Posted in Fanfiction, Romance, SHINee

Dangerous Love

Title            : Dangerous Love

Main Cast   : Krystal f(x), Minho SHINee

Other          : Jessica SNSD, Sooyoung SNSD

Rating        : PG-15

Genre         : Drama romantic

 

“Apa aku telah memenangkan hatimu?”

“Kau bahkan sudah memilikinya…”


***

“Unnie, sebenarnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Krystal melepaskan genggaman tangan Jessica yang kuat. Jessica langsung menatap adiknya itu dengan tatapan kesal.

“Ya! Krystal! Apa kau mau membuatku tampak konyol di depan keluarga Choi?? Ya! Dengarkan aku, kali ini saja. Oke?”

Jessica kembali menggandeng tangan Krystal dan berjalan melewati pintu gerbang yang sangat tinggi dan besar itu. Tampaklah sebuah rumah yang besar sekaligus mewah di hadapan mereka. Mereka menunggu pintu di bukakan.

”Apa aku sudah terlihat rapi? Bagaimana dengan rambutku?” tanya Jessica pada Krystal. Jessica merapikan rambutnya yang panjang itu, lalu pintu terbuka. Seorang pelayan membawa mereka ke ruang tunggu.

”Silahkan tunggu disini. Saya akan memanggil Nona Sooyoung.”

”Katakan temannya, Jessica, datang kesini.” tambah Jessica cepat-cepat.

Pelayan itu pergi ke lantai atas.

Jessica melihat sekelilingnya, penuh dengan barang mewah. ”Kau tahu berapa harga barang-barang ini semua, Krystal? Ini sangat mahal.” Jessica menyentuh sebuah guci kecil dan ketika ada kesempatan, dia langsung memasukkannya kedalam tas.

Lalu Sooyoung, seorang wanita cantik dan anggun tiba di ruang tamu dan menyambut Jessica dengan sebuah pelukan.

”Ah, Sica, selama liburan aku sampai belum bertemu denganmu lagi. Bagaimana dengan liburanmu?” tanya Sooyoung.

”Ah, itu…” Jessica menyibakkan rambutnya dan berkata penuh percaya diri. ”Hari yang panas di Paris.”

”Paris?” tiba-tiba Krystal bersuara. Wajah Jessica pun berubah.

”Ah ya ampun…aku sampai lupa mengenalkannya padamu. Sooyoung, ini Krystal, dia adikku.” kata Jessica cepat-cepat, menutupi kebohongannya.

Sooyoung menjabat tangan Krystal. Krystal dapat merasakan betapa lembutnya tangan itu.

”Dia sangat cantik.” ujar Sooyoung.

“Persis seperti kakaknya. Iya kan?” Jessica tertawa kaku. Lalu memberi isyarat pada Krystal: Jangan bicara! Tutup mulutmu!. Krystal pun diam selama Jessica mengobrol dengan Sooyoung.

Sooyoung mengajak Jessica untuk pergi ke kamarnya. Dia ingin memperlihatkan koleksi tasnya yang mewah dan mahal itu. Krystal juga mengikuti mereka.

“Ini dari pamanku. Hanya ada tiga di dunia.” ujar Sooyoung memperlihatkan tas cokelat yang sangat indah. Jessica memegangnya dengan mata yang berbinar.

”Ini sangat bagus. Wah, kau…”

“Aku sebenarnya tidak menyukainya. Warnanya terlalu tua untukku.”

Jessica memeluk tas itu dan berkata, “Bolehkah ini untukku?”

”Tentu saja.” ujar Sooyoung enteng. Jessica pun tersenyum senang.

Selagi mereka sedang melihat-lihat tas Sooyoung, Krystal hanya berdiri di dekat pintu. Dia tidak tertarik pada tas-tas itu atau barang-barang mewah lainnya. Yang dia inginkan hanya pulang ke rumah dan membantu ayahnya di toko sushi.

Krystal bersandar pada dinding dan melihat keluar pintu. Matanya langsung bertemu dengan seorang laki-laki tinggi dan tampan. Dia mempunyai rambut hitam yang sedikit berantakan, walaupun dalam balutan baju sederhana, namun dia tidak dapat menyembunyikan pesonanya yang terpancar. Membuat Krystal tersihir.

Lalu namja itu membuka pintu kamar, sehingga Krystal pun tersadar. Namja itu menatap Sooyoung, ”Noona, aku mau pergi main bola.”

”Ya ya ya.” jawab Sooyoung tanpa mengalihkan pandangannya dari tas-tas.

”Noona!!”

Sooyoung menatap sebal namja itu. ”Aku kan sudah bilang iya.” Lalu namja itu pergi. Namun dia sekali lagi menatap Krystal, membuat jantung Krystal berdegup kencang.

”Dia adikmu?” tanya Jessica.

”Iya.” jawab Sooyoung. ”Choi Minho. Dia menyebalkan.”

”Dia tampak sedikit dingin.”

Sooyoung tertawa kecil. “Dia separate patung. Yang dia lakukan hanya bisa membaca di kamarnya, pergi main bola, dan menulis di taman. Dia bahkan tidak pernah menikmati hidup seperti layaknya orang kaya. Seperti belanja misalnya. Aku juga tidak mengerti mengapa dia seperti itu. Dia itu adalah keluarga CHOI.”

***

Apakah keluarga Choi sangat kaya? Mereka tampak sombong dan dingin. Choi Minho…tatapannya menusuk, namun sangat dingin. Aku bisa merasakan sesuatu, namun tidak dapat diungkapkan.

Krystal memotong ikan sambil melamun. Melihatnya, Jessica langsung menyenggolnya. ”Bagaimana kita bisa kaya jika kau memotong ikan seperti itu. Ya! Krystal, cobalah berkonsentrasi untuk menjadi orang kaya.”

”Unnie, apa…keluarga Choi itu sangat kaya?”

”S-A-N-G-A-T. Makanya kita harus menyamar menjadi orang kaya agar bisa berdekatan dengan mereka.”

***

Lagi-lagi Jessica dan Krystal kembali ke rumah Sooyoung, walaupun Sooyoung tidak tampak keberatan, namun Krystal-lah yang paling tidak nyaman diantara mereka. Memang sih, dia makan-makanan yang sangat enak, steak dan es krim. Astaga, ternyata makanan itu terasa sangat enak di mulutnya.

”Unnie, ayo kita pulang.” bisik Krystal.

”Kau mau mati ya?!! Diam saja!” balas Jessica galak.

Mereka berada di pinggir kolam renang yang sangat besar. Pemandangan disana sangatlah bagus. Angin bertiup lembut, membuat Krystal mengantuk.

”Ayo, makan pudingnya.” ujar Sooyoung.

”Unnie, aku tidak bisa makan lagi.” bisik Krystal lagi.

”Eh, ada apa?” tanya Sooyoung.

Jessica tertawa. ”Ah, tidak. Katanya ini makanan yang paling dia sukai. Di rumah kami sering memakannya.”

”Benarkah?” Sooyoung tersenyum kaku. ”Ini adalah puding yang di pesan dari toko bibiku di Italia, dan hanya berlaku bagi keluarga Choi.”

Jessica dan Krystal langsung bertukar pandangan. Namun, Sooyoung kembali bicara, ”Ah, mungkin mereka sudah menjualnya untuk umum.”

Mereka menikmati puding itu tanpa bicara sedikit pun. Krystal merasa akan di makan habis-habisan oleh kakaknya setelah ini.

”Noona!” tiba-tiba Minho mendatangi Sooyoung dan melemparkan majalah. ”Kau mau belanja lagi dari majalah ini? Kau tahu, belanjaan kemarin saja belum kau buka.”

”Bisakah kau sopan sedikit dihadapan temanku?” kata Sooyoung memarahi Minho dan tersenyum kepada Jessica. ”Maafkan adikku ya. Dia memang suka begini. Oh iya, kenalkan, ini adikku, Minho. Minho, ini temanku, Jessica dan adiknya, Krystal.”

Minho menjabat tangan mereka dan menatap Krystal sedikit lama, membuat Krystal tidak nyaman.

”Wajahmu tidak asing.” ucap Minho memandang Krystal.

”A…ak..aku?”

”Apa kalian satu sekolah?” tanya Sooyoung.

”Tidak. Adikku ini…home schooling. Kami tidak ingin dikelilingi oleh orang-orang yang tidak selevel, jadi lebih memilih home school. Iya kan?” Jessica mencubit lengan Krystal. ”I…iya..” ujar Krystal sambil mengelus tangannya yang sakit.

Apanya yang home schooling? Ya! Aku ini adalah anak yang berada di level paling rendah dan aku bersekolah di tempat kumuh!

 

***

Krystal berjalan di bawah terik matahari yang menyengat, peluh membasahi wajahnya dan baju seragam sekolahnya.

”Mungkin home schooling lebih enak. Belajar di rumah, tidak berjalan di bawah terik matahari seperti ini.” Krystal berhenti di pinggir lapangan sepak bola. ”Dan tidak harus bekerja paruh waktu menjual minuman. Aiissshh…nasibku.”

Krystal membawa sebuah tas minuman besar di depan tubuhnya, berteriak-teriak menjual minuman. Dengan pakaian kuning cerah, topi dan celemek, dia berjalan di sepanjang pinggir lapangan menawarkan minuman pada para pengunjung.

Krystal merasa lelah, dia bersandar pada dinding dan mengelap keringatnya. Ketika dia hendak mulai berjualan lagi, tiba-tiba seseorang yang tidak di duga datang menghampirinya.

Dia adalah seseorang yang sedang berlatih bola disana. MINHO!!

Krystal berusaha menurunkan topinya, namun telah terlambat, Minho telah melihatnya bahkan menghampirinya. ”Kau…”

”Jangan salah kira!” ujar Krystal. ”Kau…kau tahu, aku ini…benar-benar orang kaya. Aku melakukan ini karena…” Krystal terdiam sejenak. ”Ah, ya, kerja sosial. Kau tahu, untuk orang-orang yang tidak mampu…”

Krystal berhenti bicara ketika melihat tatapan Minho yang datar. ”Apa kau mendengarku?”

”Aku mau beli minuman.”

Krystal bernapas lega. Mungkinkah Minho percaya?

Krystal memberinya minuman lalu Minho membayarnya. ”Ya! Apa kau tidak mempunyai uang kecil? Minuman ini hanya seharga 5 ribu won dan kau membayar dengan 100 ribu won. Aisshhh benar-benar…”

Selagi Krystal mengaduk-aduk mencari kembalian, Minho malah melenggang pergi. Kemudian tiba-tiba segerombolan para pemain bola mengelilinginya ingin membeli minuman.

”Hei! Tunggu! Kembalianmu…” teriak Krystal, namun dia tidak berdaya, hanya bisa menyimpan kembalian Minho dan melayani para pembeli lainnya.

***

Krystal kembali berjualan di lapang sepak bola. Matanya mencaro-cari sosok tinggi itu. ”Apa dia kira dia bisa seenaknya membayar uang 100 ribu won dan pergi begitu saja tanpa kembalian. Aiisshh…dasar orang kaya. 100 ribu won itu besar bagi orang sepertiku…” tiba-tiba dia berhenti mengoceh karena melihat Minho melintas disana.

”Ya! Kau! Tunggu!” Krystal menarik baju Minho.

Minho menoleh dan melihat Krystal. ”Ada apa?”

”Ini.” Krystal menyodorkan uang kembaliannya. ”Kembalianmu.”

”Anggap saja sumbangan.”

”Eh, kau tidak bisa melakukan ini. Walaupun…ini sebuah misi sosial, tapi aku harus tetap bekerja selayaknya para penjual lain. Ini..”

Minho mengambil uang itu namun menyodorkannya kembali pada Krystal. ”Anggap saja aku membayarnya di muka. Aku akan membeli minumanmu setiap hari.” Lalu Minho melenggang pergi.

”Ya sudah.” Krystal berbalik dan tiba-tiba semua orang berteriak.

”AWASSS!!”

Belum sempat Krystal menoleh, sebuah bola menghantam kepalanya dengan sangat keras, membuatnya jatuh tersungkur di pinggir lapangan.

***

Semuanya gelap ketika Krystal mencoba membuka matanya perlahan. Dia mendengar sebuah suara yang familiar. Nadanya tinggi, memekik, dan cempreng.

”Bisakah kau diam, Unnie?” gumam Krystal.

”Ah, appa, Krystal sudah bangun.” jerit Jessica.

”Dimana aku?”

”Kau di rumah. Aiisshh apa yang terjadi padamu?”

”Aku merasakan sesuatu menghantam kepalaku dan…” tiba-tiba Krystal terbangun dan merasakan pusing yang luar biasa.

”Pelan-pelan…”

Krystal mencengkram bahu Jessica. ”Bagaimana aku bisa pulang kesini?”

”Ya ya ya! Seorang namja tinggi memakai jaket biru dan topi mengantarmu kesini dengan taksi. Dia menutup wajahnya dengan masker dan kacamata, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”

Jaket biru dan topi?? Orang itu…Minho. Tadi dia memakai pakaian itu. Dia mengantarku sampai toko? Berarti…dia tahu siapa aku…

***

Sejenak Krystal tidak masuk sekolah dan bekerja membantu ayahnya di toko sushi mereka yang kecil. Dia juga bersyukur akan hal ini karena dia tidak perlu datang ke ke lapangan dan berjualan minuman. Dan yang terpenting…dia tidak bisa bertemu dengan Minho.

Krystal sedang membersihkan kaca depan sampai tidak menyadari ada tamu di toko mereka.

”Krystal! Layani dulu pembeli kita!” ujar ayahnya dari dapur.

”Baik!”

Krystal menaruh lapnya dan masuk ke dalam toko, dia mengeluarkan menu untuk pembelinya itu, namun dia malah menjatuhkannya.

”Kau…”

Dia tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Sesosok namja tinggi dan tampan itu berada di sini.

”Minho ssi…” Krystal mengucapkan namanya dengan sangat perlahan.

Minho tersenyum dan mengambil menu yang jatuh itu. ”Aku mau beli makanan.”

Krystal kembali sadar dan mulai panik. ”Kau…aku…kau…jangan salah kira, aku ini…tempat ini…” akhirnya dia menyerah. Dia tidak mempunyai ide apa-apa lagi untuk berbohong.

”Baiklah, tempat ini…adalah rumahku. Aku bekerja disini dan aku ini tidak home schooling, aku miskin, kau boleh mengataiku sekarang. Aku menjual minuman bukan untuk kerja sosial, namun itu kerja paruh waktuku untuk menambah uang jajan dan aku…”

”Aku minta sushi ikan salmon.” potong Minho sambil tersenyum.

Krystal semakin tidak mengerti. ”Kau…”

Minho makan dengan lahap sushi buatan Krystal. Krystal dan Jessica berdiri disebelahnya dengan wajah tertunduk.

”Kumohon…” tiba-tiba Jessica berlutut di depan Minho. ”Jangan kau adukan hal ini pada kakakmu. Aku…aku…”

”Aku datang kesini untuk makan, bukan untuk mendengarkan penjelasan kalian. Aku juga ingin minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak bisa melindungi Krystal dari bola itu.” Minho berdiri dan membungkukkan tubuh. ”Maafkan, aku, noona.”

”Kau…kau memanggilku noona?”

”Minho ssi, apa maksudmu?” gumam Krystal.

”Sebagai permintaan maaf, aku akan makan disini setiap hari.”

          ”Setiap hari??” ujar Krystal, Jessica, dan ayahnya berbarengan.

***

Hari terus berjalan, sesuai dengan janjinya, Minho selalu datang ke toko sushi milik Krystal dan makan disana, tak jarang dia juga membawanya pulang ke rumah dan akan melewatkan makan malam dengan sushi itu.

***

”Pak Lee, dimana Minho? Kenapa belakangan ini dia tidak turun makan malam bersamaku?” tanya Sooyoung yang makan sendirian.

”Maaf, nona, Tuan Choi tampaknya makan di kamarnya.”

”Aiiissshhh, apa dia sudah melupakan tata krama keluarga Choi? Awas saja, akan kuberitahukan pada Siwon oppa.”

***

”Minho ssi…apa kau tidak bosan makan sushi terus?” tanya Krystal menatap Minho yang makan sushi dengan lahapnya.

”Bosan? Tidak, ini sushi terbaik yang pernah kumakan sepanjang hidupku.” jawab Minho sambil tersenyum.

”Jangan memaksakan diri. Aku tahu kau melakukan ini karena kasihan padaku. Minho ssi, aku benar-benar sudah baik. Kepalaku tidak apa-apa dan kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ini bukan kesalahanmu…”  ”Krystal!!” suara Minho yang keras menghentikan ceracauan Krystal. ”Bisakah kau tidak perlu menjelaskan apa-apa. Aku tahu, aku tahu.”   Krystal cemberut. ”Jika kau tahu, mengapa kau terus melakukan hal ini? Kau bisa pergi tanpa perlu mempunyai rasa bersalah. Lagipula, aku sudah menipu kakakmu.”

”Krystal!!”

”Apa??!!”

Minho mengerutkan wajahnya. ”Kau…bodoh.”

”A…apa?”

”Lupakan saja. Apa…hari sabtu ini kau sibuk?”

”Sibuk? Aku hanya punya toko kecil yang sepi ini, apanya yang sibuk?”

Minho tersenyum. ”Kalau begitu, maukah kau pergi bersamaku ke taman bunga hari sabtu?”

”Aku tidak punya uang untuk masuk kesana. Lagipula, mengapa tiba-tiba kau mengajakku kesana.”

”Krystal!! Apa bola itu membuatmu menjadi bodoh seperti ini? Apa benar-benar kau sudah sembuh total? Sini ku periksa.” Minho menyentuh kepala Krystal untuk memeriksanya, namun dia malah mencium pucuk kepala Krystal dan berbisik.

”Aku mengajakmu kencan.”

”Kencan?” bisik Krystal.

”Kencan, ya, kencan, seperti dalam film-film. Kau mau?”

Krystal mengangguk dan tersenyum. ”Jangan sampai Unnie tahu akan hal ini.”

***

”Minho!! Ya! Minho!” Sooyoung mengetuk kamarnya. ”Apa kau membusuk disana? Kau tidak makan malam lagi bersamaku? Apa kau ini bukan keluarga Choi?” Lalu Sooyoung masuk ke dalam kamarnya dengan kunci cadangan.

Kamar itu kosong, namun satu-satunya yang menyita perhatian Sooyoung adalah sebuah bungkus kotak makanan yang berada di atas meja.

Sooyoung mengambilnya, ”Oh, apa ini? Jadi dia makan ini setiap hari, heh? Ttokbuksan Sushi? Restauran apa itu?”

***

”Aku sangat senang hari ini. Terima kasih, Minho ssi.” ujar Krystal, lalu dia mengecup pipi Minho. Wajahnya berubah menjadi merah. ”Terima kasih banyak.”

Kemudian Minho mengecup pipinya juga. ”Tidur yang nyenyak. Mimpi yang indah.” Lalu Minho pergi dari sana dengan taksi.

Setelah taksi itu cukup jauh, Krystal meloncat dan berteriak gembira. Dia bisa merasakan wajahnya memanas karena kecupan itu. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata dan terus tersenyum.

Krystal menutup pintu sambil bersenandung. Dia kaget melihat Jessica yang duduk di sana menatapnya dingin.

”Unnie, kau mengagetkanku.” Krystal memegang dadanya.

”Apa yang kau lakukan bersama Minho?”

”Aku…aku…”

Jessica menghampirinya, Krystal menutup mata karena takut. Jessica pasti akan memarahinya. Namun…

”Aahhh!! Kau pintar sekali Krystal!! Oh uri dongsaeng!!” Jessica memeluknya erat-erat. ”Kau tahu, jika kau menikah dengannya, kau akan menjadi salah satu keluarga Choi yang kaya itu. Aku bangga sekali denganmu!!”

”Ya! Unnie! Aku bahkan tidak memikirkan hal itu.” ujar Krystal.

”Mulai sekarang kau harus memikirkannya. Ya! Apa…kau mencintainya?” goda Jessica sambil menggelitiki adiknya itu.

”Unnie, hentikan!!” jerit Krystal sambil tertawa keras.

Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu mereka. Mereka menjadi heran, karena toko ini sudah tutup, seharusnya sudah tidak ada pembeli lagi.

”Iiisshh…apa mereka tidak bisa membaca? Ya!! Toko ini sudah tu…” Jessica terpana ketika membuka pintu.

Krystal beranjak dari kursi untuk melihat siapa yang datang. Dia menghampiri Jessica yang hanya berdiri di sana dengan mulut ternganga.

”Unnie, ada apa?”

”Astaga…aku tahu dari awal, wajah cantik kalian tidak dapat menyembunyikan status kalian.” Sooyoung tertawa dengan keras. Wajahnya yang anggun tampak jahat sekarang.

”Sooyoung…” Jessica mulai bicara dengan perlahan.

”Katakan saja, aku memang sedang sial tiba-tiba ingin berteman dengan seseorang sepertimu. Kau bahkan terlalu rendah untuk di pandang.” hinaan Sooyoung semakin menyakitkan.

”Jika kau tanya, bagaimana aku bisa menemukan kalian, aku bisa mengendus bau orang miskin seperti kalian. Dasar orang rendahan! Berani sekali berkata bahwa kau ini orang kaya, berlibur ke Paris, home schooling. Tidak tahu diri!!”

Krystal merasakan dia tidak bisa menutup telinganya seperti biasa saat Jessica marah dengannya. Namun dia juga tidak bisa kekuatan untuk membalasnya.

”Sooyoung…”

”Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Kau…Jessica, kembalikan semua barang-barang yang pernah kuberikan padamu! Aku tidak mau barang-barang mahal tersentuh oleh tangan orang miskin seperti itu.” pekik Sooyoung.

Jessica menutup matanya, menahan air mata mengalir. Sooyoung menyibakan syalnya yang wangi itu di depan wajah Jessica, lalu dia pergi. Namun berhenti dan berbalik, ”Bagaimana kau tahan tinggal di tempat kumuh seperti ini.” dia menggelengkan kepala dan pergi menaiki mobil hitamnya yang mewah itu.

***

”Unnie, apa kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Krystal di depan pintu rumah Sooyoung.

”Kau diam saja.” jawab Jessica membungkam mulut Krystal.

Pintu dibukakan. Bukan oleh seorang pelayan, namun oleh Sooyoung sendiri. Jessica hendak masuk, namun Sooyoung menahannya.

”Jangan injakkan kakimu yang kotor itu di rumahku.”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Krystal.

”Letakkan barang-barang itu di lantai.” suruh Sooyoung dan Jessica melakukannya. Lalu Sooyoung memanggil Pak Lee, pelayannya.

”Buang barang-barang ini. Aku tidak mau melihat barang-barang itu lagi ada disini. Mereka semua kotor, telah terkontaminasi oleh kemiskinan dan bau penipuan.” kata Sooyoung.

”Oh iya, Pak Lee, apakah kucing-kucing di dapur sudah di beri makan?” tanya Sooyoung.

”Belum, nona.”

”Ambil makanan dari kamar Minho. Mungkin Minho lupa memberi makan mereka.” Sooyoung tersenyum pada mereka berdua. ”Minho sering memberi kucing-kucing dapur dengan makanan dari toko kalian. Mungkin di depan kalian dia memakannya dengan lahap, tapi dia juga sering membawanya pulang dan memberinya pada kucing. Kalian pasti mengerti kan, keluarga Choi tidak akan mau menyentuh makanan seperti itu.”

***

”Unnie, sudahlah.” hibur Krystal dari luar kamar.

”Tinggalkan aku!!” isak Jessica. Dia sudah menangis selama tiga jam disana.

Krystal tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia kembali membantu ayahnya melayani pelanggan. Lalu toko kembali sepi.

Minho datang dengan senyuman di wajahnya, melambai pada Krystal. ”Annyeong, abeoji” sapanya pada ayah Krystal, namun ayah Krystal malah membuang wajahnya dengan sedih.

Minho bingung, dia menyapa Krystal dengan gembira. ”Krystal, aku punya dua tiket meno…”

”Cukup.” ujar Krystal dengan wajah sedih.

”Apa?”

Krystal mengambil napas dalam-dalam dan mulai bicara. ”Apa itu memalukan jika bekerja keras menghasilkan uang dengan kedua tanganmu sendiri?”

”Krystal…”

”Apa menjadi miskin adalah sebuah dosa? Apa pekerjaan orang kaya hanyalah menghina mereka yang miskin, mereka yang kotor dan tinggal di tempat kumuh seperti ini?”

”Krystal apa maksudmu?” tanya Minho bingung.

”Mulut mereka lebih tajam dari pisau, tapi perbuatanmu lebih menyakitkan dari semua hinaan yang dilontarkan kakakmu.”

”Krystal, aku tidak mengerti…”

”Jangan katakan kau tidak mengerti. Kau sendiri yang melakukannya. Apa kau mempermainkanku? Toko ini kami buat dengan hasil jerih payah kami sendiri, sushi ini sangat layak untuk dimakan oleh semua manusia, teganya kau memberikannya pada hewan.”

”Aku bahkan tidak pernah…”

Krystal mengangkat tangannya untuk menghentikan Minho. Dia sudah tidak peduli dengan air mata yang membasahi pipinya.

”Kami memang orang miskin, tapi kami juga punya harga diri. Baju yang kukenakan ini adalah hasil jerih payahku sendiri, hasil keringatku. Aku bukan orang kaya yang hanya dengan menginginkannya, barang itu ada di depanku. Aku…” Krystal terisak. ”Pergilah. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.”

Krystal mendorong Minho keluar dan menutup pintu. Dia duduk di depannya sambil menangis tersedu-sedu. Ayahnya datang memeluk Krystal.

”Appa, mengapa dunia ini tidak adil?”

***

Berkali-kali Minho mencoba menelepon Krystal, namun Krystal selalu mematikannya. Minho merasa frustasi.

”Apa kau jatuh cinta dengan gadis miskin itu? Astaga, Minho, sadarkah kau? Kau ini keluarga Choi!!” sembur Sooyoung.

”Mengapa kau selalu mempermasalahkan keluarga Choi dan keluarga Choi??!! Bisakah kita hidup tenang tanpa mempersoalkan tentang marga kita, status kita?”

”Apa kau sudah kehilangan akalmu? Tentu saja kita tidak bisa!! Darah Choi sudah mengalir dalam tubuh kita, kau ingin menodainya dengan bersama gadis itu? Kau keterlaluan!! Apa yang membuatmu jatuh cinta pada gadis kampungan itu?” pekik Sooyoung.

”Jangan memanggilnya gadis miskin!! Dia baik, manis, sopan, tidak ada satu pun perkataannya yang pernah menyakiti orang. Dia tidak sepertimu…” balas Minho. Lalu dia meninggalkan Sooyoung yang sedang terbakar emosi.

***

Ini adalah hari yang penting bagi Minho. Hari ini ada kejuaraan sepak bola, dimana timnya melawan tim sepak bola yang sangat jago dari Daegu.

Minho kehilangan semangatnya. Dia berjalan lunglai ke bangku pemain dan menemukan Krystal berdiri di seberang lapangan, memalingkan wajahnya ketika Minho menatapnya. Wajah itu terlihat sedih dengan pakaian kuning dan tas minuman. Ingin rasanya Minho berlari ke seberang sana dan memeluknya, menjelaskan semuanya yang terjadi.

Pertandingan dimulai ketika wasit membunyikan pluit. Krystal menyembunyikan diri diantara penjual minuman yang lainnya. Dia bisa melihat Sooyoung memakai kacamata duduk di bangku VIP. Sedangkan dia tidak bisa menghindar dari tatapan Minho yang selalu memandangnya.

Sesekali, Minho terjatuh karena tidak memperhatikan bola, dia hanya bisa memandang Krystal di pinggir lapangan. Krystal pun menggigit jari saat Minho jatuh. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya.

Tim Minho tertinggal dua gol. Saat timnya berkumpul, semua orang bertanya mengapa Minho tampak lesu, tidak seperti biasanya yang bersemangat.

Pertandingan kembali di mulai. Tendangan penalti untuk tim Minho. Minho lah penendangnya. Jika gol, maka tim mereka akan menang. Semua orang berdiri, menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Krystal pun ikut berdiri. Dia bahkan berdiri sejajar dengan Minho di pinggir lapangan.

Tangannya terlipat, berharap Minho akan berhasil. Sebelum menendang, Minho melihat ke sekelilingnya dan menemukan Krystal disana, berdiri dengan wajah berharap.

Tidak. Dia tidak dapat melewatkan ini.

GOOOOLLLLL!!!!

Minho berhasil menendangnya masuk ke gawang. Semua pemain mengangkat dirinya ke udara dan bersorak-sorak untuknya.

”Ya, pemenangnya adalah Tim Seoul!! Selamat!!”

Krystal ikut melompat senang dan tanpa sengaja dia bertemu pandang dengan Minho. Lalu Minho naik ke atas panggung, meminta mic sang komentator.

”Aku…sebagai kapten, aku sangat bangga kami bisa menang. Namun, ada satu hal yang ingin kukatakan.” Semua orang menjadi hening.

”Aku belum memenangkan suatu hal.” lanjutnya.

Semua orang menunggu.

”Aku belum memenangkan hatimu, Krystal.” suara Minho menggema di udara, masuk ke dalam teling Sooyoung.

”Apa yang dikatakan anak ini?” gumam Sooyoung.

Tiba-tiba Minho turun dari panggung dan menarik Krystal naik ke panggung. Dia kembali bicara. ”Aku Choi Minho, ingin minta maaf pada gadis ini. Aku ingin dia tahu…betapa aku mencintainya dan aku…” Minho menatap Krystal dalam-dalam. ”Tidak pernah mempermainkannya.”

”Aku mencintaimu.”

Lalu Minho mencium Krystal di depan sejumlah penonton yang berteriak dan bersorak untuk mereka.

Mulut Sooyoung terbuka lebar ketika melihat hal itu. Dia membuka kacamata hitamnya untuk memastikan bahwa ini nyata, bukan sebuah mimpi.

Minho melepaskan diri dan menatap Krystal. ”Apa aku telah memenangkan hatimu?” bisiknya.

Krystal tersenyum dan mengangguk.

”Kau bahkan sudah memilikinya.”

# THE END #

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

17 thoughts on “Dangerous Love

  1. Huahhhh kuereeen eonni !!!
    ngebayangin minho nendang bola ajj udh cool,, gmna klo jd pemain bola beneran ??

    Terus b’karya eonni … !!😀

  2. Wah, aku comment telat lg nih, ka.. *pake watados*

    Wahahaha.. Ceritanya lucu.. *ngakak*
    sooyoung emang pas y buat jd tokoh antagonis.. *digantungsooyoun*

    tp ceritax bgus, nih ka.. Gmanaaaaa gtu, *aneh ni anak! Plakk*

    gud jop y, kaka.. ^_~

  3. Kalo ff vaforitq dr kaka tuh yg She’s My Apple. Tau tuh, knpa bsa ska stengah mampus. Kesanx ska ama seseorang dgn apa adany tuh gag ada duany gtuh.. Aduhh.. Jd jatuh cintrong ama Lay.. #Dijambakseobie

  4. haii dira eonni/kak dira(?);-; aku liat page masterlist dan ternyata ada ff shinee and castnya minstalXD sumpah seneng banget(?):p anyway kak/eonni(?) minstal shipper? keep writing!^^b bikin minstal lagi yahXD

  5. Cium aku minho😀 aku rela . Lagian kenapa harus krystal kak. Kenapa bkan aku!!!*nangisdipojokan. Tapi ceritamu bangus kak

  6. Bagus Thor ceritanya!!!! Udah lama kagak shipper2an lagi paling cuma BaekYeon doang…. #LagisukasamaEXO Setidaknya mengenang masa2 saat aku shipping Shining Effect

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s