Posted in EXO, Family, Fanfiction, Friendship, Romance

From Paradise Lost

Baekstal

Title   : From Paradise Lost

Casts : Baekhyun EXO-K, Krystal f(x)

Other cast : Go on find by yourself😀

Genre : FRIENDSHIP UNTIL THE END, angst, sad, slight!Romance

Rating : Pg-13

Duration : 6000+w

Summary : Baekhyun dan Soo Jung adalah sahabat yang mencoba menemukan apa itu arti kehidupan dan bagaimana mereka melarikan diri dari apa yang dinamakan kenyataan.

Warning!

Character dead

A/N:

Helooooowww, entah apa yang membuat author menulis ini, mungkin efek liburan bareng ca’abat penyebab utamanya? Hehe😄

I write 2000 words in my long way to go home from vacation, in the loudest and crowded train.

And finished it at home😀

Ini Krystal dan Baekhyun, as you know, I didn’t ship them, but I love them😄

Happy Reading😀

 

***

Mereka bertemu pertama kalinya di taman bermain dekat sungai.

 

Seorang gadis kecil berjalan dengan permen lolipop warna ungu. Rambut panjangnya melambai tertiup angin sementara burung-burung kecil di sekitarnya beterbangan kesana kemari menghindarinya.

Taman penuh. Banyak balon berwarna-warni dan anak seumurannya. Semburat merah dan jingga mewarnai langit sore itu, tiba-tiba permen di tangannya tak terlalu berharga seperti yang tadi dia rasakan.

Seorang penjual layangan berdiri disana. Gadis kecil berumur 6 tahun itu tak peduli dengan warna hijaunya, merahnya, atau biru. Dia hanya terpaku pada layangan berbentuk kupu-kupu, warna ungu mudanya dikombinasikan dengan warna putih yang cantik.

Soo Jung menginginkannya.

Soo Jung ingin menarik talinya dan berlari mengelilingi taman bersama layangan kupu-kupu itu. Dia tak punya banyak uang yang berada di kantungnya. Dia hanya punya setengah dari harga yang ditawarkan sang penjual.

Soo Jung sedih. Dia tak menangis walaupun perasaan sakit berada di hatinya yang masih polos. Belum pernah dia menginginkan sesuatu seperti ini. Tidak seperti saat dia berdoa, meminta sepeda untuk ulang tahun ke enamnya.

Tidak.

Dia menginginkan layangan lebih dari apapun di dunia ini dan sejauh hasratnya menggebu, dia tak bisa melakukan apa-apa selain memandangi anak-anak lain mulai mengerumuni penjual itu, meminta pada orang tuanya agar dibelikan layangan.

Jadi, Soo Jung si gadis kecil hanya duduk di bawah pohon, berharap sambil menyilangkan jarinya agar tidak ada yang membeli layangan kupu-kupu itu.

Ketakutannya pun terjadi.

Tanpa bisa dihindari, seorang gadis kecil yang seumuran dengannya mendatangi sang penjual, menunjuk layangan kupu-kupu itu. Lalu Soo Jung berlari kesana dan menarik layangan itu ragu, “Ini milikku.”

“Tapi aku mau membelinya.”

“Aku yang melihatnya duluan,” Soo Jung hendak menangis. Si gadis kecil itu menarik sedikit keras dan layangan itu terlepas dari tangan Soo Jung,

“Tapi aku punya uang untuk membelinya. Memang kau punya uang?” Uang. Haha, lucu sekali anak sekecilnya mengerti betapa penting uang itu dan menyerang orang lain.

Ya, Soo Jung tak punya uang yang cukup maka dia mundur dan membiarkan anak itu.

Mengalah sebenarnya tidak ada di kamus kehidupan Soo Jung, tapi dia tak punya daya apapun, ditambah sang penjual juga memberikan senyuman pasrah padanya. “Pilih saja yang lain, ya.”

Akhirnya, dia memutuskan untuk beralih ke yang lainnya. Mungkin dia bisa membeli layangan polos warna merah muda bentuk kotak biasa. Tak spesial, namun yang penting dia bermain layangan.

Awalnya dia senang. Layangan itu melayang rendah saat dia berlari cukup cepat, namun layangan itu lebih indah jika berada di tempat yang tinggi.

Mengamati setiap layangan yang jauh diatas kepala, Soo Jung pun juga menginginkannya.

Dia berlari lagi, secepat yang dia bisa, namun layangan itu tetap tidak mengudara dan jatuh ke tanah tepat di depan seorang anak laki-laki yang kurus.

Dia punya rambut seperti jamur, bercahaya di bawah sinar matahari sore. Kulitnya sedikit pucat dan dia lebih besar beberapa tahun dari Soo Jung sepertinya.

“Mau melayangkannya sampai tinggi?” tanya anak itu menunjuk langit diatas mereka. Soo Jung mengangguk.

“Kau harus berlari cepat dan ada orang yang menerbangkannya di belakang,” ujar anak itu memberi saran.

Orang yang menerbangkannya?

Soo Jung mengerti untuk menerbangkan layangan itu dibutuhkan dua orang. Dia menoleh kekanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun; orang yang siap menerbangkan layangan itu selagi dirinya berlari. Dan disana hanya ada anak laki-laki itu, berwajah tirus dan mata kecil layaknya mata kelinci.

Soo Jung tak enak hati meminta bantuannya, namun sebelum hati bahkan mampu berbisik, anak itu membuka mulutnya dan berbicara. “Kau mau kubantu menerbangkannya?”

Tanpa berpikir dua kali, Soo Jung mengangguk cepat dan anak itu tersenyum tipis sambil mengambil layangan itu dari tanah, “Pada hitungan ketiga, lari perlahan-lahan. Aku akan mengikutimu dari belakang, oke?”

Soo Jung mengangguk lagi sebelum berlari seperti yang disuruh anak itu.

Benar saja tak lama kemudian layangan itu terbang beberapa meter dari permukaan tanah. Warna merahnya senada dengan langit yang menjadi latar belakang. Soo Jung berjingkrak gembira,

“Layangannya terbang!! layangannya terbang!! Lihat, lihat!!” Tanpa sadar dia menarik-narik lengan anak itu. Kulit mereka bertemu dan Soo Jung merasakan kegembiraan yang juga tersirat di wajah anak laki-laki itu.

Angin bertiup cukup kencang beberapa detik dan hal yang terjadi, dan sering terjadi saat kau bermain layangan…angin meniup nakal layangan itu ke pohon yang sangat tinggi di dekat sungai.

Tak ada kata-kata yang terucap dari dua anak itu. Mereka hanya memperhatikan bagaimana sang layangan tersangkut dan mereka tahu tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengambilnya kembali.

Sang laki-laki pun melirik sedih ke arah Soo Jung dan menyentuh pundaknya, “Maaf. Aku tidak mengira angin akan membawanya kesana dan tersangkut di pohon. Maaf…”

Untuk pertama kalinya juga Soo Jung merasa tidak ada yang perlu disesali; disayangkan. Biarkan saja layangan itu tersangkut selamanya dan hujan menghancurkannya, karena…

Soo Jung mendapatkan yang lebih baik kini.

Saat Byun Baekhyun mengulurkan tangannya yang sekurus ranting dan menggumam dengan senyuman mengembang.

“Namaku, Byun Baekhyun,” Soo Jung tahu dia mendapatkan teman baru yang menyenangkan.

 

Byun Baekhyun.

 

Teman baru Soo Jung.

 

***

Tidak lagi baru ketika umur mereka bertambah satu tiap tahunnya.

 

Rambut Soo Jung memanjang dan Baekhyun bilang dia harus memotongnya suatu hari nanti. Baekhyun punya rambut yang berbentuk bagai jamur dan menurut Soo Jung, dia lucu seperti tokoh kartun.

Tidak lagi baru ketika mereka menetapkan tanggal satu jadi hari persahabatan mereka dan Soo Jung akan melumuri wajah Baekhyun dengan kue red velvet yang mahal.

“Ini kue mahal, Soo Jung!! Kau tidak tahu aku mengirit uang jajanku hanya untuk membeli kue ini!” pekik Baekhyun histeris. Wajah berlumuran kue manis itu.

Soo Jung menjulurkan lidahnya. “Lalu apa peduliku? Kau tetap bisa memakannya, aku pun juga bisa,” lalu Soo Jung menjilat krim di pipi Baekhyun dan laki-laki itu menjauhkan diri. “Ya!! Soo Jung-ah!” protesnya dan Soo Jung tertawa hingga sulit baginya bernapas.

Soo Jung berumur 14 tahun dan Baekhyun 16 tahun. Tingkah kekanak-kanakan mereka terkadang melewati batas dan tanpa sadar membuat kekacauan di sekeliling mereka.

Mereka menghancurkan dapur rumah Soo Jung (hanya dengan rencana membuat cupcake). Mereka mencuci baju dan menumpahkan semua deterjen ke dalam mesin cuci, alhasil semua busa meluap dan ibu Baekhyun ‘bernyanyi’ siang malam.

Asyik adalah kosakata yang kini mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak lagi baru setelah aroma Baekhyun terasa seperti rumah bagi Soo Jung. Antara pelembut pakaian, deterjen wangi lemon, dan cologne yang dikenakan bertekstur lembut, lebih lembut dari parfum milik teman laki-laki yang ada di sekolah.

Baekhyun mengingatkannya pada dapur ibunya dan semangkuk pie daging. Baekhyun membuatnya ingin pulang ke rumah dimana pun Soo Jung berada.

Tidak lagi baru…

Karena Soo Jung bersumpah tidak akan memanggilnya oppa walaupun jarak diantara mereka cukup jauh. 2 tahun. Tetap saja Soo Jung bersikukuh.

“Aku tidak akan memanggilmu oppa,”

“Kenapa?” Soo Jung mengedikkan bahunya.

“Entah. Wajahmu tidak pantas dipanggil begitu. Kita tampak seumuran,” Soo Jung meminum limunnya. “Lagipula aku tidak mau terlihat seperti drama sedih yang waktu itu kau tonton. Apa judulnya?”

“Endless Love,” desah Baekhyun karena Soo Jung selalu lupa film itu.

“Ah, ya apapun itu. Drama sedih, tapi aku bahkan tidak menangis, Baek,” gelaknya dengan santai menaikkan kedua kaki ke atas meja.

Baekhyun memutar kedua bola matanya dan melanjutkan menonton drama kesukaannya.

Semuanya terasa familiar sekarang.

Baekhyun terasa seperti rumah dan Soo Jung terasa seperti teman yang selamanya menempel di sofa sepanjang hari, menemani Baekhyun menonton drama.

 

***

“Aku jatuh cinta,”

“Pada siapa?”

“…”

“Pada siapa?”

 

Soo Jung berumur 17 tahun dan terkadang Baekhyun beserta aromanya tak cukup menjadi sahabat berbagi cerita bagi Soo Jung.

Dia menyelipkan rokok diantara bibirnya sejak setahun yang lalu ayahnya meninggal dunia dalam kecelakaan maut. Soo Jung sangat terpukul, namun Baekhyun bukan ‘sesuatu’ yang tepat untuk menyembuhkan rasa sakit ini.

Baekhyun membiarkannya, karena Soo Jung selalu suka kebebasan dan inilah saatnya untuk membentuk karakter diri. Soo Jung berkata dia selalu ingin menjadi gadis yang bebas, tak terikat pada apapun, maka Baekhyun membiarkannya.

“Aku jatuh cinta pada…Choi Minho,” aku Soo Jung menghisap rokok dalam-dalam.

Baekhyun mengalihkan pandangannya dari teve, melewatkan adegan sang tokoh menceburkan diri ke air.

“Choi Minho? Pemain bola itu?”

“Yeah, dia mengajakku kencan dan menciumku di bioskop kemarin,” jawab Soo Jung.

“Oh,” itu reaksi Baekhyun dan Soo Jung memutar kursinya menghadap Baekhyun yang tidak memberikan ekspresi apa-apa.

“’Oh’? Hanya itu reaksimu?”

“Kau mau aku berbuat apa? Ingat, aku ini laki-laki. Kau sedang bercerita pada sahabat laki-lakimu. Aku bukan seperti gadis-gadis itu yang akan berteriak senang, berlari mengelilingi rumah dan cekikikan,” balas Baekhyun mengunyah puding susunya.

Soo Jung tak lupa.

Tidak akan pernah.

Dia tertawa sambil menyalakan satu batang rokok lagi, “Kau tidak cemburu?” godanya. “Kemungkinan besar aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Choi Minho daripada bercengkerama denganmu.”

Baekhyun kembali menonton. Dia tertawa ringan sambil menggelengkan kepala. “Tidak, terima kasih. Lagipula aku mendukungmu. Kau selalu bermimpi mendapatkan pria kaya. Choi Minho orang kaya dan aku dengar dia punya sepuluh mobil di garasi,”

Itu bukan inti pembicaraannya.

Baekhyun lebih tertarik pada teve dan Soo Jung kini menghabiskan dua bungkus rokok saat malam menjelang.

Gadis itu memperhatikan bagaimana setiap bulu mata Baekhyun bergerak konstan seirama dengan lagu latar drama itu dan menyadari kepala Baekhyun mirip bola yang ditendang Choi Minho.

Jatuh cinta adalah hal termudah di dunia.

Mereka berdua tahu. Soo Jung tak punya saudari perempuan yang dapat diajak bicara tentang hati, bagaimana manisnya memperhatikan lelaki yang kau sukai tersenyum padamu, bercerita tentang ciuman pertama dan ledakan-ledakan hormon remaja yang tumbuhkan jerawat.

Soo Jung punya Baekhyun. Baekhyun yang bereaksi nol, berekspresi kosong dan tawanya yang ringan mengapung di udara.

Baekhyun, sahabat yang berdiri di depan pintu setiap pukul 6 sore, menonton drama setiap pukul 8 malam dan makan sup kimchi buatan ibu Soo Jung.

Maka, cukup. Lebih dari sekedar cukup.

Jatuh cinta ada hal termudah bagi Soo Jung.

Jatuh cinta juga dapat dengan mudahnya berlalu seperti rintik hujan di siang hari, karena hubungannya dengan Choi Minho hanya bertahan tiga bulan.

Soo Jung tidak lagi menginginkan pria kaya.

 

“Kau putus?”

“Yap.”

“Kenapa?”

Gadis itu tersenyum. Baekhyun tidak melihat kesedihan di kedua matanya, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia juga tidak perlu mencari Choi Minho untuk memukulnya jika benar dia menyakiti Soo Jung karena ketika gadis itu tersenyum dan mengedipkan kedua matanya, Baekhyun juga tidak memerlukan jawaban darinya.

 

“Kau tahu apa isi kepalaku, Baek.”

 

***

Soo Jung beranjak menjadi 19 tahun dan di tengah hujan yang cukup deras, Soo Jung berlari ke rumah Baekhyun.

Dia tidak merasa kedinginan dan dengan bermodalkan sepatu converse bututnya serta hoodie ungu favoritnya yang mulai belel, Soo Jung tetap berlari dan menemui Baekhyun di kamarnya.

“Aww, Soo Jung, kau membasahi karpet kamarku,” keluh Baekhyun memandang nanar karpet bulu kamarnya yang ternodai becek. “Dan kau basah seperti anjing hilang.”

“Persetan, Byun Baekhyun. Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuanku?” Ditengah malam seperti ini? “Ada apa?”

Pertama kali dalam hidup Byun Baekhyun, dia tak bisa membaca kedua mata gelap itu. Soo Jung tetap memandangnya, namun gelap. Baekhyun tidak melihat apa-apa dan Soo Jung menghela napas berat.

Tak lama kemudian, Baekhyun tahu apa yang dimaksud Soo Jung.

Gadis itu tidak mau pergi kuliah.

Ingat, Soo Jung suka menghirup udara kebebasan. Kuliah tentu hanya akan mengekangnya dan memperparah keadaan. Soo Jung tidak ingat ayahnya pernah menyuruh dirinya pergi mencari ilmu di bangku kuliah, jadi tidak ada masalah. Tidak akan ada rasa bersalah yang menggelayut jelek di sudut pikirannya, karena Soo Jung hidup hanya untuk membanggakan sang ayah.

Dan ketika sosok itu telah pergi, tiada yang perlu dikhawatirkan. Soo Jung tidak akan pergi ke bangku kuliah. Mendengarkan orang asing yang dulu disebut ‘guru’ sekarang berganti ‘dosen’.

Soo Jung tidak mau bertemu teman-teman SMA-nya yang menyebalkan di kampus. Dia muak, dia mau kebebasan.

“Apa salahnya kuliah, Soo Jung? Masa depanmu akan cerah,” komentar Baekhyun.

“Oh ya? Cerah? Dan lihat dirimu sekarang, apa kau kuliah dan punya masa depan cerah?”

“Jangan lihat aku. Aku contoh yang buruk, mungkin…” Baekhyun menggaruk tengkuknya. “Juga sahabat yang buruk.”

“Oh, yeah! Kau memang sahabat super buruk, Baek,” Soo Jung mengacak-acak rambutnya sendiri kesal. Dia bersandar pada meja belajar Baekhyun yang penuh foto mereka. Ada nada memohon dalam suaranya,

“Tidak kah kau mendukungku?”

Baekhyun memberinya pandangan ‘tidak!-kau-gila‘ pada Soo Jung dan membiarkan sahabatnya itu merajuk setengah mati.

Dia membiarkan Soo Jung bergelayut di lengannya yang kurus. “Baek, ayolah. Katakan aku memang tidak cocok berkuliah.”

“Lalu apa itu akan mengubah segalanya, Soo Jung? Walau aku mengatakan ‘ya, kau tidak cocok kuliah’? Apa ibumu akan membiarkannya begitu saja?” Baekhyun bertanya.

Soo Jung memejamkan mata, kening berkerut. Baru kali ini Baekhyun berada di posisi seberang, namun Soo Jung tidak kehilangan harapan. Dia tersenyum seperti hari-hari kemarin. Dia tidak memaksa Baekhyun untuk berada di garis yang sama. Baekhyun tentu punya pilihannya sendiri, begitupun Soo Jung.

Soo Jung tersenyum dan mengirimkan sinyal sebelum dia meninggalkan rumah Baekhyun yang bercat kuning itu.

Dia tak berharap lebih jauh, namun dia selalu tahu bahwa sahabatnya bisa membaca pikirannya berapa kali pun Baekhyun mencoba menutupinya.

Soo Jung dapat merasakan atau mendengar suara hati Baekhyun yang mengatakan… “Kau tidak cocok duduk di bangku kuliah, Soo Jung.

Soo Jung mengerti, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dari seorang Byun Baekhyun.

 

***

Baekhyun bisa membaca pikiran.

Soo Jung bisa merasakan bisikan hati.

 

Terkadang mereka tak perlu berbicara dan sedetik kemudian mereka tertawa tanpa sebab yang jelas. Atau mereka menyebutkan permintaan yang sama, seperti: aku mau es krim, aku mau pop corn, aku mau ke mall.

Semuanya tersirat jelas tanpa sesuatu yang menghalangi. Soo Jung tahu apa yang diinginkan Baekhyun, Baekhyun tahu apa yang diingini Soo Jung. Seolah ada tali yang menyambungkan jiwa mereka, Baekhyun dan Soo Jung menyatu tanpa berusaha bersatu.

Hari itu musim panas.

17 Juni. Kamar Baekhyun beraroma citrun dan lemon. Angin masuk melalui jendela, meniup buku jurnal milik Baekhyun yang terbuka di halaman tengah. Kertasnya melambai sedih setiap halaman menindih halaman lain. Baekhyun tak memberi perhatian lebih karena dia lebih asik membaca buku komik conan sambil berbaring.

Soo Jung di sebelahnya sedang mengecat kuku. Tak lama kemudian, dia menyerah. Menggambar di kuku bukanlah hal yang mudah dan bagaimana bisa artis-artis itu mendapatkannya?

Jadi Soo Jung menghempaskan tubuh ke sebelah Baekhyun, menelengkan kepala hingga pucuknya menyentuh bahu Baekhyun.

“Bagus tidak kuku-ku?” tanya Soo Jung mengangkat jemarinya di depan wajah Baekhyun, menghalangi pandangannya ke buku.

“Iiihh, minggir!” Baekhyun menyingkirkan tangan Soo Jung.

Dia tidak marah karena ini memang jelek, berantakan, mirip hidupnya sekarang.

Kuliah menyenangkan. Soo Jung sedikit terhibur oleh kenyataan bahwa no more uniform, oh itu bagus sekali. Soo Jung dapat memakai baju seperti yang dia inginkan; hoodie merah beserta jins hitam dan converse bututnya yang nyaman. Tidak akan ada yang berani menentang penampilan ini.

“Bagaimana kuliah?”

“Hmm…” Soo Jung berusaha menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan hal ini. Senang kah? Sebal kah? Seru kah?

“Begitulah,” jawaban klasik yang sering orang lontarkan. Tapi tak mengapa. Baekhyun pasti mengerti dari nada dan helaan nafasnya. Baekhyun pasti paham, tenang saja.

“Teman?”

“Kalau yang kau maksud teman pria. Wow, harus kukatakan kampus punya segudang pria tampan dan kaya disana, Baek,” jawab Soo Jung tiba-tiba tertarik pada topik yang Baekhyun angkat ini.

“Mereka berpakaian rapi dan wangi. Label terkenal menempel di tubuh mereka dari ujung kaki sampai kepala. Ada satu yang menarik, namanya Myungsoo. Dia punya mobil balap yang super duper keren, Baek.”

“Oh ya? Bagus kalau begitu. Kau punya alasan untuk datang kesana tiap hari,” Baekhyun menepuk kepala Soo Jung. “Tanpa menyesal sedikit pun bukan? Kuliah menyenangkan, Soo. Aku sudah bilang padamu.”

“Eumm…tapi mungkin aku juga menyukai Kim Jongin. Dia anak salah seorang pemilik perusahaan parfum di seoul.”

“Oh dia pasti sangat harum. Dekatilah, Soo.”

Soo Jung mengerucutkan bibirnya, sambil membersihkan sisa-sisa cat kuku di kulitnya.

“Apa artinya mendekati mereka semua jika akhirnya bernasib sama seperti Choi Minho.”

Baekhyun tergelak, memukul kepala Soo Jung dengan buku komik ditangannya cukup keras. “Siapa suruh memutuskannya? Gadis tolol.”

“Dia membosankan, Baek!”

“Buat suasana senang kalau begitu.”

“Senang hanya timbul di antara kita,” beritahu Soo Jung dan Baekhyun menoleh untuk bertemu pandang dengan gadis di sampingnya.

Ya, benar, Soo Jung seratus persen benar. Senang tidak dipakai dalam hubungannya bersama orang lain. Hanya dengan Baekhyun atmosfer itu bisa tercipta.

“Sudahlah, jangan berisik. Aku sampai tidak konsentrasi membaca komik ini—”

“Baek.”

“Sampai mana aku tadi…”

“Baek.”

“Ah, ya, halaman 42…”

“Byun Baekhyun!” Jerit Soo Jung tepat di telinga dan Baekhyun menjauh darinya, tangan menutup telinga rapat-rapat.

“Ya!!! Apa yang kau lakukan?!!” Soo Jung mengenyahkan buku di tangan Baekhyun. Melemparnya ke sudut kamar dan menangkup wajah sahabatnya.

Sahabat yang pertama kali dia temukan di taman dekat sungai, sahabat yang membantunya menerbangkan layangan setinggi-tingginya, sahabat yang menonton drama pukul 8 malam, sahabat yang menyukai warna abu-abu, sahabat yang bisa membaca pikiran Soo Jung dan terasa seperti rumah.

Byun Baekhyun.

“Byun Baekhyun…” Soo Jung berada dekat sekali dengannya hingga napas mereka bertaut. Soo Jung beraroma lipbalm cherry dan mint, sedangkan Baekhyun beraroma teh dan lemon, segar membuka setiap panca indera milik Soo Jung.

“Ayo, kita pergi dari sini. Dari dunia ini…”

Baekhyun menelan ludah karena nada yang terselip sangat meyakinkan.

“Berlari sampai kita lelah dan tinggalkan semua ini, Baek.” Soo Jung punya hidung yang mancung, kulit semulus beledu, dan bulu-bulu halus di pipinya.

“Kita berdua…melakukan perjalanan panjang.”

Mungkin Baekhyun terlalu sering menebak isi kepala Soo Jung hingga dia bosan dan tak mau mendengarnya lagi. Namun kali ini, entah berasal darimana pikiran itu, Baekhyun tidak menemukan disetiap sudut pikiran Soo Jung.

 

“Itu pasti menyenangkan,” Baekhyun menyeringai lebar.

 

***

Hari itu musim panas.

18 Juni.

 

Soo Jung diam-diam melipat sebagain bajunya dari lemari, memasukkan ke dalam tas ranselnya yang punya beberapa lubang. Dia menyiapkan ini, dia membeli pasta gigi baru, sikat gigi baru, kaus kaki baru (juga untuk Baekhyun), dia memisahkan buku-buku kuliah favoritnya untuk dibaca dalam perjalan panjang ini.

Ya, dia wajib membawanya.

“Yang ini atau yang merah?” Soo Jung memperlihatkan dua sweater baru-nya pada Baekhyun, setengah berbisik karena mereka tidak mau tertangkap sang ibu dan hancurkan rencana ini.

“Apa tidak ada warna abu-abu?”

Come on, Baek, aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi ibu pulang dan kau mau dia menggagalkan kepergian kita??”

“Oke, baiklah. Hmm…” Baekhyun berpikir cukup lama. Dia tidak akan pernah mengerti apa yang para gadis pikirkan. Ini hanya soal warna, mengapa Soo Jung perlu sepusing itu? “Yang merah lebih bagus.”

Soo Jung segera memasukkannya ke tas yang penuh sesak; hampir meledak dan jahitan di sisi-sisinya mulai renggang.

“Sebentar lagi tasmu akan boom, meledak, Soo Jung lebih baik ganti tas,” nasihat Baekhyun. Soo Jung tak peduli. Mereka tak punya banyak waktu. Mereka seperti sedang bertarung melawan waktu yang terus bergulir dan Soo Jung tak punya alasan untuk memikirkan tas itu.

Dia pusing. Kepalanya berputar dan Soo Jung berhenti sejenak, berusaha menjauhkan keadaan hectic-nya ini sebelum dia tumbang. Rasa lapar ada di pusat perutnya, hingga dia ingin muntah. Apakah dia gugup, tegang, cemas, khawatir?

Baekhyun memegang bahunya, “Hei, apa kau tidak apa-apa?”

Soo Jung menarik Baekhyun berlari ke rumahnya, menyeberangi jalan raya yang besar, melewati toko swalayan dimana mereka membeli es krim, juga seven eleven yang kini dalam masa perbaikan.

Mereka akan segera meninggalkan itu semua. Ya. Segera.

“Cepat bereskan baju-bajumu,” ucap Soo Jung sedikit terburu-buru.

Baekhyun menjatuhkan spidolnya, berserakan di lantai dengan suara menyedihkan. “Heiii, lihat apa yang kau lakukan!” dia memunguti spidol itu dibantu Soo Jung yang memasukkannya secara asal.

“Tinggalkan, Baek! Tinggalkan!!” pekik Soo Jung tak sabar, menyingkirkan tangan Baekhyun dari sana agar dia bisa membereskan kekacauan ini. Jung Soo Jung sangat, sangat, sangat kacau. Dia lupa mandi karena hal ini. Dia meninggalkan acara kesukaannya di hari sabtu karena ini.

          Dan tak mungkin hanya karena spidol mereka menghapus ini.

Baekhyun tak serepot Soo Jung. Dia memasukkan seluruh pakaiannya, menyusupkan ke dalam tas ransel super besar yang mungkin dia gunakan untuk memanjat gunung.

Celana pendek, boxer, kaus putih, kaus lengan panjang, kemeja, celana jins yang kelunturan, sikat gigi, sabun, shampoo, dan satu kantung plastik biru yang hanya Tuhan, Baekhyun dan mungkin…Soo Jung, tahu apa itu.

Mereka ragu, mereka cemas, mereka tidak yakin, namun setelah semuanya selesai, Soo Jung dan Baekhyun duduk di sisi ranjang, berkeringat dan bernafas seolah mereka telah mengerjakan sesuatu yang berat. Ini bukan masalah sebuah pekerjaan, ini tentang keputusan.

“Benarkah kita akan pergi?” tanya Soo Jung setengah melamun.

Inikah yang dia inginkan? Apakah mereka sedang bertanya-tanya pada nasib dan mempermainkan takdir di telapak tangan, seolah hari ini, esok, dua minggu kemudian pergi dari kehidupan nyata akan menyelesaikan semuanya?

Soo Jung benci pergi kuliah. Itu disebabkan setiap kali dia melangkah ada saja tali yang mengekangnya dan rasa tidak suka sering kali membebaninya.

Mengapa hidup terlalu manja? Mereka meminta tanpa menyediakan sesuatu yang lebih baik. Soo Jung tahu dirinya pantas mendapatkan yang lebih baik.

Lebih baik dari Myungsoo, Choi Minho, Kim Jongin maupun yang lainnya.

Lalu disana ada Byun Baekhyun yang memenuhi setiap permintaannya. Tak pernah ada kata menolak walaupun hati kecil Baekhyun tampaknya terpenjara dalam genggaman Soo Jung. Tapi kini mereka akan kabur dari dunia nyata dan menemukan bagian dunia lainnya, bukankah ini menyenangkan?

“Kau ragu?”

“Tidak.”

Baekhyun meremas tangan kecil Soo Jung, dia tampak seperti tiga belas tahun yang lalu, seseorang yang berjanji melayangkan layangan Soo Jung sampai tinggi di udara.

“Kita pergi besok pagi,” nafas Baekhyun bermain-main di tengkuk Soo Jung saat gadis itu memeluknya erat. Soo Jung menghirup aroma Baekhyun yang mengingatkannya pada rumah. Oh! Itu seharusnya tak perlu terjadi.

“Maaf.”

“Maaf? Untuk apa?” tidak ada yang salah disini seingat Baekhyun. Apa-apaan Soo Jung ini? “Kau menangis…” ibu jari Baekhyun mengusap air mata di sudut mata Soo Jung.

“Kau tidak terpaksa kan melakukan ini semua?”

Baekhyun menggeleng. Soo Jung akhirnya senang, Baekhyun berada di garis yang sama bahkan sedang beridiri di titik yang sama, menempel bagai belut.

“Kita pergi besok pagi.”

Mereka sahabat yang akan melakukan perjalanan jauh. 365 hari atau bahkan lebih dari itu. Entahlah, tidak ada yang tahu.

Mereka sahabat yang akan menghilang di pagi hari. Pastikan matahari belum sempat mengintip di langit dan kedua sosok itu sudah melaju, naiki mobil butut milik Baekhyun. Siapa peduli bahwa mobil itu belum lunas…

Toh mereka akan menghilang.

“Besok pagi.” Soo Jung tersenyum.

 

***

Hari itu musim panas.

19 Juni.

 

Baekhyun memakai kacamata hitamnya yang keren, sedangkan Soo Jung disebelahnya menjilat es krim. Kaki rampingnya beristirahat di dashboard mobil, matahari sirami wajahnya, dan Baekhyun tak henti-hentinya melihat kearah sahabatnya itu.

“Kenapa? Kenapa kau melihatiku seperti itu?” Soo Jung membuka kacamatanya. “Perhatikan jalannya, Byun Baekhyun. Aku bersumpah akan menggentayangimu seribu satu malam jika kita mengalami kecelakaan,” ujarnya galak dan Baekhyun tertawa.

“Tidak ada yang lucu, Byunie. Kenapa kau tertawa?”

“Haruskah kita memulai semua ini dengan pertengkaran? Hei, kita baru menempuh…” spidometer mobil menunjukkan angka 55 kilometer. “55 kilometer. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita berada di 100 kilometer.”

Soo Jung terkadang terlihat mirip iblis. Dia mengecat kuku pendeknya dengan warna merah dan meletakkannya di leher Baekhyun.

“Tanganku,” dia menekan nadi leher pria itu. “Ada di lehermu dan membunuhmu, Byunie.”

Kemudian mereka tertawa menyaingi lagu di radio yang bergemerisik. Satu lagu lama berbahasa inggris menjadi soundtrack perjalanan mereka, dimana Baekhyun dan Soo Jung punya lidah yang fasih, bernyanyi, membagi suara.

 

He walks away,
The sun goes down,
He takes the day but I’m grown,

 

Lalu Baekhyun mengencangkan volume radio.

 

And in your way, in this blue shade,
My tears dry on their own,

 

Mereka memang sedang meninggalkan, menjauhi kehidupan yang lama mereka kenakan. Tanggalkan apa yang sudah menjadi kebiasaan karena tiba-tiba semuanya jadi menyenangkan, beratus kali lipat menyenangkan.

Soo Jung suka penampilan sahabatnya hari ini. Celana jins dan kacamata pilihannya sebelum mereka bepergian.

“Sudah kubilang yang warna hitam lebih keren daripada warna abu-abu,” Soo Jung berkata puas, tangannya menyisir poni Baekhyun, lalu bersandar di bahunya.

“Kalau kita kecelakaan oleh karena posisimu yang seperti ini, aku bersumpah akan mencungkil matamu Soo Jung. Singkirkan kepalamu,” satu gerakan lengan Baekhyun, kepala Soo Jung pun menghilang dari sana dan malah bersandar pada pintu, menatap Baekhyun dari sisi ini terkadang membuat Soo Jung berpikir, dia keren juga.

Baekhyun tak pernah mau menyentuh rokok Soo Jung seakan dia benar-benar alergi terhadap benda kecil itu. Soo Jung mematikan AC dan membuka jendela sebelum Baekhyun berkoar lalu mengungkit masalah kecelakaan.

Soo Jung tak peduli jika di ujung jalan mereka ditakdirkan untuk mati secara konyol, tertabrak truk atau tertimpa papan reklame.

 

Terserah.

Toh, ini terasa seperti surga.

 

***

Hari itu musim panas.

11 Agustus.

 

Baekhyun bertubuh kecil, kurus dengan rambut mengkilap di bawah cahaya bulan. Dia berumur 21 tahun saat meninggalkan rumahnya yang bercat kuning dengan bantuan cahaya lembut lampu terasnya. Kamarnya berada di lantai dua, penuh koleksi komik conan memenuhi raknya. Namun kali ini kosong…hanya ada Soo Jung, Soo Jung dan Soo Jung.

Soo Jung bertubuh ramping, kurus, dengan rambut yang panjang sepunggung dan mereka tergerai indah. Dia berumur 19 tahun saat meninggalkan rumahnya yang besar, taman penuh bunga-bunga mawar milik ibunya. Kamarnya berada di lantai dua, dindingnya dihiasi oleh poster-poster band terkenal. Namun kali ini kosong…hanya ada Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun.

Malam itu mereka terpaksa melupakan tempat yang bernama hotel karena ini liburan musim panas. Lupakan tentang betapa banyak orang yang pergi berlibur, mencoba tinggalkan rutinitas kota yang sumpek.

Jadi, lupakan. Hanya, lupakan saja.

Mereka punya mobil dan lahan di tempat ini cukup banyak. Soo Jung tak menyalahkan Baekhyun yang menggelar kardus di tanah, nyalakan api unggun dan mereka hanya mengenakan kaus lengan buntung, tidur berpelukan satu sama lain.

“Ini tidak buruk,” kata Soo Jung menepuk nyamuk di lengannya. “Minus nyamuk-nyamuk disini berusaha menghisap darahku sampai habis.”

“Mereka ganas. Haruskah kita pindah ke dalam mobil?”

Nope. Disini lebih baik.”

“Uhuh, lebih baik begini karena kau sedang menjadikanku guling bantalmu,” tandas Baekhyun melihat kaki Soo Jung menimpa kakinya, tangan yang melingkar di pinggangnya, dan kepala membebani dadanya. Ini bukan bantal dan guling, Baekhyun sebuah kasur bagi Soo Jung. “Heii, aku sesak! Apa kau mau membuatku jadi hamburger?”

“Kau memang bacon dan aku akan memakanmu,” Soo Jung menggigit bahu Baekhyun yang tak tertutup kain dan Baekhyun berteriak, mencoba jauhkan kepala itu sebelum benar-benar memakannya.

Mereka bahagia. Memang seharusnya begitu?

“Langit disini bersih,” jari Soo Jung menunjuk bintang-bintang diatas sana. “Ada berapa banyak bintang disana, Byunie?”

“Entahlah. Aku tidak mau menghitungnya,” gumam Baekhyun.

“Kenapa? Mereka imut menurutku dan kata orang mereka bisa kabulkan permintaan.” Soo Jung tertawa atas pernyataannya sendiri. “Idiot. Mana bisa?” namun dia diam-diam mengucapkan serentet permintaan. Psstt…Baekhyun tak boleh tahu hal ini.

Tergugah, ya, tergugah. Soo Jung menghirup aroma rumah di tubuh Baekhyun dan itu tidak boleh terjadi. Rindu rumah.

“Byunie, kita tidak akan pernah pulang, hmm…” Soo Jung mendongak, mendapati Baekhyun tertidur pulas. Bulu matanya bergerak-gerak, apakah dia memimpikan sesuatu?

“Yeah, kita tidak akan pernah pulang. No more home.” Bisik Soo Jung yang kini mencoba tidur, bermimpi sejauh 1089 kilometer, jauh dari rumah.

 

***

Hari itu musim gugur.

15 Oktober.

 

Daun mulai berguguran satu persatu. Soo Jung hampir mengenali setiap tebing curam diatas mereka, dan pemandangan jurang kelam dibawah sana menggoda mobil mereka untuk melakukan sedikit kesalahan dan…

Adalah konyol jika mereka mati dalam keadaan seperti itu.

“Aahh, benarkah itu hotelnya?”

“Yap. Se…pertinya.”

“Apa itu ‘se…pertinya’?” Baekhyun perlahan-lahan berbelok menghindari batu di depan mereka dan merinding ketika melihat jurang di sisi kirinya begitu gelap. “Apa kau yakin, Soo Jung?”

Soo Jung melongok ke bukit atas sana, picingkan mata membaca tulisan ‘hotel tertera disana. “Ya, ya, ya disana. Hotelnya disana.”

“Hufff…apa yang kau pikirkan saat memilih tempat ini, gadis tolol? Sekali salah banting stir, kita berdua bisa mati,” suara Baekhyun bergetar. Entah takut, entah gugup, entah apa udara dingin yang jadi alasannya.

“Tapi mereka punya danau besar disana. Dan…dan…ada rusa. Aku belum pernah melihat rusa,” Soo Jung berujar.

“Dasar norak. Pergi ke kebun binatang dan kau bisa melihat beratus-ratus rusa disana.”

“Tapi yang satu ini bisa berubah jadi manusia saat bulan purnama.”

Ini konyol, ini tidak masuk akal. Namun perjalanan ini pun juga konyol dan tidak masuk akal, lalu Baekhyun mau menyalahkan Soo Jung beserta ide gilanya? Tidak, dia tidak sanggup melakukannya.

“Manusia?” tanya Baekhyun.

Soo Jung mengiyakan pertanyaan itu dan berkata, “Dia terkena kutukan dan mereka memberinya nama Lulu.”

“Oh, bagus. Ternyata dia punya nama yang lucu,” gelak Baekhyun menghentikan mobil di pekarangan hotel kecil; mungkin lebih pantas jika disebut ‘motel’. “Rusa ajaib dengan nama paling lucu di dunia. Baiklah.”

Soo Jung pun senang. Baekhyun pun tak bisa menyalahkannya. Melihat gadis itu berlari keluar kamar, pergi ke taman dan bertemu ‘Lulu’ sang rusa ajaib.

Baekhyun tak bisa menyalahkannya.

 

***

Hari itu musim gugur.

16 Oktober.

 

Bermain gitar di dekat kandang Lulu sementara Soo Jung dengan jahilnya menaruh serpihan daun kering ke atas rambut Baekhyun sambil menyanyi, menyenandungkan satu lagu lama yang jadi soundtrack perjalanan mereka.

 

***

Hari itu musim gugur.

17 Oktober.

 

Baekhyun mengintip dari kamar jendelanya, melihati gadis itu memberi makan Lulu dua batang wortel dan selembar sawi. Belakangan ini Soo Jung melupakan rokoknya dan itu sebuah kemajuan yang baik. Soo Jung tampak lebih segar dan aromanya kembali seperti ketika umurnya 14 tahun; ceri dan cologne yang manis.

Malam itu hujan dan Soo Jung menyelinap ke dalam selimut Baekhyun. Dia tahu gadis ini takut petir, jadi dia hanya diam saat Soo Jung melingkarkan tangannya di pinggang, menekan tubuhnya ke punggung Baekhyun dan bergumam sesuatu di tengkuknya.

 

Apa Soo Jung berdoa?

 

***

“Pulang?? Baekhyun, kau…”

 

Mata itu…

Mata yang pernah Baekhyun lihat beberapa tahun silam. Mata yang melebar, penuh luka saat Soo Jung mengetahui kematian ayahnya. Mata yang sesungguhnya tak ingin Baekhyun lihat, menusuknya begitu dalam hingga tembus ke hati.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan?? Tidak!! Aku tidak akan pulang! Lagipula, lagipula…” Soo Jung menarik nafas. “Baek, kita sudah berjanji tidak akan pulang. Kita sudah meninggalkan semuanya di belakang dan sekarang kau pikir kita harus kembali kesana lagi??!”

Baekhyun mendesah lelah, dia memikirkan ini sepanjang malam. Namun keputusan adalah keputusan. Pulang adalah pulang; kembali ke rumah.

“Soo Jung, ini-tidak-akan-ada-akhirnya.”

“Tidak akan ada akhirnya? Maksudmu kau mau berakhir sampai disini, Byun Baekhyun??!”

Baekhyun memukul dinding disebelahnya. “Kita sudah terlalu lama bepergian Soo Jung. Maka cukup! Cukup, hentikan semua ini. Aku bahkan tidak tahu apa gunanya kita melakukan ini!!”

Soo Jung keras kepala, sifatnya sekeras batu yang hampir mustahil di pecahkan. Baekhyun berharap gadis itu mengerti selagi umurnya terus bertambah dan sepertinya dia salah. Perjalanan ini bukan sekedar liburan biasa, namun mereka sedang berlari dan terus berlari dari kenyataan.

Mereka tak bisa hidup seperti ini.

“Kau mau kembali?” suara Soo Jung tercekat. “Kau mau kembali ke rumah dan menjalani hidup penuh aturan? Kau bekerja delapan jam sehari di belakang komputer, menghitung, memilah data dan pulang ke rumah, mencuci piring kotor milik keluargamu. Aku tanya padamu, Baek, kau ingin punya kehidupan seperti itu?”

“Lalu bagaimana dengan hidupmu?” sambung Baekhyun tanpa jeda. “Kau kira lari dari kenyataan dapat membuatmu merasa lebih hidup, hm? Lari karena tidak mau kuliah, lari karena tidak mau bekerja, lari karena hidup disana lebih menyakitkan daripada yang seharusnya. Lari karena tidak mau melihat ibumu bersedih akan kepergian ayahmu. Kau sedang berlari dari kenyataan yang memang seharusnya kau hadapi!!”

“Terserah!!” bentak Soo Jung. Air mata basahi wajahnya dan mata merah yang mengumbar amarah. “Aku tidak peduli. Ini kebebasan. Aku mau kebebasan—“

“Kebebasan? Soo Jung…astaga…” Baekhyun mencengkram lengannya, mengguncang tubuh itu seandainya Soo Jung memang sedang mengigau. “Soo Jung, ini juga kehidupan. Cepat atau lambat kau akan tetap menemukan kesulitan di dalamnya. Kemana pun kau berlari, mereka akan mengikutimu. Ini juga kenyataan, Soo Jung. Kita tidak sedang berada di dunia mimpi.”

Ya, Baekhyun benar. Sejauh apapun mereka berlari, mereka pasti akan menemukan satu dua masalah karena begitulah hidup. Dan kini Soo Jung berusaha kabur menjauhi semua itu sebagai satu-satunya cara untuk menghirup udara bebas dan menurut Baekhyun, dia salah besar.

“Kita bisa pulang dan menghadapi semuanya. Soo Jung, kau tidak sendirian.”

Pulang bukan karena Baekhyun merindukan rumah.

Pulang bukan karena Baekhyun memikirkan kantornya dan ibunya yang bertanya-tanya kepergiannya serta menggenggam selembar surat yang tidak menjelaskan apa-apa.

Pulang bukan karena Baekhyun merindukan segalanya yang ada, namun itulah hidup. Mereka harus dihadapi.

Dan jika Soo Jung takut, Baekhyun akan berdiri bersamanya. Disampingnya untuk temani harinya, di depannya untuk mengatur jalan Soo Jung, di belakangnya agar Soo Jung tak mundur dan menyerah.

Perjalan ini harus berhenti…disini.

“Kita pulang, Soo Jung. Besok…kita pulang,” ujar Baekhyun perlahan, memeluk Soo Jung yang terpaku.

Baekhyun bukannya menyerah.

Dia mengirim pesan itu ke dalam hati Soo Jung ketika pergi ke kamarnya sendiri.

Soo Jung bisa merasakan hati Baekhyun.

Baekhyun bisa membaca pikiran Soo Jung.

 

Aku tidak mau pulang.” Baekhyun mendengar suara gadis itu berdengung di kepalanya.

 

***

Hari itu musim gugur.

19 Oktober.

Baekhyun membuka matanya dan berlari ke kamar Soo Jung, menyibakkan selimutnya sia-sia karena Soo Jung beserta barang-barangnya telah raib entah kemana.

Baekhyun berlari ke parkiran motel, mobilnya tidak berada disana. Dengan tangan gemetaran, Baekhyun meraih ponselnya dan menunggu dalam cemas suara familiar itu.

“Halo? Halo? Soo Jung, dengarkan aku! Ini tidak lucu sama sekali! Kembali kesini sekarang juga!”

Byunie, terserah kalau kau mau pulang. Perjalanan ini sangat seru dan aku tidak mungkin pulang. Tidak, Byun Baekhyun.

Baekhyun frustasi sambil menggigit kuku jarinya. “Soo Jung, please, kumohon kembali lah—“

Aha, aku mau lihat apakah kau bisa pulang tanpa mobilmu. Apa kau masih ingin pulang, Byun Baekhyun? Kalau aku jadi kau, aku akan melanjutkan perjalanan ini, karena ini seperti surga, Baek!

Itu sebuah argument yang paling menyebalkan yang pernah Baekhyun dengar seumur hidupnya. Dia berlari ke pinggir motel itu, tak jauh dari pandangannya, dia melihat mobil bututnya sedang menuruni tebing dengan kecepatan yang tidak normal.

“Oke, oke, Soo Jung. Kita bisa bicarakan ini, nanti…” Baekhyun menggigit bibirnya hingga sakit. “Tapi bisakah kau memelankan laju mobil? Jalanannya licin—“

Oh, kau bisa melihatku dari atas sana. Haruskah aku melambaikan tangan?

“Soo Jung, aku tidak bercanda. Pelankan mobilmu dan…” Baekhyun memejamkan mata, tidak percaya bahwa hal ini harus dia katakan. “Kita tidak perlu pulang. Aku berjanji kita akan melanjutkan perjalanan ini, Soo Jung. Kita tidak akan pulang, kau dengar aku?”

“…”

“Soo Jung?”

Benar?

Soo Jung adalah makhluk hidup yang paling lunak menurut Baekhyun. Janji yang terucap dari mulut Baekhyun selalu Soo Jung percayai dan memegangnya erat-erat seperti pertama kali mereka bertemu, Baekhyun berjanji akan menerbangkan layangannya.

“Ya…” jawab Baekhyun lemah bercampur lega karena mobil itu perlahan-lahan memelankan lajunya. “Kita tidak akan pulang, sekarang kembalilah ke motel.”

Oke. Jangan tutup teleponnya

Baekhyun melakukannya. Baekhyun menunggu dengan ponsel menempel di telinga, mendengarkan senandung Soo Jung sambil memperhatikan mobilnya berbalik arah.

Baekhyun sedang menyiapkan diri untuk menerima semburan marah dari Soo Jung, namun tiba-tiba dia melihat sebuah mobil sedan hitam melaju kencang, turuni jalanan dari arah berlawanan dengan Soo Jung.

 

Jika mereka bertemu di belokan itu…

 

“Soo Jung! Soo Jung! Jangan lewati belokan itu! MENEPI, SOO JUNG! MENE—“

 

Terlambat.

 

Ponsel Baekhyun meluncur mulus ke tanah, melepaskan diri dari genggamannya.

Mobil sedan itu bertabrakan dengan mobil Soo Jung…begitu parah, hingga Baekhyun tak peduli bahwa dia menuruni jalan dengan kaki tanpa alas. Jantungnya berhenti berdetak, namun dia lebih mempertanyakan hal itu kepada Soo Jung. Apakah jantungnya masih berdetak?

“Soo Jung, Soo Jung, Soo Jung…” ulang Baekhyun selagi berlari kencang mendekati dua mobil yang melumat jadi satu. Tak ada harapan?

Baekhyun menutup mulutnya, histeris dan rasanya dia ingin melompat ke jurang di belakangnya.

 

Tidak ada harapan.

 

Mobil itu rusak parah di bagian depannya, menempel satu sama lain tanpa bentuk. Baekhyun menyentuh besi-besi kerangka mobil yang mencuat di dekatnya, air mata mengalir tak percaya ini terjadi. Soo Jung…

Baekhyun masih mendengarkan suaranya beberapa menit yang lalu di telepon, bersenandung lagu kesukaan mereka, tapi kini…

 

Tidak ada harapan.

 

“Soo Jung…” isak Baekhyun.

Soo Jung benar. Mereka tidak akan pernah pulang. Namun Soo Jung juga tidak akan melanjutkan perjalanan ini.

 

Perjalanan yang terasa seperti surga harus berhenti disini.

 

***

Soo Jung…

 

          Soo Jung…

 

          Soo Jung…

 

          Soo Jung…

 

          Soo Jung…

 

         

“Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun! Bangun!”

Baekhyun membuka kedua mata dan menemukan wajah itu menatap cemas dirinya. Wanita itu menyeka keringat di pelipisnya. Mengapa dia berkeringat? Padahal hari itu musim dingin. 13 Desember.

“Ada apa, Baekhyun? Kau berteriak-teriak maka aku membangunkanmu…”

Tubuh Baekhyun melemas, otot-ototnya tak setegang tadi dan dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum semuanya jelas.

“Mimpi buruk,” bisik Baekhyun berusaha duduk di tempat tidurnya. Dia mengambil nafas banyak-banyak. “Mimpi yang sangat, sangat buruk.”

“Mimpi apa, sayang?” tanya sang istri.

Sangat sulit menelan ludah sambil membayangkan mimpi itu lagi. “Soo Jung. Aku bermimpi kami melakukan perjalanan panjang dan bertengkar, lalu…lalu Soo Jung pergi mengendarai mobilku, dia pergi dalam keadaan marah dan…dan…tiba-tiba dia mengalami kecelakaan. Kecelakaan dan…” Baekhyun tak sanggup menyelesaikan kalimat itu; ceritanya.

Wanita itu memeluk Baekhyun, mencium dahinya untuk menenangkan. Dia berbisik, menjelaskan bahwa itu hanya mimpi, itu hanya mimpi buruk yang Baekhyun alami.

“Kenapa aku bermimpi seperti itu?” tanya Baekhyun sedikit pusing. Hal itu tampak nyata bagaimana dia mendengar suara Soo Jung di telinganya, tawanya, deru angin di telepon. Semuanya terasa nyata.

“Ibuku pernah bilang jika kau memimpikan seseorang meninggal, maka orang itu akan panjang umur.”

“Benarkah?” Baekhyun mendongak dan wanita itu tersenyum sembari mengangguk. “Berarti Soo Jung berumur panjang?”

“Semoga.”

Ya, Soo Jung harus punya umur panjang, karena Baekhyun tidak ingin melihat sahabat satu-satunya pergi. Bagaimana semudah itu Soo Jung bisa meninggalkannya, bagaimana Baekhyun tidak ingin Soo Jung pergi dari kenyataan ini.

“Kau merindukannya?”

Baekhyun mengangguk.

“Kenapa kau tidak meneleponnya?” sang istri melirik jam dinding mereka. “Di Amerika sedang siang.”

Ya, meneleponnya. Baekhyun sedikit terbawa mimpi dan trauma menggenggam telepon di tangannya, namun setelah mimpi itu tiba-tiba Baekhyun benar-benar ingin mendengar suara Soo Jung.

Baekhyun menunggu nada tersambung.

 

Menunggu…

 

Halo?

 

Ah, ya ini dia yang ditunggu. Suara Soo Jung mengalun di seberang sana dengan latar belakang suara anak-anak yang ramai.

Halo? Baekhyun?

Baekhyun tersenyum dalam temaram lampu kamarnya.

“Ya, ini aku, Soo Jung.”

Ada apa?

Baekhyun tidak akan menceritakan mimpi buruk itu karena Soo Jung pasti menertawainya. Jadi dia menyimpan alasan mengapa tiba-tiba dia menelepon.

Hei, di Korea kan sedang malam hari. Byunie, kau tidak apa-apa kan?

Baekhyun suka sekali mendengar sebutan itu. Dia tertawa dan mulai bicara.

“Ya, disini malam dan aku terbangun karena lapar, lalu aku menyalakan teve, tiba-tiba melihat bintang iklan ramen yang mirip denganmu, kemudian aku ingin meneleponmu.” Baekhyun sangat pintar berdusta.

Soo Jung tertawa di telepon, suaranya yang ringan dan Baekhyun merindukan suara itu setelah seseorang bernama Kim Jongin menikahinya dan membawa sahabatnya itu ke Amerika karena alasan pekerjaan.

Masa? Aku pasti lebih cantik darinya.

“Kenapa kau sangat percaya diri?” kekeh Baekhyun. Dia rindu masa-masa seperti ini. “Bagaimana kabar Jongin?”

Dia baik-baik saja. Oh! Dia naik jabatan, Baek. Jongin sekarang direktur utama setelah ayahnya pensiun.” Lalu Soo Jung memelankan suaranya.

Aku semakin kaya, Byun Baekhyun. Hahaha…

Mereka tertawa. Tertawa di kenyataan yang mereka miliki dan sesungguhnya, hidup ini cukup menyenangkan untuk dihadapi.

Hei, Byunie, aku akan pulang maret nanti. Moonkyu, anakku, berumur satu tahun dan kami memutuskan untuk merayakan ulang tahunnya di korea. Kau mau datang kan ke pestanya?”

 

Baekhyun tersenyum lebar.

“Ya, tentu saja.”

Hidup tidak terlalu buruk.

 

The END

A/N:

Eummm owkaaayyy, maafkan aku untuk fic tak jelas yang gapunya juntrungannya…galau antara pengen bikin meninggal dan enggak, tapi taulah aku kan orangnya gak tegaan @.@ #readerpunpusing

Hanya sedang ingin bereksperimen dengan dua orang ini

Tapi ini cukup panjang dan saya sampe pegel nulis di kereta hahaha

Okay, tidak berekspektasi tinggi, tapi boleh ya minta komennya tentang fic ini

Terima kasiiiihhhh😀

Dan oh ya, hampir lupa… ABOB-nya (A Bunch of Baby) akan rilis mungkin…eumm seminggu lagi. Nantikan the next appa yaahh😀

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

22 thoughts on “From Paradise Lost

  1. DAPET NOTICED DI EMAIL KAK DIRA BUAT COUPLE INI, AKU SENANG TAK TERHINGGAAA >_____<
    ah, kenyataan itu bukan untuk dihindari, tapi melainkan untuk ditantang🙂 haha xD
    okeh ini komen mau nyaingin ficny😀 #menghilang

    1. keptong -_- sprti biasa..
      DAPET NOTICED DI EMAIL KAK DIRA BUAT COUPLE INI, AKU SENANG TAK TERHINGGAAA >_____<
      ah, kenyataan itu bukan untuk dihindari, tapi melainkan untuk ditantang🙂 haha xD
      okeh ini komen mau nyaingin ficny😀 #menghilang

  2. gilaaa! ini FF terpanjang yang pernah aku baca..
    aku suka jalan ceritanya…
    simple.. fluff lebih tepatnya..
    aku langsung tertarik sama cerita ini karna castnya favorit aku banget terus ku kira di sini mereka bakal pairing. ternyata mereka punya jodoh sendiri. tapi aku penasaran sama pairingnya baekhyun. aku kah? #digebukin reader lain.
    eh, warningnya benar – benar! ku kira mati. eeh, mimpi -.-
    author daebak!!

  3. FRIENDSHIP TILL THE END!!!
    aku suka banget sama genre nya dan ceritanya bagusssssss.alurnya nggak ketebak banget aku kir soojungnya mati.
    feelnya dapet banget kak dira. my fav!!! ♥

  4. adaw ;-; aku suka sahabat ini❤ pada akhirny kak dira ngeship kaisoo and… kaistal. yah cuma rela jongin sm ital krn ital juga bias adaw😄

    wkkk ini ceritanya menarik lebih keperjalanan dan rasa penasaran aku knp ital bs idup lgo_O
    knp ga diceritai walau baca ini 30 menit juga -_,-

    Tapi asli ini manis dan kim jongin ganteng '-')b /salah. Next ff🙂

  5. whyyyyyyyyyyyyyyy sooooooooooooooooooo………………….. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa unni aku nangis bacanya huakakakakk-_- kenapa ceritanya nyesek parah gini.. padahal happy ending hzhzhzhzhzhz. entah tapi persahabatannya bener bener kerasa banget. aduh aku ampe pilek gini jadinya kak dira wkwk. aku kira endingnya bakal sama baekhyun. lol.

    tapi kece ya mereka bareng bareng dari kecil gak ada rasa cinta gitu hehe. aku suka bangeeeeeeeeeeet sama ceritanya. ff kak dira yang friendship pasti persahabatannya ngena bgt<3 lol.

    keep writing! fighting!

  6. Huaaaa..epep nya panjang bener,Pegel da bacanya🙂,syukurlah bebek ku g mati,tp Q pikir mereka jadian terus nikah punya anak,taunya g😦,

  7. HUAAA, uri baekhyun am krystal,..
    untung deh akhirny mereka cm temenin,..
    hehe,..
    cba kristal am minhuk aj,.. ‘d’tampoganticouplel’
    tak kirain td krystalbakal mati atw eggak jdian am baekki,..
    eh, twny dy idup n b’syukur gk am baekhyun,..
    kan baekhyun cm u/ aq,.. ‘plak’
    hihi,.

  8. sebenernya aku kurang gimana gtu kalo member exo di pairing sama member GB, mending OC sekalian, knp?? klo member GB aku tau orng’y dan kalo sampe tau sifat asli’y bakal kebawa di ff’y dan malah kadang feel’y jd ga dpet…. bukan brmaksud ga suka sama ff mu dir, aku selalu suka ffmu… tp klo baca ad nama member GB, kadang bacanya harus ekstra, bangun imaginasi karakter cewe aga susah, jd intinya saia pecinta OC hahhahah
    kalo sama ide ff dan jalan cerita sih ga masalah, semua oke…
    aku malah mikir knp soojung malah sama kai, tak kira sama baekhyun nikahnya gtu, kn kebanyakan gtu hahahahah…
    brrti ini bnr” kesah persahaban sejati, ga ada unsur cinta ya….

    1. hihihi iya kok kak aku juga ngerti😀
      emang kalo tau sifat asli mereka dan kalo sampe kebawa bakalan susah banget mengenyahkannya dari cerita🙂 tapi aku juga punya kesulitan nih kak, setiap kali mau bikin cerita aku susah ngebayangin ceweknya kayak apa dan terkadang wajah2 para artis cewek ini membantu banget🙂 aku cuma bayangin mereka kayak artis lagi meranin cerita yang kubikin aja sih, tapi yaaa exo kebanyakan suka aku pakein OC kok, kayak si Lay sama Apple gitu, ato D.O sama Nara hehehe😀
      makasih ya kak untuk komennya hihihi aku seneng kakak bilang kayak gitu kok, jadi aku tau dimana letak kelemahan fic-ku :3

      oke makasih ya kak udah baca, dan yaaa ini friendship til the end, no romance (karena aku lagi gabisa bikin yg romance2 gituuh T.T) hehehe :**

  9. Ah sebel….
    Aku nangis dan terharu🙂
    Ini parah unn, mereka baru sekali di pairing-in tapi udah dapet gini chemistry nya🙂 ckckckck. Mereka emang cucoks deh jadi sobaaat huhu🙂
    Semua cuma mimpi?
    Omaigaat
    Mimpi yang sangat-sangat panjang ya hehe😛
    Aku udah banjir air mata dan mikir Soojong bakal sama Baekhyun eh…
    Mimpi dan Baekhyun sama wanita lain..
    Hoho jangan bilang cast wanitanya itu dirimu unn😛
    Dan dan dan, another kaistal? yuuuhuuu mereka emang cociks haha😀
    Jadi baekhyun sama Krystalnya itu sebenernya saat ini sudah tua gitu? hehe
    Aku seneng ceritanya panjaaang, seneng gimana mereka temenan tapi rasanya masih murni, seneng, seneng, seneng…
    Rokok itu pengalaman pribadi seseorang bukan unn?hehe
    Oke udah ah, keren🙂

    1. hihihih masa sih? aku malah sedikit merasa…cerita ini ngebosenin dan narasinya terlaluuuuu panjang, abis aku keasikan megan >.< aku keasikan nulis dan tiba-tiba ini udah enam ribu kata :"(
      tapi mungkin dialog2nya itu cukup membantu kali ya, dan haahh ini baekstal, aku gak nge-ship mereka sih, tapi aku suka sama mereka dan yaaa gabakalan bikin mereka cinta2an gitu hahaha😀 <<< gak terima
      tadinya aku mau bikin dia meniun, tapi jangan ah, aku gak tega (as always) dan aku gak pernah bisa menemukan nama OC yang pas untuk jadi istrinya baekhyun, masa aku harus nulis dira ya kan hahaha😀 (adanya eneg juga orang)

      iyaaaa ada kaistal😀 ai love them hehehe dan itu belum tua sih, si Moonkyu anaknya Krystal aja baru umur setaun hihi
      oohh kamu suka ceritanya panjang yaa? ini ff terpanjang ketiga setelah falling into pieces, missing you hehehe😀
      dan yang rokok itu…aku enggak ngerokok, tapi sahabat2ku iyaa haha

      okeh, megan, is there anything wrong with this?
      terima kasih ya udah baca megan😀

  10. abis baca ini jd inget pilem into the wild,,sama2 kabur dr dunia nyata bwt mencari ke sndiri /tsaah. Td ini uda bkin aku ampir mewek, kirain bkal mati eh trnyta masi sehat wal afiat xD. Endingnya jg bkin suprised, soojung kawin sama kai, baekhyun kawin sama aku, wohohoho /plakk
    lulu jg nongol seimprit ya walau jd hewan,,ahaha.. Aura friendshipnya krg kentara, malah aku ngerasa kalo ini kyk kisah cinta yg gak kesampaian,,ehehe

  11. Aku heran kenapa fic sebagus ini malah dpt sedikit comment😦
    demi apapun ya aku suka ini.. Sukaaaaa banget… Aku suka krna ini angst, bner2 bikin tegang pas baekhyun nelpon soojung trs kecelakaan uhh; aku suka krna ff nya emang bagus, aku suka krna ini terasa nyata, aku suka ini karena soo jung entah knpa akhir2 ini trtarik bngt sm dia, aku suka karena ini… BAEKHYUN?? Entah knpa akhir2 ini, sbnernya udah lama sih, aku lbh suka mikirin baekhyun, lbh suka baca fic ttg dia, lbh suka liat foto ataupun videonya, lbh suka bayangin sgla hal ttg baekhyun, dan ahh jd curhat kkk~
    sekali lagi aku bilang…. Aku suka ini .. Sangat sangat suka.. Angst fic is my style /elahh/ hahaha😀

  12. wow !! wow !! Ini ff 100 out of 100. nilai seeeempurna😀 i love this❤
    bagus pake banget loh kak. ciyus!!
    aku sampai terbawa suasana bacanya. waktu Soojung menuruni bukit terjal dg kceptan tinggi itu, aku juga ikut tgang dan panik.
    dan benar2 ngerasain yg nmax sesak waktu baca "Tak ada harapan" aah .. nggak tw kenapa aku diam2 brdo'a dalam hati "Tolong jgn mati. Jangan. pliiss" /lebay amat/ tapi beneran loh.
    aku sbg pmbca nggak ingin kisah prshabatan manis dan prjalanan seru mereka brakhir tragis kyk gitu /kan kasian/
    aku lega selega-leganya waktu tau klo ternyata Baekhyun cuma mimpi !! /dan syukur sesyukur-syukurnya untung kak Dira orangnya gak tegaan.hahaha/

    oh iy, I be in one's glory krn ini Friendship till end. mkasih kak sudah bkin cerita sbagus ini.

    Keep writing !! FIGHTING !!

  13. Aku suka ff ka dira yang panjang bingit siapa bilang ngebosin justru aku terhipnotis sama kata2 + tulisan ka dira . Ka dira berhasil mengaduk-aduk perasaan ku . Sumpah the best buat ka dira aduh makin cintah sma ka dira . Semangat ka dira apakah ff suzy sama tao lebih panjang dari ff ini . Saya seneng banget sama ff ituh . . Bagus banget ka dira fighting eonni🙂❤

  14. Aku kira baek bakalan bareng krystal. Nyatanya nggk eh krystal malah bareng kai, tapitapitapi istri baek siapa ya? Aku kah? #plakk ahahaha okey aku suka ini kak😀

  15. Cuma mimpi? Yaampun…
    Srsly, feel nya ngena banget pas baekhyun maksa untuk pulang tapi justru krystal nya nolak mentah-mentah. Dan adegan.. pas krystal kecelakaan itu nyesss banget, dada aku sampe sesak banget karena ngebayangin baekhyun yg nangis ditinggalin krystal😄

    NICE FIC! Menceritakan tentang persahabatan sejati ya :3

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s