Posted in Uncategorized

[Not Fanfiction] 8 Years and More

wpid-tumblr_noa6h2w0c21qlffuno2_400.jpg

“She’s not your first love…

Dia bukan cinta pertamamu, tapi mungkin dialah yang mengajarimu betapa cinta mendatangkan musim panas dan mengundang badai salju di waktu yang berdekatan. Dia yang memperlihatkanmu betapa cinta menimbulkan senyuman sementara kau terluka; dia juga lah yang mendorongmu jatuh ke timbunan rasa paling abstrak di dunia.

Tiada hari yang kau lalui tanpa melihat dirinya, lalu tersenyum, dan mengetik pesan selamat malam padanya. Kau butuh sekitar 10 menit demi merangkai kata-kata. Lantas jatuh terlelap bersama namanya yang bergelung di lidahmu. Kau tak menyesal.

Kau tak menyesal karena dia adalah gadis yang kau cintai selama 8 tahun lamanya; yang menyapamu lucu di tahun pertama masuk SMA, yang pertama kali menaiki kursi penumpang skutermu sementara kau berusaha tidak menjatuhkannya (meskipun itu pertama kalinya kau mengendarai skuter).

Dan yang mencuri hatimu tanpa pernah berniat mengembalikannya.

Kau pun tidak berharap dia mau mengembalikannya. Kau mau dia menyimpan selamanya, begitu pasrah menyerahkannya ke tangan gadis itu. Kau membiarkannya membawa hatimu ke mana pun dia pergi: menonton TV, makan di kamar, tidur di sofa, mengerjakan PR, menghadiri sejumlah konser. Karena jatuh cinta padanya terasa seperti salah satu hal paling benar di dunia.

Sayangnya, kau tidak berhasil mencuri balik hatinya.

Bahkan saat kau memintanya, dia tidak memberimu.

Kau tetap membiarkannya memegang hatimu, selagi dia membuat janji tidak akan meretakkannya. Tapi kau bisa melihat—merasakan—ada retakan pertama tercetak di sana.

Itu hanya kerusakan kecil, berulang kali kau katakan. Itu hanya kerusakan kecil.

Hidup terus berjalan. Kau mulai mempertanyakan mengapa kau jatuh cinta pada seseorang yang tidak memberikan hatinya padamu. Kau mulai memperhitungkan sampai kapan—sampai kapan akan terus begini.

Namun di penghujung hari, kau akan selalu menemukannya lebih cantik dari hari kemarin. Kau mengulur waktu, memberi kesempatan, membubuhkan kesabaran di atas logikamu sendiri.

Dia tersenyum, dia mencuri sosis dari kotak makanmu, dia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang bahu. Dia tertawa. Dia tersenyum lagi dan lagi dan lagi, sampai kau luluh dan memeluk dirimu hanya untuk melarangnya jatuh terlalu dalam. Dan kau sadar…

Kau telah berada di dasar.

Terkadang kau membenci dirinya.

Terkadang kau ingin berhenti.

Terkadang kau ingin menghentikan rasa sakitnya.

Terkadang kau mengatasi bayangannya, yang berlari di kepalamu, dengan menutup mata. Tapi dia tetap berada di sana, lebih jelas terlihat.

Kau ingin melarikan diri, tapi kau sadar betul dia lebih cepat berlari. Gadis itu berada di depanmu, maka kau melambat—membiarkannya mendahuluimu. Di ujung jalan, ternyata dia berhenti, menunggumu.

Kau jadi bingung.

Bagimu, dia adalah oksigen yang kau hirup. Dia adalah partikel-partikel kecil yang mengambang di udara. Semua orang dapat mengambilnya kapan saja, kau mungkin hanya bisa tertegun saat hal itu terjadi.

Terhitung sampai sekarang, kau telah mencintainya 8 tahun lamanya. Kau tidak tahu bagaimana caranya berhenti, kau tidak tahu bagaimana caranya meninggalkan.

Kau selalu khawatir.

Kau khawatir siapa yang akan menghapus air matanya jika bukan dirimu; bahu siapa yang akan dia gunakan untuk bersandar; sapu tangan siapa yang akan dia pinjam untuk menyapu semua kesedihan dari wajahnya.

Kau juga cemas.

Kau cemas siapa yang akan menikmati tawanya yang secerah matahari; cemas siapa yang akan menatap matanya selama beberapa detik; cemas siapa yang akan mengiriminya pesan di malam hari jika bukan dirimu.

Atau kau takut semua itu justru berbalik padamu.

Delapan, menurutmu, hanyalah sebuah angka. Angka tersebut boleh berkembang biak asalkan kau terus berada di sampingnya—dengan hati yang kosong.

“Keep me with you. Keep me with you forever.”

a/n:

For someone. Just someone.

Penulis:

A Ridiculous Writer :)