Posted in Angst, EXO, Fanfiction, Romance, Sad

Missing You

Title : Missing You

Author : Hangukffindo

Artworker : Hiirah

Main Cast : Byun Baekhyun, Kim Yura (OC)

Other Cast : Park Chanyeol, Kim Jongdae, Kim Taeyeon

Length : 9000+ words (SCREAM!)

Rating: Pg-15

Genre : Romance, Angst!

Summary:

Apa yang dirasakan Baekhyun, bukanlah sekedar aku merindukanmu siang dan malam.

***


“Bawa yang itu. Bukan! Yang satunya lagi.”

Baekhyun menghela napas. Sudah berjam-jam dia berada di rumah ini, tubuhnya lelah, dia hanya tidur beberapa jam saja. Dia ingin, sangat, sangat menginginkan tubuhnya berada di atas kasur empuk di apartmentnya, menarik selimut dengan hujan yang mengguyur kota Seoul dan tidur tanpa memimpikan sesuatu. Apapun itu.

Mimpi itu selalu menghantuinya.

Seakan tak pernah habis dan membiarkannya tidur tanpa air mata menggenang.

Baekhyun menekan keningnya, berusaha mengenyahkan rasa pusing yang terus menyerangnya belakangan ini. Urat-uratnya berteriak meminta berisitirahat, namun apa daya yang bisa dia lakukan hanyalah berada disana, di rumah itu, menghirup debu beserta beberapa aroma menusuk di hidungnya. Andaikan ada sebuah alasan yang menariknya keluar dari sana. Namun…dia tidak bisa. Byun Baekhyun tidak bisa melangkah dari sana.

Ponselnya berdering, membuyarkan lamunan Baekhyun. “Halo?” Jawabnya, duduk di sofa berwarna merah.

Kau dimana?” Tanya orang diseberang sana.

“Rumah Yura. Aku sedang membereskan sisa barang-barang yang ada. Hghh…” helanya sambil membaringkan tubuhnya kebelakang. Rasa sakit menyerang tulang punggungnya dan Baekhyun berharap dia tidak berada dalam proses penuaan menuju umur 80 tahun, karena itu konyol. “Kau tahu…ini melelahkan, Chan.” Ada sedikit keraguan dalam suaranya, bercampur menjadi satu dengan rasa lelah, terbaca dari suaranya yang lemah.

Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Rumah itu tidak buruk, mungkin dindingnya ada yang retak, tapi Baekhyun selalu menyukai rumah ini. Model minimalis, bercat putih dan hangat.

Baek, jangan menyiksa dirimu.”

Baekhyun tidak mendengarnya. Dia masih terpana dengan ruang tamu itu. Menyentuh kain lembut yang membungkus sofa tempatnya berbaring, kenangan itu timbul lagi. Menyeruak ke dalam kepalanya…
“Lagi-lagi menyewa film yang tidak seru.” Yura memukul kepala Baekhyun dengan wajah cemberut. “Kau payah, Baek.”

“Kau bilang kalau film ini bagus.” Balas Baekhyun.

“Aku kan hanya melihat sinopsisnya, tidak menyangka akan seperti ini filmnya.”

Baekhyun mengalah. Gadis ini sangat cerewet. Dia duduk berjauhan dengan Baekhyun, menciptakan jarak yang besar di sofa merah menyala. Terus saja cemberut dan melipat tangannya, menatap lurus ke depan, mengacuhkan Baekhyun. Tidak ada senyuman. Melirik saja tidak. Tapi itulah yang menarik dari seorang Kim Yura, gadis berambut panjang dan berkulit pucat.

“Yura…” Panggil Baekhyun. Tidak ada respon. Baekhyun mendekatinya dan merangkul gadis mungil itu. “Sayang…”

“Jangan panggil aku sayang.”

“Ayolah. Aku janji akan membelikan film yang lain, oh, atau kita nonton bioskop. Asalkan jangan marah lagi” rayu Baekhyun, berharap dapat meluluhkan hatinya.

Yura menggeleng. “Selalu saja ingkar janji. Kau kan sibuk bekerja. Aku tidak mau!”

Baekhyun kehilangan kata-kata. Yura selalu luluh jika diajak nonton bioskop. Ya, memang dia akui belakangan ini banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Seorang arsitek selalu sibuk bukan?

“Oke, lalu kau mau apa, heh?”

Yura berpikir sejenak membuat Baekhyun gemas melihat tingkahnya yang terkadang seperti kanak-kanak di umurnya yang pertengahan dua puluh. Baekhyun bisa melihat bulu mata lentik dari sisi ini. Matahari terlalu mengekspos kulitnya dari luar jendela, namun itu adalah pemandangan terindah. Saat Yura berpikir keras.

“Kalau ditambah popcorn, aku tidak akan marah lagi.” Akhirnya Baekhyun bisa bernapas lega, dibarengi oleh gelak tawanya.

Tuh kan dia luluh hanya karena sebuah popcorn, batin Baekhyun. “Kau mau popcorn size besar? Akan kubelikan. Sekarang juga kita kesana?” Tanya Baekhyun, menatap Yura.

Yura menjauhkan diri dan memandang takjub kekasihnya itu. “Sekarang? Benar sekarang?” Ujarnya. Baekhyun mengangguk dan Yura langsung beranjak dari sofa.

“Aku akan segera berganti baju dan berdandan. Hitung sampai 100 detik. Oke?”

Baekhyun tertawa sambil membuka majalah. Ada seribu kupu-kupu merayapi kulitnya karena kegembiraan yang membuncah. Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menggoda Yura. “Kau yakin? Itu hanya 3 menit saja lho.”

Yura berhenti menaiki tangga dan berkata, “Baiklah 10 menit.” Lalu kembali berlari ke kamarnya.

Halo? Baek, kau masih disana?” Suara Chanyeol yang khas dan berat berhasil membuyarkan lamunannya. Baekhyun kembali berbicara, walaupun kini suaranya terdengar sangat pelan, hampir tidak terdengar jelas oleh Chanyeol. “Ya, ya…apa kau bilang tadi?”

Baek…” Chanyeol, sahabatnya menghela napas tidak sabar. “Ayolah, kawan, jangan menyiksa dirimu sendiri. Keluar sekarang juga dari rumah itu dan temui aku di cafe-ku.” Tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, dia menutup teleponnya.

Baekhyun memasukkan ponsel itu ke dalam kantung celananya. Sekali lagi berusaha mengenyahkan kenangan itu, namun tetap saja gagal.

Akhirnya dia pergi dari sana, dari rumah yang dia rancang untuk kekasihnya, Yura.

***

Seoul tampak mempesona. Baekhyun harus mengakuinya saat dia berkendara di siang hari, musik melantun lembut dan pria itu mengetuk-ketukkan jarinya di stir, mencoba mengikuti irama musik. Rasa kantuk masih menggantung, menyiksa Baekhyun sepanjang perjalanan, tanpa disadari, terkadang saat lampu merah menyala terang di sana, dia menutup matanya untuk beberapa detik sebelum melaju kembali.
Baekhyun menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe. Dia tidak langsung turun, membiarkan mobil tetap dalam keadaan menyala, menyandarkan kepalanya yang berat. Dia berdecak melihat cafe sahabatnya. “Aku seharusnya membuat ukiran di pintu masuk.” ujarnya menyesali cafe yang dirancangnya. Tidak ada yang salah. Café Park Chanyeol tampak sempurna, namun Baekhyun tidak pernah puas dengan apa yang dibuatnya. Pasti ada satu kesalahan.

Baekhyun ingin sekali tidur, mungkin jika Chanyeol tidak menyuruhnya datang, dia akan tidur di dalam mobil, menutup mata sejenak dan…

Baekhyun membuka mata. Jantungnya melonjak hampir keluar dari mulut ketika melihat Chanyeol berada di depan pintu masuk. Dia menyilangkan tangan di dada, menatap Baekhyun tajam. Baekhyun pun segera mematikan mobil lalu pergi keluar.

“Hai.” Sapanya berusaha tersenyum, walau dia tahu dirinya pasti terlihat aneh.

Chanyeol tidak tersenyum, masih memberikan tatapan dingin. Menurut Baekhyun, Chanyeol mempunyai wajah yang lucu, juga kuping besarnya yang menjadi bahan lelucon sedari mereka kecil. “Kau mau tidur di dalam mobil yang menyala? Apa kau sudah gila?”

Baekhyun memaksakan diri untuk tertawa. “Oh ayolah, kawan, aku masih waras. Hei, aku mau kue tiramisu dan segelas kopi. Apa ada orange pudding?” Ujar Baekhyun sembari masuk ke dalam cafe tanpa mengacuhkan Chanyeol.

Chanyeol mengikutinya di belakang. Dia terus saja memperhatikan gerak-gerik pria bertubuh kecil itu yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Sepintar apapun Baekhyun berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, Chanyeol akan tahu apa itu. Dia tidak akan tertipu oleh trik-trik kecil Baekhyun. Baekhyun mungkin saja pandai dalam matematika dan fisika, namun berbohong bukan salah satu kemampuannya.

Pria mungil itu memilih kursi di sebelah jendela, tempat favoritnya saat ke cafe. Dia berkata bahwa hal ini akan memudahkannya untuk tahu saat hujan turun.
Pemandangannya lebih indah jika sedang hujan.
Chanyeol duduk disana. Baekhyun memesan apa yang dia inginkan lalu memandang ke luar jendela, Chanyeol tahu dia menghindari pertanyaannya. Dia tahu kemana arah pembicaraan ketika mereka memulainya, maka lebih baik berdiam, menatap kearah lain selain Chanyeol, berusaha keras tertarik pada mobil-mobil pengunjung di luar. Anehnya, suara Baekhyun terdengar datar dan sedih.

Namun Chanyeol sungguh tidak bisa menahannya. Dia tidak bisa melihat sahabatnya terus terpuruk dalam kesedihan. Kematian Yura yang tiba-tiba membuat Baekhyun seperti kehilangan seluruh jiwanya. Tidak ada senyuman atau canda tawa diantara mereka. Lebih banyak wajah sedih, walaupun Baekhyun berusaha menyembunyikannya, namun itu tampak jelas terlihat di kedua matanya. Chanyeol tidak pernah melihat sahabatnya mengalami kesedihan yang berlanjut seperti itu.

“Kau tidur berapa jam semalam, heh? Kau tampak kacau.” Ujar Chanyeol, membuat Baekhyun menyadari kehadirannya.

“Eummm…” Baekhyun bermain-main dengan vas bunga di hadapannya, masih tidak menatap Chanyeol. “Dua atau tiga jam mungkin.” Katanya perlahan.

Chanyeol tidak tahu apa yang harus dikatakan. Pantas saja wajah Baekhyun terlihat lesu, pasti karena memikirkan Yura. “Apa yang kau lakukan sampai tidur hanya beberapa jam seperti itu?”

Baekhyun mengangkat bahunya. “Hmm…kau tahu kan aku ini arsitek. Banyak projek yang harus kukerjakan belakangan ini. Menggambar, menghitung…membuatku gila.” Dia menunjuk Chanyeol menggunakan bunga plastik dari vas. “kalau tahu arsitek sesibuk ini, aku akan menjadi sepertimu saja. Membuka cafe, hidup senang dan tenang.”

Chanyeol diam saja saat Baekhyun menyelesaikan ucapannya. Matahari menerpa rambutnya yang kecokelatan, dia menaruh kepala di meja dengan dagu sebagai topangan. Chanyeol merasa melihat Baekhyun kecil, sangat sedih kejadian itu harus menimpanya.

“Baek…”

“Hmm?”

“Lupakan Yura.” Ujar Chanyeol yang tidak bisa menahan lagi.

Entah apa yang akan Baekhyun katakan, pasti bukan sesuatu yang enak didengar. Berulang kali Chanyeol menggunakan bahasa yang lebih halus dan Baekhyun tetap saja marah. Jika ada cara lain yang bisa dia lakukan untuk memberitahu apa yang seharusnya Baekhyun lakukan, Chanyeol akan melakukannya, berapapun harga yang dia harus bayar. Asalkan Byun Baekhyun dapat tertawa kembali. Dapat mengembalikan Byun Baekhyun  yang selalu ceria.

“Apa?” Tanya Baekhyun setengah melamun. Chanyeol membuka kacamatanya, memejamkan mata lelahnya sejenak, lalu kembali berbicara. “Lupakan Yura, tinggalkan rumah itu. Apa kau tidak mengerti? Itu hanya akan membuatmu semakin parah.”

Baekhyun menggeleng, masih dalam posisi seperti itu, padahal Chanyeol serius membicarakan tentangnya. “Kau tidak tahu rasanya, Chan. Aku bahkan tidak bisa membedakan antara rasa sedih atau senang.” Dia menguap besar sekali. “semuanya jadi membingungkan…”

“Itu karena sikap bodohmu, Baek. Yura telah pergi dan kau tidak bisa menerima kenyataannya. Buka matamu! Rumah itu sudah kosong! Tidak perlu kembali ke rumah itu!!” Chanyeol terus menceracau, Baekhyun malah menggeleng-gelengkan kepala layaknya anak kecil yang tidak mau mengerti.

“Hei, hei. Pelankan suaramu. Kau bisa membuat semua pengunjung kabur dari sini.”

“Aku tidak peduli, Baek. Aku hanya peduli denganmu sekarang ini. Kau hanya menyakiti dirimu sendiri dengan semua kenangan itu!” Dada Chanyeol naik turun karena emosi. Jika pria di depannya bukan seorang Baekhyun, dia pasti sudah memukulnya.

Baekhyun tertawa kecil. Terserah apa yang Chanyeol pikirkan. Mungkin dia akan berpikir bahwa orang ini gila, tapi Baekhyun sudah tidak mempedulikannya. “Park Chanyeol…” Gumamnya, tersenyum miris.

“Aku suka dengan kenangan itu. Tak ada satu pun kenangan tentang Yura yang menyakitiku.”

Tidak. Dia tidak berbohong. Yura adalah kenangan termanis dalam hidupnya. Ada kehidupan di kedua mata gadis itu, hingga dia tidak bisa mengalihkan pandangannya ke orang lain. Gadis itu bukan yang sempurna, tapi bersamanya adalah kenangan paling indah.

“Chan…” Lagi-lagi Baekhyun memanggil sahabatnya. “Kau tidak akan bisa berkata seperti itu jika jadi diriku. Gadis itu…” Baekhyun tersenyum seketika.

“Dia sangat cantik. Kau tahu, saat sehabis mandi, dia akan keluar dengan rambut setengah basahnya itu. Dia mengibaskan rambut panjangnya di depanku dan kau akan menghirup aroma madu yang manis.” Baekhyun mencoba mengingat masa-masa itu.

“Lalu ketika hari menjelang sore, kami akan berbaring di tempat tidur, berbicara tentang apa saja, apa saja yang kami inginkan. Kau juga tidak bisa membayangkan betapa cantiknya dia saat bercermin, mencocokan baju dengan sepatunya, bertanya beberapa kali padaku ‘apakah warna ini terlalu mencolok?’, ‘apakah cocok dikulitku?’, atau ‘apa aku terlihat gendut memakai baju ini?'” dia tertawa mengingatnya. “Saat dia berdandan di depan cermin, meletakkan lipstik, bedak, eyeshadow, semuanya dengan tepat dan itu membuatnya semakin cantik. Tidak, Chanyeol. Kau tidak bisa melupakan itu semua.” Wajah Baekhyun kembali sedih. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Chanyeol tidak tahu apakah dia menangis atau tidak, tapi ada pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya, yang membuatnya menyesal setelah itu.

“Dan sekarang…apa Yura ada disana? Berdandan, bercermin, memabukkanmu dengan pesonanya? Tidak, Baek. Kau tinggal bersama kenangannya, bukan dirinya.”

Baekhyun terdiam mendengar perkataan Chanyeol. Semua yang dikatakan sahabatnya itu hanya berintikan: tinggalkan rumah itu, lupakan Yura, jalani hidupmu yang normal.

Tidak! Baekhyun merasa dia tidak akan bisa melakukannya. Dia terikat, terpenjara! Apakah Chanyeol tidak mengerti??!!

Baekhyun menatap nanar Chanyeol. “Apa bedanya, Chan? Bagiku Yura selalu hidup dan selamanya akan seperti itu. Aku tidak akan pernah menemukan orang lain sepertinya—”

“Kau yakin?” Potong Chanyeol. “Bagaimana kau bisa mengatakan seyakin itu padahal kau tidak pernah keluar dari rumah itu! Kau tidak pernah melangkah dari kamar itu!!!” Teriak Chanyeol seperti orang gila. Ya, dia sudah gila melihat tingkah Baekhyun yang lebih gila darinya.

Semua orang menatap mereka. Chanyeol tidak mempedulikan tatapan mereka, dia hanya menatap Baekhyun di depannya. Ekspresinya tidak dapat ditebak, apa dia marah? Apa dia tersinggung? Apa dia sedih?

Tetap menunggu, mungkin ini terlihat seperti film bagi pengunjung cafe. Mereka berdua saling bertukar pandang, tidak ada yang berbicara. Chanyeol hanya mendengar deru nafasnya sendiri. Seketika itu dia merasa bersalah.

“Baek, maafkan…”

Namun Baekhyun sudah beranjak dari sana, berjalan seolah Chanyeol adalah lebah yang mengganggu.

“Sudahlah, Chan. Jangan ganggu hidupku. Kau tahu perkataanmu tidak dapat mengubah pendirianku.”

Chanyeol mencoba mengikutinya, namun pria itu melesat sangat cepat. Dia sudah berada di samping mobilnya dan berhenti untuk berbicara pada Chanyeol. “Kau tahu, aku kira kau adalah sahabat yang mengerti diriku sampai hal terkecil pun. Ternyata aku salah.”

“Baek…”

Baekhyun menahan dirinya untuk masuk ke dalam mobil, “Yura sudah menganggapmu seperti saudara sendiri. Dia menyayangimu dan kau tahu itu. Tapi…kau malah menyuruhku melupakannya? Kau orang paling jahat di dunia!”

Chanyeol mendekati mobil Baekhyun, kini posisi mereka berseberangan. “Aku juga menyayangi Yura, tapi sadarlah, Baek, dia sudah pergi—”

“Pergi, bukan berarti aku harus melupakannya!!” Sembur Baekhyun sebelum masuk ke dalam mobil dan menancap gas.

***

“Annyeonghaseyo, Kim Yura disini. Hari ini aku dan…” Yura mengarahkan kamera ke arah Baekhyun. “Pacarku yang tampan, Byun Baekhyun.” Dia berhenti sebentar untuk tertawa lalu melanjutkan bicaranya. “Kami berdua akan membuat sesuatu yang spesial. Apa namanya, sayang?”

“Kimchi spaghetti.” Jawab Baekhyun.

“Ya, kimchi spaghetti. Pasti sangat luar biasa…”

Baekhyun tidak bisa berhenti tersenyum menonton kembali rekaman itu. Ada gelembung-gelembung menggelitik kulitnya setiap kali dia melihat wajah Yura di layar televisi. Dia menyesal mengapa hanya merekam beberapa moment bersama Yura.

Untuk melupakan apa yang terjadi hari ini, hari yang baginya adalah hari paling konyol dalam sejarah hidup Byun Baekhyun, bertengkar dengan sahabat terbaik merupakan salah satu dari sejuta hal paling konyol di dunia. Baekhyun membeli popcorn dan soda, lalu memutar video rekaman yang ada di rumah itu, berbaring dengan santai di sofa merah. Betapa nyamannya menikmati hidup seperti merebahkan tubuhmu di sofa.

Video terus berjalan, cahaya berwarna-warni menari-nari di dinding, tapi dia malah berjalan ke arah dapur, tepat di belakang ruang tv. Suara Yura terdengar jelas dalam rekaman, namun seperti ada suara lain yang membawa Baekhyun ke dalam kenangan itu.

***

“Annyeonghaseyo, namaku Kim Yura. Hari ini, aku dan…pacarku yang tampan, Byun Baekhyun.” Yura cekikikan saat mengatakannya. ” Akan membuat sesuatu yang spesial. Apa namanya, sayang?”

“Kimchi spaghetti.”

“Ya, kimchi spaghetti. Pasti luar biasa, iya kan, sayang?” Tanya Yura terus menyorot kamera ke arah Baekhyun.

Baekhyun mengangguk pelan, berkonsentrasi pada bahan-bahan di meja.

“Katakan ‘ya’, Baek.” Bisik Yura sedikit keras.

“Ah, ya, tentu saja akan luar biasa.” Ujar Baekhyun tersenyum ke kamera.

Yura mem-pause kamera sejenak. Dia memperhatikan Baekhyun mempersiapkan segalanya dengan teliti. “Apa benar akan luar biasa?” Tanya Yura sedikit ragu.

Baekhyun menatapnya sekelebat lalu kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. “Tentu saja. Kyung Soo adalah chef terbaik, tidak mungkin memberikan resep yang biasa-biasa saja.” Ujarnya mengambil sekantung daging cincang dan menaikkan alis ketika melihat harga yang tertera disana. Wow, mahal juga daging ini.

Yura mengangguk sambil membantu membuka kantung daging menggunakan gunting. “Dimana dia sekarang?”

“Paris. Membuka restoran korean eropa disana. Aku rasa sangat laku.” Ujar Baekhyun.

“Tunggu…” Yura menggaruk kepalanya. “Chanyeol oppa pemilik cafe, Kyungsoo pemilik restoran di cafe, dan kau…” Dia memandang Baekhyun. “Arsitek?”

“Memang kenapa?”

“Kau tidak setia kawan. Mereka semua berada di jalur yang sama sedangkan kau mengambil jalan yang benar-benar berbeda.” Kata Yura menjulurkan lidahnya.

“Aku tentu setia kawan. Cita-cita mereka tidak akan terwujud jika aku tidak merancang tempat yang bagus untuk mereka.” Baekhyun bangga saat mengatakannya. Yura tersenyum dan mengacak-acak rambutnya dan rambut itu tidak akan pernah berantakan.

Yura kembali mengambil kameranya, menyalakannya sebelum menekan tombol start record. “Sudah siap?”

“Tunggu.” Baekhyun merebut kamera dari tangannya. Dia berlari ke kamar Yura, terburu-buru seakan ada gempa bumi yang mengharuskannya berlari seperti itu.

“Baek? Apa yang kau lakukan?” Tanya Yura melihat tingkah Baekhyun. Dia tidak mendengar jawaban, hanya bunyi langkahnya yang berjalan kesana kemari. “Kenapa sih dia?”

Lalu Baekhyun datang dengan nafas terengah-engah. Yura melihat sesuatu yang panjang seperti tongkat ditangannya. Baekhyun meletakkan tongkat penyangga didepan pantry dapur, menyetel kamera sedemikian rupa agar dapat menyorot mereka keseluruhan.

“Oke…” Dia mengatur napas. “Ayo kita mulai. Ini akan terlihat seperti acara tv.” Ujarnya tersenyum pada Yura.

***

“Oke, kau harus memotong bawang bombay ini. Hati-hati jarimu, sayang.” Baekhyun mendorong bawang itu kearah Yura.

Yura tertawa sambil mengelap matanya. “Aahh, aku menangis.” Kembali tertawa setelah menjauh dari potongan bawang itu. Baekhyun datang, juga tergelak melihatnya dan mengelap air mata Yura.

“Kau tidak apa-apa?” Baekhyun bertanya setengah tertawa. Yura tertawa keras dan menyeruakan kepalanya ke Baekhyun. “Kau jahat!” Dia berpura-pura akting.

“Oh, dagingnya, cepat masukan bawang bombaynya.” Baekhyun memasukan bawang ke dalam panci, namun tiba-tiba dia kebingungan. Dia mengacak-acak meja dapur.

“Kau mencari apa?” Yura menyeka matanya yang masih berair sambil mengikuti gerak-gerik Baekhyun. “Ada satu yang kurang. Dimana saus tomatnya?”

“Aku sudah mengambilnya tadi.” Ujar Yura ikut mencari kemana-mana.

“Kau yakin? Aku tidak melihatnya…” Baekhyun berhenti mencari, seperti yakin bahwa Yura tidak mengambilnya tadi di toko.

“Eumm…tunggu sebentar.”

Kamera mati.

Baekhyun tahu apa yang terjadi selama kamera itu mati.

***

“Halo, Kyungsoo. Ini aku, Baekhyun hyung. Aku membuat kimchi spaghetti dan lupa membeli saus tomat…” Baekhyun melirik ke arah Yura. Yura hanya bisa menunjukkan wajah bersalah. “Menurutmu, bisakah kami menggantinya dengan yang lain?”

Baekhyun mengangguk seraya mendengarkan Kyungsoo dengan seksama. Setelah itu, dia menutup telepon. Yura menatapnya, bertanya-tanya.

Baekhyun akhirnya tersenyum. “Tidak apa-apa. Kita bisa menggantinya atau…” Menarik napas dalam-dalam. “tidak menggunakannya sama sekali.”

“Oohh, tidak. Maafkan aku, Baek. Pasti rasanya akan aneh.”

***

“Tadaaa…kimchi spagheti sudah siap dihidangkan. Sayang, ini pasti enak. Kemarilah.” Baekhyun merangkul Yura sambil menunjukkan kimchi spagheti yang telah mereka buat.

Wajah Baekhyun tampak senang,.namun Yura tidak. Dia tetap saja menekuk wajahnya, menatap Baekhyun yang mencicipi makanannya.

“Eumm…ini enak.” Ujar Baekhyun. “Ayo, coba ini.” Dia hendak menyuapi Yura, namun Yura malah memeluk Baekhyun untuk menyembunyikan wajahnya.

Hal itu membuat Baekhyun tertawa geli, lalu dia berbicara pada kamera. “Pemirsa, kami lupa membeli saus tomat dan tidak menaruhnya disini. Tapi, sumpah, Yura, ini enak…”

Yura akhirnya mencicipi sesuap kimchi spagheti buatan mereka dan tersenyum.

“Sekian acara memasak kami. Aku Byun Baekhyun dan…”

“Aku Kim Yura.”

“Sampai jumpaaaa…”

***

Hari cukup cerah. Baekhyun mengendarai mobilnya ke cafe Chanyeol. Rasanya tidak enak jika harus bertengkar dengan sahabat terbaik yang dimilikinya. Maka itu dia segera kesana untuk berbicara dengan Chanyeol.

Baekhyun masuk kedalam cafe dan seorang pria berpakaian rapi mendatanginya. Dia tersenyum ramah pada Baekhyun, “Anda pasti Byun Baekhyun.” Baekhyun mengangguk perlahan, bertanya-tanya siapa dia dan bagaimana bisa tahu namanya.

“Perkenalkan, namaku Kim Jong Dae. Aku adalah manager cafe ini dan…” Dia mengeluarkan sebuah surat dari dalam kantung jas. “dia menitipkan ini padaku. Tuan Park sedang tidak disini sekarang.” Lalu Jong Dae memberikan surat itu pada Baekhyun.

“Apa ini?” Tanya Baekhyun. Jong Dae mengangkat bahu, tatapannya mencurigai Baekhyun. “Apa kau ada sesuatu dengan Tuan Park?”

Baekhyun memutar kedua bola matanya. “Aku ini sahabatnya. Jangan berpikir yang aneh-aneh, oke?” Kemudian sebelum pergi, Baekhyun berbalik untuk bertanya lagi. “Eumm kemana Chanyeol pergi?”

“Paris. Katanya mengunjungi seorang teman disana.”

Baekhyun berdecak kesal. “Seperti biasa, ada masalah dan pergi ke Kyungsoo. Apakah tidak bisa lewat telepon.” Gumamnya pada diri sendiri sembari berjalan keluar cafe.

“Hati-hati di jalan.” Ujar Jong Dae.

“Ya, ya terserah.”

Mobil melaju kencang.

***

Entah akan pergi kemana. Hari ini tidak ada projek yang harus dikerjakan. Baekhyun menyalakan lagu Yiruma dan pikirannya kembali ke saat pertama Yura menaiki mobilnya. Hari itu dia hanya mengenal Yura sebagai juniornya di kampus. Mengantarkannya pulang karena telah larut malam…

“Boleh aku menyalakan playernya?” Ujar Yura sesantai mungkin mencairkan suasana.

“Tentu.” Jawab Baekhyun. Lalu Yura menyalakan musik. Alunan piano terdengar lembut dan dia pun tersenyum. “Yiruma? Kau menyukainya?”

“Kau juga?”

Yura mengangguk senang. “Aku suka semua lagunya. Aku sering mendengarkannya saat membaca di.perpustakaan atau mengerjakan tugas.”

“Eh…” Yura berbicara lagi. “Kau tidak ngantuk kan mendengarkan lagu ini?”



Baekhyun kembali fokus menyetir. Lagu masih mengalun, dia ingat akan surat yang diberikan Chanyeol. Surat itu tidak terlalu tebal, tapi sangat membuatnya penasaran. Apa Chanyeol memberinya uang minta maaf? Tidak! Itu konyol dan tidak mungkin. Mereka bukan anak kuliahan lagi, mereka mempunyai pekerjaan yang layak dan tidak menginginkan hal-hal seperti itu. Semuanya sudah lewat.

Tiba-tiba Baekhyun menepi, mematikan lagu dan mengambil surat itu dari kantung baju.

Sejenak menatap surat yang terbungkus didalam amplop biru. “Hghh…apa lagi yang kau inginkan, Park Chanyeol?” Dia merobek pinggir amplop dan melebarkan kertas didalamnya.

Hei, sobat. Kau pikir seorang Park Chanyeol tidak akan pernah mengirimimu surat, bertingkah romantis seperti ini…

Baekhyun merasa Chanyeol yang dulu kembali. Sahabatnya yang konyol dan sering bertingkah bodoh. Dia kembali melanjutkan membaca.

Maafkan aku.

Astaga, sadarkah kau kalau aku tidak pernah mengatakan maaf saat berbuat salah padamu?Aku ingat pernah mematahkan pulpen kesayanganmu dan sampai detik ini aku tidak pernah meminta maaf padamu, karena kau selalu menganggap semua yang terjadi sudah berlalu dan menghilang. Aku tidak menginginkanmu untuk selalu menjadi orang yang seperti itu. Tapi entah mengapa…aku ingin Baekhyun yang seperti itu kembali lagi.

Baekhyun yang melupakan semuanya yang sudah berlalu dan hilang, lalu melanjutkan hidupnya lagi.

Maafkan aku.
Baek, aku mencemaskanmu. Aku terdengar seperti ibumu, tapi aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Aku hanya ingin membuatmu melepaskan semua yang membebanimu…

Dibawah itu ada sebuah kartu nama. “Kim Taeyeon?” Gumam Baekhyun membaca nama yang tertera di kartu nama.

Jangan membuangnya, oke? Temui dia sabtu malam di cafe-ku. Aku menyiapkan ruangan VIP untukmu.

Melangkahlah, Byun Baekhyun.

 

Baekhyun tertawa. Awalnya hanya tertawa kecil, lalu semakin tidak terkendali sehingga dia keluar dari mobil, merasakan angin menerpa wajahnya.

Baekhyun duduk di kap depan mobil, masih menggenggam surat itu. Dia menyeka air matanya. “Astaga, Chanyeol.” Baekhyun mengeluarkan ponsel dan menelepon Chanyeol.

Aku sedang berlibur. Tinggalkan pesan setelah rap-ku ini hahaha…piippp…”

“Ya, Park Chanyeol…” Baekhyun mengambil napas sambil memandang langit. Langit Seoul tidak pernah sebersih ini, dengan bintang-bintang berkedip-kedip di langit gelapnya.

“Apa kau sudah gila? Pertama kau melarikan diri ke Paris, ke-dua kau menulis surat, dan yang ke-tiga kau menjodohkanku?? Apa lagi yang akan kau lakukan setelah ini, heh?”

***

Rumah itu masih menyala, seakan ada penghuni didalamnya. Baekhyun melepaskan kemejanya dan mengganti dengan pakaian tidur.

Tidak. Hari ini dia tidak akan menonton video rekaman yang berkali-kali dia tonton. Atau pun memasak walaupun lapar menyerang perutnya.

Baekhyun masuk ke dalam kamar Yura dan menghempaskan tubuh keatas kasur. Itu adalah hal ternyaman nomor satu di dunia, tubuh yang lelah bertemu kasur empuk dan wangi. Dia bergelung disana seperti kucing, memeluk bantal dan memejamkan mata.

“Yura, Chanyeol sudah gila.” Bisiknya teredam bantal. “Dia…menyuruhku—” Baekhyun tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Dia merasa tidak enak, tidak nyaman mengatakan hal ini, takut membuat Yura marah, walau dia sadar betul bahwa gadis itu tidak akan melakukan apa-apa.

Karena…dia sudah pergi.

Namun Baekhyun tetap menganggap Yura memperhatikannya. Entah bagaimana caranya. Bersama wanita lain akan menyakiti Yura, lagipula dia juga tak sampai hati melakukannya.

“Yura…”

***

“Baek, siapa dia?”
Baekhyun menggeser kepalanya untuk berdekatan dengan Yura. Dia melihat orang di dalam foto yang ditunjuk Yura. “Ah, itu…Kim Minseok.” Jawabnya mengingat-ingat teman SMA-nya itu.

“Dia tidak satu universitas denganmu?” Tanya Yura lagi. Baekhyun menggeleng. “Entahlah, banyak yang bilang dia masuk sebuah perusahaan musik, menjadi trainee dan aku tidak pernah mengetahui kabarnya lagi.”

Lalu Yura membalik album foto masa SMA Baekhyun. Dia menemukan seseorang yang menarik perhatiannya. “Oh, ini—” Dia menunjuk seorang laki-laki berkulit putih dan tampan. “Wufan? Astaga, kau satu sekolah dengan penyanyi Wufan, Baek!!” Pekik Yura tidak percaya.

Baekhyun tertawa bangga. “Hei, kami teman dekat. Lihat ini, tangannya merangkulku akrab.” Tunjuk Baekhyun memperlihatkan keakrabannya dengan artis ternama itu.

“Dan sekarang kau tidak berteman dengannya?” Yura menyesali hal itu.

“Dia artis, sayang. Sulit untuknya berteman dengan kalangan orang biasa. Padahal aku tidak kalah tampan.” Perkataannya membuat Yura menjulurkan lidah dan tergelak, walaupun ya, Yura sudah menganggap kekasihnya ini seperti artis bagi dirinya sendiri.

“Dimana Chanyeol oppa? Dia tidak sekelas denganmu?” Yura membalik-balik halaman album, bingung karena tidak dapat menemukan foto Chanyeol.

“Itu…” Baekhyun tersenyum. “Chanyeol mengalami kecelakaan tepat sehari sebelum pengambilan foto kelas. Dia dirawat di rumah sakit dan kami tidak bisa berfoto bersama di album ini. Padahal kami sudah merencanakan beberapa pose konyol.” Jelasnya.

Yura mengerucutkan bibirnya. “Sayang sekali, kasihan dia. Pasti sangat menyesal tidak bisa melakukan pemotretan.”

“Tidak, tidak juga.” Potong Baekhyun membuka dua halaman paling belakang. Disana ada foto tempelan mereka berdua, berpose konyol bersama Chanyeol dengan baju rumah sakitnya, juga Baekhyun masih memakai seragam. “Sehabis pulang sekolah aku segera ke rumah sakit dan berfoto bersamanya. Kau tahu, dia adalah anak yang tidak ingin dibuat sedih. Dasar manja.” Yura tertawa dan menutup album itu. Dia teringat sesuatu.

“Sayang, foto-foto kita saat di Jeju island sudah dicetak?” Pertanyaan Yura membungkam Baekhyun seketika juga. Dia menatap Yura dengan mata memelas.

“Baek…”

“Aku lupa. Memorinya ada di kantorku dan aku sangat, sangat, sangat sibuk minggu ini, sayang.” Jelas Baekhyun cepat-cepat. Yura masih memberikan tatapan itu padanya. “Oke, oke, aku akan menelepon asistenku untuk mencetaknya sekarang dan mengirimnya kesini. Oke?”

Baekhyun hendak mengeluarkan ponselnya, namun Yura menahan tangan itu. Dia mencium pipi Baekhyun beberapa detik hingga Baekhyun bingung. Ada rasa kaget juga senang, tapi kebingungan jelas mendominasi. Terkadang Baekhyun menemukan gadis itu lebih cantik dalam jarak sedekat ini dan aroma tubuhnya yang wangi membuat Baekhyun melayang.

“Apa?” tanya Baekhyun menatap kedalam manik mata gadis itu, mencari alasan mengapa mendadak dia menciumnya.

Yura tersenyum. “Tidak. Hanya jangan terlalu memanjakanku, Baek. Kau tahu akibatnya kan?”

Baekhyun tergelak, dia memeluk Yura erat-erat. Sinar mentari sore masuk ke dalam kamar lewat jendela yang terbuka. Tirainya yang putih melambai tertiup angin. Aroma theraphy yang menguar jelas memperhangat suasana diantara mereka.

“Memang kenapa kalau aku terlalu memanjakanmu? Kau kan pacarku.” bisik Baekhyun menghirup aroma tubuh Yura yang menyenangkan.

“Seperti ini…” Yura membalas pelukan Baekhyun. “Akan menempel seperti siput.”

“Kita sepasang siput yang romantis.” Tambah Baekhyun kembali tertawa. Setelah itu mereka terdiam, mendengarkan nafas satu sama lain. Baekhyun memainkan rambut panjang Yura, sedangkan jemari kaki mereka bermain dibawah sana.

Tak pernah bosan melakukan hal ini sepanjang sore, setiap harinya. Segala sesuatu yang membebani pikiran akan menghilang begitu saja terbawa angin keluar dari kamar, meninggalkan dua makhluk untuk menikmati mentari sore dan angin yang lembut bertiup di kulit mereka.

Mata Baekhyun hampir terpejam ketika tiba-tiba Yura beringsut melepaskan diri dari pelukannya. “Hei, ada apa?” Tanya Baekhyun melihat Yura tampak seperti orang kebingungan. Dia mengecek jam di ponsel dan langsung berlari membuka lemari pakaian.

“Aku baru ingat, hari ini Hyewon mengajakku menonton pertunjukkan drama theater.” Jawabnya sambil mengaduk-aduk pakaian yang tergantung disana. “Aduh, dimana dress hitamku?”

“Pertunjukkan drama theater? Kau pergi kesana sendirian?” Baekhyun duduk di tepi tempat tidur, menonton kekasihnya panik mencari baju.

“Hanya ada satu undangan, sayang. Memang Hyewon pelit.” Yura mengambil beberapa dress dan menaruhnya di tempat tidur. “Aku tidak menemukan dress hitam itu. Apa yang harus kukenakan?” ocehnya pada diri sendiri. Lalu dia menempelkan dress satu persatu ditubuhnya dan bercermin. “Baek, apa ini terlalu mencolok?”

Belum sempat dijawab, Yura membuang baju itu ke lantai dan mengambil yang lain. “Ini, ini, bagaimana dengan yang ini?” Dia berputar sekali. “Aku terlihat gemuk sepertinya. Apakah timbanganku benar-benar naik?” Terselip nada ngeri dalam suara Yura.

Baekhyun menggeleng. Dia mengerti betul bagaimana kebiasaan Yura. Baekhyun memilah-milah baju didalam lemari dan mendapatkan dress berwarna kuning muda dengan sweater putih. “Bagaimana dengan yang ini?”

Yura menoleh padanya, dia langsung menyambar baju itu dan menempelkan pada tubuhnya. “Eumm…apa ini tidak terlalu mencolok untuk acara malam?”

Baekhyun menggeleng. “Kau cantik memakai apa saja, sayang.” Ujarnya meyakinkan Yura. Sejenak gadis itu tampak tidak yakin, namun akhirnya…

“Oke, aku akan memakai baju ini. Terima kasih, tampan.” Yura mencubit pipi Baekhyun sebelum masuk kamar mandi.

5 menit

10 menit

20 menit

30 menit

Yura keluar dari kamar mandi memakai minidress berwarna kuning itu, belum memakai sweaternya. “Sayang, tolong tutup resleting di belakangnya.” Pintanya menghampiri Baekhyun, sementara dia mengoleskan lotion.

Baekhyun menyingkirkan semua rambut dari sana dan menaikkan resleting baju itu dengan perlahan agar tidak mengenai kulit Yura. Kulit itu begitu lembut, Baekhyun tiba-tiba saja menempelkan bibirnya di tengkuk Yura.

“Baek…” Yura memperingatinya.

“Maaf.” Bisik Baekhyun yang kini memeluknya dari belakang, dia suka menghirup aroma bunga bercampur madu, membiarkannya tersebar memenuhi kamar. “Apa kau pulang malam hari ini?” Tanya Baekhyun bermalas-malas dibahunya, Yura memperhatikannya lewat cermin.

“Mungkin. Tidak usah menungguku. Kau pulang saja, oke?”

Baekhyun menunjukkan wajah cemberut di cermin. “Payah.” Gerutunya. Yura tersenyum, dia membalikkan tubuh menghadap Baekhyun, mencium keningnya yang tidak tertutup poni. “Jangan marah. Besok aku akan menemuimu di kantor dan kita makan siang bersama. Setuju?”

Tidak bisa berbuat apa-apa, Baekhyun hanya bisa mengangguk dan membiarkan Yura berdandan.

Baekhyun memperhatikan Yura dari belakang. Dia selalu suka cara Yura menyapukan bedak pada wajahnya yang mulus itu, memberikan lipstik, merias kedua matanya dengan cantik, mempertegas mata indahnya dengan eyeliner, juga menyemprotkan parfum beraroma manis, bagaimana dia menyisir rambut panjang itu dan menatanya sedemikian rupa hingga menjadikan dirinya secantik bidadari.

“Aku pergi, sayang.”

***

Tok…tok…tok

Seseorang mengetuk pintu ruangan Baekhyun. “Ya, masuk.” Jawab Baekhyun membuat dirinya terlihat sibuk karena, ya, semenjak tadi yang dilakukannya hanyalah melamun dan melamun.

Seorang gadis yang diketahui adalah asistennya melongokkan kepala dari pintu. “Kau tidak marah kan kalau aku masuk?” Ujarnya takut-takut, karena beberapa hari ini Baekhyun sering marah-marah tanpa sebab yang pasti.

“Marah? Tentu saja tidak. Ada apa?”

Gadis mungil itu masuk ke dalam ruangan, tidak langsung berbicara, malah memilin-milin tangan di depan Baekhyun.

Baekhyun memandangnya lewat kacamata. “Apa yang ingin kau katakan? Apa ada klien?” Namun Baekhyun tidak melihat ada siapa-siapa diluar. Lagi-lagi menatap curiga gadis ini karena dia masih saja terdiam. “Kau mau apa, heh?”

“Tunggu!” Pekiknya tiba-tiba. “Aku harap oppa jangan marah. Janji?” Dia mengulurkan tangan untuk berjabat. Baekhyun merasa aneh namun dia menjabat tangan asistennya. Sang asisten pun bernapas lega.

“Oppa, aku mau ijin pulang lebih cepat hari ini. Boleh ya?” Ucapnya sedikit memelas dan berharap agar Baekhyun membiarkannya.

“Memang kau mau kemana?”

“Oppa…aku mau kencan dengan pacarku.” Ucapnya malu-malu. Baekhyun mengangguk paham. “Ini kan sabtu malam, oppa.” Lanjutnya dan Baekhyun teringat sesuatu.

“Ini sabtu malam?”

“Ya, sabtu malam.” Ulang gadis itu.

Baekhyun membuka laci meja dan melihat amplop biru pemberian Chanyeol. “Sial.” Umpatnya perlahan.

“A-apa?” Ternyata si asisten mendengar dan takut Baekhyun akan marah lagi.

Setelah satu menit terdiam, akhirnya gadis itu berbicara. “Oppa, bolehkah aku pergi sekarang?” Tanyanya. Baekhyun tidak menjawab, hanya memberikan satu anggukan dan dia pun berlari keluar ruangan, meninggalkan Baekhyun yang melamun.

Pikirannya melayang jauh. Baekhyun menghela napas beberapa kali, pikirannya seolah buntu, dia merasa berada di dalam kegelapan, memohon sebuah cahaya untuk menuntunnya.

Amplop biru itu seolah menunggu…
Menunggu responnya. Satu tarikan napas dan Baekhyun menyambar amplop, lalu bergegas keluar ruangan.

***

Baekhyun bercermin di depan kaca besar kamar apartementnya lama sekali. Bukan karena berdandan, namun lebih tepatnya bingung. Dia baru saja mandi, membiarkan air hangat menyentuh setiap inci kulitnya, melemaskan setiap saraf yang tegang, dan membasahi ujung rambutnya sampai ujung kakinya.

Kekhawatiran memenuhi kepalanya, seolah akan meledak dalam tiga detik. Dia menutup mata, menempelkan dahi di cermin, lalu menatap wajahnya yang lesu.

Chanyeol benar. Aku tampak kacau. Batin Baekhyun menyentuh kulit wajahnya, kusam dan menyedihkan. Tapi segera fokus dengan apa yang sedang dia ingin lakukan saat ini.

“Aku pasti sudah gila. Aku tidak mungkin pergi ke cafe dan bertemu wanita itu.” keluh Baekhyun duduk di tempat tidur. Dia sudah berpakaian rapi, hanya tinggal pergi ke tempat parkir, menyalakan mobil, dan pergi.

Tapi dia masih disana dilingkupi suasana kegalauan.

“Tidak, tidak.” Dia menggeleng dan membuka kancing kemejanya. “Park Chanyeol, kau bisa melakukan apa saja tapi tidak ini. Selama aku berpacaran dengan Yura, tidak pernah sedetik pun aku memikirkan wanita lain. Apalagi bertemu dengannya. Tidak, aku pasti sudah gila.”

***

“Selamat malam, ahh…Tuan Byun, apa kabar?” Jong Dae membukakan pintu cafe dan kaget melihat Baekhyun berdiri disana. Rambutnya sedikit berantakan, juga terengah-engah. Kemeja biru muda yang dikenakan tampaknya belum disetrika atau apapun yang terjadi padanya, demi EXO planet yang tidak ada, Baekhyun sangat berantakan. Kedua matanya tidak fokus hingga Jong Dae sedikit ngeri melihat Baekhyun.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Ya.” Baekhyun menggoyangkan tangannya cepat. “Bawa aku ke ruangan V.I.P itu. Cepat, cepat sebelum aku berubah pikiran.” Dia mendorong Jong Dae, lalu mereka berjalan ke lantai atas café, setengah berlari. Walaupun Baekhyun juga tidak tahu mengapa dia harus berlari seperti itu, mendorong Jong Dae agar mereka dapat cepat sampai disana. Apakah dia benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu?

Ruangan V.I.P milik cafe Chanyeol tidaklah terlalu besar. Hanya ada beberapa meja dan kelihatan nyaman serta eksklusif. Baekhyun celingukan kesana kemari, begitu juga dengan Jong Dae.

“Tidak ada orang disini.” Kata Baekhyun. Jong Dae menggeleng, “Tidak, dia seharusnya ada dimeja paling ujung. Ah, itu dia.” Jong Dae menunjuk ke arah dalam, Baekhyun menyipitkan mata, tidak bisa melihat dengan jelas. Namun lama kelamaan dia melihat seorang wanita berjalan ke satu meja paling ujung.

Dadanya bergemuruh, ditambah lagi oleh perkataan Jong Dae. “Itu tamu, Anda. Aku akan menyuruh pelayan membawakan minuman untuk kalian.” Ucapnya sambil mengumbar senyum lalu pergi meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun melangkah masuk. Tidak! Mereka hanya berdua di dalam ruangan ini. Kemana semua pelanggan? Kenapa hanya ada mereka berdua? Panik mendera dan ini lebih parah daripada menghadapi ujian menggambar atau apapun itu, semuanya parah. Baekhyun tidak yakin bahwa ini adalah ide yang bagus.

Ini gila! Haruskah aku keluar dari sini? Batin Baekhyun memikirkan kesempatan yang ada karena wanita ini belum melihatnya.

Baekhyun mengambil napas dalam-dalam, bersiap untuk melangkah keluar, namun…

Wanita itu memandang keluar jendela dengan tangan terlipat. Dia tampak bosan, tapi tidak selangkah pun dia ambil untuk pergi dari sana, padahal dia sudah cukup lama menunggu.

Baekhyun tak sampai hati. Mungkin dia seharusnya tidak melakukan ini, terus memikirkan Yura sampai akhirnya tidak ada yang dia pikirkan. Tiba-tiba semuanya kosong dan membawa Baekhyun pada wanita ini.

Dia melangkahkan kaki perlahan, menghampiri wanita itu. Tidak bisa mengubah pikiran, pergi kabur dari sana karena wanita berambut pendek sebahu telah melihatnya.

Tak ada senyuman, hanya ada tatapan yang menyorot Baekhyun. Namun tidak memberikan kesan dingin. Hanya…

Polos.

“Hai.” Suara Baekhyun terdengar sedikit bergetar. “Kau Kim Taeyeon?”

“Hai. Benar aku Kim Taeyeon dan kau…” Suaranya benar-benar lembut dan enak didengar.

“Aku Byun Baekhyun, teman Park Chanyeol pemilik cafe ini.” Sambung Baekhyun sedikit terburu-buru.

“Oh!” Wanita bernama Taeyeon itu tertawa kecil. Dia mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan. “Maaf aku sampai tidak menyadarinya.” Ujar Taeyeon tersenyum.

Lalu mereka berdua duduk. Suasana kaku menyelimuti keduanya, namun Baekhyun tiba-tiba berbicara. “Maaf membuatmu menunggu lama. Itu…aku banyak sekali pekerjaan.” Jelasnya dan Taeyeon hanya tersenyum, lalu mereka terdiam lagi. Baekhyun dapat menangkap bahwa wanita ini pemalu. Dia terus saja tersenyum dan menunduk memperhatikan jemarinya.

“Kau…teman Chanyeol?” Baekhyun kembali bertanya.

“Bukan, aku sepupunya.” Jawab Taeyeon membuat Baekhyun membentuk huruf ‘o’ dimulutnya.

“Chanyeol tidak pernah cerita dia punya sepupu bernama Taeyeon.” Lanjut Baekhyun ketika pelayan membawakan sebotol champagne.

Taeyeon tertawa sambil memperhatikan champagne yang jatuh  mengalir ke gelasnya. “Aku sekolah di Amerika, jadi mungkin dia tidak pernah bercerita tentangku. Kudengar kau sahabatnya sejak kecil.”

Baekhyun meminum champagne dan mencoba menemukan posisi duduk yang nyaman. “Ya, begitulah kami. Konyol, bodoh, bertingkah kekanak-kanakan sampai sebesar ini.” Taeyeon tersenyum, dia tidak meminum champagnenya. Hanya memandangi gelas itu. “Eumm sebenarnya aku tidak bisa minum champagne.” Ujarnya perlahan, mungkin dia malu. Baekhyun hampir tersedak, “Apa kau mau menggantinya dengan minuman lain?”

“Tidak, tidak. Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.” Senyuman itu kembali tersungging, Baekhyun tidak bisa menghitung berapa kali dia tersenyum karena lebih banyak senyuman daripada kata-kata yang dikeluarkan dari mulut wanita ini.

Mereka kembali ke suasana ganjil. Baekhyun tidak tahu apa yang harus dikatakannya, tidak tahu topik apa yang menyenangkan untuk dibicarakan, lagipula wanita ini sepertinya menikmati suasana dimana tidak ada pertanyaan yang terlontar dan tidak ada jawaban yang keluar.

Ada sesuatu yang aneh disini. Baekhyun menatap wanita berhidung mancung didepannya. Bukan sosok yang mengerikan seperti apa yang dipikirkannya sebelum datang. Bukan juga sesosok wanita penggoda yang memakai dandanan berlebihan.

Dia hanya wanita sederhana. Baekhyun melihat dia tidak memakai high heels, dia lebih memilih flatshoes hitam dipadukan dengan dress biru muda bermotif bunga. Dia juga memakai make up tipis di wajahnya, cocok dengan image pemalu itu.

Baekhyun tersadar dari lamunan dan berdeham cukup keras hingga Taeyeon menatapnya. Baekhyun hendak mengambil botol champagne di dalam wadah kecil itu, namun jarinya malah mengenai pinggiran wadah dan membentuk sebuah luka yang cukup besar.

“Aww…” Baekhyun tersentak menjauhkan jarinya dari sana. Darah segar mengalir dan Taeyeon yang melihatnya langsung bertindak cepat. Dia mengambil serbet dan menekan jari Baekhyun. “Tekan yang kuat untuk menghentikan pendarahannya.” Sementara dia mengaduk-aduk isi tas.

“Apa jariku sobek?” Tanya Baekhyun yang ngeri melihat serbet putih itu dengan cepat memerah karena darahnya.

“Tidak. Tapi kurasa cukup dalam.” Taeyeon duduk di samping Baekhyun menekan serbet beberapa lama, kemudian saat yakin pendarahan telah berhenti, dia memberi obat.

“Aww!!” erang Baekhyun menarik tangannya, namun dengan lembut Taeyeon menarik kembali dan mengobatinya. “Maaf ini memang sedikit sakit.” Ujarnya terdengar seperti bisikan.

“Tidak, tidak. Aku yang bodoh. Hgh…bagaimana ember konyol itu dapat melukai jariku?!” Omelnya membuat Taeyeon tertawa.

Setelah itu, Taeyeon membalut jari Baekhyun dengan perban putih.

“Kau sekolah apa di Amerika?” Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba Baekhyun bertanya seperti itu saat Taeyeon sedang berkonsentrasi pada jarinya.

“Kedokteran.” Jawab Taeyeon singkat. Jemarinya terampil dalam hal ini. “Oh pantas, kau merespon dengan baik.” Baekhyun kembali bicara membuat Taeyeon tersenyum manis padanya. Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi, tapi senyuman Taeyeon cukup membuatnya pusing atau bagaimana bisa pipi itu berwarna merah muda menyegarkan seperti kelopak di musim semi dan Baekhyun menyukainya.

Detik-detik dimana mereka berdiam diri, Baekhyun tidak menemukan objek yang lebih ingin dia lihat. Hanya Taeyeon objek terindah. Bulu matanya yang lentik bergerak setiap kali berkedip dan sekali lagi Baekhyun menyukainya. Tangannya yang lembut bertemu dengan kulitnya, mengirim rasa yang luar biasa, membuat Baekhyun merinding, dan Byun Baekhyun menyukainya.

Taeyeon semanis madu, Taeyeon secantik bunga di musim semi, Taeyeon seindah musim gugur, atau Taeyeon secantik apapun yang ada didunia ini.

“Terima kasih.” Mata mereka bertemu.

Seakan waktu berhenti, mereka mematung seperti itu beberapa detik, hingga Baekhyun maju mendekati Taeyeon, semakin menipiskan jarak diantara mereka, hingga napas mereka terdengar melantun perlahan.

“Ya…terima kasih.” Gumam Baekhyun semakin mendekatkan wajahnya pada Taeyeon, dia bisa melihat bulu matanya yang lentik, bibir yang kissable, memakai lipbalm yang dipakai mengeluarkan aroma cherry yang manis, serta bulu-bulu halus di pipinya.

Tangan Baekhyun yang tidak sakit secara spontan menyentuh pipi Taeyeon. Mereka semakin dekat, sampai Baekhyun mencium aroma itu…
“Aku suka parfummu. Apa yang kau pakai?” Bisik Baekhyun mengecup pundak Yura yang tidak tertutup rambut panjang itu.

“Kenapa? Kau suka?” Tanya Yura sambil menyisir rambut di halaman belakang rumah. Baekhyun tidak menjawab, membiarkan bibirnya menempel disana sekaligus dimanjakan oleh aroma manis dari parfum yang digunakan Yura.
“Yura.” Nama itu meluncur mulus dari mulut Baekhyun. Dia tersadar tepat saat Taeyeon membuka kedua matanya, semburat rona merah muda menghiasi pipinya.

Baekhyun menjauhkan diri dari Taeyeon, dia tahu persis apa yang barusan dia katakan.

Mengapa? Mengapa kenangan itu kembali lagi??

Baekhyun langsung berdiri dengan kepala sedikit pusing. Dia menatap Taeyeon yang kebingungan, wanita itu kehilangan akalnya dan terpaksa Baekhyun harus mengatakan ini,

“Maafkan, aku, Taeyeon.” Lalu dia pergi meninggalkan wanita itu.

***

Malam itu terasa panjang bagi Baekhyun. Bahkan jalan yang sering dia lewati ini seakan menantangnya agar memacu mobil secepat mungkin. 120 km/jam masih dirasa kurang, Baekhyun menginjak pedal gas dan mobil silver itu berlari kencang.

Perasaannya kacau, tidak ada kata-kata yang mampu dia katakan dalam hati, hanya bisa meneteskan air mata. Menyesali apa yang dilakukannya beberapa menit lalu. Dia masih ingat betul aroma parfum itu, aroma bunga yang disukainya setiap Yura menyemprotkannya ke tubuh.
Namun…
Itu sudah lama berlalu. Baekhyun tidak ingin mengingatnya, sungguh tidak mau kenangan tentang Yura kembali lagi. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia begitu kacau dan tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba dia merasa kasihan pada Taeyeon, tapi rasa bersalahnya pada Yura lebih besar, menghilangkan bayangan wanita berbaju biru.

Enyahlah, enyahlah… Baekhyun memukul kemudi beberapa kali, kini air mata membasahi wajahnya yang penuh rasa sakit. Rasanya udara malam itu mulai menipis, Baekhyun tidak bisa bernapas dengan lega.

Malam semakin gelap, tidak banyak mobil berkeliaran di jalan, memudahkan Baekhyun untuk terus mengendarai mobil sesuka hati. Dia baru saja melewati apartementnya, tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini.

Mobilnya berhenti di tempat yang familiar. Baekhyun bahkan bisa mencium aroma cat saat rumah itu baru saja selesai dibangun.

“Sayang, aku suka warna dindingnya…”
Baekhyun terhuyung keluar dari mobil sambil menutup telinganya. Dia terus menangis keras saat memasuki rumah.
“Kau yang pilihkan lampu itu?”
Baekhyun terjatuh di ruang tamu, dia mencium karpet berdebu di depan hidungnya. Lampu bersinar terang di atas kepala. “Berhenti…tolong hentikan…”
“Baek, apa kita harus membeli meja lagi?”
“Yura, hentikan…” Baekhyun berusah berdiri, namun lagi-lagi dia terjatuh. Tangannya memegang sofa erat-erat agar dapat berdiri, namun semakin membuatnya kacau…
“Terima kasih, Baek, telah membangun rumah ini untukku…”
“Hentikan, Yura! Hentikan, hentikan!!! Berhenti masuk ke dalam hidupku!! Berhenti membisikkan kata-kata di telingaku!!” Teriak Baekhyun langsung berlari ke lantai atas. Setiap kenangan begitu jelas menerobos kepalanya. Dia mengingat betul rupa Yura, bagaimana aromanya, juga lembut kulitnya, hingga helaian rambutnya yang berwarna hitam.

Setiap kenangan menyakiti Baekhyun, seakan bisa membunuh dirinya. Baekhyun menjatuhkan semua figura yang tertempel di sepanjang dinding, begitu juga vas bunga di meja. Semuanya berjatuhan ke lantai dan menciptakan bunyi yang mengerikan.
“Baek, aku ingin kau tahu…”
“Berhenti bicara, Yura!!” Baekhyun menutup telinganya, namun usaha itu sia-sia. Langit berubah kembali menjadi siang yang terik.
“Dengarkan aku, Baek…”
Baekhyun menggeleng cepat. Dia terus berjalan ke arah kamar, setengah menutup matanya yang basah. Dia merasakan sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya…

Angin segar yang menerpa kulit, aroma bunga yang memanjakan…
“Byun Baekhyun, aku mencintaimu.”
Langkahnya terhenti di depan kamar Yura. Pintu terbuka lebar dan keadaan bukan seperti yang sekarang. Baekhyun tidak melihat malam yang menyedihkan, juga bukan kesepian yang dirasakannya.

Baekhyun menggeleng, mengerjapkan matanya hingga air mata menetes.

Itu tampak nyata…
“Yura…”

Gumam Baekhyun melihat seorang wanita sedang berdiri di dekat jendela. Rambut panjangnya tergerai, melambai tertiup angin.

Baekhyun berjalan perlahan memasuki kamar. Udara hangat menyambut kedatangannya, begitu juga wanita itu. Dia memakai baju merah muda panjang semata kaki, lengannya yang putih tidak tertutupi kain, bebas terekspose sinar matahari. Dia melengkungkan senyuman indah dan menyuruh Baekhyun mendekat.

Baekhyun pun berjalan mendekatinya. Diam-diam mencubit tangannya, bertanya dalam hati apakah ini sebuah mimpi. Yura masih tersenyum, Baekhyun bersumpah tidak pernah melihat Yura secantik itu.

“Hei..” Yura mulai berbicara padanya. Dia menyibakkan rambut kebelakang, Baekhyun bisa melihat leher jenjangnya yang indah. Dia hanya beberapa langkah dari Yura, berhenti disana, menatap ke arah wanita cantik itu.

Yura tertawa kecil dan melangkah mendekatinya. Baekhyun menutup mata, namun tangan lembut Yura menyentuh pipinya perlahan dan berbisik,

“Baekhyun…”

Baekhyun membuka matanya dan Yura berada dekat sekali dengannya. Dia tersenyum, tetap membelai pipi Baekhyun. “Yura..” Bisik Baekhyun dengan suara paraunya, “Yura…” Panggilnya terus.

Yura mengangguk seakan mengerti perasaan Baekhyun. “Ya, Baek.” Suara itu, suara yang dirindukan Baekhyun selama ini terdengar bagai alunan musik, walaupun selama ini dia selalu mendengarkannya.

“A-apa…ini hanya mimpi?” Baekhyun bertanya, namun ingin dia menutup telinga dan tidak mendengar jawabannya.

Yura tersenyum hangat, dia tidak berkata apa-apa, hanya mengelus pipi Baekhyun dengan kedua tangannya. Tidak ada yang tersembunyi, Baekhyun seakan mengerti.

Dia menggenggam tangan Yura di pipinya, mencium tangan itu. “Jangan…jangan katakan.” Baekhyun kembali menangis seperti anak kecil, sesenggukan sambil memegangi tangan itu, seakan tidak akan pernah melepaskannya.

“Aku merindukanmu…” Isak Baekhyun membasahi tangan Yura dengan air matanya. “Kenapa kau meninggalkanku, Yura? Kenapa…” Tanyanya lagi. Namun Yura masih saja diam, dia terus tersenyum seolah tidak ada yang Baekhyun katakan.

Yura memeluk tubuh gemetaran pria itu. Baekhyun menghela napas saat Yura merengkuh tubuhnya. Inilah yang dia inginkan, yang dia rindukan, pelukan Yura yang menenangkan. Kerinduannya terlepas bagai tali yang mengekangnya selama ini. Baekhyun mencium aroma itu dalam-dalam. Yura mengelus rambut lembutnya dan dia lagi-lagi menangis.

***

Mereka seakan kembali ke salah satu dari sejuta potongan kenangan yang mereka miliki, dimana semua jendela terbuka, membiarkan matahari masuk ke dalam dan angin meniup lembut tirai-tirainya. Baekhyun berbaring di tempat tidur dengan Yura yang memandanginya.

Baekhyun memainkan rambut panjang Yura tanpa mengalihkan pandangannya. “Aku merindukanmu.”

“Aku juga merindukanmu, Baek.” Kali ini Yura berbicara sangat perlahan, terdengar seperti bisikan.

“Kenapa baru datang sekarang…” Baekhyun memeluk Yura. “Banyak sekali yang ingin kukatakan padamu.” Lanjutnya setelah beberapa detik.

“Kenapa kau membuatku menunggu dan menderita selama ini?” Tanya Baekhyun melepaskan pelukannya. Yura menatap ke dalam manik mata Baekhyun.

“Aku…” Dia tersenyum tulus. “Mendengar kau menyebut namaku setiap malam dalam tidurmu.”

Mata Baekhyun mulai memerah, dia menahan air mata itu agar tidak jatuh.

“Aku mendengar isakanmu, aku merasakan detak jantungmu, aku mendengar namaku terus kau sebut. Separah itukah kau merindukanku?” Tanya Yura.

Baekhyun mengangguk seperti anak.berumur 5 tahun yang kehilangan mainannya.

“Kau sangat mencintaiku?”

“Sangat.” Ujar Baekhyun sungguh-sungguh. Air mata berhasil mengalir saat dia mengedipkan mata.

“Kau tidak bisa melupakanku?”

Baekhyun menggeleng cepat dan mencium tangan Yura. “Aku tidak bisa melupakanmu, walaupun Chanyeol menyuruhku untuk melupakanmu. Aku tidak bisa, sayang.”

“Dia hanya ingin membuatmu bahagia.” Balas Yura merapikan rambut Baekhyun.

“Dia hanya memperparah keadaan. Dia jahat…” Baekhyun berhenti bicara karena Yura menutup mulutnya.

“Kau tidak boleh membencinya, Baek. Dia sahabatmu, sahabat yang baik ingin melihat sahabatnya bahagia.”

“Tapi dia…” Baekhyun menghela napas saat Yura menatapnya. “Yah…aku tahu dia bermaksud baik. Hgh…maafkan aku, Chan.” Baekhyun tersenyum sendiri merasa apa yang dilakukan Chanyeol terhadapnya terkesan ingin sekali membuat Baekhyun bahagia, kali ini dia baru menyadari semua itu.

“Termasuk wanita itu…” Yura berbicara menahan tawa, Baekhyun melotot karena kaget. “Kau seharusnya tidak meninggalkannya seperti itu.”

Baekhyun langsung duduk tegak dan menggenggam tangan Yura erat-erat. “Kau salah paham. Aku…aku tidak…Yura, aku…”

“Kenapa kau memperlakukannya seperti itu? Menurutku dia manis dan baik.”

“Yura.” Potong Baekhyun. “Aku bersumpah, tidak ada wanita lain disini.” Dia menunjuk dadanya. “Aku sangat mencintaimu. Walaupun mereka semua menganggapmu telah tiada, aku tetap mencintaimu.”

Yura tertawa kecil, mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Baekhyun menekankan bibirnya pada bibir Yura yang terasa manis. Baekhyun kembali meneteskan air mata, merasa lega semuanya terasa begitu menyenangkan ketika rasa rindu bertemu sesuatu yang bisa menyembuhkannya.

“Baek…” Panggil Yura saat mereka melepaskan diri, namun kening mereka saling bersentuhan. “Aku sedih setiap mendengar namaku disebut dalam tidurmu, aku tidak tega melihat air matamu.” Yura kini juga menangis, dia menyeka mata Baekhyun yang sembab.

“Kalau begitu…hentikan semua ini, sayang.” Ujar Baekhyun.

Yura menciumnya singkat, lalu berbicara, “Bagaimana caranya?”

Baekhyun tersenyum, mengelus punggung Yura dengan tangan kirinya, lalu dia mencium Yura dengan sepenuh hati.

 

***

“Hai, semuanya!!” Yura melambai pada kamera yang dipegang Baekhyun. “Hari ini aku akan menunjukkan sesuatu yang hebat pada kalian. Tutup mata kalian!” Yura menutup lensa, namun suaranya masih terdengar jelas.

“Baek, cepat kesini.”

“Aduh, pelan-pelan jalannya…”

Lalu Yura membuka lensa kembali. Dia melambai dengan ceria. “Tada!! Rumah baruku!!” Dia membuka tangan selebar mungkin menunjukkan rumah yang baru setengah jadi dibelakangnya.

“Aku baru saja membangun rumahku. Lihat, bagus kan?” Ujar Yura tersenyum lebar karena senang.

“Nona, boleh aku tanya sesuatu?” Suara Baekhyun terdengar walaupun sosoknya tidak tersorot kamera.

“Ya, tentu saja.” Jawab Yura menghalangi matanya dari sengatan matahari.

“Siapa arsiteknya? Siapa yang merancangnya?”

Sembur tawa keluar dari mulut Yura. Dia tertawa sampai memegangi perut. Kamera ikut bergetar, tidak dapat mengambil gambar dengan fokus. Lalu Yura hilang dari pandangan kamera, dia memutarnya hingga dapat menyorot mereka berdua.

“Pemirsa, inilah arsitek keren yang telah merancang rumahku. Iya kan, sayang?” Ucap Yura mencium pipi Baekhyun. “Tentu saja. Kita lihat ke dalam?” Tanya Baekhyun merangkul Yura. Yura mengangguk senang dan mereka pergi ke dalam rumah. Kamera hanya menyorot rumah di depan.

“Ini…ruang tamunya. Oh, annyeong.” Sapa Yura pada salah satu pekerja yang sedang mengecat dinding. “Warna dindingnya orange. Aku sangat suka jeruk dan Baekhyun memilihkan warna ini.”

Yura menunjuk lantai kosong disampingnya. “Disini akan ada sofa berwarna merah. Pasti akan bagus. Oh! Dapurnya…” Kamera mengikuti Yura yang berlari.kecil ke arah dapur.

Lantainya masih belum dipasang. Hanya ada meja kecil disudut. “Aku akan masak setiap hari disini.”

“Kau bisa masak?”

“Tentu saja!” Yura berkacak pinggang pada Baekhyun. Lalu dia menarik tangan Baekhyun agar berlari ke lantai atas. Kamera hanya menyorot lantai dibawah mereka dan akhirnya kembali dapat mengambil gambar setelah mereka sampai di sebuah kamar.

“Tadaaa!!” Yura merentangkan tangannya lebar-lebar. “Ini dia kamarku.”

“Dan ini adalah satu-satunya ruangan yang sudah mempunyai ubin dan cat haha..” Tawanya menggema di ruangan itu. “Akan ada kasur disini. Kasur super besar dan empuk, hei…kenapa kau melihatiku seperti itu?! Ya! Byun Baekhyun!”

Baekhyun memutar kamera sehingga menyorot wajahnya. “Yura punya alasan untuk itu. Aku tahu dia punya.” Ujarnya sambil tersenyum menggoda Yura.

“Itu karena aku ingin tidur dengan nyaman. Jangan berpikir yang macam-macam!! Ah, lupakan…” Yura meninggalkan Baekhyun dan pergi ke kamar mandi.

“Wow! Ini kamar mandi yang besar. Baekhyun akan tidur disini dan aku akan tidur di kasur.”

“Apa??”

“Ya, kau akan tidur disini, Baek.” Yura terkekeh, mencoba memeluk Baekhyun namun Baekhyun malah mundur menjauhinya. Yura masih saja tertawa dan akhirnya mereka saling merangkul di depan kamera.

“Sekian untuk hari ini. Aku Kim Yura dan…”

“Aku Byun Baekhyun.”

“Sampa jumpa!!” Mereka melambai pada kamera dan Baekhyun mematikannya. Dia menatap kekasihnya itu dengan senyuman secerah matahari.

“Terima kasih, sayang.” Kata Yura mengalungkan tangannya di leher Baekhyun. “Aku membencimu.”

“Apa??”

Yura tertawa.

“Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.”

 

***

Hari menjelang pagi ketika kerumunan orang berkumpul di pinggir jalan. Ada dua mobil polisi terparkir rapi di belakang sebuah mobil. Sirenenya tidak berbunyi keras seperti dalam film-film bioskop.

Tidak. Tidak ada kecelakaan parah atau kasus kriminal lainnya. Hanya ada sebuah mobil berhenti di tepi jalan dan polisi mencoba memeriksanya.

Jendela mobil itu sediki terbuka, polisi dapat dengan mudahnya membuka pintu mobil.

Setelah beberapa menit memeriksa, salah seorang polisi menghampiri kepala polisinya yang saat itu bersamanya. Kepala polisi bertubuh gemuk mendatangi mobil itu.

“Tuan, tuan…” Dia mengguncang tubuh seorang pria di kursi kemudi. Tidak ada respon, pria itu tidak bergeming sedikit pun. “Tuan..” Sekali lagi kepala polisi mengguncangnya.

Lalu polisi yang satunya, menyentuh tangan dingin itu. Dia meraba nadinya, juga di leher. Raut wajah sang polisi langsung berubah drastis. Dia menatap sedih kepala polisi dan menggeleng. “Tidak ada denyut nadi, pak. Aku rasa…” Kembali melihat wajah pria itu yang pucat tanpa darah.
Wajah Baekhyun begitu tenang, dia tampak seperti tertidur.
“Panggil ambulans.” Suruh kepala polisi kepada anak buahnya. Tidak lama setelah itu ambulans datang diiringi suara sirinenya yang memekakan telinga.

Kepala polisi itu menunggu sambil bersandar di mobil patrolinya. Dia dapat melihat beberapa petugas medis memompa pernapasan pria berkulit pucat itu. Tangannya terkulai lemah. Tak ada harapan, dia sudah pergi.

“Kasihan…” Komentar anak buahnya mendatangi kepala polisi yang setengah melamun dan memberikan kartu identitas Baekhyun.

Kepala polisi menghela napas saat membaca kartu identitas itu. Kemudian salah seorang petugas medis mendatangi mereka berdua. “Eumm…” Dia seorang pria yang tampak canggung, mungkin dia anak magang. “Eumm…kita kehilangan dia dari beberapa jam yang lalu. Hasil sementara, korban mengalami serangan jantung, nadi melemah dan ada masalah dengan paru-parunya.”

Kepala polisi mengangguk mengerti, dia sudah menyangka hal ini dari awal melihat mobil silver itu terparkir di tepi jalan, dimana seorang pria tampak tertidur dengan tenang disana. Jendela mobil yang setengah terbuka membuat angin masuk dan meniup rambutnya, mengeringkan air mata Baekhyun.

Kepala polisi itu menggenggam kartu identitas Baekhyun. “Byun Baekhyun…dia masih terlalu muda untuk menjadi arsitek dan…meninggalkan dunia ini.” Dia memberikan kartu itu pada anak buahnya. Terakhir kali yang dia lihat sebelum masuk ke dalam mobil adalah kain putih yang menutupi wajah Baekhyun.

 

***

5 tahun kemudian…
Rumah itu masih tampak sama, tidak ada yang berubah. Catnya hanya sedikit kusam, mungkin harus di cat ulang. Jendela-jendelanya yang panjang bagai mata tidak pernah menutup, selalu melihat pemandangan di depannya.

Pintu-pintunya terlihat kokoh, semuanya masih sama seperti ketika Yura dan Baekhyun bersama-sama disana. Indah dan menyimpan sejuta kenangan manis didalamnya. Disaat sore menjelang, matahari yang hangat akan masuk menyapa setiap makhluk yang ada disana.

“Benarkah ini rumah kita?” Ujar seorang wanita yang tengah hamil, melongok dari dalam mobil. Orang disampingnya yang tak lain adalah si suami mengangguk sambil tersenyum pada istrinya.

Mereka berdua turun dari dalam mobil, sang istri pun terperangah dan menutup mulutnya karena terlalu senang. Dia memeluk suaminya. “Oh, Joonmyun, terima kasih telah memilihkan rumah yang bagus untuk kita.”

“Kau suka?” Tanya Joonmyun pada Seohyun, istrinya. Dia mendapatkan senyuman dan anggukan sebagai jawaban, itu membuatnya bahagia. “Ayo, kita lihat ke dalam.” Ajak Seohyun tidak sabar, dia menarik tangan Joonmyun agar cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

Mereka menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, sedikit berdebu, namun bukan masalah bagi Seohyun. Dia terlalu gembira memandang setiap sudut rumah barunya.

Semua barang-barang masih tertutup kain putih dan plastik. Seohyun mengintip sofa berwarna merah dan dia mengernyitkan dahi. “Sayang, aku kurang suka dengan sofanya. Bisakah kita menggantinya dengan warna pink?” Joonmyun mengangguk. “Apa pun yang kau mau.”

Seohyun pun gembira akan hal itu. Dia pergi ke dapur dan mengecek setiap lemari, “Aku rasa perlengkapan makan anak kita muat disini.” Komentarnya lagi.

Joonmyun membuka salah satu laci meja yang tidak tertutup plasti dan kain. Sesuatu berwarna silver berkilauan di matanya. Joonmyun mengambil benda itu, ternyata sebuah figura foto dan tentu saja ada fotonya. Dia tidak mengenali siapa pria dan wanita itu. “Sayang, aku rasa mereka adalah pemilik rumah sebelumnya. Apa mereka sepasang suami istri juga?” Tanya Joonmyun, namun dia tidak mendengar jawaban dari Seohyun, maka itu dia berbalik mencari istrinya.

“Sayang, sayang…Seohyun, dimana kau?”

Rumah itu memang kecil dan sederhana, namun tetap saja Joonmyun kesulitan mencari Seohyun. Dia membuka gudang belakang, mencari di halaman, sampai akhirnya dia naik ke lantai atas.

Hanya ada tiga ruangan. Satu ruangan baju, kamar tamu, dan yang diujung sebelah sana pastilah kamar utama. Joonmyun melihat pintunya terbuka, dia pun segera kesana.

Benar saja…

Joonmyun melihat Seohyun sedang duduk di tepi tempat tidur, tersenyum manis padanya. “Ini kamar kita kan?”

“Eumm…kau suka kamar ini?”

Seohyun langsung beranjak dari sana. “Tentu saja, Joonmyun. Ini tempat yang paling sempurna. Kau lihat matahari bersinar dari sana di pagi hari, tapi kita masih bisa menikmatinya saat sore, karena dari sisi ini matahari tenggelam.” Seohyun menunjuk kesana kemari, seolah dia adalah pemandu acara. Joonmyun tertawa, mendekatinya lalu mencium kening Seohyun. “Aku sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik dan pintar sepertimu.”

Seohyun berbalik membelakanginya, kemudian Joonmyun memeluknya dari belakang. “Tentu saja aku pintar. Aku kan istrimu.” Gelak Seohyun.

“Kau lihat, kita bisa mengawasi anak kita bermain di halaman depan.” Tambah Seohyun dan mereka mengelus perut besarnya. “Tentu saja.” Ujar Joonmyun mempererat pelukannya.

Matahari sore semakin indah dengan semburat merah dan jingga di langit. Sekawanan burung beterbangan pulang ke sarang, rumah yang nyaman dan hangat.

Mereka berdua menarik napas dalam-dalam ketika Seohyun membuka jendela…

Membiarkan tirainya melambai tertiup angin segar…

Seohyun menatap Joonmyun. “Terima kasih, sayang.”

 

***

“Kalau begitu…hentikan semua ini, sayang.”


“Bagaimana caranya, Baek?”

 

 


“Bawa aku bersamamu.”

#THE END#

A/N: Apa iniii?? Kenapa Baekhyun harus meniuuunn!! *padahal mah Baekhyun lagi ada di samping author* wahaha… Okay, lihat, lihat, ada yang kecewa atau senang? Author merasa ceritanya pasaran T.T. Tapi yang menyenangkan disini adalah THERE’S NO HAPPY ENDING FOR BAEKTAE (Baekhyun Taeyeon)! (seneng banget lu thor!) yaiyalah seneng hahaha jahat.

Dan ada sekelibat part for Suho dan Seohyun hahaha! Maaf kalo mereka ga cucok, intermeso doang kok😀

Okey author minta saran dan kritik yaaahh🙂

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

39 thoughts on “Missing You

  1. aigooo…. knp baekyeon ga jadi aja…… hohohoho
    klo gtu ceritanya brrti yura kejam ya, masa ngajak” baek sih… kn kasian yeol ama dyo….
    yakin tuh baek mati kena sarangan jantung, ga bunuh diri, aku qo curiga dia bunuh diri gara” ktmu yura ya hahaha
    nyeseknya dapet… tp ahhhhh molla ga bsa ngebayangin baek jd arsitek… hahahah

    1. ga jadi apaahhh?? sama taeyeon?…hiyaahh no-to-the-way hahaha (maaf maaf yaa ._.v)
      abis mau gimana lagi, aku seperti biasa tidak bisa membunuh satu tokoh dan meninggalkan yang lainnya T.T
      jadi begitu deh ceritanya hahaha
      iya dia rada gimana gituh ya kalo jadi arsitek :p

      okeeehh pokoknya terima kasih yaaahh kak anggie (aku masih ingat lho! bener kan? hehe) udah mau baca dan comment
      hufff saya senang😀

  2. Nangiiis T,T
    Dari awal udah deg2an takut Baekhyunnya bunuh diri, metong gara-gara mobil, ato gimanaaaa gtu…
    Ternyata kena serangan jantung ya?hueee….
    Baekhyun yang malang… Ckckck…
    Kecewa sih tokoh utamanya di matiin pas udah nemu Taecyeon…hehe…
    Dan itu serem…
    Yuranya gentayangan! Hiiiy…
    Artinya Baekhyun gentayangan di rumah itu juga dong ya?hehe… Abaikan…
    Oke kereen:-)

  3. waaahh uljimayooo~~
    rada bingung juga sih aku akhirannya mau digimanain T.T tapi ya seperti biasa aku kan orangnya lembut gimanah gitu kan #duaagg
    jadi aku gabisa memisahkan sepasang lover gituuu u.u

    dan itu bukan taecyeon. tapi taeyeon T.T hahaha
    aku kan bukan baekyeon shipper, jd tdk ada happy ending buat mereka u.u

    okeh pokoknya makasih buat commentnya yaaa🙂

  4. kenapa chen-ppa disini dikit banget? kenapa yg terakhir bukan aku sama chen-ppa aja yg nempatin rumahnya? *dikeplaki kakDir*

    baekhyun pasti baca detective conan deh. kata aoyama gosho disana orang yg sudah meninggal bisa hidup diingatan orang lain, jadi jangan dilupain. (?) aku jadi syedih syekale nih huweee😦

    dibuat versi horrornya dong kak (??) hehe. kakDir, jiayou!😀

  5. huaaaa ,, aku nangis sumpah thor ,, nyesek bnet bcanya ..
    aplg paz tau akhrnya baek jg meninggal ,, aduh tambah kejer ,,
    banjir air mata dh pko’y ,,
    cinta bnet sma Byun Baekhyun disini , aku padamuuu ..><

    1. baby, don’t cry tonight~ ((malah nyanyi))
      yaaahhh jangan nangis dong, aduh aku jadi bersalah buat si baek meniun gini hahaha
      aahh ya, aku juga padamu baek, inget loh aku padamu hahahaha
      oke makasih udah baca dan komen❤

  6. OMG! KA DIRAAAAAAAAAAAA~~~~ AKU BACA FF INI SAMPAI JAM 1 : 46 AM LOH YA =______= Lama-lama mataku kayak Huang Zi Tao ini T.T

    Panjang banget! Sumpah! Tapi tetep keceh loh ya. Walaupun endingnya nyesek juga. Kenapa Baekhyun meninggal gitu? Padahal aku berharap dia sama Taeyeon bisa bersama. Ternyata kita nggak sejalan, Kak. Hahaha😀

    Oh iya, ada SUHO & SEOHYUN! AAAAAAAAAAAAAAAA!~~~~ Duo biasku yang cetar. Suak deh. Sayangnya cuma numpang lewat doang.

    Hm…. sekian ya, Kak. Mau meluk guling dulu. Alarm yang biasanya bangunin aku kalau mau solat tahajjud ternyata sudah berbunyi. OH please! Aku sudah kelewatan ini =____=

    The last, Aku mencintai EXO. Juga author kece macam Kak Dira. Hehehe

    Salam XOXO ~~~

  7. gak ngebayangin ya jadi baekhyun…. aduh susah buat move on gitu. hari-hari yg dilalui sehebat itu mana mungkin bisa coba. bacon kali ini ya ceritanya membuat porak poranda pikiranku. heuuuuh. dan endingnya pilihan baekhyun yg konyol tapi masuk ke hati juga kalo ke akal jangan deh jadi hati aja hohoho. Apa ya itu mas suho nyempil juga bentaran. xoxoxoxo

    1. hahaha iya emang aku kalo jadi baekhyun bingung juga, pasti sangat susah move on heuuu
      aduh iya nih ini adalah fic sedihku tentang baekhyun hahaha
      nah si suho numpang lwt kayak iklan muehehehe😀
      okeh makasih ya udah baca dan komen❤

  8. sedihhhhhhhh
    baekhyun merana bgt d sini.
    sedihhh T.T mereka saling mencintai, tp kenapa? kenapa?
    Gak tau lg mau komen apa pkoknya TOP!

  9. Bagus bgt eonni…udah lama ngubek2 masterlistnya akhirnya ktemu ff ini..panjang banget..2 hari loh saya bacanya eon😄..baekhyun..aku ada di sini untukmu lupakan wanita itu #gubrak

  10. anyeong… aku reader baru di sini. mau ikutan ninggalin jejak aja. hehe
    di antara smua readers yg ga stuju tokoh utamanya mati. entah knp aku setuju bgt. bukannya kejam, tp di liat dr baekhyun yg sgtu cintanya sm yura, kasian jg. mending dia ikut metong aja. toh itu keinginan baekhyun jg kan pngen ikut yura. dan mungkin itu keingin yg udh lama dr awal yura ninggalin dia. mungkin kebahagiaan dia emg cm sm yura. biasanya yg aku sebel sm yg sad ending. tp utk yg satu ini aku suka bgt. itu adil buat baekhyun. pokoknya aku suka bgt deh. thanks thor utk endingnya. hahaha
    ups, jejaknya pnjg bgt. maap thor😀

  11. Yeay~ happy ending! krn Baek ga jadi sama taeyeon😀
    So unpredictable, tadinya ya udah sempet nebak2 Baek bakalan move on jg akhirnya, tapi ternyata …
    Mungkin ini bukan happy ending yg konvensional, di mana tokoh2 utamanya akan happily ever after kyk di dongeng2. Well, tapi Baek dan Yura akhirnya bisa sama2 lagi kan, walaupun di dunia lain sana. hehe.
    Pokoknya buat aku, ini tetep happy ending😀

    Dae to the Bak, thor~ d(^^)b

  12. Huu ceritanya aku hampir nangis liat baekhyun oppa, tapi ff ini bagus banget 5 bintang deh buat author. Biarpun ceritannya baek gak bisa move on dari yura tapi baekhyun oppa setia banget ><

  13. Torr saya gilaaa saya gila itu gila thorr huhuhu T^T…… kirain si Taeyeon beneran bisa gantiin Yura eh ternyata nggak hehhe….. padahal aku mau gantiin Yura wkwkkw … bagusss ……

  14. huhuhu,,hiks,hiks,,hiks author daebak bisa bikin aku nangis!! ini ff yg ke3 loh yg bikin aku nangis, sumpeh ampe tumveh2 *korban iklan thegartharithuthusodha*Abaikan -_- .kembali kecerita> sedih banget author tapi aku bingungnya yura itu meniggal gar2 apa yak?? kepo nih aku ._. huhuhu, kirain aku ini ff akan berakhiran happy ending ternyata sad ending ya T.T udah deh 5 jempol buat author*Lol ini ff emang susah ditebak alur ceritannya DAEBAK,DAEBAK,DAEBAK ^^ ok,udah ne cukup sampe disini, sekian dan terimakasih ._.

  15. huhuhu,,hiks,hiks,,hiks author daebak bisa bikin aku nangis!! ini ff yg ke3 loh yg bikin aku nangis, sumpeh ampe tumveh2 *korban iklan thegartharithuthusodha*Abaikan -_- .kembali kecerita> sedih banget author tapi aku bingungnya yura itu meniggal gar2 apa yak?? kepo nih aku ._. huhuhu, kirain aku ini ff akan berakhiran happy ending ternyata sad ending ya T.T udah deh 5 jempol buat author*Lol ini ff emang susah ditebak alur ceritannya DAEBAK,DAEBAK,DAEBAK ^^ ok,udah ne cukup sampe disini, sekian dan terima kasih ne😀

  16. Wahhh gak salah dapet rekomen ff ini.. Yaaa walaupun ini ffudah dr tahun lalu gpp deh ya.. Aku baru tau soalnya hehe

    kerenn bneran.. Nyesek nya kalo jd baekhyun ㅠㅠ tapi agak kurang bisa menerima baekhyun tiba2 kena serangan jantung gitu hikz
    kirain dia bakal bisa move on.. Eh tp bener move on sih dia.. Tp move on ke dunia lain.. Hehe

  17. Aku abis ngubek2 masterlist kamu, dan penasaran sama ff ini..
    Hasilnya?
    Aku nangiiiiissss, semacam orang gila yang ditinggal sama baekhyun.. ㅜㅜ HAHAHA
    Two thumbs up for the sweet memories that you described it in a lovely way !😀
    Hwaiting !

  18. Sebelum aku komen, aku mau curthat dulu ya thor hehehe. Tadi ceritanya, aku lagi ngubek2 masterlist author, trus beberapa kali aku cuma numpang lewat wktu baca genre ff ini. Aku gk suka angst. Tapi entah kenapa seperti baekhyun menarik hatiku utk baca ff ini.#ditendang author ke planet exo. Trus wktu aku baca, bener2 gk ketebak endingnya. Sepanjang perjalanan, aku deg2an sendiri, takun bacon bunuh diri, atau mati kecelakaan. Wktu bacon ketemu taeyon aku sempet ngarep bakal happy ending, ternyata sad ending. Air mataku lgsg mengucur deras bagai air terjun niagara? Pokoknya bagus and kece bgt thor!!!!!!Lanjutkan!!!!!!

  19. ini oneshoot kedua yg aku baca setelah ff Tao-zy yg genrenya angst. aduh Dir, pas scene baek kembali ke rumah yura itu nyesek bgt. sampai air mata tumve tumve T.T

    aku kira endingnya baek ama taeyeon. eeeh,si baek minta dibawa deh ama yura. T.T

    scene pas ngerekam video itu semuanya manis bgt dir. aku bisa bayangin semanis apa mreka.

    tapi akunya yg ga fokus,atau memang kelewat,alasan yura meninggal karna apa dir? dia kecelakaan atau sakit? kayaknya akunya deh yg ga fokus.-_-

    seperti biasa dir, ff kamu slalu memukau apapun genrenya. walau aku ga/belum nemu ff dgn genre psycho, tp kan author memang ga harus bisa nulis di semua genre kan ya.

    pokoknya ini keren Dir, dan untk Yeollie,ai lop yu. xD
    keep writing Dir! <3<3<3

  20. Yeay!!! Good thorr. there is no happy ending for BaekYeon. Baru kali ini aku dapat ff yg endingnya gue banget ni. Keren! kata-katanya pas. daebak! maksudnya aku bukan maunya para main cast mati melulu ya, tapi entah kenapa aku pengenya yg bersama ttu para main cast, di dunia manapun.
    so, walaupun disini baekyura meninggal. tapi ttp aja itu happy ending buat mereka.
    mereka memang love to death. dan aku pun gak nge ship baekyeon until death. haha xD mian.

  21. author ff ini entah kenapa satu satunya ff oneshoot yg bener bener bs bikin aku nangisss daebak!!!!!!!! biasanya aku cuma nangis kalo ff angst nya chapter hikseuuuuu :(((( sequel nya dong thorr ceritain pas yura meninggal,ini meninggal nya knp?

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s