Posted in Angst, Fanfiction, Romance, Sad

A Man with His Guitar

Title : A Man with His Guitar

Cast : Lee DaeHae, Choi Jonghun FT.Island, Yunho DBSK, SNSD member

Genre : Drama Romantic

Length : Oneshoot

Rating : PG-15


Hgh…aku lelah. Apa yang kupikirkan ketika mengatakan ‘ya’ pada teman-temanku untuk ikut karaoke. Mereka minum banyak, sudah tahu aku tidak bisa minum. Mereka mengenakan pakaian yang bagus dan mereka cantik. Aku merasa tersisih. Hufth..kakiku sakit walaupun memakai sneakers. Aku terus berjalan dan berjalan selagi teman-temanku yang lain mengambil foto.“Aku tahu busnya akan lewat sini.” ujar Hyoyeon sedikit mabuk.“Kau mabuk. Ayo berdiri disini saja.” kataku menariknya ke sampingku, takut dia akan berjalan ke tengah jalan dan wuuussshhh…aku tidak akan mengatakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Semilir angin meniup kami semua yang bertubuh kurus.

“Aduh, dingin!! Ya ampun aku berharap Eunhyuk oppa berada disini memelukku.” cekikik Hyoyeon.

Ya, dia benar. Tapi aku tidak berharap Eunhyuk yang datang. Aku juga tidak berharap Yunho yang datang. Aku memeluk diriku sendiri, melihat sekeliling dan tatapanku jatuh pada sebuah toko dengan lampu hangat.

Itu toko gitar!

Entah mengapa aku merasa tertarik untuk terus melihatnya. Aku baru saja melangkahkan kaki kesana dan Taeyon menarikku. “Busnya sudah datang. Ayo, DaeHae.” Lalu aku mengikuti mereka, namun tatapanku tak bisa lepas dari toko itu.

***

Aku sangat mengantuk. Sumpah!! Seperti biasa, hal pertama yang kulakukan saat bangun tidur adalah melihat ponselku. Disana ada satu pesan. Kubuka yang pertama: “Hai, putri tidur. Sudah pagi, pangeran akan membangunkanmu J

Ya, pangeranku. Yunho. Dia calon suamiku. Selalu mengirim pesan setiap hari. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa…dia tidak bosan? Hampir tiga tahun dia selalu seperti ini setiap pagi.

Aku hanya tersenyum dan membalas: “Huaamm, terimakasih pangeranku. Aku terbangun dari tidurku yang panjang. Saranghae.

Namun itu hanya sebatas pesan. Aku menguap besar sekali dan menutup selimut dari kaki sampai kepala, berniat untuk tidur lagi.

“Aku masih mengantuk. Maaf ya, Yunho.” gumamku. Tapi…

Aku membuka selimut dan teringat pada toko gitar kemarin. Aku pun cepat-cepat mandi. Sampai-sampai tulang keringku terantuk meja. Awww…!!

***

Toko gitar. Ya. Aku berdiri disana seperti orang tolol. Hanya diam dan menatapnya dari depan. Hei! Aku suka musik, biasanya aku akan langsung masuk ke dalam toko alat musik dan mencoba semuanya. Tapi apa yang kulakukan??

Aku menarik napas dalam dan…pulang???

Aku membalikkan tubuhku dan masuk ke dalam sana terlalu buru-buru sehingga salah satu penjaga disana hampir terantuk pintu.

“Maaf…aku…”

“Tidak apa-apa. Silahkan masuk.” Jonghun mempersilahkan masuk.

Aku bisa melihat banyak sekali gitar yang di pajang disana. Dengan berbagai harga dan warna. Yah…warnanya sih memang kebanyakan cokelat.

Tapi apa yang membuatku tertarik dengan gitar? Padahal aku bisa memainkan piano untuk Yunho (aku bermaksud membuat lagu untuk Yunho. Hihihi)

“Anda mencari gitar model apa?” tanya Jonghun. Aku bisa melihat name tagnya dan tersenyum.

“Eumm…aku suka sekali dengan music, tapi aku tidak mempunyai wawasan yang luas akan alat music gitar ini. Aku jadi bingung…”

“Jadi, Anda perlu rekomendasi?” tanyanya. Aku pun mengangguk. Lalu Jonghun mengambil salah satu gitar. Dia mulai menjelaskannya padaku.

“Gitar klasik atau Gitar Spanyol adalah jenis yang paling banyak digunakan . Gitar Ini terdiri dari body berongga dengan soundhole, dan leher dengan mesin tuning / headstock. Hal ini membuat  gitar klasik mudah digunakan baik untuk memetik dan digesek.” Jonghun meletakkan gitar itu dan mengambil gitar lain.

“Kalau yang ini adalah gitar akustik, Sekilas, gitar akustik sangat mirip dengan gitar klasik. Kadang-kadang kedua jenis gitar ini disebut gitar akustik, karena keduanya menghasilkan suara tanpa memerlukan amplifier.”

Dia kembali meletakkan gitar itu dan tertawa kecil. “Apa kau yakin ingin membeli gitar listrik?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Aku tidak yakin dia akan menyukainya.” Itu benar! Aku yakin seratus persen Yunho akan menutup telinganya ketika aku memainkan gitar itu.

“Jadi kau ingin memberikan gitar pada seseorang?”

“Tidak. Aku membelinya untuk diriku. Aku ingin belajar gitar dan membuat lagu untuk seseorang.” Jawabku

Jonghun mengangguk. “Baiklah, jika kau ijinkan, aku bisa memilihkanmu yang bagus.”

“Boleh.” kataku. “Tapi jangan yang mahal ya.” Lanjutku setelah dia mulai memilih. Jonghun tersenyum padaku.

Hah…apa yang kupikirkan? Dia mempunyai senyum yang manis, potongan rambut yang rapi, dan jari-jari yang lentik memetik gitar itu.Dia seperti…tunggu, aku tahu dia mirip siapa!! Tidak. Aku tidak tahu. Tapi dia mirip artis.

“Terimakasih atas kunjungannya.” Ujar Jonghun memberikan gitar itu padaku. Aku tersenyum padanya dan keluar dari toko itu.

Tunggu!! Ada sesuatu yang aneh. Bukan udara di luar yang panas atau asap knalpot kendaraan, tapi atmosfer diluar berbeda dengan di dalam. Aku memegang dadaku dan merasakan jantungku berdetak tidak keruan. Apa aku sakit?

Aku menoleh ke belakang dan melihat Jonghun tersenyum di balik pintu kaca itu. Aku membalas senyumannya itu dengan lambaian tangan dan…dia juga melambai padaku!! Ya ampun, DaeHae!! Ada apa denganmu?? Sebentar lagi kau akan menikah dengan Yunho. Sadarlah!!

***

Aku berkeliling dengan membawa gitar di punggungku. Merasa konyol sekaligus keren. Konyol karena gitar ini lebih besar dariku, merasa keren karena semua mata tertuju padaku. Mungkinkah mereka mengira aku seorang gitaris perempuan?

Aku membeli kopi dan beberapa belanjaan lalu menaiki bus untuk pulang. Punggungku sakit sekali, juga tanganku yang membawa belanjaan. Dan sialnya, bus yang kunaiki tidak menyisakan satu tempat duduk untukku. Aku terpaksa berdiri terayun-ayun.

Bus semakin penuh oleh orang-orang yang berdiri. Aku mulai merasa mual, itu terasa di perutku yang berputar-putar tak karuan. Aku mencoba menutup mata, namun…tiba-tiba aku melihat seseorang berada di depanku. Senyumannya yang khas…

Jonghun!!

Dia sudah melepaskan baju kerjanya dan memakai kaus biasa. “Annyeong, kau baru pulang juga?” tanyanya dengan suara lembut.

“Iya, penuh sekali ya.” Ujarku. Dia tertawa kecil.

Aku mulai merasa baikan. Aku menikmati ‘pemandangan’ di depanku. Tiba-tiba bus berhenti mendadak.

Aku terdorong ke depan, namun Jonghun menahanku dengan tangannya. Aku sangat kaget dan menghilangkan niatku untuk mengumpat beberapa kata. Ya, karena Jonghun ada di depanku, melindungiku agar tidak jatuh.

“Hati-hati.” Kata Jonghun, tidak melupakan senyumnya. “Kau banyak belanja hari ini.”

“Eh, eumm…ya, memang. Ini untukmu.” Aku memberikan susu untuknya. “Memang bukan soju botol, tapi…susu menyehatkan.”

“Terimakasih…”

“DaeHae.” Aku mengulurkan tangan dan kami berjabatan tangan.

“Jonghun.”

Selama perjalanan kami mengobrol tentang gitar. Dia menjelaskanku beberapa kuncinya. Haha…bayangkan di tengah-tengah orang penuh sesak dia masih sempat menjelaskannya dan…ya, aku mendengarkannya dengan seksama.

Aku tidak tahu, tiga puluh menit berdiri disana tidak membuatku lelah. Aku turun di halte dekat rumahku dan kembali melambai pada Jonghun.

Aku melambai sampai bus berbelok di ujung jalan, aku tahu dia sudah tidak melihatku lagi sampai di belokan. Tapi aku tetap melambaikan tanganku.

Aku duduk di halte yang kosong. Tersenyum-senyum sendiri di tengah malam yang dingin. Mengingat perkataan Jonghun:

Kalau kau bingung membuat lagu, datang saja ke toko. Kita bisa belajar di taman.

Membuatku berpikir dan mengeluarkan gitar saat dikamar sebelum tidur. Memetiknya perlahan. Aku tertawa sendiri, yang benar saja! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang bagaimana memainkan gitar dan aku mau membuat lagu. Aisshh…benar-benar.

Sepertinya aku akan melewati banyak pengalaman bersama gitar ini.

***

Aku jatuh ke lantai dengan tubuh yang sakit.

Dia memukulku lagi.

Apa yang harus kulakukan? Suaraku sepertinya habis. Tidak! Mereka menghilang entah kemana, sehingga aku tidak bisa berteriak, menyuruhnya untuk berhenti memukulku. Aku ingin berteriak tepat di wajahnya dan andai aku punya kekuatan, aku ingin menghentikan tangannya.

“Kau lupa aku tidak suka nasiku bercampur dengan kuah sup!!! Atau…” Yunho mencengkram kerah bajuku. “Kau sengaja melakukannya, heh? Kau sengaja membuatku marah?”

Aku menggeleng. Aku bisa merasakan air mata mengalir bercampur darah dari hidungku. Aku berusaha menghapusnya, namun tangan Yunho menahanku.

“Kau ingin menghapusnya? Kau kesakitan, heh??!! Jawab aku, Lee DaeHae!!” Yunho berteriak tepat di telingaku.

Aku hanya bisa membuka dan menutup mulutku seperti ikan mas. Yunho mendengus melihatnya dan menyentakkan tanganku ke lantai. Rasanya sakit sekali…

“Kau tidak perlu menjawabnya, sayang. Kau terlalu naïf untuk menjadi istriku.” Lalu dia pergi meninggalkanku yang tergeletak di lantai.

Aku menangis tanpa suara. Air mataku terasa kering, aku tidak bisa menangis lagi. Dadaku sakit sekali, bukan hanya tubuhku yang terluka, tapi hatiku juga. Bertahun-tahun dia memperlakukanku seperti ini. Semenit yang lalu dia membelai kepalaku, lalu semenit kemudian dia memukul kepalaku. Dia menciumku di pipi, disana jugalah dia meletakkan tangannya begitu keras sehingga aku jatuh kelantai. Dia menggenggam tanganku, tapi tangan ini sekarang tergeletak di lantai, berdenyut dan membiru. Dan sekarang…

“Aku minta maaf, DaeHae. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Aku mencintaimu.”

Aku memencet hidungku dengan tisu untuk menghentikan pendarahan, sedangkan Yunho sedang menangis di pangkuanku. Aku mendesah perlahan dan di dalam hatiku, aku tertawa. Aku hafal kalimat itu. Pertama dia akan meminta maaf, lalu membuat alasan, dan berkata mencintaiku. Aku hafal itu.

Seperti biasanya aku akan membelai rambutnya yang lembut dan berkata tidak perlu meminta maaf, namun…kini tanganku sakit, aku tidak bisa membelainya, juga tidak ada kata-kata yang terisisa di hatiku. Aku hanya diam mendengar suara tangisnya.

***

Aku duduk di bangku taman dan Jonghun membawakan segelas teh hangat. “Ini, udaranya sedikit hangat, tapi teh enak diminum kapan saja.”

“Terimakasih.” Aku melemparkan senyuman padanya.

Entah mengapa aku merasa dia seharusnya lebih pantas menjadi calon suamiku daripada Yunho.

“Kau sudah siap?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ah…ya. Ayo kita mulai.”

Jonghun mulai memetik gitar dengan jari-jari lentiknya itu, mengajari kunci-kunci dasar terlebih dahulu. Lalu aku mengikutinya, tapi tanganku tiba-tiba sakit. Aku sadar itu karena luka yang kemarin.

“Ada apa dengan tanganmu? Dahimu juga…” Jonghun menyentuhnya, tapi aku menepisnya.

“Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku jatuh dari…tempat tidurku, jadi begini sekarang.” Sergahku ragu-ragu.

Jonghun menatapku tidak yakin, namun dia tidak mempermasalahkannya. Dia mengeluarkan saputangan dan membungkus tanganku. “Ini agar tanganmu tidak sakit.”

Aku tersenyum. Dia begitu lembut membuat tanganku tiba-tiba menyentuh rambutnya yang lembut tanpa sadar. Aku tertawa kecil, itu karena rambutnya lebih lembut daripada rambut Yunho, yang selalu kusentuh setelah dia memukuliku.

Jonghun tampak terpana oleh sikapku, tapi dia tidak berkomentar sama sekali. Sampai akhirnya dia memainkan sebuah lagu untukku. Aku bersandar di bahunya.

“Eh, mengapa kau tertawa?” tanya Jonghun.

“Kau kurus sekali. Tidak enak bersandar dibahumu.” ujarku.

Kami kembali terdiam dan tiba-tiba aku tidak bisa menahannya perkataanku.

“Jonghun, apa..kau mau kabur bersamaku?”

Jonghun berhenti memainkan gitarnya.

“Aku lihat wajahmu tidak terlalu senang bekerja di toko itu. Bagaimana kalau kita kabur ke luar negeri…tidak. Orang-orang bisa menemukan kita, bagaimana kalau ke luar angkasa? Ke sebuah planet. Hanya ada kita berdua.”

“Apa kau sedang bermimpi? Kalau ini bukan kenyataan…tidak mau ah.”

Aku menatapnya lekat-lekat. “Kalau kau mau, ini bisa menjadi kenyataan.”

Jonghun tertawa dan merangkulku. Dia membelaiku dan mencium kepalaku. Aku bisa mendengarkan napasnya yang perlahan menembus hingga ke kulit kepalaku. Tidak! Menembus sampai ke hatiku.

Ya Tuhan, aku menemukan diriku mencintai orang ini.

***

Aku ingat benar kemarin saat aku berkata pada Jonghun untuk bertemu lagi di taman ini. Aku sudah menunggunya sekitar 45 menit. Kuminum tehku yang ke-tiga. Hatiku tertawa terbahak-bahak melihatku disini sendirian

Aku memainkan gitarku. Ditanganku sudah ada sebuah kertas berisi lagu ciptaanku. Hah…apa yang harus kulakukan? Berapa lama lagi harus menunggu?

Aku tertidur dan bermimpi sesuatu yang aneh…

***

Jonghun berdiri di samping DaeHae. Lama sekali dia memperhatikannya yang sedang tidur pulas. Jonghun tersenyum sambil membelai rambut DaeHae. Dia membungkuk untuk mencium dahinya dan menyelipkan sepucuk kertas diantara senar gitar. Lalu dia pergi melambai pada DaeHae.

***

Inilah hari yang seharusnya ditunggu-tunggu orang dalam hidupnya. Ini bukan ulang tahunku, bukan pesta perayaan kelulusan, ini…pernikahanku.

“DaeHae, kau cantik sekali.” senandung Sooyoung memainkan penutup kepalaku.

“Sebentar lagi aku juga akan seperti ini.” ujar Jessica.

“Dengan siapa? Donghae? Dia sudah melupakanmu.” Celetuk Tiffany pedas.

Apa yang sedang mereka lakukan? Kepalaku pusing dan tidak tahu apa yang harus kulakukan hari ini.

Aku beranjak dari tempatku dan melihat keluar. Hari ini harusnya aku tersenyum dan merasa bahagia. Tapi..aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Siapa yang membawanya pergi? Bahkan dia tidak meninggalkan sedikit pun dari setengah itu.

***

Kini aku tiba di hari yang ditunggu semua orang, tapi tidak olehku. Aku berjalan membawa bunga dan berharap keajaiban pada Tuhan. Inikah akhir dari semuanya? Hari-hari yang telah berlalu begitu saja?

Aku menyentuh jari-jariku yang kapalan, itu hasil kerja kerasku. Kulihat Yunho berada disana, tersenyum. Aku mendesah dalam hati. Apa yang harus kulakukan dengan orang ini?

“Yunho, apa kau menerima Lee DaeHae sebagai istrimu?” tanya pendeta dengan suara menggelegar.

“Ya.”

Lalu pendeta itu menoleh padaku. “Lee DaeHae, apa kau menerima Yunho sebagai suamimu?”

Aku terdiam beberapa saat. Bukan! Bukan hanya beberapa saat, tapi selamanya. Aku menatap Yunho dan dia berbisik padaku, “DaeHae, jawab!!”

Aku menatap kedua orang tuaku. Wajah mereka penuh tanya. Aku menatap teman-temanku, mereka mengangguk dengan wajah yang bertanya-tanya: Apa lagi, DaeHae?

Aku menatap ke pintu gereja dan melihat disana, Jonghun berdiri mengenakan jas putih. Dia melemparkan senyuman padaku, senyuman yang khas, membuatku menutup mata dan meneteskan air mata.

Kusodorkan bungaku ke Yunho. “Maaf.” Hanya kata itu yang bisa ku sebutkan. Ya, itu kata yang sering diucapkannya padaku. Kini akulah yang mengatakannya.

Maaf, Yunho, aku tidak mencintaimu…

 

Maaf, ibu, ayah, aku menghancurkan impian kalian…

 

Maaf, teman-teman, aku tidak bisa berdiri disana dan berkata ‘ya’

 

Aku berlari dan terus berlari. Kuangkat gaunku tinggi-tinggi dan berlari keluar. Semua orang menatapku. Ya, inilah yang sering kalian lihat di film-film. Sang pengantin kabur meninggalkan pasangannya.

Tapi…Aku tidak kabur untuk bersama orang lain…

Sore itu aku menemukan sebuah kertas yang diselipkan pada senar gitarku. Aku membukanya selagi berada di taman itu.

Itu bukan sebuah surat yang ditulis tangan seseorang, namun itu sebuah ketikan. Sebuah surat rumah sakit.

Tertera disana sebuah nama penyakit yang agak sulit dibaca. Sirosis hati? Apa itu? Aku pernah mendengarnya, ya…itu kanker hati. Dan…buat apa surat rumah sakit ini ada disini?

Aku membaca satu persatu sampai kebawah. Stadium 4? Itu mengerikan, pikirku.

Tidak lebih mengerikan ketika aku membaca sebuah nama di paling atas.

Nama pasien : Choi Jonghun.

Aku tertawa membacanya. Ini tidak mungkin, tidak mungkin!! Aku berlari meninggalkan gitarku dan semua yang ada di dekatku. Aku berlari memanggil nama Jonghun di dalam hatiku. Kemana kah aku harus berlari lagi? Kemana dia pergi?

Seperti yang kulakukan saat ini. Aku berlari dan terus berlari karena aku ingin meninggalkan semuanya, kecuali satu orang. Jonghun. Aku suka sekali menyebut nama itu. Terasa manis di mulutku walaupun itu hanya tinggal kenangan.

Jonghun, apa kau sakit? Jangan biarkan mereka menusuk kulitmu dengan jarum-jarum itu. Kau harus mendorong mereka, lalu keluar dari sana. Bisakah kau berjalan? Curilah mobil pengunjung dan jemput aku disini. Kita bisa kabur bersama-sama. Seperti yang kita rencanakan.

Aku berhenti di persimpangan jalan. Disana tidak ada Jonghun. Mungkinkah dia sudah mendahuluiku pergi ke planet yang kami bicarakan?

Aku menatap langit di atasku dan tersenyum sambil mengeluarkan secarik kertas lagu buatanku.

“Jonghun, mari kita menyanyikan lagu ini bersama-sama. Apa kau mendengarku?”


Running Into You

 

I was captured by the beauty

Charismatic, shining in my eyes

I was delight to love him

But the way you feel

You change everything

So I wanna run, run, run

Running into you

I wanna fall, fall, fall

Falling in love with you

 I…was flying in the air

full of love with you

I know I can’t get you

All the time I hope you feel me there

I was singing for you

I was breathing just to breathe with you

So I wanna run, run, run

Running into you

I wanna fall, fall, fall

Falling in love with you

# The End #

Penulis:

A Ridiculous Writer :)

17 thoughts on “A Man with His Guitar

  1. Amaizing…
    Great…
    The best…
    Very good…
    Nice…
    Keren…
    Bagus…
    Ok la…
    Daebakk…
    Tu kata2 yg mampu sy katakan n sampaikan u/ kamu author u/ nie fanfic.
    Ditunggu ya karya2 selanjutx!

  2. uaa keren xD , authornya daebak , aku ga nyangka terakhirnya jadi begini , daebak daebakk ! xD
    bikin yang banyak lagi yg ada member FTI nya yaa , oiah minhwan harus ama sora (sora itu saya) LOL
    hwaiting ! ^^

  3. Hahaha.. Balik lg ka, aku bacany telat bgt yak??*plaakk/gananya!

    ceritanya bgus ka, kasian tuh daehee.. T.T *nangis dipojok bareng daehee

    gag bsa ngomong apa2 aq ka.. *Ya iya lah! Kmu kan ngetik!

    jempol lg deh, buat kaka..😄

    1. hahahaha kamu kocak deh nay wakakak

      *ambil dulu jempolnya* *baru ngomong*

      oke makasih nay untuk jempolnya dan waahh…ini ff sendu pertama yang aku buat hehehe…
      beda ya sama yang sekarang suka aku buat🙂

      oke pokoknya nantikan ff sendu selanjutnya hahaha

      1. Eh? Ambil dulu y jempolnya? *celingak celinguk cari jempol punya orang*

        jangan kaka.. Jangaaaann.. Aku nyesek bgt kalo baca ff model beginian.. T^T *whoy! Siapa lu? Udah untung bsa baca, msh aja bnyak cincau! >Eh?

        aku tunggu! aku tunggu ff selanjutnya!! Huaaaaa *lanjut nangis d pojokan breng daehee

comment here please :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s