Posted in Fanfiction, Romance, Sad

Who Are You?

Title            :   Who Are You?

Main Cast   : Donghae Super Junior, Goo Hara Kara

Other          : Junhyung Beast, Jessica SNSD

Rating        : PG-15

Genre         : Drama romantic

 

Katakan…

Siapa dirimu

***

“Hara…apa kau merasa pusing? Apa kau yakin ingin jalan-jalan disini? Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?” tanya Junghyun pada gadis mungil berambut panjang di sebelahnya.

Dia tampak pucat dengan baju putih dan wajah tirusnya itu, namun gadis bernama Hara itu tersenyum sambil menatap Junhyung. ”Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk.”

Mereka pun masuk ke dalam taman bunga yang sangat penuh sesak orang itu. Junhyung menggandeng tangan Hara erat-erat, seakan dia adalah benda rapuh yang harus di jaga baik-baik.

”Kau mau aku membelikan minuman untukmu? Kau haus?” tanya Junhyung.

”Rasa lemon, Junhyung.” Hara tersenyum lemah.

”Baiklah. Kau duduk disini. Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali. Oke? Ingat! Tetap disini.” Junhyung berbicara dengan sangat perlahan dan segera berlari setelahnya. Meninggalkan pacarnya sendirian.

***

Donghae berjalan santai sambil mengunyah permen karet dan membaca buku. Membaca buku di tengah keramaian memang bukan ide bagus untuknya. Selain tidak bisa berkonsentrasi, dia sering menabrak orang-orang atau tong sampah.

”Lihat jalan!!” ujar seseorang yang baru saja di tabraknya.

”Kau yang lihat jalan!” teriak Donghae. ”Dasar…” (sebenarnya dia menyadari bahwa itu kesalahannya.)

”Ah sudahlah, aku tahu aku memang tidak bisa membaca buku dimana-mana. Dasar sial…” ucapannya terhenti ketika melihat sekumpulan orang sedang mengelilingi sesuatu.

Donghae mencoba menembus kerumunan itu dan dia berhasil mencapai barisan depan, dimana dia bisa melihat seorang gadis berambut panjang menangis, berteriak-teriak. ”Dimana pacarku? Dimana pacarku?”

”Tenangkan dirimu, nona. Kami akan mencarikannya untukmu, tapi kau harus tenang dulu.” suruh penjaga taman memegangi tangannya.

”Aku mau dirinya! Jangan sentuh aku!” gadis itu meronta-ronta, lalu menangis tersedu-sedu sambil berjongkok.

”Dia kenapa?” tanya Donghae pada orang disampingnya.

”Sepertinya gadis itu gila.”

Hara menangis dan para penjaga menjadi tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya, salah satu penjaga bertanya dengan lembut pada Hara.

”Nona, bisakah kau menyebutkan ciri-ciri pacarmu?”

Hara menghapus air matanya. ”Dia…memakai baju berwarna abu-abu, celana jins dan wajahnya…”

Semua orang menunggu kalimat terakhir, namun Hara malah mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah kerumunan.

”Junhyung??”

”Aku?” Donghae menunjuk dirinya dan menyadari bahwa dia memakai baju berwarna abu-abu.

”Jadi kau pacarnya?” orang disebelahnya berkata.

Donghae menggeleng, namun dia tidak dapat mengelak dari Hara yang memeluknya erat-erat.

”Junhyung…Junhyung…kenapa kau meninggalkanku? Aku takut…” isaknya dalam pelukan Donghae.

”Ini…ini salah paham…” Donghae memulai.

Para penjaga bernapas lega dan tersenyum pada Hara. ”Kau sudah menemukan pacarmu dan kau…” penjaga itu menunjuk Donghae. ”Jaga dia baik-baik. Jangan pernah meninggalkannya sendirian.”

Semua orang pergi dan Donghae masih bingung dengan situasi yang ada, dengan Hara di pelukannya. Dia tertidur…

”Aiisshhh…apa yang harus kulakukan??”

Di tengah hari yang mulai gelap, Donghae menggendong Hara yang tertidur di punggungnya. Keringat sudah mulai mengalir, namun tangannya tetap saja tidak bisa melepaskan gadis ini.

”Jika kau kira aku ini pacar yang bisa memberikanmu tumpangan pada mobilku, kau salah besar!” ucapnya terengah-engah. ”Aku tidak punya mobil dan aku juga tidak punya uang untuk menyewa taksi.” lanjutnya sedih.

Donghae tiba-tiba berhenti dan menaruh Hara bersandar pada sebuah pohon. ”Maafkan aku. Pasti akan ada yang menemukanmu.”

Donghae kembali berjalan, namun rintik-rintik hujan jatuh menggelitik wajahnya. Dia menoleh pada Hara dan hatinya terasa disayat melihat gadis itu tergolek di pinggir jalan.

”Aaaahhhh!! APA YANG KAU INGINKAN?? SEBENTAR LAGI AKU AKAN UJIAN DAN TIBA-TIBA SESEORANG MENGAKUIKU SEBAGAI PACARNYA DAN…” Donghae menutup matanya, berjongkok di depan Hara.

”Hujannya semakin besar. Ayo pulang…”

Donghae menggendong Hara kembali dan pulang ke rumahnya.

***

Sesampainya di rumah…

”Baiklah…kau tidur disini.” Donghae meletakkan Hara di atas kasurnya. ”Hanya satu malam saja kau boleh tidur di atas kasurku.”

Donghae melepaskan sepatu dan kaus kaki Hara yang basah juga membuka kancing sweaternya. Tiba-tiba dia menjauh dari Hara.

”Aku tidak bisa melakukannya…” dia merapat ke dinding. ”Tapi bajunya basah.” batinnya pun berkecamuk.

Lalu sebuah ide muncul di kepalanya. Dia mengambil hairdryer dari dalam laci dan mengarahkannya pada tubuh Hara.

”Dengan begini, bajumu dan tubuhmu akan kering tanpa kusentuh sedikit pun.” senandungnya senang.

***

Pagi hari datang, matahari seakan masuk ke dalam rumah kecil Donghae dan membuka mata Hara yang terpejam.

”Dimana aku?” gumam Hara dengan kepala sedikit pusing. Dia melihat ke sekelilingnya. Tampak asing.

Tapi itulah yang sering terjadi padanya ketika dia bangun. Hara adalah gadis yang mengalami penyakit aneh. Otaknya hanya mampu mengingat memori jangka pendek.

Hara turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Rumah itu bersih serta rapi, hampir tampak seperti rumah perempuan.

Donghae yang baru saja selesai berolah raga kaget melihat Hara berdiri di ruang tamunya. ”Huaahh!! Kau seperti hantu saja.”

”Kau siapa?” tanya Hara polos.

Donghae mendesah. ”Kemarin kau sendiri yang bilang aku ini pacar…”

Hara segera berlari dan memeluk Donghae sebelum dia menyelesaikan ucapannya.

”Junhyung.”

”Iiisshh…lepaskan aku.” Donghae mendorong Hara menjauh dari dirinya. ”Kenapa sih kau selalu memelukku begitu melihatku?”

”Karena kau Junhyung, pacarku.” jawab Hara.

”Tapi aku ini bukan Junhyung.”

Hara tertawa. Dia sungguh manis ketika melakukannya. ”Kalau kau bukan Junhyung, lalu siapa lagi? Kau ini…”

Donghae membuka mulutnya, namun dia terlalu lelah untuk menjelaskan pada gadis ini. Mungkin memang dia orang gila.

Donghae mengambil tasnya dari kamar dan bersiap pergi. ”Aku pergi dulu ya.”

”Kau mau kemana?” tanya Hara bingung memegang tangannya. Donghae menatapnya berang. ”Aku ini anak kuliahan. Tentu saja aku akan pergi kuliah.”

Alis Hara pun bertaut. ”Bukankah kau bekerja di perusahaan ayahmu?”

Donghae menarik napas dalam-dalam. ”Ya! Aku sudah tidak mempunyai ayah dan…tolonglah, biarkan aku pergi. Oke?”

***

Seorang wanita paruh baya sedang memegang foto Hara saat Junhyung membawakan makanan ke dalam kamar.

”Bibi, sudah saatnya makan siang.”

”Bawa pergi semua makanan itu.” ujar wanita itu meneteskan air mata.

”Tapi anda belum makan apa-apa…”

”PERGI!!!” wanita itu mengusir Junhyung dan kembali menatap foto Hara. Lalu telepon Junhyung berdering sangat keras.

”Halo? Apa kau sudah menemukan orang itu?” tanya Junhyung pada orang diseberang telepon.

Jawabannya tersirat dari ekspresi wajahnya yang sedih bercampur marah. Junhyung menutup telepon itu dan wanita itu mencium foto Hara yang sedang tersenyum itu.

”Aku akan menemukan Hara, bi. Hara akan kembali ke rumah ini. Aku berjanji.”

***

Donghae memijat lehernya sendiri ketika berjalan di tengah siang yang panas. Dalam otaknya hanya ada tugas, tugas dan TUGAS. Dia menendang kerikil-kerikil di kakinya.

”Aaahh…aku mau mati sa…”

Donghae berhenti melangkah ketika dia melihat seseorang memakai kemeja kotak-kotaknya. Orang itu juga memakai celana jinsnya, beserta sepatunya. Tatapannya merayap dari bawah sampai ke atas.

”Ya! Kau…bajuku…apa yang sedang kau lakukan disini?”

”Aku mengikutimu tadi pagi dan menunggumu selesai. Kau sudah mau pulang?” Hara tersenyum padanya.

Donghae memukul kepalanya sendiri dengan buku. Dia mendekati Hara dan menghela napas, ”Kau sudah makan?”

Hara menggeleng.

”Ayo, kita makan.”

Hara makan dengan lahap semua makanan di depannya. Donghae hanya menatapnya tanpa menyentuh secuil makanan pun.

”Kau tidak makan?” tanya Hara menyadari hal itu.

”Dimana rumahmu?” Donghae berbalik bertanya.

Hara berpikir sejenak dan dia tersenyum. ”Aku tidak punya rumah.”

”Tidak mungkin!!” pekik Donghae membuat semua orang melihatnya. ”Maksudku…kau pasti memilikinya.”

Hara menggeleng dengan wajah polosnya. ”Aku tidak punya rumah. Aku…” dia terdiam dan Donghae menunggunya.

”Ya. Aku ingat!”

Donghae bersorak keras dan berkata dengan bersemangat. ”Dimana? Dimana?”

Hara tersenyum. ”Aku tinggal bersama Junhyung. Bersamamu…”

Donghae menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia hampir menangis, namun dia malah ikut makan.

Selagi makan, tiba-tiba sebuah ide terlintas. Bagaimana jika aku meninggalkannya saja disini? Orang akan menemukannya dan..

          Donghae menutup mulutnya yang melengkung membuat senyuman licik.

”Ah…aku ingin ke kamar mandi dulu ya.” Dia pun pergi. Bukan ke kamar mandi namun ke pintu belakang restoran menuju keluar. Donghae tertawa saat berjalan sambil menghirup udara kebebasan.

Namun kakinya terhenti dan menoleh ke belakang, ke restauran itu. Ada perasaan aneh yang mengganjalnya. Dia berbalik ke restauran itu dan mengintip dari jendela.

Hara sedang meraung-raung di pegangi oleh dua pelayan. Dia memanggil-manggil nama ’Junhyung’. Donghae pun tidak tega.

”Kenapa kau selalu seperti itu?” tanya Donghae pada Hara saat tiba di rumah.

”Kau meninggalkanku lama sekali.”

”Satu menit pun aku belum melangkah keluar…eh, maksudku, pergi ke kamar mandi. Begini…siapa namamu?”

”Masa kau tidak ingat nama pacarmu sendiri?” Hara cemberut.

”Ah…” Donghae menggaruk kepalanya karena frustasi. ”Ah, begini, aku kan selalu memanggilmu dengan sebutan ’sayang’, saking keseringannya aku jadi lupa namamu…”

”Kau konyol. Aku Goo Hara.”

”Ah, ya, Hara. Begini…” Donghae ingin berkata bahwa dia akan membawanya ke kantor polisi dan mendaftarkannya sebagai orang hilang. Namun melihat wajahnya yang polos, kata-kata yang keluar justru berbeda.

”Apa kau mau membantuku mengerjakan tugas-tugas kuliah?”

***

Junhyung duduk di bangku taman, dimana dia meninggalkan Hara beberapa hari yang lalu. Bangku itu tampak kosong dan menyakitkan ketika jemarinya menyentuh besi-besi berkarat.

”Aku tidak seharusnya meninggalkanmu. Aku seharusnya bersamamu setiap saat. Aku bodoh sekali…” Junhyung terisak.

”Maaf, tuan. Apa anda yang kemarin kehilangan pacar anda?” tanya seorang penjaga. Junhyung mengangguk.

”Aku tidak yakin pasti. Sepertinya kemarin aku melihat gadis berambut panjang yang mirip dengan pacar tuan makan di sebuah restoran.”

”Apa?” Junhyung langsung beranjak. ”Kau melihatnya? Dimana?”

”Tapi aku tidak yakin. Dia bersama seorang pria. Sepertinya dia adalah pria yang membawa pacarmu.”

Junhyung menghela napas dan menarik penjaga itu. ”Tunjukkan dimana restoran itu.”

***

”Hara…Hara…” Donghae sampai ke rumah dengan wajah gembira. Dia memanggil-manggil Hara, namun tak ada jawaban.

”Hara? Dimana kau?” Donghae mencari di kamar, dapur, dan ruang tamu. Namun tidak dapat menemukannya. Rumah itu kosong tanpa Hara.

Tiba-tiba Donghae pun menjadi panik. Dia mencari ke setiap sudut rumahnya yang kecil itu dan bingung. Dia pergi keluar rumah dan hatinya mencelos lega.

Dilihatnya Hara sedang membungkuk mencium bunga-bunga krisan di taman kecil belakang rumah. Hara menyadari kehadiran Donghae dan dia melambai sambil tersenyum.

Donghae membalas senyuman itu, merasakan sesuatu yang aneh di dadanya ketika melihat gadis itu tersenyum dengan memakai bajunya.

”Aku mencarimu.” ujar Donghae menghampiri

”Ada apa?” tanya Hara penasaran.

Donghae mengeluarkan beberapa kertas dari tas dan memberikannya pada Hara.

”A plus!!” kata Donghae bersemangat. ”Tugas-tugas yang kemarin kita kerjakan.”

Hara memeluk Donghae sambil tertawa. Donghae merasa aneh setiap Hara memeluknya, namun kali ini dia membalas pelukan itu, lalu melepaskannya. ”Sudah, sudah…kau ini kenapa sih. Ayo masuk…”

***

”Ya! Lee Donghae!!” panggil seorang gadis dari belakang. Donghae menoleh dan melihat gadis itu menghampirinya. Dan plaakkk…

”Ya! Jessica! Apa yang kau lakukan?” pekik Donghae memegang pipinya yang memerah karena tamparan Jessica.

Jessica mendengus. ”Kemana saja kau selama ini? Apa kau lupa aku ini siapa?”

”Katakan padaku, kau ini siapa?” balas Donghae.

Jessica semakin berang. ”Aku ini pacarmu!!”

Donghae malah tertawa. ”Pacarmu? Kau memutuskan hubungan kita sebulan yang lalu dan kau menyebutku ’pacarmu’?”

”Jika bukan karena Taecyeon lebih tampan dan kaya, aku akan tetap bersamamu.” Jessica beralasan.

”Lalu apa yang sedang terjadi sekarang, heh? Tiba-tiba menghampiriku dan berkata bahwa aku ini adalah pacarmu.”

”Kau…” Lalu Jessica menutup wajahnya dan menangis. ”Dia menghianatiku! Aku tahu dari temannya bahwa dia sedang mengejar Suzy. Gadis kelas dua SMA.”

Donghae menghela napas. ”Lalu apa urusannya denganku. Sana pergi!!” dia melangkah meninggalkan Jessica. Namun Jessica terus saja mengikutinya, bergelayutan di lengannya.

”Sampai kapan kau akan terus menempel denganku? Pulanglah…” ujar Donghae mencoba melepaskan diri dari Jessica.

Donghae mengetuk pintu dan Hara membukakan pintunya. Jessica kaget melihat ada seorang gadis tinggal di rumah Donghae.

”Siapa kau?” tanya Jessica menatap Hara yang memakai baju Donghae.

”Junhyung, siapa gadis ini?” Hara juga bertanya dan membuat Donghae menjadi bingung untuk menjelaskannya. ”Emm, begini…”

”Aku ini pacarnya. Dan apa yang sedang kau lakukan di rumah Donghae-ku?” ujar Jessica memeluk lengan Donghae.

”Pacarmu?” Hara kembali bertanya.

”Begini…aduh…Jessica, sebaiknya kau pulang sekarang juga. Dan Hara, ini tidak seperti yang kau lihat.” Donghae menghentikan sebuah taksi dan memaksa Jessica masuk kedalamnya.

Sesampainya di dalam rumah, sebuah tamparan mendarat di pipi Donghae untuk yang kedua kalinya.

”Ya! Apa yang kau lakukan?” pekik Donghae.

”Katakan…gadis itu pacarmu kan? Bisa-bisanya kau selingkuh di belakangku dan membawanya ke depan mataku. Dan…kau bahkan mengganti namamu menjadi Donghae? Kau…” Hara meneteskan air mata. ”Apa kau tidak punya perasaan?”

”Bukan begitu…”

”Apa yang ingin kau katakan lagi? Aku melihatnya!! Apa kau sengaja melakukannya? Kau mau menyakitiku?”

”Cukup!!” Donghae berteriak di depan wajah Hara. ”Aku ini bukan pacarmu..terserah apa yang ingin kau katakan. Aku tidak peduli.”

Donghae masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Dari dalam kamar, dia dapat mendengar suara tangisan Hara yang memilukan. Donghae menutup telinganya dengan bantal. Berharap semua ini akan berakhir.

***

Donghae pergi meninggalkan rumah tanpa ingin melihat wajah Hara yang sedih. Dia pergi begitu saja, tidak mengatakan apa-apa, padahal dia tahu Hara tampak mengintip di jendela saat dia pergi.

Di perjalanan, Donghae melihat kantor polisi. Terlintas di benaknya, dia membawa Hara kesana, mendaftarkannya sebagai orang hilang. Entah mengapa, dia tidak melakukannya sampai sekarang? Apa…dia tidak ingin Hara pergi?

Donghae pulang dari kampus ketika langit mulai gelap dan udara yang dingin. Dia merapatkan jaketnya, terus berjalan melewati gang-gang sepi.

Donghae merasa ada yang mengikutinya, dia memperlambat langkahnya dan ketika dia menoleh ke belakang, sebuah pukulan tepat mengenai hidungnya.

Dia tersungkur di tanah dengan hidung berdarah. Beberapa orang mengelilinginya, diantara mereka seseorang bertubuh besar menendang perutnya. Dia adalah Taecyeon.

”Berani sekali kau mendekati Jessica, setelah dia meninggalkanmu sebulan yang lalu! Kau…” Taecyeon mencengkram kerah baju Donghae. ”Laki-laki tidak berguna!!” Taecyeon memukulnya lagi dan lagi, sampai Donghae tidak dapat menggerakan tubuhnya.

Taecyeon beranjak dari tubuhnya dan berkata pada yang lainnya. ”Pukul dia.”

Setelah itu, Donghae hanya bisa melihat kegelapan dan terngiang wajah Hara yang menangis.

”Hara…”

***

Pagi harinya…

”Aaww…” Donghae menjauhkan wajahnya dari tangan Hara.

”Aku harus memberikan obat pada lukamu.” ujar Hara tetap melakukannya. ”Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang memukulmu? Kita harus melaporkannya pada polisi.”

Polisi? Batin Donghae. Dia menatap Hara dan menggeleng. ”Tidak…maksudku, sudahlah. Mereka pasti sudah kabur, tidak usah pedulikan mereka.”

”Tapi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau kau tidak mau melaporkannya, biar aku saja.” Hara beranjak dari tempatnya, namun Donghae menahannya. Dia memegang tangan Hara.

”Junhyung…”

Lalu dengan tergopoh-gopoh Donghae memeluk Hara.

”Jangan pergi. Jangan pergi ke polisi…tetaplah disini.” Donghae tahu seharusnya dia tidak melakukan ini. Apa yang sedang dilakukannya! Dia menahan Hara disini, padahal keluarganya diluar pasti sedang mencarinya. Tapi Donghae tidak bisa membohongi perasaannya.

”Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.”

”Biarkan, Hara.” gumam Donghae. ”Ini adalah hukuman untukku karena telah menyakitimu.”

Hara melepaskan diri dan menatap Donghae bingung. ”Menyakitiku? Kapan kau menyakitiku?”

”Kemarin…kau lupa apa yang terjadi kemarin?” tanya Donghae juga ikut bingung.

Hara menggeleng. ”Apa yang sedang kau bicarakan?”

Donghae tersenyum kaku dan kembali memeluk Hara. ”Lupakan. Aku hanya tidak ingin kau pergi. Hanya itu saja.”

”Baiklah…aku tidak akan pergi. Aku akan disini, menemanimu.” Hara mengelus rambut Donghae perlahan, membuat Donghae meneteskan air mata.

Maaf, Hara…tapi aku tidak bisa melepaskanmu. Aku sungguh tidak bisa…

***

”Apa kau yakin gadis itu adalah gadis dalam foto ini?” Junhyung menunjuk foto Hara pada pelayan restoran.

Pelayan itu mengangguk. ”Aku yakin sekali. Gadis ini meronta-ronta memanggil pacarnya. Dan seorang laki-laki datang. Aku kira dia adalah pacarnya.”

”Hei, tuan! Kau mau mengobrol atau pesan makanan disini? Lihat antrian di belakangmu…” ujar Jessica menepuk bahu Junhyung.

Junhyung menoleh ke belakang dengan wajah penuh emosi. Jessica sangat kaget, maka dia mundur beberapa langkah.

”Ahaha…selesaikan saja masalahmu. Kami bisa menunggu…hei…” tiba-tiba Jessica menunjuk foto yang di pegang Junhyung. ”Gadis itu!!”

”Kau pernah melihat gadis ini?”

”Tentu saja! Ini kan gadis yang ada di rumah Donghae.” tutur Jessica.

”Donghae??”

***

”Apa kau sudah merasa lebih baik? Lukamu hampir sembuh.” ujar Hara mengolesi obat di wajah Donghae.

Donghae tersenyum. ”Itu karena kau yang merawatku.”

”Apa kau sedang menggodaku? Ya! Hentikan.” Hara tertawa kecil.

Donghae tertawa. ”Apa aku tidak boleh memuji pacarku yang cantik ini? Apa kau tidak senang di puji oleh laki-laki tampan sepertiku, heh?”

Hara memukul kepala Donghae dengan lembut. ”Aku tidak perlu pujian darimu.”

”Lalu apa?”

Hara menyentuh dada Donghae. Dia tersenyum lembut. ”Aku hanya ingin hatimu.”

”Bukankah aku telah memberikannya?”  Donghae tersenyum dan mencium tangan Hara. Dia kaget ketika tangan mungil itu terasa aneh dalam genggamannya.

Donghae menyentuh dahi Hara. ”Kau demam tinggi. Kau sakit…” lalu dia mengambil ponselnya. ”Kita harus ke rumah sakit.”

”Aku tidak apa-apa.” Hara menurunkan tangan Donghae.

”Demammu tinggi. Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” ucapnya marah. ”Sudah, baringkan tubuhmu disini. Aku akan mengompres dirimu.” Donghae pergi ke dapur untuk mengambil air serta handuk.

Seseorang mengetuk pintu ketika Donghae sedang mengompres Hara. Donghae membukakan pintu dan disana ada Jessica bersama seorang laki-laki. Dia berpakaian rapi dan tampan.

”Donghae, apa yang terjadi dengan wajahmu?” tanya Jessica kaget melihat wajahnya yang penuh luka.

”Mau apa kau kesini?” ujar Donghae ketus.

”Dimana Hara?” laki-laki itu mencengkram baju bagian depan Donghae.

”Junhyung?”

Semuanya menatap ke arah Hara yang kini tidak berada di sofa lagi. Dia berdiri menatap Junhyung yang sebenarnya. Tanpa menunggu lebih lama, Junhyung segera memeluk Hara.

”Hara…Hara…syukurlah.” isaknya.

”Junhyung…” hanya kata itu yang bisa di ucapkan Hara yang setengah melamun dalam pelukan Junhyung.

Donghae menatap mereka berdua dan saat itu juga dia menyadari, bahwa Hara akan pergi. Ini semua akan berakhir. Hara tahu siapa Junhyung yang sebenarnya.

”Junhyung…” gumam Hara.

”Ya, ya, ya…aku disini, Hara. Aku disini.” Junhyung tidak henti-hentinya membelai kepala Hara.

Hara tiba-tiba melepaskan diri dari Junhyung. Dia menatap kedua laki-laki itu dengan mata yang bingung. ”Jika kau Junhyung…” Hara menunjuk Junhyung. ”Lalu siapa kau?” dia memandang Donghae.

Donghae menutup matanya, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya. ”Hara, maafkan aku…” Donghae menghampirinya, namun Hara menjauh.

”Katakan! Siapa dirimu..” jerit Hara.

”Aku…”

Belum selesai Donghae berbicara, Hara jatuh pingsan. Junhyung menahannya.

”Hara! Hara!”

”Ini pasti gara-gara demamnya.” ujar Donghae.

Junhyung menatap Donghae tajam. ”Demam? Kau membiarkannya sakit lagi??”

”Lagi?”

”Gadis ini menderita memori jangka pendek. Dan saat kau menculiknya, dia baru saja keluar dari rumah sakit!!”

”Aku tidak menculiknya!!” teriak Donghae.

”Tenangkan diri kalian! Cepat panggil ambulans untuk membawa gadis itu ke rumah sakit!” pekik Jessica menengahi kedua orang itu.

***

”Hara…bukalah matamu.” Junhyung memegang tangan Hara sambil menangis.

Donghae hanya bisa melihatnya dari luar kamar, dibatasi oleh kaca yang besar. Hatinya sungguh sakit melihat Hara terbaring disana, dengan selang oksigen dan infus.

Gadis ini menderita memori jangka pendek…

          Saat kau menculiknya, dia baru saja keluar dari rumah sakit!

 

Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Donghae duduk di lantai rumah sakit, merasakan pusing yang luar biasa melandanya.

”Kau bodoh, Donghae! Kau bodoh, kau bodoh, kau bodoh!!” Donghae terus saja memukul kepalanya sendiri.

”Memukul kepalamu sampai remuk tidak akan ada gunanya.” tiba-tiba Jessica datang dan duduk di sebelahnya. ”Gadis itu sudah kembali pada pacarnya.”

”Seharusnya…aku membawa Hara ke kantor polisi dan aku…” Donghae mulai menangis.

Jessica menghela napas. ”Dan mengapa kau tidak melakukan itu dari awal?”

”Aku kasihan ketika melihatnya menangis memanggil-manggilku saat aku meninggalkannya sendirian. Walaupun aku tahu, dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Meskipun dia hanya mengingatku sebagai ’Junhyung’. Aku sangat ingin mengembalikannya, tapi aku selalu berkata besok, besok dan besok…”

”Sampai kau membiarkan dirimu jatuh cinta padanya?” Kata-kata Jessica seakan menelanjangi Donghae, sehingga tidak ada yang tertutupi lagi. Kata-kata itu benar. Tidak salah sedikit pun.

”Aku tidak menyangka akan begini jadinya…”

”Jika sudah terlanjur, mengapa kau tidak katakan saja yang sejujurnya pada gadis itu?”

Donghae memberanikan diri. Dibukanya pintu sedikit demi sedikit, hampir tidak terdengar oleh Junhyung.

Hara masih menutup matanya. Junhyung menoleh menatap Donghae. ”Apa yang sedang kau lakukan disini? Siapa yang mengijinkanmu masuk?”

”Aku hanya ingin menatapnya dari sini. Aku tidak akan mendekatinya.” jawab Donghae dengan suara yang lemah.

”Pergi dari sini!” desis Junhyung. ”Aku tidak mau Hara melihatmu saat dia bangun nanti.”

Tanpa peringatan kedua, Donghae mengangguk. Dia memang seharusnya tidak berada disana. Hara bukanlah siapa-siapanya. Begitu juga dengannya.

Buat apa dia masih berada disana? Tapi bagaimana dengan hatinya? Dengan pandangan kilat, dia memandang Hara untuk yang terakhir kalinya dan pergi keluar kamar.

Jessica yang melihatnya keluar pun berkata. ”Donghae, kau…”

Donghae tersenyum lemah. ”Sudah berakhir. Aku tidak perlu ada disini lagi. Hara sudah kembali.”

***

Junhyung masih berada disana walaupun waktu berkunjung sudah habis. Dia merasakan tangan Hara bergerak dan tiba-tiba Hara membuka matanya perlahan, membuatnya kaget.

”Hara? Apa kau mendengarku?” tanya Junhyung.

”Dimana aku?” Hara terlonjak di tempatnya. Dia duduk tegak, melihat ke sekelilingnya dan merasa aneh. ”Dimana aku?”

”Hara, berbaringlah.” suruh Junhyung. Hara menepis tangan Junhyung yang hendak menyentuhnya.

Hara memegang kepalanya yang sakit, namun tetap tidak membiarkan Junhyung menyentuhnya.

”Junhyung…Junhyung…” gumamnya perlahan sambil memegangi kepalanya.

”Aku disini, Hara.”

Hara menatap Junhyung yang berada di sebelahnya. Kedua matanya menelaah setiap senti wajah Junhyung, namun tiba-tiba dia menggeleng. ”Tidak…tidak…”

”Hara…”

”Lepaskan aku? Dimana Junhyung?” jeritnya.

”Ini aku, Hara. Aku Junhyung.”

”Kau bukan Junhyung. Kemana pacarku? Junhyung, dimana kau?” Hara mencabut selang oksigen dan infusnya, dia turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.

          Hara terus berlari dan berlari. Membiarkan kakinya membawa ke tempat dimana dia harus berada. Tapi dia bahkan tidak tahu kemana harus pergi, dimana tempat dia harus berada.

Donghae bersiul-siul melewati depan rumahnya begitu saja. Tidak. Dia tidak ingin pulang ke rumah. Tidak ingin melihat baju yang sering Hara pakai, sepatu putih yang dipakai Hara, tidak ingin melihat bunga-bunga krisan yang sangat disukai Hara. Tidak ingin berada di kamarnya, dimana Hara tidur disana sepanjang malam, dimana Donghae sering memandangnya dari belakang komputer.

Donghae terus berjalan walaupun hatinya sakit, tubuhnya lelah, jiwanya hancur. Dia terlalu egois, tidak ingin melepaskan Hara. Namun disamping itu, dia juga terlalu mencintai Hara, sehingga ingin selalu berada di dekatnya.

Membuat hatinya sakit setiap kali mengingat senyuman itu.

”Rumah, rumah…dimana rumah Junhyung? Ah, aku tidak ingat.” kepala Hara terasa berdenyut berusaha mengingat-ingat. Di dalam otaknya sekarang tergambar rumah Junhyung yang sebenarnya. Namun dia merasa bukan tempat itu yang ingin didatanginya.

”Junhyung, tidak ada di rumah. Junhyung, tidak ada di rumah.” Hara mengulangi kata-kata itu sambil terus berlari tanpa tujuan.

Setelah beberapa lama berlari, Hara berhenti di depan sebuah taman. Hara memandang taman itu lama sekali dan melihat bunga krisan jauh di dalam taman.

Hara pun tergugah dan melupakan niatnya untuk mencari Junhyung.

Donghae duduk di bangku taman, dimana dia pertama kali melihat Hara meronta-ronta mencari pacarnya.

Besi-besi itu sudah berkarat dan tampak rapuh. Donghae menyentuhnya, tanpa sengaja jarinya tergores.

”Aww…” Donghae menghisap jarinya sendiri, menahan sakit. Dia memutar tubuhnya untuk pulang ke rumah…

Namun, Donghae berhenti melangkah ketika melihat seorang gadis sedang mencium bunga krisan di taman.

”Hara…”

Hara berbalik dan tersenyum padanya. Dia memetik beberapa bunga krisan dan berlari ke arah Donghae. Hara memeluknya erat-erat.

”Junhyung…” panggilnya.

Donghae tersenyum membalas pelukan itu. ”Hara…”

Walau kau tidak mengenaliku…

Walau kau selalu bertanya, ’Siapa kau?’ di pagi hari…

Namun…

Aku tetap mencintaimu…

Dan seperti yang telah dikatakan penjaga taman saat itu..

”Jaga dia baik-baik. Jangan pernah meninggalkannya sendirian.”

Ya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu…

Selamanya

 

 

THE END

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

11 thoughts on “Who Are You?

  1. Hiyy!! Baguss bgt nih ceritax!! *orang bgus kok d blang hiyy?*
    Sosok hara disini pas pake bgt bgt deh! Aku ska bgt ceritanya!! Sumpah! Suka bgt bgt bgt bgt bgt!! *lebeh lu! Plakk*

    aduh junhyung.. Kmu d tinggal hara ya? Ama aku aja gih.. Aku ikhlas kok.. *hug junppa**disepakhara*

    kaka, ceritanya.. Aduh, g bsa ngomong apa2 lg akuh.. *pingsan* -_-“

    1. jangan pingsan disini….beraaattt hahaha

      huhuhu gatau apa yang aku pikirkan tiba2 nulis castnya dari berbagai macam fandom gitu

      suju lah, kara lah, beast lah, ada snsd juga, 2 pm juga

      udahlah habiss…
      btw maacih ya nay😀

      1. eh, gag bleh pingsan dsni ya? #berdiri lg cari tmpat laen

        Iya, ka.. Aku suka bgt ama B2ST!! huaaa.. >.<
        gmana gtu pokoknya!! #melting

        oke, ka.. Keep writing ya..
        Nb: cerita yg mdel bginian, d bnyakin aja.. Aku suka kok.. #Gananya! Plaakk

  2. Bagus fanficnya..
    Cm aku agak bingung, knp Hara bs inget namanya Junhyung tp ga bs inget wajah dan kepribadiannya…
    Si Jessica apa bgt dh alesannya dia ninggalin donghae..
    Tp akhir2 dia jd baik kayaknya..
    pada akhirnya si Joker tetep ditinggalin… muahahahahaha….
    *eh kok gw malah ketawa yaa…*
    Share more yoo…

    1. hehehe makasih yaaa😀

      eummm pernah baca sih di artikel ada penyakit kayak gitu, secara psikologis mereka emang lupa tapi memori tentang orang yang udah lama mereka kenal udah ke-pattern di kepala, semacam itu lah hehehe😀
      Yaaahh Jessica memang begitu deh haha
      oke pokoknya makasih ya udah main kesini😀

  3. Donghae baik banget~ orang ga kenal aja ditolongin. Karena Hara cantik kali ya~

    Tapi ga yakin deh di dunia ini ada cowok karakter kayak gitu, ngeringin baju Hara pake hairdryer. So Something!

    Udah banyak yg bahas Hara jadi aku komen karakter Donghae aja hehe.

    Semangat author-san!

  4. haeppa baik bgt, jadi makin suka:$
    ffnya bagus eoni. gregetan bgt sama jesica awalnya, tapi belakang”nya untung dia udh berubah jadi baik:D
    tata bahasanya rapi jadi enak bacanya.
    pokoknya kereeeeen deh eoni:)

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s