Posted in Angst, EXO, Fanfiction, Romance, Sad, Writing Prompts

[Writing Prompts] Don’t Falling in Love with The Writer

If a writer falls in love with you, you can never die.

 

 

 

Jangan jatuh cinta pada penulis…

Mereka hanya bisa memberimu kata, bukan cinta.

 

Aku tak yakin di mana pernah menemukan kalimat itu, yang jelas mereka menempel di kepalaku bagaikan perekat. Di kala senja mulai merayapi hari dan kau tersenyum di ambang keputusasaan, kalimat itu pun terlintas lagi.

Tak seharusnya kau jatuh cinta pada seseorang yang kesehariannya bercumbu dengan kata-kata. Perempuan itu aneh. Dia lebih memilih berkutat di depan komputer dan mengetik setiap paragraf tentang kisah orang lain daripada merajut kasih denganmu. Jemarinya lebih suka menari-nari di biji-biji keyboard daripada menyentuh kulitmu yang lebih membutuhkannya. Otaknya lebih senang memikirkan plot cerita daripada memikirkanmu.

 

Bagaimana bisa kau menaruh hati padanya?

 

Tak seharusnya kau pulang membawa makanan untuknya. Buat apa? Perempuan itu tak pernah merasa kelaparan. Dia dapat bertahan di depan layar komputer tanpa makanan, tanpa minuman, karena dia hanya butuh ide. Tak seharusnya kau berusaha memeluknya dan menciumnya. Buat apa? Perempuan itu lebih suka menambahkan adegan tersebut di dalam ceritanya ketimbang melakukannya di kenyataan.

 

Bagaimana bisa kau masih mencintainya?

 

Tak seharusnya kau menyentuh kakinya saat malam dan tidur di sebelahnya bagaikan penjaga yang takut kehilangan hartanya. Perempuan itu tak takut pada gelap, dia tak takut pada desau angin dan berpura-pura tidur saat kau mengajaknya bicara. Dia lebih takut jika esok hari dia akan kehilangan jemarinya, idenya, akalnya, daripada kehilangan dirimu. Dia pelit berbicara karena mungkin saja kosakata telah habis ditelan Microsoft word.

 

Kisahnya tak nyata. Masih kah kau mencintainya?

 

Kau jelas bukan tipe idealnya, meskipun kau menganggap sosok itu adalah yang paling sempurna.

 

Dia memuja seseorang dalam setiap paragraf yang dia tulis. Perempuan itu menginginkan pria jahat yang menyakit hatinya berulang-ulang kali. Dia menginginkan pria ber-etiket buruk yang merampas semua kebahagiaannya dan mengembalikannya lagi saat rentetan kata maaf dilantunkan mirip lagu favoritnya.

Kau tentu bukan pria seperti itu. Kau tidak pernah menyakitinya, melihatnya menangis saja kau tak tega. Kau selalu yang mengucapkan kata ‘maaf’ di awal, dan perempuan itu tak menyadari bahwa dialah yang seharusnya melakukan hal itu. Dan harimu selalu berakhir tidur di sofa, memeluk bantalmu sendirian, sementara perempuan itu dengan egoisnya mengambi semua selimut di kamar.

 

Berpikirlah, pantaskah kau mendapatkan semua itu?

 

Kau nampak seperti satu-satunya yang jatuh cinta padanya dalam kasus ini, merasakan betapa dunia terlalu sempit hingga kau tidak merasa cukup untuk tinggal bersamanya. Pernahkah terlintas di kepalamu untuk pergi meninggalkannya? Menjadi pria jahat yang dia inginkan?

 

Ya, kau pernah.

 

Sesekali kau meninggalkan semua kenangan di belakang punggungmu dan berlari dengan harapan seseorang mengejarmu, menuntunmu kembali mengulang hidup dan memperbaiki semua kesalahan. Namun, lagi-lagi kau sendiri yang kembali tanpa disuruh, meski dia tidak menginginkanmu.

 

Tapi kau meninginkannya.

 

Pernahkah kau melihatnya menulis kisah kalian di layar komputer itu?

 

Perempuan itu hebat dalam mempermainkan kata-kata. Kisah yang dia buat selalu dibumbui intrik berpadu dengan sejumlah adegan romantis yang membuat pembaca menginginkan kisah seperti itu.

Tapi pernahkah kau melihatnya menulis kisahnya sendiri, atau tentangmu yang mencintainya setengah mati?

 

Tidak.

 

Atau mungkin pernah, namun semua tahu perempuan itu pandai mengolah fakta menjadi fiksi. Mungkin saja kisahmu menyedihkan, lalu saat sampai di tangannya, itu adalah sepenggal kisah yang manis.

 

Mengapa…

 

Mengapa kau jatuh cinta pada perempuan yang tak pernah menanyakan bagaimana harimu? Kau selalu berlakon penuh keseriusan.

“Bagaimana hari ini, hm?”

“Aku tidak bisa menulis apa-apa.”

“Kenapa? Kau tidak punya ide? Apa ada yang salah dengan komputernya?”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan cairan bening mengalir dari sudut matanya. Kau bertanya apa salahmu, apa maunya, apa yang harus kau lakukan selain meminta maaf, karena kata itu kini tak tepat untuk diutarakan. Karena tidak ada kesalahan.

“Ada apa?” bisikmu terlampau pelan.

Kau berpikir mungkin perempuan itu stres frustasi, dia tidak bisa menulis, mungkin dia butuh sesuatu untuk memicunya. Apapun itu. “Katakan padaku, apa yang bisa kubantu?”

Kau sekejap menjadi pria yang paling diinginkan perempuan itu ketika tangannya melingkar di pinggangmu, kehangatan membungkusmu kelak dikala dia mencium bibirmu, lamat-lamat jemarinya membuka satu persatu kancing kemejamu dan kau tahu apa yang dia inginkan.

Terlalu paham.

Terlalu mengerti.

Kau mendorong tubuhnya ke kasur, menghilangkan setiap jarak yang ada diantara kalian. Bercinta dengannya tak pernah terasa salah, selama namamu lah yang dia sebut, selama dirimu lah yang dia lihat dibalik mata gelapnya.

 

Terasa sempurna. Ya, sempurna.

 

Tapi kau tidak pernah menyangka setelah permainan yang kau ciptakan usai sudah, kau harus mendengar pengakuan yang cukup menyakitkan, cukup membuatmu menangis, cukup membuatmu bertanya sampai kapan perempuan itu akan bersandiwara dan berbalik mencintaimu seperti yang semestinya.

“Aku menulis tentangmu.”

Perempuan itu berbisik di telingamu lembut. Ada sebuah misteri di balik suaranya yang kecil, diam-diam meruntuhkan sebagian jiwamu.

“Oh ya?”

Dia menganguk, bergumam di permukaan kulitmu seolah dia sedang bercapak-cakap ria dengannya.

“Dan aku menyesal.”

Terbelaklah matamu, terbukalah hatimu. Kini pertanyaan mengapa dan apa dan bagaimana tak dirasa terlalu penting saat perempuan itu menangis lagi, ada sebongkah perasaan pilu di kedalaman hatimu.

“K-kau…”

Perempuan itu terisak, suaranya serak ditelan tangisan. “Aku menyesal menulismu, aku menyesal menggunakan namamu di sana, aku menyesal kisahmu harus tercetak di buku itu. Mengapa, Junmyeon? Mengapa…”

 

Kau pun melihat, mengingat.

 

Kala itu hujan mengguyur jalanan Seoul yang sepi.

 

Kau berdendang asyik seraya memutar kemudi, menjentikkan jemari sesuai irama musik. Kau punya janji akan menghadiri peresmian novel buatan perempuan yang paling kau cintai, maka kau membeli satu ikat bunga mawar di toko itu.

 

Kau menghirup aromanya.

 

Kau mengingat wajah perempuan itu.

 

Kau tersenyum.

 

Kau hendak berjalan kembali ke mobil, tak pedulikan jas hitam-mu basah akan hujan…

 

 

Doorrr!!

 

 

“…mengapa kau tinggalkan aku, Junmyeon?”

 

Kerjapan matamu tak bisa menjelaskan apa-apa. Kau menemukan dirimu masih berpakaian lengkap di detik berikutnya dan perempuan itu meringkuk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Kau berdiri di dekat meja komputer dan melihat sejumlah artikel yang tertempel di dinding dengan headline yang menyangkut pautkan dirimu di sana.

 


Seoul, 12 Agustus 2011

CEO PERUSAHAAN SHINHWA DITEMUKAN TEWAS

 

Seoul, 12 Agustus 2011

KIM JUNMYEON DITEMUKAN TEWAS DENGAN LUKA TEMBAK DI KEPALANYA

 

Seoul, 13 Agustus 2011

BELUM DITEMUKAN SIAPA PELAKU ATAS PENEMBAKAN KIM JUNMYEON

 

Seoul, 14 Agustus 2011

TIDAK MENGHADIRI PERESMIAN NOVEL KEKASIHNYA, KIM JUNMYEON DITEMUKAN TEWAS

 

 

Dua tahun…

 

Dua tahun yang lalu hal itu terjadi.

 

Selama dua tahun pun kau tetap datang ke apartemen kecil perempuan itu dan mengharapkan cintanya masih sama padamu. Kini kau melihat beberapa alasan tak masuk akal tanpa sadar kau terenyuh ke dalamnya. Dia tidak pernah lupa padamu, sama seperti ketika menulis buku berjudul You are You yang berisikan tentangmu, tentangnya, tentang kalian berdua—dia tak pernah lupa bagaimana caranya menulis.

 

Perempuan itu bukannya tidak peduli padamu…

Kau pergi meninggalkanya.

 

Perempuan itu bukannya acuh…

Kau tak bersamanya selama ini.

 

Perempuan itu bukannya tak menuliskan kisahmu…

Dia menulisnya, namun kau tak akan pernah bisa membacanya.

 

Jangan jatuh cinta pada penulis…

Mereka hanya bisa memberimu kata, bukan cinta.

 

Karena setelah kesedihan itu berakhir dan ide kembali menghampirinya, perempuan itu berjalan lunglai ke arah komputernya dan mulai mengetik tentang kisah setelah kepergianmu. Oh ya, itu adalah ide cerita yang menarik baginya.

 

Malam itu adalah malam terakhir dimana jiwamu merasakan cinta dan bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi, karena…buat apa?

 

Bagaimana jika dia hanya mencinta untuk menulis? Bagaimana jika kau hanyalah sepenggal objek menarik untuk projek barunya?

 

When He Left.

 

Perempuan itu mulai mengetik judul novel selanjutnya.

 

THE END

 

A/N:

Pengakuan!

Sebenernya ini adalah fic untuk lomba di salah satu blog. Deadline-nya sih waktu itu aku baca tanggal 30 September, lalu… begitu aku udah nulis ini dan aku ngecek lagi…AHAHAHAHAHA TERNYATA ITU 2011 LOMBANYA!!! ((AKU HARUS GIMANA SIH INI!!))

Okeh, karena terlalu malu untuk dipublish dengan kotak komentar, jadinya aku buat ini jadi writing prompts aja hahahaha

(lagipula kayaknya tulisan kayak gini gabisa menang juga kalo ikut lomba ahahaha)

Dan kenapa ini junmen…eumm…entahlah, aku juga gatau ._.v abis dia semacam cucok untuk cast ini pfftt

Fic I’m In Love With Betty And Whatever udah tinggal sedikit lagi selesai yang episode 2-nya

Aku usahakan selesai minggu ini, tapi kalo enggak selesai yaudah ya kapan-kapan aja hahahaha xD

((ENGGAK KOK, BECANDA!))

Penulis:

A Ridiculous Writer :)