Posted in Fanfiction, Fluff, Romance, SHINee

Love’s Way

Title               : Love’s Way

Main Cast   : Onew SHINee, Luna F(x)

Other             : Lee Minjung, Jinwoon 2AM

Rating        : PG-15

Genre         : Drama romantic

Love’s way…Love’s way!!

You’re my true love~~!!


***

“Kau adalah cintaku…kau adalah jiwaku…oh sayang, janganlah kau pergi!!” Onew berdiri di atas bangku taman sekolah. Semua orang memperhatikannya berdiri disana, dengan kertas puisi, dibawah teriknya sinar matahari.

“Kau harus kembali padaku…karena aku mencintaimu—” suaranya terpotong karena sebuah sepatu mengenai kepalanya dengan keras.

“Hei!!” Onew melihat sekeliling, mencari siapa pelakunya.

Lalu tiba-tiba seorang gadis gendut menyeruak keluar dari sekumpulan orang.

”Kau sangat berisik!!” teriak gadis itu.

”Apa pedulimu wahai gadis bertubuh subur?” ujar Onew dengan aksen puitisnya. Gadis itu semakin panas dan emosi. Dia berjalan mendekati Onew serta mencengkram kerah baju Onew.

”Puisimu jelek! Suaramu jelek! Dan apa? Kau menyebutku gadis bertubuh subur??! Apa kau tidak punya sopan santun, heh??!!”

Onew terbatuk-batuk. ”Wanita pada jaman dahulu bertubuh subur dan mereka tergolong wanita yang cantik.” jelasnya.

”Cantik???!!!”

Buuuggghhh…

Gadis itu memukul wajah Onew hingga Onew jatuh tersungkur di tanah. Lalu gadis itu pergi sambil merapikan rambutnya.

Onew memegang mata kirinya yang lebam. Dia meringis kesakitan namun sakit itu seolah sirna dengan sekejap ketika melihat teman gadis gendut itu.

”Lee Min Jung.” bisik Onew.

Dia mengagumi Min Jung, gadis terpopuler di sekolah. Min Jung adalah idaman para pria. Pintar, cantik, berperilaku baik, dan lemah lembut. Dua tahun mengaguminya diam-diam membuat Onew tidak sabar untuk menyatakan perasaannya pada Min Jung.

Gadis gendut itu merangkul Min Jung pergi. Sebelum berjalan, Min Jung menoleh ke arah Onew dengan wajah yang cemas. Onew tersenyum dan melambai ke arahnya. Belum sempat membalasnya, Min Jung telah di tarik oleh temannya.

Onew menatap kepergiannya dan mencoba berdiri. Matanya terasa ingin meledak.

”Onew, apa kau tidak apa-apa?” Jinwoon menghampirinya.

”Pukulannya lebih kencang daripada Mike Tyson.” jawab Onew.

Jinwoon tertawa. ”Awas, jangan sampai dia mendengar lagi.”

Onew memunguti kertas puisinya dan pergi bersama Jinwoon.

***

Bel berbunyi sangat nyaring. Onew berjalan menuju kelas. Lalu seseorang memanggil namanya.

”Onew.”

Onew menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya dan dia merasa sedang melihat seorang dewi turun dari langit.

”Oh, Min Jung. Ada apa?” tanyanya dengan hati yang berdebar-debar.

Min Jung menunjukkan wajah cemas. ”Apa kau tidak apa-apa? Apa matamu baik-baik saja?”

Onew tertawa. ”Aku baik-baik saja. Aku seperti superman.”

Min Jung tertawa kecil. Dia mendorong Onew sambil bercanda.

“Aku pikir pukulan Bong sangat keras.” ujar Min Jung.

”Ah itu hanya pukulan kecil saja.”

Lalu…

”Min Jung kau sedang berbicara dengan siapa?” Bong bertanya dengan suara keras dari ujung lorong. Onew yang mendengarnya langsung berlari meninggalkan Min Jung karena takut.

***

Onew menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum lebar. Dia tertawa sendiri dan menyesal karena hal itu membuat matanya yang bengkak menjadi sakit.

Wajah Min Jung terbayang dikepalanya. Wajahnya yang cantik dan cara bicaranya yang lembut membuat hati Onew terasa ingin meledak. Rambutnya yang indah, serta senyumannya…

Onew berguling-guling di tempat tidurnya. Kemudian dia berlari ke meja belajar. Dia mengambil kertas puisinya yang tadi siang dan pensil. Suara pensil yang menggesek kertas terdengar. Dia mulai memperbaiki puisinya tentang Min Jung.

Setelah beberapa jam menghapus, merobek, menulis puisi itu, akhirnya Onew selesai. Kertas itu diangkatnya tinggi-tinggi dan dia membacanya ulang.

          Onew tersenyum senang. ”Min Jung, tunggu aku besok.”

***

Onew berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Dengan sepedanya yang berwarna kuning, dia memotong jalan memasuki sebuah jalan kecil dengan banyak pertokoan di samping kanan-kiri jalan. Jalan itu adalah tempat favoritnya. Pagi-pagi sekali toko-toko disana sudah buka. Toko-toko itu kecil namun menarik perhatiannya.

Jalan itu hanya sepotong. Sekitar lima menit bersepeda, Onew sudah sampai di sekolahnya.

Onew duduk di bangku taman sambil membaca puisinya berulang-ulang.

”Aku akan membacakan ini di depan Min Jung dan menyatakan perasaan padanya.” Onew tersenyum senang.

Siswa mulai berdatangan ke sekolah. Onew bolak-balik melihat ke sekelilingnya, namun tidak melihat tanda-tanda dari Min Jung. Puisi cinta itu kembali dibacanya sambil membayangkan wajah Min Jung.

”Onew!!” Jinwoon berlari menghampirinya, menghempaskan tubuh di sebelah Onew. Napasnya terengah-engah, namun wajahnya tidak memperlihatkan kelelahan sedikit pun, malah berseri-seri.

”Ada apa?” tanya Onew penasaran.

”Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Ini…” Jinwoon tertawa sambil mengambil napas panjang. ”Ah, aku terlalu senang.”

”Aku juga ingin memberitahumu sesuatu.” ujar Onew.

Jinwoon duduk tegap dan memandang Onew penasaran. ”Apa yang ingin kau ceritakan, teman?”

Namun Onew menggeleng. ”Kau saja dulu. Sepertinya kau tidak sabar untuk memberitahuku.”

Jinwoon menatap Onew dengan matanya yang berbinar-binar. Jinwoon tertawa dan mengatur napasnya. ”Aku tahu ini adalah hari yang terbaik di dalam hidupku. Kau tahu, Lee Min Jung…”

Onew mengangguk. Lalu Jinwoon melanjutkan lagi. ”Ya, dia, gadis paling cantik di sekolah ini…”

”Paling cantik.” ujar Onew sambil mengangguk senang.

”Dia…” Jinwoon tersenyum lebar. ”Dia menerimaku sebagai pacarnya.”

Bagai petir yang menyambarnya, senyuman Onew luntur perlahan-lahan. Ada kata yang kurang jelas didengarnya.

”Apa maksudmu?”

”Ya…Lee Min Jung menerima bunga dariku dan mengatakan dia mau berpacaran denganku.” Jinwoon tertawa sangat kencang dan berteriak setelahnya karena senang.

Onew merasa seseorang mencabut nyawanya dan membawanya pergi ke tempat antah berantah yang sangat jauh, hingga dia seakan mati saat itu juga.

Bel masuk berbunyi, Jinwoon mengajaknya masuk ke dalam kelas, namun Onew masih terdiam dan mengatakan dia akan menyusul.

          Dunia seakan runtuh bagi Onew. Dia tidak akan berani keluar kelas dan melihat kenyataan bahwa Jinwoon, sahabatnya, berpacaran dengan Min Jung, gadis impiannya.

Onew duduk termenung di kursinya. Dia mengamati puisinya yang baru dia tulis semalam. Onew hanya bisa menghela napas.

***

Hari sabtu. Hari yang paling disukai Onew. Biasanya dia akan menghabiskan waktu bermain game dan membuat puisi di kamarnya, namun hari ini berbeda. Onew mengambil sepedanya dan mengayuhnya mengelilingi jalan di sekitar rumahnya. Tanpa disadari, dia telah sampai di depan sekolahnya. Entah mengapa dia malah pergi ke sekolah.

***

Onew menaruh sepedanya dan pergi ke hutan belakang, sambil membaca puisinya keras-keras. Sungguh berharap Min Jung mendengarnya, walaupun itu hal yang mustahil.

Dia terus berjalan semakin jauh masuk kedalam hutan di belakang sekolah yang sangat lebat dengan pohon-pohon tinggi dan rindang.

Onew terus berjalan dan berjalan tanpa menyadari dirinya belum pernah memasuki hutan ini terlalu dalam. Onew berhenti dan mengagumi pemandangan di depan matanya. Disana terbentang sebuah lembah dan air terjun yang menakjubkan.

Onew berjalan sampai ke bibir lembah. Dia menarik napas panjang dan berteriak, melepaskan semua perasaan dan emosinya. Dia berteriak sekencang-kencangnya dan berhenti ketika melihat ada seseorang yang berdiri di paling ujung bibir lembah.

Onew menghampirinya. ”Hei!!” panggilnya dari belakang. ”Kau terlalu dekat dengan bibir lembah. Itu berbahaya. Kau bisa jatuh.”

Namun gadis itu tidak menghiraukannya. Kakinya malah melangkah mendekati tepi lembah.

”Hei!! Apa kau tidak…” kalimatnya terhenti ketika gadis itu mencondongkan tubuh kedepan, hendak menjatuhkan dirinya ke lembah.      Onew langsung berlari, memegang tangan gadis itu dan menariknya ke belakang sehingga tubuh gadis itu menimpa Onew.

”Apa kau gila??!!” pekik Luna. Dia beranjak. Tubuhnya kecil namun suaranya sangat keras memekakan telinga.

”Kau yang gila!! Kau mau bunuh diri?” teriak Onew.

Luna berjalan melangkahi Onew dan tersandung. Onew langsung menghampirinya.

”Kau tidak apa-apa?”
”Jangan sentuh aku!! Aku mau mati saja!!” lalu Luna mulai menangis sambil berjongkok didepan Onew. ”Aku mau mati saja…aku sudah bersumpah akan bunuh diri. Tolong jangan halangi aku.” isaknya.

Onew tidak mengerti permasalahannya. ”Kau tidak boleh seperti itu. Kau tidak boleh menyia-nyiakan masa mudamu. Hah, remaja jaman sekarang memang aneh.”

”Kau yang aneh!! Kau tidak mengerti dan kau berlagak seperti bukan anak remaja!!” pekiknya.

”Aku tahu.” kata Onew sambil berkacak pinggang. ”Pasti masalah cinta. Sudahlah, itu cerita lama. Aku juga mengalaminya.” ujarnya perlahan. ”Sekarang aku mengalaminya.”

Luna mendongak menatap Onew yang setengah melamun. ”Jadi kau kesini ingin bunuh diri juga?” tanyanya polos.

Onew menjitak kepalanya. ”Aku memang sedang patah hati tapi aku masih mempunyai akal sehat. Aku tahu banyak orang yang mati demi cinta, tapi akan sangat menggelikan jika aku melakukannya.”

Luna mengusap kepalanya yang nyeri dengan wajah cemberut. Onew ikut berjongkok di sebelah gadis bertubuh mungil itu.

”Kau murid sekolah ini juga?” tanya Onew.

Luna mengangguk. ”Murid kelas sepuluh.”

Onew terkejut. ”Kau ini masih kecil tahu, sudah mau bunuh diri. Tunggu sampai tubuhmu tinggi baru kau akan menyadari keputusanmu itu salah.”

”Tubuhku memang kecil, tapi aku dapat berpikir secara dewasa!!”

”Tapi sikapmu tadi tidak menunjukkan bahwa kau sudah dewasa. Ah sudahlah, aku malas berbicara denganmu.”

Mereka terdiam. Luna menghela napas, Onew menarik napas dalam-dalam. Kertas puisi ditangannya berkerut-kerut. ”Hah, kau membuatnya rusak.” Onew berusaha meluruskannya.

”Itu apa?” tanya Luna.

”Puisi.” jawab Onew dengan nada sedih.

Luna mengambil dan membacanya. ”Kau benar-benar sedang jatuh cinta.”

Onew tersenyum sedih. ”Dia cinta pertamaku. Tidak akan pernah kulupakan.”

”Cinta pertama bukan berarti cinta yang sebenarnya. Kau sungguh puitis, tapi tidak tahu apa arti cinta. Ckck…” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya.

Onew menjitak kepala Luna. ”Anak kecil sepertimu mana mengerti tentang cinta.”

Luna menyingkirkan tangan Onew dari kepalanya dan beranjak dari tempatnya. ”Jangan menjitak kepalaku terus! Dan jangan menyebutku anak kecil. Aku punya nama tahu! Luna.”

”Baiklah, Luna. Aku juga punya nama. Namaku Onew. Hei, mau kemana kau?” Onew mengikuti Luna.

Onew berdiri membersihkan celananya dari daun-daun yang menempel, kemudian dia menarik tangan Luna.

”Ayo.”

”Mau kemana?” tanya Luna kebingungan.

Onew menatapnya. ”Daripada bersedih seperti ini, lebih baik kita jalan-jalan saja.”

”Jalan-jalan?”

Onew tersenyum. ”Iya, jalan-jalan. Kau tidak pernah jalan-jalan?” Lalu Luna berdiri. Tingginya hanya sebahu Onew. Dia menatap Onew dengan kedua matanya.

”Aku tidak biasa jalan-jalan dengan orang asing dan aneh sepertimu. Tapi karena kau memaksa, aku akan ikut.” Luna melenggakan tubuhnya sambil berjalan.

”Aisshh…anak ini. Onew, kau salah besar menolongnya tadi.”

Udara hari itu tidak panas. Sedikit mendung dengan awan-awan yang berwarna biru pudar.

Onew berjalan menaiki bukit di depan sekolah. Wajahnya penuh keringat, sedangkan Luna dengan asyiknya mengayuh sepeda Onew melewati jalan setapak di bawah.

”Kau harus mencobanya. Ini sangat menyenangkan!” teriak Luna. Onew hanya melihatnya dari atas bukit.

”Aku seharusnya membiarkan anak kecil itu meloncat ke dalam lembah dan aku akan pulang ke rumah dengan tenang.” gerutu Onew.

Luna menjadi sebal karena Onew tidak memberikan respon apa-apa. ”Dasar kakak kelas aneh! Pantas saja aku tidak mengenalnya. Harusnya tadi aku pulang ke rumah saja tanpa harus mengikutinya. Aisshh…”

Akhirnya mereka sampai di depan jalan kecil yang penuh pertokoan. Tempat kesukaan Onew.

”Tada…ini dia. Kau pasti akan merasa senang disini.” ujar Onew.

Luna celingukan kesana kemari. ”Apa yang spesial dari tempat ini? Ini hanya sebuah jalan.”

”Kau tidak mengerti. Ayo, jalan. Kau akan mengerti setelah sampai ujung jalan ini.”

Mereka mulai menyusuri jalan itu. Pertama yang mereka singgahi adalah toko baju.

”Kau tahu, baju-baju disini sangatlah bagus. Kau harus melihatnya.” Onew mengajak Luna mengelilingi toko itu.

Onew mengambil salah satu baju terusan berwarna pink dari gantungan dan mengepaskannya pada Luna. ”Baju ini pas dengan kulitmu. Coba lihat ini…”

Luna menempelkan pada tubuhnya. ”Apa tidak terlihat gemuk?” Onew pun menggeleng.

”Tidak sama sekali. Min Jung memakainya waktu datang ke ulang tahun sekolah tahun lalu. Dia sangat cantik dengan pita di rambutnya.” jawab Onew.

”Min Jung? Siapa dia?”

Onew tersenyum sedih dan mengembalikan baju itu ke raknya. ”Dia gadis paling cantik yang pernah kutemui. Ah, sudahlah…ayo kita pergi.”

Luna pun bingung. ”Hah? Aku kira kau mau membelikanku baju ini. Hei tunggu!!”

***

Matahari semakin meninggi namun hari tidak terlalu panas. Mereka berdua berjalan sambil menuntun sepeda, namun terkadang Luna menaikinya karena lelah.

”Kita beli es krim disini.” ujar Onew.

”Tapi aku tidak membawa uang sedikit pun.” kata Luna sedih.

Onew mendesah. ”Baiklah, aku traktir kau.” Luna pun meloncat kesenangan.

Luna memilih rasa stroberi sedangkan Onew rasa kopi. Setelah itu mereka duduk di pinggir jalan sambil menikmati es krim mereka.

”Kau tidak pernah kesini sebelumnya?” tanya Onew.

Luna menggeleng. ”Aku tidak pernah tahu bahwa ada jalan ini. Mungkin karena letaknya di belakang bukit. Kau sering melewati tempat ini? Kau tahu, bagiku tempat ini seperti kota kecil.”

Onew tersenyum. ”Aku sangat menyukai tempat ini. Ya, aku sependapat denganmu. Tempat ini seperti kota kecil. Kau lihat disana…” Onew menunjuk seorang nenek yang sedang membawa kotak dari truk bersama cucunya. ”Kau lihat, mereka sangat…”

Tiba-tiba saja nenek itu menjatuhkan salah satu kotak berisi batu es yang langsung menghantam aspal. Sang cucu berteriak karena nenek itu juga jatuh.

Onew dan Luna langsung berlari menyeberangi jalan dan sampai ke tempat nenek itu.

”Nenek, anda tidak apa-apa?” tanya Luna cemas.

”Nenek kelelahan karena dari tadi mengangkat barang-barang ke restauran.” isak cucunya yang masih kecil.

”Kalian hanya berdua?” tanya Onew berusaha menenangkan anak itu. Anak itu mengangguk dan mengatakan bahwa seluruh pelayannya sedang cuti karena sakit.

Luna dan Onew akhirnya membantu sang nenek di restauran mie miliknya. Beberapa pelanggan datang dan mereka melayaninya.

”Aku tidak pernah memegang baki sebelumnya.” ujar Onew yang kesulitan memegang baki.

”Kau ini. Sini…” Luna meletakkan baki di atas tangan Onew dan menuntunnya pelan-pelan. Onew pun tertawa ketika sampai di dapur.

”Apa yang kau tertawakan?” Luna merasa kesal dengan tawanya.

Onew menghapus air mata. ”Kau seperti monyet, bergelantungan di tanganku tadi.” lalu dia tertawa lebih keras lagi.

Luna memukulnya dengan lap karena kesal. Onew masih tertawa dan Luna keluar dari dapur untuk melayani pelanggan.

Tidak lama kemudian Luna kemblai ke dapur dengan wajah yang sedikit tegang.

”Ada apa?”

Luna terdiam sejenak menutup matanya.

”Hei, ada apa?” tanya Onew mengguncang tubuhnya. Lalu Luna membuat mie dan keluar tanpa mengatakan apa-apa. Sekilas Onew melihat matanya berkaca-kaca.

Onew sedang meracik bumbu di dapur ketika terdengar suara mangkuk pecah di luar. Suara orang berteriak-teriak juga terdengar dari dapur, membuat Onew pergi keluar.

Sesampainya di luar, Luna terduduk di lantai dengan mangkuk pecah beserta mie berserakan disekelilingnya. Di depannya ada seorang laki-laki seumurnya. Laki-laki itu membentak-bentak Boram.

”Dasar wanita murahan!! Bilang pada kakakmu, walaupun dia tidur dengan ayahku, dia tidak akan mendapatkan sepeser uang pun dari kami!!”

Onew mendatanginya. ”Apa yang kau lakukan? Kau membuat keributan disini. Apa kau kira ini rumah makan ini milikmu?”

”Apa kau bilang? Kau berani denganku? Lagipula apa urusanmu…ah, ya, aku mengerti. Kau pacar gadis murahan ini kan? Dia akan mengambil seluruh uangmu, kau akan melihatnya nanti.”

”Tutup mulutmu.” desis Onew.

”Kau yang tutup mulut…” Sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, Onew memukulnya, tepat di wajah.

Laki-laki itu tidak menyerah. Dia juga memukul Onew dengan keras. Luna berteriak, berusaha melerainya, namun keduanya saling bertengkar dan akhirnya laki-laki itu pergi dengan terhuyung.

***

”Awww…” Onew menjauhi wajahnya dari tangan Luna. Matanya yang belum sembuh sudah terkena pukul lagi, bibirnya berdarah.

”Belum pernah aku melihat orang sekurang ajar dia.” ujar Onew.

”Sudah biarkan saja.” kata Luna perlahan.

”Bagaimana aku bisa membiarkan orang seperti itu? Dia telah kurang ajar padamu, apa kau tidak bisa melihatnya…” Onew berhenti berbicara ketika Luna melemparkan kapas dengan kasar ke lantai.

”Aku sudah bilang biarkan saja, kau tidak mau mendengar dan terus berkelahi dengannya!!” pekik Luna. ”Aku memang pantas menerimanya dan buat apa kau mengurusi urusanku??!!” Luna menghapus sebutir air mata dan pergi meninggalkan Onew.

***

Luna duduk di tepi jalan sambil memeluk lututnya. Dia langsung menghapus air mata ketika Onew datang mendekatinya sambil membawa secangkir teh hangat.

Onew tersenyum. ”Aku tahu, perasaanmu pasti sedang kacau.”

Luna memalingkan wajahnya. ”Tinggalkan aku sendiri.”

”Aku akan meninggalkanmu jika kau sudah merasa lebih baik.” ujar Onew.

”Tahu apa kau tentangku!! Sana pergi!! Pergiii…” Luna mendorong Onew, namun dia tidak mempunyai kekuatan untuk mendorongnya lebih kuat.

Lalu Luna menangis. Onew mendesah dan memejamkan mata sesaat. Kepalanya terasa pusing, matanya sangat sakit, rasanya dia ingin sekali pulang ke rumah. Namun melihat Luna menangis, dia merasa tidak tega. Hatinya pun luluh.

”Apa sih yang kau mau?” tanya Onew mendesah.

Luna meliriknya tajam. ”Aku mau mati saja! Harusnya kau tidak usah menyelamatkanku.”

”Ah, aku ada satu tempat yang bisa membuatmu senang. Kau pasti akan menyesalinya jika kau meloncat ke lembah itu dan tidak melihat tempat ini. Ayo!!” Onew menarik tangan Luna.

Mereka berjalan menelusuri jalan kecil itu sampai matahari tenggelam. Luna masih saja cemberut namun sesekali dia menunjukkan senyumannya, dan itu membuat hati Onew tenang. Mereka berjalan sampai matahari terbenam.

***

Mereka sampai di atas sebuah bukit ketika langit menjadi gelap dan jutaan bintang berkelap-kelip disana.

”Waahhh…Onew, kau harus melihat ini. Bintangnya banyak sekali.” Luna melompat kegirangan sambil menunjuk-nunjuk langit.

Onew hanya bisa tersenyum dan duduk di hamparan rumput sambil melihati Luna. ”Kau senang?” Boram mengangguk.

”Aku tidak pernah melihat bintang sebanyak ini. Dari rumahku di bawah sana…” Luna menunjuk perumahan di bawah bukit yang tampak kecil dengan setitik lampu. ”Aku hanya bisa melihat sedikit bintang dan bulan terlihat sangat kecil, namun sekarang semuanya terlihat besar dan jelas. Indahnya.”

Onew termenung. Bukan karena langitnya tetapi karena bayangan wajah Min Jung terlintas dipikirannya.

”Sepertinya kau tahu semua tempat yang indah disini. Apa kau sering kesini?” tanya Luna.

”Aku sering kesini. Ini tempat favoritku. Aku biasa kesini jika sedang ada masalah, lalu ketika memandang langit…semuanya seperti tersapu bersih. Aku pun tenang saat pulang dari sini.” jelas Onew.

”Oh, jadi kau membawaku kesini untuk membersihkan seluruh pikiranku?” Luna mengangguk. ”Kau berhasil. Lihat-lihat!! Ada satu bintang yang sangat bersinar. Dia seperti berkedip padaku sesaat.”

Onew tertawa, lalu memanggil Luna untuk mendekat. ”Kau dapat menyampaikan pesan lewat bintang-bintang kepada orang yang kau sayangi kalau kau mau.”

”Benarkah? Semuanya?” pekik Luna.

”Semuanya.”

”Bagaimana caranya? Bagaimana? Bagaimana? Beritahu aku.” Luna memohon.

”Tapi ada satu syarat. Ceritakan padaku, mengapa kau mau bunuh diri dan siapa laki-laki itu.” Perkataan Onew membuat Luna tertunduk lesu. Dia menghela napas dan mulai berbicara.

”Hah…haruskah? Baiklah. Begini…aku lahir di sebuah keluarga yang tidak lengkap. Ibuku seorang pemabuk dan ayahku pergi saat aku lahir. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibuku bekerja di sebuah klub melayani…” Luna berhenti sesaat. Matanya berkaca-kaca.

Onew mengelus pipinya dan berkata, ”Tenang saja. Akan lebih baik jika kau menceritakan semuanya pada orang lain.”

Lalu Luna melanjutkan lagi. ”Dia melayani para lelaki hidung belang. Kakakku berhenti kuliah dan mengikuti jejak ibuku. Dia tidur dengan ayah Hyunseung, lelaki tadi siang. Dia adalah pacarku.” Luna tersenyum sedih. ”Dia cinta pertamaku, tetapi semua itu telah sirna ketika dia mengetahui siapa aku sebenarnya.”

Onew mengangguk mengerti. ”Baiklah…kau sudah menceritakan semuanya. Akan kuajari bagaimana caranya.” Mereka berdua berdiri menatap langit.

Onew menuntun tangan Luna seperti meraup sesuatu di udara lalu Onew menyuruh Luna untuk menutup mata. Tangan mereka menutupi mata Luna dan Luna tertawa.

”Aku dapat melihatnya saat mataku tertutup.” cekikiknya.

”Pikirkan orang yang paling kau sayangi. Katakan padanya apa yang ingin kau sampaikan.” bisik Onew.

Luna mengangguk. ”Aku ingin menyampaikan pada ibu, ibu jangan pergi ke klub itu lagi. Disana mengerikan. Kepada kakakku… kembalilah ke bangku kuliah, temukan pacar disana dan menikahlah. Lalu kau akan punya anak, aku berjanji akan mengurusnya bersama ibu dirumah selagi kau berada di luar dan bekerja menjaga toko kue. Lalu untuk Hyunseung, temukanlah gadis yang baik. Kau pasti akan bahagia. Untuk Onew…” Dia berhenti sesaat. ”Terima kasih telah membawaku kesini Kau sungguh baik.”

”Untuk ayah, ibu, kakak, kalian tahu aku selalu menyayangi kalian. Maafkan aku untuk segala kesalahanku. Untuk sahabatku, Jinwoon, aku sangat berterimakasih padamu karena telah menjadi sahabat yang baik selama ini. Aku…sangat ingin kau bahagia.” Onew merasa seperti akan menangis. ” Untuk cinta pertamaku, Min Jung. Ah…harus kah aku berpuisi untukmu? Tidak, jangan, itu memalukan. Aku sangat ingin kau menjadi pacarku…”

Luna membuka matanya ketika Onew berbicara tentang Min Jung. Dia menatap Onew yang tersenyum dengan mata terpejam memandang langit. Luna merasakan sesuatu yang aneh saat bersama Onew sejak tadi siang dan perasaan itu semakin parah.

Setelah selesai, mereka duduk di hamparan rumput, memandang bintang. ”Aku harap, mereka mendengarnya.” ujar Onew. Namun Luna terdiam seribu bahasa, membuat Onew bingung.

”Apa kau baik-baik saja?” tanya Onew cemas.

Luna mengangguk sambil tersenyum. ”Aku baik-baik saja.”

Lalu mereka terdiam lagi.

”Kau tahu…” Luna tiba-tiba berkata. ”Tidak selamanya cinta pertama adalah cinta sejatimu. Mereka bisa berhenti di tengah jalan ketika kau merasa cinta itu akan berlangsung selamanya. Percayalah.”

Onew tertawa. ”Benarkah? Hah…aku juga pernah berharap seperti itu. Tapi kau benar, tempat ini memang membersihkan pikiranku. Sekarang aku yakin, aku bisa merasakan cinta pertamaku adalah cinta terakhirku yang akan berlangsung selamanya. Aku akan mengatakannya pada Min Jung besok. Aku ingin jujur padanya. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan Jinwoon, namun…biarlah Min Jung tahu yang sebenarnya. Perasaanku.”

”Sahabatmu berpacaran dengan gadis yang kau sukai?

”Ya, begitulah. Aku terlambat satu langkah. Aku selalu terlambat satu langkah dalam hidupku. Itu sebabnya, aku selalu gagal dan itu membuatku merasa…terkadang ingin lari dari kehidupan ini.” Onew membelai kepala Luna. ”Tenang saja. Aku bisa mengerti perasaanmu saat kau ingin bunuh diri. Tapi itu tidak akan terulang lagi kan? Berjanjilah padaku.”

Luna hanya bisa mengangguk dalam diam.

”Ah, sudah malam. Ayo, kita pulang.” Onew mengajak Luna.

***

Mereka sampai di depan rumah Luna yang kecil. Luna terlihat murung. Onew pun bertanya, ”Kau diam sepanjang perjalanan. Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Perjalanan cukup jauh tapi kau tidak mau menaiki sepedaku. Kau…”

”Aku baik-baik saja. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.” ujar Luna dengan nada datar dan tanpa basa-basi dia langsung berjalan menuju pintu rumahnya.

Onew tidak dapat mengerti apa yang terjadi padanya, namun ketika dia sudah menaiki sepedanya tiba-tiba Luna berlari dan memeluknya.

”Terima kasih. Terima kasih telah membawaku jalan-jalan hari ini.” Luna memeluknya erat-erat. Lalu dia melepaskan Onew dan berjalan kembali ke rumahnya.

Ketika berbalik, Luna tidak dapat menahan air matanya untuk jatuh. Dia menutup mulut rapat-rapat untuk meredam tangisnya, agar Onew tidak mendengar.

***

Pagi kembali menjemput. Onew terbangun pagi sekali. Dia telah mengenakan seragam dan duduk di depan rumahnya sambil melamun. Ini adalah hari yang sangat penting baginya, dia akan mengungkapkan perasaannya pada Min Jung, namun hatinya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal, ingin dia mengenyahkannya, namun rasa aneh itu tidak mau pergi.

Onew mencoba membayangkan wajah Min Jung selama perjalanan ke sekolah yang biasanya akan membuatnya tenang, namun dia tidak dapat tenang juga.

***

Saatnya istirahat…

Onew membaca ulang puisinya. Tangannya tidak gemetaran, kakinya tidak lemas seperti saat dia memikirkan Min Jung, namun hatinya seperti menolak rencana yang akan dia lakukan.

”Apa yang kau inginkan, heh?” tanya Onew pada dirinya sendiri. ”Kau harus melakukannya. Tenangkan dirimu.” Lalu dia melihat Min Jung dan Jinwoon datang bergandengan tangan dari arah kantin.

Onew mengambil napas dalam-dalam dan pergi menyapa mereka. ”Hai…” Onew mengeluarkan kertas puisi dari dalam sakunya. ”Ada yang ingin kukatakan padamu Min Jung. Ini sudah lama ingin kukatakan.” Semua orang mulai memperhatikan mereka.

”Sebelumnya, aku ingin minta maaf pada Jinwoon, aku tahu setelah ini kau pasti akan sangat marah padaku, tapi aku ingin jujur pada perasaanku.”

Min Jung menatapnya keheranan. ”Onew, apa yang kau lakukan? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

”Aku sangat menghargai persahabatan kita Jinwoon, aku sungguh tidak mau merusaknya, tapi sebagai sahabat kau pasti mengerti.” Onew terus berbicara tanpa henti. ”Aku tahu, aku selalu terlambat satu langkah di belakangmu, tapi biarkan aku juga berdiri di tempat yang sama denganmu. Min Jung, kau adalah cinta pertamaku, aku menyukaimu dari awal kita bertemu di depan sekolah dan…”

Onew tiba-tiba berhenti. Wajah Luna lah yang tiba-tiba mengisi kepalanya. Senyumnya, wajahnya ketika makan es krim, saat menangis, saat tertawa melihat bintang, saat memeluknya.

”Dan…tidak selamanya cinta pertama adalah cinta sejatimu. Mereka bisa berhenti di tengah jalan ketika kau merasa cinta itu akan berlangsung selamanya. Kau benar, Luna…” tiba-tiba Onew meninggalkan kerumunan itu, meninggalkan Min Jung dan Jinwoon yang terheran-heran melihat tingkahnya.

Onew berlari dan berlari terus. Kakinya membawa ke gedung kelas sepuluh. ”Apa kau mengenal Luna?” tanyanya pada setiap orang yang ditemuinya.

”Aku teman sekelasnya. Dia tidak masuk hari ini.” ujar seorang gadis pada Onew.

”Apa kau tahu mengapa dia tidak masuk?” tanya Onew terengah-engah. Gadis itu menggeleng. Lalu Onew kembali berlari. Dia berlari mengambil sepedanya dan keluar dari sekolah tanpa menghiraukan penjaganya.

***

Onew berhenti di depan rumah Luna. Langsung saja Onew mengetuk pintunya. Seorang gadis mirip sekali dengan Luna, namun dia terlihat lelah dan terdapat kantung di bawah matanya.

“Apa ada Luna?” ujar Onew hampir tidak bernapas.

”Dia pergi tadi pagi-pagi sekali. Bukankah dia harusnya ke sekolah? Kenapa tidak mencarinya di…”

” Luna tidak ada di sekolah!!” Onew berteriak. Wanita itu kaget mendengarnya, lalu dia mengatakan tidak tahu dan menutup pintu.

***

Onew kembali mengayuh sepedanya. Dia pergi ke bukit tadi malam. Namun Luna tidak ada di sana. Onew hampir menyerah karena kelelahan, tetapi tubuhnya menariknya kembali mencari Boram.

Onew pergi ke jalan di belakang bukit, jalan kecil favoritnya. Dia mengayuhnya perlahan-lahan sambil melihat-lihat disekelilingnya.

***

Luna memasuki toko baju yang pertama kali dia datangi bersama Onew. Baju warna pink itu ada disana, Luna menyentuhnya dan membayangkan dapat memakainya di depan Onew.

Lalu dia membeli es krim, makan di restauran yang sama seperti kemarin. Dia mengulangi kegiatan yang dia lakukan bersama Onew.

Berdiri di depan restauran. Pikirannya hanya di penuhi Onew. Dia tidak dapat berpikir yang lain, Onew membuatnya merasa senang dan sedih disaat yang bersamaan.

”Hah…kau bodoh, Luna.” Luna memukul kepalanya sendiri. ”Kau jatuh cinta pada orang yang salah. Kenapa kau tidak pernah mendapatkan orang yang benar-benar…hah, sudahlah…”

Ada satu tempat yang belum Luna datangi, bukit itu. Luna hendak melangkah menyeberangi jalanan, dari arah kanan sebuah truk buah melaju sangat kencang. Luna melangkahkan kakinya, semua orang berteriak. Luna menoleh ke kanan dan melihat truk itu mendekatinya.

Luna menutup matanya…

Sebuah tangan memeluknya dari belakang dan menariknya mundur.

”Kemarin baru saja kau berjanji padaku untuk tidak melakukan hal ini lagi, kenapa kau melakukannya?” bisik orang yang menyelamatkannya.

Jantung Luna berdegup sangat kencang. Bukan karena dia hampir saja mati tertabrak truk namun karena suara yang dalam dan berat itu baru saja berbisik di telinganya.

”Apa kau mau membuat hidupku sengsara karena melihatmu mati?” tanya Onew masih memeluknya erat-erat.

Luna tertawa sambil menangis. ”Aku benar-benar tidak bermaksud untuk bunuh diri. Aku…” Onew membalikkan tubuh Luna menghadapnya, lalu menciumnya.

Luna merasa waktu berhenti dan dunia mengkerut menyisakan ruang hanya untuk mereka berdua.

”Kau benar, cinta pertama bukanlah segalanya.” ujar Onew.

”Lalu apakah aku ini cinta sejatimu?” tanya Luna kegirangan.

”Entahlah. Pertama, aku tidak berkencan dengan anak kecil, kedua, aku tidak akan menerima gadis yang punya niat bunuh diri, ketiga, aku suka gadis yang menyukai puisiku.”

Lalu Luna berpikir sejenak. ”Aku memang masih kecil, tapi sikapku dewasa bahkan lebih dewasa dari anak seumurku. Lalu aku tidak akan mempunyai niat untuk bunuh diri lagi. Dan syarat yang ketiga…aku belum pernah mendengar puisimu bagaimana aku bisa menyukainya.”

***

“Kau adalah cintaku…kau adalah jiwaku…oh sayang, janganlah kau pergi!!” Onew berdiri di atas sebuah batu dan Boram mendengarkannya sambil duduk di rerumputan.

Luna tertawa cekikikan. ”Kau sangat dramatis.” ujarnya, membuat Onew berhenti membaca puisi dan berjalan menjauh sambil cemberut.

Luna mengejarnya. ”Maksudku kau sangat puitis. Itu bagus. Kemarikan…” Luna mengambil kertas puisi itu dan membacanya.

Lalu Onew memeluk Boram sampai mereka jatuh diantara tumbuhan bunga matahari.

”Kau tahu…hari ini indah, itu karena aku bersama cinta sejatiku.”

# The End #

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

4 thoughts on “Love’s Way

  1. Whaoow.. Aku g bsa byangin tokoh2x.. Yg keliatan cma onew yg unyu2 ama jinwoon yg gmanaaa gtu.. Wkwkwk

    gag tau luna ama minjung tuh yg mana..

    tp ceritax bgus ka.. Gud ff nih.. >.<

      1. Owh.. Ha je kyong apa siapa itu ya ka? Orangx keliatan udah tua ik.. #diinjek minjung
        kalo yg luna bener2 gag tau deh, hahaha
        oke ka.. ^^

  2. beneran asli…
    aq bukan Onlun shipper…
    tapiii….
    ini beneran lucu…
    parah si Onew kocak bgt..
    aq ngebayangin onew baca puisi itu, entah kenapa efek romantisnya ga dapet.. ehh malah kocak..
    kkekekeekke…
    i duno why.. tpi Tampang onew itu emg bikin ketawa… wajahnya mampu bikin org hepi…

    dan Luna.. aigoo lun…
    kenapa aq ngerasa si Luna itu punya sft sangtae yg sama dgn onew -_-
    kalian mirip..
    kekeekekek…
    sama2 sangtae.. konyol.. lucu…
    dan moment luna meluk onew pas onew nganter pulang itu yg paling q suka…
    disna udah mulai terlihat Luna suka sama onew..
    danada sdikit benih rasa suka juga pada Onew kan??
    dia mulai kacau, dan gak kepikiran si Minjung lagi…
    yyeeeeaa… ^_^
    sukaa.. ff nya aku suka.. romantis kocak mah ini😉

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s