Posted in Angst, EXO, EXO Planet Edition, Family, Fanfiction, Romance

[EXO Planet Edition] You Are My Moon

Title : You Are My Moon

Main Cast : Luhan

Other Cast: EXO Member

Length : Oneshot

Rating : Pg-13

 

You are just like someone I’ve been missing

Pray every night, hope you will be alright

The kind of feeling I was always hard to keep

I’m afraid to loose ­–

 

“Luhan hyung.”

Tanganku otomatis mencoret setengah bagian kertas puisiku. Tergambar sebuah garis lurus menghiasi kertas itu. Itu semua karena Sehun mengagetkanku dari belakang.

Aku menoleh ke samping dan menatapnya yang sedang bertengger di bahuku. ”Ada apa, Sehun?”

”Aku bosan.”

”Mau bermain? Ayo, hari ini kita mau main apa?” tanyaku. Namun Sehun terdiam. Aku pun bingung.

”Aku sedang tidak ingin bermain apa-apa.” jawabnya dengan suara kecil.

Aku menyentuh dahinya. Tidak. Dia tidak demam. ”Apa kau sakit? Apa tenggorokanmu sakit?” Sehun lagi-lagi menggeleng.

Ini semakin membingungkan. Tidak biasanya Sehun bersikap seperti ini, apalagi matahari baru saja muncul. Dia pasti belum merasa lelah atau apa pun yang membuatnya terlihat lesu.

”Kalau begitu ada apa? Kenapa kau tidak bersemangat begitu? Bertengkar lagi dengan Kai? Apa Tao memukulmu? Katakan padaku.”

Sehun menggeleng dan memilih untuk meninggalkanku yang bertanya-tanya. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya, mungkin dia terlalu malu untuk mengatakannya padaku.

***

Makan malam tiba. Aku dan Sehun duduk berseberangan. Kulihat dia hanya mengaduk-aduk makanannya, tampak tidak mempunyai nafsu makan sama sekali.

”Kau lihat, saat mereka mengambil panah itu dan wuuushhh…panah itu melesat cepat penuh kekuatan menghujam lengannya. Ceritakan kelanjutannya, Chen, aku pipis saat menonton pertandingan itu.” kata Lay melanjutkan makannya.

Lalu Chen mulai bercerita bersama Xiumin, Kai, Chanyeol, Baekhyun, Kyung Soo, Tao. Sehun biasanya paling tertarik dengan cerita ini, namun hari ini dia hanya diam. Ini membuatku semakin penasaran, ada apa dengannya?

”Sehun, ayo makan, jangan mengaduknya terus.” kataku padanya. Sehun menatapku dengan tatapan nanar. Lalu tanpa diduga dia berdiri dari sana.

”Aku tidak nafsu makan. Makanannya…tidak enak.”

”Sehun…” Semua orang kaget mendengarnya.

”A…apa?” Kyung Soo sang pembuat makanan pun shock. ”Ti…tidak enak? Apa yang salah dengan makanannya, Sehun?”

”Ini enak. Tidak ada masalah apa-apa.” komentar Kai.

Sehun mengerutkan kening lalu meninggalkan meja makan begitu saja.

”Sehun! Sehun!” panggil Kris. Kris tidak suka jika ada orang yang pergi meninggalkan meja makan malam tanpa permisi.

Aku tidak mengejarnya pergi. Otakku seperti sedang berputar, mencari tahu apa yang sedang dialami Sehun.

”Ada apa dengannya, Luhan?” tanya Kris membuyarkan lamunanku. Aku pun menggeleng dan menatapnya pergi.

”Kai, coba susul Sehun.” suruh Suho.

”Aku ikut…” Tao berlari menyusul Kai.

Kyung soo mengendus dan menyuap makanannya. ”Apa yang salah dengan masakanku?”

Baekhyun menggeleng dan berkata, ”Tidak, tidak ada yang salah. Ini enak, Kyung Soo.” Chanyeol pun menyetujuinya.

Aku baru saja ingin memasukkan sendok ke dalam mulutku, ketika Tao berlari ke arah kami dengan wajah yang panik.

”Lu…Luhan hyung, Se…Sehunie…”

”Ada apa dengan Sehun?” otomatis semuanya berdiri.

Tanpa mendengarkan lebih lanjut, aku segera berlari ke arah rumah secepat yang aku bisa. Semua orang mengikutiku di belakang. Kini semua kemungkinan atas terjadinya hal ini berputar di kepalaku sangat cepat.

Kubuka pintu rumah dan menaiki tangga ke lantai dua. Kulihat salah satu pintu kamar terbuka, aku langsung menghampirinya kesana.

Jantungku berhenti berdetak ketika melihat Sehun yang tergeletak di lantai, disebelahnya ada Kai yang memegang tangannya.                          Kai menyadari kedatanganku berkata, ”Sehunie tidak bernapas dan dia membiru…”

Aku berlutut disebelah Sehun. Sehun tampak mengerikan dengan urat-urat hijau yang nampak di permukaan kulitnya. Kusentuh wajahnya dan itu terasa dingin.

”Apa yang terjadi dengan Sehun?” isak Kai yang langsung ditarik oleh Chanyeol. Kini, semua orang mengelilingi Sehun.

”Sehun…” suaraku bergetar saat memanggilnya.

Kris memegang urat di lehernya. ”Dia masih hidup.”

Aku pun melotot padanya. ”Tentu saja dia masih hidup!! Dia tidak akan mati!!”

Mulutku terasa aneh ketika mengucapkan kata ’mati’. Aku ragu setelah itu karena Sehun terlihat seperti mayat, dia tidak bergerak dan tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.

”Sehun…Sehun…ini hyung. Bangunlah…” aku menitikkan air mata. ”Lakukan sesuatu! Lakukan sesuatu! Kenapa kalian hanya diam saja!!” pekikku.

Aku berteriak ke semua orang, namun mereka malah terpaku menatap ke luar jendela.

”Luhan hyung…bulannya…” tutur Suho.

Aku melongok ke luar dan melupakan Sehun untuk beberapa saat. Aliran darahku terhenti saat melihat bulan yang membesar dan berwarna merah tepat menghiasi jendela kamar itu. Kepalaku pusing, rasanya aku akan tergeletak disana bersama Sehun.

”Bulannya…hari apa ini??”

”Inilah waktunya, Luhan.” Kris menyentuh bahuku, namun aku menepisnya dan berlari keluar kamar.

Aku keluar dari rumah itu…

Mataku silau akan sinar rembulan…

Aku pun terjatuh, semuanya menjadi gelap detik itu…

***

Flashback…

”Luhan hyung…Luhan hyung!!!” Sehun berlari ke arahku dan mengumpat dibelakang tubuhku yang lebih pendek darinya.

”Kembalikan bukuku! Itu buku dari Suho hyung!!” Kai berusaha menggapai Sehun, tapi Sehun terus saja bersembunyi dibelakangku, berputar-putar seakan aku ini perisainya.

”Hei, hentikan semua ini. Ayo, Sehun kembalikan padanya.” suruhku.

”Tidak mau, ini milikku.”

”Sehun…”

”Baiklah, aku pinjam, aku pinjam.”

Aku menghela napas. Kai di depanku tampak menunggu keputusanku.

”Sehun, Kai ingin membacanya sekarang. Ayo, kembalikan.” ujarku dingin.

Sehun muncul dari belakang dengan wajah cemberut. Dia memberikan buku itu pada Kai. ”Ini…”

”Jangan pernah mengambil buku orang sembarangan. Kau tahu kan itu hal yang tidak baik.” ucapku menasehatinya.

Sehun tertunduk, tidak melihatku. ”Aku tahu.”

”Apa? Aku tidak dengar.”

”Aku tahu! Dan aku membencimu, hyung!” dia mendorong tubuhku dan berlari pergi menjauh dariku.

Anak manja.

Itulah kesan pertama yang aku dapat lihat darinya. Dia sering bermanja-manja pada orang yang lebih tua padanya, merengek dan lebih banyak bermain-main daripada belajar untuk persiapan pergi ke bumi.

Entah mengapa aku selalu sebal melihatnya, mungkin karena dia yang paling kecil. Tapi aku tidak pernah merasakan hal ini pada Kai atau pun Tao. Mereka sama-sama masih kecil, tapi tidak pernah bertingkah seperti Sehun.

Makan malam pun tiba. Aku, Kris, Lay, Tao, Suho, Sehun, Kai makan mengelilingi meja di tengah lapangan ketika ada seseorang mengetuk pagar.

Kris beranjak untuk membukakan pintu. Kami semua berhenti makan hanya untuk melihat Kris berbicara oleh seseorang yang bersinar terang. Jelas sekali dia bukanlah manusia dari EXO planet.

Ketika Kris kembali, kami berusaha untuk bertingkah seperti biasa dan mulut kami menganga saat melihat tamu yang datang.

Dia bukan bidadari! Kecantikannya melebihi apapun yang ada di jagat raya ini. Apakah dia patung? Tidak! Dia bernapas, dia berjalan, dia tersenyum, rambutnya tergerai indah berwarna putih keemasan, kulitnya pucat indah dengan sinar kebiruan diseluruh tubuhnya. Dia memakai baju merah yang panjang menyapu tanah. Bibir merahnya melengkungkan senyuman manis kepada kami semua.

”Eumm…aku rasa, para maknae harus pergi ke kamar sekarang. Lay, bawa Tao, Sehun, dan Kai ke rumah.” perintah Kris.

”Boleh aku bawa makanan ini ke kamar?” tanya Sehun, membuat wanita itu tertawa kecil melihat tingkahnya.

”Bawa saja, Sehun.” Suho menjawabnya.

Mereka pergi, tinggal kami bertiga dan wanita ini di meja makan. Kris mempersilahkannya duduk di ujung meja. Aku sungguh tidak bisa berpikir jernih saat ini, hanya menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.

”Hari ini kita kedatangan tamu dari planet Saturnus, yaitu nona Yuen.” ujar Kris menunjuk wanita Saturnus yang bernama Yuen ini.

”Maaf aku mengganggu makan malam kalian, tapi aku benar-benar harus menyampaikan hal ini.” dia tersenyum lembut lalu kembali berbicara. ”Bulan sedang berotasi, ini membuat seluruh sistem tata surya akan terganggu. Jika bulan berotasi terlalu cepat ini akan mengakibatkan gravitasi yang tinggi dan bisa meledak. Ah…aku sungguh-sungguh tidak bisa membayangkan jika hal ini terjadi. Maka itu, pemerintah Saturnus mengirim pasukannya untuk melindungi setiap planet yang ada di galaksi ini. Aku adalah utusannya untuk berjaga di EXO planet. Mulai saat ini, aku akan terus berada disini sampai bulan kembali normal.”

Pasukan? Dia yang akan melindungi kami semua? Wanita secantik dia yang akan menjaga planet ini siang dan malam? Aku tidak percaya!

Kris mengangguk mengerti. ”Aku rasa untuk sementara nona Yuen bisa tidur di salah satu kamar tamu. Luhan…”

”Ya?” ujarku sedikit kaget.

”Tolong dirikan sebuah pos jaga untuk nona Yuen.”

Aku mengangguk dan melirik ke arah Yuen. Dia tersenyum padaku dan dari tatapannya, aku bisa merasakan ada suatu koneksi, sesuatu yang…tidak bisa dijelaskan.

***

”Dibangun dalam satu malam??” Yuen kaget melihat pos jaga yang kudirikan pada pagi harinya. Dia menyentuh tiang-tiangnya, tampak terkesima. ”Aku tidak menyangka kau membuatnya secepat ini.”

”Bukan apa-apa. Aku hanya menjalankan perintah dari Kris saja.” ujarku perlahan mengikutinya melihat-lihat pos itu.

Tiba-tiba dia berbalik dan aku berhenti mendadak di dekatnya. ”Maaf merepotkanmu. Kedatanganku yang tiba-tiba pasti membuatmu sulit.”

”Ah, tidak, tidak…bukan masalah yang besar.” ujarku salah tingkah. Yuen tertawa melihatku.

”Kau sama lucunya dengan anak yang kemarin.”

”Anak yang mana?” tanyaku bingung.

”Yang tinggi, yang membawa makanannya ke kamar.”

Ah! Aku tahu siapa anak itu…

”Oh, Sehun…”

”Sehun? Namanya Sehun? Wah, kalian tampak mirip. Luhan, Sehun…Apa kalian kakak beradik?”

”Kakak beradik? Tidak, kami hanya…”

”Apa itu dia?”

Yuen menatap ke luar pos dan ya, aku bisa melihat Sehun sedang mengemut permen bersama Tao, sedangkan Kai berjemur di bawah matahari.

”Ya, yang berambut cokelat itu…” jawabku malas. Aku baru sadar ketika melihat Yuen sudah berjalan ke arah mereka. Aku pun mengikutinya.

Mereka tampak bingung melihat Yuen ada di depannya. Tentu saja mereka tidak mengenalinya. Kai membuka kacamatanya, Tao menganga, dan Sehun…hgh, anak ini malah sibuk menjilati permennya.

”Semuanya…eumm, ini nona Yuen, dia akan menjaga kita semua karena bulan sedang…” aku berhenti bicara karena aku tahu anak-anak ini tidak akan mengerti tentang bulan dan semacamnya.

”Pokoknya, dia penjaga disini.” lanjutku.

”Seperti Suho hyung? Apakah dia pacar Suho hyung?” tanya Sehun.

”Sehun!! Jangan berbicara seperti itu.” tegurku.

Sehun cemberut kembali menjilati permennya. Yuen mendekatinya dan tersenyum, mengelus rambutnya. ”Ya, semacam pelindung. Aku akan melindungimu.”

”Terima kasih.” Sehun tersenyum padanya.

Apa ini? Hatiku sedikit marah, cemburu, kenapa segala sesuatu yang berhubungan denganku selalu berhubungan dengan Sehun. Kami bahkan tidak cocok satu sama lain.

Yuen kembali ke dalam pos jaga, aku bersamanya sepanjang hari itu. Bukan, ini bukan kemauanku, tapi memang Yuen yang memintaku.                 Setiap hari aku mengobrol dengannya, dia tipe orang yang menyenangkan dan sebaliknya, dia juga mengatakan itu padaku.

Hari-hariku terasa penuh olehnya. Tidak ada satu detik pun yang kusesali saat bersamanya…

***

”Jadi…semua orang di planet ini mempunyai kekuatan?” tanya Yuen melihat cincin yang kukenakan.

”Ya, kami mempunyai kekuatan masing-masing, eumm kecuali Sehun. Entah apa memang belum kelihatan, tapi kami berharap dia akan segera mempunyainya.”

”Kasihan…lalu bagaimana denganmu?”

”Aku? Aku bisa memindahkan barang-barang tanpa menyentuhnya.” jawabku santai.

Yuen bertepuk tangan. Suara tepukannya bergema di permukaan danau yang tenang. Udara saat itu sedikit berkabut membuat danau ini semakin indah.

”Bisakah kau tunjukkan itu padaku?”

”Kau mau melihatnya? Baiklah…” aku melihat ke sekeliling dan sebuah ide muncul di kepalaku. ”perhatikan baik-baik.” uajrku sambil tersenyum padanya.

Aku menggerakan tanganku ke depan, lalu tidak lama kemudian setangkai bunga krisan berwarna putih muncul dari kabut putih di tengah danau. Terbang perlahan ke arah Yuen.

”Apa ini? Sihir?” tanyanya tertawa kecil menerima bunga itu.

”Apa aku hebat?”

Dia mencium bunga itu dan tersenyum. ”Sangat hebat.”

Aku pun tertawa. ”Tidak, aku tidak hebat. Kaulah yang hebat.” ujarku sambil mematahkan tangkai bunga itu dan menyelipkannya di belakang telinganya.

Yuen melihat pantulan wajahnya di danau, lalu kembali duduk. Namun kini wajahnya sedikit sedih. ”Aku? Hebat? Tidak, eumm…Luhan, aku…sebenarnya tidak pernah menceritakan rahasia ini sebelumnya kepada orang lain. Aku harap kau bisa menjaganya.”

Aku mengangguk. ”Tentu saja aku akan menjaganya.”

Dia mendekatiku, wajahnya hanya beberapa senti dariku, dia berbisik pelan sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya.        ”Aku…tidak mempunyai kekuatan spesial yang hebat. Jangan salah paham, aku tetap bisa menjaga kalian. Tapi…kekuatan yang aku punya hanyalah…”

Yuen berhenti bicara, aku menunggunya dalam bingung.

”Tutup matamu.” suruhnya dan aku melakukannya.

”Kekuatanku adalah…” lalu dia meniup wajahku sehingga aku tertawa.

”Kekuatanmu adalah meniup?”

”Bukan. Coba rasakan…” Dia meniupkan napasnya kembali.

Kali ini aku merasakan sesuatu…

Semilir angin menyapu kulitku. Dingin menyejukkan, wangi tubuhnya terbawa angin memasukki paru-paruku. Aku membuka mata dan menatap wajahnya.

”Angin?”

Dia tersenyum dan mengangguk. ”Angin. Tidak terlalu hebat bukan?”

”Itu hebat. Saat planet sedang panas, kau bisa memunculkan angin dan semuanya jadi terasa sejuk.” ucapku menghiburnya.

Yuen menggeleng sedih. ”Aku hanya akan membuat Saturnus menjadi semakin dingin.”

”Ahh, maaf…”

”Tidak apa-apa. Aku rasa aku ini mirip dengan Sehun.”

Aku langsung menatapnya. ”A…apa?”

”Ya, aku hampir tidak pernah menggunakan kekuatanku. Orang-orang selalu bilang bahwa akulah yang paling lemah dan menyusahkan yang lain. Mereka bahkan tidak menyangka bahwa aku yang diutus pemerintah untuk menjaga EXO planet. Bukankah itu menyedihkan?” ujarnya lirih.

”Eumm…” aku merebahkan tubuhku di rumput dengan kedua tangan di kepala. ”Terkadang menjadi lemah pun terlihat menyenangkan.”

”Maksudmu?” Yuen ikut berbaring disampingku.

”Persis seperti para maknae disini. Mereka sangat dimanja dan dilindungi oleh para hyungnya. Tidak pernah dimarahi atau disalahkan. Enak bukan?”

Yuen terdiam lalu berbicara lagi dan itu terdengar seperti bisikan. ”Apa kau tidak lelah selalu menjaga mereka?”

Aku tertawa kecil. ”Lelah? Entahlah, aku…selalu merasa itu adalah kewajiban yang tidak bisa kutinggalkan. Mereka semua seperti keluarga, walaupun terkadang aku merasa kesal pada mereka. Seperti Sehun…”

”Kau sebal padanya?”

”Yahh…kadang-kadang dia menyebalkan.” jawabku pelan.

”Kadang-kadang atau…”

”Sehun itu…ya, dia…”

”Luhan…?”

Aku menghadapnya. ”Oh, Yuen, bisakah kita tidak membicarakan anak itu? Mendengar namanya saja sudah membuatku pusing.”

Yuen tertawa dan mengangguk. ”Baiklah. Tapi aku…seperti mengaca pada cermin saat melihatnya. Ada perasaan seperti…ingin selalu melindunginya. Kau tahu, ini aneh, Luhan.”

”Kau menyukainya?”

Yuen berhenti bicara dan menatapku. Kami diam, saling bertatapan dalam udara pagi yang masih dingin ini. Aku baru sadar bahwa matanya berwarna abu-abu gelap seperti batu planet. Terpantul wajahku disana dan saat dia mengerjapkan mata, tanganku otomatis membelai wajah lembutnya.

”Kau menyukainya?”

Yuen tersenyum. ”Apa kau cemburu?”

”Aku? Cemburu? Tidak.” kataku cepat.

Yuen langsung menjauhkan diriku dan berbaring menatap langit. ”Aku berharap kau bilang ’iya’.”

Jantungku berdetak cepat. Sama seperti saat pertama kali aku menggunakan kekuatanku dan semua orang bilang itu hebat. Aku merasa seperti akan terbang ke langit. Ikat aku!!

Aku melihat senyuman tipis di wajahnya. Kudekatkan diri padanya sambil tidak henti menatapi setiap senti wajahnya.

”Apa kau menyukaiku?”

Yuen menggeleng.

”Apa kau berharap aku menyukaimu?” lalu dia mengangguk sambil tertawa.

”Lalu apa kau…menyukaiku?”

Yuen menutup mulutku dengan tangannya. Dia tersenyum, membuatnya semakin cantik. “Berhenti bertanya apakah aku menyukaimu. Kau pasti sudah tahu jawabannya tanpa bertanya.”

Saat itu, aku merasa terlahir kembali. Ada perasaan yang membuncah sampai ke dadaku, ketika aku berbaring disana bersamanya, saat Yuen bersandar padaku, saat tangan kami bertautan seakan tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua.

***

Semua makanan terasa lezat saat aku memandang wajahnya. Puisiku terdengar indah saat melihatnya tersenyum atau saat menunggangi kuda, aku selalu mendapat nilai terbaik dari Kris. Dia berdiri disana menonton kami latihan pedang atau memanah. Aku merasa sempurna ketika dia dekatku.

”Kau…ada apa-apa dengannya kan?” tanya Lay tiba-tiba saat selesai berganti baju.

”Dengan siapa? Apa maksudmu?”

”Nona dari saturnus itu. Iya kan?”

Aku menyembunyikan senyumanku. ”Menurutmu begitu?”

”Oh ayolah, hyung. Mengaku saja. Aku bisa melihatnya dari pertama dia datang kesini.” Lay menggucang tubuhku.

Aku masih menahan tawa. ”Kau ini kenapa sih? Aku tidak mengerti maksudmu.”

”Mengaku atau…” Lay malah menggelitikiku, berusaha membuatku mengaku. Hei, buat apa mengaku? Lay pun sudah tahu jawabannya.

”Hai…”

Kami berhenti dan melihat Yuen di depan pintu. Wajahnya sedikit pucat, namun senyumannya tidak pernah luntur. Dia membawa sepoci teh untuk kami.

”Aku membuatkan ini untuk kalian. Aku yakin kalian pasti lelah setelah seharian berlatih.” ujarnya menuangkan teh.

Aku menatap wajahnya dengan seksama. ”Ada apa?”

”Apa?”

”Kau sakit?”

Yuen menggeleng dan memilih untuk mengobrol dengan Lay, berusaha menghindari pertanyaanku.

Suasana menjadi sedikit kaku, atau memang ini hanya perasaanku. Aku baru saja ingin berkata sesuatu namun terpotong oleh suara gemuruh dari kejauhan. Kami bertiga beranjak dari sana dan berusaha mendengarkan lebih seksama apa yang terjadi. Suara gemuruh itu terdengar lagi, kali ini disertai suara jeritan.

Kami pun langsung berlari ke arah lapangan. Perasaanku tidak enak, dan itu semakin menjadi-jadi ketika mendengar lebih jelas bahwa jeritan itu adalah suara Sehun.

Aku berlari lebih cepat meninggalkan Yuen dan Lay di belakang. Ketika aku sampai di pinggir lapangan, aku melihat semua barang-barang yang ada di lapangan terbang ke atas, seakan ada yang menariknya. Meja, kursi, busur, papan tulis, busur, panah…semuanya beterbangan.

Kulihat Sehun berjongkok melindungi kepalanya ditengah lapangan. Kai dan Tao, hanya bisa melihatinya karena takut terkena benda-benda yang beterbangan tidak tentu arah.

”Tolooonnnngggg…” jerit Sehun.

Yuen datang di sebelahku. ”Ini pasti karena rotasi bulan yang semakin kencang…” Aku tidak mendengarkan kata-kata selanjutnya. Aku berlari ke tengah lapangan untuk menolong Sehun.

Aku berhasil mencapai tengah, namun ketika sampai disana, Sehun malah tidak mau bergerak. ”Toloonnngg…tolonnnggg akuuu…”

”Sehun, ini aku, Luhan hyung. Aku akan menolongmu. Semuanya akan baik-baik saja.” kataku sedikit keras mengimbangi suara gemuruh.

Dia menggeleng. ”Aku takuuuttt…”

Aku sempat ingin marah, namun begitu melihat pipinya yang basah, rasa marah itu menghilang.

Kupegang wajahnya dengan kedua tanganku. ”Semuanya akan baik-baik saja, Sehun. Hyung akan membawamu ke pinggir lapangan. Tapi kita harus berlari dengan sangat cepat. Kau mengerti?”

Sehun mengangguk dan kami berdua bersiap-siap untuk berlari. Aku melihat Yuen sedang mencoba mengendalikan udara. Kugenggam erat-erat tangan Sehun, jantungku berdetak sangat cepat. Kupejamkan mataku sesaat lalu dengan seluruh keberanianku, kami berlari menyeberangi lapangan.

Angin bergemuruh ditelingaku. Yuen terasa jauh dari pandanganku. Kutengok Sehun sedang berusaha menyamai langkah kakiku dan tangannya semakin erat memegang tanganku.

Akhirnya, kami sampai di pinggir lapangan. Aku mengambil napas banyak-banyak untuk mengisi paru-paruku. Yuen berlari mendekati kami dengan wajah cemas, lalu tiba-tiba…

”AAAAAAAAAA…” Sehun berteriak dan kulihat sebuah meja besar seakan jatuh dari langit hendak menimpanya.

Aku berlari untuk menghalanginya…namun hal itu…

***

Gelap…

Sakit…

Aku berusaha membuka mataku, tapi yang kurasakan hanyalah sakit dan sakit. ”Aww…Aww…” erangku keras saat menggerakan tubuhku.

”Jangan bergerak, Luhan. Kau akan memperparah lukanya.” suara itu…terdengar menenangkan di telingaku. Suara lembut yang khas dan manis.

”Apa yang terjadi?” tanyaku setelah beberapa saat.

”Kau sudah tiga hari tidak bangun. Saat itu…”

”Ya, aku ingat semuanya. Aku menolong Sehun dan meja itu…” aku berhenti bicara saat mendengar suara isakan. Bukan, itu bukan suara Sehun, tapi Yuen.

Aku membuka mata dan melihat Yuen sedang menunduk menutupi wajahnya dengan tangan.

”Jangan menangis…”

”Maafkan aku, Luhan. Aku tidak bisa melindungi planet ini, sampai hal ini terjadi padamu dan… ” isaknya.

”Tidak, tidak, Yuen, dengarkan aku. Kau tidak salah. Kau…melindungi Sehun. Sehun tidak apa-apa kan?” tanyaku sedikit khawatir.

”Sehun…Sehun…”

Aku tidak peduli dengan lukaku atau rasa sakit setiap aku menggerakan tubuhku. Aku berlari ke kamar Sehun, disana ada Kris, Lay, dan Suho. Dengan terpincang-pincang aku masuk kesana. Melihat Sehun yang tertidur dengan perban di kepalanya, membuat hatiku sakit.

”Apa yang terjadi dengannya?”

”Kalian berdua tertimpa meja itu. Luhan hyung, istirahatlah…” Suho menyuruhku untuk kembali ke kamar, tapi aku tidak bergeming.

”Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh…” Yuen datang disebelahku sambil meremas tangannya gugup.

”Kau tidak salah apa-apa. Aku yang salah. Tidak bisa menjaga Sehun. Maafkan aku.” Aku membungkuk sedalam-dalamnya pada yang lain walaupun rasa sakit menjalar di seluruh tulangku.

***

Sehun hanya berbaring di tempat tidur sepanjang hari. Yuen menjaganya dengan baik. Menyuapinya dan merawatnya. Entahlah, aku tidak merasa cemburu atau apa…aku malah merasa tenang. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi aku hanya merasa inilah yang memang seharusnya terjadi.

Namun, kini yang menyita perhatianku adalah wajah Yuen yang semakin pucat setiap harinya. Baju merahnya terlihat semakin kontras dengan kulitnya pada siang hari dan ketika malam datang, sinar pada tubuhnya tidak seterang dulu.

Malam itu, kami berdua duduk menatap Sehun dalam tidurnya. Yuen membelai rambut anak itu perlahan. Dia menatapnya seakan tidak ingin pergi saat itu.

Ya, ini adalah waktunya. Yuen harus pergi ke bulan. Bulan semakin tidak terkendali dan dengan elemen air, angin, api, dan tanah bisa menghentikannya. Yuen harus terlibat diantaranya.

”Aku…sungguh tidak ingin pergi.” ujarnya pelan.

Aku hanya diam.

”Itu karena perpisahan selalu menyakitkan.” lanjutnya. ”Itu karena berpisah denganmu dan Sehun, beserta EXO planet membuatku sedih dan tidak ingin pergi.”

”Kalau begitu…jangan pergi.” sahutku dengan suara bergetar.

Yuen menggeleng. ”Aku harus berpisah dengan kalian, karena aku ingin kalian melanjutkan hidup kalian. Aku ingin kalian bahagia.”

”Lalu bagaimana denganmu? Kau akan menjadi debu hanya karena kami.” balasku menahan tangis.

Yuen menggenggam tanganku. ”Aku rela menjadi apa pun, Luhan. Apa pun untukmu. Dan Sehun…” lalu Yuen meniupkan nafasnya pada Sehun.

”Jagalah Sehun untukku, Luhan. Setelah aku pergi dan untuk seterusnya. Berjanjilah padaku.”

Aku mengangguk, mempererat genggamanku pada tangannya. Setelah itu, dia mencium keningku dan berjalan keluar. Air mataku jatuh seiring langkahnya pergi menjauh.

Semua orang sudah berkumpul di luar. Bulan semakin memerah, Yuen membungkuk pada semua orang. Senyumannya tidak pernah hilang. Dia melambai padaku. Aku hanya bisa mengepalkan tanganku, menahan segala emosi yang bergemuruh di dada.

Dia terbang dengan anggun ke udara. Gaun merahnya melambai terkena angin malam. Itu terakhir kalinya aku melihat rambut keemasannya yang tertimpa sinar bintang-bintang. Sosoknya menjauh, mendekati bulan. Beberapa detik kemudian bulan meledak.

Kupejamkan mataku rapat-rapat saat angin berhembus kencang dan tiba-tiba angin berhenti bertiup. Kulihat bulan kembali seperti sedia kala. Bulat, berwarna keperakan, dan terlihat besar.

Lay melingkarkan tangannya di bahuku. Aku mengangguk sedih dan berusaha tersenyum.

Kau pegang janjiku, Yuen…

 

***

Flashback end…

Aku terbangun oleh sinar matahari yang masuk dari jendela. Sangat menyilaukan saat aku mencoba membuka mataku. Aku berusaha menegakkan tubuhku, tapi alhasil leherku seperti mau patah.

Pantas saja, seluruh tubuhku sakit. Aku tidur dengan posisi membungkuk di tepi tempat tidur Sehun. Kulihat disebelahku ada Lay yang masih tertidur pulas. Di sisi sebelah sana, ada Suho dan Chen yang juga tidur.

Aku melihat kesekeliling kamar itu dan menyadari bahwa kami berdua belas tidur disatu kamar yang sempit ini. Kris bersandar pada dinding dengan Tao dan Baekhyun di bahunya. Kai dan Chanyeol tertidur di pangkuan Kyung Soo, sedangkan Xiumin tidur meringkuk di pojok kamar.

Sehun bergerak sedikit, memeluk selimutnya. Ada perasaan lega bercampur bingung. Kemarin itu apa? Mimpikah? Kini Sehun terlihat normal, dia tidur dengan manis dan rambutnya sedikit berantakan.

Kuelus rambutnya perlahan sambil terus menatap wajahnya. Aku seperti mengingat seseorang yang telah lama pergi, tapi aku bahkan tidak ingin mengingatnya lagi. Aku hanya…senang kami berdua belas hidup bahagia tanpa ada kekhwatiran, karena kami saling menjaga seperti sebuah keluarga.

Sehun tampak seperti malaikat yang sedang tertidur. Aku merasa tenang melihatnya seperti sedia kala. Aku berusaha agar tidak melanggar janjiku terhadap seseorang.

Lalu perlahan, Sehun mulai bangun. Dia menguap dan tersenyum ketika melihatku. ”Selamat pagi, hyung.” ujarnya bersuara serak.

”Pagi, Sehun. Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa kau memimpikan sesuatu?” tanyaku.

Sehun menganggukan kepalanya. ”Aku bermimpi mendengarkan Luhan hyung menangis. Tapi aku tidak bisa menemukan dimana kau, aku terus mencari dan mencari, memanggil nama hyung, tapi kau tidak datang. Tapi itu kan hanya mimpi. Apa hyung memimpikan sesuatu?”

Aku tersenyum dan mengangguk. ”Aku bermimpi Sehunie tidak lagi ingin bermain dengan hyung. Tidak mau makan dan berkata kalau kau membenciku. Pokoknya Sehun menjadi anak yang sangat nakal.”

Sehun tampak kaget. ”Benarkah?? Aku tidak begitu…”

”Tentu saja itu bukan Sehunie yang asli. Itu hanya Sehun dalam mimpi. Sekarang, apa kau lapar?” ujarku mencubit pipinya.

”Lapar sekali.”

Aku baru saja beranjak, lalu Sehun kaget melihat semua orang tidur di kamarnya.

”Eh, apa ini? Kenapa mereka semua tidur disini?”

Aku tertawa dan tidak sengaja menginjak kaki Kris. Kris tidak terbangun, hanya bergerak sedikit.

”Hati-hati.” bisik Sehun. Aku mengangguk sambil melangkah dengan pelan keluar kamar. Sebelum pergi, aku mengintip dari luar, melihat Sehun mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti setiap orang.

Aku benar-benar menjaganya hingga dia tumbuh menjadi seperti ini, Yuen..

 

***

”Biarkan aku yang memotongnya.” ujarku menarik piring Sehun dan memotong daging hingga menjadi bagian yang kecil.

”Hari ini Kyung Soo memasak daging dan sup. Wah pasti ini enak sekali.” kata Chanyeol dengan suara lantangnya.

Kulirik Kyung Soo yang duduk diseberang Sehun hanya menundukkan kepalanya, tidak berbicara apa-apa.

Sehun menyendokkan daging ke dalam mulutnya setelah piringnya kembali. Dia menari-nari senang sambil mengunyah.

”Kyung Soo hyung, ini adalah makanan terenak yang pernah kumakan. Hmmm…” Sehun lagi-lagi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya yang masih penuh itu.

Kyung Soo menatap Sehun dengan mata bulatnya. ”Benarkah?”

Sehun mengangguk senang dan Kyung Soo seperti mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Dia menyendokkan daging banyak-banyak ke dalam piring Sehun.

”Makan yang banyak, Sehunie. Semuanya makan yang banyak!!!”

#THE END#

A/N: Kali ini mengkhayal tentang Luhan dan sedikit bagiannya ada Sehun. Wakakakak. Enjoy it chingudeul😀

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

11 thoughts on “[EXO Planet Edition] You Are My Moon

  1. BWAHAHA *ngakakbentarunn* hehe, aku bingung mau ngebayangi Sehun ._. abis dia manja banget sama Luhan😄. Dia imut-imut gimana gitu kalau sama Luhan Kyaaaaaa HUNHAN!

    Jadi Yuen mati unn? -_- jadi debu di bulan? atau ini masih ada lanjutannya kah? <–banyaktanya *bow* overall aku sukaaaaaaa ini! Disamping Luhan-Sehun yang unyu2 alurnya juga enak, apalagi ciri khas tulisan unnie yang selalu memikat aku :p ehehe DAEBAK!!!!

    Kyungsoo berasa suram gara-gara makanannya dikatain gak enak, BWAHAHA si peribumi cepet banget ngambeknya😄. Lagi-lagi mereka ga bersatu ya? tapi bagus deh setidaknya gak buat aku jadi cemburu unn :p~~kan biasku selain Suho, Xiumin sama Luhan kkkk~*smirk*

    SIPPPPPP! aku ga liat typo kok, hehe~ Apalagi ya unn? saking banyaknya bacot aku jadi lupa mau nulis apaaa T_T pokoknya aku suka, intinya itu aja sih. ^^/b jempooooool buat unnie tersayang❤

    Terus berkaryaaa! aku selalu nunggu FF unnie dan gak akan pernah bosen buat komentar😀😀 FIGHTING DIRA UNNNIEEEE!

    1. wahahaha kamu benar2 menjelajah ya Zen wkwkwkwk😀
      karena aku gabisa bukan ff hunhan, yah pelampiasannya kesini aja deh hehe😀
      iyaaa, aku buat ff ini waktu baru sebulan mereka debut, dan aku kira sehun itu manjaaaaa banget, well, ya walaupun ternyata dia manly manly gimana gituh yaahh haha >.<
      (kok jd sehun yg dibahas?)

      gak ada typo? sujud sukuuurrr O.o
      ff luhan selalu di tulis dengan sepenuh hati dan sukuuurr gada typo hehe
      pokoknya maaacciiihhh yaaah zeeennnn😀
      saranghae deeehhh sama kamuuuh❤

  2. KEREEEEEEEEENNNN!!!!
    Uhhhhh~ author-nim fantasinya Daebak!
    Okee, ini mujinya beneran, ini keren banget!

    Padahal udah baca EXO Planet yg versi Chen..
    Tapi mungkin akunya udah terlanjur hanyut sama romansanya Chen sama Jaeha, jadi iya..iya aja kalau sikon mereka lagi di ‘EXO Planet’..

    Tapi, ini beneran, imajinasiku terbang kaya angin kemana2..
    Baru mikir kalau EXO Planet yg ini jelas banget kerennya, di huni 12 cowo cakep, punya kekuatan masing2, dan…
    Ahhh semuanya keren! Udah tanda seru itu!😄

    hehe…
    Thehun-i.. Thehun-i… Thehun-i…
    Selalu aja kelakuannya ngalahin anak tetangga umur 5 taun..
    Entah di Bumi, entah di EXO Planet..
    Sempat mikir jangan2 ini romance segitiga..
    Luhan udah jatuh cinta sama Yuen, dan Yuen ketemu Sehun.. ternyata, Thehun ttp seorang cowo penjilat lolipop yg bilang ‘terima kasih’ dengan imut, karena tiba2 ada wanita anggun yg mau ngelindungin dia..
    Benar2 polos~~ ==”

    Dan eheem…
    Untuk ending, ada yang mau ngasih saya daging lezat itu?
    Sekalian sama kokinya juga boleh~ /moduss/
    hehehe.. Dio.. Dio.. Dio~

    Ehh apa komen yg ini kepanjangan?
    Maaf yaa~
    aku kaya naik turun gitu komennya, ntar panjang, ntar pendek..
    Tapi semua ff auhtor-nim aku suka! ^^ kadang aku cuma kehabisan kata2.. jd jgn marah yaa, klo ada ff ny yg ku komen terlalu sedikit atau kelewat panjang kaya gini..

    Tapi author-nim keren dah!
    Setiap cerita ff nya beda2, dan sekali lagi, itu KEREN!
    Okeee~ hwaiting buat ff-ff selanjutnya yaa~ ^^

  3. Diawal itu sehun kenapa? Bangunbangun lupa gitu jadi nakal, hahaha
    Setelah baca semua chapter, jadi kebayang kalo mereka berdua belas itu bukan pria 20an tapi anak sd yg unyuunyu stroberi yg ngegemesin gitu
    Hehehe
    Lanjutin dong thoooor😀

  4. Aku ga terlalu ngerti awalnya, kenapa Sehun bisa kaya gitu dan flashback nya malah nyeritain cewe yang datang dari planet lain, tapi lama kelamaan aku ngerti, kalau di Sehun itu ada cewe itu kan? *maybe
    Menurut penggambaran aku Luhan ini coock banget dipasangin sama cewe itu, gimana gitu, tapi yah menurut aku sih pantes, sama-sama lembut  Sayang nya cewe nya harus pergi untuk nyelamatin planet EXO, dan Luhan, luhan disini tegar banget, kaya yang ga terjadi apa-apa gitu. Nice ff thor 

  5. Yey!! Aku suka sama genre yang brothership. Apalagi ada Sehunnienya. Jadi gereget banget. Ahhh, ohte, saranghae. Author saranghae hihihi

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s