Posted in EXO, Fanfiction, Romance

Severely

Title : Severely

Main Cast : Kai EXO a.k.a Kai, Yoona SNSD a.k.a Park Hyerin

Other : Lay EXO

Genre : Sad drama romantic

(Hai, hai…author kembali lagi membawa ff EXO!!! Wuhuuuu😀
Seneng banget bisa nulis ff sedih ini yang castnya Kai sama Yoona
Ayo tunjuk tangan siapa yang gak setuju?? Hohoho…😄
Tenang kok, author kasih nama disini hyerin bukan yoona, jadi kalo yg gasuka boleh ngebayangin orang lain hehe
Oh iya, author saranin kalo baca ff ini sambil dengerin lagunya ft.island yang severely.
Walaupun cerita ff ini gak sama kayak MVnya, tapi cocok bgt lah disini hehehe :b
Dibaca dan di comment yaahh😀
Happy reading chingudeul)

***

Hai, Park Hyerin disini, ditengah keramaian, diantara beratus-ratus orang yang tidak mengenal diriku. Aku tahu ini terlihat menyedihkan, semua orang melihatku sedih.

Ya, ini aku Park Hyerin si anak pincang yang kaya. Aku punya segalanya. Aku anak direktur hotel bintang lima di Korea Selatan. Ibuku seorang perancang terkenal. Tapi sebuah aib bahwa aku hidup seperti itu dengan kekuranganku.

Kau tahu, aku berharap aku ini adalah anak biasa yang dapat berjalan dengan normal dan mempunyai banyak teman.

Huftthh..lupakanlah semua itu. Ya, aku mencoba melupakannya dengan berjalan sendirian di taman bermain ini.

“Nona yakin ingin berjalan..sendirian?” tanya pak Lee khawatir.

Aku mengangguk pasti. “Aku masih punya kaki yang satu lagi. Aku bisa menggunakannya.”
Pak Lee hanya bisa mengangguk, walau aku tahu dia pasti akan mengikutiku diam-diam.

“Jangan coba-coba mengikutiku ya, Pak Lee.” kataku sambil tersenyum lembut padanya.

Kini aku berjalan sendirian. Ada beberapa orang yang melihatiku, tapi tidak sedikit yang melewatiku seperti angin lalu saja. Aku menoleh ke belakang dan bisa melihat Pak Lee bersembunyi di belakang tong sampah agar tidak terlihat olehku.
Astaga, Pak Lee. Aku bisa melihatmu dengan jelas.

Aku berjalan lagi. Ini terasa seperti saat aku berumur 11 tahun, selalu tidak ingin diikuti Pak Lee dan aku berusaha mengelabuinya dengan berjalan cepat sehingga dia kebingungan mencariku.

Apakah…aku harus mengulanginya sekarang? Aku rasa ini akan seru.

Sambil berusaha berjalan tertatih-tatih, aku memasuki kerumunan. Terus saja menyelipkan tubuhku diantara orang-orang itu sampai terasa sesak. Aku berjalan dan berjalan, semakin menjauh. Sampai akhirnya aku menoleh ke belakang dan tidak menemukan Pak Lee. Apa dia menyerah?

Senyumanku mengembang seraya berjalan menjauhi keramaian. Sekarang, aku berjalan di jalan setapak taman di belakang wahana.

Jalan itu sepi, yang terdengar hanya langkah kakiku. Awan mendung menutupi langit cerah dalam sekejap. Hghh…seharusnya aku membawa payung.

Sambil aku menggumam, berceloteh soal payungku, tiba-tiba ada suara langkah kaki yang menemaniku. Aku tidak sendiri.

Aku pun berhenti, tertawa kecil. “Pak Lee, aku sudah bilang jangan mengikutiku kan.” Aku berbalik dan disana berdiri…

Bukan. Dia bukan Pak Lee.

Dia seorang namja bertubuh tinggi. Kulitnya sedikit gelap, rambut hitamnya berantakan. Kaus biru yang mulai pudar, celana sobek-sobek di lutut. Aku mulai bertanya-tanya apakah dia orang jahat.

Jarak kami hanya terpaut dua meter. Kami terdiam sambil memandang satu sama lain.

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan, namun tiba-tiba dia berlari ke arahku dan membekapku.

Aku baru saja akan berteriak, ketika semuanya menjadi gelap. Bau menyengat itu menusuk hidungku, menggelapkan mataku.

Apa yang akan dilakukan orang ini padaku?

***

Kepalaku terasa pusing ketika melihat sebuah cahaya yang menusuk mata.

Apa aku sudah mati?

Sebuah tangan meraih wajahku dengan kasar. Aku menatap wajah namja itu. Dia juga menatapku dengan tatapan sedingin es.

“Lepaskan aku!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya. Namun dia menggeleng dan mendengus. “Melepaskanmu? Tidak sampai aku menjualmu atau…”

“atau apa?” Tantangku. Lalu dia mengambil pisau dari meja. “atau aku akan membunuhmu. Kau mengerti?”

Membunuhku? Dia ingin membunuhku? Jika aku mati maka aku akan menghilang. Menghilang? Bukankah itu yang selama ini aku inginkan?

“kalau begitu…” Kataku dengan suara bergetar. “bunuh aku. Tidak akan ada yang kau dapatkan dari menjualku. Aku hanya gadis pincang yang tidak berharga. Bunuh aku sekarang!!”

Dia menancapkan pisau tepat di sebelah kepalaku. “Jangan macam-macam denganku. Aku bisa saja melakukan hal yang lebih daripada membunuhmu.” matanya mengeksplore seluruh tubuhku.

Aku menggelengkan kepala. “kau tidak mungkin mau melakukannya dengan gadis pincang sepertiku.” Air mataku tumpah ruah membasahi bajuku.

Namja itu meninggalkanku sendirian di kamar berbau apek dan lembab ini. Tanganku terikat kencang sampai kebas, bajuku kotor dan aku merasa tidak ada jalan keluar.

Aku pun hanya bisa menangis.

***

Malam tiba. Aku bisa melihatnya dari jendela di kamar itu. Langit sedang cerah hingga bulan dapat bersinar terang.

Namja itu masuk membawa sebuah piring. Dia meletakkannya di depanku. “Ini makan.”

Aku bergidik melihat roti setengah basi itu dan kembali menangis, yang kuinginkan hanyalah pulang ke rumah. Bahkan perutku tidak lagi lapar.

“kenapa kau terus saja menangis? Bisakah kau diam!!!” teriaknya. Aku malah menangis semakin keras.

Namja itu mengangkat tangannya untuk memukulku, tapi dia menurunkannya lagi. “Aku bukan tipe pria yang memukul wanita.” Dia mencengkram kerah bajuku. “Jadi jangan berbuat sesuka hatimu.”

“Aku bebas melakukan apapun yang kumau!!!” Aku pun menendang piring itu sampai menabrak dinding.

Dia mengangguk tenang. “Itu makanan pertama dan terakhir untukmu. Kau akan mati kelaparan.”

Ini semakin mengerikan. Perutku terasa perih dan tanganku kebas. Aku meringkuk di sudut ruangan. Menangis dan malam itu aku memimpikan kedua orang tuaku, juga pak Lee yang memanggil namaku.

Baru kali ini aku rindu pada mereka…

Ayah…ibu..Pak Lee…dimana kalian? Apa kalian tidak menyadari kehilanganku?

***

Aku merasa hari-hariku yang dulu jauh lebih berarti daripada hari ini.

Kukira ketika aku membuka mata, bangun dari tidurku…aku kira semua itu hanya mimpi, namun…

“Dia ada di dalam sana.”

Kudengar suara berat namja itu. Dia membawa seseorang. Pintu terbuka dan seorang namja kurus datang ke arahku.

Dia hanya sendirian, tidak bersama orang yang menculikku. Dia memandangiku dari kaki sampai kepala, lalu berjongkok di dekatku.

Dilihat dari wajahnya, aku rasa dia orang yang baik, maka aku berbisik padanya. “Tuan, tolong aku. Aku akan memberikanmu banyak uang jika kau melepaskanku dari orang itu. Aku berjanji akan memberikanmu banyak uang…”

“Bagaimana, Lay hyung?” Tiba-tiba penculik itu masuk ke dalam. Aku berhenti bicara saat itu juga.

“Dia…cacat, Kai.” ujar namja bernama Lay itu.

“Aku tahu. Tapi dia bisa berjalan, bahkan jika kulepaskan ikatannya, mungkin dia bisa berlari. Jadi kau mau beli dengan harga berapa?” Tanya penculik bernama Kai itu.

Lay melihatku dengan tatapan nanar. “Entahlah, aku kira dia bisa segera dibawa ke cina jika keadaannya sempurna. Kau tahu kan bos memintaku untuk kerja cepat.”

“Apa? Kau mau menjualku ke cina? Kau tidak bisa melakukan hal itu!!!” Jeritku sambil menangis.

Kai ingin bertindak, aku tahu dia marah, namun Lay menahannya. “Sudahlah, Kai. Aku harus pergi sekarang. Mungkin beberapa hari lagi aku akan datang kesini untuk membawanya.” Lalu dia pergi.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

***

Kai berjalan dengan santai sambil membawa sebotol soju ditangannya. Sambil mendengarkan musik, dia terus berjalan melewati toko-toko.

Tidak ada yang menyangkanya seorang penculik.

Tiba-tiba dia berhenti di sebuah toko televisi. Semua televisi disana menayangkan berita tentang orang hilang.

Kai tersenyum kecil ketika melihat foto Hyerin terpampang disana beserta biodata tentang dirinya.

***

Hari hampir pagi ketika Kai pulang. Dia memegang wajahku, memandangnya dengan teliti.

“Park Hyerin? Putri direktur hotel shinwa dan perancang busana EXO?”

Napasku berhenti saat itu juga. “Bagaimana kau tahu?”

Dia tertawa dan mengeluarkan ponselnya. “Lay hyung, ini aku Kai. Kau ingat gadis pincang yang ada di rumah. Dia…” Kai menarik.kerahku. “putri direktur hotel shinwa.”

Setelah berbicara lama, dia menutup teleponnya.

“Kau ingin minta tebusan sekarang? Jangan berani berpikir tentang hal itu. Jangan ganggu orang tuaku!!”

“Menjualmu tidak akan ada artinya, meminta tebusan akan sangat berarti, nona Park Hyerin. Kau tidak akan miskin, tenang saja.”

Tenang? Mana mungkin aku bisa tenang…

***

Pagi itu terasa seperti neraka. Tempat sempit dan bau itu menjadi lebih buruk ketika sakit di seluruh tubuhku mendera.

Aku belum makan dari dua hari yang lalu. Aku hanya minum sedikit dari cangkir kotor yang diberikan Kai. Kini perutku sakit, lebih sakit dari apapun. Aku rasa maagku kambuh.

Suara langkah kakinya kudengar memasuki ruangan dimana aku meringkuk kesakitan.

“Ini makananmu.” Kai melemparkan piring berisi roti segar. Tapi aku hanya bisa memandanginya tanpa bisa menyentuhnya.

“Ya! Apa kau tuli? Makan!” Dia menyenggol kakiku.

Erangan pelan keluar dari mulutku. Aku memegangi perutku yang sakit.

“Ada apa denganmu?” Kai menyibak rambut dari wajahku yang berkeringat. “Kau sakit?”

Aku mengangguk pelan. Air mata mengalir deras ke lantai. Kai melepaskan ikatanku dan mendudukkanku di kursi. “Jangan kemana-mana.” Lalu dia pergi keluar ruangan.

Dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja memanfaatkannya. Kulihat pintu depan terbuka lebar. Aku bisa saja lari, kabur dari sini. Tapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Lagipula, dia pasti bisa mengejarku.

Tidak lama kemudian Kai masuk membawa segelas air dan obat-obatan.

Dia tampak bingung memilih obat yang cocok untuk penyakitku. “Kau sakit perut? Apa ini obatnya..” Dia mengambil sebungkus pil. “aku hanya punya ini.”

Entah obat apa itu. Dia memasukkan ke dalam mulutku. Air membantunya semakin masuk ke dalam tenggorokanku.

Aku terbatuk dan merasakan hangat di dalam perutku.

“Mungkin morfin bisa meredakan sakitnya.”

Aku terbatuk. Apa??? Morfin?? Bukankah itu semacam narkoba jika dikonsumsi tanpa resep dokter?

Aku menghela napas panjang. Aku sudah tidak peduli apakah itu morfin atau semacam narkoba lainnya, yang sekarang aku rasakan hanyalah sakit itu memudar.

Dia memang bukan pelayan rumahku yang akan menemaniku sampai tertidur.

“Aku tidak akan mengikatmu lagi. Tapi jangan pernah mencoba untuk kabur dari sini. Atau kau akan menyesal.” Ujarnya sebelum tidur di sofa luar.

Kai tidak mengunci pintunya, malah membiarkannya terbuka sedikit, sehingga aku bisa melihatnya berbaring di sofa.

Hgh…bagaimana pun aku harus berterima kasih padanya karena telah menolongku. Tapi aku belum bisa memaafkannya.

Tidak, sebelum aku keluar dari tempat ini.

***

Aku tidak kabur. Kepalaku masih sangat pusing, aku tahu ini pasti demam.

Pintu itu terkunci lagi. Aku menghela napas berat. Dengan terpincang-pincang, aku kembali duduk di sudut ruangan.

Apa yang kulakukan? Seharusnya aku kabur kemarin, jika kupaksakan pasti bisa.

Apa namja itu sudah meminta tebusan pada orangtuaku? Apakah…orangtuaku akan menyelamatkanku?

Begitu banyak pertanyaan di kepalaku hingga namja itu datang lagi ke rumah.

Apa yang dia lakukan? Dia mengikat tanganku dan membawaku keluar rumah tanpa berbicara sepatah katapun.

Matahari menyambutku. Mataku sedikit sakit menerima cahaya. Namun ini terasa hangat, nyaman di kulitku.

“Kau harus terkena matahari. Kulihat kulitmu semakin pucat.” Ujarnya acuh sambil terus memegangi lenganku agar tidak kabur.

“Terima kasih.”

Kata-kata itu tiba-tiba meluncu dari mulutku. Kai mungkin kaget, namun dia malah menarikku ke dalam lagi.

“Simpan kata terima kasihmu itu. Aku akan membuatmu menderita.” Dia mendorongku masuk ke dalam kamar lagi dan mengunci pintu.

Ya, apa yang kukatakan itu memang pantas. Walau aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok-besok.

***

Dua hari lagi aku akan berumur 19 tahun, tapi lihat, dimana aku sekarang.

Seharusnya aku berada di rumah dan merayakan ulang tahun bersama…

Pak Lee dan beberapa pelayan.

Bukan bersama keluargaku..

Aku memakan semua yang Kai sodorkan padaku. Entah basi atau segar. Aku tetap memakannya.

Pagi itu aku tidak diikat. Aku hanya duduk di dekat jendela bertralis besi, memandang keluar, tampak panas dan kering.

Kai pulang. Terdengar dari pintu yang terbuka keras.

Semuanya tampak biasa-biasa saja hingga terdengar samar-samar suara erangan Kai.

Sejenak aku ragu, namun sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya.

Aku mengintip dari celah pintu dan astaga…

Aku spontan menutup mulutku karena yang kulihat adalah Kai terbaring disana dengan wajah penuh luka.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Aku harus melakukan sesuatu, tapi bagaimana??

Sejenak aku ragu untuk mencobanya, tapi entah mengapa aku merasa aku bisa menolongnya.

Pintu ruangan ini tidak terkunci. Aku membukanya dengan perlahan.

Kesempatan ada di depan mataku. Disana pintu terbuka lebar, ada mobil diluar sana, Kai terbaring penuh luka. Ini sebuah kesempatan emas.

Aku melangkah kearah pintu. Tinggal satu langkah lagi untuk pergi keluar. Namun…

Kai mengerang dilantai, membuatku berhenti.

Ayo, Hyerin. Apalagi yang kau tunggu? Tinggalkan pria itu!!

Batinku berkecamuk. Aku mengenyahkan suara di kepalaku dan…

***

“Awww…” Keluhnya saat aku memberikan kapas beralkohol di.lukanya.

“Awww!!! Apa sih yang kau lakukan??”

Dia menjauhkan tanganku dari wajahnya.

“Aku sedang membersihkan lukanya agar tidak infeksi.”

“Aawww…” Dia tampak begitu kesakitan ketika aku menyentuh pelipisnya.

“Aku rasa ada yang retak di pelipismu.” Kataku mengecek pelipisnya yang membiru. “Apa yang terjadi?”

Kai hanya diam sementara aku memberi obat di seluruh wajahnya.

“Bajingan-bajingan itu merampas uangku lagi. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan membayar hutangku secepatnya.” Jawabnya selang beberapa menit.

Aku bisa merasakan matanya yang tajam menatapku lekat-lekat, hingga mata kami pun akhirnya bertemu.

“Mengapa?” ujarnya. “Mengapa kau tidak kabur tadi? Kau bisa dengan mudah kabur dari sini sementara aku tergeletak disana.”

Ya, itulah yang aku tanyakan sejak tadi pada diriku. Aku terpaku sejenak, namun aku terus melanjutkan pekerjaanku.

“Aku…merasa berhutang?”

“Berhutang? Berhutang karena telah menculikmu?”

Aku menggeleng. “Kau bisa saja membiarkanku menderita lebih lama kemarin saatku sakit. Tapi kau menolongku. Maka…” kutatap kedua matanya penuh arti. “aku membalasnya hari ini.”

Kai masih bingung dengan perkataank, terlukiskan diwajahnya. Tapi aku tidak mau menjelaskannya lebih lanjut.

Aku kembali ke kamar dan memeluk lututku disudut ruangan. Aku menangis sepanjang malam itu.

Perasaanku kacau. Aku pun bingung, mengapa aku menolong orang yang jelas-jelas menculikku, membuatku menderita.

Aku tidak tahu mengapa…

Aku sungguh tidak tahu…

***

Aku tidak mengerti ada apa dengan kisahku bersama penculik ini. Banyak kesempatan untuk berlari darinya dan bisa selamat tapi apa yang kulakukan saat ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa aku…adalah sanderanya.

“Lukamu semakin membaik. Apa masih terasa sakit?” Tanyaku sambil mengecek wajahnya yang baru kuolesi obat.

“Entahlah, aku merasa lebih baik daripada kemarin.”

“Kau harus rutin mengobatinya atau ini akan bertambah parah.” Ujarku membereskan kapas dan salep di meja. “kau akan segera sembuh.”

Kai memandangku dengan alis bertaut. “apa kau dokter? Kau tahu semua tentang penyakit.”

Aku menggeleng, sedikit merasa geli. “aku…hanya tahu sedikit tentang itu.”

Aku mengambil tali dari kamar dan menyodorkan kedua tanganku pada Kai.

“Apa?”

“Kau tidak mengikat tanganku?” Tanyaku kembali.

“Eumm…hari ini kau tidak kuikat. Kembali ke kamarmu dan aku akan menguncinya nanti.”

Ini adalah hal yang tidak akan pernah kalian temukan di kasus penculikan lainnya. Aku sendiri tidak mengerti.

Kai mengunci pintu, tampaknya dia pergi keluar.

***

Hari ini adalah ulang tahunku. Tidak memakai baju terbaikku, berlari ke meja makan dan meniup lilin.

Ini hari yang sangat kelabu, sama seperti langit yang mendung di luar sana.

Sambil bersenandung kecil lagu ulang tahun, berpura-pura aku sedang berada di rumah. Namun air mata yang mengalir ini tidak bisa membohongi perasaan bahwa aku ingin sekali keluar dari sini.

***

Kai berjalan dengan jaket menutupi tubuhnya. Hujan tidak menghalanginya untuk datang ke pusat perbelanjaan.

Dia mengitari beberapa toko dan hampir tergoda untuk membeli sebotol soju.

Ada hal lain yang dia ingin beli. Sambil merogoh sakunya dia berhenti di sebuah toko donat.

“Eumm satu donat stroberi.”

***

Aku segera menghapus air mataku ketika mendengar suara langkah kaki di dapur.

Itu pasti Kai. Dia sudah pulang. Tapi…secepat ini? Bahkan matahari pun belum mengumpat.

Aku mengintip dari celah pintu. Kai menatap sebuah donat di piring dengan wajah serius. Dia menggesernya ke tengah, lalu ke kiri, lalu ke kanan. Dia mengambil satu kursi lagi hingga ada dua kursi sekarang.

Masih terpaku melihat donat itu. Lalu dengan cepat mengambil lilin untuk ditancapkan pada donat itu, namun dia malah menyembunyikannya di kantung celana. Tampak ragu-ragu pada awalnya.

Apa…ah, tidak, tidak mungkin dia tahu hari ini ulang tahunku.

Kai kembali memandang donat itu dan tiba-tiba berjalan ke arah kamar ini. Aku dengan terseok-seok segera kembali ke kursi, berpura-pura menatap keluar jendela.

“Apa…kau baik-baik saja?” Tanyanya dari ambang pintu.

Aku menoleh padanya dan mengangguk. “ya, aku baik-baik saja.”

“Eumm itu…apa…kau lapar?”

Aku mengangguk lagi.

“Ada donat di luar. Itu…untukmu.” Kini dia berbicara sedikit aneh. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin dan datar. Sekarang dia selalu seperti memberi sedikit perhatian padaku.

“untukku??” Gumamku perlahan saat berjalan keluar. Kai duduk di salah satu kursi, sedangkan aku duduk di depannya.

“ini donat…untukku?” Tanyaku memastikan.

“ya.” Jawabnya singkat.

Aku tersenyu menatapnya. “terima kasih. Tepat sekali hari ini adalah ulang tahunku.”

“ulang tahunmu? Kalau begitu…” Kai mengeluarkan lilin yang tadi dia simpan di kantung celananya. “ada lilin disini.”

Dia menancapkan di tengah-tengah lubang donat itu. “Dimana koreknya?” Gumamnya sambil mencari-cari di sekitar dapur. Dia malah membuat dapur itu semakin berantakan.

“Sudahlah, aku tidak perlu meniup lilin.” Ujarku menghentikannya. “Begini saja sudah lebih dari cukup…Kai.”

Aku seakan telah menyebutkan sesuatu yang tidak boleh dikatakan. Kai memandangku aneh, aku pun juga merasa aneh.

Apa yang kay lakukan, Hyerin?? Kau menyebut namanya…

“Maaf, aku tahu namamu saat temanmu memanggilmu.” Kataku tidak berani melihatnya.

Kai kembali duduk. “Tidak apa. Itu hanya sebuah nama. Aku tidak peduli.” Ujarnya kembali dingin.

Suasana kaku kembali melingkupi kami, untuk itu segera saja aku mengambil pisau roti di dekat sana dan membelah dua donat itu.

“Apa ini?” Tanyanya saat aku menyodorkan potongan donat padanya.

“Saat ulang tahun, tidak mungkin tidak memberikan potongan kue kepada orang lain. Ini untukmu.” Lalu tanpa menunggu lama aku menggigit donat stroberi itu.

Aku memang tidak terlalu menyukai rasa stroberi, namun ini beribu-ribu kali lipat lebihi enak dari rasa apapun.

“Terima kasih.” Ucapku dengan mulut penuh.

“Jadi begini kalau kau ulang tahun?” Ujarnya sambil memakan donat itu.

“Kau..tidak pernah merayakannya? Mungkin bersama keluargamu, atau teman-temanmu…”

“Tidak pernah.” Balasnya cepat. “aku bahkan tidak tahu berapa umurku sekarang. Aku menghapus ingatan tentang tanggal lahirku.”

Melupakan tanggal lahir? Tidak tahu berapa umurnya sekarang?

Ada rasa iba di dadaku. Aku bisa merasakan betapa malangnya hidup namja ini.

“Kau…tidak punya keluarga?”

“Berhenti bertanya tentang hidupku.” Ujarnya.

“Aku hanya ingin…”

“Jangan karena aku membelikanmu donat, berbuat sedikit kebaikan, kau boleh berbuat sesukamu!” Dia beranjak dari kursinya. “Kembali ke kamarmu sekaranf juga.”

Dengan terseok-seok aku kembali kesana, namun di ambang pintu aku berbalik untuk menatapnya.

“Kau tidak tahu apa itu arti sebuah keluarga karena itu kau menjadi seperti ini.” Kataku dengan suara bergetar.

“Diam!! Masuk ke kamarmu sekarang juga!!”

“Kau tidak tahu arti cinta…” Kalimatku terpotong karena sekarang dia mencengkeram tanganku hingga aku kesakitan.

“Diam, apa kau tidak dengar perkataanku?” Desisnya saat dia cukup dekat denganku.

Sebulir air mata mengalir di pipiku. “Aku kasihan padamu..” Ujarku penuh emosi.

“Simpan rasa ibamu untuk dirimu sendiri.”

Kai mendorongku masuk ke dalam dan mengunci pintu.

Apa kau tidak mengerti, Kai? Aku ingin menolongmu…

***

Hujan deras diluar. Tanganku kembali diikat dan kali ini lebih kencang sampai terasa kebas.

Aku bersenandung kecil melihat titik embun di jendela. Perutku lapar, kepalaku pusing. Kenapa sampai sekarang polisi belum mencariku? Apa ayah dan ibu tidak peduli apakah aku hilang atau tidak?

Aku terisolasi disini. Apakah Kai benar-benar meminta uang tebusan?

Hal itu terus berputar di kepalaku, membuatku menangis sepanjang hari.

Mungkinkah Kai mendengar isakanku?

Tiba-tiba dia membuka pintu dan menghampiriku. Dia membawa sepiring roti, serta membukakan ikatanku.

“Maafkan aku…” Ujarku pelan
saat dia membuka ikatan. Aku merasa bersalah, aku tahu pasti dia tidak suka disinggung tentang hal itu.

Pergelangan tanganku memerah. Aku sudah terbiasa dengan hal ini, namun yang membuatku kaget adalah tiba-tiba Kai mengelus tanganku dan berjongkok disana.

Kepalanya tertunduk sedih. “Maafkan aku.” Ujarnya masih mengelus tanganku. “Aku minta maaf jika harus kau yang menerima ini semua.”

“Kai…tidak…” Dengan memberanikan diri aku menyentuh rambutnya. Perlahan penuh perasaan.

Dia tidak marah. Tidak menepis tanganku atau membentakku seperti biasa.

Kai hanya diam merasakan belaianku. Saat itu aku merasa dia pasti masih seumuran denganku.

Namja ini adalah makhluk yang paling malang di dunia. Aku menyadari bahwa aku bukanlah satu-satunya manusia yang paling malang, ternyata kami mempunyai kesamaan.

Yang kini di depanku bukanlah namja yang menculikku, tapi lebih seperti kembaranku. Aku seakan sedang berkaca. Dia sangat mirip denganku.

Kemarin aku berkata dia tidak mengerti apa itu arti cinta, namun itu seperti berbalik padaku. Aku juga tidak pernah tahu apa arti cinta, apa arti.keluarga.

***

Malam itu terasa aneh. Pintu kamarku terbuka lebar, aku tidak diikat. Kuletakkan kepalaku dimeja dengan beralaskan tangan. Kai di luar, berbaring miring di sofa.

Mata kami saling bertemu. Sepanjang malam hanya berpandangan satu sama lain. Aku bahkan tidak tahu mengapa kamu melakukannya. Aku juga tidak merasa mengantuk, namun dadaku terasa sesak. Seperti ada sebuah luka yang kembali menganga, namun..aku menyukainya.

Ya, aku menyukai ketika matanya mengerjap pelan, matanya tak lepas dariku walaupun tubuhnya bergerak tak nyaman.

Aku tidak mengerti yang terjadi…

Apakah…aku…

Jatuh cinta padanya?

***

Aku menarik tanganku pelan ketika dia mengobati luka disekitar pergelangan tanganku.

“Apa terasa sakit sekali?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Hanya sedikit sakit.”

Kai kembali memberi obat disana. “Maafkan aku, membuatmu seperti ini.”

“Aku…baik-baik saja.” Jawabku pelan. Kai menatapku dengan tatapan sedih.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku benar-benar mengerti hal ini.” Ujarku melunturkan semua kesedihan di wajahnya.

“Aku harus pergi sebentar hari ini.” Lanjutnya setelah beberapa saat. Aku tersenyum penug arti padanya. Mengisyaratkan bahwa aku mengerti.

Saat Kai hendak pergi, dia tampak ragu apakah akan mengunci.pintu depan atau tidak.

Aku pun memberikan kunci itu ke tangannya,bermaksud untuk menyuruhnya mengunci pintu itu.

Lalu Kai pergi, meninggalkan aku terkunci di rumah itu. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus ku kerjakan, namun melihat dapur yang berantakan, aku langsung membereskan.

Aku tertawa di dalam hati. Apa yang sedang kulakukan? Membereskan rumah seakan ini adalah rumahku. Aku juga membuat roti lapis dengan bahan seadanya. Aku merasa seperti istri yang sedang menunggu suaminya pulang bekerja.

***

Aku sedang mencuci piring saat Kai pulang.

Tidak. Dia bukan suami yang pulang dengan kemeja serta dasi dan tas kerjanya. Meminta kopi dan duduk di sofa sambil menyalakan tv.

Dia hanya seorang namja muda yang memakai kaus lusuh, celana jins yang robek, dan memelukku dari belakang.

“Apa yang kau lakukan?” Bisiknya di bahuku.

“Mencuci piring. Ada roti lapis di meja. Kau pasti lapar.”

“Kau disini bukan untuk melayaniku. Kau adalah sanderaku.” Ujarnya.

Aku berbalik menghadapnya. “untuk sementara, bisakah kita melupakan hal itu? Aku bahkan tidak pernah mencuci piring di rumah, membereskan sesuatu pun tidak pernah.”

Kai menghela napas.

Aku juga merasa bingung. Aku ini adalah sandera, tapi aku malah melakukan semua ini. Ada apa denganku?

Kai mengelus tanganku. “Tanganmu bisa kasar.”

“Memangnya kenapa? Aku tidak peduli.” Balasku.

“Kau pasti membenciku.”

Aku mengangguk. “Aku sangat membencimu, Kai.”

“Kalau begitu…” Kai mengepalkan tanganku dan memukulkannya pada kepalanya sendiri. “pukul aku sesukamu. Pukul aku sampai puas.”

Dia melakukannya beberapa kali, lalu aku menarik tanganku. Aku mengambil ancang-ancang untuk.menamparnya. Kai menutup mata dengan tenang, siap untuk.menerimanya.

Namun…

Aku malah berjinjit dan mencium keningnya.

Kai membuka matanya karena kaget.

“Aku tidak akan memukulmu sampai puas. Tapi…aku akan mencintaimu sampai puas.” Bisikku pelan dengan dahi saling menempel.

Kai melengkungkan senyumannya. Aku tahu dia mempunyai perasaan yang sama.

Mencintainya?

Apakah boleh aku mencintai orang yang telah menculikku?

Tapi aku sungguh tidak bisa menahan perasaan ini…

***

Berapa pun yang kau minta akan kuberikan, asalkan Hyerin kembali pada kami.”

“Kau yakin akan.memberikan berapa pun yang kuminta?”

tentu saja. Berapa pun.”

“tanpa polisi.”

tanpa polisi.”

***

Sore itu matahari bersinar indah. Semburat merah dan ungu mewarnai langit. Aku duduk disana sambil memperhatikan burung-burung beterbangan diluar.

Kai pulang lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Kulihat wajahnya sedikit lesu dan dengan langkah gontai dia mendekatiku.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya sambil tersenyum lemah.

“Kai, lihat warna langitnya. Indah bukan? Aku memperhatikannya sejak tadi.”

Kai hanya diam memandang keluar. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. “Ada apa, Kai?”

Dia tersenyum lemah tanpa melihatku. “Apa…tidak sebaiknya kau pergi dari sini?”

Aku terdiam, mencoba mencerna apa yang tadi dikatakan.

“Apa? Pergi dari sini?” Aku berbicara terbata-bata. “Kai, aku tidak mengerti apa yang…”

“Aku sudah meminta tebusan pada ayahmu. Kau bisa membatalkannya jika pergi dan kembali ke rumahmu lagi.” Potongnya.

“Jadi kau sudah melakukannya? Kau…”

“Aku brengsek, bukan? Maka itu…” Kai membuka pintu. “Keluar dari sini, pergi dari rumah ini. Aku membebaskanmu dan aku tidak akan meminta tebusan dari ayahmu, jika kau pergi dari sini sekarang juga.”

Hatiku terasa sakit, ini bahkan lebih sakit dari seribu hinaan orang saat melihatku yang cacat.

“Beginikah caramu…Kai, aku tidak mengerti. Apakah…” Aku kehilangan kata-kataku. Mengapa hati ini terasa sangat sakit saat melihat pintu itu terbuka lebar? Bukankah ini yang kuiinginkan? Kebebasan?

“Pergi sekarang juga…” Ujar Kai.

“Kenapa kau baru melakukannya sekarang? Kenapa, Kai? Saat aku sangat membencimu, kau menahanku disini, saat perasaanku berubah…kau menyuruhku pergi? Apa kau tidak punya perasaan?” Pekikku dengan air mata beruraian.

Aku bisa melihatnya menutup mata dengan kedua tangan, mengacak rambutnya frustasi.

“Lalu apa yang kau inginkan, heh???!! Aku juga tidak ingin kau pergi, tapi mau bagaimana lagi!!”

“Kalau begitu jangan lepaskan aku, kai. Jangan biarkan aku pergi, kai.” Ujarku beruraian air mata. Aku memegang tangannya yang penuh bekas luka. Sungguh tidak ingin kehilangan sentuhan lembut dari tangan itu.

“Hyerin, kumohon…” Kai berlutut di depanku. Apa ini? Mengapa dunia sangat tidak adil. Mengapa memisahkan kami yang saling mencintai? Aku benci harus merasakan sakit yang luar biasa ini. Selamatkan aku dari penyakit ini…

“Kai, kumohon..aku tidak bisa hidup tanpamu. Kita tidak akan bisa bertemu lagi jika aku melangkah keluar dari pintu itu. Apa ini yang kau inginkan?” Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku menyuruh kai untuk mengunciku lagi di rumah ini. “Kai, jangan lakukan ini padaku..” Isakku semakin menjadi-jadi.

Kai memeluk pinggangku. Dia menangis, aku bisa merasakan air matanya membasahi perutku. Inikah perpisahan yang kukira akan berakhir bahagia, namun kini aku menangis pahit.

***

Itu terasa seperti mimpi, aku tertidur di pelukannya. Hangat dan nyaman. Sofa itu sudah tipis, namun cukup untuk menampung kami berdua.

Aku mendengar hembusan napasnya yang teratur. Aku juga merasakan hangatnya nafas Kai di kepalaku. Tangannya yang panjang merengkuh seluruh tubuhku, seakan aku adalah benda rapuh yang akan selalu dia jaga dengan hati-hati.

Aku mendengar isakkannya. Apa dia sudah tertidur dan terlelap dalam mimpi? Apa yang dia mimpikan? Apakah dia melihatku terpisah jauh olehnya?

“Kai…” Bisikku mengalahkan suara angin.

“Hmm…”

“Aku tidak mau pergi darimu.” Ujarku dengan nada sedih. Tidak, tidak ada lagi air mata, telah kering karena hal-hal lain sebelumnya.

Mengapa seperti ini…

Menangis karena mencintainya, menangis juga karena harus hidup tanpanya.

Bisakah? Kami…yang seperti ini?

“Hyerin…” Aku mendengar sesuatu di dalam suaranya.

Terasa ada luka yang menganga disini. Di dadaku. Aku berbalik menatapnya. Kai mempunyai mata besar yang indah, semua yang ada padanya sangatlah indah. Aku memujanya lebih dari apapun. Jangan biarkan aku terpisah jauh darinya, Tuhan.

“Hyerin, tatap aku baik-baik.” Aku menatap ke dalam manik matanya. “apakah kau mencintaiku?”

Aku tertawa dalam hati. Harus berapa kali aku katakan , Kai? Aku akan mencintaimu sampai puas.

Dan aku tidak akan pernah puas…

Aku hanya memberikan satu anggukan pasti. Lalu Kai berbicara lagi. Sangat perlahan sampai aku bisa mendengar helaan napasnya.

“Kau rela meninggalkan semuanya, demi bersamaku? termasuk ayahmu, ibumu, keluargamu, semua kehidupanmu yang kau jalani sebelum bertemu denganku. Apa..kau rela meninggalkan itu semua?”

Aku menaikkan sebelah alisku. Seberat itukah syarat mencintaimu? Aku harus melepaskan semuanya…

Tapi Kai adalah segalanya. Dia adalah segalanya yang kupunya. Tidak akan ada artinya hidup ku tanpa dirinya.

Aku mengangguk lagi.

“Apa kau yakin?” Pertanyaan itu semakin menjerumuskanku dan menggoyahkan pendirianku.

“Asal kau ada disampingku. Selamanya.” Jawabku pasti. Kini aku yakin inilah jalanku. Aku memang seharusnya seperti ini.

Kai tersenyum padaku. “Aku akan bersamamu selamanya.”

***

Itu bukan sekedar pertanyaan. Itu bukan sekedar basa-basi belaka. Kai benar-benar tidak ingin melepaskanku, karena…ya, aku juga tidak bisa lepas darinya.

Aku berpakaian rapi hari ini. Lay disampingku membawa beberapa tas dan bersiap masuk ke mobil.

Aku menatap Kai yang berjalan santai ke arahku. Sekejap aku tidak percaya, kisah cintaku akan berakhir bersama orang ini. Orang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dia bukan pangeran dengan kuda putih yang ada di dalam buku cerita. Dia bukan pangeran yang kaya raya juga tidak mempunyai kerajaan.

Lagipula aku juga bukan seorang putri yang sempurna. Itu merupakan sebuah kecocokan diantara kami.

Kai mencium keningku. Lama sekali dan memelukku erat-erat. “Kau tidak menyesal? Kau yakin?” Bisiknya ditelingaku.

“Jangan membuatku goyah, Kai.” Balasku.

Dia tersenyum ketika melepaskan pelukannya. “Aku akan segera menyusulmu ke Cina. Aku…harus membereskan beberapa hal.”

“Ayah…”

“Aku akan berbicara padanya.”

“Kai…” Aku memegang tangannya. “hati-hati. Kumohon, aku tidak ingin kehilanganmu.”

Kai lagi-lagi tersenyum. “Tidak akan ada apa-apa. Aku akan meyakinkan ayahmu. Semuanya akan baik-baik saja.”

Tidak. Semuanya tidak akan baik. Itulah yang dikatakan perasaanku. Apa yang hendak dikatakan Kai? Tuan, aku mencintai anakmu dan kami pergi ke cina?

Entah mengapa rasanya berat meninggalkan tempat ini. Meninggalkan Kai, walau aku tahu dia sudah berjanji akan segera menemuiku di cina. Tapi aku merasa itu akan sangat lama.

“Hyung, aku percayakan Hyerin padamu. Katakan pada bos besar, aku akan memberinyabuang sebagai ganti Hyerin. Kau…” Kai meletakkan tangannya di bahu Lay. “jaga dia baik-baik selama aku tidak ada. Aku akan segera pergi kesana.”

Lay mengangguk, memberikan tatapan yang membuat Kai tenang. Kai sekali lagi memelukku sebelum aku naik ke mobil bersama Lay.

“Tunggu aku disana.” Bisiknya.

Ya, aku akan selalu menunggumu, Kai.

***

“Kau tahu…apa hal yang paling berat dalam hidupku??”

“Melepasmu. Aku terlalu berat melepasmu…”

#To be continued

Hangukffindo

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

20 thoughts on “Severely

  1. Huaa,,,,ff-nya keren thor…
    sangat menyentuh hati,,,,,

    pairingnya Yoona ma Kai ya? menurutku cocok sih,, q jadi senyum-senyum sendiri bayangin mereka b’dua…hehehe

    tolong dilanjutin ya thor ff nie pliss…..

    1. hehe terima kasiihh ya udah baca😀
      hehe iya tuh pairingnya yoona sama kai, agak kejauhan sih ya, abis bingung🙂
      oke deh, tunggu kelanjutannya ya, lagi dalam proses🙂
      gomawo *bow 90 derajat*

  2. Keren..
    YoonKai nya dapet banget.. Padahal mereka awalnya saling nggak suka tapi akhirannya gitu..
    Ini masih dilanjut thor? Lanjutin dong ya.. Bagus soalnya..
    Fighting!’-‘)9

    1. Hallooowww terima kasih ya udah mampir kesini🙂 aku baru liat kamu soalnya disini jadi… WELCOME!! /ngalungin bunga/
      Makasih ya udah baca fic jadul ini, hahaha gatau terlintas ide apa pake masangin si yoona sama kai >.< lanjutannya ada kok, tapi..eumm aku gatau kapan ku selesain. Mungkin kalo ekso udah balik lagi kali hahahaha

      Tapi sekali lagi makasih ya udah baca dan sering2 mampir :))

      1. Aku emang baru mampir kesini thor._.
        Waa.. Berasa tamu penting nih😄
        Aku ketinggalan baca ini._.
        Oke, ditunggu kelanjutannya ya! Soalnya seru nih FFnya😄
        Nanti sekali kali aku mampir kok._.
        Oke sama sama author! XDXDXD

      2. hahaha semua yang mampir kesini itu penting #eaaa
        aduh masa sih ini seru, yaampunn ini fic lama yang lama kutinggalkan dan part 2-nya baru 1/4, tapi kemungkinan aku bakalan ngelanjutin lagi yah😀 makasih lho😀

  3. Eonn, setelah mengacak acak blogmu, akhirnya aku menemukan sesuatu yang bener2 bikin aku terpesonaaaaa~
    Walaupun aku emang gasuka Yoona, yah tapi pas pakenya nama Hyerin jadi bayangin kalo ini org lain aja hehe
    Pertama yg aku bayangin pas Hyerin ketemu Kai, aku gak nyangka kalo dia penculik *swear deh gak ada bayangan sama sekali
    Ini serius TBC kan eonn, aku tunggu loh kelanjutannya, demi apapun aku tunggu! Pokonya aku nunggu kelanjutannya🙂

  4. Eonn~ setelah mengacak acak blogmu, akhirnya aku menemukan sesuatu yang bener2 bikin aku terpesonaaaaaa~
    Walaupun aku emang gasuka Yoona, yah tapi pas pakenya nama Hyerin jadi bayangin kalo ini org lain aja hehe
    Pertama yg aku bayangin pas Hyerin ketemu Kai, aku gak nyangka kalo dia penculik *swear deh gak ada bayangan sama sekali
    Ini serius TBC kan eonn, aku tunggu loh kelanjutannya, demi apapun aku tunggu! Pokonya aku nunggu kelanjutannya🙂

  5. heuuh, ya ampun.. keren.. T______T /hiks/
    tapi ini fanfict dari bulan juli 2012 dan sekarang sudah 0ktober 2012..
    mana lanjutannya??? >///<

  6. penculik yg jatuh cinta ama sandranya? whoa!
    this is new for me.
    cant wait for chapter two \^^/

    eh, mau dilanjutin kan? ada chapter 2 nya kan?

  7. Kenapa castnya Yoona tapi pakai Park Hyerin kak? T.T
    Kalaupun banyak yang gak suka Yoona, tapi kan mereka setidaknya bisa menghargai kan?😦
    Kalau OC aja bisa, kenapa yang Yoona gak bisa? Padahal feelnya lebih ngena sama cast Yoona, karna setidaknya yang tidak suka Yoona, tetep bisa bayangin karakter dia karna aku yakin keseluruhan udah pada kenal Yoona kan? Aku rasa dia cocok dijadikan sebagai karakter apapun, kecuali antagonis😀 karna gak tega liat wajah dia yang cute cute gitu😀
    Kalau ini di next, aku harap gak perlu diganti sebagai Park Hyerin ya kak🙂

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s