Posted in EXO, Fanfiction, Fluff, Romance

I Will Be Your Guardian

Title : I Will Be Your Guardian

Main Cast : Eun Soo (OC) and Suho EXO (Kim Junmyeon)

Length: Oneshot

Genre : Romantic drama

Rating : PG-13

Annyeong…:D
Author kembali lagi membawa ff Suho *tebar senyum angelic Suho*
Hayo hayo siapa yang penasaran???
Kali ini Suho jadi seorang dokter (o.o) Author terinspirasi dari ngeliat foto Suho yang pake kacamata terus lagi mangku si baekhyun O.o
Ituu neomu jeongmal handsome!!! Hahaha xD
Jadi…bayangkanlah disini Suho pake kacamata dan jadi dokter super ganteng
(Kalo gini caranya, author rela deh di geret ke rumah sakit, maupun sakit ato gak) hahaha
Happy reading😀


____________
Aku…

Tidak tahu rasanya akan seperti ini.

Saat mereka menempelkan stetoskop dingin itu ke tubuhmu, kau akan menggeliat karena sensasi yang cukup mengagetkanmu.

Tapi…

Setelah bertahun-tahun lamanya, setiap hari kau merasakan stetoskop, jarum, semua peralatan menempel dan memasuki tubuhmu…

Saat itu juga kau merasa ingin berlari menjauh dari semuanya.

Aku pasrah ketika lagi-lagi sebuah jarum menerobos nadiku, mengambil beberapa cc darah, dan mengucapkan selamat pagi.

“Kau akan baikan setelah ini.” Ujar perawat dengan senyum manis membosankan.

“Apa aku boleh pulang sekarang?”

Perawat itu menoleh dengan cepat. “Tentu saja belum. Tidak sampai dokter datang dan memeriksa keadaanmu. Jantungmu akan segera membaik.”

Ya, aku berada di rumah sakit ini karena penyakit jantung bawaan dari lahir. Kebocoran pada bilik kanan membuatku harus berakting seakan aku masih punya harapan.

“Profesor Lee akan datang hari ini? Bukankah dia sedang pergi ke Jerman?” Tanyaku sedikit bingung karena jelas kudengar mereka membicarakan kepergian dokter yang menanganiku.

“Ya, tapi ada dokter pengganti. Dia asisten Profesor Lee. Eumm…” Perawat itu melirik jam didinding. “Mungkin sebentar lagi dia akan datang.”

Dokter pengganti?

Asisten?

Apa dia bisa menanganiku sementara profesor Lee pergi?

Aku…

Tidak yakin.

Tok tok tok..

Pintu terbuka sebelum kami mengatakan sesuatu.

Aku baru saja ingin memperbaiki posisi dudukku, tapi mungkin saat ini lebih tepat jika aku memperbaiki bajuku, rambut bahkan wajahku.

Dia…

Astaga, demi apapun yang tumbuh di bumi ini!

Siapa orang ini?

Aku bisa menghitung berapa kata sumpah serapah yang kugumamkan ketika melihat pria berbaju putih, berambur hitam mengkilap, begitu juga dengan kulitnya yang sebersih salju.

Dia memakai kacamata berbentuk kotak, menimbulkan kesan mendalam, apalagi ketika dia tersenyum menyapaku. Aku yakin seratus persen dia hanya beberapa tahun lebih tua dariku.

“Hai, selamat pagi.”

“Selamat pagi, dokter Kim.” Ujar perawat yang aku tahu jelas, dia juga terpesona padanya.

Aku terdiam, tidak menjawab. Lidahku kelu dan dadaku tiba-tiba sakit.

“Hai, aku dokter Kim Junmyeon. Aku menggantikan profesor Lee untuk sementara karena dia sedang pergi ke Jerman.” pria yang ternyata adalah dokter pengganti itu mengulurkan tangannya untuk menjabatku. Tapi..oh, apa yang kulakukan?!

Bengong seperti orang tolol??!!

Dia menarik kembali tangannya dengan senyum masih mengembang di wajah. “Baiklah, eumm…bagaimana tekanan darahnya?” Dia bertanya pada perawat.

“Sedikit tinggi. 130 per 100.”

“Oh…” Dokter itu mendekatiku seraya jantungku berdetak tak karuan. “Apa yang membuatnya begitu tinggi? Coba kita check.”

Dokter Kim mengeluarkan stetoskop dari dalam jasnya. Pertama-tama dia memeriksa nadiku, lalu menempelkan besi dingin itu di dadaku.

Beberapa detik mendengarkan detaknya dengan seksama. Alisnya bertaut. Apa dia menemukan sesuatu yang aneh??

“Eumm…” dia menggigit bibir bawahnya, dan aku mendapati diriku sedang menatapnya.

Satu kata.

Manis.

Dokter Kim melakukannya dengan sangat lucu dan manis.

“Apa kau kurang tidur semalam?” Akhirnya prosesi itu selesai, aku bisa bernapas lega. Namun tatapan Dokter Kim yang bertanya-tanya masih menimbulkan efek besar bagiku.

“Entahlah, aku tidur nyenyak semalam.” Jawabku singkat.

“Ya, tentu saja. Tapi detak jantungmu cepat sekali.”

“Benarkah? Aku…tidak tahu hal itu.” Aku sendiri tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Hei! Aku disini untuk mendapatkan perawatan dan mengetahui akibat mengapa jantungku tidak bisa bekerja normal seperti orang lain.

Junmyeon, nama Dokter Kim, sekarang benar-benar membekas diotakku. Dari caranya berbicara, tersenyum, menyentuh kulitku, hgh…semuanya terasa sempurna.

“Ada yang ingin kau tanyakan sebelum aku pergi?” Tanyanya tiba-tiba dan membuatku tidak bisa menahan kata-kata ini.

“Berapa umurmu?” Aahh, apa yang kulakukan??!!

Perawat disebelahnya tergelak, tapi dia segera menutup mulut saat aku melihatinya.

Junmyeon tersenyum lagi. “Umurku 24 tahun?”

“Bolehkah aku memanggilmu oppa?” Tanyaku tak sadar.

Dia melemparkan senyuman manis nan hangat. Oh, tuan, sekali lagi kau berbuat seperti itu aku bersumpah akan mencekikmu.

“Tentu saja.”

Perawat itu merapikan barang-barangnya dan bertanya sambil berusaha menahan tawa. “Adakah hal lain yang ingin kau tanyakan, nona Park? Eumm terkait dengan penyakitmu?”

Aku menggeleng. Tentu saja tidak. Aku selalu tahu kondisiku seperti ini dan akan tetap seperti ini, atau mungkin lebih memburuk.

Aku memikirkannya sangat dalam.

Tapi…

Dokter Kim benar-benar menyita seluruh perhatianku.

_________

Hari ini menu makanan tidak terlalu menggugah selera. Aku hampir memuntahkan bubur sayur yang diberikan perawat padaku.

Uughh, rasanya hambar dan ada bau antiseptik disana.

Apakah mereka pikir aku penuh kuman hingga harus memasukkan antiseptik di makananku?

Atau mereka sengaja ingin membunuhku karena bosan melihatku berada di rumah sakit ini terlalu lama?

Aku tak mau memikirkan hal itu, yang sekarang kurasakan adalah perut kosong dan lapar.

“Apa kau yakin tidak ingin memakan bubur ini lagi? Kau hanya makan beberapa suap saja.” Tanya perawat tampak cemas melihat mangkuk buburku.

Aku tersenyum pahit. “Tidak terima kasih. Aku masih terlalu kenyang…”

Kalimatku terpotong oleh kedatangan ibuku.

Dia adalah wanita paruh baya yang nyentrik. Mungkin jika tidak ada papan dilarang merokok di kawasan rumah sakit, dia akan menyalakan pemantik dan mulai merokok.

Aku langsung sesak melihat wajahnya, seperti menghirup bau rokoknya yang tajam. “Apa yang ibu lakukan disini?”

“Kau tidak suka ibu menjengukmu?” Ujar ibu sedikit kaget.

Bukan aku yang tidak suka.

Kau yang bilang kalau bau rumah sakit yang steril hanya membuatmu semakin ingin merokok dan melanggar peraturan rumah sakit.

“Yah, aku hanya kaget tiba-tiba ibu datang kesini dan…membawa kue?” Aku melihat kotak di meja kamarku.

“Oh, tentu saja. Ini untuk anak ibu yang cantik.” Dia memberikan kue itu di pangkuanku dan ketika kubuka, aku menghela napas. “Ibu memakannya setengah?”

Ibu menyunggingkan senyuman tak bersalah sambil menjilat jarinya. “Jangan salahkan ibu! Kue cokelat itu terlalu menggugah.”

Aku memutar bola mataku. “Ughh, terserahlah.” Ujarku melemparkan kue ke kursi.

“Jadi…” Ibu memainkan rambutku. “Bagaimana keadaanmu? Lebih baik kan?”

“Hmm…tentu saja. Jika keadaanku membaik minggu ini, mungkin aku akan pulang ke rumah minggu depan. Tapi…” Aku menarik selimut hingga batas dagu. “Jika aku membaik, kalau tidak…mungkin akan lebih lama disini.”

“Tentu saja tidak! Kau harus cepat sembuh agar semua biaya rumah sakit dari ayahmu bisa kita pakai untuk berbelanja baju, sepatu…”

Aku melemparkan tatapan minta maaf pada perawat di sudut ruangan selagi ibuku terus berceloteh akan mimpinya yang tidak pernah terwujud.

“Hei, kau dengar tidak sih??” Ibuku mulai protes ketika pintu terbuka dan hahhh…apa yang kuimpikan tadi malam?? Tiba-tiba aku berubah menjadi sesendok puding.

“Selamat pagi.” Jumyeon menebarkan pesonanya di pagi hari. Aku rasa hari ini akan menjadi hari yang indah.

“Bagaimana keadaanmu hari ini?” Ucap Junmyeon, dia memakai kemeja biru muda dibalik baju dokternya itu.

“Wuah, dia tampan, Eun Soo.” Ibu menyenggol perutku. Itu sama sekali tidak terdengar seperti bisikan. Ibu mengatakannya cukup keras hingga Junmyeon bisa mendengarnya dan tersenyum tipis.

Aakkhh!! Bisakah ibu keluar dari kamar sekarang??

“Aku…baik.”

“Kau sudah sarapan?”

Oh sial! Kumohon jangan ada yang mengatakannya…

“Nona Park hanya makan sesuap bubur hari ini.” Perawat melirikku. “Dia tidak banyak makan.”

Oh ya, bagus. Terima kasih.

“Itu karena aku masih merasa kenyang.” Aku berkelit, tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Jumyeon.

Dia hampir mempercayainya, jika saja ibu tidak mulai ikut campur dan membuat semuanya berantakan.

“Ya! Kau bahkan seperti tidak menyentuhnya sama sekali.” Ujar ibu mengaduk-aduk bubur itu.

Junmyeon memandang penuh arti kearahku.

Hah, sial! Apa yang harus kukatakan??!!

Pria tampan itu mengeluarkan stetoskopnya. “Aku akan memeriksamu terlebih dahulu sebelum kita berbicara masalah ‘ini’.” ada penekanan dalam-dalam kata-katanya. Dia akan membahasnya lebih lanjut.

Lalu seakan mempunyai kontak batin antara aku dan ibu, tiba-tiba ibu melompat dari kursi dan mendorong perawat untuk keluar dari kamar.

“Oh! Dokter akan memeriksa Eun Soo. Kita harus pergi dari sini.”

“Tapi…tapi…aku…” Perawat itu tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan bahwa dia harus berada disana.

“Eun Soo pasti makan dengan baik.” Bisik ibu sebelum keluar pada Junmyeon. “Jika kau menemaninya.” Timpal ibu lagi.

Pintu tertutup dan aku berharap wajahku tidak semerah cherry. Aku meminta Tuhan agar memberikan oksigen lebih di dalam kamar, karena jantungku mulai berulah.

Kami tinggal berdua. Junmyeon tersenyum dan mulai memeriksaku.

Kesunyian melingkupi kami. Tidak hanya Junmyeon yang mendengar detak jantungku lewat stainles dingin itu, namun aku merasakan getarannya begitu parah, hingga aku mengira jantungku hendak keluar.

“Kenapa kau tidak makan sarapanmu?” Suara Junmyeon memecahkan keheningan.

“Aku…” Kupilin jemari yang bermain-main diatas perutku. “Tidak suka makanan itu.”

“Tidak suka? Kenapa?” Tangannya yang hangat menekan nadi di lenganku.

“Tidak tahu, rasanya…rasanya…aneh. Aku tidak suka wortel dan disana banyak sekali wortel.”

Junmyeon melirik ke arah bubur itu. Aku melemparkan pandangan tidak suka agar dia mengerti.

“Lalu kau mau makan apa, hmm?”

“Entahlah. Mungkin jika tidak ada wortel disana, rasanya tidak akan separah itu.” Jawabku sedikit kekanak-kanakan.

Lalu Junmyeon menekan bel disamping tempat tidur. “Bawakan bubur polos tanpa tambahan apapun, hanya kaldu dan garam.” Dia tersenyum padaku. “Itu yang kau inginkan?”

Aku mengangguk perlahan dan tidak lama kemudian seorang perawat membawakan semangkuk bubur yang Junmyeon minta.

Bubur itu tersodor di depanku. Ya, aku tahu tidak makan teratur akan membuatku semakin memburuk dan Junmyeon tidak ingin hal itu terjadi, namun caranya meyakinkanku untuk memakan bubur itu sungguh tidak kusangka.

Dia menarik kursi disebelahku dan duduk menatapku seakan menunggu sesuatu.

“A…apa?” Kataku tergagap melihat sikapnya.

Jangan katakan! Aku rasa aku tahu.

“Aku akan menemanimu sampai kau selesai makan.”

Kata-kata yang terucap darinya bagai suatu vitamin, suplemen, obat yang eumm…entahlah, membuatmu mati rasa dan bersedia melakukan apa saja.

Aku menelan ludah ketika melihat bubur putih dihadapanku, lalu melihat ke arah Junmyeon secara bergantian.

Dia…

Tampan…

Sempurna!!

Apa yang dipikirkan kedua orang tuanya saat menyadari bahwa mereka mempunyai anak yang sempurna.

Aku menyuapkan bubur ke dalam mulutku.

Satu suap

Dua suap

“Kau tidak ada pasien lagi?” Ujarku dengan mulut penuh.

“Tidak. Aku ada rapat setelah ini…” Junmyeon menguap dibalik tangannya. “Maaf.”

“Apa menjadi dokter sangat melelahkan? Aku rasa pekerjaan dokter paling menyenangkan.” gumamku, mengaduk bubur.

Junmyeon pun tertawa. “Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Entahlah. Dokter bisa melakukan segalanya pada pasien. Dia menyuntik, merobek perut pasien dan menjahitnya kembali. Kau menyuruhnya untuk berolah raga atau apapun demi kesehatan mereka, dan mereka melakukan semua hal yang kau suruh.” Jelasku panjang lebar.

“Kau pikir begitu?”

Aku mengangguk.

Junmyeon bersandar pada kursi, mencoba mencari posisi yang pas untuknya. “Tidak semua pekerjaan dokter menyenangkan.”

“Contohnya?”

“Saat pasien tidak mau menuruti perkataan dokter, semua itu menjadi sulit dan tidak menyenangkan.” Jawabnya. Oh, aku tahu siapa yang sedang dia bicarakan.

“Setidaknya aku makan bubur yang kau minta.” Balasku tidak mau kalah.

Junmyeon tersenyum lembut. “Jika kau makan teratur, minum obat teratur, menuruti semua perkataanku, maka…pekerjaanku sebagai dokter akan terasa menyenangkan.”

Tepat saat dia mengatakan hal itu, aku sudah menghabiskan makananku.

Dia beranjak dari tempatnya. Aku melihat matanya yang lelah, tapi dia masih saja tersenyum senang. “Aku pergi. Istirahat yang cukup.”

_________

Udara cukup hangat, membuatku ingin berjalan-jalan sejenak di luar sana dengan kursi roda.

Hari ini malaikat berbaju dokter itu belum datang, atau mungkin tidak datang.

Aku sudah bersiap-siap memakai jaketku, syal, kaus kaki, sepatu, menunggu perawat datang menjemput.

“Selamat pagi.” sapa perawat sambil membawa kursi roda. Aku tersenyum padanya dan duduk disana.

“Apa…Dokter Kim tidak datang kesini?” Tanyaku sembari kami berjalan ke taman.

Perawat terkikik dibelakangku. “Dia tidak masuk hari ini. Mungkin dokter jaga yang akan memeriksamu.”

Apa??

Dokter jaga yang lain??

Tidak! Aku tidak ingin yang lain!

Aku mau Dokter Kim!

Aku mau Junmyeon Oppa!

Seketika hariku menjadi sulit kujalani. Ke taman pun tidak menjadi obat penghibur rasa bosanku. Serangkaian pengobatan hari ini pun jadi terasa menyakitkan dan aku terlihat lesu.

Dadaku sesak, sakit dan berdetak tidak karuan. Dokter jaga itu sudah memeriksaku tapi tetap saja rasa sakitnya tidak mau enyah.

Pukul 3 sore. Aku sedang duduk merana di pinggir tempat tidurku melihat rintik hujan mengotori jendela.

Aku benci hujan. Aku ingat dimana semua anak boleh bermain hujan sementara aku hanya mendekap di dalam rumah karena penyakitku.

Tapi kali ini toh aku sudah besar. Aku tidak melihat ada ibu atau ayah yang menghalangiku untuk keluar. Jadi, aku berjalan ke arah taman dan merasakan titik-titik air membasahi wajahku.

_________

Tetes demi tetes menyentuh bahuku. Kusadari memang salah keluar disaat seperti ini. Angin dingin membuat bulu kudukku berdiri dan aku memeluk diriku sendiri untuk menghangatkannya.

Hei, tidak ada yang menegurku.

Aku duduk dibawah pohon, berharap hujan tidak akan membesar dan ini sangat menyenangkan.

Setidaknya aku bisa melupakan aroma rumah sakit, kamarku yang membuatku juga tidak ingat akan wajah Junmyeon.

Mengalihkan kekesalanku akan ketidakhadirannya hari ini.

Kurasakan rambutku mulai lepek karena hujan. Poniku menempel di dahi dan rasanya tidak enak.

Namun tiba-tiba hujan berhenti.

Atau…

Aku mendongak dan sebuah payung biru ada diatas kepalaku, menghalangi rintik hujan.

“Kenapa hujan-hujanan diluar?”

Suara itu…

Suara…

Aku mendapati Junmyeon sedang berdiri di belakangku, memegang payung itu. Dia memakai kaus lengan panjang berwarna krem dengan corak hijau merah.

Itu membuatnya semakin: T-A-M-P-A-N!

“Apa?” Aku terdengar seperti orang bodoh.

“Hei…” Aku menatapnya bingung. “Kata perawat kau tidak datang hari ini.”

“Aku mengambil libur untuk beberapa hari di rumah, tapi ternyata…tidak semenyenangkan yang kupikirkan, jadi kuputuskan datang kesini.”

“Oh.” Kubulatkan mulutku dan kembali terdiam.

Junmyeon memegang lenganku. “Ayo kembali ke kamarmu, kau bisa demam kalau begini caranya.”

“Tidak.” Aku melepaskan diri. “Berada di kamar di kamar sepanjang hari tidak semenyenangkan yang kau pikirkan. Aku…bosan dan kesepian disana.” Ya, tentu saja. Aku seperti orang bodoh, hanya membaca buku dan memandang keluar jendela. “Aku tidak mau pergi ke kamar. Aku tidak akan beranjak dari sini.” Kataku bersikukuh.

“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?”

“Eumm..” Aku berpikir sejenak. Kosong. Pikiranku kosong, tidak terbayang apa yang kuinginkan. “Tidak tahu.”

“Jika aku mengajakmu pergi jalan-jalan sebentar…keluar dari rumah sakit ini, apa kau akan tetap duduk disini?” Tanyanya terdengar serius.

Aku pun menatapnya kaget.

Apa kau gila? Tentu saja aku akan pergi bersamamu!!

“Benar? Oppa mau mengajakku pergi jalan-jalan? Sungguh?” aku hampir memekik.

Junmyeon mengangguk dan aku bersumpah dia seperti malaikat yang dikirim dari surga untukku.

“Kita berangkat sekarang??” tanyaku terlalu bersemangat.

“Tidak, sebelum kau mengganti bajumu.”

_________

Senang.

Tidak ada kata lain yang bisa mengekspresikan perasaanku selain senang, senang, dan senang.

Dia menyetir di sebelahku, menyetel lagu klasik yang lembut. Telingaku memang tidak terbiasa namun semuanya sempurna, tepat seperti yang kuiinginkan.

Pepohonan berjajar di sepanjang jalan. Aku tidak tahu dimana ini, walau begitu aku pun rela jika dia benar-benar membawaku pergi dan menculikku.

Bawa aku kemana pun kau suka…

Batinku bernyanyi sementara Junmyeon menyalakan penghangat di dalam mobil.

Tidak lama kemudian Junmyeon menghentikan mobil di tepi jalan. Aku bisa melihat pemandangan gunung menjulang di depanku.

Kami keluar dari mobil, menghirup udara segar yang tersedia disana. Yah, ini seratus kali lebih baik daripada mendekam di rumah sakit walaupun sedikit dingin dan kulitku tidak terbiasa akan hal itu.

“Udara pegunungan baik untuk kesehatanmu. Kau harus banyak pergi ke udara bebas seperti ini.”

Aku mengangguk. “Ya, terima kasih membawaku kesini.”

Sebuah perasaan hangat merasuki diriku. Aku melihat sosok yang berdiri disampingku. Tidak terlalu tinggi, namun dia tetap menarik.

Kini dia menatapku, tersenyum singkat saat aku melihat balik.

“Apa yang lucu?” Tanyaku.

“Tidak ada.” Jawabnya singkat, belum bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya.

“Hei, katakan padaku apa yang lucu??” Aku menggelitik pinggang Junmyeon. Dia berusaha menghindar dan tawanya meledak.

“Oke..oke…” Junmyeon menahan tanganku. Dia menatapku dengan tatapan lembut khas dirinya. “Aku…hanya merasa aneh. Aku tidak pernah mengajak pasienku pergi jalan-jalan seperti ini.”

Oh, aku yang pertama??

“Jadi aku merasa senang. Apa kau senang?”

Apa kau bertanya? Apa aku harus menjawabmu??!!! Oh, Ayolah…

“Aku…” Tiba-tiba jantungku terasa sakit. Tanganku refleks mencengkeram pagar besi di depanku. Aku tidak jadi menjawab, hanya melemparkan senyuman getir yang aneh.

“Aku anggap itu ‘ya’.” Ujar Junmyeon membuat dadaku semakin sesak. Ya tuhan, ada apa ini?

Setelah itu kami pergi ke sebuah restoran. Aku kira kondisi badanku akan lebih baik ketika duduk melihat pemandangan lembah di bawah, tapi aku malah semakin berkeringat.

Aku tidak lapar dan tidak merasa apa-apa selain degup jantungku semakin cepat saat aku kesulitan mengaitkan seatbell. Junmyeon tidak mengatakan apa-apa, dia membantuku mengaitkan seatbellnya dan kami cukup dekat.

Aku bisa melihat betapa halus dan mulus kulit wajahnya. Mata kami bertemu, betapa indahnya mata kecokelatan di balik kacamata itu. Napasnya hangat menyentuh bibirku dan aku rasa sebentar lagi aku akan terbang menerobos keluar mobil Junmyeon.

Aku menutup mata dan…

Mobil bergerak seiring detak jantung yang tidak beraturan. Kulirik Junmyeon di sebelah, aku memposisikan tubuhku miring untuk memandangnya.

Aku…

Aku suka bagaimana dia menyetir, bagaimana dia mengedipkan mata indahnya, atau tersenyum yang dapat membuat jantungku mengkerut dan merasakan sakit luar biasa.

Aku tidak peduli dengan sakit yang biasa kurasakan saat aku sendirian di kamar. Namun bersama Junmyeon…entahlah ada sesuatu yang lain, seperti sebuah penyakit asing yang tiba-tiba menyerangku setiap dia menyentuhku atau berbicara denganku.

_________

“Kau tidak apa-apa?” Tanya perawat melihat aku banjir keringat di bawah selimut. “Kau tampak pucat.”

“Aku tidak apa-apa.” Dustaku. Ini tidak membaik bahkan setelah mendapatkan suntikan pagi ini.

Hari mulai siang ketika aku bangun. Lebih baik. Aku tidak merasakan sakitnya, namun ada sesuatu yang aneh. Aku…

Ingin bertemu dengan Junmyeon oppa.

“Apa? Dia sudah memeriksaku saat tidur?” Oh, tidak. Ini buruk. Aku benar-benar harus berbicara padanya.

“Aku ingin bertemu dengannya. Kumohon, ada yang ingin kubicarakan. Dadaku…” Aku meremas bagian depan bajuku, membuat perawat sedikit panik. “sakit….”

Ya, tentu saja itu akan berpengaruh besar pada perawat. Dia langsung berlari keluar kamar dan memanggil Junmyeon di ruangannya.

Beberapa menit menunggu dalam diam, sampai akhirnya aku melihat wajah Junmyeon. “Ada apa? Kau merasa sakit?” Dia menghampiriku, menekan nadi di lengan, dan bersiap memeriksaku.

“Ber…berhenti.” suaraku bergetar karena tiba-tiba aku merasa akan meledak ketika dia menyentuhku.

Junmyeon terlihat bingung. “Jangan…jangan…” Aku menolak dirinya.

Ada apa, Eun Soo?

“Kau kenapa, Eun Soo?”

Aku memilin-milin iemariku, mengikat mereka menjadi satu bentuk yang aneh hingga aku merasa sakit.

“Aku…tidak apa-apa.”

“Tapi tadi kau bilang…” Perawat berbicara.

“Aku hanya berpura-pura sakit karena kupikir itu akan membuat Oppa datang kesini.” Aku beralasan. Junmyeon tidak tahu apa yang akan dia katakan, hanya menatapku bingung. “Maaf.”

“Ya, baiklah jika kau ingin berbicara denganku.” Dia menarik kursi dan duduk melipat tangan. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku…” Ughh, rasa sakitnya menyerang lagi. Oh bisakah tinggalkan aku sebentar untuk berbicara padanya. Aku yakin setelah ini semuanya akan kembali normal.

“Eumm…ya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya baik-baik saja sebelum bertemu denganmu. Aku bernapas dengan normal, aku tidur nyenyak setiap malam, jantungku…jantungku berdetak normal seperti tidak ada yang salah. Namun, saat kau datang, saat…saat aku melihatmu semuanya berjalan tidak seperti biasanya.”

Aku berhenti sejenak untuk melihat reaksi Junmyeon, namun dia tidak bergeming.

“Kau sering menemukan detak jantungku berdetak tidak teratur dan semuanya kacau. Sebenarnya…itu terjadi setiap kau berada di dekatku. Aku…aku rasa aku…menyukaimu, Junmyeon Oppa.” Hufthh…ini yang ingin kukatakan sejak dulu.

Rasanya aku ingin berlari ke arah taman dan menenggelamkan diriku di kolam. Ah, apa yang akan terjadi selanjutnya?? Junmyeon, apa kau akan tertawa? Kau anggap ini konyol??

Tapi…tapi aku benar-benar menyukaimu.

Junmyeon melihatiku seksama. Dia tidak tersenyum ataupun tertawa, atau marah. Tidak berekspresi. Apa dia kaget?

Perawat disebelahku tertawa kecil, namun dia segera menutup mulutnya.

“Kau menyukaiku?” Akhirnya Junmyeon berbicara.

“Y…ya, dan bagiku itu buruk. Aku..memohon padamu.” Air mata mengalir dari sudut mataku. “Aku mohon jangan pernah datang kesini untuk memeriksaku, aku…aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kuhapus tetes terakhir air mataku saat kuputuskan aku tidak ingin terlihat menyedihkan.

Sakit.

Aku tahu ini menyakitkan, tapi tidak setelah ini. Aku yakin sekali.

“Baiklah, jika itu yang kau mau. Kebetulan…” Junmyeon melihat ke arah perawat. “Profesor Lee akan datang beberapa hari lagi. Jadi dia akan menanganimu lebih baik.” Junmyeon beranjak dari kursi dan merapikan pakaiannya. Dia sempat tersenyum lembut padaku. “Aku sangat senang bisa merawatmu. Maaf jika aku membuatmu kacau, tapi…aku sungguh-sungguh ingin kau sembuh. Makan yang teratur dan istirahat yang cukup.”

Pintu tertutup. Aku kembali sendirian di kamar yang berbau antiseptik. Aku tersenyum walapun mataku masih panas ingin menangis. “Pasti akan lebih baik, Oppa.”

_________

Berhari-hari aku lalui tanpa melihat wajah itu. Ada rasa senang karena semuanya berjalan normal kembali.

Tidak ada jantung berdetak cepat, atau sesak napas menyerang dan merinding di seluruh tubuh.

Ada lubang menganga. Aku merasakannya jelas, tapi aku rasa itu adalah efek karena aku terbiasa melihat Junmyeon dan membiarkan perasaan itu menyerang.

Huftthh…jika menyukai seseorang memang tidak enak. Perasaanmu kacau berantakan dan aku benci merasakan hal itu.

Profesor Lee belum datang, aku masih saja bergantung pada dokter lain. Ya, semuanya normal, ketika dokter lain menyentuhku atau memeriksaku.

__________

Disisi lain…

Junmyeon menonton televisi di apartemennya sendirian. Dia terus saja memandangi ponselnya.

Dia menelepon perawat di rumah sakit, dengan sabar mendengarkan nada sambung berbunyi cukup lama sampai suara dari seberang sana menjawab.

“Dokter Kim…dia tidak apa-apa.”

“Eumm, apa kau benar-benar mengecek denyut nadinya? Bagaimana dengan tekanan darahnya?”

“Dokter Kim, aku tidak mengeceknya setiap detik. Dan ini sudah ke tujuh kalinya anda menelepon dalam tenggang waktu 20 menit. Dan aku beritahu untuk terakhir kalinya, dia baik-baik saja dan jika terjadi apa-apa aku akan menelepon anda.”

Junmyeon menggigit bibirnya dan menutup telepon setelah menyetujui untuk tidak menelepon dalam waktu dekat.

Hatinya tidak bisa tenang. Sejak Eun Soo memutuskan untuk tidak ingin bertemu dengannya, tiba-tiba dia merasa marah.

Jika menyukaiku, kenapa tidak ingin bertemu? Apa menyukaiku membuatnya menderita? Batin Junmyeon mematikan televisi. Dia menghempaskan tubuh ke tempat tidur.

Tidak ada yang dipikirkan selain Eun Soo, Eun Soo, Eun Soo…gadis unik dan menarik dari pertama kali dia menanyakan berapa umur Junmyeon.

Namun melihat hasil pemeriksaan terakhir, Junmyeon kembali dirundung sedih dan pikirannya kembali melayang.

___________

Tapi…

Itu tidak berlangsung lama. Aku kehilangan nafsu makan dan tiba-tiba rasa sakit itu menyerang, bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

Tidak! Aku tidak ingin memanggil perawat atau dokter. Aku bisa menghadapinya. Seharusnya rasa sakit ini tidak datang setelah sekian lama tidak bertemu Junmyeon. Tapi kenapa?? Kenapa jantungku terasa sakit seperti ini?

Gelap…

Semuanya gelap dan aku merasa sedikit mual ketika bangun diantara sorot lampu kamar yang menyakiti mata.

“Aawww…”

“Pasien sudah sadar. Terus pantau detak jantungnya dan berikan suntikan…”

Diam!!

Kalian sangat berisik.

Kubuka mataku perlahan, mengerang karena rasa sakit diseluruh tubuh.

“Nona Park?”

“Aku…dimana ini?”

“ICU. Kau tidak sadarkan diri dan kami rasa kami akan melakukan operasi transplantasi jantung. Ibumu sudah menyetujuinya.”

A…apa? Operasi? Sekarang??

“Tidak…aku tidak mau. Oppa…” Aku kaget mendengar mulutku menyebut dirinya, padahal aku sudah bersumpah untuk tidak mengingat setiap detil wajahnya atau pun namanya, tapi kali ini…

Kumohon…

Hanya untuk saat ini saja…

Aku membutuhkan Dokter Kim Junmyeon.

Aku menekan mulutku yang ternyata di tutup masker oksigen. Aku tidak bermaksud menangis, karena itu membuat dadaku semakin sesak. Aku membayangkan jika Junmyeon datang, mungkin sakitnya akan…

“Eun Soo…”

Berkurang.

“Eun Soo, kau dengar aku?” Suara itu…berapa lama aku tidak mendengarnya. Aku benar-benar merindukan suara lembut itu.

Kutolehkan kepalaku dan mendapati Junmyeon memegang tanganku yang penuh selang.

“O…oppa…”

“Aku tidak peduli jika kau tidak menginginkanku disini, tapi aku…”

“Oppa…” kusentuh bibirnya agar dia berhenti bicara. “Aku…ingin melihatmu. Aku merindukanmu. Aku sangaattt merindukanmu.” Ujarku lemah.

“Benarkah?” katanya kaget.

Aku mengangguk sekali. “Aku kira…aku kira semua kekacauan yang ada timbul karena kau selalu ada disekelilingku. Tapi…tapi aku salah. Saat kau pergi, saat aku tidak melihat wajahmu, semuanya semakin buruk dan aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak ingin kau pergi, Oppa.” Kuselesaikan dengan cepat karena aku merasa rasa sakit di dadaku semakin parah sehingga aku mengerang dan menggenggam tangan Junmyeon sekuat-kuatnya.

Napasku terasa berat dan sekelilingku berputar. Suara bising antara alat-alat dan perawat yang menyuruh ini itu.

Wajah sedih Junmyeon menghilang. Aku menutup mata dan membiarkan tubuhku merasakan suatu sensasi aneh.

_________

Diluar ruang ICU…

“Tidak. Tidak.” Junmyeon meremas rambutnya frustasi, dia berjalan kesana kemari. Mungkin ini adalah hal terparah dalam dunia kedokteran. Seorang dokter frustasi melihat keadaan pasiennya. Namun Junmyeon mempunyai alasan dibalik itu.

“Aku tidak mungkin memimpin operasi itu. Aku tidak mungkin melakukannya, tidak pada Eun Soo.” Teriaknya tak sabar.

“Tapi kau sudah berkali-kali menangani operasi besar bersama Profesor Lee. Bahkan kau pernah melakukan ini sebelumnya dan berhasil, Junmyeon.” Ujar teman Junmyeon yang merupakan salah seorang tim dokter yang akan mengoperasi Eun Soo.

Junmyeon menggeleng, dia menaruh kepala di kedua tangannya, tidak tahu apakah ini ide bagus atau tidak.

Dia pernah menghadapi operasi yang jauh lebih kompleks dari ini, tapi…

Wajah Eun Soo yang tersenyum berputar di otaknya, melumpuhkan segalanya.

Ya, baru disadarinya. Ketika menyukai seseorang akan membuatnya menderita.

“Bagaimana jika aku gagal?” Junmyeon mengangkat kepalanya untuk menatap temannya, Kim Jongdae. “Bagaimana jika aku melakukan satu kesalahan dan…dan…Eun Soo…” Tidak berani melanjutkannya.

“Dan Eun Soo apa, hah? Dan Eun Soo apa??!!” Kini Jongdae mencengkeram kerah baju Junmyeon. “Katakan padaku, Junmyeon!!”

Junmyeon menggeleng, dia hampir menangis. “Aku…aku mencintainya dan aku tidak ingin kehilangan Eun Soo.”

“Kalau begitu selamatkan dia, Junmyeon. Kau ingin biarkan Eun Soo menderita lebih lama? Kau ingin melihatnya pergi? Kau…” Jongdae mendorong pria bertubuh ramping itu. “Pengecut, Kim Junmyeon.” Lalu dia melenggang pergi meninggalkan Junmyeon dalam kebingungan.

“Apa yang harus kulakukan?”

__________

“Kemana Junmyeon?” Tanya seorang wanita yang juga merupakan tim dokter. Mereka telah memakai pakaian lengkap beserta topi dan masker.

Jongdae menutup matanya dan menggeleng. Dia baru saja akan mengatakan bahwa Junmyeon tidak ikut dalam operasi ini, saat pintu terbuka dan Junmyeon sudah memakai atributnya.

Semua mata tertuju padanya, namun pandangan Junmyeon hanya terfokus pada gadis di meja operasi.

Kedua mata Eun Soo tertutup rapat, dia tampak seperti tertidur, tenang dan tentram. Junmyeon menarik napas dalam-dalam, mendekati Eun Soo.

Dia mengelus kepala Eun Soo dengan lembut. Tidak ada alasan untuk mundur, dia akan berusaha mati-matian demi seseorang yang dia cintai.

Junmyeon menarik turun masker sampai leher, dia berbisik di telinga Eun Soo, “Aku akan membuatmu lebih baik, Eun Soo. Berjuanglah untuk kami semua, untukmu, untukku…” Suaranya sedikit bergetar.

“Aku mencintaimu.” Junmyeon mencium keningnya cukup lama sebelum menutup wajahnya dengan masker dan memberikan satu anggukan pasti pada Jongdae dan yang lainnya.

Operasi dimulai.

__________

Kau tahu…

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini

Bahkan saat perasaanmu kacau dan hidupmu mulai berantakan

Tapi sadarilah dibalik semua itu, ada seseorang yang akan membuatnya lebih baik

Lagi dan lagi…

“Kau mau jeruk?”

Aku mengangguk dan Junmyeon mengupas jeruk untukku. Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, entah apa ini efek obat atau pasca operasi, tapi Junmyeon terlihat seribu kali lipat lebih tampan dari sebelumnya.

“Kenapa…” Aku membuatnya berhenti mengupas dan melihat ke arahku. “Kenapa kau sangat tampan saat mengupas jeruk?” Lagi-lagi pertanyaan konyol keluar dari mulutku. Junmyeon benar-benar menghipnotisku dan alhasil perawat kembali tertawa.

“Benarkah?” Junmyeon setengah tertawa saat memberikan jeruk.

Aku tidak menjawabnya, mengabaikannya dan mengunyah jeruk yang manis ini.

Junmyeon memandangku sambil bertopang dagu. “Kenapa kau sangat cantik saat makan jeruk?” Owhh, kini dia balik bertanya.

Aku hampir saja tersedak, tapi tidak berkata apa-apa. Junmyeon mencium keningku sebelum keluar dari kamar.

Jantungku memang akan selalu seperti ini, namun kali ini suaranya lebih keras karena ada klep penyambung disana. Tapi aku senang, karena setiap kali mendengarnya berdetak mengingatkanku bahwa jantung ini hanya akan berdetak untuk Junmyeon seorang.

Terima kasih, Junmyeon. Kau membuatnya lebih baik dan lebih baik lagi…

Karena kau adalah…

Suho…

Pelindungku.
#THE END#

____________

gimana2?? bagus gak? hehehe…

menangiskah dirimu? atau tersenyum ngebayangin ketemu dokter nan tampan kayak suho?? haha😀

Author juga ngarep banget bisa ketemu dokter kayak gitu apalagi kalo punya pacar yang kayak gitu #plaak

*lari dari para exotics*

hahahaha😀

silahkeeennn di comment yooo, suka ato tidak silahkeen ditulis aja yaahh

gamsahamnida, Chingudeul😀 *bow with Luhan* kekekekeke

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

32 thoughts on “I Will Be Your Guardian

  1. annyeong~ dapet link ini epep dari emak saya yg unyu *plak* atas nama blog jhyaz.wepe.com, dan sepertinya abis ini saya harus mijetin emak saya sampe pegel karena INI FANFIC BENER BENER KEREN MAKSIMAL *tabuhgendang*
    oke dan mari kenalan dulu. tami imnida, anaknya tyas omma, (hampir) 18, lols
    author-nim, i adore you so much. apart from the fact that i LOVE kim junmyun that much *dherr, fangirling tetep* ff ini sungguh.. sangat.. oh tuhan, i’m speechless ;____;
    bahasanya asik, ringan, enak dibaca. sudut pandang orang pertama yang sangat jelas dan natural, yatuhan *biting lip* ;AAA;
    deskripsi junmyun-nya, sangat wow sekali. ganteng minta ditampaarr ;AAAAAAAA; aku bakal kuliah yang rajin, belajar dengan baik, dan secepatnya lulus biar bisa praktek bareng dokter ganteng itu ;____;
    alur ceritanya pas, gak terlalu cepet dan gak terlalu bertele-tele. tiap paragraf penting, poin dari cerita semua jelas, dan emosinya dapet banget. terutama pas bagian operasi, aku rela melakukan apapun asal eunsoo nya gak pergi(?)…. dan endingnya really made my day, ahaha.
    dan fluff nyaaa, melayaaaangg~~ gak banyak gombalan disini, tapi karakter tiap tokohnya ngena. waktu junmyun nyium keningnya eunsoo itu asdfghjkl ;;;_________;;;
    and that slight part of jongdae was srsly qt :3

    suka banget suka sukaaaaa banget ini ff *nangis bahagia* author-nim, ilusm uwaaahhhh *lempar luhan* *deep bow* *ngilang*

  2. OMG, Pasien mana yang gak terpana sama ketampanan dokter Suho😀 *mata berbinar*

    Aku ngakak pas bagian Suho meriksa detak jantung Eun Soo, ya jelas aja berdetak lebih keraslah, argggggh!

    Itu ibunya kok gitu banget, tapi sudahlah gak peduli yang penting dia mainin perannya dengan bagus, memberi kesempatan Suho dan Eun Soo berdua, hehe

    Pokoknya keren deh Eon😀

    1. hah?

      oke, neptunus dan spongebob bergoyang-goyang😄

      yap! aku juga berharap nemu dokter nan ganteng gitu hahahaha😀

      aaa kamu juga lovely, dear. terima kasih udah baca dan komen❤

  3. dae to the bak.. daebak~
    coba ada dokter yang beneran junmyeon.. bahagialah hidup para pasiennya..
    pas baca pertama senyum” sendiri, trus jadi berkaca-kaca pas ending nya senyum” lagi..
    author pinter mengaduk” perasaan nih

    1. aaaa makasih yaampun, baozi, kamu berkeliaran di blog-ku, aku jadi tersanjung ada siyumin di blog ku hahaha
      he eh, coba-coba ya si junmyeon itu jadi dokter beneran, err gak sakit pun aku kayaknya bakalan sering ke rumah sakit hahaha
      ah, aku memang pengaduk semen(?) jadi mungkin udah kebiasaan aku mengaduk-aduk <—oke ini absurd banget huehuehueeeee

      makasih ya udah baca dan komen❤

  4. yg jumnyeon maim castnya manaaa lageeee??? ketagiham baca dsini..
    yg ini bagus juga…. lah kl dokternya kya gtu ya gpp deh ga sembuh2, sakit biar bisa sama dokter trs. wakakakka
    sama kaya koment yg sebelum2nya deh, kereeennn, feelnya bagus.. :p

    1. aku belum banyak nulis si junma, nanti deh kubanyakin lagi deh🙂
      eh jangan begitu, jangan ga sembuh sembuh dong hahaha xD
      aduh terima kasih ya udah baca dan komen, nanti di tambah lagi deh fic junmanya hihi❤

  5. kak dira tanggung jawaaaaaabb.
    ak udah nangis pas suho pergi dr hadapan eunsoo. huhu
    dan ak balik senyum2 gaje pas mrk lagi makan jeruk. waks
    qaqa, ak jd tambah jatuh cinta sama suho. kekeke

  6. EH SUMPAH DEMI LUHAN INI ROMANTIS BANGET DAN AKU HARUS BILANG APA? #capsjebol
    Ini fanfic pertama yg buat aku klepek2(?) sama Suho!
    Aku suka banget pas bagian si Eun Soo mau dioperasi sama yg bagian Suho mau operasi dia terus bilang “Berjuanglah untuk kami semua, untukmu, untukku…” & “Aku mencintaimu”, terus dia nyium kening Eun Soo.
    Uhh, please banget kak dir, itu Suho teromantis deh /\( ‘-‘)
    Daebak kak! DAEBAK! #capsjebollagi

  7. annyeonghaseyo…
    tyas imnida…
    aq reader baru d blog ini…
    nyasar ke sini gara” ABOB yg chanyeol…
    dan akhirnya aq otak-atik blog ini dan ffnya bgs” bgt…
    sdh byk ff yg aq baca tp bru komen skng…
    ff ini termasuk ff favorit aq…
    kak dira emang “jjang”!!!

  8. omo! aku nangis…. aku seneng…. aku mabok kepayang….. hahaha~
    ya. andaikan suho itu nyata. aku rela pura-pura sakit kok (gak mau sampe sakit beneran)
    dia manusia yang hatinya mirip malaikat, persis kayak namanya. suho. ♥_♥
    kak dira daebak!

  9. astaga ada jongdae nyelip jadi dokter ya Allah hahahaha aku mau ke rumah sakit kalo ada jongdae jadi dokternya /oke salah fokus/
    huahahahahaha sweet dan konyol!! eunsoo lucu bangetlah tanya lgsg umur junmyeon. huuaaa duo bias aku triple kim J (kim jongdae kim junmyeon eh satu lg kim jongin) hahahaha

  10. jadi keinget pas bulan lalu aku kena tipes lalu dirawat di rs.. tapi dokternya tua-tua semua *dor* ngga ada yang kayak junmyeon :’)
    aduh, mau dia jadi dokter kek, guru kek, atau abang nasgor sekalipun (?) aku kekeuh sama diaaa❤ /jiwa fangirl
    kak ini tuh manis banget gilaa, semuanya pas kak. diksi, konflik, duh! makan apa sih kak biar bisa nulis ff bagus? hahaha😀
    intinya aku suka🙂

  11. Aduh kalo pak dokternya kaya Suho oppa , kayanya rela deh di rumah saki terus

    jiahahaha ngebayangin senyumnya jumyeon oppa saya saya udah sesak napas ka dirra hehehehe

    Ka Dira Daebakkk🙂😉

  12. Ka dira harus turunin aku ke bawah aku udah melayang jauh kya balon gas duh kan aku jadi oek oek :3 #ngomong_apadah -_-
    Tulisan sama cerita ka dira wajib di acungin jempol . . . ka dira author favorit aku . Dari sekian banyak author dan ff yang aku baca (aku pencinta ff) karya ka dira yang paling oek oek(?):3 dihati membekas banget nancep gituh sumpah dech

    Love love sama ka dira❤

  13. Ya ampun, thor!!! Daebak banget ni ff!! >3
    Sampe aku nangis pas bacanya😥
    Tp aku seneng. Soalnya happy ending😀.. aku pikir bakalan sad ending. Ternyata engga. Aku lebih suka klo happy ending…😀

  14. Annyeong, readers baru Jihyo imnida, bangapta thor😀.
    Kereen FFnya baguuuuus begete/? aaaa aku bacanya sambil senyum2 sendiri, aduuh jadi pengen deh dibawa kerumah sakit kalo dokternya kayak Suho<3 tapi sakit ringan aja-_- Karakter eunsoo juga unik, langsung ceplas ceplos*Apaan pokoknya daebakk deh buat author, dadah author, aku mau menjelajah/? blog ini dulu *Lambaitangan

  15. bersyukur banget ini happy ending… klo sampe sad ending kayaknya aku bakal berakhir dengan make kacamata hitam ke sekolah buat nutupin mata panda.-.
    jadi tambahhh luplup samaa suho oppa.. aih ngga kebayang klo nemu dokter kaya suho di rumah sakit, bukannya berobat eh malah ngajak selfie dokternyaa😀

  16. ini sekedar informasi aja bukan cuman eunsoo yg kacau tapi yang baca juga ikutan kacau-malah lebih parah- wkwkwk
    asik bgt yaa lagi sakit trus dapat pacar aiiih bahagianya~ dokter lagi, ganteng lagi, romantis lagi aaah *garuk tembok*

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s