Posted in EXO, EXO Planet Edition, Family, Fanfiction, Romance

[EXO Planet Edition] Sing For Me, Chen

Title : Sing For Me, Chen

Main Cast : Chen EXO

Other Cast : EXO member

Rating : Pg-13

Length : Oneshot

***

Nyanyikan sebuah lagu untukku, Chen

Satu saja…

Maka aku akan senang


***

Cuaca cukup cerah pagi ini. Tubuhku terasa segar hari ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Maka kuputuskan untuk bangun lebih pagi. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan melihat Kris hyung masih bergelut di dalam selimut.

Inilah kebiasaanku jika bangun lebih pagi dari semua orang. Aku selalu mengecek setiap kamar, mengintip ke dalamnya dan menemukan posisi-posisi tidur yang aneh. Yah, bisa dibilang ini penyegaran di pagi hari. Seperti saat melihat posisi Baekhyun yang kakinya keluar dari selimut, sedangkan seluruh tubuhnya tertutup.

Aku berjalan-jalan lagi ke kamar-kamar yang lainnya, tapi anehnya aku menemukan tempat tidur Suho hyung sudah tertata rapi. Kemana dia pagi-pagi begini?

Udara pagi menusuk hidungku. Aku meregangkan tubuh, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Kemarin kami baru saja berlatih berjalan diatas air dengan kain. Itu sangat melelahkan!

Luhan hyung mendapatkan peringkat pertama karena dia sangat cepat, juga Xiumin hyung. Kris hyung mengatakan bahwa ini mudah (tentu saja ini mudah baginya, dia kan bisa terbang.)

Dari kejauhan kulihat Suho hyung melambai padaku. ”Chen!” suaranya menggema.

Dia tidak sendirian, ada dua orang gadis di belakangnya, yang satu tinggi, yang satu bertubuh mungil. Kukira anak-anak, namun begitu mendekat, sepertinya kami seumuran.

”Chen, kenalkan, ini Jaeha. Sepertinya kalian seumuran. Dia adalah putri dari planet pluto. Eumm…” Suho hyung tersenyum pada gadis berpakaian aneh itu. Gadis ini berkulit pucat dengan matanya yang besar. Dia memakai jubah panjang berwarna ungu pudar dan apa itu sayap? Sesuatu berwarna hitam mengepak di belakang tubuhnya.

”Jaeha…mempunyai urusan disini, maka dia akan tinggal beberapa lama bersama kita.”

Aku mengangguk mengerti, senyumanku luntur ketika melihat gadis ini tersenyum ke arahku. Ada apa dengannya?

***

Aku tahu hal ini akan terjadi. Semuanya menatap gadis aneh ini dengan tatapan penasaran. Ada sedikit rasa kasihan, tapi sepertinya gadis ini tidak menyadari sekelilingnya atau dia hanya sedang berpura-pura? Entahlah, aku tidak tahu.

Baekhyun tidak bisa berhenti menatapnya dari ujung meja, begitu juga Lay hyung yang bahkan membiarkan sumpitnya melayang beberapa senti dari mulutnya.

”Kau ini apa?” tiba-tiba Sehun melontarkan pertanyaan padanya.

”Sehun!” Kyung Soo menutup mulutnya, takut makhluk ini mengamuk dan… ”Maafkan dia, nona.”

Jaeha menggeleng sambil tersenyum. ”Tidak apa.” dia menyodorkan tangannya. ”Namaku, Jaeha. Aku berasal dari pluto. Namamu siapa?”

Situasi berubah menjadi aneh. Semua orang terdiam dan aku bisa melihat tangan gadis itu hanya mempunyai empat jari lentik yang mempunyai tato simbol-simbol aneh dibalik jubahnya.

Sehun ingin menjabat, namun Kyung Soo masih menahannya, juga membekap mulutnya.

Jaeha menarik tangannya kembali. Tidak ada kekesalan di wajahnya, dia tersenyum lebar. ”Haha…aku aneh ya? Mungkin suatu hari nanti aku akan tahu namamu. Untuk saat ini, aku hanya tahu Chen.” dia melirik ke arahku dan serentak semua tatapan mengarah padaku juga.

***

”Chen!” tiba-tiba sebuah tangan menarikku ke dalam semak-semak di pinggir lapangan. Aku kaget setengah mati melihat Chanyeol, Baekhyun, Kyung Soo, Kai, dan Sehun disana.

”Ada apa?” tanyaku bingung.

”Kau berteman dengannya? Dengan gadis pluto itu?” ujar Baekhyun dengan wajah ketakutan.

”Tadi pagi kami bertemu. Suho hyung yang membawanya. Katanya dia…”

”Kau menjabat tangannya?” Chanyeol memeragakan hal itu.

Aku mengangguk.

”Kau menjabat tangannya yang hanya mempunyai empat jari itu?” timpal Sehun dengan wajah polosnya itu. Kyung Soo memejamkan mata sambil bergidik ketakutan.

Sekali lagi aku mengangguk dan mereka semua mengeluarkan suara erangan. Kai menutup mulutnya, hampir muntah, juga Baekhyun yang menjambak rambutnya sendiri. ”Dia itu…seperti monster. Apalagi dia berasal dari planet pluto.”

”Ya, bukankah pluto adalah planet yang sudah diasingkan? Astaga, apa yang dipikirkan Suho hyung ketika membawa gadis itu kesini?” keluh Kyung Soo.

”Dan dia akan tinggal bersama kita beberapa hari.” tambahku, membuat mereka semakin menggila.

”Hyung, aku ingin cepat pergi ke bumi. Apakah kita bisa kesana sekarang? Aku rasa aku bisa menggunakan kekuatan teleportasiku.” ujar Kai dengan cepat pada Kyung Soo. Chanyeol menjitak kepalanya. ”Kau mau menyulitkan kami semua lagi??! Chen…” kini dia berbicara padaku.

Tiba-tiba seseorang menyibak semak-semak dan mendapati kami semua. Itu Suho hyung. ”Apa yang kalian lakukan disini?”

”Eumm…kami…astaga.” Baekhyun membuang wajahnya ketika melihat gadis itu berada di belakang Suho hyung.

”Ada teman baru, kalian malah bermain disini tanpa mengajaknya. Jaeha, kau mau kan bermain bersama mereka?” Jaeha mengangguk senang. Dia memang tidak banyak bicara.

”Kami tidak mau bermain dengannya karena jari eummpphh…” mereka semua membekap Sehun sebelum dia membeberkan semua pembicaraan kami tadi.

Suho hyung menatap aneh kami semua. ”Apa sih yang kalian bicarakan. Eumm…Jaeha ingin berkeliling melihat sekitar sini. Mungkin kalian bisa menemaninya.”

”Aaahh…” Baekhyun memegangi perutnya tiba-tiba. ”Ahh, aku pasti memakan sesuatu yang aneh tadi pagi. Siapa yang memasak? Apa kau, Kyung Soo?” Kyung Soo mengangguk pelan.

”Aku mau ke kamar mandi dulu.” Baekhyun berlari dari sana dengan kekuatan penuh. Lalu Chanyeol dan Kai juga bertingkah sama.

Kyung Soo menelan ludahnya, kini tinggal kami bertiga. Dia menatap Sehun. ”Sehunie, kau juga sakit perut?” Sehun menggeleng, namun Kyung Soo menariknya. ”Kau pasti sakit perut. Ayo kita ke rumah untuk mencari obatnya.”

Mereka pergi…ya, meninggalkan aku sendiri disini. Aku memegangi perutku dengan ragu-ragu, ”A…aku…” namun Suho hyung menahanku.

”Perutmu tidak apa-apa kan, Chen?”

Aku menelan ludah dengan susah payah. ”Eumm…sedikit, sedikit sakit.”

”Kau bisa menemani Jaeha kan?” senyuman Suho hyung memang terlihat sedikit memaksa. Aku mengangguk pelan dan gadis itu memegang tanganku.

Erangan kecil keluar dari mulutku tanpa sengaja. Aku berjalan bersamanya seperti robot. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan melihat kelima orang itu memasang wajah ngeri.

”Chen hyung, fighting!!” Sehun berteriak dengan keras, lalu mereka kembali bersembunyi di balik rumah.

Aiissshh…apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?

***

Gadis ini tidak melepaskan tanganku. Dengan eratnya dia mengayunkan tanganku ke belakang dan ke depan, seakan aku ini mainannya.

Kami pergi menuju hutan disamping lapangan. Disana ada taman kecil yang dibuat oleh Luhan hyung untuk kami bermain, namun kami sudah jarang bermain disana.

”Le…lepaskan…” aku melepaskan tanganku darinya begitu kami sudah cukup jauh dari Suho hyung. Jaeha tampak kaget, namun dia hanya tersenyum.

”Maaf.” ujarnya perlahan dengan suaranya yang unik. ”Terima kasih mau menemaniku, Chen.”

”Sama-sama.” ucapku singkat. Aku mengikutinya kemana pun dia berjalan. Hari sedang cerah, mungkin disana semuanya sedang bermain dengan gembira. Sedangkan aku disini bersama gadis aneh ini. Huh! Tidak adil!

”Hei, tanaman apa ini?” suaranya yang ringan itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh padanya dan langsung bergerak cepat menyingkirkan tanaman itu dari tangannya.

”Kenapa?”

”Kenapa?? Itu tanaman beracun! Kau bisa mati jika terkena durinya.” jelasku masih terengah-engah karena kaget.

Dia mengangguk mengerti, lalu melompat-lompat riang kembali menyusuri taman yang tidak terurus itu. Gadis itu menghampiri kolam di tengah taman.

Sedangkan aku kembali melamun tidak jelas, bermain-main dengan alang-alang yang tumbuh panjang.

”Chen, apa itu ikan? Tapi kenapa matanya merah seperti itu…”

Lagi-lagi aku berlari dan menariknya menjauhi kolam.

”Itu pasti ular air dan kau…” aku menatapnya tajam. ”Jangan membahayakan dirimu seperti ini!” omelku kesal. Dia menggembungkan kedua pipinya. ”Kau tidak memberitahuku mana yang berbahaya dan tidak berbahaya.” gumamnya pelan.

”Kau…aigoo…sudahlah, ayo kita kembali ke rumah.” aku menarik tangannya yang kurus itu, tapi dia melepaskannya.

”Aku masih mau bermain disini.” katanya kembali ke tengah taman. Aku mulai kesal dengan gadis ini.

”Kembali kesini sekarang juga.”

Dia menggeleng, aku pun menarik tangannya dan kami keluar dari sana.

”Aaww aww aww, sakit…lepaskan aku, Chen.”

Aku tidak menggubrisnya sampai akhirnya kami bertemu Suho hyung dan Kris hyung yang menatapku dengan tatapan tajam.

”Apa yang kau lakukan, Chen? Kau menyakitinya.” Suho hyung menjauhkannya dariku. Aku menundukkan kepala ketika Kris hyung menatapku.

”Aku…”

”Masuk ke kamarmu sekarang juga, Chen. Kau tidak boleh keluar sampai makan malam.” perintah Kris hyung. Apa?? Dia menghukumku? Aku tidak pernah dihukum semenjak tinggal di planet ini. Aku adalah anak baik-baik yang tidak pernah melanggar hukum dan kali ini aku dihukum hanya karena tamu dari planet pluto ini?

Tidak ada yang bisa kukatakan, aku pergi ke kamarku dengan setengah berlari.

”Chen, maafkan aku…” kudengar sayup-sayup suaranya di belakang. Aku tidak peduli. Gadis aneh ini benar-benar membuatku kesal.

***

Aku melewatkan makan malam walau perutku lapar. Aku juga berpura-pura tidur saat Kris hyung masuk membawa makanan untukku. Dia menghukumku hanya karena gadis itu?? Keterlaluan! Sekarang semua orang menganggap bahwa aku adalah Chen yang jahat.

Pagi kembali menjemput. Lagi-lagi aku bangun pagi. Aku menemukan kabut turun menutupi lapangan. Hgh…aku jadi malas pergi keluar. Jadi kutunggu sampai kabut itu sedikit menipis, lalu aku keluar untuk menghirup udara pagi.

Aku berjogging sedikit sambil menggerakkan tubuhku yang kaku, berharap otot-otot akan keluar dari sana dengan keren haha…

Ketika aku sedang berlari kecil di tempat, aku melihat ayunan yang bergerak sendiri di sana. Tidak. Tidak ada orang yang bangun sepagi ini kecuali aku. Aku sudah mengecek semua kamar dan mereka masih tertidur pulas.

Lalu siapa? Siapa yang baru saja bermain ayunan?

”Chen…”

”Huaaaaa!!!!” jantungku hampir melompat keluar lewat mulutku. Aku memejamkan mata sambil membungkuk. Kutatap orang yang mengagetkanku itu. Lagi-lagi gadis itu, Jaeha.

”Ya! Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Kau hampir membunuhku.” ujarku mengelus dadaku.

”Oh, maafkan aku, Chen. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” ucapnya lirih. ”Dan…maafkan aku untuk yang kemarin. Aku benar-benar minta maaf, Chen. Aku tidak ingin membuatmu kena masalah…”

”Ah, sudahlah. Apa kau yang tadi bermain di ayunan?” tanyaku. Dia mengangguk, ”Aku semalaman berada disana. Kukira kau akan keluar, tapi kau tidak muncul jadi aku tetap menunggumu sampai pagi.”

Aku menganga. ”Sampai pagi?? Apa kau sudah gila?? Semalam udara sangat dingin dan kau…kau semalaman berada disini dan sekarang juga berkabut dingin, kau…”

”Aku tidak seperti kalian, Chen.” tiba-tiba aku menyadarinya. Gadis ini melengkungkan bibirnya. ”Aku terbiasa dengan udara dingin seperti ini.”

”Apa pluto sangat dingin?” tanyaku penasaran.

”Pluto semakin dingin, tapi…” dia berhenti bicara. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal. Dia menundukkan kepalanya. Aku berusaha untuk mencari wajahnya dari segala sisi, karena tertutup rambut hitamnya.

Dia kembali menatapku, matanya begitu misterius.

***

Entah mengapa gadis ini sangat suka pergi ke taman yang hampir tidak tertata rapi ini. Aku ingat bagaimana Sehun sering terjatuh disini dan karena merasa bersalah, Luhan hyung menutup taman ini.

Jaeha duduk di sebuah batu besar yang penuh dengan lumut. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku duduk bersila di dekat batu itu dan menatap kabut yang mulai menipis.

”Jadi…kau sakit? Maka itu kau kesini untuk menjalani pengobatan?”

Jaeha mengangguk sambil setengah melamun ketika menjawabku. ”Mereka bilang ketahanan tubuhku mengurang dan aku tidak bisa tinggal di pluto. Suhunya terlalu dingin, terlalu hampa, dan aku membutuhkan tempat yang lebih hangat, dan disinilah tempatnya.”

Satu hal yang sering kutangkap darinya. Dia suka sekali tersenyum setelah berbicara. Entahlah, ada sesuatu di dalam senyumannya itu, yang tak bisa kumengerti.

”Eumm…” aku berpikir sejenak sebelum melontarkan pertanyaan. ”Apa kau akan sembuh? Penyakit itu bisa disembuhkan bukan?”

Jaeha tertawa. Suara tawanya menggema di dalam hutan, terdengar seperti…sebuah nyanyian? ”Tentu saja, Chen.” ujarnya riang.

”Baguslah.” komentarku singkat. Aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengannya, ini sedikit aneh, seperti sulit menemukan topik yang tepat. Percakapan yang kami lakukan selalu percakapan pendek.

Lalu aku pun bersenandung kecil. Aku sangat suka menyanyi, semua orang bilang aku mempunyai kemampuan bernyanyi yang sangat hebat.

”Kau bisa bernyanyi? Suaramu bagus sekali, Chen.” puji Jaeha dengan riang. Aku langsung berhenti bernyanyi begitu melihat wajah senangnya. ”Kau mengganggu saja.” ujarku sambil beranjak dari sana.

”Chen, ayo bernyanyi lagi.” pintanya, mengikutiku keluar dari taman itu. Aku pun menolaknya dan kaget ketika melihat Baekhyun, Lay, dan Chanyeol mempergoki kami jalan berdua.

Baekhyun dan Chanyeol tidak bisa melepaskan tatapannya dariku. Aku melirik mereka dan akhirnya Baekhyun berbisik padaku.

”Kau mulai jatuh cinta padanya?”

Aku kaget mendengarnya. ”Tentu saja tidak!!” spontan aku berteriak. Apa? jatuh cinta pada gadis aneh ini?

”Chen??” Kris hyung bertanya dari ujung meja.

”Aku tidak apa-apa.” ujarku, lalu melotot pada Baekhyun yang terkekeh geli.

Aku tidak…tidak, tidak mungkin.

***

Apa….

Ah, tidak! Tidak, aku bukan tipe orang seperti itu. Aku masih harus belajar banyak untuk persiapan ke bumi, tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal seperti itu.

Tapi…

Belakangan ini ada yang aneh setiap kali berbicara dengan Jaeha. Tidak ada lagi percakapan pendek yang selalu kuakhiri dengan nada kesal atau pun marah. Semuanya berjalan dengan normal selayaknya saat aku mengobrol dengan para member exo planet yang lainnya.

Jaeha sering memintaku untuk bernyanyi, tapi aku malu melakukannya. Bagaimana jika aku tidak bisa mencapai nada tinggi dan…

Hei, kenapa aku peduli dengan hal semacam itu?

Gadis itu terlihat semakin aneh. Apa hanya aku yang menyadarinya? Dia tampak kurus, jubah yang dikenakannya kebesaran dan dia tidak lebih diam dari sebelumnya.

”Jaeha…” kini aku sudah mulai terbiasa memanggil namanya. ”Kau tidak apa-apa? Kulihat kau…”

”Chen…” dia menatapku dengan mata sayu. Kusentuh dahinya yang pucat. Berkeringat dan dingin, ada apa dengannya? ”Kau kenapa…Jaeha, Jaeha!!!” aku meneriakkan namanya sambil menyanggah tubuh kecil itu agar tidak jatuh.

Walau kecil, aku seperti tidak punya kekuatan. Melihat wajah pucatnya itu tiba-tiba aku menjadi sedih. Para member berlari ke arah kami. Suho hyung yang paling cepat datang. Suaranya sangat menenangkan, ”Lepaskan dia, Chen. Biar aku yang mengangkatnya.”

Aku refleks membiarkan Suho hyung membawa Jaeha. Dia berlari ke arah rumah diikuti Lay hyung dan Kris hyung. Hati ini sedikit menyesal, mengapa tidak aku yang membawanya tadi? Padahal aku cukup kuat, namun…aku tidak tega, aku takut, takut menghancurkan manusia rapuh itu seperti aku takut mengambil nada tinggi saat bernyanyi.

***

Matahari sudah mengumpat di balik awan gelap itu. Aku diam-diam melangkah ke belakang rumah dan mendapati jendela kamar Jaeha terbuka. Kuintip ke dalam, Jaeha sedang membaca buku di tempat tidur dengan berselimutkan kain tebal.

”Psstt…”

Jaeha menengok tepat ke arahku. Dia menghampiriku dengan wajah riang, menyangga kedua kepalanya menggunakan tangan di atas meja sambil menatapku. ”Chen, kenapa tidak masuk dari depan…”

”Ssstt…aku hanya sebentar kesini.” bisikku. ”Kau sudah baikan?”

”Sudah. Rasanya aku ingin bermain diluar. Chen, ayo kita bermain.” balasnya hampir tidak terdengar seperti bisikan karena saking senangnya. Dia senang melihatku?

Aku menggeleng. ”Kau tidak boleh bermain di luar. Tunggu sampai benar-benar membaik. Mengerti?” Jaeha kembali cemberut. Wajahnya menjadi sedih, sebenarnya tidak tega melihat dirinya seperti ini. Maafkan aku, Jaeha.

”Kau mengerti, Jaeha?” tanyaku perlahan.

”Tapi setelah aku sembuh, kau mau menemaniku ke taman lagi kan? Kau juga mau bernyanyi untukku kan?”

Eumm…haruskah aku bilang iya. Aku akan katakan ’ya’ untuk pergi ke taman, tapi untuk bernyanyi…

***

”Chen…” erang Xiumin hyung dan Tao. ”Ini sudah malam, kenapa kau masih menyanyi, heh? Ayolah, kami ingin tidur. Sudah sana, kembali ke kamarmu.”

Aku memeluk kaki Xiumin hyung, membuat wajah memelas sedemikan rupa. ”Hyung, kau tahu kan Kris hyung akan membunuhku kalau aku menyanyi di kamar saat ini. Kumohon, biarkan aku menyelesaikan satu lagu.”

Mata Xiumin hyung berputar sekali lalu menutup kepalanya dengan bantal. Aku tersenyum penuh kemenangan dan kembali bernyanyi dekat jendela dengan sangat perlahan.

Sudah pukul 23.00. Hghh…aku sudah mengantuk, saatnya kembali ke kamar.

Aku berjalan ke kamarku sambil memperhatikan langkahku agar tidak menimbulkan suara. Aku bisa membayangkan Kris hyung yang sedang tidur pulas tanpa mempedulikan aku ada disana atau tidak, tapi aku bingung saat melihat tempat tidurnya yang kosong dan masih rapi.

Hei, kemana dia?

Rasa kantukku hilang seketika itu juga. Aku keluar kamar untuk mencarinya. Aku celingukan seperti orang bodoh di lorong kamar. Kutengok setiap kamar dan menemukan kamar paling ujung sedikit terbuka, lampu didalamnya menyala terang. Berarti ada orang.

”Tidak bisa. Sudah tidak ada harapan, hyung.”

Itu suara Lay hyung.

”Suho, kurasa tidak ada yang bisa kita lakukan. Kembalikan dia ke ibunya.” Hei, itu Kris hyung? Sedang apa mereka disana? Apa yang sedang mereka bicarakan, mengapa nadanya serius?

Aku seperti cicak yang menempel di dinding. Aku merayap semakin dekat, ingin mengetahui lebih jelas pembicaraan mereka.

”Aku…aku kira kita bisa menyelamatkannya. Kau tahu, aku kira masih ada sedikit harapan yang bisa kita berikan untuk Jaeha…”

Tanganku refleks menutup mulut ini agar tidak bersuara. Mereka berbicara tentang Jaeha? Ti…tidak ada harapan? Apa ini tentang penyakitnya?

Kuintip dari celap pintu, terlihat bayangan Suho hyung dicermin, menunduk sedih, sedangkan Kris hyung menepuk-nepuk bahunya. Semuanya terlihat sedih, bahkan Lay hyung sekali pun.

Aku menggigit bagian dalam pipiku agar tidak menangis. Jika memang penyakit Jaeha yang sedang mereka bicarakan…dan mereka bilang tidak ada harapan, itu berarti…

Kakiku berlari sekencang mungkin, menimbulkan suara yang berisik di lorong. Aku tidak peduli mereka semua akan terbangun atau tidak. Ini yang ingin kulakukan, berlari dan berteriak. Jangan ganggu aku! Aku benar-benar hancur.

Tidak. Aku tidak berlari ke kamar Jaeha untuk memberitahunya tentang ini. Dia pasti akan lebih sakit, dia akan memburuk dan akhirnya aku hanya akan melihat air matanya mengalir dan aku tidak ingin itu terjadi.

Langit bergemuruh. Kurasakan kekuatanku keluar begitu saja, tidak seperti saat latihan, aku harus mati-matian mengeluarkannya. Petir menyambar dimana-mana, langit penuh cahaya yang mengerikan. Terkadang aku takut melihatnya, tapi inilah kekuatanku sendiri.

Hatiku sakit, tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Diriku? Atau mereka? Mereka yang tidak memberikan harapan kepada Jaeha.

Gadis itu sakit? Lay hyung tidak bisa menyembuhkannya? Aku yakin dia bisa, tapi…dia berkata…

Tidak ada harapan.

Hujan turun perlahan sementara aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku bersandar pada sebuah pohon, membiarkan angin menggugurkan dedaunan keatas tubuhku.

Dingin.

Jaeha memerlukan tempat yang lebih hangat. Jika hujan turun, udara akan dingin. Jaeha tidak boleh kedinginan.

Buru-buru aku membayangkan masa-masa bahagia bersama Jaeha, menghapus percakapan ketiga orang itu agar semua ini berhenti.

Pergilah, angin dingin! Pergilah petir! Pergilah hujan! Kupejamkan mataku erat-erat dan semuanya mendadak berhenti bersamaan dengan air mataku yang menetes saat membuka mata.

***

”Aaahh!!” erang Jaeha kesakitan.

Aku memegang tangan kurus itu, berusaha menenangkannya, namun dia terus saja bergerak ke segala arah.

Lay hyung menyentuh tangan kanannya, menyatukan telapak tangan mereka, begitu lama hingga rasa sakit itu kembali merayapi tubuh Jaeha.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi, namun dia kelihatan sangat kesakitan dan menderita. ”Tenang, sebentar lagi pasti selesai.” bisikku di telinganya.

Cengkeramannya menyakiti tanganku, tapi aku tidak peduli, aku akan memegangnya sampai dia meminta untuk melepaskannya.

”Chen…” panggil Jaeha saat pengobatan itu sudah selesai. Dia tampak lemah, tangannya dingin dan tidak memiliki kekuatan untuk menggenggam tanganku.

”Apa?” tanyaku menarik kursi di sebelah tempat tidurnya. Aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Jaeha tersenyum tipis, setitik air mata timbul disudut matanya. ”Aku lelah.”

”Tidurlah, maka lelahnya akan hilang.”

Jaeha menggeleng. ”Rasanya sakit sekali. Kulitku seperti terbakar, Chen tolong aku…” tanpa kuduga, tiba-tiba Jaeha mengulurkan tangan untuk memelukku. Dengan kikuk aku memeluknya. Posisi kami sedikit aneh, tapi aku mendengar helaan napas leganya, mungkin dia nyaman.

”Apa…hangat? seperti ini?” tanyaku.

”Terima kasih, Chen, terima kasih.” bisiknya dileherku. Aku memeluk tubuh kecil itu semakin erat. Tidak kupedulikan beberapa pasang mata di luar jendela yang menatap kami.

Namun, bukan tatapan menjengkelkan dari Baekhyun, Chanyeol, dan Kai. Mereka juga sedih, tapi mereka tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan. Rasa sedihnya berjuta kali lipat dan itu membuatku sakit.

Jaeha mulai terisak dan beringsut tidak nyaman. Aku melepaskannya, wajah itu mengernyit menahan sakit.

”Chen…” isaknya kembali memegang tanganku.

Aku memejamkan mata erat-erat, berusaha seolah aku bisa menyembuhkan penyakitnya, seolah-olah aku adalah Lay hyung yang bisa melakukan apa pun untuknya.

”Jaeha…” nama itu terasa pahit dimulutku. Air mataku berlinang di pipi, mengalir mulus sampai ke daguku. ”Katakan padaku, apa…apa saja yang dapat menghentikan rasa sakit itu. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan, Jaeha, kumohon…”

Jaeha masih bisa tersenyum dalam rasa sakit yang menderanya. Air mata mengalir dari sudut matanya, aku menghapus dengan ibu jariku, berharap tidak akan ada lagi yang menetes.

”Chen.” panggilnya lemah. Aku menatap Jaeha, seorang gadis pucat yang dulu sangat kubenci. Aku membencinya sampai sekarang perasaan itu terbunuh, menyisakan ruang kosong untuk menyayanginya.

”Jangan tinggalkan aku.”

Aku menggeleng, menciumi tangannya yang dingin. ”Tidak akan pernah.”

”Jangan pergi jauh dariku.” bisiknya.

”Tidak, tidak, tidak, Jaeha.”

”Jangan tinggalkan aku.” ulangnya yang kini terisak menyentuh rambutku perlahan. Dia mengerang kesakitan, membuatku merasakan sakit itu di dada.

Apa tidak ada yang bisa menyingkirkan rasa sakit itu darinya?? Walau hanya sementara. Aku ingin melihatnya tersenyum lagi, bukan wajah lemah yang menahan kesakitan.

Aku tahu rasa sakitnya tidak bisa dibayangkan, jauh melampaui apapun. Bisakah Jaeha membagikan rasa itu padaku.

Seperempatnya…

Setengahnya…

Semuanya…

Biar saja aku yang merasakannya. Biar aku yang terbaring disana, asalkan Jaeha berada disampingku, aku rasa aku bisa menahan semua rasa sakit.

Aku menoleh ke arah pintu karena kudengar langkah kaki masuk ke dalam kamar ini. Di ambang pintu berdirilah Lay hyung, Suho hyung, Kris hyung, dan Luhan hyung.

”Jaeha…dia…dia kesakitan.” ujarku sedikit terbata-bata.

Mereka semua terdiam, seperti patung. Aku mendengar Jaeha kembali mengerang dan itu membuatku semakin keras menangis.

”Lihat, dia kesakitan. Apa tidak bisa kau menghilangkan rasa sakit itu, Lay hyung?” tidak ada jawaban. Mereka semua seakan kehilangan suara untuk menjawabku.

Aku menangis di tangan lemas Jaeha. ”TIDAKKAH KALIAN PEDULI PADANYA??? KENAPA HANYA TERDIAM SEPERTI ORANG BODOH DISANA!! LAKUKAN SESUATU!!” teriakku tidak sabar.

”Chen…”

”Diam, Jaeha! Mereka bisa melakukan sesuatu untukmu. Mereka bisa menghilangkan rasa sakitnya…” potongku, tiba-tiba tidak ingin mendengarkan suara Jaeha.

”Chen…” panggilnya lagi.

”Jaeha.” aku menatapnya dan aku yakin, mataku bengkak karena menangis terus dari tadi.

Jaeha tersenyum sedih, dia menghapus air mataku perlahan dengan ke-empat jarinya. ”Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyembuhkanku.”

Aku menggeleng cepat. ”Tidak. Jangan dengarkan siapa pun. Kau bisa sembuh, kau bisa sembuh, Jaeha!”

”Chen…” kini dia menutup mulutku, sehingga aku tidak bisa mengeluarkan suara apapun. ”Kumohon, jangan seperti ini. Aku…tidak ingin melihatmu menangis. Mengerti? Jadi berhentilah menangis.”

Ya, aku berhenti menangis. Setidaknya aku berusaha.

”Ada satu hal yang bisa kau lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini, Chen. Kumohon lakukan ini untukku.”

Aku mengangguk tanpa ragu. ”Apapun itu.”

”Bernyanyilah untukku, Chen.”

Aku terdiam. Lidahku kelu tidak bisa bergerak. ”Ber…bernyanyi? Untukmu? Jaeha, bagaimana jika aku tidak bisa mencapai nada tinggi…”

”Aku yakin kau bisa, Chen.” dia tersenyum lemah padaku. Bibir merah mudanya melengkung indah. ”Bernyanyilah untukku, Chen.”

Apa yang bisa kulakukan lagi? Aku tahu rasa sakitnya tidak akan menghilang ataupun berkurang jika aku bernyanyi. Jaeha hanya ingin aku berhenti menangisinya. Namun jika itu yang dia inginkan, maka aku kan melakukannya.

Aku bernyanyi sepanjang malam itu. Tidak…aku bernyanyi selamanya bagi Jaeha. Aku bernyanyi diiringi angin dan rintik hujan. Jaeha tampak menikmatinya karena itu dia menutup mata lelahnya.

***

Entah berapa lagu yang kunyanyikan, entah berapa nada yang meleset, entah berapa lama aku tertidur hingga mataharilah yang membangunkanku.

Kepalaku sedikit sakit, seperti melewati malam penuh mimpi buruk. Tanganku menggapai kehampaan diatas kasur ini. Aku terbangun dan mendapati Jaeha tidak lagi berada disana.

Apa ini? Kenapa hatiku begitu siap?

Aku merasa sudah tahu apa yang terjadi. Kulangkahkan kakiku memasuki lapangan. Disana ada ke-11 member yang lain. Tidak ada yang bisa menggambarkan apa yang terjadi. Mereka memiliki wajah tampan yang datar, bahkan Chanyeol sekali pun.

Lay hyung menyeruak membelah gerombolan, dia mendatangiku sambil setengah tersenyum, lalu memberikan secarik kertas dengan tulisan sedikit berantakan.

Chen, apa kau tahu, aku tidak pernah membayangkan pergi keluar dari planet pluto, karena aku selalu menganggap matahari dan udara hangat adalah hal yang buruk, namun aku salah.

Aku lebih memilih rasa hangat walaupun disamping itu juga ada rasa sakit. Tapi itu tidak mengapa karena EXO planet dan…kau, membuat segalanya terasa nyata bagiku, Chen.

Terima kasih karena telah menyanyikan lagu sepanjang malam dalam hidupku, kau mempunyai suara yang indah, Chen. Aku tidak akan pernah melupakan hal itu.

Jangan menangis, jangan bersedih. Aku menyayangimu, Chen.

***

Aku sedang menatap langit-langit kamar ketika seseorang mengetuk pintu. Itu Lay hyung, dia tidak berkata apa-apa sampai dia duduk di kasurku.

”Kau…tidak apa-apa?” ujarnya terdengar sedikit aneh. Ya, kami memang tidak terlalu dekat.

”Aku tidak apa-apa.” jawabku setengah hati.

Lay hyung tertawa. ”Aku kira aku akan mendapatimu sedang menangis saat masuk ke dalam kamar ini. Ternyata…tidak. Aku rasa kau sudah membuang semua kesedihan itu, iya kan?”

Aku ikut tertawa. Tiba-tiba saja secercah perasaan senang menghinggapiku. ”Entahlah, kemarin aku banyak menangis, pasti mereka semua menganggapku cengeng, tapi…”

”Chen…” Lay hyung memegang bahuku. ”Bukannya aku tidak ingin membantumu, menyembuhkan Jaeha…”

”Hyung…” aku menyingkirkan tangan itu dari sana. Tidak, aku tidak marah. Aku malah menggenggam tangannya. ”Aku yakin sekarang Jaeha sudah berada di tempat yang lebih hangat dan jika itu bukanlah EXO planet, aku menerimanya.”

Ya, jika memang ada tempat yang lebih hangat daripada disini, jika memang ada orang yang lebih baik daripadaku untuknya, jika memang ada lagu yang lebih indah untuk dinyanyikan. Aku menerimanya.

***

”Chen…”

”Hmm?”

”Bernyanyilah untukku.”

# THE END #

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

21 thoughts on “[EXO Planet Edition] Sing For Me, Chen

  1. T_T Chen … itu sesuatu kalau gak bisa nada tinggi -.-

    Mwehehe, aku mampir nih unniee :3 abisnya author favoritku pada gak update FF sih -__- aku lagi stuck ide.

    Aku kira ini ff yaoi hehe/digaplok ._. (Tapi aku bukan fujoshi)ternyata bukan. Akhirnya aku nemuin juga ff dengn cast Chen T_T susah banget cari ff doi unn. Oke lanjut ke komentar!

    Entah kenapa aku gak bisa bayangi sosok JaeHa mungkin karena ideku lagi mandet ya unn -___- hehe, lupakan. AKU SUKAAA! Kyaaaa, mana mungkin aku gak suka ff unnie iniii~ Aku pikir JaeHa bakal meninggal (meninggal mulu nih pikirannya -.-) bwakaka, ternyata engga, tapi kasian chen juga sih, dia gak bisa bersatu sama orang yang dia sukai.

    Always, aku suka alurnya, cara unnie ngejelasin karakter dan ceritanya. Sipsip! Sejauh mata memandang aku gak nemu typo sih unn DAEBAK! ^^/b sipppppp!

    Terus berkarya unnn! aku mau menjelajah lagi, mau ninggalin sampah bareng Suho,Xiumin, sama Luhan😄. FIGHTING!❤ !!!!!

    1. heheheyyy zen, maacih ya udah mampir U,U
      TIDAAKK! jujur aku gabisa bikin ff yaoi, sumpah. padahal kalo ngeliat ff yaoi kaisoo, rada gimana gitu karena terkadang ada yang sweet, tapi tetep gabisa T.T
      kurang jelas ya sosok jaeha? emang, aku juga bingung (?) pokoknya ada ceweknya aja hehehe😀
      oke, silahkan dilihat2 yang lain hehe😀 hope you enjoy it all😀
      makasiiihh lho udah capek2 mampir kesini hehe😀

  2. annyeong author-nim..

    tadi mau nyapa dengan sesenang2nya,
    tapi pas banget ketemu ff ini, trus langsung baca..
    dan…
    ini sedih, kelewat sedih..
    ga tahu gimana ngeskpresiin sedihnya..

    Awalnya bingung, cewek dari pluto emang kenapa?
    Jarinya emg kaya gitu, terus kenapa?!
    /ga nyante/
    /jambak yg tadi sembunyi di semak2/

    Kasian sama Jaeha, serius, dari pertama baca udah kasian..
    tapi Jaeha sabar banget…
    Dan….
    Ahhhh~ Chen dirimu begitu baikkk~~~
    Chen mau jadi Troll abstrak sampai malaikat kelewat rapuh gini tetep aja baiknya ga ketulungan..
    Chen daebak~

    tapi endingnya melegakan…
    Jaeha perginya ga dibikin tragis2 banget…
    Hehe..

    Tapi…. itu…
    Kris galak!😄 *ehh

  3. baca ff nya sambil dengerin black pearl thor. uuh feelnya ngena. btw, ff fantasi gini masih jarang ya? padahal aku suka bgt. daebakk ^.* makin cinta sm jongdae oppa♥

  4. annyeong author ‘-‘)/
    demi apa aku jatuh cinta sama ff author❤
    beneran deh bagus amat ceritanya daebak, apalagi castnya Chen❤
    aku kayanya pendatang baru di blog author ya? soalnya kebetulan ketemu ff ini pas lagi browsing Exo Chen FF, hehe

    btw thor, aku susah ngebayangin jaeha kayak gimana😐 mungkin cantik kayak aku ya? *dibakar author

    daripada terus2an bacot, mending kabur aja deh. Triiing! *ngilang bareng chen*

  5. Gak kuat bacanya gak kuaaaattt
    nangis jam setengah tiga malem.begini ya ampuuunnn iya pengen jambak yg sembunyi di semak2 tadi ggggrrrr~
    chen ya ampun kamu tulus banget cintanya aku may dinyanyiin sama kamu pagi sampe ketemu pagi lagi
    hari ini bener2 menguras esmosi baca artikel ttg kamu dan skrg epep kamu. huuuaaaaa :((
    ff nya as always eonni selalu daebak!! aku menunggu I Love Betty and whatever!!!! ditunggu :))

  6. chen… jangan nangis, mending km nge-troll aja *gak bisa ngebayangin chen nangis* ;___;
    aaa~ nyesek, kak dira. chen yg biasanya cengar-cengir di setiap ff, kali ini malah ngegalau. beruntung sekali jaeha punya chen. aku cinta kamu, chen… aku juga cinta, kak dira. udh bikin ff keren kayak gini x’D

  7. Hwaaaa ini menyentuh banget >< aku penasaran sama penyakitnya jaeha itu penyakit apa,kok dia tiba tiba bisa sakit ._. Tp overall ini daeebaakk!!

  8. Chen Chen Chen, ini keren banget. Disaat member EXO yang lain ga pada suka sama cewe itu Cuma Chen yang mau nemenin, awal awal sih Chen ini ga suka, tapi pas tau kalau cewe nya punya penyakit dia malah ngedeketin. Ahh Chen Chen, suara mu itu bagus, jangan takut kalau ga bisa ngambil nada tinggi, kamu malah yang suara nya paling tinggi di EXO terbukti sama teriakan-teriakan kamu di mv MAMA *eh
    Ini sedih banget, kasian Chen sampai kaya gitu. Tapi untung nya dia bisa ngendaliin dirinya dang a terpuruk sama masa lalu, Chen Jjang!! Nice FF 

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s