Posted in Angst, Fanfiction, Romance, Sad, SHINee

Don’t Sleep Away

 

Title            : Don’t Sleep Away

Main Cast   : Key SHINee, Nicole Kara

Other          : Nenek dan Wooyoung

Rating        : PG-15

Genre         : Drama romantic

Ya! Jangan tutup matamu…

Bangunlah…

Jangan tidur…


***

Aku melamun di meja perpustakaan milik nenekku sambil memperhatikan soal bahasa inggris. Tunggu! Seharusnya ini tidak sulit! Ini pelajaran anak SD, tapi mengapa aku tidak bisa mengerjakannya?! Ya! Ada apa denganku?

”Soal itu tidak akan terisi dengan hanya menatapnya saja, Kibum, cobalah mengerjakannya.” ujar nenek yang sedang membersihkan buku-buku.

Aku terbatuk-batuk menghirup debu yang beterbangan di udara. Astaga, bisakah dia tidak membersihkan buku-buku itu ketika aku sedang berusaha keras mengerjakan soal ini!!

Oke, dia nenekku! Baiklah…baiklah…

Aku meregangkan tubuh. Tidak, tidak ada ide, otakku mampet seperti ada yang menyumbatnya. Rasanya aku ingin menyedotnya dan mengeluarkan otakku dan membersihkannya dan…

”Aha!!!” teriakku tiba-tiba. Seolah ada yang melemparkan kertas contekan, aku tiba-tiba merasa dapat mengerjakan soal nomor 11. Aku mengambil pensilku dan menul…

”Kibum, bisakah kau memijat tangan nenekmu ini?”

BUKKK!!

Seperti ada yang memukul kepalaku dengan buku ensiklopedia super tebal, aku meletakkan pensilku dan menarik napas panjang. Ya, Tuhan! Ingat! Dia nenekmu, Kibum.

Aku beranjak dari kursiku dan memijat tangan nenek. Kulitnya terasa lembek di tanganku, semuanya kriput dan…lucu.

”Apa yang kau tertawakan, heh?” tanya nenek penasaran.

”Kulit nenek lucu dan lembut.” jawabku.

”Kau juga akan mempunyainya nanti saat kau tua. Cucumu akan menertawaimu juga.” ujar nenek memukul kepalaku pelan.

Aku tertawa. ”Itu masih lama, nek. Aku baru saja berumur 18 tahun. Aku akan merawat kulitku agar tidak keriput seperti nenek.”

Nenek ikut tertawa, memperlihatkan senyuman yang indah. ”Lihat saja nanti. Ah, sayang sekali aku tidak akan bisa melihatnya. Aku akan mati sebentar lagi, melihatmu berubah menjadi kakek tua adalah hal yang mustahil bagiku.”

Suasana pun berubah menjadi tidak enak. ”Kenapa…nenek berbicara seperti itu? Jangan bicarakan kematian. Itu mengerikan.”

”Apanya yang mengerikan? Itu hanya terasa seperti tidur yang panjang. Kau kan suka tidur, kau pasti akan menyukainya.”

Menyukai kematian? Apa nenek sudah mulai gila?

Aku menggelengkan kepala. ”Tidak. Lagipula, nenek tahu darimana kalau itu seperti tidur? Dan…nenek tidak akan mati. Nenek akan hidup seratus tahun lagi.”

Nenek memukul kepalaku lagi. ”Kau kira aku ini kura-kura, bisa hidup selama itu, heh?” Lalu nenek beranjak dari kursi.

”Hidup itu melelahkan, Kibum. Perlu tidur yang panjang untuk melepaskan semua kelelahan itu.”

Kematian seperti tidur?

Bagaimana pun…aku tidak menyukai ide itu.

***

Kakiku terus melangkah dibawah terik matahari yang panas. Aku tidak peduli. Dari kejauhan aku dapat melihat sebuah perpustakaan kecil di pinggir jalan. Kacanya yang bersih (itu aku yang membersihkan), halaman yang rapi (itu aku yang menyusun tanamannya), cat dinding yang mengilap (yah, itu bukan aku yang mengerjakannya). Itu adalah perpustakaan nenekku.

Aku memunguti daun-daun yang berguguran satu persatu di depan perpustakaan.

Satu daun…

Dua daun…

Tiga daun…

Tali sepatu…

Eh?

Aku berdiri tegap mengerjapkan mataku dan melihat seorang gadis dengan rambut pendek sebahu berantakan, jaket, celana jins, dan sepatu kets, terlelap disana. Dia kelihatan bukan pengemis.

”Ya! Kau…bangun.” ujarku sambil menggoyangkan kakinya, namun dia tidak bergeming.

”Bangun…” aku menendang kakinya perlahan. Dia belum bangun juga?

”Ya!! BANGUUUUNNNN!!!!”

Gadis itu membuka matanya perlahan dan memandangku dengan mata menyipit. ”Kau siapa?”

Aku naik darah. ”Kau mau tahu aku ini siapa? Aku ini pemilik perpustakaan dimana kau merebahkan tubuhmu itu di dindingnya!!! Apa kau tidak bisa membaca???” Aku meraih papan di pintu. ”Dilarang parkir, berjualan, makan dan minum di depan perpustakaan ini!!” pekikku dengan dada naik turun.

Gadis itu hanya memandangku hampa. ”Disana tidak dilarang untuk tidur.” ujarnya enteng.

Apa? Masa?

Aku memeriksa papan itu dan…benar! sial!

”Aku tidak peduli. Anggap saja kau parkir disini, memarkirkan tubuhmu disini. Itu menyebalkan! Pergi sekarang juga!” desisku.

Gadis kurus itu beranjak dari sana, menguap besar sekali dan…dia masuk ke dalam perpustakaan???? Apa yang dia lakukan??

”Selamat siang, selamat datang di perpustakaanku. Kau mau meminjam buku? Oh, jadilah anggota terlebih dahulu.” nenekku sangat ambisius soal ini. Maklum, perpustakaan tua seperti ini jarang dikunjungi orang-orang.

Gadis itu menggaruk kepalanya dan menguap lagi. Dia berpikir sejenak dan mengeluarkan dompetnya. ”Ini kartu identitasku, uang…apa ini cukup?”

Mata nenek berbinar ketika melakukan pencatatan. Aku baru saja ingin menghentikannya, namun sedih rasanya ketika melihat hanya ada nama gadis itu di kolom anggota.

Nicole, tulis nenek.

Aku benci nama itu, aku benci gadis itu berada di perpustakaan ini.

”Nek, apa yang kau lakukan? Dia hanya ingin tidur disini.” bisikku kencang pada nenek. ”Lihat itu! Liurnya dapat menetes di buku-buku nenek!” Aku menunjuk Nicole yang sekarang sedang tidur di atas buku.

Nenek tersenyum memandang Nicole. ”Ingat, Kibum, hidup itu melelahkan. Orang-orang perlu tidur.”

Aiissshh…nenek!!

***

Aku tidak mengerti! Aku sungguh-sungguh tidak mengerti dengan wanita berumur 79 tahun ini dan gadis berumur 18 ini! Ada apa dengan mereka? Dengan santainya gadis itu mengambil salah satu buku ensiklopedia yang langka dan tidur diatasnya, dan dengan lembutnya nenek memandang gadis itu, memperbolehkannya tidur dan…aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.

Aku duduk berselang satu kursi dari Nicole, membuka PR bahasa inggrisku dan mencoba mengerjakannya. Namun suara dengkuran ”gadis gua” ini sangat menggangguku. Aku mencoba menutup telinga, namun suaranya menembus sampai ke otakku.

Kujatuhkan kepalanku di atas meja, menciptakan suara debuman yang hebat. Nicole pun terbangun.

”Eh, ada apa? Ada apa?” tanya Nicole linglung.

”KEBAKARAN!!” teriakku menakut-nakutinya.

Nicole memandangku kosong dengan mata mengantuknya.

”Apa kau tidak mengerti? Kebakaran, kebakaran, api dimana-mana…” jelasku. Dia tetap memandangku seperti itu. Nicole hendak tidur lagi namun dia melihat PR-ku.

”Hei, apa itu bahasa inggris??” tanyanya.

Aku langsung menarik bukuku menjauh darinya. ”Mau apa kau?”

”Coba lihat, lihat, lihat…” Nicole berhasil meraih buku itu. ”Aku suka bahasa inggris. Hei…ini mudah. Boleh aku membantumu mengerjakan soal ini? Boleh ya, boleh, pleaseee…” mohonnya padaku dan aku hanya bisa mengangguk.

Oke, gadis ini super duper aneh. Dia suka tidur, mendengkur, pemaksa, sedikit naif, dan suka bahasa inggris. Aku terpaksa memandanginya saat dia mengerjakan PR-ku, tidak kuhentikan saat dia menuliskan tulisan tangannya yang jelek disana. Tapi, wow! Cepat sekali dia mengerjakan PR-ku.

”Selesai! Lain kali kalau ada tugas seperti ini, aku bersedia membantumu.” ujarnya.

”Apa kau tidak sekolah?” melihatnya tidak memakai seragam dan tidur setiap hari disini, aku jadi curiga.

”Homeschooling. Membosankan. Sudah ya, aku mau pulang. Daahh…” Nicole melambai padaku dan nenek.

Homeschool? Dia pasti anak orang kaya yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Kasihan…

***

Hufth…matahari membakar kulitku. Aku buru-buru masuk ke dalam perpustakaan, tapi aku malah semakin ’terbakar’.

Kulihat nenek membawakan segelas susu serta kue dan membangunkan Nicole untuk memakannya bersama-sama. Hei! Nenek kemanakan peraturan dalam perpustakaan??

”Ah, Kibum. Kemari, kemari…temani Nicole makan dan minum. Nenek mau menyusun buku dulu.”

Aku mendekati Nicole sementara nenek pergi. Dia melahap semua kue tanpa menawariku. Satu hal lagi tentang gadis ini: RAKUS!

”Apa kau sudah merasa seperti cucu nenekku?” tanyaku ketus.

”Nenekmu bermaksud mengadopsiku.” perkataan itu membuatku kaget. Benarkah nenek mau mengangkatnya sebagai cucu?? Aku tidak mau menjadi sepupunya.

Lalu Nicole tertawa. ”Aku bercanda. Hei, apa kau ada tugas bahasa inggris lagi?”

Aku memejamkan mata sedikit pusing. Dasar gadis aneh! ”Tidak ada. Pulang sana! Tidur di rumahmu sendiri.” suruhku.

”Kibum…” suara nenek memperingatkan dari belakang rak. Isshhh…menyebalkan.

”Ini…” aku mengeluarkan PR bahasa inggrisku, yaitu membuat cerpen. ”Tulis yang rapi. Ini tugas untuk bulan depan sih, tapi karena kau meminta, jadi aku memberikannya padamu.”

Nicole langsung menyambarnya dan mengerjakan dengan cepat. Aku tidak mengerti apa yang ditulisnya namun setiap kali aku mau melihat, dia menutupinya.

Hari semakin gelap…

”Kibum, ya, itu namamu kan? Boleh ya aku melanjutkannya di rumah, please???” Nicole mengerjapkan matanya. Aku membuang mukaku. ”Iya, iya…sana pulang. Sudah malam.”

”Kibum, antarkan dia pulang.” suruh nenek.

”Aku? mengantarkannya pulang? Oh, ayolah nek…” wajahku sangat memelas.

***

Aku memang tidak bisa menolak permintaan wanita berusia 79 tahun yang sudah mengurusku sejak kecil.

Kukayuh sepedaku yang sedikit berat karena ada Nicole di belakang. Dia bersandar pada punggungku. Oke, aku masih bisa menerima hal itu, namun ketika dia melingkarkan tangannya di tubuhku, aku buru-buru menyingkirkan tangan itu.

Dia kira, dia siapa? Pacarku? Hei, ini bukan film drama!

Aku berhenti didepan sebuah rumah besar dan mewah sesuai alamat yang tertulis di identitas Nicole. Dia tertidur di punggungku.

”Ya! Bangun. Sudah sampai.”

Nicole pun terbangun dan turun dari sepeda. Dia sedikit sempoyongan, aku membantunya sampai di depan pagar tinggi itu.

”Kau yakin ini rumahmu?” tanyaku curiga.

Nicole mengangguk sambil tersenyum. ”Terimakasih, Kibum. Pulanglah.”

Aku mengangguk dan kembali mengayuh sepedaku. Tunggu…apa seharusnya aku menunggunya masuk ke dalam rumah lalu baru pergi atau…aiiissshhh apa yang kupikirkan? Aku ini kan bukan pacarnya.

***

Kugaruk kepalaku saat mulai mengerjakan PR matematika. Aku ini payah! Apa aku ini terlahir dengan otak yang bodoh? Seharusnya aku ini anak yang pintar karena sehari-hari aku hanya berada di perpustakaan tua yang penuh dengan buku-buku.

”Apakah itu PR bahasa inggris?” tiba-tiba suara Nicole berbisik di telingaku.

”Aaahhh!!” aku menutup telingaku karena geli. ”Apa yang kau lakukan?”

”Aku hanya bertanya, mengapa kau sekaget itu?” Nicole menjulurkan lidahnya padaku. Ih! Dia menyebalkan sekali.

”Jangan menggangguku!” pekikku kembali mengerjakan.

”Matematika! Aku menyukainya…” Tanpa izin dariku dia langsung menyambar buku dan pensilku, lalu mulai mengerjakannya dengan cepat.

Aku pun mendekatinya. ”Kau tahu, kau aneh?” gumamku melihatnya menghitung dengan cepat. Nicole pun berhenti menghitung dan menatapku. ”Apanya yang aneh?”

”Kau…” kudorong kepalanya dengan satu jari. ”Dan otakmu…” kudorong lagi kepalanya. Nicole tertawa cekikikan.

Tunggu…ada yang aneh, aku merasa senang ketika melihatnya tertawa. Kulitnya yang mulus tertimpa sinar matahari sore yang hangat dan berwarna keemasan, membuatnya semakin…

”Tidak!” jeritku tiba-tiba. Nicole pun berhenti tertawa. ”Kibum, ada apa?” tanyanya bingung. Aku pun tersadar, lalu menggelengkan kepala.

”Jangan…jangan tertawa.”

”Memang kenapa?”

Aku menatap wajah kecil itu dan kembali menggeleng. ”Aku…aku tidak suka suara tawamu itu. Jangan pernah tersenyum atau pun tertawa. Aku benci kau melakukan hal itu.”

Nicole mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan.

Ya ampun, Kibum…ada apa sih denganmu?

***

Aku mengendarai sepedaku yang butut sepulang dari sekolah. Matahari mulai membakar kulitku dan ini semakin menyiksa ketika jalanan penuh dengan mobil dan bus.

Aku dengan sabar menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, jadi aku bisa mengayuh sepeda ini secepat mungkin dan sampai di perpustakaan.

Lampu berubah menjadi hijau. Aku bersiap mengayuh lalu wussss…

Aku seperti terbang. Kukayuh sepedaku sekencang yang aku bisa, persis seperti pembalap motor. Kubelokkan ke kiri, ke kanan, membentuk zig zag yang keren. Lalu aku mulai ber-atraksi, kulepaskan kedua tanganku dari stang. Rasanya enak sekali angin berhembus di wajahku.

Aku pun kembali memegang stang ketika sampai di perempatan. Kukayuh lebih kencang lagi untuk melewati lampu hijau yang hampir berubah menjadi merah itu. Tiba-tiba…

”Kibum!!”

Ada yang memanggilku.

Aku menoleh dan disana ada Nicole yang melambai padaku. Kuhentikan sepedaku yang tiba-tiba terasa oleng karena tersenggol sesuatu. Aku pun terjatuh.

Semua orang berlari ke arahku, termasuk Nicole. Wajah mereka semua cemas.

”Kibum, hampir saja…” ujar Nicole yang berlutut disampingku. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya, tapi ketika aku melihat ke depan, sebuah mobil menabrak sebuah toko persis di depanku.

”Untung gadis ini memanggilmu.” kata orang-orang.

Aku menatap Nicole dengan sedikit pusing.

”Apa kau baik-baik saja, Kibum? Apa kau terluka? Tatap aku…” Nicole memegang wajahku dengan kedua tangannya. Pandanganku mulai fokus dan aku hanya bisa mendengar suaranya…

Suara Nicole diantara keramaian.

***

”Awww!!” kujauhkan tangannya dari lututku. ”Kau malah membuat lukaku semakin parah.”

”Aku ahli dalam membersihkan luka. Tenang saja.” senandungnya riang sambil mengusapkan kapas pada lututku yang berdarah.

Aku menatap wajahnya lama sekali, entah apa yang kulakukan, tapi aku terus saja menatapnya sampai Nicole menyadarinya.

”Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Aku tersadar dan menunduk. ”Tidak…hanya saja…” Ayolah, Kibum! Berpikir!!

”Seandainya kau tidak memanggilku tadi..mungkin aku sudah mati tertabrak mobil itu.” gumamku perlahan. Entah apa dia bisa mendengarnya atau tidak. Aha! Pintarnya aku.

”Terima kasih.” lanjutku.

Nicole tersenyum dan itu membuat dadaku terasa aneh.

”Sudah kubilang jangan tersenyum! Aku benci kau melakukannya.” gerutuku sambil membuang muka.

Nicole tertawa dan cepat-cepat menutup mulutnya. ”Uuuppss…oke, oke.”

Kim Kibum…ada apa denganmu?

***

”Lihat, lihat! Festival kembang api! Hanya 10.000 won!” pekik gadis-gadis di lorong sekolah. Cih..apa spesialnya festival kembang api itu? Mengapa mereka sangat heboh?

”Kibum, kau mau membeli tiket festival kembang api? Beli dua gratis kupon makan. Siapa tahu kau mau mengajak pacarmu.” goda Wooyoung menyikutku.

Pacar? Astaga! Dimana ya pacarku? Hgh…itu konyol. Aku tidak akan pernah membeli tiket semacam itu.

***

Hari ini aku tidak membawa sepeda. Kakiku belum sembuh lagipula kejadian kemarin membuatku sedikit trauma.

Sialnya, tiba-tiba matahari tertutup awan-awan hitam yang tebal dan hujan mulai turun. Seharusnya kubawa payung dari perpustakaan, tapi apa boleh buat.

Aku pun berlari terseok-seok ke arah sebuah pohon besar yang rindang untuk berteduh. Perban di kakiku mulai basah, tapi aku tidak mempedulikannya.

”Kibum?”

Aku menoleh dan melihat gadis ’gua’ itu berdiri disampingku. ”Apa yang kau lakukan disini?” kata Nicole.

Dasar aneh! Kau tidak lihat betapa deras hujan turun dari langit? Tapi aku tidak mengatakan hal itu. ”Kau sendiri sedang apa disini?”

”Aku menunggu hujannya reda.” Nicole tersenyum dan tampaknya dia ingat bahwa aku tidak suka senyumannya itu. Dia pun menutup mulut. ”Maaf…” gumamnya di balik tangannya.

”Lupakan.” balasku sambil membuang muka.

”Kibum, kau marah?”

Aku tidak menjawab. Kami berdiam diri selama beberapa menit. Dia tidak lagi berkata apa-apa. Lalu aku sadar ketika melihat bibirnya bergetar karena menggigil. Nicole tidak memakai jaket. Air hujan turun dari antara daun-daun membasahi dirinya.

Aku ragu untuk melakukan hal ini, namun aku tidak tega melihatnya kedinginan. Kubuka jaketku dan perlahan-lahan, selangkah demi selangkah aku mendekatinya. Tanganku terasa gemetaran saat ingin memakaikannya jaketku. Dia pun sadar.

”Kibum…”

Sebelum Nicole menyelesaikan kalimatnya, aku cepat-cepat menyampirkan jaket itu di bahunya begitu saja. ”Kau bisa sakit.” ujarku tak acuh.

Nicole tersenyum. Dia tampaknya lupa, namun…aku tidak berkomentar. Kunikmati senyuman itu beberapa detik.

Kibum…apa kau mulai jujur pada perasaanmu?

***

Hari belum begitu malam, namun awan gelap masih bertengger dilangit. Aku mengantar Nicole sampai ke depan rumahnya.

Begitu kami sampai, dia berbalik dan melepaskan jaketku. ”Terima kasih sudah meminjamkan jaketmu, juga mengantarku pulang. Padahal kakimu pasti masih sakit.” katanya perlahan.

”Aku tidak apa-apa.”

”Eh, ada apa dengan suaramu?” tanya Nicole heran. Aku pun juga heran. Memang ada apa dengan suaraku?

”Kau tidak berbicara dingin dan ketus terhadapku. Kau kemanakan semua itu?”

Aku spontan tertawa. Entah mengapa aku melakukannya, tapi…itu menyenangkan, bisa tertawa di depannya. ”Apa kau kira aku sesadis itu? Ya! Aku ini orang yang berhati baik.” ujarku sedikit sombong.

”Kau memang baik.”

Deg! Aku tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan hal itu, tapi dia menanggapinya serius. Dadaku kembali terasa aneh.

”Aku…tidak…”

”Kau memang baik, Kibum. Benar deh. Aku serius.”

Aku menatap Nicole yang tersenyum lebar padaku. Astaga! Dadaku…

”A…aku…aku rasa…aku harus…”

Nicole mengangguk. ”Harus pulang. Nenek pasti sudah menunggumu.”

”Ya, ya, pulang. Aku…harus pulang.” ujarku salah tingkah.

”Oke, dah” Nicole melambai padaku. Seharusnya aku melangkah pulang, namun…kakiku terasa menempel disana. Kucoba ayunkan, tapi aku malah berbalik memanggil Nicole.

”Ada apa?”

Aku merogoh bagian tasku yang paling dalam dan mengeluarkan dua lembar kertas warna-warni.

”Ini…kau tahu, aku berlari-lari mengejar temanku yang menjual tiket karena kupikir aku tidak akan mau membelinya tapi ternyata aku berubah pikiran dan membelinya. Kau tahu, aku merasa berhutang padamu dan…”

”Ya, aku mau.” Nicole menghentikan ceracauanku. ”Aku mau, Kibum.”

Hatiku terasa meledak. Dadaku seolah-olah lepas dari penyakit yang selalu membuatnya terasa aneh saat melihat Nicole tersenyum. Namun kali ini aku sangat menyukai senyuman itu.

”Oke…” ujarku memberikan tiket itu. ”Jam 7 di taman atas bukit.” kataku sambil melangkah mundur. Nicole mengangguk dan aku segera berlari sebelum dia dapat melihat senyumanku yang lebar karena saking senangnya.

Apa yang kau rasakan, Kibum?

Eumm, aku merasakan…jatuh cinta pada gadis ’gua’ ini!!

***

Nenek heran melihatku yang sibuk kesana-kemari, keluar kamar mandi, masuk kamar mandi, lalu keluar lagi.

Aku sangat bingung, baju mana yang akan kupakai. Apa warna ini terlalu mencolok? Apa ini terlalu berantakan? Parfum apa yang harus kupakai? Harus kuapakan rambutku? Model apa? Sepatu mana yang cocok untuk jaketku????

Aku terduduk di kursiku karena nenek menghentikanku. Dia memilihkan kaus kesukaanku, jaket biru yang biasa kupakai, kaus kaki, dia menyisir rambutku seperti biasa, menyemprotkan parfum seolah aku masih berumur lima tahun.

”Jadilah dirimu sendiri, nak.”

”Apa dia akan suka dengan diriku yang biasa-biasa saja?” kutatap diriku di cermin. Biasa saja.

Nenek mencium keningku, ”Semua gadis menyukai laki-laki yang apa adanya.” Itu membangun rasa percaya diriku. Aku pun pergi.

***

Aku melihat kesekelilingku, mencari sosok gadis bertubuh ramping itu. Beberapa temanku tampak datang bersama pacarnya. Hemm, memang sih Nicole bukan pacarku, tapi…bisakah kita berpura-pura? Sehari saja… please!! Haha, itu membuatku geli sendiri.

Setelah beberapa menit berlalu, Nicole akhirnya datang. Dia sangat cantik dengan sweater putih dan topi rajutan warna biru. Hei, kami serasi!!

Tanpa banyak bicara, kami mengambil kursi di bukit paling atas. Hanya ada kami berdua. Mungkin orang-orang malas berjalan sampai sini. Tapi aku sangat senang melihat Nicole yang tampaknya bersemangat juga.

”Aku belum pernah datang ke festival kembang api.” kata Nicole.

”Aku juga.” ujarku menengadah ke langit.

Kembang api belum diluncurkan. Kami duduk disana, terdiam tanpa kata-kata. Aku melihat langit diatas, tampak banyak bintang. Daripada diam saja, aku punya ide. ”Nicole…kau kan pintar matematika. Sekarang aku tantang kau untuk menghitung bintang , coba…”

Aku berhenti bicara ketika melihat gadis itu tertidur. Dia menutup matanya rapat-rapat. Aku mendesah dan menyenggolnya. Dasar tukang tidur! Benar-benar deh.

”Ya! Nicole! Bagaimana kau bisa melihat kembang apinya jika kau tidur. Ya! Bangunlah…jangan tidur.”

Nicole membuka matanya perlahan dan tersenyum padaku. ”Maaf, aku tertidur.” dia menguap sekali dan melihat langit diatas.

”Ya! Apa kau benar-benar lelah?” tanyaku sedikit khawatir.

Nicole menggeleng. ”Aku tidak apa-apa. Oh…lihat itu!”

Kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam. Indah sekali…

Nicole dan aku bertepuk tangan bersama orang-orang yang ada dibawah. Kami sangat senang melihat kembang api berbagai bentuk itu meledak di langit. Sama seperti hatiku yang sedang meledak-ledak melihat Nicole tertawa senang.

”Nicole…aku senang bersamamu.” ujarku perlahan.

Nicole tampaknya tidak mendengarku, dia terlalu menikmati kembang apinya. Untuk itu, kuulangi lagi sedikit kencang.

”Nicole, aku senang bersamamu.”

”Apa??” suara ledakan meredam suaraku. Nicole menatapku bingung. ”Apa kau bilang?”

Aku menggeleng dan berkata, ”Kembang apinya sangat indah. Makanya jangan tidur dan melewatkan hal ini.”

Nicole tertawa dan kembali memandang kembang api di langit. Aku mengelus dadaku. Rasa anehnya telah berkurang, seiring kembang api yang mulai berhenti meledak.

”Yah, habis deh…” Nicole tampak kecewa. Dia menatapku, tersenyum sambil meremas tanganku. Aku sedikit kaget.

”Terima kasih, ya, Kibum. Aku sangat senang hari ini.” Lalu Nicole, tanpa kuduga, memelukku. Dia berbisik…

”Aku senang bersamamu, Kibum.”

Deg!

Jika Nicole menyangka kembang apinya sudah habis, dia salah. Karena hatiku sedang meledak-ledak seolah kembang api yang baru saja dinyalakan.

”Aku juga senang bersamamu, Nicole.”

***

Kukayuh sepedaku menuju rumah Nicole. Dia tertidur dipunggungku. Tangannya memeluk tubuhku dan aku bisa merasakan kehangatannya yang merasuk jiwaku.

Aku merasa tidak akan ada yang bisa menghentikan perasaan ini. Aku yakin kami mempunyai rasa yang sama. Kupegang tangannya dan aku pun tahu…kami akan selalu bersama.

***

Hari terus berlalu…

Pagi menjadi malam, malam menjadi pagi…

Matahari berganti bulan, bulan berganti matahari…

Malam itu adalah hari terakhir aku mendengar suara dengkuran Nicole yang lembut, dimana aku melihatnya memejamkan matanya, tertidur pulas, melihat gadis itu…

Aku mondar-mandir di perpustakaan nenek. Kutatap catatan nenek yang hanya penuh dengan nama Nicole di daftar pengunjung. Dia tidak lagi datang ke perpustakaan ini, dia tidak tidur di atas buku tebal, dia tidak lagi mengerjakan PR-ku, tidak ada suara dengkurnya, tidak lagi meminum susu dan memakan kue nenek. Aku rindu sosok yang selalu kutemukan sedang tidur di meja setiap aku pulang sekolah.

Kudatangi rumahnya, tapi…aku terlalu pengecut. Aku tidak mengetuk pintunya dan menanyakan tentang dirinya. Aku tidak meneleponnya, atau berpura-pura mengantarkan buku pinjaman ke rumahnya hanya untuk melihat sosok itu.

Aku hanya duduk termenung di kursi yang biasa ditempatinya. Aku tidak tahu apa yang seharusnya kurasakan sekarang. Hatiku terasa hampa.

Terasa dingin…

***

”Aisshh…aku belum buat tugas cerpen bahasa inggris. Kau sudah mengerjakannya, Kibum?” tanya Wooyoung frustasi.

”Sudah.” jawabku senang bercampur sedih. Kuingat betul bahwa Nicole yang mengerjakannya.

”Coba kulihat.”

Aku memberikan kertas itu.

”Isshh..ada apa dengan tulisanmu? Kenapa jadi jelek seperti ini?” Wooyoung menyipitkan matanya untuk membaca tulisan Nicole.

Aku tidak menggubrisnya. Wooyoung membacanya sedangkan aku masih memikirkan Nicole.

Tidak lama kemudian…

”Kibum…” panggil Wooyoung. Aku menoleh dan kaget melihat matanya berkaca-kaca. ”Wooyoung, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?”

Wooyoung menghapus air matanya. ”Apa benar ini kau yang menulisnya?”

”Memang kenapa?” tiba-tiba hatiku terasa tidak enak.

Wooyoung terdiam menatapku.

”Katakan…baiklah, bukan aku yang membuatnya. Memang apa artinya?”

***

Aku berlari di tengah hujan yang deras. Kertas cerpen itu basah ditanganku. Aku berlari menuju rumah besar itu. Jantungku berdetak semakin cepat seiring langkahku yang semakin dekat dengan rumah itu.

Aku sudah membuang jiwa pengecutku, ku tekan bel dan seorang wanita paruh baya datang membuka pintu. Dia memandangku bingung, aku berlutut di depannya sambil menangis.

Ya…aku menangis di tengah hujan…

***

Aku datang ke perpustakaan kecil yang berada di sudut jalan itu. Kubuka pintunya dan tiba-tiba ini terasa seperti hari-hari dimana aku menemukan seorang gadis tertidur di atas meja dengan buku sebagai alasnya.

Nenek mengelus pipiku juga memelukku erat. Aku seakan kebal dengan kulit keriput itu. Nenek terisak sedih di belakang rak ketika aku berjalan mendekati gadis yang tertidur lelap.

Kududuk disampingnya, meletakkan kepalaku diatas meja, menatapnya saat bernapas perlahan. Kuselipkan rambutnya dibelakang telinga, menyentuh pipinya yang lembut, kusentuh mata, hidung, bibirnya.

Apa dia benar-benar tertidur? Apa dia akan bangun dari tidurnya? Apa benar dia sekarat? Benarkah yang dikatakan pelayan tentang penyakit leukimia-nya itu?

Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Hatiku terasa seperti mempunyai lubang yang besar. Aku tidak mau mengeluarkan suara isak itu, tapi aku tidak bisa menahannya. Aku mendengar suara tangisku sendiri yang terasa menyakitkan ditelingaku.

Aku menangis sambil memegang wajah kecil itu dan berharap dapat membawanya pergi jauh.

Aku mengambil buku yang di tidurinya dengan sangat pelan agar tidak membuatnya terbangun. Melihat halaman buku itu membuatku semakin sedih.

Astaga…selama ini dia sudah mencoba memberitahukan kami. Aku dan nenek.

Dia selalu mengambil buku yang sama dengan halaman yang sama, tentang kanker darah, homeschooling, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Apa aku pura-pura buta? Apa ada sesuatu yang membuatku menutup mata dan tidak mengetahui keadaan disekelilingku, hingga aku terlanjur jatuh cinta padanya dan kini…aku harus berpura-pura tidak melihat apa yang jelas-jelas sudah ku ketahui.

Nicole…Nicole…Nicole…

Berapa kali aku harus menyebut nama itu agar kau tetap disini bersamaku?

***

Ini bukan mimpi…Nicole datang dengan sweater putih dan topi biru ke perpustakaan. Dia tersenyum padaku. ”Kau sibuk hari ini?”

”Tidak ada PR bahasa inggris dan matematika. Jika pun ada tugas, selain dua pelajaran itu…tidak kuanggap sebagai tugas.” jawabku.

Nicole meraih tanganku. Aku bisa melihat beberapa lebam karena chemotheraphy ditangannya juga gelang rumah sakit.

”Haruskah kau memakai gelang jelek itu?” candaku.

”Aku tidak bisa melepaskannya, karena aku harus kembali lagi kesana.” ujar Nicole sedikit memelas.

”Kau tetap cantik walau memakai gelang bodoh itu.” kataku sambil mengelus kepalanya, membuat mata Nicole berkaca-kaca.

Tidak. Aku tidak mau membuatnya menangis. ”Ayo, kita pergi.” kataku cepat-cepat. ”Udaranya sangat sejuk diluar. Kau mau kemana? Ah, aku tahu satu tempat yang cocok.”

***

Kami pergi menaiki sepeda ke taman diatas bukit. Nicole bersandar pada punggungku, namun kali ini dia tidak tertidur. Dia bersenandung kecil. Aku sedikit merasa terhibur. Setidaknya, aku tahu dia sedang merasa senang.

Nicole dan aku duduk di kursi itu lagi. Kami terdiam, merasakan angin menyapu kulit kami.

”Ini terasa seperti waktu itu. Tapi bedanya saat ini terang dan tidak ada kembang api.” gumam Nicole menutup matanya.

”Ya! Jangan tidur. Langit sedang cerah dan kau mau tidur?”

Nicole membuka matanya dan menatapku dengan tersenyum. ”Aku tidak akan tidur lagi, Kibum.” dia menggenggam tanganku. ”Karena aku bersamamu, bagaimana bisa aku melewatkan momen itu dengan tidur?”

Hatiku seperti tersayat seribu pisau. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kucium tangannya yang lembut lama sekali. Kudengar isaknya bercampur tawa kecil.

Aku tidak mau melepaskannya, aku tidak mau melepaskannya! Aku rela melakukan apa pun hanya untuk memegang tangan itu lebih lama lagi.

Kutatap wajahnya yang mulai kurus. ”Aku sudah membaca cerpen yang kau buat.”

Nicole tersenyum sedih. ”Maaf, Kibum…”

Aku menggeleng. ”Tidak. Itu indah.”

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku buru-buru beranjak dari kursi untuk menyembunyikan air mataku yang mengalir deras.

Aku tidak peduli bahwa aku ini adalah laki-laki yang seharusnya tidak mudah menangis. Tapi ini terlalu menyakitkan. Kutekan mulutku agar tidak ada suara yang keluar dari sana. Aku tidak mau Nicole mendengar suara tangisku. Dia hanya boleh mendengar suara tawaku yang senang saat bersamanya, gelak tawa saat kami tahu kami saling jatuh cinta, saat kami mempunyai perasaan yang sama.

Aku ingin sekali berteriak, meneriakkan namanya dan berkata bahwa aku sangat mencintainya. Membuat kembang api warna-warni berbentuk hati yang banyak untuknya, meledakkannya tiada habis, hingga Nicole tertidur pulas.

Setelah air mataku kering, aku berbalik dan kulihat Nicole dengan mata tertutup. Ku-lap air matanya yang hampir mengering dari wajahnya. Kepalanya sedikit miring dan seulas senyuman menghiasi wajah kecil itu.

Rasa aneh, rasa sakit di dadaku menghilang seketika. Kutatap wajah itu lama sekali tanpa berkedip. Angin meniupkan rambutnya yang pendek dan aku mencium bibirnya lembut, berharap sang putri tidur akan bangun, namun…

Dia hanya diam.

”Hidup memang melelahkan, Nic. Butuh tidur yang panjang untuk menghilangkannya.” kulipat kakiku dan kurebahkan kepalaku di pangkuannya.

***

 

Putri Tidur yang Cantik

 

          Pada zaman dahulu kala, tinggalah seorang putri yang cantik. Dia sudah tertidur selama bertahun-tahun lamanya karena seorang penyihir jahat mengutuknya.

          Tidak ada yang dapat membangunkannya. Kedua orang tuanya pun sedih, hingga dalam mimpi sang putri sendiri, dia melihat dirinya sedang termenung menunggu seseorang untuk datang menolongnya.

          Kemudian, seorang pangeran berkuda putih datang ke dalam istana. Dia berkata bahwa dia tersesat dan tidak terlalu menyukai berada di dalam istana itu. Namun, hatinya tergerak ketika mendengar bahwa ada seorang putri yang mengalami tidur panjang dan tidak ada yang bisa membangunkannya.

          Sang pangeran pun naik ke atas istana itu. Tidak ada naga, tidak ada pengawal yang menghadang jalannya. Dia bukan seorang ksatria yang membawa pedang dan perisai, dia hanya seorang pangeran yang membawa hatinya saja.

          Lalu dia mencium sang putri tidur dan ajaib! Sang putri terbangun dari tidurnya. Dia sangat senang dan berterima kasih pada pangeran itu. Mereka berdua menjalani hari-hari bahagia sebagai sepasang kekasih, tapi ternyata kutukan itu tidak dapat menghilang begitu saja. Setiap kali putri tertidur, pangeran akan menciumnya untuk membangunkan sang putri. Hal itu berulang-ulang setiap harinya, tanpa ada rasa bosan sedikit pun dirasakan pangeran.

          Hari naas itu tiba. Sang penyihir jahat kembali datang. Sang pangeran berusaha mati-matian untuk melindungi sang kekasih, namun apa daya penyihir itu jauh lebih hebat darinya.

          Dia mengambil sang putri dan memenjarakannya dalam pintu jeruji yang berlapis-lapis, hingga pangeran tidak bisa menjangkaunya, tidak bisa memegang tangannya atau menciumnya untuk membangunkannya dari tidur.

          Sang putri pun tertidur untuk selama-lamanya. Namun cinta mereka berdua tidak pernah tertidur satu detik pun.

 

(Cerpen yang ditulis Nicole)

 

Nicole, jangan tidur…

Aku mencintaimu…

 

#THE END#

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

4 thoughts on “Don’t Sleep Away

  1. halo author..

    aku blogwalker (?) keycole shipper and I like this fanfiction..
    serius, aku nangis ini, key.. sedih banget kalo jadi dia disini..
    cuma aku mau nanya, kenapa cole bisa tidur di depan perpus neneknya key?

    1. halo jugaaa
      wah senang ada yang nyasar kesini juga haha😀
      makasiiihh ya udah baca🙂

      eumm itu si nicole bisa tidur di depan perpus karena…tempatnya adem kali(?) hahaha

      becanda sumpah! no reason behind it, really >.<

  2. woaahhh…
    ini bagus bgt.. FF nya… T3T
    aku terharuu…
    dan di awal..
    heeohhh.. #muteron bola mata
    jinjja…
    Key galak amat ama cewek.. aigooo ga ada lembut2nya dikit ama nicole..
    but..
    itulah sisi lucunya..😄
    si nicole doyan tidur pula… hahahahaah…😀
    key nya galak… tapi dgn sifat aneh nicole key jadi sedikit2 demi sdikit suka sama nicole kaaaann??

    paling parah itu wktu dia ngelarang nicole senyum ato ketawa…?
    WAAAAATTT? KEY kau sinting.. larangan macam apa itu -___-a

    ehh tapi diam2 aku juga keinget2 sama kata2 neneknya Kibum… ttg tidur.. metong seprti tidur katanya… hiiii aku merinding…

    dan itu endingnya.. jeongmall… ending sad sih…
    tapi unsur sedihnya emg cocok utk jadi ending di cerita ini…
    Nicole si putri tidur… *yg awalnya sebutannya adalah gadis gua -_-

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s