Posted in EXO, Fanfiction, Fluff, Romance, Writing Prompts

[Writing Prompts] Every Little Thing He Does

New-Kris-hairstyle-exo-m-33741156-417-500

Yes, because every little thing he does is magic

 

 

***

 

Kinsey seharusnya tahu bahwa melihat Kris bersama anak kecil adalah racun paling mematikan.

Kinsey tidak terlalu suka anak kecil. Ada beberapa kondisi dan situasi yang membuatnya melihat anak kecil seperti cicak pucat yang siap memanjat kakinya. Ugh, membayangkannya saja membuat semua bulu kuduknya berdiri.

Bukan karena Kinsey tidak punya naluri kewanitaan. Bukan karena dia jarang bermain di dapur dan membayangkan dapat membuat kue untuk anak-anaknya nanti. Dia…hanya tidak mengerti apa yang harus dia perbuat saat berdekatan dengan anak kecil. Terakhir kali dia bertemu seorang bocah di taman, gadis itu membuat balonnya pecah dan bocah itu menangis meraung-raung.

Oke, Kinsey tidak ditakdirkan untuk dekat dengan anak kecil. Mungkin di mata anak-anak, dia nampak seperti monster besar dengan rambut merah yang panjang. Eww, Kinsey tidak bisa membayangkan betapa mengerikan dirinya.

Omong-omong soal naluri kewanitaan, Kinsey rasa Kris—sang kekasih—lebih memilikinya daripada dirinya sendiri. Meskipun, kautahu, Kris adalah drummer band rock. Oh, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

Well, itu terjadi pada pertengahan bulan Februari atau lebih tepatnya di hari Valentine.

Sepasang kekasih ini keluar di sore hari, berencana menonton film remaja picisan yang penuh kata-kata romantis karena Kinsey ingin mencobanya, walaupun dia tahu, this is not Kris’ style at all. Pria itu akan tertidur sepanjang film. Kinsey tahu betul.

Please, sekali saja. Biar kita seperti pasangan-pasangan lainnya,” rajuk gadis itu mengalungkan lengannya pada leher Kris, mencium keningnya, mencium kedua pipinya dan berhenti saat dia hendak mencium bibir Kris. “Please, kumohon.”

Eww, Kinsey, aku tidak tahu kau akan se-cheesy ini,” kata Kris mengerutkan wajahnya jijik. Namun dia tetap menagih kecupan itu, maka dia memajukan tubuhnya sementara gadis itu dengan lihai memalingkan wajah.

Kinsey pun cemberut. “Seperti kau tidak gombal saja setiap menciptakan lagu Al Capone!” protesnya.

“Itu bukan aku yang menciptakan lagunya! Itu Huang Zitao si pria melankolis, juga Byun Baekhyun yang sedang jatuh cinta pada junior tingkat satu. Now, say happy valentine to me…” Kris berusaha menciumnya, tapi Kinsey menutup mulut pria itu dengan satu tangan.

“Nonton. Film. Di. Bioskop.” Kinsey memberinya pandangan tajam yang membuat Kris memutar kedua bola matanya kesal.

“Oke.”

“Benarkah??” Kinsey bersorak kegirangan.

Satu anggukan kepala dari Kris dan Kinsey mencium…dahinya (dia bisa melihat betapa kecewanya Kris dan tertawa dalam hati). “Happy valentine, baby! You rock my world! Ayo kita pergi ke bioskop.” Kinsey menarik tangannya kuat-kuat.

“Sekarang?”

“Tidak. Tahun depan, Kris,” Kinsey melotot padanya. “Tentu saja sekarang.”

Mereka berdua pun pergi dari rumah Kinsey dan naik kereta menuju bioskop. Kinsey tak bisa berhenti tersenyum sambil memandang ke arah luar jendela kereta, membiarkan sinar mentari sore menyirami kulitnya yang terasa hangat, dan hatinya juga ikut merasakannya. Entah apa itu efek matahari atau pria di sebelahnya yang menyebabkannya jadi seperti ini.

Kinsey berpikir, betapa mudah dia merasa bahagia. Terkadang dia menganggap dirinya terlalu gampang dibuat senang seperti ini, dan parahnya, Kris mengetahui hal itu.

“Kau mudah sekali ya tersenyum bahagia,” celetuk Kris tiba-tiba, membuyarkan lamunan gadis itu. “Beri Kinsey tiket bioskop dan dia akan tersenyum sepanjang hari,” tambahnya sedikit sarkastik, alhasil menerima sebuah pukulan ringan yang mendarat di lengannya.

Aww! Kinsey!”

Kinsey hanya tertawa tanpa menjawab apa-apa, melanjutkan sesi tersenyumnya dan berkata dalam hati, ini bukan tentang menonton bioskop. Ini tentang kau yang mau menonton bersamaku, walaupun kau tak suka filmnya barang sedikit pun.

Oke, hati Kinsey meleleh.

Oh, tapi itu belum seberapa.

Belum seberapa melelehnya ketika melihat pemandangan yang tersodor di depan matanya beberapa menit kemudian. Seolah Kris tahu di mana letak titik kelemahan Kinsey dan menekannya hingga habis ke dasar.

Yang ini membuat hati Kinsey jatuh di samudera paling dalam sedunia.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, Kinsey memerhatikan seorang anak laki-laki berumur kisaran empat tahun tengah menggigit jarinya dan menatap Kris. Dia berjalan ke arah Kris, lalu berlari menjauh darinya beberapa saat kemudian sambil terkikik tanpa suara. Anak itu melakukannya beberapa kali hingga mendapatkan perhatian dari Kris.

Kris memanggilnya. “Hei.”

Anak itu malu-malu tersenyum, masih mengigit jarinya.

“Hei, kemari.” Kris melambaikan tangannya.

Anak itu menggelengkan kepala, menyeruakkannya ke pangkuan sang ibu, namun matanya mengintip dari sela-sela jemarinya.

Kris pun merogoh kantung celananya. Kinsey pikir dia mau merokok, tapi—oh mana boleh melakukannya di dalam kereta. Dan benar saja, bukan rokok yang terselip di tangannya, melainkan permen.

“Hei, kau mau permen?” tanya Kris menggoyang-goyangkan permen stroberi itu. Oh yeah, anak kecil mana yang tak tertarik akan sepotong permen, maka anak itu perlahan-lahan berjalan dari ibunya. Masih dengan tangan di dalam mulut, dia menghampiri Kris dan seperti kena jebakan yang dibuat musuhnya…

Tak perlu waktu lama, kini dia berada di pangkuan Kris.

Wow, bagaimana mungkin dia melakukannya? batin Kinsey.

Anak itu dengan tenang duduk di pangkuan Kris, menatap permen pemberian Kris dengan mata berbinar.

“Kau mau paman membukakannya untukmu?”

Anak itu hanya menatap Kris selagi senyumannya tak memberikan jawaban apa-apa. Kinsey melihat ibu sang anak memberi kode; menunjuk telinganya dan mulutnya, lalu menggelengkan kepala. Ah, detik itu Kinsey mengerti.

“Dia tunarungu, Kris,” bisik Kinsey memberitahu.

Tak berkata apa-apa, Kris pun memberi satu anggukan singkat dan membuka bungkus permen itu, memberikan isinya di telapak tangan si kecil. Senyuman di wajah Kris entah mengapa membuat hati Kinsey dilanda emosi yang hebat.

Apalagi ketika Kris memperlakukan anak itu layaknya anak normal yang dapat mendengar suaranya. Dia membiarkan anak itu berdiri di pangkuannya, mengotori jinsnya, dan mereka berdua melihat ke luar jendela.

Si kecil menunjuk langit di atas sana, mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan satu suara.

“Oh ada apa di sana, hm? Langit?” Kris mengusap jendela itu menggunakan telapak tangannya. Berusaha memberitahu anak itu bahwa hamparan luas warna jingga di luar sana bernama langit.

Kemudian Kris mengembuskan napas di jendela, menciptakan uap cukup lebar di sana, lalu dia menggambar lingkaran dengan dua mata serta lengkungan di bawahnya yang mengindikasikan senyuman lebar.

Kris menunjuk gambar tersebut, dan menunjuk ke wajah sang anak. “Ini kau, sedang tersenyum,” gumam Kris sia-sia. Suaranya penuh kehangatan dan Kinsey mau menangis.

Dia memerhatikan keduanya dari jarak satu meter kurang. Dia merasakan sebuah perasaan tak terdeteksi, membuat cairan bening menggenang di pelupuknya.

Apa-apaan ini? Kris…apa yang kau lakukan?

Dia ingin memukul Kris, membuangnya dari pintu kereta, karena dia membuat Kinsey hampir menangis di tempat umum. Ini bukan pemandangan ‘wah’ bagi siapapun. Ini hanya Kris yang tengah bermain bersama anak kecil tunarungu, namun mengapa Kris terihat seperti sedang menumpah ruahkan seluruh jiwanya terhadap si anak?

Kinsey seharusnya tahu bahwa melihat Kris bersama anak kecil adalah racun paling mematikan. Karena kini dia sedang berusaha mencari penawarnya dan hal itu dirasa tak mungkin.

Kau membuatku semakin jatuh cinta padamu, Kris. There’s no way to hate you. Kinsey membenci hidupnya. Membenci dirinya yang terlalu gampang dibuat bahagia. Sial.

Anak itu mulai membuat uap di jendela dengan napasnya sendiri, mencoba mengikuti gambar Kris. Lalu dalam rangka ‘menyelamatkan’ karya si anak agar tidak mencontoh gambar Kris (karena sekarang Kris mulai menggambar serigala. Semua orang tahu…gambar serigala buatan Kris mirip seekor binatang jaman purba yang tidak teridentifikasi), Kinsey mendekati sang anak, mencoba menciptakan uap di sana dan menggambar hati.

Kinsey menunjuk gambar itu, lantas menunjuk dada sang anak sambil tersenyum. “Ini…hatimu,” bisiknya lembut dan baru kali itu, seorang anak kecil memamerkan seulas senyum padanya.

Kris tak mau kalah. Dia ikut mengukir bentuk hati yang cukup besar.

Kemudian…

Dia menunjuk dadanya sendiri…

Mengetuk gambar hati di jendela…

Dan mengarahkan telunjuknya pada Kinsey.

Dan tada! Kinsey meleleh, lebih dari sebelumnya. Namun dia tak mau mengakuinya.

Eww, cheesy!” Kinsey menjulurkan lidahnya.

But I love you…

Kris membalasnya.

…so much, Kris.

 

Dan kini Kris mengerti apa yang membuat Kinsey bahagia. Sangat mudah.

Film dan anak kecil. Yeah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bahkan hal itu terbawa sampai mereka  menikah dan punya anak.

Saat Kris tidak menepati janjinya untuk makan malam di rumah dan membuat Kinsey kesal, dia akan masuk ke kamar bersama Peizhi—anak mereka, lalu meminta maaf.

“Maafkan aku, baby.”

“Iya, bu. Maafkan Ayah ya. Ayah bilang pada Pei tadi, Ayah tidak akan mengulanginya lagi,” ujar gadis kecil itu.

Kinsey melirik setengah sebal pada Kris sambil menggumam pelan, “Selalu saja membawa Pei kalau mau minta maaf. Sudah tahu aku tidak bisa apa-apa kalau ada Pei.”

(Tapi pada akhirnya, Kinsey luluh dan Kris membayar kesalahannya keesokan hari dengan membawa keluarganya makan malam di luar. Malam itu ditutup dengan acara menonton film bioskop kartun pilihan Peizhi. Kinsey tidak bisa berbuat apa-apa selain menyandarkan kepalanya di bahu Kris dan mengunyah popcorn.)

 

THE END

 

 

a/n:

yeah…whatever hahaha.

Kris with black short hairstyle is my FAVORITE!! All the time!!! I mean, really, he is really really suits with this style. I mean like…yeah, you’re rock, man lol

Bonus my fav pics of kris for yaaaaa~

 

 

o-<-<

 

Penulis:

A Ridiculous Writer :)