Posted in Comedy, EXO, Fanfiction, Fluff

The Best Gift for Do Kyungsoo

 

Title : The Best Gift for Do Kyungsoo

Length : Oneshot

Rating : PG-13

Genre : Friendship, Happy

Author : Dira

Main Cast :

  • D.O (EXO-K) as Kyungsoo
  • Shin Jangmi (OC)

Support Cast :

  • Baekhyun (EXO-K)
  • Chanyeol (EXO-K)
  • Amber f(x)
  • Sulli f(x)
  • Luna f(x)

Hola kembali lagi bersama saya hehehe author kece ini wahahaha😀

Kali ini saya membawakan ff Do Kyungsoo alias D.O

Hmmm tanpa banyak bicara langsung saja yuk di lihat, dibaca, dan di comment deh nantinya

Okeh okeh okeh???

Don’t forget to say…

HAPPY READING CHINGUDEUL!!!😀

___________________

Tin tin tin…

Jangmi dapat mendengar jelas suara klakson khas milik sahabatnya dari dalam rumah. Dia bahkan tidak sempat mengunyah rotinya yang langsung dilahap mulutnya bulat-bulat.

Dia berlari ke kamarnya mengambil jaket, tidak ada waktu menyisir rambut. Jangmi mengikatnya menjadi satu kuncir buntut kuda dan segera keluar rumah, mengucapkan salam kepada ibunya.

Disana sudah ada Kyungsoo, sahabatnya. Duduk diatas scooter kuningnya beserta helm. “Dasar lambat! Kau seperti siput.” Komentar Kyungsoo melihat Jangmi dari bawah ke atas. “Apa kau mandi hari ini?”

Jangmi hanya melotot sambil menyambar helm di tangan Kyungsoo. “Dasar cerewet! Cepat jalan. Aku ada kelas melukis pagi ini.” Ujarnya naik di bagian belakang scutter, repot dengan tabung kertas gambar dan tasnya yang besar.

Kyungsoo tidak langsung jalan, dia setengah menengok pada Jangmi di belakangnya. “Apa kau bilang? Cerewet? Siapa yang bilang akan bangun lebih pagi karena ada kelas melukis?”

“Iya, iya, itu aku. Sekarang cepat nyalakan scuttermu atau aku akan naik bus saja.” Jangmi mengancam, bersiap turun dari scooter, namun Kyungsoo menahannya. “Oke, oke…dasar menyebalkan.” Dia segera menyalakan mesin dan melesat pergi ke sekolah.

Jangmi mengeluarkan headset dan memutar lagu, membiarkan angin menerpa rambutnya,  sehingga dia tidak dapat mendengar jelas apa yang di katakan Kyungsoo selama perjalanan.

“Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Scooter ini punya nama. Namanya Kai!”

___________

Jangmi hanya bisa memutar bola matanya ketika Kyungsoo masih saja berkutat membersihkan scooter kuningnya dengan lap sesampainya di parkiran sekolah. “Sampai kapan kau akan mengelapnya? Aku bisa terlambat, Kyung…”

“Kau duluan saja. Kai butuh perawatan.” Ujar Kyungsoo berkonsentrasi menghilangkan noda di dekat stangnya.

Jangmi sudah tidak mau peduli lagi. Ini hampir jam 8 dan dia harus berlari ke kelas lantai tiga dalam waktu tiga puluh detik agar sampai tepat waktu, berharap Guru Wu tidak mengganjal pintunya dengan bangku.

Dia memang sadis. Dia bahkan berasal dari luar negeri dan tidak punya hati. Keluh Jangmi sementara meninggalkan Kyungsoo yang tidak bergerak sesenti pun menjauh dari scooternya yang bernama Kai.

      Menurut Jangmi, Kyungsoo sedikit gila. Dia terlalu menyayangi scooter pemberian orang tuanya pada hari ulang tahun ke-17. Jangmi ingat Kyungsoo keluar malam hari, membawa selimut dan menyelimuti “Kai” di garasi. Dia menyelimutinya, memberinya nama dan apakah setelah ini dia akan memacarinya, lalu menikahinya dan “Kai” akan membunyikan klaksonnya sebagai jawaban: ya, aku bersedia.

Namun Jangmi tidak bisa menyalahkan Kyungsoo yang mencintai Kai Sang scooter begitu dalam, karena seni juga telah memikat hatinya hingga Jangmi tahu, tidak ada yang lebih berarti daripada duduk disuatu tempat, menggambar sketsa sambil mendengarkan lagu.

Jangmi jatuh cinta pada kertas gambar, pensil, dan tabungnya.

Walau begitu… Persahabatan mereka sangat berharga dimata keduanya. Mereka menerima satu sama lain dan mencoba menyukai hobi dia dan dia.

Jangmi melirik jam tangannya. Pukul 8 tepat. Tangannya menekan knop pintu dan semua orang di kelas itu memandang ke arahnya. “Annyeonghaseyo. Maaf.” Jangmi membungkuk pada Guru Wufan yang menaikkan sebelah alisnya tak suka. Tapi itu tidak membuat Jangmi pergi melarikan diri dan menangis. Dia duduk di barisan belakang dan mulai mengeluarkan peralatan gambarnya.

Tema hari ini: pemandangan.

Bukan suatu hal yang sulit. Pikir Jangmi menggoreskan pensil di kertas gambar.

____________

Bel istirahat berbunyi dengan keras tepat saat Kyungsoo selesai merakit penemuan barunya bersama Baekhyun.

Bukan penemuan yang hebat. Kyungsoo baru saja merakit akuarium bercahaya yang terbuat dari bahan acrilic, sehingga membuatnya terang benderang dan indah.

“Ini penemuan yang paling hebat!” Baekhyun menguap saat kelas usai (Kyungsoo jelas mengambil kelas teknik karena dia ingin bisa merawat “Kai” sebaik-baiknya). “Kita bisa membuatnya di akuarium nasional.” Usul Baekhyun tak masuk akal. Dia memang sedikit terobsesi dengan hal ini. Namun Kyungsoo hanya mengangkat bahu.

“Mungkin akan terlihat bagus jika kaca depan Kai diganti dengan bahan acrilic. Sempurna.”

Baekhyun memutar kedua bola matanya. Dia cukup banyak mendengar nama itu hari ini. Kyungsoo, seperti biasa, belum beranjak dari kelas karena sibuk mengutak-atik peralatannya di meja. Sedangkan Baekhyun teman sekelasnya akan menemani Kyungsoo sampai mereka berjalan keluar dari kelas itu menuju kantin.

“Ya! Do Kyungsoo, kau benar-benar jatuh cinta pada scooter…”

“Namanya Kai. Oke? Kai. Ingat.” Potong Kyungsoo secepat kilat menyambar kota Seoul.

Baekhyun berdecak bosan. “Oke, oke, baiklah Kai. Kau terlalu jatuh cinta pada Kai, scooter berwarna kuning yang bahkan hanya diam saat kau mengajaknya bicara. Kau tentu sudah gila, Kyungsoo.” Dia memainkan tang ditangannya. Kyungsoo tidak menghiraukan perkataan temannya itu, dia lebih asik pada peralatan di meja.

“Yah…” Lagi-lagi Kyungsoo mengangkat bahu tak acuh. “Setidaknya Kai membawaku kemana saja aku mau. Dia mengantarkanku ke sekolah, ke taman, atau ke toko es krim.”

“Tapi, ya Tuhan, demi EXO planet yang bahkan tidak ada di galaksi ini! Kau tidak akan memacari scootermu itu kan? Katakan kau masih normal, sobat!” Baekhyun merangkul Kyungsoo erat dan menatapnya penuh arti.

Kyungsoo mendorong Baekhyun cukup keras hingga pria kecil itu mundur menjauh darinya. “Eumm tanyakan saja pada dirimu, Byun Baekhyun.” Dia kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya. “Lagipula Kai itu laki-laki. Aku tidak mungkin menyukainya. Tidakkah kau melihat dari warnanya? Dia macho.”

Tawa Baekhyun meledak seketika itu juga. Apa?? Macho?? scooter berwarna kuning mengkilap bernama Kai itu berjenis kelamin laki-laki dan dia…macho??

Baekhyun memegang kepalanya, meredakan sakit yang setiap kali mendera ketika tertawa.terlalu banyak. “Kau gila, Kyungsoo. Hei! Aku sedang mencoba mendekati Taeyeon noona. Jadi aku ini benar-benar normal. Oke?”

“Cih..satu tahun berlalu dan kau masih saja berharap akannya? Ironis.” Ujar Kyungsoo sinis. Baekhyun memukul tangannya menggunakan tang. Lalu mereka terdiam beberapa saat.

Perut Kyungsoo lapar, tapi dia masih penasaran tentang alur listrik yang tidak sampai pada saklar diujung papan.

Baekhyun memainkan kakinya yang bergantung diatas meja, dia menatap Kyungsoo disampingnya. “Hei…” Mulainya. “Bagaimana dengan Jangmi?”

Kyungsoo menaikkan satu alisnya ketika mendengar pertanyaan Baekhyun. “Jangmi? Bagaimana? Dia baik-baik saja. Kau melihatnya setiap hari dan dia masih berbentuk seperti itu.” Gelaknya merasa dia berhasil membuat sahabatnya menjadi sebuah lelucon.

“Bukan itu maksudku, bodoh. Maksudku…” Baekhyun benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikiran Kyungsoo. “Kalian berteman selama 14 tahun…”

“15 tahun.” Koreksi Kyungsoo cepat. “Ya, maksudku 15 tahun. Apakah…kau tidak punya perasaan apa-apa padanya? Kau tahu, kau laki-laki dan dia perempuan…”

Pertanyaan itu berhasil membuat Kyungsoo berhenti bekerja. Dia menatap penuh tanya pada Baekhyun.

Baekhyun seharusnya mengerti. Tapi, dia tidak mempunyai bayangan apa yang ada diotak pria bermata bulat dan besar ini. Saat semua anak laki-laki bersiul-siul ketika melihat grup SNSD bernyanyi di televisi atau setidaknya ketika gadis tercantik di sekolah ini lewat di depan hidungnya, Kyungsoo bahkan tidak meliriknya sama sekali.

Kyungsoo tidak dekat pada satu pun gadis kecuali Jangmi. Hal itu jelas membuat Baekhyun penasaran.

“Perasaan? Perasaan apa yang kau maksud? Aku dan Jangmi baik-baik saja, dia sahabat yang baik dan…ya, begitulah. Jangmi jarang mandi karena dia mengatakan begitulah hidup seorang seniman. Jangmi…ya, Jangmi tetaplah Jangmi. Aku tidak punya perasaan apa-apa. Apa itu yang kau maksud?” Jawab Kyungsoo santai, namun tidak menemukan kepastian dari wajah Baekhyun yang mengerut.

Baekhyun mengangkat bahu tanpa berkata apa-apa, dia merangkul Kyungsoo, menyeretnya keluar dari kelas. “Aku lapar. Ayo kita ke kantin.”

____________

Jangmi mengulurkan tangannya untuk membenahi gambar pemandangan sungai Han yang telah dibuatnya.

Sedikit kecewa. Alisnya bertaut memikirkan sesuatu dengan sangat keras. Jangmi berusaha semaksimal mungkin menggambar airnya yang bening, tapi dia malah mengotorinya dan menambah keanehan dalam lukisannya. “Ya! Ini menyebalkan…” Gerutunya mengambil warna lain, mencampurkannya diatas palet. Jangmi merasa ada tatapan mengganggu di sebelahnya.

Mungkin Guru Wufan. Batinnya. Namun Jangmi hampir menjatuhkan seluruh catnya jika laki-laki itu tidak mengambil secara refleks cat-cat itu dengan cepat.

       “Maaf, mengagetkanmu.” Ujar laki-laki berambut sedikit ikal dan pirang. Matanya yang bulat membuat kaget Jangmi, terlebih lagi dengan suaranya yang tak disangka, sangaatttt dalam dan berat.

“Sorry.” Ujarnya lagi ketika mendapati Jangmi hanya diam melihati dirinya. “Aku tidak sengaja.”

“Owhh…” Jangmi kembali lagi ke bumi. Dia setengah tertawa, mengambil tube-tube catnya dari tangan laki-laki itu. “Maaf, ya, aku…tidak apa-apa. Sungguh.” Tambah Jangmi melihat wajahnya semakin memelas meminta maaf. Jangmi terlalu berkonsentrasi pada gambarnya sampai-sampai tidak menyadari bahwa laki-laki ini duduk disebelahnya.

“Aku Park Chanyeol. Gambarmu bagus.” Dia mengulurkan tangan pada Jangmi.

“Shin Jangmi. Terima kasih, hei…” tatapan Jangmi jatuh pada lukisan yang dibuat Chanyeol, laki-laki bersuara mengagumkan. Dengan tangan yang masih bertautan, Jangmi menghampiri lukisan Chanyeol yang sangat artistik. Pegunungannya, sawah yang menguning, sampai semburat merah di langit. Lukisan itu dapat menerima nilai sempurna.

Bukan tipe lukisan mendetail yang sering Jangmi buat, tapi semua warna bercampur sesuai dan sempurna, dan Jangmi hampir tidak bisa menutup mulutnya. “Ya…kau! Bagaimana bis…apa kau mencampurnya dengan warna ungu? Maksudku, langitnya…” Terenyuh dalam keindahan lukisan Park Chanyeol.

Chanyeol tersenyum, menunjukkan sederet gigi putih yang berkilauan. Dia menggaruk kepalanya dan tertawa kecil. “Entahlah, aku mencampurkan semuanya. Aku tidak ingat warna apa yang kucampurkan.” Jelasnya sedikit kebingungan, sama seperti Jangmi yang penasaran.

“Tidak, tidak, tidak. Kau tidak mungkin mencampurnya secara asal kecuali kau…” Gadis itu menutup mulutnya dan menatap ngeri Chanyeol. Tidak mungkin! Tidak mungkin seniman murni.

Chanyeol tidak mengerti apa yang dimaksud Jangmi. Dia hanya senang mendengarkan Jangmi berceloteh panjang lebar mengenai lukisannya. Jangmi kena marah karena lukisannya sendiri belum selesai, terbengkalai.

Tapi Jangmi tidak peduli, karena dia baru saja menemukan seorang seniman murni di sekolah ini.

Satu-satunya orang yang mengerti seni lukis tanpa disadarinya, tidak seperti orang-orang yang berada di dalam kelas itu, hanya mengerti menggambar tanpa menaruh jiwa dalam setiap sapuan kuas diatas kanvas.

Begitulah yang dipikirkan Jangmi ketika menemukan Chanyeol, sang seniman murni. Dia seperti menemukan Leonardo Da Vinci. Jangmi bahkan tidak bisa menahan diri untuk terus berbicara pada Chanyeol setelah kelas usai. Mereka berjalan melewati lobi, perpustakaan, taman, dan koridor loker, sampai akhirnya bertemu dengan Kyungsoo serta Baekhyun.

“Kyungsoo! Baekhyun!” Jangmi melambai pada kedua laki-laki yang baru saja makan siang. Masih bersama Chanyeol. Dari kejauhan Kyungsoo mengerutkan dahinya, menelusuri sosok bertubuh tinggi di samping Jangmi. Kyungsoo tahu Jangmi mempunyai beberapa teman yang benar-benar dekat dengannya. Luna, Sulli, Amber. Beberapa anak tidak terkenal dan sama nyentriknya dengan Jangmi. Tapi yang satu ini, Kyungsoo tidak yakin pernah melihatnya atau Jangmi pernah mengenalkan padanya.

Jangmi menarik Chanyeol menghampiri Kyungsoo. “Hai, kalian habis makan?”

“Oh! Bagaimana kau tahu?” Tanya Baekhyun kaget, sedangkan Kyungsoo memperlihatkan ekspresi datar. Jangmi tertawa dan tangannya melayang untuk mengelap sisa saus di sudut bibir Kyungsoo. “Makan seperti bayi. Tentu saja aku tahu.” Kata Jangmi setengah tergelak.

Kyungsoo tampak menjauhkan kepala dari tangan Jangmi. Baekhyun mengecek dirinya sendiri di jendela koridor. “Ah, Kyungsoo, kenalkan temanku…” Dia menarik tangan Chanyeol agar berjabatan dengan Kyungsoo. “Namanya Park Chanyeol. Dan kau tahu dia siapa?” Jangmi berbisik misterius.

“Park Chanyeol. Kau baru saja menyebutkan namanya…”

“Iissshhh…bukan itu. Kau tahu dia siapa?” Jangmi mendekatkan diri pada Kyungsoo, membisikkan sesuatu yang jelas-jelas terdengar oleh Chanyeol.

Mendengarnya, Chanyeol hanya bisa menahan tawa. “Seniman murni…” Mata Kyungsoo membesar dan lagi-lagi memandang Chanyeol yang berdiri kikuk diantara mereka.

Kyungsoo tahu Jangmi selalu ingin bertemu dengan seorang seniman murni dalam hidupnya. Mereka pernah berpikir mungkin hanya ada satu diantara seribu di dunia ini. Tapi tidak menyangka bahwa sosok seniman murni yang diimpikan Jangmi adalah salah satu murid di kelas lukis dan bukan seorang yang berambut gimbal.

Kyungsoo bisa melihat betapa senangnya wajah Jangmi disebelah Chanyeol, meninggalkannya setelah bel masuk berbunyi.

“Wow.” Baekhyun berbicara. “Aku tidak yakin dia seniman murni. Menurutku wajahnya sedikit konyol.” Kyungsoo merasa bukan itu masalahnya.

______________

Matahari mengeluarkan cahayanya yang lemah. Tidak ada limun dan kue lemon hari ini untuk kedua anak yang sedang asik mengurusi urusannya masing-masing. Mereka berada di garasi Kyungsoo.

Seperti biasa Kyungsoo bercengkerama dengan Kai, mengutak-atik lampunya dan ketika menyala, warna lampunya bisa berubah-rubah, kunging hijau merah. Jangmi berkata bahwa itu seperti lampu lalu lintas berjalan, tapi Kyungsoo tidak peduli.

Sedangkan Jangmi masih berusaha menggambar sketsa sungai han menggunakan pensil. Sebelah telinganya mendengarkan musik lewat headset, membiarkan headset lainnya menggantung sia-sia.

Bayangan lukisan Chanyeol dengan langit indah itu kembali menyeruak ke dalam kepalanya. Jangmi masih penasaran bagaimana membuat semburat di langit sebegitu nyatanya. Pada akhirnya Kyungsoo memprotes dirinya karena terlalu banyak menggerutu.

“Bisakah kau berhenti marah-marah sendiri?” Ujar Kyungsoo sambil bercermin di spion Kai. “Apa masalahmu?”

Jangmi menghela napas berat. Dia menutup matanya yang lelah dan memijat keningnya sendiri sambil menatap ke arah sketsa setengah jadi itu. “Chanyeol.” Gumam Jangmi perlahan. Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Kyungsoo.

Dia membalikan tubuhnya secepat saat telapak tangannya terulur untuk meminta uang tambahan dari ibunya. “Chanyeol? Seniman murni itu? Kau punya masalah dengannya? Apa dia mengganggumu?” Kini suara Kyungsoo berubah menjadi sangat dalam dan serius.

Kyungsoo mungkin tidak peduli dengan celotehan Jangmi tentang seni lukis yang benar-benar tidak dimengertinya, tapi jika ada sesuatu atau…seseorang yang mengganggu sahabatnya, dia tak segan-segan mengambil tindakan. Sejak TK, Kyungsoo selalu memukul teman yang berusaha merebut mainan Jangmi atau membuatnya menangis, walau itu harus menghilangkan satu gigi depan Kyungsoo dan menerima ejekan “si ompong” sampai naik ke kelas 2 SD.

Jangmi menatap Kyungsoo dan menggeleng. “Aku bukan anak kecil. Dia tidak menggangguku, tapi lukisannya yang melakukannya! Bagaimana bisa dia membuat langit seindah itu??” Jangmi menjambak rambutnya frustasi. “Bagaimana, bagaimana…” Dia kembali pada sketsanya, membiarkan pandangan Kyungsoo menetap pada dirinya.

Kyungsoo tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kenapa harus membahas tentang laki-laki bertubuh tinggi itu beserta lukisannya? Biasanya tidak ada yang membuat Jangmi setertarik itu pada lukisan. “Aku jadi penasaran seperti apa lukisan seniman murni itu. Memang bagus sekali?” Kyungsoo merangkak duduk di sebelah Jangmi. Sketsanya cukup bagus kali ini.

“Ah! Haruskah aku mendeskripsikannya? Ya ampun, Kyungsoo, lukisannya indah dan sempurna. Aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Dan kau tahu apa, dia bilang dia hanya mencampurkan warnanya secara asal. Kau tahu itu tidak mungkin! Tidak mungkin jika kau seniman murni yang hebat.” Ceracau Jangmi tanpa henti dan menutup wajahnya dengan kertas gambar. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Kyungsoo. “Bagaimana ini?”

Kyungsoo memandang Kai, bertanya-tanya apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Jangmi. Dan tiba-tiba dia mendapatinya. “Kenapa kau tidak belajar dengannya?” Jangmi langsung menjauhkan diri. Wajahnya berseri-seri seperti saat dia menemukan sebuah ide untuk dituangkan ke dalam kanvas.

“Kau benar! Kau benar, Kyungsoo!” Serunya. Lalu Kyungsoo kembali menatap Kai dan Kai seperti memberinya tatapan: salah besar! Bodoh, bukan itu maksudku.

Menyesal.

Tapi…kenapa harus merasa begitu? Bukankah bagus jika Jangmi bisa membuat gambar yang indah, seperti yang diinginkannya selama ini?

Kyungsoo tidak yakin apa yang dia rasakan saat ini. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. “Ibu membuat kue cokelat hari ini.”

“Nanti aku menyusul.” Ujar Jangmi, kembali berkonsentrasi pada sketsanya, dia menggambar dengan sangat hati-hati dalam keadaan ceria dan senyum mengembang di wajahnya.

Menggambar, menggambar, dan menggambar sampai lehernya pegal. Hanya ada Jangmi dan Kai si scooter kuning untuk beberapa lama sampai Jangmi merasa sesuatu bergetar di dalam kantung celananya. Dia mengeluarkannya dan… “Oh, reminder.” Jangmi bermaksud mematikannya, namun matanya langsung terpaku menatap layar ponsel.

1 minggu menuju ulang tahun Kyungsoo yang ke 18 dan 1 tahun untuk Kai.

      Jangmi menepuk jidatnya. Dia melupakan sketsa sungai Han itu beberapa saat lalu memeluknya dalam keadaan bingung. “Astaga…seminggu lagi! Apa yang harus kulakukan??” Ujarnya menggigit pensil.

“Kai, apa yang harus kulakukan? Aku sedang tidak punya uang untuk membeli kado. Aku…baru saja membeli cat dan kuas. Aisshh, harusnya aku tidak membelinya.” Dia berbicara pada si scutter.

Jangmi melihat sosok Kyungsoo di dapur, sedang mengunyah kue cokelat sambil menonton televisi.

Kacau!

_____________

Sekolah seperti biasa. Penuh, ramai dan berisik. Tapi Jangmi tidak mempedulikannya selain melihat laki-laki bermata besar di depannya, mengunyah roti lapis, mengutarakan pandangannya ke seluruh ruangan.

Akhirnya mata Kyungsoo bertemu dengan milik Jangmi. “A…apa? Kenapa kau melihatiku seperti itu?”

Jangmi menggeleng. Tidak mungkin bertanya pada Kyungsoo apa yang diingininya ulang tahun kali ini. Kyungsoo pasti meminta sesuatu yang berkaitan dengan Kai. Mungkin lampu atau sirine yang mahal.

angmi tidak pernah keberatan memberikan apa pun yang sahabatnya ingini. Tapi, jika dia menabung lebih awal, kemungkinan besar dia bisa bertanya pada Kyungsoo dan membeli apa yang Kyungsoo mau. Tapi…

Keadaan sekarang berbeda. Jangmi benar-benar tidak punya uang simpanan di bawah bantalnya. Dia sangat kering!

Jangmi memutar kepalanya, tidak sengaja mengeluarkan helaan napas berat, membuat Kyungsoo memandangnya penuh tanya. “Kau memikirkan Chanyeol lagi?”

“Tidak.”

Kebetulan Chanyeol ada disana, mengantri makan, dan tiba-tiba sebuah ide muncul ketika melihat poster yang tertempel di dinding, bergambar sebuah grafiti warna-warni.

Terima kasih, Tuhan.

“Tidak…maksudku, ya, aku memikirkannya. Chanyeol ah!!” Jangmi langsung melesat meninggalkan Kyungsoo dan berlari ke arah Chanyeol.

Kyungsoo bisa melihat Chanyeol tersenyum senang begitu melihat Jangmi menghampirinya. “Apa-apaan Jangmi ini?” Dia kembali memakan roti lapisnya dan sekejap nafsu makannya hilang beserta Chanyeol dan Jangmi yang juga menghilang dari pandangannya.

____________

Kelas teknik tidak pernah membosankan bagi Kyungsoo si penggila elektronik dan mesin-mesin. Tapi entahlah hari ini dia tidak bergairah untuk mengutak-atik peralatan di depannya.

Baekhyun baru saja mengeluarkan percikan api akibat mengikir besi dan dia berhenti sejenak melihati temannya yang berubah seperti daun di musim gugur. “Hei…” Baekhyun membuka kacamatanya. “Kau kenapa?”

Kyungsoo tersadar dan menggeleng, tanpa mengatakan satu patah kata pun. Dia hanya memainkan tang di tangannya, memutarnya tidak jelas untuk apa.

Bahkan saat kelas usai, Kyungsoo adalah orang ketiga yang melangkah keluar dari kelas. Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi pada temannya yang satu ini, tapi ada sesuatu yang buruk.

____________

Kyungsoo berjalan sedikit gontai ke arah parkiran, otaknya kosong dan tidak ada yang dia pikirkan, lalu dia tersenyum lemah ketika melihat Kai bersinar mengkilap di bawah matahari. “Hai, Kai! Kau kepanasan ya?”

Kyungsoo bersiap-siap untuk pulang, mengenakan jaket dan mengecek ponsel. Ada satu pesan.

From Jangmi: aku ada kelas tambahan. Pulang saja duluan. Hati-hati di jalan.

      Kyungsoo mencibir, dia memasukkan ponsel ke dalam tas tanpa peduli. Dia tidak bermaksud membawa Kai berlari sekencang itu dalam perjalanan pulang, tapi tangannya terus memutar gas dengan kencang.

Belum pernah dia membiarkan Kai melewati polisi tidur dalam kecepatan penuh. Membuatnya terangkat di udara sepersekian detik sebelum menghantam kembali aspal dan sampai di rumah. Kyungsoo tidak mengelap Kai, tidak memasukkannya di garasi. Dia segera masuk ke dalam rumah dan tidur di kamarnya.

_____________

Sabtu pagi…

Kyungsoo bangun dengan kepala yang berat. Dia menguap besar sekali sebelum ke dapur untuk mengambil segelas air. Seperti biasa, tugas Kyungsoo sehari-hari, menyobek kertas kalender tanpa pernah kelewatan satu hari pun.

Itu menyebabkan dia selalu tahu hari apa ini.

Tanggal 6.

      Beberapa hari lagi menuju ulang tahunnya, namun dia tidak menunggu hari itu. Tidak ada semangat sama sekali. Dia juga tidak mengerti kenapa hal itu terjadi.

Kyungsoo meminum susunya dan memandang keluar jendela, hari cukup cerah. Kai seperti sudah menunggunya diluar, siap berlari membawa Kyungsoo kemana saja dia mau.

Kemudian Kyungsoo keluar rumah. Dia tersenyum tipis dan tiba-tiba merasakan secercah semangat ketika dia tahu kemana harus pergi. Kyungsoo memakai jaketnya dan helm.

“Ayo, kita pergi ke rumah Jangmi.” Dia pun melesat pergi.

___________

Beberapa saat mengendarainya, sekitar 15 menit berlalu, Kyungsoo sudah berada di depan rumah Jangmi yang bergaya minimalis.

“Hai, Kyungsoo!” Seru seseorang keluar dari antara tanaman merambat diantara pagar. Itu ibu Jangmi. Dia melambai terlalu bersemangat hingga tidak melihat ada pot di depannya.

“Hati-hati, bibi!” Kyungsoo membantunya berdiri. Wanita setengah baya itu tersenyum sambil memegang bahu Kyungsoo.

Kyungsoo tidak tahu harus berbuat apa selain tersenyum getir pada ibu Jangmi. Mereka berjalan ke anak tangga dan mendudukannya disana. “Kapan terakhir kali aku melihatmu, Kyungsoo? Kau tumbuh semakin tinggi.” Ucap ibu Jangmi membersihkan bajunya.

“Eumm…minggu kemarin.” Jawab Kyungsoo setengah tertawa.

Wanita itu mengernyit. “Oh, benarkah? Aku lupa…”

Kyungsoo yakin wanita ini sudah mulai pikun, tapi dia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri sejak kecil, jadi dia sangat memahaminya. Mereka terdiam sejenak. Kyungsoo bisa melihat uban-uban yang menghiasi kepala ibu Jangmi.

“Kau mencari Jangmi?”

“Ya. Apa dia ada?” Tanya Kyungsoo sedikit ragu, karena jendela kamarnya tertutup rapat.

“Ya, ya, Jangmi. Dia…pergi pagi-pagi sekali. Seorang teman datang menjemputnya.” Jelas ibu Jangmi membuat Kyungsoo tersentak.

“Pergi? Bersama siapa, bi?”

Wanita itu berpikir sejenak sebelum bicara lagi. “Bibi tidak tahu siapa namanya. Dia tinggi, selalu tersenyum, dan rambutnya sedikit keriting.”

Ah! Kyungsoo tahu siapa dia. Tanpa berbicara apa-apa lagi, Kyungsoo segera mengucapkan selamat tinggal dan menaiki Kai, pergi meninggalkan rumah Jangmi. Entah pergi kemana.

Suara bibi bergema di kepalanya sepanjang perjalanan.

Tidak. Kyungsoo tidak ingin mengirim pesan menanyakan dimana Jangmi. Tapi…dia…entahlah. Kai seakan tahu kemana tempat harus pergi ketika Kyungsoo tidak tahu kemana tujuannya.

Kembali ke rumah.

Itulah tempat yang tepat.

______________

Kyungsoo harus membicarakan hal ini. Dia tidak bisa terus diam dan membiarkan dirinya pulang dengan perasaan campur aduk, tidak mengerti mengapa dia begitu marah.

Beberapa hari belakangan ini, Jangmi tidak berangkat dan pulang bersamanya. Kai tidak membawa dua orang diatasnya. Kyungsoo merasakan ringannya scutter kuning itu ketika Jangmi tidak ada dan lebih parah, mereka hampir jarang bertemu dan mengobrol.

Jangmi tidak lagi menggambar sketsa di garasi rumah Kyungsoo. Jangmi tidak lagi mengeluh tentang sketsanya, Kyungsoo tidak mendengarkan suaranya yang berisik mengomentari tingkah Kyungsoo pada Kai.

Merindukannya?

Mungkin.

Cemburu?

Tidak!

Kyungsoo menolak mentah-mentah pemikiran itu. Dia tidak cemburu! Jangmi bebas berteman dengan siapa saja.

Dan bagaimana jika Jangmi…Chanyeol…

Tidak! Kyungsoo tidak membiarkan suara itu menguasainya. Yang sekarang diperlukannya adalah bertemu Jangmi.

Sekolah mendadak penuh sesak oleh murid begitu bel pulang berbunyi. Kyungsoo bersandar pada ambang pintu, menunggu kelas memahat selesai dan dia bisa menebak siapa orang terakhir yang tersisa di kelas.

“Jangmi.” Panggilnya mengagetkan Jangmi yang terlonjak, menjatuhkan bukunya.

“Oh…hai…Kyungsoo.” sapanya sedikit terbata-bata sambil berusaha membereskan barang-barangnya.

“Pulang bersama?” Tanya Kyungsoo melangkah masuk ke dalam kelas. “Kali ini?” Tambahnya.

Jangmi menghindari tatapannya. Dia menggeleng cepat dan terburu-buru. “A-aku…aku…”

“Tidak ada kelas tambahan kan? Amber bilang tidak ada kelas tambahan untuk hari-hari sebelumnya.” Kyungsoo merasa atmosfer semakin menarik. Mempergoki sahabatnya berbohong untuk sesuatu yang tidak jelas. “Kenapa kau berbohong padaku?”

Jangmi memejamkan mata erat-erat. Ada lingkaran hitam dibawah matanya. “Oke, oke!” Serunya membuang napas. Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. Jangmi memasukkan buku terakhir ke dalam tas. “Tidak ada kelas tambahan. Aku…aku dan Chanyeol…kami melukis bersama. Aku memintanya mengajari beberapa teknik mewarnai.”

Kyungsoo tidak peduli apa yang mereka lakukan, tapi…tapi Chanyeol…kenapa harus orang itu?

“Kalau belajar bersamanya atau apalah itu, aku tidak peduli, oke? Tapi…kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya padaku??”

“A-aku…Kyungsoo, aku benar-benar…”

“Kau tidak mengirim pesan. Kau menghilang bersama Park Chanyeol dan kau berbohong!” Kini Kyungsoo mulai berbicara dengan nada tinggi pada Jangmi. J

angmi membanting tasnya. “Jangan berbicara seperti itu padaku. Aku tahu aku salah dan aku minta maaf.” Serunya dalam kelas, menimbulkan keributan.

“Minta maaf? Kau kira kata maaf merubah segalanya??” Kyungsoo merasa buruk, sangat buruk. Dua hari menuju ulang tahunnya, tapi dia malah bertengkar dengan sahabat terbaiknya.

“Lalu apa yang kau mau? Aku punya banyak urusan…”

“Ya, urusan dengan Park Chanyeol. Si wajah konyol itu!” Balas Kyungsoo tak mau kalah. Jangmi membuka mulutnya tak percaya. Wajahnya memerah karena emosi sudah mencapai ubun-ubunnya.

“Ya! Do Kyungsoo! Apa sebenarnya masalahmu? Pertama kau menyalahkanku karena aku berbohong dan aku sudah minta maaf. Lalu kini kau menghina Chanyeol!”

Kyungsoo merasa akan meledak sebentar lagi. Dia menendang kursi didekatnya cukup keras. “Kau berbohong padaku demi dia! Demi Park Chanyeol yang bodoh itu! Kau tahu, semuanya berubah ketika orang itu datang!”

Jangmi setengah tertawa saking kesalnya. “Dan sekarang kau menyalahkan Chanyeol! Kau keterlaluan, Kyungsoo!” Jeritnya.

Cukup sudah! Kyungsoo merasakan ada letupan-letupan aneh dalam dirinya, dia tidak ingin berubah menjadi monster dan membuat semuanya kacau. Lebih baik dia pergi. Dia tahu hujan mengguyur jalanan ketika dia melewati koridor. Hujannya menabrak jendela menimbulkan suara yang cukup berisik.

Kai terlihat menyedihkan dibawah hujan. Sendirian dan kedinginan. Kyungsoo tidak peduli hujan membasahi rambutnya yang baru dikeramas pagi ini, atau kemejanya yang kuyup menimbulkan rasa dingin.

Dia tidak memakai helm, langsung menyalakan scooter dan pergi membawa Kai dari gerbang sekolah meskipun hujan cukup deras. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam suara. Suara Jangmi, suaranya sendiri, suara Baekhyun, suara ibu Jangmi, suara Chanyeol.

“…kau menyalahkan Chanyeol? Kau terlaluan, Kyungsoo!”

“Kau cemburu. Kau cemburu karena Chanyeol menggantikan posisimu!”

“Seorang teman menjemputnya pagi-pagi…”

“Hai, namaku Park Chanyeol.”

“Kelas tambahan? Kami tidak ada kelas tambahan.”

“…Aku belajar bersamanya…dan ya, aku berbohong, maafkan aku…”

Kyungsoo, dengan jelas melihat bayangan wajah Jangmi di kepalanya. Pandangannya buram dan kali ini, suara itu…bukan suara siapa pun yang dikenalnya.

Suaranya mengerikan…

Truk merah itu berdecit disusul oleh suara tabrakan yang keras.

Tubuh Kyungsoo terlempar diudara…

Mendarat dalam posisi yang aneh di aspal.

Hening… Semua suara itu menghilang dari kepala Kyungsoo.

______________

Tidak mungkin! Tidak mungkin! Kyungsoo, sahabatku…

Jangmi menghambur keluar dari taksi ketika beberapa jam yang lalu ponselnya berdering dan suara ibunya yang menenangkan berbicara. “Jangmi, berjanjilah pada ibu…kau harus tenang setelah mendengar ini.”

“Oke…ibu ada apa?” Jawab Jangmi merasa tidak enak.

“…Kyungsoo…dia…”

Jangmi berlari hampir menabrak seorang perawat di depan pintu UGD. Pikirannya buram, tidak! Ini semua kacau! Kacau sekacau ketika dia tidak mempunyai uang untuk membeli kado Kyungsoo.

Kacau sekacau dirinya sekarang. Setengah basah, poninya menempel di dahinya dan dia terengah-engah.

“Bibi…Kyungsoo…” Jangmi terisak ketika melihat ibu Kyungsoo di dalam. Matanya merah dan tisu di genggamannya. Dia langsung memeluk Jangmi dan menangis bersama.

“Bibi…Kyungsoo, bagaimana dia? Aku…aku…bibi, ini salahku. Aku bertengkar dengannya dan Kyungsoo pulang dalam keadaan marah. Aku…aku, maafkan aku, bi. Ini semua salahku.” Wanita itu mengangguk dan memandang ke arah kamar operasi.

Jangmi menutup mulutnya, tidak dapat membayangkan apa yang mereka lakukan pada Kyungsoo di dalam sana. Seberapa parah? Apa Kyungsoo mengalami patah tulang? Apa wajahnya terluka?

Jangmi menutup mata, telinga, semuanya.

Tidak seharusnya seperti ini! Kyungsoo seharusnya tidak berada disini. Ini…semua buruk dan ini salahku.

Tidak ada yang berani melirik ke arah jam didinding. Mereka berharap dokter cepat keluar, tapi jika itu terjadi, berarti Kyungsoo…

Jangmi tidak ingin dokter keluar dari pintu itu. Jangmi ingin Kyungsoo yang keluar dari sana, menyapanya dan mereka akan menaiki Kai, pergi mengelilingi kota dan mampir di sungai han, Jangmi akan melukis Kyungsoo disana dan…

Jangmi berjalan bolak-balik. Dia merasa lebih cemas dari orang tua Kyungsoo sendiri. Beban itu terletak dibahunya. Dia sudah mengatakan hal ini pada ibu Kyungsoo, bahwa sebelum kecelakaan mereka bertengkar hebat dan Jangmi menolak pulang bersama Kyungsoo.

Seharusnya aku yang mengalami ini semua. Air mata mengalir. Baru dia sadari sakitnya melebihi apapun saat kau tidak bersama sahabat terbaikmu.

      Jangmi memeluk dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian…

“Keluarga Do Kyungsoo.”

Semuanya berdiri, termasuk Jangmi dan kedua orang tuanya. Perawat itu tersenyum lelah. 4 jam berada di dalam sana bukanlah sesuatu yang enak.

“Operasinya berjalan dengan baik. Namun kondisinya masih sangat labil. Kami akan memindahkannya ke kamar. Kalian boleh menjenguknya setelah dia sampai di kamar.”

Ibu Kyungsoo memeluk suaminya sambil menangis, dia juga memeluk Jangmi. Leganya… Kyungsoo dipindahkan ke kamar.

Jangmi bisa melihat banyak sekali selang menempel di tubuhnya. Ada tabung oksigen, alat yang terus berbunyi pip pip, juga 3 infus yang tergantung. Ada luka lecet di pipinya dan hidung. Kata mereka, Kyungsoo mengalami patah kaki yang cukup serius, namun tidak ada luka di kepala, walaupun saat itu Kyungsoo tidak memakai helm.

Jangmi tidak berani dekat-dekat. Dia melihatinya dari ambang pintu, membiarkan ibu Kyungsoo menciumi wajah anaknya, menangis bahagia karena Kyungsoo bisa lolos dari maut.

Dia lemah… Kyungsoo tampak rapuh, dia tertidur lelap.

Dia seperti Kyungsoo yang sedang tertidur biasa, yang biasa Jangmi lihat ketika dia berada di garasi.

____________

Keesokannya…

Jangmi tidak masuk sekolah dan segera meluncur ke rumah sakit, tanpa peduli bahwa hari ini ada ujian melukis. Kyungsoo lebih berharga dari seribu lukisan. Pikirnya sepanjang perjalanan.

Jangmi tidak menyukai bau antiseptik yang selalu mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya, dipaksa menerima suntikan vitamin. Tapi Kyungsoo lebih berarti dari semuanya yang ada didunia.

Hari ini adalah ulang tahun Kyungsoo, itu membuat semuanya lebih berharga dari apapun. Jangmi membawa sebuah map di belakang tangannya. Dia membuka pintu dan harus menahan diri untuk tidak memeluk Kyungsoo yang dilihatnya sudah sadar.

Dia tidak lagi tertidur dan tampak baik-baik saja, walau masih memakai selang oksigen. Ibu Kyungsoo tersenyum menyambutnya dengan pelukan hangat. “Hai, Jangmi. Terima kasih sudah datang.” Ujarnya.

Jangmi melihat Kyungsoo dari bahu bibi. Apa dia marah? Apa Kyungsoo marah padaku?

“Kyungsoo, lihat siapa yang datang? Jangmi.” Ibu Kyungsoo mendorong Jangmi mendekati tempat tidur. J

angmi tidak yakin apa yang harus dia katakan, sahabatnya itu memandang dirinya tanpa ekspresi. Apa dia tidak senang melihatku?

“Hari ini ulang tahun Kyungsoo. Bibi membuat kue yang enak. Kau harus mencicipinya, Jangmi. Ini enak sekali.”

“Eumm tentu saja, bi. Terima kasih.” Jangmi tersenyum aneh. Ibu Kyungsoo tersenyum hangat dan dia menepuk bahu Jangmi sebelum keluar. “Aku harus keluar untuk membicarakan soal makan siang Kyungsoo. Aku yakin kalian ingin berbicara berdua saja.”

Dia mengedipkan sebelah matanya dan berbisik cukup keras, mungkin Kyungsoo mendengarnya.

“Kau adalah orang pertama yang dicarinya saat siuman.”

Aku?

Jangmi menatap Kyungsoo yang masih tidak berekspresi. Lalu mendengar pintu tertutup, hanya ada mereka berdua di kamar itu. Kyungsoo menutup matanya.

“Kyungsoo?”

“Mmmhh?”

“Maafkan aku.” Kyungsoo membuka mata, menatap Jangmi yang tertunduk sedih. Hari ini dia tampak berbeda. Jangmi memakai kemeja yang tidak pernah Kyungsoo lihat. Apakah itu baru? Apa dia memakainya khusus di hari ulang tahunku? Jangmi menjepit poninya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. Dia…cantik?

“Hari ini ulang tahunku, kau malah minta maaf bukannya mengucapkan selamat ulang tahun.”

Mata Jangmi terbelak. “Oh, tentu saja, maksudku…selamat ulang tahun, Kyungsoo…eumm” sedikit aneh tidak bisa menjabat tangannya yang penuh selang infus.

“Tidak usah berjabatan tangan. Thanks.”

Jangmi ragu untuk berbicara, tiba-tiba saja hubungannya menjadi aneh. Apa Kyungsoo tidak mengenalnya lagi? Tidak ada satu pun dari mereka yang mulai berbicara, membiarkan atmosfer keanehan melingkupi kamar itu.

“Kyungsoo…” Jangmi memulainya. “Kau tidak amnesia kan? Kau ingat siapa aku?”

Kyungsoo berdecak kesal. “Tentu saja! Kau Shin Jangmi yang menyebalkan itu kan? Yang selalu mengeluh tentang garis tepi, warna air, tidak bisa membuat lengkungan itu dan ini. Kau sulit mencampurkan warna yang tepat dan menggambar manusia adalah hal yang tidak mungkin bagimu.” Ceracau Kyungsoo tanpa henti, membuat Jangmi sekali lagi kaget.

“Kau mendengarkan keluhanku selama ini? Aku kira…”

“15 tahun, Jangmi. 15 tahun kita bersahabat dan aku hafal semua yang kau katakan. Jika kau berpikir ada orang lain yang lebih mengerti dirimu, aku tidak tahu siapa dia.” Ujar Kyungsoo.

“Maksudmu Chanyeol?”

“Jangan sebut namanya di hari ulang tahunku…atau di hari lain.” sahut Kyungsoo.

Jangmi menarik kursi untuk duduk. Dia mengerutkan dahinya, tiba-tiba lehernya terasa sakit karena menahan sesuatu. “Kyungsoo, maafkan aku. Waktu itu…aku, aisshhh…” Air mata jatuh mulus di seprai. Jangmi benci harus menangis seperti ini karena dia akan berakhir dengan pilek sepanjang hari.

“Ini semua salahku. Seharusnya…seharusnya aku tidak bertengkar denganmu kemarin. Maka kau tidak harus berulang tahun di rumah sakit dan menerima semuanya…” Isak Jangmi tidak bisa menahan air matanya yang turun deras seperti air terjun.

“Hei, aku pikir ulang tahun di rumah sakit adalah sesuatu yang baru. Lagipula, itu salahku. Aku berkendara di tengah hujan. Siapa yang akan pulang dalam keadaan seperti itu.” Gelaknya memenuhi ruangan.

Jangmi menggeleng, menarik ingusnya. “Tidak, seharusnya aku tidak memulai pertengkaran dan kita bisa pulang bersama…”

“Apa kau bodoh? Jika kita pulang bersama, kita akan kecelakaan berdua dan itu konyol.” Potong Kyungsoo.

“Tapi Kai…” Kyungsoo mendengar nama scooter kuning keasayangannya. Dia ingat betul sebelum menutup matanya di tengah hujan, Kai berada beberapa meter darinya, hancur telindas truk merah itu. Hatinya sakit, tapi mungkin akan lebih buruk jika yang dilihatnya adalah Jangmi. Dia tentu tidak bisa membayangkannya. Dia merelakan Kai.

“Yah…Kai…dia hancur. Tapi…sudahlah, itu semua sudah berlalu.” Mata Kyungsoo berair, walaupun setelah itu dia kembali menyebalkan. “Berhenti menangis dan mana hadiahku??”

Jangmi mengelap air matanya, mencoba berhenti menangis dan memberikan map ungu itu.

“Kau memberiku map?”

Jangmi menggeleng dan mengeluarkan isinya, memperlihatkan sebuah sketsa hitam putih Kyungsoo sedang berada di atas Kai si scooter kuning. “Aku tahu kau akan ingat pada Kai lagi, tapi…kau tampak serasi dengannya.” Jelas Jangmi buru-buru sebelum Kyungsoo sempat berkomentar.

Alis Kyungsoo bertaut hingga bertemu. “Eumm…terima kasih membuatku tampak sedikit tinggi disini. Aku kira kau tidak akan menggambar manusia.”

Jangmi tertawa. “Aku hebat kan? Aku berusaha mati-matian belajar menggambar sketsa manusia khusus untuk menggambarmu.”

“Jadi kau tidak pulang bersamaku karena kau belajar menggambar manusia bersama Chanyeol?” Dia menaikkan sebelah alisnya. Dia benci membahas si pria tinggi itu lagi, tapi Kyungsoo ingin mengetahuinya.

“Tidak. Aku belajar dari internet dan buku.” Jawab Jangmi. oke, itu lebih bagus.

“Sebenarnya…” Jangmi mulai berbicara lagi setelah Kyungsoo mengira semua ini sudah selesai. Bisakah mereka memakan kue sekarang? “Aku menyiapkan sesuatu yang lebih hebat. Tapi aku tidak membayangkan kau berada disini saat ulang tahun.” Ujarnya sedih.

“Kau menyiapkan hadiah selain ini?” Tanya Kyungsoo tidak percaya.

“Tentu saja! Aku bukan sahabat murahan yang hanya memberikan selembar sketsa seperti ini untuk ulang tahunmu. Sebenarnya ini kejutan tapi…”

“Stop! Kalau itu kejutan, aku tidak mau mendengarnya sekarang.” Potong Kyungsoo cepat-cepat. Sebuncah kegembiraan bergetar dalam dadanya. Jangmi hanya mengangguk dan berjanji akan memperlihatkan kejutan itu saat Kyungsoo keluar dari rumah sakit.

Tidak ada yang Kyungsoo inginkan selain merayakan ulang tahun bersama sahabat terbaiknya. Walaupun kakinya patah, Kai hancur, dan bau antiseptik membuat kue cokelat di mulutnya terasa aneh, tapi dia bahagia.

“Hei, tanda tangani gipsku.”

______________

Seminggu kemudian… Tepat dimana Kyungsoo keluar dari rumah sakit. Jangmi dengan senang hati mendorong Kyungsoo di kursi roda, walaupun sepanjang jalan Kyungsoo hampir mengalami serangan jantung karena gadis itu terlalu kencang mendorongnya.

Hari ini Jangmi berjanji akan memperlihatkan kejutannya pada Kyungsoo. “Aku mau melihatnya sekarang.” Pinta Kyungsoo seperti anak kecil.

“Baiklah, tapi jangan kaget ya. Karena ini sebuah karya yang sangat hebat. Kau harus menutup matamu dulu.”

Ayah Kyungsoo bersedia mengantarkan mereka ke sebuah tempat yang Jangmi tunjukkan. Dada Kyungsoo bergemuruh sepanjang perjalanan.

Dia tidak tahu seperti apa bentuk kejutan itu, namun dia melihat Jangmi terus tersenyum padanya. “Aku bisa mati penasaran. Kapan kita sampai?” Keluh Kyungsoo mulai tak sabar.

“Sabar sedikit. Sebentar lagi kita sampai.” Ujar Jangmi memakaikan penutup mata pada Kyungsoo. Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah lapangan tak terpakai. Kyungsoo sudah duduk di kursi rodanya, siap menuju sebuah tempat dimana kejutan sudah menunggunya.

Jalanan sedikit berbatu, Kyungsoo terguncang namun itu membuat rasa penasarannya semakin meningkat.

“Oke, aku akan membuka penutup matanya, Kyungsoo, pada hitungan ketiga.” Bisik Jangmi tepat di telinganya. Kyungsoo mengangguk dan suara Jangmi terdengar.

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga!”

Penutup mata itu melorot dari wajahnya. Kyungsoo butuh beberapa saat untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya luar.

“Selamat ulang tahun, Kyungsoo!!” Kyungsoo mengerjapkan mata.

Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah tembok besar pembatas lapangan. Disana ada gambar dirinya, memakai helm dan jaket, sedang berada diatas Kai si scutter kuning, tersenyum senang dan benar-benar mirip dirinya, seperti sebuah foto.

Kyungsoo tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap tembok itu lalu Jangmi secara bergantian. Jangmi tersenyum dan memeluk dirinya. “Selamat ulang tahun, Do Kyungsoo. Aku menyayangimu.”

Masih diam, kehilangan kata-kata, Kyungsoo tidak berkata apa-apa, tapi Jangmi mengangguk seakan mengerti sahabatnya menyukai hadiahnya dan Jangmi senang akan hal itu. Lalu semua orang mendekatinya, memberi ucapan selamat.

Disana ada Baekhyun, Amber, Sulli, Luna, dan orang terakhir…

“Hai, Kyungsoo, selamat ulang tahun.” Ujar Chanyeol menjabat tangannya kaku.

Kyungsoo menerima ucapan itu dan masih bertanya-tanya…kenapa Jangmi mengajaknya kesini?? Astaga, tenangkan dirimu, Do Kyungsoo. Jangan merusak hari terbaikmu hanya karena orang ini.

Kyungsoo terpaksa tersenyum, dia sempat melirik ke arah Jangmi dan gadis itu seakan mengerti. “Eumm…Chanyeol membantuku membuat kejutan ini, Kyungsoo. Inilah alasan aku tidak berangkat dan pulang bersamamu, karena…” Dia memandang lukisannya di tembok besar itu. “Aku menyiapkan kado ini untukmu. Chanyeol membuat gambarmu dan langitnya, lalu kau lihat ada sungai Han dibelakangmu. Itu aku yang menggambarnya. Bagus kan?”

Jangmi berharap Kyungsoo tidak marah, karena raut wajahnya tidak bisa ditebak. Sebenci itukah dia pada Chanyeol??

“Yah…” Kyungsoo bergerak membenarkan posisi duduknya. “Terima kasih, eumm..Chanyeol. walau kau banyak membantu melukisnya, aku tetap menganggap hadiah ini dari Jangmi.” Jangmi menyenggol memperingati Kyungsoo, tapi dia sama sekali tidak peduli. Jangmi melemparkan pandangan meminta maaf pada Chanyeol, dan Chanyeol membalasnya dengan senyuman mengerti.

Kyungsoo tahu hal itu, tapi dia malah berbicara hal lain. “Hei, Baekhyun! Mana hadiahku darimu?”

Baekhyun memutar kedua bola matanya dan memberikan akuarium yang mereka buat beberapa minggu sebelumnya. “Aku menyelesaikannya dan tebak apa? Ini akan dipajang pada festival Seoul bulan maret nanti.”

“Benarkah?? Wow, ini hebat!!” Sorak Kyungsoo senang memegang hasil karyanya. Semua senang. Kyungsoo bahagia. Jangmi senang melihat Kyungsoo ceria dan tertawa.

Mereka kembali seperti dulu, itulah yang disyukurinya. Ayah Kyungsoo menghampiri puteranya, menepuk bahunya. “Sepertinya hanya paman yang belum memberi apa-apa pada Kyungsoo.” Kyungsoo tertawa dan menatap ayahnya.

“Ayah tidak perlu memberi apa-apa. Ayah telah memberikan segalanya untukku.”

“Apa kau sedang berpidato? Tentu saja aku harus memberimu kado, aku tidak mau kalah dengan Jangmi.” Ayah Kyungsoo mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. Dia merogoh sesuatu dari dalam kantungnya.

Semua mata sama besarnya dengan milik Kyungsoo ketika melihat kunci itu bergantung di jemari ayahnya.

“A-ayah…aku…”

“Tidak secanggih scooter kuningmu yang bernama…”

“Kai.” Sahut Jangmi.

“Ya, Kai, terserahlah apapun namanya. Yang satu ini tidak secanggih itu, cc-nya kecil, warnanya merah dan aku yakin kau bisa merubahnya sesuai keinginanmu.”

Kyungsoo mengangguk, matanya tidak lepas dari kunci scooter itu. Ketika tangannya hampir meraih kunci itu, ayahnya menarik kembali.

“Tapi ingat…tidak berkendara ditengah hujan.” Kyungsoo mengangguk lagi dan kunci itu berada di tangannya. Matanya berbinar-binar bahagia.

“Merah tidak jadi masalah.” Gumamnya pelan.

“Kai yang baru?” Tanya Jangmi.

Kyungsoo tersenyum, “Kai yang baru.”

Kyungsoo menggenggam kunci itu dan menikmati lukisannya di tembok besar, membuatnya berpikir.

Ini hadiah ulang tahun terbaik dalam hidupku.

_____________

“Hati-hati! Ya! Shin Jangmi!”

Kyungsoo tidak bisa berhenti berteriak ketika Jangmi mengendarai scooternya dengan Kyungsoo di belakang.

“Kau bisa tidak sih??” Ujar Kyungsoo ngeri. “Kau bisa membuatku masuk rumah sakit lagi.”

Jangmi tertawa. “Tenang saja, Kyungsoo. Aku ahli.”

“Ya! Kau baru saja menerobos lampu merah!”

“Hampir merah, Kyungsoo. Tenanglah.” Kyungsoo tidak bisa tenang, walaupun gadis ini adalah sahabat terbaiknya.

“Ya! Shin Jangmi!”

# THE END #

_______________

Huaaa… Sumpah author gak ngerti apa yang author tulis ini T.T Awalnya niat seniatnya, di bayangan pun kayaknya bagus, tapi kayaknya kok aneh sih😦 Gimana menurut Chingudeul? Author baru nyadar, ini adalah ff D.O yang pertama. Sebelomnya, author gak pernah nulis yg castnya si D.O  (pantesan!) tapi yaudah lah ya, capcus aja.

Pada mau tau gak kenapa begini? Author udah mulai masuk kuliah dan sibuk banget karena banyak tugas. Jadi kepikiran sama tugas, FF mandek.

So, maybe author akan hiatus beberapa bulan :”( (Bener2 nangis ngebayanginnya) Ff D.O ini jadi ff terakhir sebelum hiatus, jadi…semoga chingudeul menikmatinya walaupun gak bagus-bagus banget…

Huhu maafkan aku yaahhh *bow with Chanyeol* Author janji akan kembali dengan ff exo dan kpop lainnya🙂 So, stay tune ya😀

Gamsahamnida😀 *sedot ingus* hehehehehe :b

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

25 thoughts on “The Best Gift for Do Kyungsoo

  1. Hahaha nama scooternya Kai >,<
    Author anak seni ya?hehe…
    I got nothing to say… My mind is full of scooter named Kai, art class, and D.O haha😀
    Intinya ini keren deh…
    Saya gak begitu ngerti sastra, jadi gak bisa ngomentarin secara stuktural atao apapun itu…
    Ceritanya asik, buat anak teknik sama seni nyatu meski bentrok terus…
    Mungkin ada beberapa typo tapi gak ganggu ah typo nya…
    Endingnya juga gak ketebak..
    Mungkin hadiah buat Kyungsoo nya sedikit "datar" dan gak "wah" tapi ini seruuuu😉
    Jadi mereka itu anak SMK gitu ya? Ato kuliah tapi gimana?hehe
    Daebak Authooor😀

    1. hahahaha bukan bukan aku bukan anak seni
      aku anak ekonomi berdarah seni mungkin (?)
      iya tuh hadiahnya begimana gitu yah…hmmm…gagal deh saya haha😀
      eummm SMK ato bukan…sebenernya aku ngeliat dari sistem penjurusan di luar negeri
      jadi mereka kalo udah sma gitu langsung ada jurusannya, kayak jurusan seni, kimia, teknik dll
      yaaahh gatau sih itu berlaku buat di korea ato enggak hahaha ._.v
      oke deh pokoknya terima kasih yaaahh 😀

  2. fanfic yg mengesnkn ^^

    Pdahl tdinya aq brharap jangmi jdian ama kyungso pd awalnya..hehe tp pda akhrnya aku brfikir persahabatan lebh mengesankan. . . . ^0^

  3. Baekhyun memainkan tang ? haha ini seru kak,aku jadi ninggalin majalah yang lagi aku lihat buat baca ini,dan ini keren,setiap tlisan kakak selalu ngash kesan seru dan unik,smangat ya kak nulisnya

  4. 15 tahun menjadi sahabat, bener2 terharu walau hadiah’a gk terlalu ”wow” tp karena aku yakin hadiah itu dibuat dgn hati yg tulus oleh jangmi pasti hasil’a jd “WOW” aku rasa ini awal cerita dr kyungsoo yg secara gk langsung ada rasa cinta ke jangmi terlihat dr dia cemburu sama chanyeol hahaha😀 ahh bahagia’a….

  5. Kaisoo shipper😀
    Scooternya dikasih nama Kai
    Sweet banget kak :3 Tapi kenapa nggak sekalian dibikin romance aja?
    Hehe
    Kyungsoo masih aja cemburu berat saama Chanyeol, bikin greget
    Joha~

  6. Ketawa bagian yang ini “Terima kasih, eumm..Chanyeol. walau kau banyak membantu melukisnya, aku tetap menganggap hadiah ini dari Jangmi.”

    Bahkan di detik2 terakhir pun dia masiiih…../COUGH/ ga tau lucu banget pokoknya.
    Dan tadi sempet hampir berhenti napas waktu mikir jangan2 ini kyungsoo amnesia lagiiii
    Tapi untung enggak!!

  7. Tumbenan kak, chanyeol disini jadi anak non-idiot/canda.
    Itu yaampun, scooternya…si kai…. wkwkwk dan aku kira jangmi sama kyungsoo bakalan berkahir dengan pacaran ternyat tetep. Suka banget sama ff ini ><

  8. Dira eonnie, sumpah aku ngakak pas bagian Baekhyun bilang, “demi EXO planet yang bahkan tidak ada di galaksi ini!” Hahaha, itu lucu banget kalimatnya, ya ampun Baekhyun bener -____-

    Tapi aku sedikit sakit pas baca Baekhyun yg, “Hei! Aku sedang mencoba mendekati Taeyeon noona.” huhuhu aku masih belum gimana gitu sama mereka padahal Taeyeon sama Baekhyun dua-duanya idola aku :3

    Tapi aku kembali ngekek pas baca kyungsoo ngomong, “Cih..satu tahun berlalu dan kau masih saja berharap akannya? Ironis.” Miris banget sumpah eonnie hahahaha ><

    Keren kak!!! keren! keren! keren!
    Uhhh, FF buatan kakak selalu berhasil bikin aku ngefly, dan ahhh pokonya campur aduk hihihi
    keep writing kak ^^

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s