Posted in EXO Planet Edition, Family, Fanfiction, Romance

[EXO Planet Edition] Hurricane Venus

Main Cast: KAI

Other Cast: EXO Member


***

Hari ini seperti hari-hari yang lainnya di EXO planet. Aku bosan, bosan dengan semua ini. Kapan kami akan pergi ke bumi? Aku rasa hal itu masih akan sangat lama. Mungkin saat aku sudah tua dan tidak bisa lagi menggunakan kekuatanku, mereka baru akan mengirim kami ke bumi. Menyebalkan!

Seperti biasa Sehun sedang bermain dengan Luhan hyung dan Tao, permainan anak kecil dimana Sehun menjadi Peter Pan, Luhan hyung menjadi bajak laut, dan Tao…Wendy?

Aku hanya melihat mereka dari kejauhan saja. Sebenarnya aku diajak Sehun untuk bermain, tapi…oh ayolah, aku sudah berumur 18 tahun dan harus bermain permainan itu?

Kulihat Sehun berlari ke arahku yang sedang berada di kursi malas. Aku menguap sangat besar, hingga Kyung Soo protes.

”Jangan menguap seperti itu, Kai. Tidak enak dilihat orang.”

”Terserah…” umpatku.

Sehun sampai di tempatku.

”Ayolah, Kai. Bermain satu permainan saja. Kami akan bertarung melawan bajak laut, tapi Luhan hyung harus mempunyai awak kapal. Tao dan aku, kau dan Luhan hyung. Ayolah…” Sehun terus-terusan menarik tanganku, sampai rasanya hampir lepas.

Aku tidak bergeming sedikit pun, namun Sehun terus menarikku. ”Ayo, Kai, ayooo…” jeritnya.

”Bermain saja dengan Baekhyun hyung.” ujarku malas.

”Maaf, maskerku belum kering.” sahut Baekhyun.

”Chanyeol hyung?”

Chanyeol buru-buru mendekati Baekhyun. ”Apa maskernya masih ada?”

Aku menghela napas. ”Kyung Soo hyung?”

”Maaf, aku sedang menulis resep.”

Aku melihat senyum kemenangan di wajah Sehun. ”Ayo bermain.”

Hghh…dengan penuh decakan, aku beranjak dari sana, mengikutinya. Wajah Luhan hyung mempunyai dua strip hitam, begitu juga dengan Tao.

”Kami sudah siap perang. Ayo berpakaian.” Sehun memakaikanku daun-daunan dan memberikan strip hitam di wajahku.

”Astaga.” desahku, merangkak mengikuti Luhan hyung yang bersiap menembak lawan.

”Dor…dor…dorrr!!!” Sehun menembaki kami berdua. Luhan hyung berusaha menghindar dari pedang Tao, namun dengan mudahnya aku terkena hunusan pedangnya tanpa melawan.

”Upps…aku mati. Aku keluar.” ujarku sambil meletakkan semua peralatan itu. Aku berjalan santai sedangkan ketiga orang itu menatapku pergi.

Apa peduliku, permainan bodoh! Aku bodoh ingin mengikuti permainan itu. Sehun terkadang sangat menyebalkan, kekanak-kanakan dan…

”Berhenti disitu!” teriak Tao.

Aku berhenti dan menoleh. Kulihat Tao berjalan mendekatiku, wajahnya memerah karena marah. Hei, mengapa dia begitu?

”Apa?” tanyaku seperti menantang.

”Kau bisa kan bermain dengan benar?”

Aku mendengus keras. ”Dari awal aku sudah bilang tidak ingin bermain, namun Sehun tetap memaksaku.”

”Setidaknya serius sedikit!” pekiknya.

Oh, astaga. Aku mulai tidak sabar dengannya.

”Jadi maumu apa, heh? Kau benar-benar ingin membunuhku? Pengecut!” desisku pada Tao. Sedetik kemudian aku merasakan sakit di pipi kananku. Tubuhku hampir terhuyung namun kutahan.

Kulihat dada Tao naik turun karena marah. Aku juga merasakan hal yang sama jika dia bisa melihat tanganku juga mengepal disisi tubuh.

”Hentikan!” Luhan hyung mendatangi kami. Tapi aku sudah terlanjur naik darah. Si manja ini tidak akan kubiarkan begitu saja memukulku.

Kuraih kerah depan bajunya dan mendesis. ”Akan kubuktikan kalau aku memang serius.” Amarah membakar tubuhku menjadi sangat panas, sampai aku tidak sadar bahwa Tao adalah temanku, saudaraku, keluargaku!

Kami pun menghilang tanpa jejak. Aku berteleportasi entah kemana, yang penting aku ingin memberikan pelajaran pada anak ini.

Tubuhku terasa melayang di udara. Aku belum begitu menguasai teleportasi ini dan aku tahu konsekuensinya…tubuhmu bisa terpisah saat menjelajahi ruang hampa saat teleportasi. Tapi aku tidak peduli.

Waktu terasa cepat. Dadaku sakit ketika sampai di lapangan kami bermain tadi. Mataku terpejam sesaat, kudengar suara ribut di belakangku.

”Kai! Kau membawa Tao teleportasi!” Itu suara Suho hyung. Aku membuka mataku, berusaha berdiri tegap walaupun tubuhku terasa sangat lemas.

”Dimana Tao?” tanya Xiumin.

Semuanya diam menunggu jawabanku. Kris hyung datang ke keramaian ini.

Aku terkekeh seperti orang mabuk. ”Aku meninggalkannya di suatu tempat antah berantah.”

”Astaga…” Kyung Soo hyung menutup mulutnya karena kaget. Semua mata tertuju padaku. Apa yang kalian inginkan lagi, heh? Aku memang jahat dan brengsek kan?

Kris hyung kini berdiri di depanku, menyipitkan mata. Aku sedikit takut, tapi kuhadapi dia dengan dagu terangkat.

”Kenapa kau melakukan ini? Dimana kau meninggalkan Tao?” bentaknya.

”Apa itu hal yang pent…” belum selesai aku bicara, sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Kurasakan pipiku memanas dan sesuatu menggenang di mataku.

Buram. Kulihat wajah Kris hyung yang penuh emosi. Suho hyung menundukkan kepalanya dan menggelengkan kepala.

”Suho hyung…kau tidak membelaku?? Lihat, Kris hyung menamparku dan kau hanya diam?” tanyaku sedih.

”Kai…kau tidak seharusnya melaku…”

”Ada apa dengan semua orang??” pekikku. ”Tidak ada yang membelaku. Bahkan pemimpin seperti Suho hyung sudah tidak peduli denganku lagi.”

”Kai bukan begitu…” Kyung Soo hyung berusaha menenangkanku, namun aku menepis tangannya.

”Lepaskan aku! Aku benci kalian semua!!”

Kutinggalkan mereka semua dibelakang dan berlari menuju rumah. Hei, ini tidak adil. Aku juga maknae, aku juga ingin mendapatkan perlindungan tapi apa? Mereka hanya peduli dengan Sehun dan Tao, hanya karena aku tidak pernah bermanja-manja, mereka kira aku ini kuat?

Kuhapus air mataku yang mulai mengalir. ”Aku bukan anak cengeng seperti mereka. Aku tidak boleh menangis.” kataku saat tiba di kamar.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, namun ini terasa berat. Aku tidak tahan berada disini. Aku harus pergi!

Dadaku sakit, kepalaku pusing karena pilek. Aku berjalan keluar kamar dan disana ada Kyung Soo hyung. Dia langsung bertanya saat melihatku membawa tas dan jaket.

”Kau mau kemana?”

”Aku ingin pergi. Tidak untuk mencari Tao. Tapi aku…akan pergi ke bumi.”

Kyung Soo hyung menggeleng. ”Tidak. Kau tidak boleh melakukannya, Kai. Kau belum siap, kita semua belum siap.”

”Tidak ada yang bisa menghalangiku. Termasuk kau, hyung.” Aku menghiraukan panggilannya dan wuuusshhh…

Aku menghilang dari pandangannya.

***

Gelap dan sesak. Itulah yang terjadi ketika kau berteleportasi. Semuanya terasa sesak dan mengikat seluruh tubuhmu erat-erat. Aku belum terbiasa dengan sensasi ini, namun saat kau sampai di suatu tempat yang kau pikirkan, sebuah sensasi menyenangkan menjalar di permukaan kulitmu.

Aku memikirkan sebuah jalanan di kota Seoul, dimana tujuan kami berada. Masih berusaha mengingatnya, namun ada sesuatu yang aneh. Dadaku semakin sakit dan sesak, perjalanan ini terasa lebih lama. Apakah mungkin perjalanan ke bumi seperti ini.

Gambaran itu mulai hilang. Aku panik dan semakin tidak bisa menahan rasa sakit yang membelit dadaku. Aku berteriak dengan keras, memanggil nama Kyung Soo hyung, tiba-tiba…

Bruukkkk…

”Aww…” aku mengerang keras karena wajahku yang lebih dulu mendarat di pasir. Dadaku masih berdenyut kesakitan, tanpa sadar aku menangis dengan napas tersendat-sendat.

”Hyuungg…” panggilku, berharap aku masih berada di EXO planet

Nihil.

Tidak ada satu suara pun. Aku berbaring di pasir yang lembut itu, mencoba memanggil mereka dengan suara yang keras.

”Kyung Soo hyung…Chanyeol hyung…Sehuniee…”

”Pssttt…”

Ada sesuatu yang bergerak disana. Entahlah, dimana ini. Tempat ini seperti gurun luas. Tidak ada angin, tidak panas, tidak dingin.

”Hyung?” panggilku penuh harap. Aku masih tidak bisa menggerakan tubuhku.

”Siapa dia?”

”Makhluk dari planet lain?”

Aku tidak peduli siapa mereka, harus ada yang menolongku.         ”Tolong…tolong, siapa saja disana.”

”Dia minta tolong. Apakah kita harus menolongnya?” sekarang terdengar jelas, bahwa ada beberapa perempuan disana, berbisik-bisik.

”Tolong aku. Kumohon…”

Suara langkah kaki diatas pasir membuatku sedikit tenang. Akhirnya ada yang menolong. Kupejamkan mata sejenak menunggu mereka datang.

”Astaga…”

”Tidak mungkin.”

Apanya yang tidak mungkin? Kubuka kedua mataku dan terkejut melihat ada tiga perempuan mengelilingiku. Kulit mereka berwarna keemasan dan mengenakan baju putih panjang. Mereka…seperti bidadari.

”Dia laki-laki.”

”Tidak ada laki-laki yang pernah datang ke venus.”

Aku langsung terduduk dan menatap bingung mereka bertiga.

”Apaa?? Venus? Ini planet Venus??”

Mereka bertiga mengangguk. ”Planet Venus. Planet para wanita.”

Ya ampun! Ini mengerikan. Aku seharusnya berada di bumi, tapi ini…Venus? Planet para wanita tinggal? Aku pasti sudah salah.

”Aku…aku harus ke bumi.” Aku mencoba berteleportasi, tapi yang terjadi adalah aku terhempas ke depan. Kembali tersungkur.

”Kau terluka. Kami akan membawamu ke tempat yang aman.” ujar salah satu dari mereka yang berambut pendek.

”Tidak! Kita tidak boleh membawanya. Laki-laki tidak diperbolehkan berada di planet ini. Kita harus meninggalkannya.” sahut salah seorang dari mereka yang berambut panjang dan tinggi. Menurutku, dari antara mereka, dialah yang paling cantik.

”Tapi unnie…dia terluka. Kau selalu mengajarkan kami bahwa kita harus menolong orang.” Oh, dia yang paling tua?

”Tidak bisa! Tidak boleh!”

Aku mengerjapkan mataku, menonton mereka bertengkar sampai akhirnya gadis yang paling tua itu melipat kedua tangannya di dada dan menatapku tidak suka.

”Baiklah. Kau boleh beristirahat di gudang. Tapi jangan sampai yang lain tahu.” akhirnya dia setuju dan kedua adiknya bersorak gembira.

Mereka berdua membantuku berjalan. Aku sedikit tidak enak karena mereka memapahku, tapi aku benar-benar tidak suka dengan kakak mereka itu. Dia berjalan di depan dengan angkuh. Menunjukkan gudang itu.

”Tidak boleh berisik, tidak boleh terlihat yang lain. Kalau sampai hal itu terjadi. Aku tidak segan-segan membawamu ke pimpinan Venus agar dia memancung kepalamu.” lalu dia pergi begitu saja.

”Maafkan, Haera unnie. Dia memang sering seperti itu kepada orang asing. Apalagi kau pria.” tutur gadis berambut pendek itu. ”Kenalkan, namaku Pumae. Kami tiga bersaudara. Aku si anak tengah dan ini adikku, Marae.”

”Nama kalian…aneh dan cara kalian bicara juga seperti berbisik-bisik seperti itu.”

Mereka tampak terkejut. ”Aneh? Ya, mungkin ini terdengar aneh bagimu yang dari planet lain.”

”Aku Kai. Dari EXO planet.” Yah, setidaknya aku bisa beristirahat disini untuk sementara. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah aku membaik. Apa aku akan kembali ke EXO planet atau ke bumi…

***

”Bangun!!”

”Mmhhh…”

”Bangun!!”

”Kyung Soo hyung…sebentar lagi. Aku masih mengantuk…” ujarku seraya mengusir orang yang ada di kamarku.

Kamarku??

”Bangun atau kau tidak akan pernah mempunyai kepala.”

Aku pun langsung bangun, mengerjapkan mata beberapa kali, memandang sekeliling hingga menemukan gadis menyebalkan itu berdiri di dekatku.

”Kyung Soo hyung…”

”Aku bukan hyung-mu dan sekarang ini…” dia melemparkan sebuah gagang sapu padaku. ”Bersihkan halaman depan.”

Aku ternganga mendengar ucapannya. ”A…apa? Apa aku tidak salah dengar? Membersihkan halaman depan?”

Haera mengangguk. ”Aku serius jika kau menganggapku sedang bercanda. Cepat bangun dan bersihkan halaman depan.”

”Apa kau sudah gila? Aku sedang sakit dan kau menyuruhku untuk membersihkan halaman depan…” protesku.

”Kau menumpang disini, ingat? Kemarin kami memberimu makan dan tempat berlindung. Apa sulit untuk membalas kebaikan kami?” pekiknya, terasa pengang di telingaku.

Aku pun bangkit dari sana dan mengambil sapu itu keluar halaman tanpa menghiraukannya. Diluar sangat sepi tidak ada siapa-siapa, hanya ada hutan dan langit yang berwarna jingga.

”Tolong bersihkan dengan benar ya.” ujarnya sambil melenggang pergi meninggalkanku.

Tubuhku masih terasa lemas. Dadaku juga sakit, sesak rasanya. Aku ingat betul disaat-saat aku sakit, sesepele apa pun itu, tidak ada yang pernah menyuruhku bekerja, pergi latihan atau pun belajar.

Kyung Soo hyung akan membuatkanku sup ayam ginseng yang enak, terkadang dia ingin menyuapiku tapi aku menolaknya. Tapi itu saja sudah lebih dari cukup. Berbaring di tempat tidur, makan di tempat tidur, membaca buku. Lalu Suho hyung akan…

”Hah! Apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh memikirkan mereka. Aku benci mereka.” gerutuku sendirian.

”Halooo…”

Aku mendengar sebuah suara. Kutoleh ke kanan dan ke kiri. Kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Kembali kulanjutkan menyapu halaman itu.

”Halooo…” kini suara itu disertai suara cekikikan.

Aku semakin penasaran, maka kulirik ke samping kanan dan melihat beberapa (mungkin 10) gadis sedang bersandar di pagar.

”Wuaahh..!!!” teriakku kaget.

”Hai, tampan. Sejak kapan kau sampai disini?”

”Butuh bantuanku?”

Aku mundur beberapa langkah. ”Kalian tahu aku disini…lalu aku akan…” Kupegang leherku dan membayangkan kepalaku dipenggal.

”Tenang saja, kami tidak akan memberitahukan ini kepada pemimpin. Kami tidak ingin melihatmu dipenggal.” kata salah satu gadis yang bertubuh gendut.

Tidak ingin melihatku dipenggal? Apa kalian sudah gila!!

Aku hanya menyunggikan senyuman getir lalu melanjutkan menyapu.

”Aku membawakan makanan untukmu.”

”Aku membawakan minuman rasa jeruk terbaik di planet ini.”

Mereka menaruh banyak keranjang di halaman, kini aku merasa seperti seorang artis dengan banyak penggemar dan hadiah.

”Apa-apaan ini?” tiba-tiba perasaan senang yang kurasakan hilang begitu melihat orang itu. Apa lagi yang dia inginkan?

”Haera, kau tidak bilang kalau ada laki-laki tampan di gudangmu.”

Haera memandangku dengan penuh arti. Aku menunduk saat itu juga.

”Darimana kalian tahu dia ada disini?”

”Kami…anu, itu…Pumae.”

”Pumae?? Astaga, anak itu. Aku akan menghukumnya nanti.” desis Haera.

Aku pun semakin pusing dibuatnya. ”Sudah, hentikan! Aku pusing mendengarkan kalian bertengkar ini itu. Dan kau, Haera! Kau sangat cerewet dan jangan menghukum adik-adikmu, kau sudah cukup membuat mereka menderita, tahu!”

Haera langsung memukulku dengan gagang sapu. ”Berbicara tidak sopan seperti itu, kau kira dirimu itu siapa!! Berapa umurmu, heh?”

”18 tahun.”

”Aku 20 tahun dan panggil aku noona!! Apa hakmu melarangku menghukum adik-adikku??!! Kau hanya orang asing yang terdampar disini. Untung saja kau tidak langsung kubawa ke pemimpin. Rasanya saat ini aku ingin membawamu ke hadapan pemimpin, biar kau pulang ke planetmu tanpa kepala!!!”

”Jangan lakukan itu, Haera. Kami yang salah.” tiba-tiba Pumae dan Marae datang.

”Kau tahu, dengan semua orang mengetahui keberadaan laki-laki ini, jika tersebar kalau kita menyembunyikannya, yang habis adalah kita. Pemimpin akan menghukum kita bahkan memenggal kepala kita.” ujar Haera panjang lebar.

”Itu tidak akan terjadi!” pekik Marae.

”Ya! Itu akan terjadi!!!” balas Haera.

Kemudian dua gadis itu berlari ke arahku, mengumpat di belakang tubuhku seakan meminta perlindungan padaku.

”Eh…apa ini? Oh sudah lah, Haera noona! Aku tahu ini adalah masalah serius, tapi jika semua orang merahasiakannya, pemimpin planet tidak akan tahu keberadaanku.” jelasku.

”Kau tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti! Aku seharusnya tidak menolongmu waktu itu.” Kini aku melihat kebencian di matanya yang bulat itu.

Aku pun emosi. ”Kau sangat cerewet! Aku rasa tidak akan ada laki-laki yang ingin menjadikanmu pacarnya.”

Semuanya hening saat aku menyelesaikan kalimat itu. Mereka terpaku dan memandang ke arah Haera yang tampaknya juga terkejut akan perkataanku. Hei! Memang aku bilang apa?

Mata Haera berkaca-kaca saat berlari pergi dari tempat ini. Aku celingukan kesana kemari, ingin tahu apa yang sedang terjadi?

”Kau seharusnya tidak menyinggung tentang perjodohan.” bisik Marae.

”Ya, dia sangat sensitif soal itu.” sahut Pumae.

”Memang apa yang salah dari…”

”Unnie akan di jodohkan oleh pangeran merkurius dekat-dekat ini.” jelas Pumae sedikit sedih.

Aku bertepuk tangan dan berkata, ”Baguslah ada orang yang ingin dengannya.”

Pumae melemparkan pandangan marah padaku. ”Para wanita disini sebenarnya mempunyai jodoh dengan para pria di planet Mars.”

”Lalu kenapa dia malah dijodohkan dengan pangeran dari planet merkurius?”

Pumae melangkah memandangi hutan yang baru saja dimasuki oleh Haera. ”Kau tidak mengerti. Unnie adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Dia sangat sayang pada kami, pada semua orang di planet ini. Dia terlalu sayang pada kami maka rela mengorbankan dirinya.”

”Planet merkurius mengancam akan menyerbu planet kami jika tidak ada wanita yang dijodohkan dengan pria di planet merkurius. Kami pun bingung, karena kami tahu pasangan kami sudah menunggu di planet mars. Namun karena ancaman itu, unnie Haera bersedia dijodohkan agar tidak terjadi perang dan dia sangat sedih akan hal itu.” Pumae mengakhiri cerita itu dan menyeka air matanya. ”Aku menjadi sangat bersalah jika melihatnya seperti ini. Terlalu banyak beban yang dia tanggung demi kami.”

Aku menghela napas dan berpikir, ’Si cerewet itu kasihan juga’. Aku bisa membayangkan dimana semua tanggung jawab ada di pundaknya selayaknya seorang pemimpin, mengingatkanku pada…

Aku pun berdiri dari sana.

”Kau mau kemana?” tanya Marae.

Kulemparkan senyumanku yang tulus. ”Aku ingin meminta maaf pada kakakmu. Ini semua salahku.” Lalu aku berlari masuk ke dalam hutan.

***

Hutan itu lebat dan gelap. Aku tersandung beberapa kali saat memasukinya. Kubuka mataku lebar-lebar untuk mencari dimana Haera berada.

”Haera…maksudku, Haera noona, dimana kau?” Suaraku bergema di dalam hutan itu. Bulu kudukku berdiri seiring dengan suara angin yang menderu, meniup tengkukku.

”Haera noona…” panggilku sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

Perasaan takut mulai melingkupiku. Kupeluk diriku sendiri sembari jalan semakin jauh ke dalam hutan.

”Haera noona! Oh ayolah, aku takut sekali disini. Aku hanya ingin minta maaf…”

”Diam kau!”

Aku mendongakkan kepala dan melihat Haera berada diatas pohon, duduk disalah satu dahan besarnya.

”Apa yang kau lakukan diatas sana?”

”Apa yang kau inginkan?” balasnya bertanya.

Aku mengangguk dan mencari tempat kosong untuk duduk sambil menatapnya diatas pohon.

”Aku ingin…minta maaf atas semuanya. Maaf, telah menyinggung soal perjodohan itu…” tuturku perlahan.

Haera hanya diam, memandang jemarinya yang indah.

”Kurasa itu bukan hal yang buruk, menikah di usia muda.” lanjutku santai.

”Kau hanya seorang bocah, kau tidak tahu apa-apa.”

”Ya, aku memang masih kecil, tapi aku pernah menguping pembicaraan Xiumin hyung, Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung. Mereka bilang mereka ingin datang ke bumi dan menemukan gadis idaman mereka dan segera menikahinya. Konyol sekali mendengarkan impian yang tidak mungkin terjadi itu. Kami masih sangat lama datang ke bumi dan mereka tidak mungkin bisa menikah secepat itu. Ada misi yang harus kami jalani.” jelasku panjang lebar.

Dia masih tetap tidak memperhatikanku.

”Aku tahu perjodohanmu dengan pangeran itu adalah pengorbananmu. Kau sangat baik dan bertanggung jawab. Melihatmu seperti ini mengingatkanku akan seseorang.”

”Siapa?” akhirnya dia merespon.

”Dia…Suho hyung, pemimpin kami. Hyung yang baik, tapi aku bertengkar dengannya terakhir kali kami bertemu, sebelum aku terdampar disini. Aku sangat bersalah padanya.”

”Kenapa tidak pulang dan minta maaf padanya?” tanya Haera.

Aku tertawa. ”Aku sangat takut. Takut hyung tidak akan memaafkanku. Apalagi Kyung Soo hyung, aku membentaknya…” kepalaku tertunduk sedih. Perasaanku terluka mengingat kejadian sebelumnya.

”Kau tahu, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah.” ucap Haera tiba-tiba berada di depanku. Dia tersenyum menatap wajahku yang basah akan air mata. ”Kami sering merasa bertanggung jawab, mempunyai beban yang berat. Kami mau berkorban untuk apa saja asalkan orang-orang yang kami sayangi tidak terluka atau menderita.”

”Kau melakukan ini demi adik-adikmu?”

Haera mengangguk. ”Untuk semua orang di planet venus ini. Aku tahu ini sangat berat untukku, tapi setiap melihat wajah adik-adikku, aku merasa ini bukanlah pilihan yang salah, ini bukan sebuah pengorbanan, tapi ini adalah sebuah bentuk kasih sayangku pada mereka.”

Aku mengangguk. ”Kau…kakak yang baik. Lagipula kau tidak jelek, pasti pria itu akan memperlakukanmu dengan baik.”

Jemari halus Haera menghapus air mataku sambil tersenyum. ”Itulah yang setiap malam dikatakan oleh adik-adikku. Mereka selalu berharap aku akan bahagia bersama pangeran merkurius.”

”Aku juga berharap seperti itu.” tambahku membalas senyumannya.

Wajah itu terlihat lebih berseri daripada yang pernah kulihat sebelumnya, cantik namun…murung dan penuh kesedihan. Kini dia duduk di sampingku sambil bersenandung pelan. Rambut panjangnya bersinar terang di dalam kegelapan hutan.

”Aku harap…pria itu…seperti Suho hyung.”

”Oh ya? Aku jadi penasaran, sebenarnya Suho hyung-mu itu seperti apa?” tanyanya penasaran.

Aku berpikir sejenak lalu berbicara. ”Suho hyung adalah orang yang penuh kharisma. Dia sangat tampan, tapi tentu saja aku lebih tampan darinya…”

”Astaga…”

”Aku berkata yang sejujurnya. Hyung adalah orang yang baik, dia menjaga kami semua dengan baik dan penuh kasih sayang. Walau terkadang dia lebih sering menunjukkannya pada Sehun, mungkin karena dia yang paling kecil. Pokoknya, aku yakin jika kau bertemu pria seperti dia, kau akan jadi wanita yang paling bahagia di dunia.”

”Benarkah? Aku jadi berharap pangeran merkurius itu adalah Suho hyung-mu.” cekikik Haera.

”Eh, tapi tunggu…aku rasa wanita akan sangat bahagia dan merasa sangat spesial jika bersamaku, bukan dengan Suho hyung.” tiba-tiba kenarsisanku keluar begitu saja. Aku merasa tidak ingin Haera menyukai Suho hyung.

”Kenapa?”

”Apa kau tidak melihat bagaimana para wanita di luar sana memperlakukanku? Mereka memandang setiap senti tubuhku dengan tatapan: ’Aku menginginkanmu’.”

Haera tertawa keras sekali sampai menitikkan air mata.

”Mereka membawakanku makanan dan minuman yang enak, dan wanita gendut tadi bersedia membantuku membersihkan halaman. Aku punya aura yang memabukkan, noona.” jelasku semakin membuatnya tertawa geli.

Akhirnya Haera berhenti tertawa dan memukul kepalaku pelan. ”Aura yang memabukkan? Kau ini…baiklah kalau begitu, aku berharap pangeran merkurius itu seperti kau. Aku akan memandang setiap senti tubuhnya dengan tatapan: ’Aku menginginkanmu’ dan tersihir oleh aura memabukkannya.”

Aku tertawa dan mengangguk. ”Itu jauh lebih baik kurasa.”

Kami pergi dari sana sambil mengobrol sepanjang perjalanan. Aku merasa sedang berbicara dengan sosok lain yang sangat berbeda dari pertama kali aku bertemu dengannya. Dia mempunyai senyuman yang manis dan wajah teduh yang membuat hati siapa pun terenyuh…

Hei! Kai! Berhenti! Dia sudah dijodohkan!

Aku melamun memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini, namun lamunanku terbuyar oleh jeritan tertahan Haera.

”Pemimpin?”

Apa? Pemimpin?

Mataku tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik untuk wanita seumurnya.

Aku menoleh pada Haera yang masih menganga. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain membayangkan kepalaku yang menggelinding setelah di penggal.

”Kai?”

Tiba-tiba hatiku terasa seperti ingin meledak, aku rasa sekarang juga bisa teleport ke bumi. Wajah itu…wajah yang membuatku merasa sangat bersalah. Lalu wajah-wajah lain bermunculan dari belakang pemimpin planet venus ini.

”Kai, cepat kesini!” ujar Chanyeol hyung memanggilku. Aku…saat itu ingin berlari memeluk mereka semua, tapi aku malah memasang ekspresi datar dan berjalan menuju mereka dengan gaya cool-ku.

”Jadi ini pria EXO planet yang tersesat disini?” tanya pemimpin.

Aku mengangguk perlahan tidak berani menatapnya.

”Maafkan atas ketidak nyamanan ini. Aku tahu, pria tidak diperbolehkan berada disini, tapi kami terpaksa melakukannya karena kami ingin menjemput anggota kami, Kai. Mohon maafkan kami, ini semua salahku…”

”Tidak. Ini salahku.” aku memotong ucapan Suho hyung. ”Aku…aku…pokoknya aku yang salah. Titik.”

Pemimpin tersenyum melihatku. ”Kau sangat berani mengakui kesalahanmu. Kau anak yang hebat. Tapi ingat satu hal, kau harus berterima kasih pada nona Haera beserta adik-adiknya. Maka itu aku akan melepaskanmu.”

Aku mengangguk dan mendatangi Haera. ”Terima kasih atas semuanya. Kalian sudah sangat baik padaku. Aku harap kalian semua bahagia, terutama kau, Haera noona.”

”Jadi selera Kai adalah seorang noona?” bisik Baekhyun yang langsung dipukul oleh Chanyeol.

”Aku harap kau menjadi anak yang lebih kuat dan tidak nakal lagi. Janji?”

”Janji!” ujarku sambil mengangkat sebelah tanganku. Lalu aku kembali kepada yang lain. Kyung Soo hyung menggenggam tanganku erat-erat.

Lalu kami mengucapkan salam perpisahan dan kembali pulang dengan bubuk ajaib yang membawa kami semua pulang ke rumah, ke EXO planet kami tercinta.

***

”Tadi itu adalah planet terindah yang pernah kulihat. Wuawwhh…” Baekhyun hyung menghempaskan tubuhnya di sofa. ”Kau lihat bagaimana para wanita itu memandangku? Mereka seperti ingin dekat denganku, tapi sayangnya ada pemimpin mereka disana.”

”Yang kutangkap dari pandangan mereka, mereka seperti ingin memukulimu, Baek.” canda Chanyeol hyung.

”Enak saja! Suho hyung, apa kita akan kesana lagi kapan-kapan?” tanya Baekhyun hyung penuh harap.

Suho hyung hanya menggeleng sambil membalik halaman bukunya.

”Ah, menyebalkan…” gerutunya pelan.

”Apa?”

”Ah, tidak.”

Entah mengapa, rumah ini terasa sangat hangat dan nyaman. Aku bahagia mendengarkan suara ribut mereka, suara peralatan masak yang saling beradu saat Kyung Soo hyung sedang memasak, bahkan suara Sehun yang berdengung seperti lebah di telingaku, juga dengan Tao. Aku sudah minta maaf pada mereka. Terutama pada Tao karena telah meninggalkannya di planet pluto dan Kris hyung juga.

Namun satu orang yang belum. Dia seperti menghindariku saat ini. Hanya membaca buku dan meminum tehnya dalam diam.

”Kai, aku kelewatan banyak cerita. Ceritakan padaku sekarang juga.” pinta Sehun ikut berbaring di sebelahku.

”Kai punya pacar di planet venus. Namanya Haera noona. ’Haera noona, aku minta maaf’” ujar Baekhyun hyung mengimitasiku.

”Tidak! Itu bukan pacarku…” elakku.

”Bohong! Aku bisa melihat bagaimana kau memandanginya sampai detik terakhir kami meninggalkan planet itu.” goda Chanyeol hyung terus-terusan. Aku pun menyerah, kubiarkan mereka menyebarkan cerita yang tidak benar pada Sehun dan Tao, lalu Lay hyung datang, juga Xiumin hyung, dan semuanya tersebar begitu saja.

Kyung Soo hyung membawakan semangkuk sup ayam ginseng yang masih hangat. Perutku bergejolak saat melihatnya, tapi aku menahannya saat melihat Suho hyung pergi keluar tanpa suara.

Segera saja aku mengikutinya. Udara malam menyambutku saat keluar. Kulihat Suho hyung berjalan perlahan ke tengah lapangan. Aku memanggilnya dan dia berhenti.

”Hyung…aku…”

”Sudahlah, lupakan yang sudah terjadi.”

Aku menunduk tidak enak. ”Maafkan aku, hyung. Selama ini kau mempunyai banyak beban dan aku semakin menambahnya lalu aku…”

Kemudian yang aku tahu adalah aku menangis di pelukan Suho hyung. Tubuhnya memang lebih pendek daripadaku, namun itu sangat menenangkanku.

”Aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban. Maafkan aku jika sering memperlakukanmu tidak baik.” dia menatap wajahku. ”Kau tahu kan aku sangat menyayangimu, Sehun, Tao, Chanyeol, Baekhyun, Chen, dan yang lain. Tidak pernah ada keinginan untuk membedakanmu dengan yang lain. Kau adalah yang terbaik, Kai.”

Aku tersenyum sambil menghapus air mata, lalu kami berdua kembali ke rumah.

”Ayo, makan. Aku sudah membuatkannya untukmu.” Kyung Soo hyung menunjuk sup itu.

Aku duduk di sofa, namun hyung malah pergi ke dapur lagi. Aku pun protes. ”Hyung mau kemana?”

”Ada apa, Kai?”

”Saat teleportasi, aku terluka berat. Dadaku sakit dan sesak napas, tidak ada yang mengurusiku. Sampai di rumah pun juga tidak ada yang ingin merawatku…”

Kyung Soo hyung pun langsung duduk di sebelahku dan mengambil mangkuk sup itu. Dia menyuapiku J

”Dasar manja.” kata Baekhyun.

Aku tidak mempedulikannya.

”Aaaa…” tiba-tiba Sehun datang disebelahku, membuka mulutnya selebar mungkin.

”Apa-apaan kau? Sana pergi!” aku mendorongnya untuk pergi.

”Sehunie juga mau makan.” rengek Sehun memulai lagi.

”Sana pergi! Ini makananku, aku sedang sakit, tahu!”

Tapi Sehun tetap tidak beranjak dari sana dan malah Kyung Soo hyung menyuapinya juga.

”Hyuuung!” protesku.

”Aku akan menyuapimu bergantian. Sehun, kau, Sehun, kau…”

”Tidak mau! Ini makananku dan aku yang sedang makan dan tiba-tiba Sehun datang, lalu merusak segalanya.” aku marah-marah.

”Tapi aku juga lapar!!”

”Tapi ini kan makananku! Sana pergi ke Luhan hyung.”

”Tapi Sehunie juga mau disuapi Kyung Soo hyung…”

”Lihat, lihat…dia yang membuatku jadi emosi!!”

Malam itu aku bertengkar lagi dengan Sehun, tapi kali ini Suho hyung yang turun tangan dan akhirnya kami hanya bisa terdiam disuapi olehnya. Kami tidak berani protes apa-apa. Sampai pada akhirnya aku dan Sehun saling menyuapi puding dan kami akur kembali.

Planet Venus mengajarkanku banyak hal. Haera noona, aku harap kau bahagia.

#THE END#

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

8 thoughts on “[EXO Planet Edition] Hurricane Venus

  1. Omo Kai kasian, sedih juga padahal dia juga magnae yaa😦

    Aku jadi ngerasa kalau ini emang kepribadian Kai yang sebenernya dan juga curhatannya dia, hehehe *saking idupnya*

    Gilaa, terdampar di planet cewek. Jadi banyangin kalau seandainya kita terdampar di planet penuh cowok, astaga, ngeriiii, tidaaaaaak, aku tidak mau membayangkaaaaan *reader stress*

    Suka endingnya, apalagi ketika acara suap-suapan itu, hahaha, damai bacanya😀

  2. Awalnya kepikiran kai yang merajuk, udah sok dewasa malah disalahin gitu, kai yg baik, manis, unyu, tapi semuanya hilang gara2 sehunie minta disuapin kyungsoo juga
    Hahahaha
    Sehunie dicubit yaaaa

  3. Aslinya mah ga bisa ngebayangin si kai manja-manja sama suho . . .
    Rasanya gimana gitu , ,, Dan itu si panda jauh banget sampe ke planet plutoo

    hahahahaha

    but overall

    Daebakkkkk ka Dira ^_^

  4. Kai ini walaupun bungsu tapi ga keliatan bungsu nya gitu, dia cukup dewasa (muka nya sih). Dan disini dia membuktikan nya hahaha… dia males main dan langsung berantem sama Tao, udah gitu dibawa ke Pulto lagi Tao nya, udah tau planet itu dingin banget. Dan dia juga teleportasi ke Vebus yang rata-rata disitu cewe semua, untung aja ga ketauan Kai nya. Dan yah, walaupun dia marah sama Suho tapi ternyata yang paling diinget itu Suho *manisnya 
    Nice ff thor  Aku masih nunggu EXO Planet Edition yang lain nih, atau emang Cuma segitu aja, cuma Luhan, Chanyeol, Chen, dan Kai aja? Pengen nya sih dibikin Kris juga hehe.. Ditunggu yah thor 

  5. Kkk~ DAEBAK!!
    Oo iya, si Baek keburu kepengen ketemu aku yahh?? Hihii😀 *mimpidibawahalamsadar. Nanti akunya pergi ke Seoul koo, tenang aja… Sabar aja yaa.. Jangan keburu-buru!! Apalagi pengen nikah #GUBRAK #YYAAAKK (dijambak Shiners sampe jadi Lampu Taman) #CENTIYEENG(dileparin seng) #PRAANG(dilemparin apa aja yang didapur) #BBUOOKK (dipukul Shiners) #PLAAAK-PLUAK-PLLLUUUAAAK (ditampar bertubi-tubi tiada henti) #DOORRR (ditembak pke pistol) #DIIIAAR (lama kelamaan ngeluarin BASOKA) #BBBBUUUUM (gak tahan lagi, di BOM aja sekaliian..) -nunjukkin bendera putih tanda kekalahan kyk TOM-

    Oke-oke, abaikan kelebayan Shiners yang satu ini- eh, sekarang udah ganti jabatannya- Mrs.Byun.. Maklumm, Mrs.Byun yang kemaren baru aja dateng ke Apartemen EXO belum sampe pintu aja udah ditendang ke Arab dan sekarang ia giilaa karna gak diakuinnn *hikkss-hikkss… Ahh iyaa, 1 kali lagi yaa kelebayaannnyaa.. Oke, jujurr ini emang Fakta … Mrs. Byun ini kemaren balik lagi ke Apartemennya abang-abang ganteng, terus Mrs.Byun nyanyi didepan pintu dengan keadaan yang sangat mengenaskan, tiba-tiba itu si abang Chanyeol keluar dan bilang “Maaf, gak ada uang receh…” Mrs.Byun ketawa kyk orang sinting. Jemari Chanyeol menekan tombol yg ada dilayar sebelah pintu “keamanan, toloong.. Didepan pintu saya ada Orang gila yang -eeukhh… Tidaak kereen..” Gilleee, orang gila apa ada yang keren coba??

    TBC

    Ehh- kenapa jadi Fanfic beginii?

    Daebaak!!! Tetep berkarya dengan FF abang EXO yang ganteng dan kereen ya thornimm… Annyeong-Bye-Wassalam😀

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s