Posted in EXO, Fanfiction, Fluff, Romance, Sad

[Writing Prompt] Fly Above the Mist

Fly Above the Mist

The ultimate responsibility of the pilot is to fulfill the dreams of the countless millions of earthbound ancestors who could only stare skyward and wish”

 

 ***

“Apa mimpimu?”

 

Itu adalah tanggal satu di tengah-tengah semester ganjil kelas 11. Aku kekasih Oh Sehun sejak kelas 10. Dia berambut cokelat dan manis dalam balutan seragam sekolah kami, jadi tidak ada alasan untuk katakan ‘tidak’ pada ajakan Oh Sehun waktu itu.

Permintaannya selalu kuturuti karena mereka terdengar memaksa dalam kondisi apapun dan aku akan melakukan apapun yang dia minta.

Jadi pacarku ya?

Asal tahu saja, rajukannya yang tak lebih dari permohonan anak lima tahun tentu memaksaku untuk anggukan kepala atasnya.

Ya.

Dan kini kami sedang berbaring di bawah pohon rindang di dekat sekolah. Pandangi langit biru yang memayungi dua makhluk ini. Tas kami entah pergi kemana dan yang ada hanyalah perasaan ingin bersantai menikmati waktu luang kami sebelum pulang dan bertemu segudang PR.

“Mimpiku?”

Aku pun berpikir sejenak, menyanggah kepalaku dengan tangan serta siku yang tertanam di rumput. “Eumm…entahlah. Aku suka menulis, aku bisa jadi penulis. Aku suka menggambar, aku bisa punya galeri sendiri. Aku biasa menjadi MC, mungkin aku bisa menyingkirkan Kang Hodong dari star king.” Aku terkekeh membayangkannya.

Sehun ikut tertawa, namun aku tahu dia sedang tidak bercanda, maka ku sandarkan kepala ke bahunya, bermain-main dengan kancing kemejanya.

“Kalau mimpimu?”

Sehun tidak langsung menjawabnya. Dia mengangkat tanganku ke udara, sentuhannya yang lembut meliuk-liukan gerakan disana dan aku tidak paham.

“Ya! Apa maksudmu?” Kupukul dadanya perlahan dan Oh Sehun menyerah. Dia istirahatkan tanganku di perutnya yang naik turun setiap kali bernapas.

“Pilot.”

“Pilot?” tanyaku sedikit kaget, karena aku tidak pernah menyangka bahwa mimpinya menjadi pilot bukanlah candaan semata. Oh Sehun benar-benar ingin menjadi pengendara kendaraan yang mirip burung itu.

“Oh…aku…”

“Keren bukan? Aku bisa pergi kemana saja aku mau. Terbang diatas awan adalah salah satu hal yang ingin kulakukan sejak kecil,” ucapnya riang. Rasa gembira menguar bagaikan botol parfum yang terbuka.

“Kau…terbang? Sehun, itu mengerikan!” protesku tampak sia-sia. Sehun tersenyum nakal padaku dan wajahnya yang cukup dekat membuat napas kami bertautan satu sama lain.

“Mengerikan?”

“Ya…mengerikan,” bisikku.

“Apanya yang mengerikan?”

“Semuanya!” tiba-tiba aku panik. Kujauhkan diri darinya dan menatapnya bingung. Pikiranku seperti berkabut. “Kau…kau tidak menginjak daratan dan, dan ketinggian dan segala ruang hampa. Kau tidak tahu apa yang ada diatas sana, Sehun.”

“Hei, hei, memang ada apa diatas sana? Hanya ada awan, manis. Tidak ada gunung, well, di ketinggian tertentu memang ada, namun itu sama sekali bukan masalah—”

“Bukan masalah??? Tentu saja masalah. Kau berada beribu-ribu kaki diatas permukaan laut, Oh Sehun–”

“Lalu? Aku tidak takut pada ketinggian. Ingat kita pernah pergi ke pulau Jeju? Aku bermain bungee jumping dan itu seru. Itu seru.” Dia memandangku aneh.

Senyumannya aneh, semuanya aneh.

Oh Sehun terlalu bersemangat untuk ini. Lebih daripada saat bermain roller coaster. Lebih daripada ulang tahunku dan…ini menyebalkan.

“Terserah apa katamu.” kataku pahit, membalikkan badan agar Sehun hanya menatap punggungku.

Tiba-tiba kurasakan bulu kudukku meremang di bawah sentuhan napasnya. Dia dekat sekali—membuatku ingin berbalik dan memeluknya.

“Apa salahnya jadi pilot?”

Aku menggeleng, mencabut segenggam rumput di tangan.

“Lalu kenapa kau bersikap seperti itu?” Sehun melingkarkan tangannya di pinggangku seperti mereka memang tercipta untuk tujuan itu.

“Bukan apa-apa. Lupakan saja. Anggap aku tidak mengatakan apa-apa.” tandasku tak peduli.

Kurasakan lengkungan bibirnya di kulitku. “Bagaimana bisa seperti itu, hm? Kau tahu aku tidak mudah melupakan sesuatu.”

Ya, Oh Sehun punya ingatan layaknya gajah dan dari wajahnya yang imut, aku tahu otaknya pintar mengerjakan soal fisika,.matematika, semua yang menunjang…masa depannya.

“Apa…kau takut naik pesawat?”

Akhirnya pertanyaan itu timbul juga dan mempermudah jalanku mengatakan ini pada Sehun. “Ya, ya, aku takut ketinggian, pesawat dan segala sesuatu yang membuatku tidak menapakkan kaki di tanah. Puas?”

Sehun tertawa mengolokku, namun aku berakhir dalam pelukannya yang penuh kehangatan.

“Aku akan jadi pilot handal dan membawamu tanpa ada rasa takut. Kau tidak perlu takut.”

Aku diam. Mulutku tersegel dan ciuman sebelum pulang terasa seperti musim panas.

Ya, Oh Sehun selalu terasa bagai musim panas yang menyenangkan setiap hati dan ya, dia menerbangkan hatiku ke lapisan awan yang katanya: tak akan ada apa-apa disana.

“Aku akan maneuver.”

“Jangan coba-coba melakukannya, Oh Sehun! Atau aku akan membunuhmu.”

 

***

Kau tahu, langit itu indah jika kau memandangnya dari bawah. Warnanya biru, menenangkan apalagi jika kau baru saja mengerjakan tiga puluh soal matematika untuk ujian dan yang semua orang inginkan adalah terbang melintasi langit itu, juga menyentuh awan-awan kecil di atas sana.

Aku tidak mengingankannya.

Tempat itu terlalu tinggi, terlalu jauh dan aku takut. Aku hanya akan menutup mataku.

Namun Oh Sehun menyukainya—menginginkannya.

Dia mau menjadi Peterpan berseragam pilot dan terbang membawa penumpang ke negeri Neverland yang katanya penuh kebahagiaan. Oh Sehun mau menjadi seseorang yang mengantarkan semua orang ke tujuan mereka.

“Di antara begitu banyak pekerjaan, mengapa kau memilih pekerjaan itu?” tanyaku keesokan harinya, berharap dia berubah pikiran.

“Memang kenapa? Itu pekerjaan mulia, kau tahu.” Sehun mencium pipiku dan mengeratkan pelukannya di tubuh ini.

“Aku mengantarkan orang-orang ke tujuan yang ingin mereka capai. Itu bisa memakan waktu yang sangat lama, berjam-jam lamanya perjalanan dan aku tidak tidur sementara mereka hanya duduk di sana dengan tenang.”

Aku menangkup wajahnya, memperlihatkan betapa seriusnya diriku. “Lihat, kau menderita jika menjadi pilot. Kau kurang tidur dan akan punya kantung mata seperi Taozi.”

Yeah, Taozi teman kami si mata panda itu.

“Kau mau seperti dia?”

Sehun tergelak, sekali lagi mengecup dahiku dan bergumam di permukaan kulitku.

“Asalkan orang-orang bahagia dan selamat sampai tujuan, aku akan melakukan segalanya.”

Aku tidak mengerti. Sehun mengorbankan segalanya untuk cita-citanya ini. Dia belajar, bercengkrama dengan buku-buku tebal setiap hari demi lulus ujian masuk sekolah pilot, dia menyingkirkan semuanya demi ini. Ini yang kubenci.

“Kenapa kau tidak jadi tukang koran saja atau—atau supir bus? Atau memasak di restoran? Pekerjaan itu juga menolong orang, membuat orang bahagia!” kataku bersikeras.

Ya, mungkin dia bisa jadi tukang pengantar susu atau CEO di perusahaan. Semua pekerjaan yang membuatnya berjalan di darat, bukan melayang di udara, yang seketika bisa saja menjatuhkannya ke bawah.

“Pilot.”

Aku menyerah. “Kenapa kau tidak sekalian saja jadi malaikat? Kau terlalu baik,” bisikku menenggelamkan kepalaku di pelukannya.

Sehun tertawa, getarannya sampai ke hatiku hingga kucengkram kemejanya. “Kau benar-benar menyukaiku ya?”

 

Aku menggelengkan kepala sembari tertawa kecil.

 

Tidak, aku tidak menyukaimu.

 

Aku mencintaimu.

***

 

Mungkin aku egois.

 

Ya, mari kita sebut saja bahwa aku disinilah satu-satunya pemeran antagonis yang meminta semuanya berjalan seperti yang kuinginkan. Bukan tanpa alasan mengapa tiba-tiba aku ingin menjadi Cruella Devile di film Dalmation 101.

Aku memang tak menginginkan anjing dalmation. Tidak. Bukan itu.

Aku hanya ingin Oh Sehun berhenti meraih mimpinya yang tinggi itu, setinggi matahari di langit dan gedung pencakar yang menjulang ke atas sana, ketika pagi itu aku melihat berita di televisi. Aku ingin Oh Sehun berhenti.

 

Dilaporkan bahwa pesawat boeing 777 jatuh di sekitar Celebes. 100 penumpang selamat, namun sangat disayangkan Pilot dan Co-Pilot tak dapat diselamatkan…

 

Ini kah yang Sehun sebut pekerjaan mulia?

Dengan mengorbankan nyawanya sendiri demi orang-orang yang ingin mencapai tujuan mereka–untuk merasa bahagia?

 

Pagi itu aku berlari, melupakan bahwa aku masih memakai piyama dan sandal rumah. Aku berlari ke dormnya walaupun itu berjarak 1,5 km. Semua orang menyangka aku gila karena aku berlari sambil menangis. Aku tidak peduli.

“Bagaimana denganku?”

Aku bertanya tanpa basa-basi, berdiri di ambang pintu hampir kehilangan nafasku. Tapi itu belum separah jika aku harus kehilangan Sehun.

“Apa maksudmu? Hei, bernafaslah. Kau—”

“Kau bilang pilot adalah pekerjaan mulia. Kau bilang kau akan melakukan apapun agar orang-orang bahagia,” kataku penuh emosi. “Tapi bagaimana denganku?”

“Sayang, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Bisakah kau masuk terlebih dulu dan—”

Sehun hendak menggenggam tanganku, namun aku menepisnya. Tiba-tiba air mata menyeruak keluar begitu saja, tak bisa dikendalikan.

“Kau lihat berita tadi pagi? Ada kecelakaan pesawat. Semua penumpangnya selamat, sementara pilot dan co-pilot-nya tewas. Itu ‘kan yang kau inginkan, semua penumpangmu selamat dan kau mengorbankan dirimu untuk mereka? Ya, Oh Sehun, mereka bahagia, misimu tercapai. Tapi bagaimana denganku? Bagaimana jika pilot tadi adalah dirimu dan aku adalah satu-satunya orang yang menangis atas kematianmu?”

Aku berhenti bicara, mengambil nafas sejenak sementara Sehun masih tidak tahu harus merespon apa.

“Bagaimana jika aku adalah istrimu. Setiap malam aku tidur sendirian, sedangkan kau terbang di langit yang gelap itu. Aku menunggumu pulang setiap hari, berusaha mengenyahkan rasa rindu yang menumpuk dan ketika tiba saatnya kau pulang…” Suaraku tercekat. “…bukanlah dirimu yang pulang, namun hanya nama dan seragammu.”

Kututup mataku, membiarkan air mata mengalir di pipiku.

“Aku akan menjadi janda diumurku yang terlalu muda. Jika kita punya anak, dia akan tumbuh tanpa seorang ayah dan aku—”

“Ssttt…”

Sehun pada akhirnya mengerti dan dia menghentikan mimpi burukku yang terlampau menyeramkan untuk dibayangkan. Laki-laki itu memelukku erat, mengusir rasa takut yang bersarang di kepala ini. Apa aku terlalu naif? Apa aku berlebihan?

“Itu tidak akan terjadi.”

Sehun merapalkan kalimat itu sembari dia merengkuh tubuh ini di tempat tidur. Aku meletakkan kepalaku di lengannya, menangis karena Sehun memang membiarkan air mata itu jatuh ke kaus putihnya, membiarkan air mata membawa kecemasanku jauh-jauh disetiap tetesnya.

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku janji.”

Dia berjanji dengan menautkan jemarinya pada jemariku.

“Aku bersumpah aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda, aku bersumpah anak kita tumbuh bersama ibu dan ayahnya. Aku bersumpah.”

 

Ya, dia bersumpah.

 

Oh Sehun bersumpah.

 

Tapi hati kecilku berbisik,

 

Kau bukan Tuhan, kau tidak tahu apa yang ada di depanmu, menunggumu. Entah maut, entah hidup yang bahagia.

 

Aku menangis lagi.

 

Aku tidak rela Sehun harus pergi dengan cara seperti itu. Haruskah aku berlutut, memohon padanya untuk melepaskan mimpinya?

“Jangan cemas. Aku mencintaimu.”

Atau…

Mungkin…haruskah aku percaya padanya, menyerahkan semua kecemasanku ke dalam tangannya?

 

Entahlah.

***

 

Oh Sehun.

 

Pria ini mencintaiku kurang lebih tujuh tahun lamanya, namun dia mencintai mimpinya menjadi pilot seumur hidupnya. Dia bercerita ingin terbang ke lapisan teratas langit dan membawa orang-orang sampai ke tujuan mereka—kebahagiaan mereka.

Maka itulah yang dia dapatkan.

Kami hanya bertemu dua kali dalam sebulan. Setiap pagi di awal bulan, aku akan merapikan kerutan di kemeja putihnya, topinya, dan memeluk sosok itu, membiarkan aroma parfumnya tinggal untuk sementara karena aku akan kehilangan hal itu dua minggu lamanya.

“Kapten Oh pergi dulu.”

Aku menganggukkan kepala sembari tertawa dan menyelipkan kata ‘hati-hati‘.

Lalu setelah dia pergi, aku akan menonton televisi dengan perasaan cemas melingkupi. Mengigit kuku tiada henti, seperti besok adalah kiamat. Dan ketika tidak ada berita tentang kecelakaan pesawat—itu sangat melegakan.

Lebih melegakan ketika ponselku berdering dan suara Oh Sehun melantun di seberang sana beberapa jam setelah kepergiannya.

Aku sudah sampai.”

Sebuah senyuman menghiasi wajahku dan aku berterima kasih pada Tuhan.

Apa itu suara Jihyun menangis?” tanyanya cemas.

“Ya, dia sudah bangun dari tidurnya, kurasa,” jawabku.

Oh, baiklah. Aku akan meneleponmu nanti. Sampaikan pada Jihyun, aku menyayanginya.

“Ya.”

Dan aku mencintaimu.

 

Kau tahu, inilah yang membuatku bertahan.

 

“Aku juga mencintaimu.”

 

Karena jika Sehun mencintaiku, dia akan pulang ke rumah ini dua minggu kemudian. Bertemu denganku, juga Jihyun anak kami yang berumur enam bulan. Dia akan berkata bahwa betapa rindunya dia pada keluarga kecil ini dan…

 

Ya, Sehun akan pulang.

THE END

 

 

A/N:

Pilot!Au lol xD

So, long long ago I have a crushed on my friend who become a pilot and one day, I tell myself to stop like him, because…yeah…I consider so many things LOL!!

HAHAHAHAHAWHYITELLYOUTHIS?

ANDWHYOHSEHUN????!!!!!

AND I HAVE SO MANY PROJECTS AND I WRITE THIS!!! JAHSAJIAUCNDJNCIDS GO FVCK MYSELF!! T_T

SEE YA!

Penulis:

A Ridiculous Writer :)