Posted in EXO, Family, Fanfiction, Fluff, Romance, Two is Better Than One

Two is Better Than One: Dinner

Main Casts: Baekhyun & Taeyeon ▲ Others Cast: Krystal, Sulli, Xiumin, Luhan, Tao ▲ Genre: Family, Romance, Parents!Au ▲ Length:>2000wc ▲ Rating: Pg-15

Soundtrack: Jamie Cullum – High and Dry

Another Story:

[1]

Summary:

Acara makan malamnya mendekati kata sedih dan kecewa

***

Kim Taeyeon benci harus mengakui ini. Semenjak perceraiannya dua tahun lalu, dia berjanji tidak akan terlihat lemah atau menangis di depan anak-anaknya. Perpisahan memang menyakitkan, hidup sendirian bersama ketiga anaknya memang sebuah keputusan berat, memulai sebuah kehidupan baru tanpa suaminya memang tidaklah semenyenangkan yang orang-orang ceritakan.

Tegar di luar, lemah di dalam—begitulah Taeyeon mendefinisikan dirinya.

Maka saat sang mantan suami berusaha memperbaiki setidaknya 80% kerusakan yang telah dia sebabkan pada keluarganya, Taeyeon memberi kesempatan kedua. “Hanya demi anak-anak,” tandasnya, “bukan untukku.”

Dan Taeyeon benci harus membiarkan Kris menerima kesempatan itu, lalu dengan seenaknya menyia-nyiakannya.

Itu terjadi saat malam menjelang; saat Tao, Xiumin, dan Luhan duduk di meja sehabis mandi sore. Mereka tampan, mereka lucu, mereka beraroma sabun dan lotion anak-anak, mereka dengan rapinya melipat tangan mereka di meja dan tersenyum tiada henti sembari menunggu kedatangan sang ayah.

“Ayah datang jam berapa?” tanya Luhan penuh semangat, dia menelengkan kepalanya lucu dan membuat Taeyeon tersenyum.

“Setengah delapan,” Taeyeon melirik jam di dinding rumahnya yang menunjukkan pukul 7. “Sebentar lagi, Luhan.”

“Baiklah,” Luhan kembali melipat tangannya dan memekik ketika melihat Xiumin mencomot satu stroberi dari kue. “Hei! Tunggu sampai Ayah datang dan kita bisa memakannya bersama-sama, Xiumin!”

“Tapi aku lapar,” protes Xiumin yang akhirnya meletakkan stroberi itu di tempatnya semula. “Baiklah. Aku akan menunggu sampai Ayah datang dan aku bisa duduk di pangkuannya sambil makan kue.” Dia tersenyum senang.

Sebenarnya, jam tujuh adalah waktu makan malam mereka, namun ketika Kris bilang dia baru bisa datang ke rumah mereka pukul setengah delapan, anak-anak ini rela menekan rasa lapar dan menunggu kedatangannya. Taeyeon mengerti mengapa mereka bisa begitu. Hampir dua minggu penuh Kris tidak mampir ke rumah mereka, anak-anak tentu merindukannya. Mungkin dia sibuk, mungkin dia keluar kota, dan mungkin saja…bersama Jessica—sekretarisnya—lebih penting dari pada menyempatkan diri datang berjumpa dengan anak-anaknya sendiri.

Taeyeon tidak peduli apa yang Kris lakukan setelah berpisah dengannya. Baginya, bersama Kris dulu bukanlah sebuah kesalahan fatal, hanya saja dewi fortuna tidak terlalu berpihak pada mereka. Ada luka di hatinya, namun kehadiran Tao, Xiumin, dan Luhan bisa menjadi penawar hati yang sakit. Setidaknya itulah alasan utama yang membuatnya bertahan dua tahun tanpa Kris. Memulai segala sesuatunya dari angka nol, dan kini mereka berada di angka 8. Jangan sampai mereka tergelincir dan jatuh ke bawah lagi.

Taeyeon tidak menginginkannya.

Juga, Taeyeon tidak menginginkan waktu terus berjalan, perut mereka mulai keroncongan, sementara Kris belum nampak batang hidungnya.

Mobil sport warna hitam milik Kris belum terparkir di depan rumahnya pukul delapan kurang sepuluh menit. Taeyeon sedang berusaha menelepon Kris ketika Luhan mulai bertanya lagi. “Ayah masih dalam perjalanan ya? Spaghetti-nya sudah dingin.”

“Mungkin…mungkin Ayah terjebak macet, Luhan,” jawabnya sambil menelepon kembali. Sayangnya, jawabannya masih sama seperti sekitar tiga puluh menit yang lalu dia dengar: nomor yang Anda tuju tidak aktif.

“Aku lapaaaar…” Xiumin membenamkan wajahnya di meja.

Kris, jangan lakukan ini pada anak-anak, kumohon, batin Taeyeon tak tenang.

Pukul delapan tepat, Taeyeon menghangatkan kembali makanan-makanan itu dan menyuruh ketiga anaknya makan tanpa kehadiran Kris. Seperti yang dia duga, Tao menolak, dia bersikeras tidak akan makan sebelum Kris datang.

“Ayah sudah janji akan datang untuk makan malam bersama kita. Aku akan menunggunya. Aku tidak mau makan sebelum Ayah datang.”

“Tapi, Tao. Ibu tidak bisa memastikan kapan Ayah datang—“

“Tapi Ayah akan datang sebelum pertandingan bolanya dimulai ‘kan, Bu?” tanya Luhan menimpali. Semua mata menatapnya penuh tanya, haus akan kepastian, sedangkan Taeyeon tidak berdiri di posisi yang dapat memberikan kepastian. Dari awal dia tidak menyangka Kris akan setega ini pada mereka, terutama pada ketiga anaknya.

Sekali lagi, Taeyeon mengumbar janji kosong. “Ya, Ayah pasti datang sebelum pertandingannya dimulai.”

Yeay! Sehabis ini kita buat popcorn mentega dan keju,” seru Luhan.

“Aku mau ekstra keju!” timpal Xiumin selanjutnya. Lalu mereka kembali makan dengan senyuman masih rapi terpasang di wajah mereka. Entah mengapa itu malah membuat hati Taeyeon sakit.

Sama seperti Tao, Taeyeon tidak punya selera menyendokkan spaghetti super enak itu ke piringnya. Bukan karena dia ingin Kris duduk bersama mereka sambil menikmati hidangan itu, dan menerima sederet pujian seperti dulu kala: “Makanannya enak, honey. Kau membuatku bahagia. Terima kasih.”

Tidak, Taeyeon bahkan tidak pernah mengharapkannya lagi.

Dia hanya ingin Kris muncul sekarang, dan membuat anak-anak ini melonjak gembira.

Sesederhana itu.

***

Tapi itu tidak terjadi.

Pukul sembilan tepat, pertandingan sepak bola itu dimulai, ponsel Kris tetap tidak bisa dihubungi, Tao belum juga mau makan bahkan dia tidak menyentuh popcorn yang dia buat. Tao memisahkan popcorn untuk Kris di mangkuk tersendiri agar kedua adik kembarnya tak bisa menyentuhnya.

Taeyeon memerhatikan bagaimana Tao menaburkan bumbu keju di atas popcorn sang ayah. Dia tahu benar Kris suka sekali keju. Tao tahu benar Kris suka pepsi ketimbang coca cola, maka dia menyimpan satu untuknya. Tao tahu benar Kris juga suka menikmati makanan dan minuman itu selagi mereka menonton pertandingan sepak bola.

Tapi yang hari ini dia tidak tahu adalah ayahnya mengingkari janjinya sendiri.

“Ayah jadi datang ‘kan, Bu?” Luhan bertanya untuk kesekian kalinya.

“I-iya,” Taeyeon mendengar suara operator di ponselnya lagi. Mengapa bukan suara Kris yang didengarnya? “Kalian pergi ke ruang tv saja. Bawa juga popcorn-nya. Hati-hati, Luhan.”

Ketiga anak itu pergi meninggalkannya sendirian di dapur. Mereka menyalakan tv-nya dan Luhan berteriak, “Pertandingannya sudah mulai!”

Selagi perhatian mereka teralihkan, Taeyeon pergi keluar rumah dan menyapukan pandangannya ke jalanan. Tidak ada tanda-tanda dari Kris. Jalanan itu bersih dari mobil, hanya suara jangkrik yang mulai berkumandang seraya lampu jalanan menyoroti kesunyian.

“Ayolah, Kris. Nyalakan ponselmu dan angkat teleponku,” geramnya kesal. “Anak-anak menunggumu dua minggu lamanya, dasar keparat.” Akhirnya amarahnya meledak juga.

“Ayah tidak datang ya?”

Taeyeon terkejut mendengar suara di belakangnya. Dia hampir saja melepaskan ponselnya. Jantungnya melompat saat mendapati Tao berdiri tak jauh darinya. Ah, apakah Tao mendengar Taeyeon baru saja mengatai ayahnya ‘keparat’?

“T-Tao…apa yang kau lakukan di sini?” ujar Taeyeon terbata-bata.

“Ayah tidak datang ‘kan? Ayah tidak menjawab telepon Ibu—“

“Tidak, tidak, Sayang. A-Ayah bukannya tidak menjawab telepon Ibu. Ponselnya mati maka itu dia tidak bisa dihubungi. Kautahu kan kebiasaan Ayah? Dia tidak suka mengisi baterai ponselnya dan membuat Ibu sulit menghubunginya.” Percayalah, Taeyeon berusaha membuat Tao memercayai perkataannya, tapi percayalah, Taeyeon tahu dia baru saja gagal. Dia tidak pintar berbohong, Tao tahu itu.

Semua perasaan seolah dapat terbaca hanya dengan melihat wajah Tao—di bawah keremangan lampu teras mereka.

“Jika Ayah tidak datang hari ini, itu berarti kita sudah tidak bertemu dengannya dua minggu lebih,” ucap Tao pelan.

Jujur, Taeyeon tidak suka ada kata kita di sana. Taeyeon tidak butuh bertemu Kris selamanya. Anak-anak yang membutuhkannya.

“Apa…,” Tao menundukkan kepalanya sedih. “Ayah tidak merindukan kita?”

Hati Taeyeon mencelos jauh ke dasar perutnya, dan dia mengutuk Kris hingga ke neraka paling dalam. Taeyeon segera memeluk Tao, mencium kepala anak itu cukup lama. “Tidak, Sayang,” tidak bisa menjanjikannya apa-apa, Taeyeon mengajaknya pergi ke dalam rumah. “Ayo, kita masuk saja. Kau lapar? Kita makan bersama, oke? Ibu panaskan spaghetti-nya.”

Taeyeon bersumpah akan memukul hidung mancung Kris jika bertemu kelak. Inilah sesuatu yang membuat dewi fortuna malas berpihak pada mereka. Taeyeon terkadang bersyukur bisa berpisah dengan Kris. Tapi tidak saat Tao mengatakan ini padanya:

“Sisakan spaghetti-nya untuk Ayah, Bu. Siapa tahu Ayah datang nanti malam.”

Andai saja memaafkan semudah yang Tao lakukan, mungkin Taeyeon akan masuk surga setelah kematian menjemputnya.

***

Tao benar.

Kris memang datang malam itu.

Tepat pukul sebelas, setelah pertandingan sepak bola berganti acara basket, setelah ketiga anak itu menyerahkan diri pada rasa kantuk yang melanda mereka dan tertidur pulas di sofa. Taeyeon setengah mati mengangkat si kembar ke kamar mereka, dan hampir terpeleset di tangga saat membopong Tao.

“Hufth…” Taeyeon jatuh bersamaan dengan Tao di kasur. “Kau sangat berat, Tao. Delapan tahun yang lalu Ibu masih bisa menggendongmu seperti selembar daun dan sekarang…” wanita itu menyapukan poni Tao yang mulai memanjang. “Kau sudah besar. Besok-besok kau yang menggendong Ibu, oke?”

Tertawa akan perkataannya sendiri, malam ini setidaknya Taeyeon bisa tertawa walaupun tawa itu segera terhapus begitu mendengar klakson mobil. Familiar…sangat familiar.

“Mimpi yang indah, Tao,” ujar Taeyeon mendaratkan satu kecupan di dahi anak itu dan turun ke lantai bawah…untuk menemui keparat nomor satu dalam hidupnya.

Juga untuk memberinya sedikit pelajaran.

“Kau lebih baik jangan banyak beralasan, Kris. Atau aku benar-benar akan memukul hidungmu yang indah itu,” gumam Taeyeon menahan emosinya.

Taeyeon ingat, salah satu alasan mengapa dia mau menerima lamaran Kris dulu adalah hidungnya. Konyol bukan? Hidung Kris sangat mancung dan indah. Oh, jangan lupakan tatapannya yang tajam itu.

Jika, saat ini Taeyeon berumur 20 tahun, muda dan jatuh cinta, lalu mendapati Kris bersandar di pagar seperti ini—mengenakan kemeja warna hitam yang lengannya digulung hingga siku, dua kancing terbuka, serta rambut hitam yang disisir ke belakang…mungkin Taeyeon akan dengan senang hati menyambutnya.

Tapi maaf, saat-saat seperti itu sudah lama berlalu. Yang kini tersisa hanyalah rasa kesal, kesal, kesal, dan kesal saat Kris menyapanya kasual.

“Hai.”

Taeyeon hanya diam di ambang pintu rumah.

“Bukakan pagarnya, honey.”

Taeyeon muak mendengar panggilan itu.

Honey, aku mau masuk. Kenapa kau hanya diam di sana—“

“Jam berapa sekarang?” tanya Taeyeon dingin.

Kris melihat jam tangannya dan berkata, “Sebelas. Apa—“

“Dan jam berapa kau berjanji pada anak-anak untuk datang ke sini?”

Kris baru menyadari kesalahannya lima detik kemudian. Dia mengakuinya, “Oke, oke. Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku seharusnya datang setengah delapan.”

Kata maaf tidak cukup, kau otak udang!

“Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”

“Baterainya habis. Maaf lagi.”

“Menyebalkan,” Taeyeon memalingkan wajahnya.

“Sekarang maukah kau membukakan pagarnya dan membiarkan aku masuk? Aku mau bertemu anak-anak—“

“Mereka sudah tidur.”

Rahang Kris terjatuh beberapa sentimeter. “Kenapa mereka sudah tidur padahal aku belum bertemu dengan—“

“Apa kau sudah gila? Ini pukul sebelas malam, anak kecil mana yang masih bangun?!” kata Taeyeon setengah berteriak. Jangan sampai salah satu sandal Tao melayang ke wajahmu, Kris.

Kris memijat kepalanya. “Oke, oke. Aku mengerti, maafkan aku,” Kris kembali melembut. “Boleh aku masuk? Please, aku hanya ingin melihat mereka.”

Taeyeon membenci hal ini. Kris selalu punya aura tersembunyi yang tidak cukup untuk membuatnya kembali namun dapat meluluhkan hatinya. Seperti air dingin yang memadamkan api besar, begitulah Kris terhadap Taeyeon.

Kris tersenyum ketika Taeyeon membuka gembok rumahnya. “Hapus senyuman itu dari wajahmu, Kris.”

“Kenapa? Aku rindu anak-anak, tapi tak kusangka aku juga merindukanmu,” katanya mulai meluncurkan kata-kata manisnya.

Ini pukul sebelas malam, Taeyeon tidak berada di luar sana untuk mendengar kata-kata gombal milik Kris.

Well, bagaimanapun juga, Kris adalah ayah ketiga anak ini. Taeyeon tidak memukulnya, tidak menendang bokongnya keluar dari rumah begitu Kris menginjakkan kaki di lantainya. Seberapa banyak kesalahan yang telah pria tinggi ini lakukan, rumah selalu menerimanya dengan tangan terbuka dan Taeyeon pun tak bisa menolaknya.

Kris mendatangi kamar si kembar lebih dulu. Memeluk dan menciumi kedua anak itu, menyisir rambut mereka perlahan menggunakan jemarinya, dan Taeyeon tak mau mengakui bahwa dia merindukan pemandangan ini.

“Mereka sehat-sehat saja ‘kan?” bisik Kris bertanya padanya.

Taeyeon mengangguk.

Good,” ucap Kris sebelum berpindah ke kamar Tao. Butuh waktu yang cukup lama untuk Kris berada di sana. Dia memandangnya, membelai kepala anak kesayangannya itu. Taeyeon merasakan air mata mulai mendesak keluar. Ini selalu terjadi ketika Kris bersama Tao.

Boleh dikatakan, korban yang paling tersakiti dari hasil perceraian ini adalah Tao. Dulu Tao anak yang ceria, satu-satunya yang menghabiskan waktunya bersama Kris lebih banyak daripada dengan Taeyeon. Semua kebiasaan Kris turun padanya, terkadang mengingatkan Taeyeon bahwa Kris tetap bersamanya dalam sosok Tao, dan tentu saja dalam versi yang jauh lebih baik.

“Jadi anak yang baik, oke? Belajar yang benar, jaga adik-adikmu. Jangan melawan ibumu,” bisik Kris di telinga Tao. Anak itu hanya merespon dengan bergerak dalam tidurnya, Kris menyunggingkan senyumnya dan mencium pipi Tao, “Ayah menyayangimu.” Kemudian Kris menutup pintu kamarnya perlahan.

“Aku lapar,” katanya memberitahu. “Ada makanan tidak?”

Taeyeon memutar kedua bola matanya sebal, dan menahan niat ingin mendorong Kris saat menuruni tangga.

“Beruntunglah Tao menyisakan spaghetti untukmu.”

***

Honey, aku minta maaf.”

Kris berdiri di dekat mobilnya. Dia memegang tangan Taeyeon dan anehnya, wanita itu malah membiarkannya.

“Maaf karena telah merusak rencana hari ini. Aku…aku—“

“Kris.”

“Ya?”

Taeyeon menghela napas. “Jangan minta maaf padaku, oke? Bukan aku yang kau beri janji, bukan aku yang menunggu kedatanganmu, bukan aku yang berharap kau nonton pertandingan sepak bola bersama. Anak-anak, Kris. Kau seharusnya minta maaf pada mereka.”

“Tapi mereka sudah tidur,” kata Kris cemberut.

“Aku tahu,” aku tidak bodoh. “Jangan ulangi lagi.”

“Tentu—“

Kau bohong, berapa banyak kau mengingkari janjimu seperti ini?

“—aku akan datang lagi ke sini minggu ini, dan percayalah, aku akan menepatinya.”

“Kupegang janjimu.”

Thanks.” Kris tersenyum lebar sebelum mencium kening mantan istrinya. “Sampaikan salamku untuk anak-anak.”

Dengan itu pun Kris pergi. Mobil sport-nya melaju kencang; tinggalkan sisa asap knalpot yang segera melebur di udara malam ini. Taeyeon tak mengerti mengapa Kris masih berusaha keras, bahkan dia tahu dia tidak mampu menutupi kebohongannya sendiri. Taeyeon masih bisa membaui aroma parfum itu—Jessica. Aroma yang menyebabkan kepedihan ini.

“Itu mantan suamimu?”

Oh my God!” pekik Taeyeon sekali lagi terkejut. Yang kedua ini disebabkan oleh Byun Baekhyun yang tiba-tiba muncul dari balik tembok pembatas rumahnya. “Kau mengagetiku, Tuan Byun.”

“Oh, maafkan aku. Kau tidak apa-apa ‘kan? Aku tidak bermaksud—“

“Ya, aku tahu. Maaf, tadi aku melamun.” Taeyeon tersenyum sambil memegangi dadanya sendiri. “Dan…apa yang kau tanyakan tadi?”

Baekhyun sama seperti tadi pagi, mengenakan piyama, bedanya kini piyama Baekhyun berwarna biru gelap dengan motif kotak-kotak hijau menghiasi permukaannya. Ada rasa sesal merayapi tubuh Taeyeon perlahan-lahan. Dia ingat undangan makan malam yang Byun Baekhyun tawarkan dan dia menolaknya hanya demi Kris. Demi Kris yang tidak datang! Sungguh, Taeyeon menyesal.

“Itu mantan suamimu?”

“O-oh ya, itu…Kris, mantan suamiku.”

“Dia tampan,” puji Baekhyun santai.

Taeyeon terdiam sejenak. “Apa kau baru bilang Kris tampan?” tanyanya mengerutkan dahi.

Baekhyun pun mendapatkan sinyal itu dan tertawa, “Tidak, tidak, maksudku, oke…dia tampan dan dia serasi denganmu.”

“’Serasi’…,” kata itu nampak tidak tepat berada di sana. “Sayangnya, kami tidak.”

Baekhyun tersenyum meminta maaf. “Maaf, aku tidak bermaksud.”

“Tidak apa-apa, Tuan Byun. Oh ya, bagaimana dengan makan malammu?” tanya Taeyeon mengganti topik karena jika dibiarkan, mungkin mereka akan terus-terusan saling meminta maaf.

“Sukses,” jawab Baekhyun puas. “Steak-nya sedikit gosong. Anak-anak protes, tapi mereka sangat menikmati es krimnya. Hmm…aku lupa sebenarnya steak bukan keahlianku.” Dia tertawa lagi, dan Taeyeon menyadari tawa Tuan Byun Baekhyun sedikit…menular?

“Bagaimana denganmu?”

Ah, sebenarnya Taeyeon menghindari pertanyaan balik itu. Makan malamnya hancur lebur. Mungkin Baekhyun mendengar Kris datang 30 menit yang lalu. Bohong namanya jika Taeyeon juga bilang ‘sukses’ penuh rasa bangga seperti Baekhyun, karena kenyataannya berbanding terbalik.

“Tiba-tiba Kris punya janji bersama client-nya, dia terlambat datang ke rumah kami,” dustanya. “Tapi…spaghetti-nya sukses. Anak-anak menyukainya.”

Baekhyun tidak berhasil memasak steak-nya, tapi setidaknya mereka makan dengan bahagia. Taeyeon berhasil memasak spaghetti-nya, tapi bagi ketiga anaknya, makan malam itu hampir mendekati kata sedih dan kecewa.

“Aku senang mendengarnya. Lain kali, eumm…mungkin aku bisa menyicipi spaghetti buatanmu.”

Taeyeon mengangguk sembari menyelipkan rambutnya di belakang telinga. “Aku juga mau menyicipi steak buatanmu—tanpa gosong, tentunya.”

“Hahaha tenang saja. Aku akan membuatnya spesial untukmu.”

‘Spesial untukmu’?

Keduanya diam seolah ada petir baru saja menyambar kepala masing-masing. Atmosfir di antara mereka semakin aneh atau memang udara malam yang begini? Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Taeyeon menjadi salah tingkah mendengar perkataannya barusan.

“A-aku rasa, Xiumin baru saja memanggilku.”

“A-aku juga…Jinri—astaga!” Baekhyun tiba-tiba memukul kepalanya.

“Ada apa??”

Baekhyun tidak tahu harus bagaimana, dia nampak kebingungan dan linglung. Beberapa saat Taeyeon mengira dia terkena penyakit ayan atau semacamnya. “Tuan Byun, Tuan Byun! Kau tidak apa-apa?”

“SUP-NYA! AKU SEDANG MEMANASKAN SUP DI DAPUR!”

“Astaga! Cepat matikan kompornya, apa yang kautunggu, Tuan Byun!!”

Baekhyun segera berlari meninggalkan Taeyeon yang hanya bisa memandang kepergiannya cemas. Baekhyun berlari dan terpeleset keset di depan pintu rumahnya. “Aww!”

“Tuan Byun, kau tidak—“

“Aku baik-baik saja,” sahut Baekhyun dan Taeyeon mau tak mau menyembunyikan tawanya di balik tangan.

You are really something, Mr. Byun.

 

 

 

a/n:

ehehehehe aku mendengar beberapa pembaca meneriakkan WTH dan WTF di dalam hatinya keras-keras. Benarkah?

Ada Kris ulalalala xD aku tadinya bingung mau siapa yang dijadiin mantan suaminya. Tadinya mau Wooyoung, atau Seungri. Atau…ya siapapun. Tapi aku menemukan gambar Kriseu yang bikin menggelepar dan…oke, kamu lulus jadi mantan suaminya Taeyeon.

Oke baiklah, see you again, honey! ehehehe❤

 

p.s: sorry, no comment box. i just feel bad i can not reply your comments. but i want to say thank you so so much❤ but if you want to give me some advices, comments, or anything else, you can go to my twitter or ask.fm.

have a nice day🙂

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

3 thoughts on “Two is Better Than One: Dinner

Komentar ditutup.