagi. Itu memalukan.”

Wajahmu memerah. Itu salah satu kenangan yang ingin kau hapus, tapi sekejap kau berterima kasih padanya. Kau juga terpukau bagaimana Do Kyungsoo masih mengingatmu di antara begitu banyak siswi yang meminta tanda tangannya hari itu.

“Maaf, waktu itu Chanyeol dan Sehun menyuruhmu menarikan lagu SNSD demi mendapatkan tanda tangan mereka. Mereka keterlaluan,” tambahnya.

Kau semakin malu. “Kau mengingatku karena tarian itu?”

“Bisa jadi.”

“Ah, ini memalukan.” Tanganmu otomatis menutupi wajahmu. Jadi, inikah tujuan Do Kyungsoo membawamu ke sini, untuk mempermalukanmu? Kalau ya, oke, dia berhasil membuatmu malu dan ingin menetap di planet saturnus.

Lalu dia mencairkan suasana dengan tawanya yang ringan itu. “Tidak. Aku cuma bercanda. Kau menarikannya dengan sangat bagus. Lagipula aku juga tidak mengingatmu karena hal itu.”

“Lalu…bagaimana–“

“Entahlah,” dia memotong kata-katamu. “Aku cuma melihat namamu dan aku merasa tergerak untuk menulis surat dan meletakkannya di lokermu.”

“Tapi itu…tidak mungkin,” katamu masuk akal. “Kau tidak mungkin tiba-tiba memilih nama seseorang secara asal dan mengajaknya pergi ke Moonlight Roller Way begitu saja.” Dan membuat semua ini terasa seperti kencan pertama, oke?

Do Kyungsoo menyeruput smoothies-nya santai. Dari sudut ini, kau ingin menangkup wajahnya dan memaksanya menatap matamu. Namun sebelum kau benar-benar melakukannya, dia lebih dulu merealisasikannya.

“Marahkah kau jika aku bilang…kau adalah pelarianku?” Wajahnya mengernyit tidak enak.

Tidak. Tidak, karena itu jauh lebih baik didengar telingamu.

“Kau mau aku jujur?”

Dia menganggukkan kepala.

“Aku senang mendengarnya.”

“Apa?”

Kau mengedikkan bahu. “Tidak semua orang ingin berlari di kala dunianya terlalu menyesakkan. Aku senang kau memilihku sebagai pelarianmu. Meskipun…” tatapanmu jatuh pada smoothies di tanganmu, bulir-bulir airnya membasahi kulitmu. Kau membayangkan wajahmu yang akan basah oleh air mata setelah ini. “Aku yakin konotasi ‘pelarian’ di sini tidaklah terlalu bagus.”

Well, aku–“

Selagi Do Kyungsoo kehilangan kata-kata, kau beranjak, dengan penuh percaya diri melangkahkan kaki ke arena. “Sekali putaran lagi lalu kita pulang, bagaimana?”

Kau tahu akhirnya akan begini. Toh tidak semua DVD atau novel yang kau baca selalu berakhir bahagia. Kau tahu persis kau hanya pelarian sementara, dan tak ada yang perlu kau cemaskan jika suatu hari nanti Do Kyungsoo berlari kembali ke pelukan Sarah atau ke perempuan lainnya.

Setelah ini, yang kau perlukan hanyalah segelas susu, DVD super sedih, dan dua kotak tisu di kamar. Sehingga ketika ibumu melihatmu menangis, kau bisa beralasan, “Filmnya sedih, Bu.”

.

.

.

Thanks.

Kau tidak bisa dikatakan menyesal menemukan secarik kertas berisi tulisan itu di lokermu. Hari Sabtu kemarin cukup…menarik.

A/n:

Ya, begitulah. Setiap kali nulis highschool!au memang harus rajin-rajin menggali kenangan akan masa SMA HAHAHAHAHAHAHA enggak, ini bukan pengalaman pribadi kok. Sumpah. Cuma lagu EXO – Tender Love ngedorong aku buat bikin fic berlatar roller skating gitchu deh :3

Dan maaf ya, belum sempet bales komen di fic yang lalu huhu. Terima kasih banyak, sebagai balasannya kali ini gak ada box komentarnya hahaha. Kalian gaperlu repot2 nulis komen. Kalo ada saran atau kritik boleh langsung mention aku @parkdobigogi. Jangan malu-malu ya🙂

Bagi yang baru mendarat di blog ini, selamat datang dan silakan perkenalkan diri di sini —> About Me. Nanti langsung kubalas yah🙂

See ya🙂

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

2 thoughts on “Moonlight Roller Way

  1. Baper gila gara2 ini
    Ah tingkat kebaperanku naik melejit tinggi ke taraf internasional(?)dan itu betein bangeeeettttt
    Duhhhh kasian banget si culun
    Tapi kasian juga sama dyo
    Ih dyo mah kecil2 suka mainin perasaan cewek deh
    Ini kejam ato gimana ya
    Sakit hati parah deh kalo gue ceweknya
    Aaaaaaaa beteeee tapi ya gemeeees tapi ya mau gimana lagiiii aaaa sebeeeeelllll

  2. Hai kak dira~
    Tahu banget sih kalo aku lagi nunggu ff yg castnya kyungseww? Hahaha, aku seneng banget sampe senyum-senyum bacanya
    Soalnya si culun itu mirip sama aku #abaikanini (maksudnya aku juga nerdy gituh)
    Dan apa apaan ini pake dikasih gambar segala, kan jadi baper bacanya :”D
    tapi aku ngerasa lebih masuk akal sih kalau dibuat pelarian aja, great job kak
    Banyakin nulis yang castnya kyungsew ya😀

Komentar ditutup.