Posted in Brothership, EXO, Fanfiction, Fluff, Writing Prompts

[Writing Prompts] If My Heart Was A House

If My Heart Was A House

“Wherever you go, if my heart was a house you’d be home” -Owl City, If My Heart Was A House

 

 

You’re the sky that I fell through
And I remember the view whenever I’m holding you

 

Bagi Luhan, Sehun adalah langit yang dia pandangi setiap hari. Terlepas dari bagaimana rambut Sehun di cat warna pelangi dan warna biru nampak mendominasi. Seolah jatuh ke tumpukan awan yang lembut saat tangan Luhan terkubur di setiap helai rambut Sehun, merapikannya setelah berlatih menari dan tetesan keringat menghiasinya. Lalu Luhan melihat pemandangan yang indah—senyuman Sehun—selagi Sehun berkata, “Terima kasih, hyung.”

 

The sun hung from a string
Looking down on the world as it warmed over everything

 

Bagi Luhan, Sehun adalah matahari yang menggantung di langit biru. Terlepas dari senyuman Sehun yang menghangatkan hatinya atau suara ringan yang selalu dia dengarkan setiap pagi—menyapanya. Namun, Sehun selalu ada dimana pun matanya melihat. Sehun memang tidak selucu Baekhyun atau Chanyeol, namun bersamanya—minum bubble tea di toko, makan bersama, seolah Luhan merasakan matahari hanya bersinar untuknya.

 

Chills run down my spine as our fingers intwine
And your sighs harmonize with mine

 

Terasa seperti bertemu untuk yang pertama kali, Luhan menatap Sehun remaja tersenyum malu membungkuk padanya memberi salam dan kala itu Luhan tahu dia harus menjaganya. Sebuah kebiasaan masa trainee, Luhan akan memegang tangan Sehun dan berjalan-jalan di sekitar gedung SM, menikmati sore sambil mendengarkan helaan napas mereka bersatu di bawah langit kemerahan yang indah.

 

Unmistakably I can still feel your heart
Beat fast when you dance with me

 

Dan ketika mereka menari bersama mengikuti alunan musik, tanpa bersentuhan, tanpa perantara atau inikah sebuah keajaiban…Luhan dapat mendengarkan—merasakan—detak jantung Sehun. Setiap langkah, setiap detakan berirama dengan napasnya dan butiran keringat yang menetes. Menari bersama Sehun adalah satu momen bahagia bagi Luhan.

 

Namun ada kalanya…

 

“Kau tidak tahu apa-apa, Junmyeon!”

“Kau kira kau tahu apa yang kau lakukan, Kris?!”

Semua orang bisa mendengar bagaimana kedua leader itu saling berteriak di seberang ruangan. Ada suara Kyungsoo yang menambah kegaduhan, kata-katanya yang tajam ternyata tak mampu meredakan emosi mereka.

“Apa yang mereka ributkan?” tanya Jongin ketakutan. Mereka memang pernah bertengkar—tak sering, tak jarang, namun yang satu ini…perlukah bertengkar di saat mereka akan melakukan comeback?

Luhan memegang tangannya—menyuruh Jongin untuk diam di tempatnya dan tidak ikut campur. Namun dia tidak sempat memegang tangan Sehun saat laki-laki itu beranjak dari kursinya dan berlari keluar dorm. Sekelebat Luhan melihat air mata membasahi pipinya.

 

“Sehun!”

 

Sehun berlari.

 

Sehun berlari lagi dan lagi.

 

Dia benci pertengkaran, Luhan memahami itu.

Dia benci jika Junmyeon—sang ketua telah berteriak, lalu dibalas oleh Kris, lalu ada Kyungsoo yang berusaha melerai, lalu Chanyeol juga ikut membawa suasana tak nyaman itu.

 

Dia benci, dia benci, dan Luhan memahaminya.

 

Maka itu Luhan pergi keluar mencarinya, bukan cemas Sehun akan hilang atau tertabrak mobil. Sehun bukan anak kecil lagi, bukan remaja berumur belasan tahun yang pertama kali Luhan temui, namun dia tahu Sehun hanya perlu sebuah pelarian—tempat untuk menetap dimana dunianya terasa begitu membingungkan.

 

Circle me and the needle moves gracefully
Back and forth, if my heart was a compass you’d be North

 

Luhan seolah berada di sebuah tempat asing dan Sehun seakan memutarnya sepuluh kali untuk membingungkannya. Namun, tak tahu kah Sehun bahwa Luhan adalah kompas yang jika diputar dia akan selalu menemukan arah utara? Dan jika hal itu terjadi, Luhan akan tetap menemukan Sehun, karena Sehun adalah arah utara.

 

“Sehun?”

 

Luhan memanggilnya dan sosok bertubuh tinggi itu berhenti di tengah jalan sepi. Sehun berbalik, melihat Luhan bernapas berat di udara sore yang dingin. Mereka terdiam, tak ada yang bergerak sampai Luhan mulai melangkah mendekati Sehun dan bersyukur Sehun tidak berlari lagi. Dia hanya menunggu…menunggu Luhan datang.

 

Risk it all cause I’ll catch you if you fall

 

Langkah demi langkah Luhan ambil, tak pedulikan cuaca hari ini begitu dingin membekukan tangannya. Dia lupa memakai jaket karena seluruh perhatiannya hanya terpusat pada Sehun, karena Luhan tak mau Sehun sedih, karena Luhan tak mau Sehun menanggung bebannya sendirian. Jika Sehun jatuh bagai selembar daun kering di musim gugur, Luhan akan menangkapnya.

 

Wherever you go, if my heart was a house…

 

“Luhan hyung?”

 

Luhan menggapai tangannya, menariknya ke dalam pelukan yang hangat seperti mereka berdua adalah kakak beradik yang terlahir dari satu rahim.

 

“Pulanglah, Sehun. Pulanglah bersamaku,” bisik Luhan dan Sehun melakukannya.

 

 

Wherever you go, if my heart was a house you’d be home

 

 

 

Karena jika hati Luhan adalah sebuah rumah bagi Sehun, maka Sehun akan selalu pulang ke rumah. Dia akan selalu berada di sana apapun yang terjadi.

 

 

THE END

A/N:

Well, this is for my lovely cutie pie cousin, Echa, Writing prompts based on tumblr pic is so much fun. Try it once guys, lol!

Penulis:

A Ridiculous Writer :)