Posted in EXO, Fluff, Romance, Writing Prompts

[Writing Prompts] 67 Years Old and You

67 years old and you

67 Years Old and You

“There are things I need to tell you, but would you listen if I told you how quickly time passes?” –Meg Rosoff, What I Was

 

Saat aku berumur 1 tahun, aku belum terlalu mengenal diriku.

Aku baru mempunyai satu gigi susu yang tertanam di gusiku. Aku mengira bayangan diriku di cermin adalah orang yang berasal dari dunia lain karena bayangan itu selalu mengikuti gerak-gerikku. Kusentuh rambut di pucuk kepalaku, dan dia juga ikut menyentuhnya. Aku menggigit jariku, dia juga ikut menggigit jari. Hari itu aku memakai baju kuning dengan motif polkadot dan dia juga memakainya. Dan saat itu aku sadar bahwa bayangan itu bukanlah siapa-siapa, juga bukan kembaranku. Dia adalah aku.

 

 

Saat umurku 5 tahun, aku sudah mengenal siapa aku, tapi aku belum tahu apa itu sekolah.

Aku menyandang tas berwarna pink pemberian ibuku. Hari itu adalah hari pertama aku masuk sekolah dasar. Kata ‘sekolah’ seolah membayang-bayangiku dari semalam. Tempat apa itu, apa ada monster di dalamnya? Tapi ketika aku sampai di sana, aku melihat beberapa anak berpakaian layaknya diriku. Lalu, ternyata tempat bernama sekolah ini mengajarkanku membaca, menulis, dan mendapatkan seorang teman bernama Jongin. Jongin tak punya tas warna pink melainkan biru, tapi ya kami berteman dan saling berbagi bekal.

 

 

Saat umurku 12 tahun, aku mengenal betul apa itu ‘sekolah’ dan juga pergaulan macam apa di dalamnya.

“Apa kau mencium gadis itu?” tanyaku sedikit ngeri pada Jongin. Aku jelas-jelas melihat Jongin berbicara dengan seorang gadis berambut panjang dan di dekat loker, Jongin mencium bibirnya.

“Iya.”

“Menjijikkan, Jongin!”

“Itu yang dinamakan jatuh cinta, oke?” Dia nyengir sambil menepuk bahuku. “Dan itu adalah ciuman pertamaku.”

Perutku berputar tak enak membayangkan mengapa Jongin melakukannya. Tapi ada sesendok rasa penasaran jauh di lubuk hatiku, maka aku bertanya.

“Bagaimana rasanya?”

Jongin tertawa, “Stroberi.”

 

 

Saat umurku 17 tahun, aku mengetahui terlalu banyak hal dan aku bertemu denganmu.

Pertemuan kita tidak semanis yang ada di film-film drama itu. Jauh dari kata romantis, tapi aku tahu Tuhan membuat plot sedemikian rupa. Aku mengunjungi perpustakaan tua di ujung jalan dan berniat membaca novel Peterpan. Novel itu terletak di rak yang cukup tinggi, aku bukan gadis yang terlahir dengan tubuh tinggi semampai dan menyedihkan saat aku tak bisa menggapainya.

Lalu kau datang, dengan kemeja putih dan vest biru, menawarkan bantuan layaknya kue yang sedang kau tawarkan. Kala itu aku percaya bahwa kau akan mengambilkan buku itu dan mungkin kita bisa berkenalan, karena aku mendapati wajahmu tampan dan senyumanmu indah.

Tapi…kau tidak bisa meraih buku itu. Berapa kali pun kau mencobanya, buku itu jauh dari jangkauanmu. Kita tertawa, menemukan fakta bahwa kau hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dariku.

Aku pulang dengan tangan hampa, namun aku membawa satu nama di mulutku.

“Luhan.”

 

 

Saat umurku 18 tahun, aku belum terlalu mengenalmu, tapi aku tahu es krim kesukaanmu adalah cokelat.

Musim panas rasanya terasa sepi ketika Jongin pergi berlibur ke Hawai bersama keluarganya, tapi begitu kau meneleponku, lalu datang menjemputku dengan vespa berwarna hijau, aku tahu rasa sepi itu segera menghilang. Kemudian kau memilih berjalan-jalan di sekitar jalan kota, bercanda ria sembari mengelilingi taman dan membeli es krim cokelat.

Aku bercerita tentang Jongin padamu, kau bercerita tentang hobimu bermain bola. Aku bercerita tentang keluargaku, kau bercerita tentang mimpimu. Aku bercerita tentang bagaimana aku melihatmu saat pertama kali, kau pun berhenti bercerita atau lebih tepatnya kita berdua berhenti melangkah.

“Hei, ada sesuatu di bibirmu.”

“Oh ya?”

Lalu yang kuketahui detik itu adalah aku tidak tahu apa ‘sesuatu’ itu yang kau bicarakan dan sepasang bibirmu menempel di bibirku. Bergerak perlahan, terasa dingin bercampur hangat.

Dan aku tahu Jongin salah dalam hal ini. Ciuman pertama rasanya bukan stroberi, tapi cokelat.

 

 

Saat umurku 19 tahun, aku mengenalmu karena kau menyukaiku, tapi aku tidah tahu kalau kau mencintaiku.

Aku tahu kau menyukaiku karena kau menciumku, memelukku, menghapus air mataku saat menangis, membuatkanku segelas cappuccino kesukaanku. Aku tahu kau menyukaiku karena kau mengatakannya beribu-ribu kali dalam hidupku. Aku tahu kau menyukaiku karena kau memberiku bunga mawar di hari valentine dan mengenalkanku pada semua temanmu bahwa aku adalah kekasihmu.

Tapi aku tidak tahu kalau kau mencintaiku dan datang ke rumah di Sabtu sore dan memperkenalkan diri pada ayahku yang galak. Aku tidak tahu kalau kau mencintaiku dan berjanji pada ayah untuk selalu menjagaku. Aku tidak tahu kalau kau mencintaku dan selamanya akan begitu.

“Mengapa kau mencintaiku?”

“Entahlah, mungkin memang sudah seharusnya aku mencintaimu,” jawabmu sambil memegang tanganku.

Aku tidak tahu kalau kau mencintaiku dan kau juga tidak punya alasan di balik itu.

 

 

Saat umurku 21 tahun, aku tahu terkadang cinta terasa membosankan dan merelakanmu pergi memang sakit.

“Jaga baik-baik dirimu. Jangan menungguku, kau boleh berpacaran dengan yang lain. Aku tidak mengekangmu.” Itu kata-katamu sebelum pergi kuliah ke Amerika.

Bukan hal yang salah saat kita tidak percaya akan hubungan jarak jauh. Kita hanya ingin sesuatu yang nyata, bukan kalimat cinta yang terasa murahan diucapkan lewat pesan di ponsel. Maka, biarkan, hanya biarkan kita berjalan di jalan masing-masing. Aku berpacaran dengan juniorku yang bernama Sehun dan kudengar kau berpacaran dengan gadis bernama Tiffany di sana.

Biarlah…

Terkadang aku percaya bahwa cinta pertama bukanlah cinta abadi.

 

 

Saat umurku 25 tahun, aku mengakhiri apa yang harus diakhiri dan memulai apa yang harus dimulai ketika sosokmu terlihat di depan mataku.

Tepat di musim gugur aku dengar kau kembali ke daratan dimana aku berpijak. Tepat di musim gugur itu aku melihatmu berjalan di taman kota sendirian. Kita berbicara sebentar, sekitar 10 menit sebelum kau menggenggam tanganku dengan alasan, “udaranya dingin, ya.” Kau tiba-tiba merangkulku dengan alasan, “sekarang banyak orang jahat, kau harus berhati-hati.” Dan kau berhenti melangkah, memperhatikan wajahku dengan seksama. “Ada sesuatu di bibirmu.”

Aku tak perlu mendengarkan alasan apa kali ini kau berbicara seperti itu. Aku berjinjit, mengalungkan lenganku di lehermu dan menciummu. Rasanya bukan cokelat, rasanya mint bercampur kebahagiaan.

“Aku single dan kau single, bagaimana kalau kita pacaran lagi?”

Aku tertawa dan mengiyakan ajakanmu.

 

 

Saat aku berumur 26 tahun, aku telah mengenalmu selama 8 tahun dan aku akan semakin mengenalmu untuk berpuluh-puluh tahun ke depan.

“Luhan…”

Kau tahu aku tidak suka kejutan. Kau mengenalku sebagai gadis yang tak perlu bunga mawar, kata-kata romantis, atau cafe mewah karena bersamamu…apapun itu akan terasa romantis. Tapi hari itu kau melakukan semuanya. Kau menutup mataku, menggiringku ke sebuah tempat yang penuh lampu dan memberiku seikat bunga mawar dan kau berlutut di depanku.

“Menikahlah denganku.”

Bukan hanya romantis, bukan sekedar indah ketika ajakan itu seperti memaksaku untuk mengatakan ‘iya’. Cinta yang memaksaku berkata, cintaku yang membuatku anggukan kepala ini dan dunia terasa berputar seraya dirimu mengangkat diriku.

“AKU AKAN MENIKAH!!” teriakmu.

 

 

Saat umurku 27 tahun, aku memberi nama seorang bayi kecil yang mirip dirimu.

“Xiaowen, Xiaowen…ayah menyayangimu.”

Aku mendengarmu berbisik seraya menggendongnya. Aku tak bermaksud menangis tersedu-sedu karena pemandangan ini, kenyataan ini tak pernah satu kalipun melintas di kepalaku. Bagaimana kau memeluknya, mengatakan bahwa kau menyayanginya, bagaimana berkali-kali kau mengatakan kalau Xiaowen punya hidung yang mirip denganku dan bibir yang mirip denganmu. Aku bersumpah, aku tidak pernah memikirkannya. Mimpiku tak pernah seindah dan senyata ini.

 

 

Umurku bertambah…

 

 

Aku mulai menua…

 

 

Ada saja momen-momen spesial yang tertangkap mataku, tapi terkadang mereka lepas dari genggamanku dan seiring berjalannya waktu aku sering melupakan ini, aku melupakan itu. Waktu berjalan dengan cepat.

Namun, aku tak melupakanmu.

Kau yang selama ini bersamaku dari tahun ke tahun. Aku menemukan belahan jiwaku, aku berpikir apakah kau kembaranku sama seperti saat aku berumur 1 tahun, karena kau terlalu cocok untukku, terlalu pas layaknya celana trainingku yang lusuh.

 

Kini kita tua.

 

Rambut memutih, ada rasa ngilu di setiap persendian, gigi kita bukanlah satu yang asli, tapi mereka semua palsu. Kita memakai popok, kembali seperti bayi yang belajar berjalan.

 

 

Saat umurku 67 tahun, aku duduk di kursi goyang menemanimu menikmati mentari sore sambil menyeruput teh di tangan yang gemetaran.

Aku bertanya, “Luhan, apa kau sudah meminum obatmu?”

Kau menatapku bingung, “Sudah. Sudah dua kali malah.”

“Masa? Yang warnanya merah masih ada di dekat piringmu tadi.”

“Masa?” Kau menggaruk kepalamu yang berambut sedikit. “Rasanya sudah.”

Pikun menyerangmu, kau lupa minum obat. Kulihat kacamatamu miring dan kau memakai sweater dengan terbalik. Lalu dengan iseng aku bertanya padamu, “Luhan, mengapa kau mencintaiku?”

“Um…” Matamu bergerak menelusuri wajahku yang tirus dan penuh keriput. “Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin memang sudah seharusnya aku mencintaimu.”

 

 

Saat aku berumur 67 tahun, aku mencintaimu dan kau tetap mencintaiku tanpa punya alasan mengapa.
 

 

The End

A/N:

So, I challeng myself to make a writingprompts based on tumblr pics in less than 60 minutes and yeay! I did it🙂 There’s no reason why I suddenly want to write this, but it’s kindda cute wondering how Luhan gets old lol!

There’s no comment box because…this is writingprompts that I usually find in tumblr so…tumblr doesn’t have it right? But if you want to talk about this, let’s meet on twitter🙂

Have a nice day🙂 See ya!

Penulis:

A Ridiculous Writer :)