Posted in EXO, Fluff, Romance, Writing Prompts

[Writing Prompts] I Don’t Love You

I Don’t Love You

“Falling in love is not a spur of the moment thing. There wasn’t love at first sight as I always believed there to be.” — Eveli Acosta, Love Rubi

 

 

 

 

Aku tidak mencintaimu.

Aku tidak punya perasaan padamu sama sekali ketika sebuah nomor asing muncul di layar ponselku dan selanjutnya yang kudapati adalah satu pesan berkata ‘hai’ beserta emoticon senyum di akhir kata itu. Aku tidak tahu siapa dirimu, darimana kau mendapatkan nomorku, semuanya terasa aneh di awal.

‘Nama Kim Minseok’.

Oh baiklah, namamu Minseok. Kita satu kampus, kau kuliah jurusan hukum, dua tahun di atasku dan kau suka sekali berolah raga bola juga jogging. Makanan favoritmu adalah oreo stroberi dan bubble tea rasa taro.

‘Aku tidak tahu darimana aku mendapatkan nomormu. Ini aneh tapi mungkin kita berjodoh’

Aku tidak tahu harus merespon apa, aku juga tidak bertanya lebih lanjut siapa yang memberi nomorku padamu, dan kubiarkan pesanmu menggantung seperti itu. Entah apa yang harus kulakukan, kuakui mengobrol denganmu itu menyenangkan, tapi aku tidak jatuh cinta padamu. Meskipun kita melakukannya dua minggu penuh dan bertemu untuk yang pertama kalinya di café Perancis.

 

Aku tidak mencintaimu.

Perasaan itu belum juga datang walaupun sosokmu berdiri di depanku—memakai kemeja kotak-kotak itu, wajah chubby dan rambut yang mengkilap terawat. Kau tampan, kau lebih tampan dari foto yang sering kulihat terpampang di ponselku. Kesimpulannya, kau tampan dan menarik di mata para gadis.

Harusnya aku jatuh hati padamu ketika kau tersenyum karena senyumanmu indah, harusnya aku jatuh cinta padamu karena dengan baik hatinya kau menarik bangkuku dan mempersilahkan diriku duduk, harusnya hatiku tergerak saat kau memberikan rekomendasi makanan terenak di restoran itu, lalu kau membayar semua bill-nya.

Tapi aku tidak.

Tidak saat kau membukakan pintu restoran untukku, tidak saat saat kau mengantarku pulang sampai di rumah padahal aku tahu rumah kita berlawanan arah dan itu berarti kau akan menempuh jarak yang teramat jauh. Tidak saat kau mengetik pesan tak lama kemudian setelah aku menginjak karpet rumahku: ‘Terima kasih, hari ini menyenangkan. Aku senang bisa makan bersamamu dan kau sangat cantik’.

 

Aku tidak mencintaimu.

Aku bingung ketika kau datang menjemputku pada tanggal 20 Mei, dingin mencekam di malam hari. Kau membawaku ke tengah-tengah taman kota yang punya gazebo penuh lampu berkelap-kelip. Disana lah pernyataan cinta dengan gamblang kau nyatakan.

“Aku…menyukaimu,” itu katamu seraya tangan ini kau genggam. “Tidak, aku rasa aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu.”

Cahaya lampu gazebo menari-nari di kulit kita seakan mengerti bagaimana suasana hatimu detik itu, namun mereka tak bisa merepresentatifkan perasaanku, karena aku tidak mencintaimu. Aku tidak punya sedikit rasa itu, tapi aku mengatakan, “aku juga.” Entah mengapa, entah ada apa. Aku tak mengerti.

Tak satu pun mengerti.

 

Aku tidak mencintaimu.

Hari-hari bersamamu terasa seperti angin lalu, anehnya mereka tetap sejuk dirasa dan aku menemukan dirimu yang terkadang terlalu mencintaiku, sementara aku masih tidak mencintaimu. Kau berdiri di skala 2590 atas rasa cintamu, sedangkan aku masih berada di titik nol—bukan minus. Kau mengutarakannya, menyiramiku dengan rasa itu, sementara aku hanya bisa diam bermandikan rasa kasih sayangmu. Tak pernah membalas.

Aku diam saat kau memotong daging steak-ku di depan teman-teman kita. Kau memotongnya menjadi bagian-bagian kecil agar tak sulit kumakan. Bukan untuk pamer—show off. Aku tahu perasaanmu padaku selalu tulus, setiap hal kecil yang kau lakukan selalu benar dan baik di mataku.

Aku diam saat kita pergi ke tepi sungai Han. Semua pasangan menggenggam tangan kekasih mereka untuk menghindari cuaca dingin, namun aku membiarkanmu menggenggam udara hampa, sementara aku memasukkan tanganku ke kantung mantel—tak menyentuh tanganmu sedikit pun.

Aku diam saat kita berlibur bersama teman-teman kita yang lainnya. Bermain sepeda di bawah terik matahari dan kulihat semua pasangan memeluk kekasih mereka dari belakang, sedangkan aku hanya menggenggam ujung kausmu.

Dan aku hanya tersenyum dalam diam ketika berulang-ulang kali kau membisikkan kalimat ‘Aku mencintaimu’ ke telingaku. Sayangnya, mereka tak pernah sampai ke hatiku.

 

Aku tidak mencintaimu.

Ada kalanya aku berharap kau protes akan sikapku yang terlalu acuh. Aku harap kau marah padaku dan memutuskan apa yang kita jalani ini. Aku harap kau akan membenciku dan beralih pada gadis lain yang mungkin bisa membalas perasaanmu atau setidaknya mengangkat tangannya ketika kalian berfoto studio—membentuk hati di atas kepala—karena aku tidak melakukannya.

Tapi kau bukan Kim Minseok yang seperti itu.

“Tak mengapa jika kau mencintaiku dengan setengah hatimu,” katamu perlahan sebelum aku turun dari mobil. Aku menangkap sebuah nada sedih dalam suaramu.

“Tapi aku akan tetap mencintaimu dengan seluruh hatiku.”

Di kala mobilmu berderu menjauh dari rumahku, aku bertanya-tanya mengapa kau memperlakukanku sedemikian rupa. ‘Mencintaimu dengan setengah hatiku? Bagaimana bisa itu kulakukan? Jangankan setengah hati…aku bahkan tidak punya hati untukmu.’

Itulah yang kukatakan dalam hati.

 

Aku tidak mencintaimu.

Aku tidak mencintaimu dan aku juga tak mengerti mengapa di hari Sabtu yang cerah, aku menemukan diriku berdiri di depan cermin—berbalutkan gaun putih itu. Mungkinkah aku sudah mencintaimu, atau setidaknya punya satu persen rasa cinta di hatiku? Tapi hati ini tetap terasa datar, dingin ketika menuju altar dengan bunga di tangan dan dirimu yang tersenyum menyambut kedatanganku.

Aku juga tak punya pemahaman yang cukup ketika cincin yang melingkar di jariku dapat berarti banyak. Itu berarti kita saling mencintai dan akan hidup bersama dalam suka maupun duka. Itu berarti kita saling menopang satu sama lain. Itu berarti aku akan selamanya bersamamu.

“Aku mencintaimu,” kau bergumam di bibirku.

 

 

 

 

Aku tidak mencintaimu…

 

 

 

 

 

Aku tidak mencintaimu…

 

 

 

 

 

Entah datang darimana sebuah kalimat yang menyatakan bahwa jatuh cinta itu mudah. Mungkin kau bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, pada pertemuan pertama, pada sentuhan tangan untuk yang pertama kalinya, atau di ciuman kedua yang terjadi di kencan ketiga sepasang kekasih.

Mungkin juga jatuh cinta terjadi atas sebuah ketidaksengajaan, seperti Yixing, temanku—dia tak sengaja menumpahkan teh ke baju teman perempuannya yang bernama Apple dan dia mulai jatuh cinta sejak saat itu. Mungkin juga jatuh cinta terjadi atas kehendak seseorang, seperti Huang Zitao, tetanggaku—dia mengikuti sebuah kencan buta dan mendapatkan seseorang yang cantik. Mungkin saja, mungkin, jatuh cinta memang perlu direncanakan, seperti Kris yang tidak tahan dengan kesendiriannya dan memutuskan untuk mulai jatuh cinta pada Kinsey si adik kelas.

 

Tapi tak mudah bagiku—tak sekali pun mudah bagiku untuk merasakan hal yang sama padamu.

 

Dan di tahun ke-duabelas kebersamaan kita, aku menyadari sesuatu…

 

Mungkin saja jatuh cinta memerlukan waktu yang cukup lama dan menyadari ternyata rasa itu tumbuh diam-diam memang sedikit menyakitkan.

 

 

“Ibu, ibu, ibu!!!”

 

Aku mengangkat wajahku dari majalah atas panggilan itu dan menemukan anak perempuanku yang berumur tujuh tahun berlari mendekatiku. Rambut gelombangnya bergoyang sembari dia memacu langkahnya dari tengah-tengah taman, dress biru laut itu melambai dan aku ingat itu adalah baju favoritnya. Bomi terlihat begitu senang sampai-sampai dia melepaskan tanganmu dan meninggalkanmu di belakang.

Dengan napas terengah-engah dia menghampiriku, kulihat Bomi memegang sesuatu di tangannya dan mencoba menyembunyikan benda itu di belakang punggunya.

“Ibu, ibu, ibu!!” katanya bersemangat saat sampai.

“Ya, ya, ya?” aku tertawa sambil menyisir poninya yang basah akan keringat.

Bomi tersenyum secerah mentari di langit sana—senyuman favoritku. “Aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Tadi aku dan ayah berkeliling penginapan ini dan melihat ada taman yang sangaaaaaaaaat luas. Aku dan ayah bermain di sana, ada kelinci, ada kuda, ada tupai. Dan kami menemukan ini.”

Bomi pada akhirnya menunjukkan benda yang sedari tadi dia sembunyikan. Ternyata mereka adalah beberapa bunga krisan yang mungil dan setangkai bunga matahari. Bomi menyodorkan bunga krisan itu ke dalam genggamanku.

“Aku memetik bunga krisan untuk ibu—“ lalu selanjutnya dia memberikan bunga matahari itu padaku. “—dan ini dari ayah untuk ibu.”

Aku menerimanya dengan senang hati dan kurasakan sesuatu bergejolak dalam hatiku. Rasanya aneh, seperti ada yang meledak, namun tak cukup kuat untuk mengeluarkan air mata, juga tak cukup lucu untuk menimbulkan sebuah senyuman. Kala itu aku hanya bisa diam memperhatikan bunga-bunga di tanganku dan dirimu datang ke sampingku.

“Terima kasih untuk bunganya,” gumamku perlahan padamu.

 

Satu senyuman menghiasi wajahmu, satu yang kau turunkan pada Bomi, kau berikan padaku. Kemudian aku tahu apa yang harus kulakukan.

 

***

Ketika sore berlalu dan malam menjelang, aku menemukan dirimu  sedang berkutat di dapur. Suara tok tok tok pisau beradu dengan alas kayu, entah apa yang sedang kau potong namun suara itu mengalahkan suara langkahku seraya aku berjinjit diam-diam ke arahmu dan menyelipkan tanganku di pinggangmu, merebahkan kepalaku di punggungmu yang hangat.

“Hei,” sapamu sedikit kaget. “sebentar lagi makanannya—“

“Maaf.”

Kau berhenti memotong dan aku bisa membayangkan pisau itu melayang di udara sekitar empat sentimeter, ekspresi wajahmu tak bisa tertebak.

“Untuk?”

 

Untuk segalanya

 

Maaf karena aku tidak langsung membalas pesanmu dua belas tahun yang lalu, aku membiarkanmu menunggu dan juga tak merespon pesan terakhirmu.

Maaf karena aku adalah makhluk paling tidak romantis yang hanya bisa mengatakan ‘aku juga’ saat kau berkata ‘aku mencintaimu’. Seharusnya ada kalimat lain yang lebih baik, yang bisa kuberikan padamu.

Maaf karena aku tidak menggengam tanganmu saat kita berjalan di tepi Sungai Han.

Maaf karena aku tidak memelukmu ketika kita bermain sepeda waktu itu.

Maaf atas ketidak-adilan yang menimpa hidupmu—beribu-ribu kali kau mengatakan ‘aku mencintaimu’, tapi aku tidak pernah membalasmu.

Maaf atas kesenjangan perasaan dimana kau menaruh seluruh hati padaku, sementara aku hampir tak punya apa-apa untuk kuberikan padamu.

Maaf karena butuh dua belas tahun untuk menyadari bahwa…

 

“Aku mencintaimu.”

 

Aku berbisik di belakang punggungmu. Mungkinkah kau mendengarnya? Satu kalimat sederhana yang selama ini kau ucapkan. Aku tidak berani mengatakannya keras-keras, bukan karena aku ragu. Tapi aku takut, aku takut mencintaimu akan memperparah semuanya dan perasaan ini ternyata mengerikan. Jatuh cinta ternyata menakutkan dan aku hanya bisa memejamkan mata, merasakan jantungku bergemuruh dalam kecepatan yang tak wajar.

Kau pun bernapas perlahan, meletakkan pisau di meja dan menyentuh tanganku yang melingkar di pinggangmu. Menyentuhnya karena kau mencintaiku, menggenggamnya karena kau takut bahwa wanita bodoh ini akan berlari ke pria lain. Itu yang sering kau katakan padaku.

 

“Aku juga mencintaimu.”

 

Dan aku mencintaimu bukan karena kau memberikanku bunga matahari itu untukku.

 

Namun, karena inilah saatnya aku jatuh cinta padamu. Meskipun memakan waktu yang sangat lama, tapi kau tetap menunggu hingga pada akhirnya aku datang bersama cinta di matamu.

 

 

***

Minseok…

 

 

 

 

 

Aku mencintaimu.

 

 

 

 

Aku tentu punya perasaan padamu ketika kau datang dari dapur membawa semangkuk sup jagung beserta ayam panggang ke meja makan. Kau memotong ayam itu menjadi potongan-potongan kecil agar Bomi tak kesulitan memakannya. Kau melucu soal kelinci yang tadi siang kau lihat, kau tak henti-hentinya tersenyum.

 

Aku mencintaimu.

 

Aku tentu mencintaimu saat malam menjelang—pukul sepuluh. Bomi sudah tidur di kamarnya dan kita duduk di depan teve, menikmati film Iron Man. Kau memelukku erat dalam balutan selimut dan ketika kedua matamu tertutup rapat, kukecup sudut bibirmu sambil berbisik,

 

“Aku mencintaimu.”

 

Dan aku akan mengatakannya seumur hidupku.

 

 

THE END

A/N:

Yuhuuu, aku kembali datang dengan writing prompts. Aww, aku gak bermaksud bikin ini untuk Siyumin Oppa, aku cinta padamu, oppa ahahahaha xD

I should write abob for nowdays, but this idea comes up. What can I do😦

Aku harap kalian masih sabar menunggu, owkay? LOL. Dan besok aku post fic lama yang judulnya Knows Something. Okeh, okeh?

See yaaaa❤

Penulis:

A Ridiculous Writer :)