Posted in Angst, EXO Planet Edition, Family, Fanfiction, Romance, Sad

[EXO Planet Edition] My Heart Creeping In this River

Main Cast: CHANYEOL

Other Cast: EXO Member

Don’t cry tonight…

I will light up your night

And you wouldn’t end up with the bubbles…

 

***

“Hei, Chanyeol! Kemari…” panggil Kris hyung dari meja sebelah sana. Huh, apa sih yang dia inginkan lagi? Mentang-mentang dia menyelamatkanku dalam latihan memanah kemarin, lalu dia harus selalu memanggilku dan menyuruhku ini itu?

“Ada apa?” tanyaku dengan suara yang sebisa mungkin kubuat menyenangkan.

Kris hyung memegang tanganku sambil tertawa. ”Ini dia adikku yang paling hebat.”

Semua orang di meja itu (Chen, Xiumin, Tao, Suho, Lay) bersorak senang.

”Teh ini mulai dingin, bisakah kau memanaskannya kembali?” ujar Kris hyung dengan senyuman penuh kharismanya itu.

Ya ampun, mungkin orang lain yang melihatnya akan tersihir, tapi aku sudah berjuta-juta kali melihatnya dan bahkan aku benci melihat senyumannya itu.

Aku mengangguk dan memegang poci teh itu. Ya, kekuatan apiku bisa tersalurkan lewat kedua tanganku ini.

”Sudah cukup, Chanyeol. Kau boleh pergi.” ujar Kris hyung menyingkirkan tanganku dari sana.

Apaa?? ’kau boleh pergi’? Tidak ada ucapan terima kasih? Keterlaluan!!

Dari kejauhan aku masih bisa mendengar suara Kris hyung mengobrol dengan Suho hyung. Aku keluar dari kedai itu dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Kulihat Baekhyun, Kyung Soo, dan Kai sedang mengobrol di luar.

Mereka berhenti bicara ketika aku duduk di sana. Baekhyun berdeham sekali dan menatapku.

”Apa?” tanyaku.

”Ksatria api yang menunggangi kuda hitam dengan gagah, hanya menggunakan kekuatannya untuk menghangatkan teh yang sudah dingin…”

Serentak semuanya terbahak-bahak mendengarnya. Aku menjitak kepala Baekhyun saking sebalnya.

”Heii, santai sedikit!” ujar Baekhyun menonjok lenganku.

Sakit, tapi aku tidak menggubrisnya karena sedang sebal. Lalu tiba-tiba terlihat dari kejauhan Sehun berlari mendekati mereka, dibelakangnya ada Luhan. Seperti biasa mereka bermain bersama.

”Hei, jangan berlari-lari seperti itu. Nanti kau jatuh.” ujar Kyung Soo.

Sehun mengatur napas sejenak, melambai pada Luhan yang masuk ke dalam kedai, lalu mulai berbicara.

”Ada berita besar, berita besar!!” ujarnya, yang seperti biasa layaknya anak kecil.

”Berita besar apa?” tanya Kai penasaran.

”Kau tahu danau yang di sebelah sana…”

”Danau hitam disan…Ya! Sehun! Kau tidak boleh bermain kesana. Suho hyung sudah melarang kita.” ujar Baekhyun.

Sehun menggeleng. ”Aku…aku melihat sesuatu disana.”

”Melihat apa?” Kai semakin penasaran.

”Aku…” Sehun mengambil napas sebanyak-banyaknya dan berbisik. ”melihat…Putri duyung.”

Entah mengapa hanya aku yang kaget mendengarnya, sedangkan yang lain hanya diam menatap Sehun.

”Tidak mungkin.” ujar Kai.

”Ya, kau pasti berkhayal.” tambah Baekhyun.

”Aku bersumpah. Aku melihat siripNYA. Kyung Soo hyung, kau percaya padaku kan?” Semuanya mata teralih pada Kyung Soo. Hanya dia orang yang paling mengerti Sehun.

Kyung Soo menggelengkan kepala. ”Maaf, Sehun. Tapi seperti yang sudah diceritakan Kris hyung, putri duyung dan penduduk EXO planet telah membuat suatu perjanjian.”

”Perjanjian? Perjanjian apa? Kenapa harus dibuat perjanjian? Ceritakan, hyung. Aku lupa ceritanya.” pinta Sehun.

”Cih, apa sih yang kau ingat?” timpalku sinis. Sehun langsung menjulurkan lidahnya padaku.

Kyung Soo berdeham dan mulai bercerita. ”Pada dulu kala, EXO planet adalah planet yang ditinggali oleh beberapa makhluk luar biasa untuk menjaga planet ini. Putri duyung, malaikat, iblis, dan sebagainya. Mereka disini untuk menjaga manusia. Namun, pada suatu hari ada manusia yang jatuh cinta pada putri duyung di danau hitam. Sebenarnya hal itu tidak apa-apa, namun pada suatu hari sang manusia mencium putri duyung itu dan mati saat itu juga. Ternyata putri duyung mempunyai racun yang mematikan saat manusia menciumnya. Maka itu, para penduduk menghukum mereka dan membuat perjanjian, bahwa para putri duyung tidak boleh muncul di danau itu lagi dan manusia tidak akan ada yang boleh pergi kesana.”

”Ooohh begitu…”

”Sehun, karena kau telah melihat putri duyung itu, dia akan datang padamu dan menciummu di malam hari.” ujar Baekhyun menakut-nakutinya sambil tertawa.

”Tidak akan!”

”Ya, dia akan datang. Dia akan masuk ke dalam selimutmu dan…”

”Aaaahhh…Luhan hyuuuunnnggg!!!” Sehun berlari ke dalam kedai, semua orang tertawa keras, kecuali aku.

”Apa Sehun benar-benar melihatnya?” tanyaku tiba-tiba.

Baekhyun menatapku. ”Chanyeol, apa otakmu tersambar api? Bocah itu hanya berkhayal, dia terlalu banyak bermain dengan Luhan hyung. Kau tahu kan Luhan hyung seperti apa.”

Aku hanya mengangguk pelan. Mereka semua masuk ke dalam kedai, namun aku masih disana. Hei! Kenapa aku memikirkan yang diceritakan Sehun? Apa peduliku dengan putri duyung itu!!

***

”Baiklah, ingat apa yang selalu harus dilakukan saat memanah. Konsentrasi, konsentrasi…”

Kris hyung lagi-lagi sedang mengajarkan cara memanah yang baik. Aku bisa melakukan apa saja asalkan jangan yang satu ini. Apalagi…kenapa harus orang ini yang mengajar??

”Apa sih yang dibicarakannya?” Baekhyun mulai kepanasan dibawah sinar matahari. Ya, kami semua berada di tengah lapangan saat ini, tepat jam 12 siang.

Sehun bersandar pada Luhan hyung sambil menutup wajahnya dengan tangan. Kai terlihat mengantuk, Lay hyung yang tidak mempunyai ekspresi kini mengernyitkan wajahnya, bahkan mata Suho hyung menyipit dan terbaca di wajahnya: Oh sudahlah, Kris.

Aku menunduk, bermain-main dengan pasir di kakiku, ketika sebuah busur tersodor di depan wajahku. Aku menengadah dan disana Kris hyung berdiri.

”Ayo, maju ke depan.”

Aku mendesah, dengan langkah yang berat aku ke depan.

”Ingat, konsentrasi. Arahkan panahnya sedikit ke kanan dan sejajarkan bahumu seperti ini. Ayo lakukan.” aku tidak terlalu mendengarkannya. Aku hanya menarik tali busur dengan sekuat tenaga dan…

Bukan hanya panah yang melayang, namun busurnya ikut terbang melambung jauh ke hutan sebelah sana.

Mata Kris hyung seakan ingin keluar dari rongganya. ”Kau…kau…” membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.

”A…aku akan mengambilkannya.” aku hendak pergi, namun Kris hyung memegang tanganku. Wajahnya terlihat serius seketika.

Dia memandang jauh ke hutan dimana busurku melayang. ”Tidak usah. Kita bisa memakai busur lain.”

Aku jadi penasaran…ada sesuatu yang disembunyikan.

***

Pagi ini aku bangun lebih pagi daripada yang lain. Aku sarapan lebih cepat, melakukan tugasku lebih cepat sampai waktu istirahat tiba, aku mengambil jaketku di kamar.

”Mau kemana?” ujar Xiumin hyung yang lewat di depan kamar.

”Aahh…” tidak! Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku ingin mengambil busur di hutan. Kemarin aku melihat Kris hyung berbicara serius dengan Suho hyung sambil menunjuk-nunjuk hutan itu.

”Udaranya…sedikit dingin. Maka itu aku…memakai jaket.” ujarku tampak tidak yakin. Wajah Xiumin hyung juga tampak sama.

”Ya, dingin.” tambahku dengan memperlihatkan senyuman yang lebar. Dia hanya mengangguk dan aku bisa bernapas lega.

***

”Kau sudah gila, Chanyeol. Aku bersumpah jika mereka menemukanmu masuk ke dalam sana, mereka akan membunuhmu.” bisik Baekhyun ketika aku mulai masuk ke dalam hutan.

”Kembali kesini!!” ujar Baekhyun.

”Aku akan kembali sebelum makan malam. Jangan beritahu siapa-siapa.”

Baekhyun masih memanggilku dari belakang, namun aku terus melangkah masuk jauh ke dalam hutan. Lama kelamaan suara Baekhyun menghilang. Aku menoleh ke belakang. Gelap. Apakah Baekhyun sudah pergi??

Hutan itu sangat dingin, gelap, dan lembab. Otomatis kurapatkan jaketku sambil terus melangkah. Tenang, Chanyeol, kau punya kekuatan api. Kau bisa membakar semuanya sampai habis jika ada sesuatu yang menyerangmu. Yang harus kau lakukan adalah mencari busur itu.

Yah…sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan busur itu. Aku hanya penasaran mengapa Kris hyung melarangku memasuki hutan ini. Ini hanya hutan biasa dengan hawa dinginnya.

Aku mencari dan mencari sampai aku mendengar sesuatu…tunggu, seperti…suara air.

Kusingkirkan alang-alang dan semak-semak tinggi di depanku. Tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu yang lembek. Kuperhatikan lebih jelas, itu…lumut. Ada air disini, mungkin mata air.

Aku terus melangkah sampai akhirnya mulutku menganga melihat pemandangan di depanku.

”Danau…” gumamku perlahan.

Tunggu!! Danau?? Apa ini…danau hitam??

”Astaga! Pantas saja Kris hyung melarangku kesini. Ternyata danau itu didalam hutan. Astaga…”

Ada hal lain yang membuatku lebih kaget setelah menemukan bahwa ini adalah danau hitam.

Jantungku terasa berhenti berdetak, aku rasa aku kehilangan denyut jantungku sekitar 2 detik. Tanganku refleks menutup mulutku yang menganga dan untuk menyembunyikan kekagetanku.

Busur itu ada diatas sebuah batu pinggir danau. Aku bisa saja dengan mudah mengambilnya, namun…ada sesuatu di dekatnya. Duduk diatas batu, memeras rambut panjang hitamnya itu, semacam tanaman air menutupi bagian atas tubuhnya dan…itu bukan kaki, itu…sirip berwarna keemasan, bergoyang-goyang membuat air berarus lembut.

Aku mengambil napas perlahan, namun tampaknya makhluk itu bisa mendengarku. Dia mendongakkan kepalanya dan aku segera bersembunyi di belakang pohon.

Kupejamkan mata erat-erat, mencoba mengatur napas. Lalu beberapa detik kemudian, terdengar suara ceburan. Aku pun berlari sekencang yang kubisa. Berlari dan berlari sampai aku tidak melihat ada ranting pohon yang melukai dahiku. Aku tidak peduli. Aku hanya bisa terus berlari.

***

Sepanjang makan siang aku terdiam, melamun dan merenung. Baekhyun menatapku dari seberang meja. Aku tidak menceritakan bahwa aku bertemu putri duyung disana. Namun tatapannya seperti terus bertanya padaku.

”Jangan memandangku seperti itu.” akhirnya aku jengah.

”Astaga, Chanyeol. Apa yang terjadi pada dahimu?” Suho hyung melihat luka itu, isshh…padahal sudah sengaja kututupi dengan poni.

”Ini…aku terpeleset di kamar mandi tadi pagi.” dustaku. Baekhyun menyipitkan matanya dan aku melotot padanya, memberikan kode untuk menemuiku di depan hutan.

***

”Kau sangat gila.” ujar Baekhyun melipat tangan di dada melihatku bersiap masuk ke hutan. ”Aku tahu ada sesuatu disana.”

Kata-katanya membuatku berhenti. ”Tidak ada apa-apa. Kemarin aku sudah menemukan busur itu tergantung diatas sebuah bukit. Aku mencoba untuk mengambilnya. Ternyata malah terpeleset dan jatuh. Kali ini aku tidak akan gagal. Oke?”

”Terserah.” Baekhyun pergi meninggalkanku. Aku mengangkat bahu dan pergi ke dalam hutan.

”Siap, Chanyeol? Ya, kau pasti bisa.” Aku pun melangkah kedalam sana.

Hutan tampak lebih ’bernyawa’ dari sebelumnya, walaupun itu menjelang malam hari. Sinar matahari sore masuk melalui celah-celah daun. Tak lama kemudian, aku sampai di dekat danau itu.

Tidak ada makhluk itu disana. Danau tampak tenang, bahkan air tidak bergerak sedikit pun. Aku bisa melihat batu kemarin, namun hatiku mencelos ketika melihat tidak ada busur disana.

Aku mengitari seperempat danau untuk sampai ke batu itu. Sesampainya disana aku mencari-cari, mungkin busurnya jatuh di dekat situ. Tapi nihil. Aku tidak menemukannya.

Lalu aku melongok ke dalam air, hatiku bersorak ketika melihat ada sesuatu yang berwarna kecokelatan di dalam air. Itu sudah pasti busurnya.

Aku hendak memasukan tanganku ke air untuk mengambil busur itu, namun tiba-tiba sebuah wajah muncul dari dalam air, bersamaan dengan busurku.

Tubuhku terjerembap ke belakang. Jaket dan celanaku basah, aku bisa merasakannya. Makhluk itu bersandar pada tepi danau, sedangkan aku terus merangkak ke belakang, namun naasnya sepatuku tersangkut akar pohon.

Makhluk itu tertawa dan mengangkat busurku. ”Apa kau mencari ini?”

Suara itu…suara paling indah yang pernah kudengar. Mengalun indah seperti musik. Suaranya setengah berbisik, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas, bergema seperti dalam gua.

”Ka…kau…putri du…duyung??”

Dia mengangguk sambil tersenyum. Mungkin inilah sebabnya mengapa manusia yang di ceritakan Kyung Soo jatuh cinta padanya.

Wajah itu begitu sempurna dengan hidung mancung, kulit bercahaya, mata indah, bibir tipis yang melengkungkan senyuman.

”A…apa kau akan membunuhku?” tanyaku tergagap.

Makhluk itu tertawa. ”Ya, jika aku menciummu.”

Aku menggeleng dan berkata, ”aku pasti sedang bermimpi.”

Makhluk itu kembali tertawa, lalu dia menyodorkan busurku. ”Ini yang kau cari sampai kesini, bukan?”

Kuanggukan kepalaku. Perlahan aku maju kedepan dengan takut menggapai busur itu. Begitu busur itu sudah di genggamanku, dengan kuatnya makhluk itu menarik busur beserta diriku.

Kini aku berada sangat dekat dengan wajahnya. Apa dia akan menciumku dan membunuhku? Batinku terus saja mengoceh. Kupejamkan mataku rapat-rapat dan…

Sensasi dingin mengalir di dahiku. Mataku terbuka, makhluk itu sudah menjauh dariku. Kupegang dahiku yang terluka kemarin.

”Kemana lukaku? Apa kau…”

Makhluk itu berenang ke tengah danau dan mendekatiku lagi. Dia mengangguk senang. ”Aku menyembuhkanmu. Kenapa kau berlari seperti orang ketakutan kemarin? Aku bukan hantu.”

”Tapi cerita itu…jujur, aku takut padamu.”

”Aku tidak akan membunuhmu. Janji.” dia mengangkat tangannya, terpampang jari-jari lentiknya yang berwarna putih pucat.

Aku menelan ludah, entah mengapa melakukannya. Apa aku ketakutan atau…terpesona?

”Kau cantik.” kata-kata itu meluncur mulus dari mulutku.

”Benarkah?”

Aku menggelengkan kepala. ”Tidak, maksudku…siapa namamu? Ah…” lagi-lagi aku mengucapkannya tanpa sadar.

”Nama? Aku tidak punya nama. Maukah kau memberiku nama?” ujarnya, bermain-main rumput di tepi danau.

Aku berpikir keras. Ayolah, Chanyeol. Nama, nama, nama…

”Jangmi?” tiba-tiba itulah yang terlintas dikepalaku.

”Jangmi? Artinya mawar??”

Aku mengangguk. ”Ya, kurang lebih seperti itu.”

”Baiklah, panggil aku Jangmi dan kau?”

”Chanyeol.”

Jangmi tertawa senang. ”Chanyeol, aku suka suaramu. Dalam dan meninggalkan kesan.”

Aku tersenyum. ”Ya, aku juga. Ah, tidak, maksudku…” aku tidak bisa berkata-kata. Ini seperti sesuatu yang lama aku cari dan baru menemukannya sekarang.

Terdiam sejenak. Aku mencerna keadaan saat ini. Astaga, aku bertemu dengan putri duyung yang selama ini hanya kudengar dari mulut ke mulut. Eh, apa waktu itu Sehun benar-benar melihat putri duyung?

Jangmi menatapku lekat-lekat. Aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan itu, makanya aku mulai berbicara.

”Aku kira danau hitam itu…benar-benar menyeramkan. Tapi ternyata ini biasa saja.”

”Benarkah? Aku juga begitu. Kukira tidak akan ada manusia yang datang kesini. Namun setelah seratus tahun menunggu, akhirnya kau datang…”

”Se…seratus tahun?” tanyaku takut salah dengar.

”Astaga, Chanyeol. Kau harus banyak membaca buku sejarah di perpustakaan planet ini. Aku ini adalah makhluk abadi yang hidup selamanya. Kecuali ada yang membunuhku, aku akan mati.” ucapnya panjang lebar.

”Aku baru berumur 20 tahun november nanti. Kau…kita berselisih 80 tahun…” aku berhenti dan tertawa bersamanya.

”Tapi aku masih tetap cantik dan muda.” tambahnya. Aku mengangguk dan mulai merasa nyaman berada disana.

Kami mengobrol tentang banyak hal yang bahkan tidak pernah terpikir di dalam otakku. Aku tertawa dalam hati, apa ini? Mengobrol dengan putri duyung? Makhluk paling ditakuti di EXO planet ini.

”Sudah malam.” tiba-tiba aku melihat pantulan bulan di air. Entahlah apa ini? Aku merasakan suatu kejanggalan di mata Jangmi. Kesedihan? Atau apa?

”Aku harus kembali ke rumah.” ujarku beranjak dari sana.

”Kau punya rumah? Tunggu…tempat tidur, selimut, bantal, sofa…”

”Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

Jangmi menggeleng. ”Hanya pernah mendengarnya samar-samar. Pembicaraan manusia…”

Aku mengangguk. ”Baiklah. Aku pulang.”

”Apa kau akan kembali…lagi?” pertanyaan itu menghentikan langkahku. Aku menatapnya, mata indah itu berkaca-kaca. Kutatap busur di tanganku dan meletakkannya di atas batu.

”Mungkin aku bisa berkata bahwa aku tersesat dan belum menemukan busur itu.”

Jangmi tersenyum mendengarnya.

***

”Kau akan kembali ke hutan itu?” tanya Baekhyun hampir memekik.

”Mau bagaimana lagi? Aku tersesat karena matahari mulai tenggelam tadi dan aku tidak bisa menemukan busur itu. Untung saja aku masih bisa pulang.” bohongku dengan lihai.

”Kau bisa memakai busur yang lain.” bisik Baekhyun dari tempat tidur yang tepat diatasku.

Aku menggeleng. ”Aku suka busur itu dan harus menemukannya.”

***

Subuh itu aku berangkat ke dalam hutan dan hal itu semakin sering terjadi, apalagi saat makan siang. Aku akan makan cepat-cepat dan pergi kesana tanpa sepengetahuan Baekhyun sekali pun.

Aku sampai di tepi danau, namun tidak ada siapa-siapa disana. ”Jangmi? Jangmi?” panggilku.

Tiba-tiba Jangmi muncul dari dalam air. Hari ini dia tampak berbeda. Dia mengepang rambut panjangnya dan menyelipkan bunga disana.

”Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?”

”Aku mengepangnya dan memakai bunga disini. Aku tidak bisa menemukan bunga mawar. Tapi warnanya merah, anggap saja ini bunga mawar. Chanyeol, apa aku cantik?” tanyanya.

Aku tertawa kecil. ”Kau sangat cantik.”

”Terima kasih. Oh, iya, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Ikuti aku.”

Jangmi berenang perlahan memasuki sebuah jalur air yang menyempit namun cukup dalam untuknya berenang. Aku mengikutinya dari darat. Sampai akhirnya kami sampai disebuah tempat dengan pohon-pohon berdaun lebat.

Tempat itu begitu tenang dengan bintik-bintik cahaya matahari yang terdapat di permukaan langit-langit tempat itu. Bisa dibilang ini adalah tempat favoritku. Aku langsung menyukainya begitu melihatnya.

”Apa ini?” aku melihat sekeliling.

Jangmi tersenyum. ”Ini tempat favoritku. Lebih terang, walaupun airnya sedikit dingin, namun…” Jangmi meraih tanganku, dia membawanya hingga menyentuh permukaan air.

Lalu aku tidak mengerti mengapa Jangmi memejamkan kedua matanya, tampak terjadi sesuatu.

”Airnya menjadi hangat ketika kau menyentuhnya.” ujarnya setelah beberapa saat.

Aku tertawa. ”Itulah mengapa aku sering disuruh menghangatkan poci teh, ya karena aku dapat membuatnya menjadi hangat.”

”Ceritakan tentang kehidupanmu diluar sana.” pinta Jangmi.

Aku duduk disana dan mulai bercerita. ”Kami tinggal berdua belas di luar sana. Kris, lay, chen, xiumin, tao, luhan, sehun, suho, kai, baekhyun, kyung soo. Mereka adalah keluargaku. Sahabatku yang paling baik, Baekhyun. Sehun, si bocah yang sering berkhayal, Kai si keren, Kyung Soo orang yang paling perhatian, Kris hyung…ah dia yang sering menyuruhku menghangatkan teh. Menyebalkan.”

”Tidak. Aku menyukainya. Sejak pertama kau datang ke hutan ini, kau menginjak permukaan air dan itu terasa hangat. Aku bisa merasakannya dan itu menyenangkan, Chanyeol. Aku bersumpah itu adalah hal yang paling menyenangkan. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini dalam seratus tahun. Aku…”

Jangmi berhenti dan mempererat genggaman tangannya. ”Aku…jatuh cinta padamu, Chanyeol.”

Aku tidak tahu harus berbuat apa, namun kalimat itu berefek sama seperti ketika aku datang ke hutan ini, menemukan danau ini.

”Apa…kau juga jatuh cinta padaku?” tanya Jangmi.

Entah mengapa begitu mendengar kata ’jatuh cinta’, aku teringat pada cerita Kyung Soo. Manusia itu jatuh cinta pada putri duyung…mati saat itu juga…

Aku berusaha mengenyahkan pikiran itu, namun tidak bisa. Kutarik tanganku dari genggamannya. Jangmi terlihat sedih. ”Ada apa, Chanyeol? Apa kau tidak suka…”

”Aku…” kutatap wajah sedih itu. ”Jangmi, tidak…Jangmi, jangan…kau tidak boleh seperti ini. Aku…”

”Chanyeol…dengarkan aku. Tentang kejadian seratus tahun yang lalu…”

Aku terpaku di tempat. Kejadian seratus tahun yang lalu?

”Kau pasti tahu tentang cerita itu. Seorang manusia jatuh cinta pada putri duyung dan mati ketika putri duyung itu menciumnya. Chanyeol, putri duyung itu adalah diriku. Tapi jangan salah paham. Aku tidak berniat membunuhnya. Itu sebuah kecelakaan.” isaknya.

”Kecelakaan?”

”Aku mencintainya, tidak mungkin membunuhnya. Saat itu, udara sangat dingin namun dia tetap datang mengunjungiku, karena dia ingin agar aku tidak kedinginan. Namun saat kami sedang berbicara…Min Woo tiba-tiba kesulitan bernapas. Aku mencoba menyembuhkannya, tapi aku tidak tahu dimana yang harus kusembuhkan. Dia tidak bisa bernapas, Chanyeol. Seluruh tubuhnya dingin dan aku berusaha membuat napas buatan, tapi itu malah membunuhnya…” ujar Jangmi berlinang air mata. Kini tangisannya lebih menyakitkan dari apa pun.

”Aku tidak akan membunuhmu, Chanyeol. Tidak akan…”

”Aku tidak…sudahlah.” Aku berlari meninggalkannya, memanggil-manggil namaku dari belakang.

Aku terjatuh beberapa kali ketika berlari meninggalkan hutan itu. Tapi seperti tidak menemukan pintu keluar, aku malah menangis di tengah jalan.

Tidak, tidak boleh seperti ini. Jangmi tidak boleh jatuh cinta padaku, aku juga…tidak bisa tidak jatuh cinta padanya…

Kututup mataku dan suara isakan Jangmi terdengar jelas di kepalaku. Mengapa…mengapa aku bisa mendengarnya sampai sejauh ini? Apakah dia sangat terluka? Jangmi…

Aku berjalan lunglai keluar dari hutan. Bajuku penuh lumut dan perasaanku campur aduk. Aku yakin ada beberapa luka di wajahku, karena tadi aku jatuh tersungkur di tanah, sekarang terasa perih ketika terkena angin dingin.

”Chanyeol…”

Aku mengangkat kepalaku dan betapa kagetnya melihat Suho hyung berada disana bersama yang lainnya. Ada Kris hyung juga.

”Aku bisa jelaskan ini semua.” ujarku lemah.

”Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Kami tahu semuanya.” jawab Kris hyung.

Apa?? Mereka tahu semuanya? Baekhyun…

”Kami tidak tahu hal ini dari Baekhyun. Kami tahu Baekhyun menyembunyikannya.” tambah Suho hyung.

Semua orang menatapku. Aku yakin keadaanku sangat kacau saat ini.

”Apa…kau tahu tentang putri duyung…”

”Kau bertemu putri duyung??” Sehun tiba-tiba bertanya.

”Luhan, bawa Sehun, Tao, dan Kai masuk ke dalam rumah.” suruh Kris hyung. Lalu Luhan membawa ketiga anak ini.

”Kenapa aku harus masuk juga? Aku bisa mengerti hal-hal seperti itu.” kata Kai, namun Luhan tetap menariknya.

”Hyung, apa Chanyeol hyung benar-benar bertemu putri duyung?” tanya Sehun pada Luhan.

”Psstt…sudah, ayo masuk.”

Kris hyung menghela napas. ”Kau tahu peraturannya kan? Kau tidak boleh mendekati danau itu dan sekarang apa? Kau jatuh cinta pada makhluk itu.”

”Dia punya nama!” pekikku tiba-tiba.

Kris hyung memejamkan matanya. ”Kau lihat? Kau telah diperdayanya. Kejadian itu akan terulang lagi dengan kebodohanmu, Chanyeol.”

”Dia tidak akan membunuhku!! Dia tidak akan membunuhku! Dia sudah berjanji padaku.” sekarang aku berdiri dari kursiku.

Suho hyung tampak lelah. ”Chanyeol, cobalah mengerti. Kami melakukan ini bukan hanya untukmu. Tapi untuk semua orang. Bayangkan jika Sehun yang masuk kesana, dia juga akan terperdaya dan kau mau ini terjadi pada Sehun atau yang lainnya. Atau bahkan dirimu sendiri??”

”Dia tidak sengaja membunuh laki-laki itu. Jangmi berusaha menyelamatkannya, namun…”

Suho hyung menggeleng. ”Laki-laki itu tetap saja mati karenanya, Chanyeol. Apa kau tidak mengerti?”

”Lalu kau mau apa, heh? Kau mau menghancurkan tempat itu?” tantangku dengan suara bergetar karena marah.

”Ya, aku mau menghancurkan tempat itu. Dan kau lah yang bisa menghancurkannya.”

Kata-kata itu begitu menusuk dihatiku. Apa? Aku yang menghancurkannya?? Apa mereka sudah gila?

          ”Kalian gila! Aku tidak akan pernah melakukannya!!” Aku meludah di depan mereka dan berlari masuk ke dalam hutan. Kini yang kuinginkan hanyalah melihat wajah Jangmi, wajahnya yang tersenyum lembut ke arahku.

”Jangmi? Jangmi??” panggilku seperti orang kesetanan. Sebuah wajah sedih muncul dari dalam air. Ya, dia datang padaku.

”Chanyeol…kau menangis??” tangan dingin Jangmi membelai wajahku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, apa yang harus kulakukan. Jangmi adalah makhluk yang paling tidak berdosa mengapa mereka tega ingin memusnahkannya.

Aku terisak sambil menggelengkan kepalaku berat. Jangmi ikut menangis, tapi dia tetap mencoba tegar.

”Ada apa, Chanyeol? Katakan padaku.”

”Jangmi…Jangmi yang tidak berdosa.” ujarku berkali-kali padanya.

”Mereka akan melakukannya kan? Mereka akan memusnahkanku?”

Aku menggeleng. Namun Jangmi memegang wajahku dan aku bisa menatap ke dalam matanya, aku tidak bisa berbohong.

”Mereka akan memusnahkanku, katakan itu padaku, Chanyeol.” pinta Jangmi memaksaku mengangguk dengan berat hati.

Lalu dia memelukku. Aku bisa merasakan kulit dinginnya, terasa sakit di dadaku. ”Bunuh aku, Jangmi. Aku tidak bisa jika kau menghilang dari sini. Aku…”

Jangmi melepaskan pelukannya dan menggeleng. ”Aku sudah katakan padamu, aku tidak akan membunuh orang yang kucintai. Jadi aku tidak akan membunuhmu. Lagipula, kau ingat hari dimana kita pertama kali bertemu, aku sudah berjanji tidak akan membunuhmu.”

”Lupakan janji itu.” isakku.

”Aku tidak boleh ingkar janji.” Jangmi tersenyum dengan air mata mengalir deras di pipinya.

”Aku yang akan memusnahkan tempat ini, Jangmi.”

Jangmi mengangguk. ”Min Woo pergi di tangan orang yang sangat mencintainya. Biarkan sekarang aku pergi di tangan orang yang kucintai.”

”Aku tidak bisa.”

”Kumohon, Chanyeol.” Jangmi menghapus air mataku, lalu dia berenang ke tengah danau.

”Lupakan aku, Chanyeol. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan. Aku merasa senang bisa bertemu denganmu. Seseorang yang telah lama kunanti.”

Kemudian Jangmi berputar sekali dan menghilang di dalam air. Danau itu kembali tenang. Namun jantungku terasa sakit.

Jangmi…

***

Pagi itu aku merasa tidak ingin bangun dari tempat tidur. Langkahku terasa berat saat menuju lapangan depan hutan. Air mataku sudah kering. Malam yang panjang, aku tidak peduli Baekhyun mendengar atau tidak, aku menangis sepanjang malam.

Semuanya ada disana, kecuali para magnae yang memang tidak diperbolehkan menonton hal seperti ini.

”Kau bisa melakukannya, Chanyeol.” dukung Baekhyun dari belakang. Aku tersenyum sekilas.

Sebelum mengumpulkan kekuatan, aku mengambil busur dan panahku. Kuletakkan di depan hutan. ”Selamat tinggal, Jangmi.”

Dengan seluruh kekuatanku, api berbentuk burung Pheonix dan segera menyerbu hutan itu. Membakar habis semua pohon-pohon itu hingga ke dalam-dalamnya.

Aku mundur ke belakang beberapa langkah. Sebuah tangan menyambutku. Kris hyung merangkulku, menepuk-tepuk bahuku. Aku pun tidak bisa menahan lagi. Tangisku meledak di pelukannya.

Selamat tinggal, Jangmi.

***

”Ada berita besar!! Berita besar!!” Sehun berlari ke arah kami berempat.

”Ada apa??” tanya Kai.

”Aku bertemu raksasa besar bersama Luhan hyung. Dia sangat besar dan kuat. Iya kan, hyung??” ujar Sehun pada Luhan. Luhan hyung hanya tersenyum sambil menikmati kopinya.

”Kau pasti bohong!” tuduh Baekhyun menjitak kepalanya.

”Aww! Jangan terus menjitakku.” keluh Sehun mengusap kepalanya. ”Kyung Soo hyung…” dia berlindung di belakang Kyung Soo.

”Hei, cari orang yang lebih tinggi untuk melindungimu. Dasar, bodoh!” komentarku. Kini bukan hanya Sehun yang menyerangku, tapi Kyung Soo juga ikut-ikutan memukuliku.

Aku…

Entahlah sejak kejadian itu merasa seperti telah melalui mimpi panjang yang mengerikan dan kini aku terbangun, melihat sesuatu yang lebih penting dari apapun. Keluarga. Ya, kami keluarga yang bahagia.

”Akan ku panggil raksasa besar itu kesini!!” teriak Sehun berlari ke arah Luhan hyung.

Kau tahu? Aku merasa sepertinya Luhan hyung mempunyai sesuatu yang dirahasiakannya. Di balik senyumannya yang manis itu…seperti ada…entahlah. Suatu hari nanti aku akan mengungkapmya

# THE END #

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

12 thoughts on “[EXO Planet Edition] My Heart Creeping In this River

  1. Ini salah satu karya awal juga kan ya?
    Agak singkat sih, penjelasan sama respon chanyeol thd setiap scene, tapi idenya oke bangeet, chanyeollie yg rame, ribut, bisa gentle gituuu
    Kira2 lulu mikirin putri duyung gak yaaa?
    Hehe

  2. Aaaw. sad ending ya? huhuhu. tp gak sad ending juga sih. soalnya chanyeol bahagia sama keluarganya. uwaaa xD
    trs, nyesek juga klo jd chanyeol. dia dilema. rasanya kasihan banget lihat wajah konyol gitu nangis. huaaa.

  3. Kenapaaa?? Kenapa cerita exo planet semuanya sad ending T-T padahal kan bagus konsepnyaaa, suka banget sama konsepnyaa
    Dan selalu bagus ceritanyaaa! Lanjutin ya thor~ hwaiting ^^

  4. Aduh ka dira , ko berasa lagi baca novel yang pernah aku pinjam di pepus tapi lupa judulnya apa , hahahahahahah

    Chanyeolnya kasian tapi selalu ketawa pas bagian sehun. . ?

    Dan ada apa dengan luhan ?

    Akhh bikin penasaran nihhh ?

    Ok aku baca selanjutnya ?

    Ka Dira janggggg ^_^

  5. Chanyeollie  Chanyeol disni maskulin banget hahaha… disuruh manasih teh sama Kris, ini siapa yang lawak sebenernya haha  Dan sehun nya…. Kyeopta banget, ngeliat putrid duyung langsung lari-lari ke Hyung nya hahaha… Tapi itu putrid duyung nya, kok cepet banget sih jatuh cinta, mungkin karena pesona Chanyeol yang super wah kali yah, dia jadi gitu. Dan, Chanyeol nya juga cepet suka sama putrid duyung itu. Sayang nya mereka harus kepisah dan berakhir sama putri duyung nya yang mati ditangan Chanyeol hemmmm… Nice ff thor 

  6. So sweat yahh Uri Chanyeol😀 aku suka kata-katanya yang “Min Woo pergi ditangan orang yang sangat mencintainya dan biarkan aku pergi ditangan orang yang sangat kucintai” pokokknya itu intinyaa~ sweat bangeet…. Saranghae Chan Oppa

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s